2.954 Words

.

Sasuke tengah menunggu gadisnya dibalik tembok gerbang sekolah. Padahal sudah beberapa menit berlalu sejak kelas dibubarkan, namun gadis itu tak kunjung datang. Sasuke cukup tahu diri bahwa ia memang terlalu cepat keluar kelas, jadi wajar saja jika ia menunggu sedikit lebih lama. Kenapa tidak jalan bersama saja dari kelas? Yah, malu. Sasuke tidak tahu bagaimana warna air mukanya nanti jika berjalan dengan bangga bersama Sakura dan ditonton oleh orang-orang yang mereka lewati.

Heh...! Sasuke sulit untuk menahan dirinya untuk tidak tersenyum, tapi ia berhasil melakukannya dan kembali memasang tampang stoic dan stay cool. Melemparkan tatapan tajam dan menusuk pada orang-orang yang menatapnya penasaran. Dengan posisinya yang bersandar pada tembok dan sesekali melirik arloji atau sekedar melongokkan kepala kedalam lingkungan sekolah, jelas sekali bahwa ia tengah menunggu seseorang dan itu cukup membuat mereka berpikir bahwa Sasuke memang tengah menjalin hubungan dengan seorang gadis di sekolah. Seseorang yang menjadi langganan guru konseling ini kini tengah berhubungan dengan seorang gadis untuk pertama kalinya memang menjadi gosip paling hot.

Siapakah gadis itu?

Orang-orang yang berjalan didekatnya mulai menjauh, tatapan mengancamnya sudah cukup untuk memberi mereka peringatan dan perlahan-lahan mereka mulai berjalan sedikit berbelok dan menjauh.

Heh! Lucu sekali! Sasuke menyeringai merasa menang.

Melirik arloji sekali lagi dan melongokkan kepalanya ke lingkungan sekolah dan tak juga menemukan gadis itu cukup membuat Sasuke mulai tak sabar.

Tch, Apa dia lupa?

Baiklah, ini yang terakhir!

Sasuke kembali melongokkan kepalanya. Ia tak bisa lagi untuk menahan senyum leganya gsaat menemukan sosok gadis itu ada disana, baru saja keluar dari gedung sekolah. Rambut soft pink panjangnya tampak bergoyang-goyang sesuai dengan langkah kakinya yang cepat. Tampaknya Sakura tidak melihatnya, jadi Sasuke kembali ke posisi awalnya.

Dan sebuah sedan BMW Hitam telah ada disana.

Seseorang didalamnya menurunkan jendelanya perlahan, menampakkan seseorang berwajah tampan dan gagah tengah menatap Sasuke dengan pandangan tajam dan menusuk.

Cih! Sejak kapan kau mulai menatapku dengan pandangan seperti itu?

Ia melepaskan kacamatanya. "Ayo masuk, Sasuke!" kata orang yang berwajah mirip Sasuke itu dengan nada sedikit memerintah.

"Ada apa?" tanyanya balas menantang, merasakan adanya sesuatu yang buruk akan terjadi. "Aku ada janji dengan teman."

"Masuklah! Atau kau lebih suka dengan cara paksaan?" tatapan mata itu lebih mengintimidasi.

Sasuke sedikit kaget dengan perilaku Anikinya yang tidak biasa itu. Begitukah caramu memperlakukanku setelah lama tak jumpa? "Apa maumu?" akhirnya Sasuke bertanya. "Aku bilang aku ada janji dengan temanku." Sasuke berkata mantap dan hendak pergi, tidak menginginkan keadaan tidak enak ini dilihat oleh kekasihnya.

Uchiha Itachi –kakak Sasuke, memberikan kode pada para dua orang pria bertubuh besar yang duduk dibangku belakang untuk bertindak. Sasuke yang menyadari hal itu memutar arah tujuannya dan berlari menjauhi lingkungan sekolah, tanpa melewati gerbang lagi agar tidak terlihat oleh Sakura menerobos orang-orang yang menghalangi jalannya. Dengan sigap kedua pria dengan pakaian serba hitam itu berlari dan mengejar Sasuke dengan sekuat tenanga mereka, tidak boleh meremehkan Sasuke yang jago dalam olahraga apapun.

Itachi memerintahkan supir disebelahnya untuk memutar kemudi dan mengikuti arah Sasuke. Ia kembali menggunakan kaca mata hitamnya.

Maafkan aku Sakura–doa Sasuke dalam hati dan berlari dengan lincah sekuat tenaganya dan sesekali melirik kebelakang. Sial! Tidak disangka ternyata ayahnya telah menyewa orang-orang dengan kecepatan lari yang lebih cepat dari sebelumnya.

Atau ini malah anak buah Itachi?

Sasuke berlari melewati gang-gang sempit dan melompati berbagai rintangan yang akan mengganggunya. Ia sudah terlatih untuk main kejar-kejaran seperti ini sejak sekolah menengah pertama dengan anak-anak buah Fugaku –ayah mereka– yang berusaha menangkap Sasuke dan diserahkan padanya, bagaikan sebuah persembahan pada seorang raja.

Cih! Mau main-main denganku, eh?

Terdesak! Mereka lebih cepat, sekarang hanya tinggal menjulurkan tangan dan dapatlah punggung Sasuke. Didepan matanya ada sebuah gang disebelah kanan dan Sasuke akan lolos disana. Tapi tidak, pagar itu terkunci. Sasuke terkepung. Tak sempat melempar pukulan pada kedua pria bertubuh besar dihadapannya, dengan kuat mereka telah mengunci Sasuke membuatnya tak bisa bergerak.

Entah sejak kapan Itachi ada disana, ia berjalan dengan tegap dan perlahan mendekati adiknya dengan wajah terangkat. Jas hitamnya telah dilepas entah dimana, melepas kaca mata hitamnya dan menggantungkannya pada saku kemeja putihnya. Melemparkan tatapan tajam dan menusuk pada adiknya yang tengah telungkup dan dikunci oleh dua orang pria bertubuh besar. Ia merendahkan tubuhnya dan mensejajarkan tubuhnya untuk lebih mendekat pada Sasuke.

Cih! Apa maumu, eh? Sasuke menatap kakak dihadapannya dengan pandangan balas menusuk. Kedua mata onyx mereka saling bertemu.

"Otouto no Baka!" desis Itachi dengan nada dingin.


.

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

My Light © Yuzuru Tenshi

© 2014

Rate : T

.

.

.

.

.


Chapter 2

.

.

.

Sakura menghempaskan tubuhnya diatas ranjang kamarnya yang bernuansa soft pink, warna kesukaannya. Biasanya warna lembut ini mampu mengobati kegundahan dan kekacauan hatinya. Tapi sekarang tidak. Pikirannya hanya tertuju pada satu orang. Uchiha Sasuke, kekasihnya–

benarkah?

Entahlah!

Sakura berpikir-pikir, apakah gerangan yang membuat ia tidak menemukan Sasuke di gerbang sekolah tadi. Apakah ia pulang duluan karena tidak sabar menunggu Sakura yang terlalu lama?

Kata-kata Ino waktu itu masih terngiang dipikirannya, "Aku tidak akan begitu menghawatirkanmu jika orang itu bukan dia! Kau tidak begitu mengerti laki-laki, bagaimana jika dia hanya mempermainkanmu?"

Ya, apakah Sasuke-kun hanya mempermainkanku? Tapi rasanya aku tidak pernah berbuat kesalahan apa pun padanya.

"Aku cuma mau mengingatkanmu kalau kau tidak lupa dia itu siapa, Sakura!"

Ya, Uchiha Sasuke. Siswa bermasalah, siapa yang tidak mengenalnya?

Sakura menutup kedua mata emeraldnya dengan kedua tangan. Mungkin dia memang tidak mempunyai kesalahan apa pun pada Sasuke. Tapi ingat siapa Sasuke. Bisa saja ia sudah bosan dengan kenakalannya yang biasa dan mencoba melakukan permainan baru.

Mempermainkan perasaan seorang gadis lugu?

Tapi senyuman itu muncul lagi dibayangannya, senyuman yang tak pernah dilihat Sakura sebelumnya dari Sasuke. Semakin membuat gadis itu merasa dilema. Jadi Sakura hanya bisa memutuskan bahwa ia tidak akan begitu mempermasalahkannya dan berpikir positif. Mungkin Sasuke adda ada keperluan mendesak. Sakura ingat ia melihat sedan mewah lewat didepan sekolah dari kejauhan tadi.

Kini Sakura mencoba tidur, perasaannya lebih tenang sekarang.

Aku akan memberikannya kesempatan lagi sebelum mengambil keputusan.

Wajar saja jika ia berpikir begitu, kalau tidak sampai kapan posisinya akan digantung?

Mudah saja untuk melupakannya, bukan? Toh, sepertinya aku tidak menyukainya sebagai seseorang yang spesial–

.

.

–mungkin.

.

.

.


Selama diperjalanan pulang tak satu pun jawaban dari pertanyaan Sasuke yang dijawab oleh Itachi. Ia masih memasang tampang dingin. Benar-benar berbeda dari ekspresi yang selalu diberikannya pada otoutou kesayangannya itu selama ini. Rasanya Sasuke ingin berteriak dan menghiraukan rasa malunya dari orang-orang selain anikinya –yang duduk dikedua sisinya– di mobil ini dan memaki-maki dengan sepuas-puasnya.

Bukan ini yang diharapkannya, tatapan dingin yang mengintimidasi itu. Beberapa bulan Itachi pergi keluar kota untuk mengurus pekerjaannya. Jujur saja Sasuke merindukan kehadiran anikinya. Mengharapkan dukungan darinya dan menemaninya disaat kesepian. Tapi bukan itu yang didapatkannya sekarang. Malah tatapan dingin yang didapatkannya untuk pertama kalinya dari Itachi.

Tidak adakah yang peduli denganku saat ini?

Sasuke mencoba untuk tidak memikirkan Sakura yang kini mungkin saja sedang menunggunya. Tapi sisi lain pikirannya berkata bahwa Sakura pasti sudah meninggalkannya. Buat apa berharap pada orang bermasalah sepertinya?

Sasuke sudah memfokuskan pikirannya pada Itachi. Apa gerangan yang membuat kakaknya pulang tanpa mengabarinya terlebih dahulu seperti biasa? Sasuke tahu ini jalan pulang. Ia bisa pulang sendiri dan apa maksudnya ini dengan cara paksaan? Ia tahu sebentar lagi akan mendapat masalah dengan Fugaku. Sasuke tak tahan melihat bagaimana ekspresi ibunya nanti. Menangis seperti biasakah atau tanpa diduga memasang tampang dingin seperti Itachi?

Mobil berhenti tepat didepan pintu kediaman Uchiha yang bermodelkan rumah-rumah eropa. Itachi dibukakan pintu dan turun, ia berdiri dan menenggelamkan kedua tangannya didalam saku. Memastikan bahwa adiknya tidak akan kemana-mana dan masuk kedalam rumah seperti yang diharapkannya.

Sasuke turun dari mobil dan dengan sigap pula kedua anak buah Fugaku menangkap kedua lengannya, siap siaga jika pemuda berambut raven itu kabur lagi.

"Cih! Aku bisa jalan sendiri!" desisnya menghentakkan kedua tangan yang memegang lengannya dengan kuat. Dengan patuh mereka melepaskan tangan Sasuke.

Kemudian ia menatap Itachi yang berdiri diambang pintu yang juga sedang menatapnya masih dengan tatapan dingin. Sasuke balas melakukannya. Melihat kekeras kepalaan adiknya lantas Itachi berkata, "masuklah, Sasuke! Tou-san menunggumu didalam."

Sasuke hanya diam dan masih menatap Itachi, setelah beberapa saat setelah itu ia pun masuk kedalam rumah, Itachi mengikuti dibelakang. Saat memasuki ruang keluarga, Fugaku telah duduk disebuah sofa besar yang biasa didudukinya, menunggu kedatangan kedua putranya –terutama Sasuke– dengan wajah dingin dan angkuh seperti biasanya. Disebelahnya Uchiha Mikoto, Ibu Itachi dan Sasuke, berdiri disamping suaminya dengan wajah lusuh dan sedih. Ekspresi biasa yang ditampilkannya ketika Sasuke mendapat masalah dengan ayahnya.

Dengan keras kepalanya Sasuke memasang tampang datar seolah-olah tak memiliki salah apapun, meskipun didasar hatinya yang paling dalam merasakan perasaan takut-takut dan sisi lain lagi merasakan perasaan yang sulit untuk dijelaskan.

Itachi menutup pintu dibelakangnya, kini mereka hanya berempat saja.

"Sasuke...!" dengan suara beratnya Fugaku memanggil putra bungsunya. "Kau tahu apa salahmu," lanjutnya dengan nada sedingin es.

Sasuke hanya mengangkat alisnya. Ragu apakah kejadian minggu lalu diketahui oleh ayahnya atau ada hal lainnya untuk sekedar memancingnya.

"Aku baru saja mendapat kabar dari Kepolisian bahwa kau terlibat masalah lagi di taman kota. Tentu saja Tsunade –Kepala Sekolahmu– juga mengetahui kabar ini dan kau harus dihukum." Kemudian Fugaku melanjutkan dengan mantap dan tegas, "tentu saja kau juga mendapat hukuman dariku, Sasuke!"

Sasuke mendecih tanpa sepenglihatan ayahnya. Mikoto mulai bergelinang air mata, namun sekuat tenaga ditahannya agar air matanya tak melimpah. Beberapa kali wanita itu mendesah. Sasuke mulai menahan diri ketika melihat Ibunya seperti itu.

"–dan juga olehku."

Dengan cepat pemuda bermata onyx itu menatap orang yang mengeluarkan sumber suara barusan. Itachi? Itachi menghukumku? "Kau bercanda!" kata Sasuke tak percaya. Kemudian dilihatnya Fugaku sekilas, beliau tampak tidak terkejut sama sekali.

"Aku tidak bercanda, kau tahu itu, Sasuke." Itachi menjawab dengan dingin. "Aku perlu bicara empat mata denganmu," pemuda berambut panjang yang dikuncir itu menoleh pada ayahnya, meminta persetujuan.

"Tentu saja, silahkan lakukan sesukamu, Itachi!" jawab Fugaku sambil berdiri dan berjalan melewati kedua anaknya, diikuti oleh Mikoto dibelakangnya.

Sejenak Mikoto menatap Itachi dengan tatapan percaya, kemudian ia menoleh pada anak bungsunya dengan tatapan sedih yang sulit untuk diartikan oleh Sasuke maupun Itachi. "Sasuke... Percayalah ini yang terbaik untukmu," katanya dengan sulit dan suara yang bergetar. Kemudian ia berlalu pergi mengikuti sang suami.

Setelah dipastikan bahwa pintu ruangan yang mereka tempati tertutup rapat, Sasuke mendelik pada Itachi. "Hukuman apa maksudmu, Itachi?" tanyanya dengan nada tidak sopan dan tanpa panggilan Niisan seperti biasa –seperti biasa, sejak Sasuke mulai berlaku tidak sopan dan seenaknya.

Itachi tidak menjawab untuk beberapa saat dan duduk diatas sofa. Sasuke mengikutinya dengan tidak sabar dan ikut duduk di sofa yang berbeda dengan kakaknya. "Kau pantas mendapatkannya," kata Itachi datar dengan wajah yang sama datarnya.

"Apa maksud–"

"Kau pantas mendapatkannya, Sasuke!" potong Itachi. "Apa kau lupa perjanjianmu dengan tousan, dengan kaasan, dan denganku –tentu saja, Sasuke?"

Sasuke mengernyitkan dahinya, entah benar-benar lupa atau pura-pura lupa.

"Kau berjanji tidak akan berbuat yang macam-macam dan mempermalukan nama Uchiha yang kau sadang lagi jika bersekolah di sekolah Negeri, Sasuk." Kerutan di dahi Sasuke semakin dalam. Kemudian Itachi melanjutkan, "aku harap kau memang tidak melupakannya dan seperti itulah seharusnya. Sejak kelas sepuluh kau sudah berkali-kali melanggarinya namun aku tidak terlalu mengubrisnya dan tidak pernah memberikanmu hukuman dalam bentuk apapun. Dan aku tidak mengerti kenapa kau masih bersikap memalukan seperti itu. Berkelahi dengan preman di taman kota, perilaku macam apa itu? Aku memang pernah mengalami masa-masa labil sepertimu, tapi tidak sampai mempermalukan keluarga sejauh ini, dan kau tahu itu. Bahkan aku masih bisa mempertahankan prestasiku sedangkan kau–"

"Aku berbeda denganmu, Itachi!" Sasuke mendesis. Ia hampir saja meledak mendengar kata-kata Itachi yang semakin menjerumuskan dirinya, "jangan pernah banding-bandingkan aku dengan dirimu! Kalau begitu kau sama saja seperti tou–"

"Sama seperti tousan," Itachi masih berkata dengan datar. "Dulu aku memang pernah berpikir bahwa apa yang dilakukan tousan adalah tindakan yang egois terhadapmu, tapi jika untuk menghadapi dirimu yang seperti ini itu adalah hal yang pantas menurutku," ia menegaskan perkataannya dengan nada yang kini lebih dari sedingin es.

Ekspresi wajah Sasuke semakin tak percaya. Ia ingin meledak dan marah-marah untuk melampiaskan kekesalan dan amarahnya pada Itachi. Namun sudah tidak sanggup lagi. Kini Itachi, kakak yang sangat menyayanginya, tidak lagi berpihak padanya, ikut menyalahkannya, bahkan menyetujui perlakuan ayah mereka terhadap dirinya.

Itachi menyadari perubahan raut wajah adiknya. Sebenarnya ia tidak sepenuhnya menyetujui perlakuan Fugaku kepada Sasuke. Namun kini adiknya telah melanggar janji berkali-kali dan berperilaku semakin tidak baik, bahkan kini sudah berurusan dengan pihak Kepolisian. Itachi cukup mengerti ketika di sekolah menengah pertama dulu Sasuke berlaku tidak baik sebagai bentuk protesnya terhadap ayah mereka yang memaksa Sasuke untuk bersekolah di sekolah elit swasta yang dipenuhi dengan peraturan ini dan itu. Serta menuntutnya dengan berbagai hal apapun seperti yang diharapkan Fugaku. Sasuke bukan tipe orang yang betah untuk diatur terlalu banyak.

Dulu Itachi memang bersekolah di sekolah swasta yang sama dengan Sasuke, bahkan sampai sekolah menengah atas. Namun ia bisa bertahan, bertahan untuk menuruti keinginan Fugaku dan membuat Mikoto puas akan anak sulungnya yang patuh. Hal itu membuat Fugaku penuh rasa bangga yang besar terhadap Itachi dan menjadikan dirinya sebagai contoh dan perbandingan untuk Sasuke, apalagi semenjak Itachi mampu memegang beberapa cabang perusahaan Uchiha dalam usia muda. Hal itu membuat Sasuke menjadi tertekan dan merasakan perasaan iri terhadap kakaknya –tanpa ia sadari, namun Itachi mengetahui itu.

Dengan segala kemampuan yang ia bisa Itachi berusaha untuk memperlakukan Sasuke dengan baik, menyayanginya, memanjakannya, memberikan apa yang dikendakinya, mensuportnya, dan apa pun yang membuat Sasuke merasa puas. Bahkan Itachi lah yang dengan susah payah membujuk Fugaku untuk mengizinkan Sasuke bersekolah di sekolah mana yang ia mau dengan syarat Sasuke berada dibawah pengawasan Itachi dan Sasuke pun menyetujuinya.

Namun, Itachi dianggap gagal. Sudah satu tahun lebih bersekolah di Konoha Gakuen Sasuke masih berperilaku melenceng. Sasuke memang berada dibawah pengawasan Itachi selama itu, bahkan Fugaku pun tidak begitu sering ikut campur dalam masalah-masalah anak bungsunya. Selama itu pula Itachi mencoba untuk mengerti lebih jauh tentang penyebab Sasuke bersikap seperti itu, Itachi tak pernah bersikap kasar kepada adiknya, selalu bicara baik-baik dan mencoba memakluminya –meskipun sudah diluar batas kesabarannya.

Namun masalah yang ini benar-benar tidak bisa membuatnya untuk lebih bersabar lagi. Beberapa bulan Itachi pergi keluar kota untuk mengurus perusahaan Fugaku yang dipercayakan kepadanya, selama itu pula ia mempercayakan Sasuke agar tidak bertingkah. Namun disaat ia sedang mengalami masalahnya sendiri, Sasuke –tanggung jawabnya yang lain– malah bertingkah lagi, bahkan sudah menyangkut Kepolisian. Dan ini tidak bisa dibiarkan lagi! Itachi sadar bahwa ia harus bersikap lebih tegas dan disiplin lagi pada Sasuke dan tidak terlalu memanjakannya lagi.

"Jadi hukuman apa yang akan kau berikan kepadaku, eh?" suara Sasuke membuyarkan lamunan Itachi. Dan dari nada bicara Sasuke yang tidak sopan semakin meyakinkan dirinya untuk tidak segan-segan lagi menjatuhkan hukuman kepada adiknya.

"Tampaknya kau sudah tidak sabar lagi menerima hukumanmu, eh?" Itachi balas menantang.

Sasuke membuang mukanya sambil mendecih dan mendesis.

"Aku tidak tahu hukuman apa yang akan diberikan tousan padamu, jadi aku akan menyetujui apapun itu tanpa mau membujuk beliau untuk memaafkanmu atau membebaskanmu dari hukuman yang mungkin... berat!"

Dengan cepat Sasuke menoleh kepada Itachi dan mendelik kepada kakaknya itu, "Cih! Sejak kapan kau bersikap seperti itu padaku?" Kemudian pemuda berambut raven itu bangkit dari duduknya dan hendak keluar, "kurasa hanya kata-kata menjatuhkan diriku saja yang ingin kau bicarakan padaku, Itachi!"

Tepat sebelum Sasuke memutar kenop pintu, Itachi berkata pelan –sangat pelan namun dapat ditangkap oleh alat pendengaran Sasuke, "kau pantas mendapatkannya..."

Cih!

Pemuda berambut raven itu pun keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Itachi sendirian didalamnya.

.

.

Beberapa saat setelah berdiam diri didalam ruangan tempat ia baru saja berlaku lain dari biasanya pada adiknya Itachi pun melangkah keluar, hendak ke kamarnya untuk mengistirahatkan pikirannya yang kacau balau. Suara-suara pelan yang diiringi isak tangis yang berasal dari pintu perpusatakaan yang sedikit terbuka membuat pemuda itu penasaran saat melewatinya. Ia pun mendekat, suara isakan itu tentu saja berasal dari satu-satunya anggota wanita dikeluarga mereka, Uchiha Mikoto.

"Tidakkah kau lihat bahwa Itachi sudah cukup merasakan kepedihan saat mengetahui bahwa ia harus mengikuti keinginanmu itu, anata?" Itachi menangkap perkataan Ibunya yang susah payah menahan tangisannya di sela-sela isakannya.

"Itachi tidak seperti itu, Mikoto! Aku tahu Itachi bersikap seperti apa yang kuinginkan dan membuatku puas." Itachi menangkap suara Fugaku.

Kau selalu begitu. Garis-garis halus terpeta diantara kedua alis Itachi.

"Dia tidak keberatan sama sekali, kau tahu itu. Ia tidak menolaknyan itu sedikitpun," tambah Fugaku.

Itachi tersenyum kecut, kau bersikap seolah-olah kau tidak mengerti apa yang ada dihati kami masing-masing dan memperlakukan kami sesuai dengan kehendakmu.

"Tidak, anata! Kau tahu Itachi sulit untuk melakukannya, meskipun ia menerimanya seolah-olah ia tidak keberatan sama sekali dan menyetujui kehendakmu..."

Itachi tersenyum sedih saat Mikoto berkata seperti itu.

"Kita tidak membicarakan soal Itachi, Mikoto," kata Fugaku lembut meskipun tegas secara tersirat.

"...dan aku tidak mau hal ini pun terjadi pada Sasuke!" kata Mikoto dengan suara melengking yang tertahan. "Dan kurasa ini bukan suatu hukuman! Kau mengatakan ini sebagai hukuman agar Sasuke terpaksa menerimanya karena ini sebuah hukuman!"

Itachi membelalak. Jadi, apakah ini hukuman yang akan diberikan ayahnya kepada Sasuke?

"Masuklah, Itachi!" perintah Fugaku, menoleh pada pintu perpustakaan yang terbuka tanpa menanggapi perkataan istrinya barusan. Mikoto ikut menoleh kearah pintu kayu yang besar itu sambil mengusap mata dan wajahnya yang basah dengan sapu tangannya.

Itachi menegapkan dirinya, tidak menyangka bahwa ayahnya menyadari kehadirannya. Dengan perlahan tapi pasti, ia pun mendorong pintu besar dan berat dihadapannya.

"Kau tahu apa yang kami bicarakan," kata Figaku tanpa basa-basi. "Aku memutuskan ini sebagai hukumannya agar kau tidak lagi membujukku untuk memafkan adikmu atau mengurangi tingkat hukuman yang akan kuberikan. Jadi, bagaimana menurutmu?" tanya Fugaku sambil tersenyum penuh arti kepada anak sulungnya.

Itachi membeku, tidak menemukan suaranya sendiri. Bahkan ia pun tidak dapat menemukan kata-katasaking shocknya.

Fugaku melanjutkan, "bukankah ini hukuman yang menarik?"

.

.

'_'_'_'_'

To Be Continue

.


A/N :

Sakura nya cuman sedikit ya? chapter depan pasti lebih banyak, kok. juga Chara yang lain.

Kayaknya chapter ini membosankan, ya?

.

Makasih yang udah riview kemaren.

Err... apa mesti dibalas satu2 di PM atau di A/N, ya?

Trus, apa updet dngn rentang wktu segini udah cukup?

.

Oh, iya. Riview positif di chap 1 itu maksudnya bukan sekedar flame, ya minna-san.

Jadi, aku terima masukan, kritik, saran, atau sekedar riview untuk ninggalin jejak. Atau yang lain2 deh asalkan bukan sekedar flame gak bermutu.

So, silahkan X)


21:29

WestSumatra,07062014

じゃ ね,

ゆずる てんし