Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Story by Faris Shika Nara
Warning : OOC, AU,TYPOS DLL.
Rate : M
Main pairing : Naruto x Hinata
"Hidup"
Chapter 2
"Kak-Neji!" Hinata memanggil sembari mengetuk pintu yang ada didepan-nya. Keringat mengucur dikedua sisi pelipis-nya akibat menenteng 2 koper besar dengan tangan mungilnya.
Selang beberapa saat pintu itu terbuka, menampakkan sosok pemuda berperawakan tegap tak memakai baju atasan dengan rambut panjangnya yang terurai berantakan tak teratur.
Rasa bahagia muncul dalam hati Hinata, dengan suara tangis kecil yang keluar dari bibirnya, bibirnya mengulum senyum tipis, senyum bahagia. Hinata langsung memeluk tubuh pemuda yang ternyata adalah kakak sepupunya, Neji. Berharap bisa mengurangi rasa sakit di dadanya, merasakan kehangatan seorang kakak.
"Kakak." Hinata tersenyum sembari memeluk kakaknya tersebut, wajahnya ia benamkan, menyaman-kan kepala dan wajahnya.
Sementara sang pemilik tubuh yang dipeluk Hinata itu wajahnya menunjukkan rasa risih, tidak suka.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan!" Kata Keji. Ditepisnya tangan Hinata yang tadinya sudah melingkari tubuhnya, didorong-nya tubuh Hinata, mengakibatkan Hinata mundur beberapa langkah. Perlakuan kasar dan perkataan yang keluar dari mulut Neji sungguh membuat Hinata menjadi bingung. Apa yang terjadi dengan kakak sepupunya ini? tanyanya dalam hati.
Tak seperti yang ia harapkan, Hinata berharap Neji akan menghiburnya menenangkan-nya, layaknya seorang kakak terhadap adik. Seperti apa yang pernah Neji lakukan terhadapnya dulu.
Tapi tidak. Semuanya berubah, sifat orang berubah. Neji yang sekarang bukanlah Neji yang dulu, bukan Neji yang seperti dalam ingatan Hinata. Neji yang sekarang didepan-nya sangat berbeda. Kasar, berantakan dan berbau alkohol.
"Masuk." Sebuah kata yang mengandung perintah dengan nada yang sedikit membentak itu keluar dari mulut Neji dengan kasarnya. Membuat Hinata serasa ingin menangis saja, tapi ini bukanlah saatnya untuk menangis, dirinya harus kuat seperti yang ayahnya inginkan. Menjaga adiknya dan menuruti perkataan kakak sepupunya-Neji. Walaupun ayahnya telah meninggalkannya dengan sengaja, ia tetap menuruti kemauan ayahnya. Sungguh, gadis ini mempunyai sifat yang patut untuk ditiru.
Setelah mendengar perintah dari kakaknya itu, Hinata hanya mengangguk kemudian segera berlari menuju mobil untuk mengambil adiknya-Hanabi yang tengah tertidur.
Hinata hanya berdiri saja setelah beberapa langkah memasuki rumah tersebut dengan Hanabi yang sedang tertidur pulas dalam gendongan-nya.
Hinata mematung matanya membulat dengan wajah yang memerah setelah melihat apa yang ada didepan-nya. Neji, kakak sepupunya tengah menggagahi seorang gadis dengan rambutnya dicepol, yang sudah setengah telanjang. Tubuh bagian atas hanya memakai bra, dengan celana pendek yang melekat diatas paha putih mulus tersebut.
Neji dengan ganasnya melumat bibir gadis itu, tangannya mulai bermain-main meraba perut langsing itu kemudian jari-jemarinya merengsek masuk kedalam bra, meremas dada yang lembut nan kenyal itu, membuat gadis itu mengeluarkan pekikan nikmat dari bibirnya.
"Akh... shhh." Gadis itu mendesah saat merasakan sebuah daging tak ber-tulang mulai bermain-main di area leher jenjangnya. Tangan gadis itu meremas dan menarik rambut panjang milik lawan mainnya.
"Mhhnn." Dengan dadanya yang semakin ia busung-kan, gadis itu kembali mendesah memberikan isyarat untuk sang pemuda bahwa gadis yang ada di depannya menginginkannya untuk segera bermain dengan buah dada miliknya.
Neji tersenyum puas, matanya memicing, melihat Hinata yang tengah berdiri mematung. Tak ia hiraukan, seperti tidak ada apa-apa. Neji langsung saja menarik bra yang menempel pada gadis yang tengah digagahinya, menariknya dengan paksa. Menimbulkan suara sobekan saat adegan itu terjadi. Memperlihatkan dada putih kenyal yang membuncah keatas, mrngacung dengan sempurna, menantang.
"Akhhh." Gadis itu kembali memekik saat Neji mulai mengulum puting kirinya. Suara Hisapan layaknya orang yang sedang menghisap mi pun kadang juga terdengar. Gadis itu merasakan sensasi nikmat, membuatnya terus membusungkan dadanya. Benda kenyal, lentur tak berulang yang bermain-main di putingnya menghantarkan rasa geli yang berkepanjangan, yang semakin lama membuatnya merasakan nikmat yang sangat nikmat. Ditambah lagi tangan kekar yang sedang me-remas-remas dada kanannya, menghantarkan nikmat yang membuatnya semakin bergairah.
"Jangan hanya berdiri disitu, cepat naik keatas, setelah itu buatkan kami makan malam." Kalimat perintah itu keluar dari mulut Neji dengan kasarnya. Membangunkan Hinata dari lamunan-nya.
"I-iya." Dengan tergagap Hinata menjawab, Wajah yang memerah masih bisa terlihat jelas di wajahnya. Hinata yang masih belum sadar dengan sempurna segera berjalan menaiki tangga, naik menuju kamar atas, kamar yang biasa ia pakai saat berkunjung bersama keluarganya.
Hinata segera membaringkan Hanabi yang masih tertidur keatas ranjang. Setelah selesai, ia segera menutup tubuh adiknya dengan selimut, berharap bisa membuat adiknya merasa nyaman. Hinata kemudian berjalan menuju kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dari westafel.
"Kau harus kuat Hinata, Harus!" Ucapnya menyemangati diri sambil menatap bayangan wajahnya yang berada di cermin. Dipandang-nya bayangan dirinya yang berada di cermin. Memperlihatkan wajah seorang gadis dengan matanya yang sembab dan memerah, dengan rambut indigo-nya yang sudah sangat berantakan.
Tangan kanannya mengait sebuah handuk yang menggantung di sampingnya. Mengusap wajahnya dengan handuk, membersihkan sisa-sisa air yang menempel pada wajah cantiknya. Sementara itu tangan kirinya sedang sibuk merapikan rambut poni miliknya yang berantakan.
Hinata berjalan pelan menuruni tangga menuju sebuah dapur, berniat membuat makan malam untuk kakak-nya, gadis ber-cepol, dirinya dan adiknya.
Kau baru saja datang Hinata, tapi kau sudah diperlakukan seperti itu, diperintah kesana-kemari, ini-itu, layaknya seorang babu, pembantu. Apa jadinya dirimu dalam satu jam kedepan? Apa jadinya dirimu, kalau kau akhirnya harus tinggal bersama kakak-mu untuk selamanya? Siapa yang tahu? Hanya Tuhan dan Author lah yang tau. Dunia memang kejam terhadap siapapun, ' camkan' itu.
.
.
.
"Kakak, cepatlah sedikit, aku sudah sangat lapar!" Teriak gadis berambut pirang itu terhadap kakaknya. Kakaknya yang sedari tadi berusaha mengeluarkan sebuah roti isi dari tas hitam buluk miliknya. Mendengar teriakan manja dari adik perempuannya itu membuat pemuda bersurai kuning jabrik itu terkekeh geli.
"Sebentar, sabar sedikit!" jawabnya pelan. Pemuda itu kemudian berjalan mendekati adiknya yang tengah terbaring diatas karton bekas.
"Kak Naruto dapat roti isi ini darimana?" Tanya sang adik curiga, matanya memicing melihat roti lapis yang kini sedang ia pegang.
"Tentu saja aku membelinya, kau pikir aku mencurinya?" Jawab sang kakak yang dipanggil Naruto tersebut.
"Kalau kakak membelinya, kenapa sudah ada bekas gigitan, ha?" Tanya sang adik masih curiga.
"Kakak tadi lapar, jadi.. ya aku makan. He.." Jawabnya sembari tertawa pelan.
Sang adik yang merasa sudah puas dengan jawaban kakaknya, langsung saja melahap roti isi itu. Wajahnya terlihat senang kala memakan roti yang dibelikan oleh kakaknya. Selang beberapa saat roti itu sudah habis ditelannya.
"Enak!" Ucap sang adik setelah selesai memakan roti yang kini sudah berada dalam perutnya itu.
"Benarkah?" Tanya sang kakak antusias yang kemudian dijawab oleh sebuah anggukan dari adiknya.
"Tadi kakak tidak membelinya loh, tadi kakak dikasih oleh seseorang yang sedang makan di restoran." ucap kakaknya enteng.
Raut kesal di wajah adiknya mulai terlihat, matanya melotot menatap sang kakak yang sedang nyengir ria. Mulutnya terbuka dengan wajah yang terlihat shock. Melamun sejenak, memproses semua ucapan yang keluar dari mulut kakak-nya.
"Hoeeeek-hoeek!" Sang adik berteriak, mencoba mengeluarkan makanan yang baru saja ia makan. Jari-jarinya mencoba membersihkan lidahnya yang menjulur keluar. Dengan gigih gadis itu mencoba mengeluarkan semua yang ada di perutnya. Namun sia-sia, usahanya tak membuahkan hasil. Malah membuat kakak-nya tertawa terpingkal-pingkal.
"Sudahlah Shion. Kau bilang roti tadi enak, kenapa kamu malah ingin memuntahkan-nya?" Tanya sang kakak disela-sela tawanya.
"Kakak jahat, jahaat!" Bukannya menjawab, sang adik malah memberenggut kesal pada kakak-nya, mulutnya menggembung. Sementara sang kakak, hanya terkekeh geli melihat tingkah adiknya.
"Sudahlah, sekarang cepat kau tidur, ini sudah malam!" Kata sang kakak memberi tahu, ia kemudian bangkit berdiri dan mengacak pelan rambut adiknya. Setelah itu ia berjalan sedikit, menuju tempat tidur yang tak jauh dari tempat tidur adiknya, tempat tidur yang terlapisi dari karton bekas dan koran bekas.
Tangan pemuda itu meraih selimut, kemudian menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut kusam berwarna coklat abu-abu itu. Matanya memejam mencoba untuk tidur.
"Kakak!" Suara panggilan adiknya membuatnya harus membuka mata bermanik biru miliknya, dengan terpaksa ia bangun, didudukkan tubuhnya kemudian mengalihkan pandangannya terhadap adiknya.
"Apa?" tanyanya pelan.
"Dingin." Jawab sang adik merengek manja, menatap kakaknya dengan tatapan memohon. Sementara sang kakak hanya menghela nafas kemudian bangkit berdiri mendekati adiknya yang tengah metatapnya itu.
Dibaringkan tubuhnya disamping tepat tubuh adiknya, tangan kanannya kemudian merengkuh adik perempuannya itu dalam pelukan-nya. Membuat sang adik tersenyum bahagia sembari menatap wajah sang kakak.
Gadis itu menyaman-kan posisi tidurnya, tangannya membalas memeluk tubuh kekar milik sang kakak, kemudian berbisik pelan " Aku sayang kakak" kemudian menghadiahi sang kakak dengan sebuah ciuman di pipi kanannya. Sementara sang kakak, hanya tersenyum dalam diam, karna tingkah manja adiknya, tingkah manja yang hanya ia tujukan terhadapnya.
Tidak perlu rumah besar dengan harta yang banyak untuk memperoleh kebahagiaan. Lihatlah. Lihatlah mereka yang masih bisa tersenyum tulus bahagia di wajahnya. Walaupun hanya menempati ruangan kecil, yang sebenarnya hanya sebuah toko berukuran kecil yang sudah tak terpakai, disana meraka- kakak beradik itu tengah terbaring tidur diatas kardus dan koran bekas dengan nyamannya, dengan se-ulas senyum yang terpatri diwajah keduanya.
.
.
.
.
.
Ttebayo,ttebane,ttebece, TBC...
Holla...! Bagaimana menurut anda tentang cerita ini?
Kritik dan saran sangat dibutuhkan agar fict ini menjadi semakin lebih baik.
Untuk adegan NaruHina-nya disini belum ada... Masih butuh proses. Mungkin sedikit lama... hahaha...!
Untuk yang telah mereview...terimakasih banyak.
Ni aku balas 1 per 1.
M.a.k : nih dah lanjut.
nararhety cliquers : ini chapter terbarunya...
Para Guest : nih dah lanjut.
termonitor : Bbm naik bikin author males update.
demiko : update :-D
Ayzhar : Sesedih itukah fict ini hingga bisa membuat anda menangis? #digampar.
Ida Akaibara : Emm.. aku tu gak terlalu tau masalah genre. Kalau fict ini bisa membuat anda tertawa, saya cukup senang bisa sedikit menghibur anda.
Catatan : Jangan panggil aku senpai ya.. Aku masih belajar dalam hal membuat fict.
amexki chan : Emm, ano! Aku mau nanya Prolog itu apa ya? Sumpah aku gak tau.
namikaze uzumaki family : lanjutkan.
See you..
