Disclaimer : Mamashi Kishimoto
By : wf
Pairing : naruto x?
Warning : smart!naru, cool!naru, OOC, maaf kalau cerita ini masih abal, gaje, dan banyak sekali typo, karena saya masih penulis baru dan masih amatir dan juga kalau ada kesamaan cerita dengan author lain, saya sungguh minta maaf, tapi sungguh ini murni dari pikiran saya sendiri, I hope you can enjoy reading this story, guys...
Balasan review
RavenMyta12, terima kasih untuk pendapatnya, kalau untuk pair, sepertinya masih agak lama untuk muncul, karena author ingin lebih fokus ke konflik dulu, untuk naruko ya, mungkin dapat dipertimbangkan, heheheh oh yah, terima kasih mau me review, jangan segan-segan mengkritik dan memberikan saran pd author jika menemukan typo dan lain...
Nah, minna-san ini dia capther keduanya, semoga kalian suka dan tidak bosan dalam membacanya ya,,,, terima kasih sebelumnya bagi yang menyukai dan me review fic gaje ini, jika banyak kesalahan dalam penulisan author minta maaf, karena author masih penulis amatiran, heheheheh
Capther 2
"kau pasti bingung siapa aku, jika kau ikut denganku, aku akan menjelaskan semua yang akan kau tanyakan" ujarnya padaku ketika melihat dan membaca ekspresi yang aku keluarkan. Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. Ia mengajakku memasuki mobilnya.
Didalam mobilnya, aku hanya dapat terdiam, jika ditanya bagaimana perasaanku sekarang? Jika ada yang menebak takut? Gelisah? Sedih? Penasaran? Atau yang lainnya,. Aku akan dengan bangga mengatakan kalau aku sekarang merasa bahagia. Aku tidak yakin dengan perasaan ini, namun entah kenapa ketika aku bertemu dengannya tadi, bukan perasaan takut yang menghinggapiku, tapi perasaan senang yang meluap dari hatiku yang paling dalam.
Aku tidak tahu alasannya, hanya ada rasa nyaman dan tenang serta terlindungi yang aku rasakan saat ini. Kami-sama, siapa pria ini? Apakah ia malaikat yang kau kirimkan padaku? Setelah semua tragedi yang terjadi dalam hidupku. Kalau iya, aku mengucapkan rasa syukurku padamu Kami-sama.
"hm, naruto" suara pria ini terasa sangat menenangkan ketika ia memanggilku, seakan aku dipanggil oleh ayahku. "ya, tuan" balasku padanya, jujur aku tidak tahu harus memanggilnya apa, aku belum mengetahui identitasnya. "hm, kau boleh memanggilku paman, paman tidak suka dipanggil tuan, karena paman bukanlah majikanmu" balasnya padaku.
"hm,, baiklah tu-eh jii-san" jawabku dengan terbata hingga sedikit lagi terceplos memanggilnya tuan kembali. Ia tertawa kecil saat melihat wajah gugupku.
"hm, naruto, bagaimana rasanya tinggal dan tumbuh dikeluarga namikaze selama hampir 13 tahun hidupmu" tanyanya padaku, aku memandangnya heran, kenapa ia tahu nama keluargaku, padahal seingatku aku bahkan belum menyebutkan namaku. Oh, iya bahkan ia tahu namaku.
"aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, naruto. Tapi bisakah kau menjawab pertanyaanku, aku akan menjawab semua pertanyaan yang akan kau berikan" katanya lagi seakan ia mengetahui semua yang ada dipikiranku saat ini.
"hn, baiklah" ujarku pelan, aku memutuskan untuk menjawab pertanyaan dari pria ini, karena secara tidak langsung ia sudah menyelamatkanku dari ketidaktahuan untuk tidur dimana malam ini. Bisa saja, sekarang aku berada di emperan tokoh ataupun yang lebih buruk dibawah jembatan.
"sejujurnya, aku tidak mengerti kenapa aku dapat menceritakan kisahku padamu dengan mudah, pada ibuku saja aku tidak menceritakan perasaanku sesungguhnya selama tinggal dirumah itu, sebenarnya aku tidak pernah merasa nyaman dan terlindungi termasuk merasa di sayangi. Cuma kaa-san dan jii-sama yang menyayangiku, yang lainnya menatap hina dan dengki terhadapku, seakan aku adalah makhluk paling hina dunia ini, aku tidak paham, sebenarnya apa salahku pada keluarga mereka. Sejak kecil aku sudah dianggap seperti pelayan, aku mengerjakan semua tugas yang seharusnya dikerjakan oleh pelayan sejak umurku 5 tahun, namun aku bersyukur kaa-san dan jii-sama masih membelaku, jadi jika jii-sama masih ada dirumah, mereka tidak memiliki keberanian untuk memperlakukanku seperti pelayan, jadi itu juga salah satu hal yang menjadi alasanku untuk tetap bertahan dirumah itu" jelasku pada pria ini, aku tidak mengerti kenapa aku dengan mudahnya mengikuti perintahnya, aku tidak juga tidak merasa terpaksa menceritakannya, juga tanpa aku sadari air mataku mengalir.
Ia mengangguk sebagai respon dari penjelasanku, "sakit bukan?" tanyanya lagi padaku, "itulah yang kami rasakan saat mengetahui tentangmu, namun kami tidak diperbolehkan bertemu denganmu" sambungnya lagi. Jujur, aku tidak mengerti dengan apa yang ia coba katakan padaku, kami? Tidak diperbolehkan? Sebenarnya hubungan seperti apa aku dengan orang ini.
"ee, pama—" kataku, namun belum sempat aku mengajukan pertanyaan, ia memotong perkataanku. "ee—h gomen, paman bicara yang aneh, kau pasti sangat penasaran sekarang, yang berhak menjelaskannya bukan paman. Namun, orang yang akan kau temui sekarang yang berhak menceritakan semua yang ingin kau tanyakan itu" potongnya.
Aku mengangguk mengerti, walau begitu aku mencoba menganalisis informasi yang aku dapatkan. Kami? Pasti yang dimaksudkannya adalah keluarganya, tidak diperbolehkan? Pasti keluarga namikaze melarang mereka untuk bertemu denganku, jadi, aku menyimpulkan sementara adalah mereka akan kehilangan nama baik, jika aku bertemu dengan keluarga pria ini. Kenapa begitu, karena tatapan benci dan hina yang mereka tujukan padaku pasti memiliki alasan yang kuat. Apalagi perkataan Tsunade-sama, tentang ia kehilangan 'anak kesayangan' adalah kunci kebencian mereka padaku.
Kami hanya terdiam selama perjalanan ketempat yang aku tidak ketahui.
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan menuju tempat yang ia maksud, akhirnya kamipun sampai ketempat tujuan. Aku terkejut melihat tempat ini. Bayangkan saja jika kalian dibawa ketempat yang sebenarnya layak dikatakan sebagai istana, bagaimana takjub bukan? Kediaman namikaze juga megah dan mewah, namun tidaklah sebesar dan semewah tempat ini.
Tempat ini memiliki jalan yang jauh dari gerbangnya, lapangan yang luas, bagunan khas tradisional jepang (n/a : gomen, author buruk dalam mendiskripsikan sesuatu, bayangkan saja istana inggris, namun bangunannya tradisional jepang, sulit ya? Haahhah namun seperti itulah dibayangan author heheheh) kami memasuki rumah itu dengan langkah perlahan,
"selamat datang toneri-sama" sapa para pelayan yang menyambut kedatangan kami, oh, jadi namanya toneri, kami terus melangkah maju tanpa membalas sapaan dari para pelayan tersebut.
Sampai pada akhirnya kami dihadapkan pada sebuah ruangan, aku menatap bingung kearah paman toneri, ia hanya menatapku sambil tersenyum kecil.
"ayo, masuk naruto" ajaknya padaku. Aku yang diajak untuk memasuki ruangan ini tiba-tiba merinding, jangan-jangan ia didalam akan mencincangku dan menjual organ dalamku kepada orang dengan harga fantasis, ya ampun apa yang sedang kau pikirkan naruto. Ingat dia adalah orang yang telah menolongmu. Namun, apa aku salah hal-hal seperti itu terbayangkan olehku? Dia cukup miterius menurutku.
Kami memasuki ruangan ini, aku akui menambah ketakjubanku terhadap rumah ini, didalam ruangan ini atau lebih tepatnya kamar ini mewah sekali.
"onii-san, aku sudah membawa anakmu atas permintaanmu" suara paman toneri membuyarkan lamunanku, anak? Siapa yang dimaksud oleh paman toneri, aku? "terima kasih, toneri" lirih seorang pria yang sedang berada di kasur king sizenya. Aku menatap bingung kearah pria ini yang sedang tersenyum bahagia padaku.
"ayo mendekat nak" perintahnya lirih padaku. Karena mendapat anggukan dari paman toneri, aku melangkahkan pelan kedua kakiku kearah pria yang sedang terbaring lemah ini. Aku terkejut melihat wajahnya, karena apa wajahnya sangat mirip denganku yang membedakan hanya warna mata kami saja, dia mengikuti wajahku, atau lebih tepatnya wajahku mengikuti wajahnya. Jangan-jangan spekulasiku benar, jika orang yang tengah berada di depanku ini adalah ayahku. Karena paman toneri mengatakan ia telah membawa anaknya, yang jelas anak yang dibawa paman hanya aku saja.
Ia mendekapku sangat erat, aku dapat merasakan air matanya mengalir membasahi lengan bajuku. Setelah beberapa saat, ia melepaskan pelukannya, ia kemudian menatapku dengan pandangan menyesal dan sendu. "maaaf, maafkan tou-san nak, tousan tidak dapat menjadi ayah yang baik untukmum tousan meninggalkanmu dirumah yang sudah membuatmu merasa tidak nyaman, oh yah aku adalah ayahmu. Maafkan tousan, jika kau bertanya kenapa baru sekarang aku menjemputmu, karena namikaze sialan itu tidak mengizinkan tousan untuk menemuimu apalagi menjemputmu. Tousan sudah mencoba berbagai cara untuk menemuimu, namun tidak pernah berhasil" jelas pria yang mengaku sebagai ayahku ini.
"tunggu, tu—" bisikku "panggil aku ayah" potongnya. "baiklah, tou..tou-san, kau mengatakan bahwa namikaze melarangmu untuk menemuiku, sebenarnya hubungan seperti apa yang kau miliki dengan mereka, dan sebenarnya kau siapa? Aku cukup mengerti kenapa keluarga itu menatapku hina, karena keberadaanku membuat mereka merasa sial. Tolong jelaskan secara detail semua yang sebenarnya terjadi, tentang siapa diriku? Kau? Hubungan kita? Dll" balasku dengan nada bergetar.
Ia kembali memelukku, aku merasa nyaman sekali berada dalam pelukannya, benar-benar seperti pelukan ayah pada anaknya.
"baiklah, aku akan menceritakannya padamu, namaku Hamura Otsutsuki,..." "tunggu otsutsuki, pengusaha terkenal yang hampir merajai semua industri perekonomian dunia, baik benua asia, amerika, maupun eropa bahkan afrika serta australia peringkat pertama sebagai klan terkaya, yang disusul kedua oleh Uchiha, ketiga Namikaze, kemudian Senju, terus Hyuuga, Sabaku, Uzumaki, Nara, Yamanaka dan yang terakhir Inuzuka dan Akamichi. sebelas klan yang berhasil merambah pasar internasional mengalahkan banyak pengusaha dari negara lain, wah, luar biasa" potongku saat mendengar nama lengkap pria yang aku panggil sebagai tousan ini.
"wah, luar biasa sebagai seorang bocah sepertimu tahu perkembangan bisnis" puji paman toneri padaku, tousan hanya tertawa pelan mendengar penjelasanku. "hm, aku mulai tertarik dengan dunia bisnis setelah jii-sama membelikanku buku berjudul built to sell karangan Jhon Warrilow, ia adalah seorang yang mempunyai nasihat 'have an exit strategy' dalam memulai bisnisnya, juga didalam bukunya jhon menyajikan kasus menarik bagi pengusaha yang mendekati bisnis mereka dari presfektif menjual dalam satu hari, walau banyak juga berlawanan keyakinanan dalam berbisnis dengan pengusaha lain, pendekatan ini sebenarnya dapat membantu pembacanya untuk menciptakan nilai lebih yaitu mengembangkan bisnis yang dibangun dengan sistem. Itu sebabnya aku tertarik untuk terjun dalam dunia bisnis, selain buku itu, aku juga pernah membaca buku mastery dari Robert Greene, dan masih banyak buku yang lain" jelasku pada mereka.
"wah dia benar-benar anakmu nii-san, aku belum pernah menemukan anak kecil yang tertarik dalam dunia bisnis, memang perpaduan yang luar biasa antara dirimu dan shion, you're son so incredible" sahut paman mendengar penjelasanku, tousan hanya tertawa pelan.
Tunggu sebentar, "siapa shion?" tanyaku pada mereka. "o iya, shion adalah nama ibumu, nama lengkapnya adalah Namikaze Shion," jawab paman toneri. Aku membulatkan kedua mataku mendengar perkataannya, aku tidak pernah mendengar nama itu selama tinggal di keluarga Namikaze.
"tentu saja, kau tidak pernah mendengar namanya bocah, ibu memang sudah meninggal, namun penyebab kematiannya tidak diberitahukan kepada publik, tidak ada yang membahas tentang ibumu setelah ia meninggal" jelas paman toneri karena ia tahu apa yang akan aku tanyakan.
"kau tahu kenapa bocah? Coba kau tebak penyebabnya" tantang paman padaku, aku yang tadi menunduk kembali menonggakkan kepalaku, pertama yang aku lihat tatapan sendu tousan, aku tahu penyebabnya pasti sekarang ia sangat bersedih dan merindukan kaasan.
"penyebab kematiannya pasti karena melahirkanku" ujarku lirih. "kurang tepat sebenarnya bocah, ia meninggal memang karena melahirkanmu, namun sebelum itu ia mengalami kejadian yang menyebabkan ia kritis..." "cukup toneri, biar aku saja yang menjelaskannya pada naruto" potong tousan.
"sampai dimana aku memulai ceritanya, ah iya sampai namaku Hamura Otsutsuki, aku anak pertama dari Hagoromo Otsutsuki dan Kaguya Otsutsuki, mereka adalah kakek dan nenekmu, mereka sekarang tinggal di Inggris, aku dulu menurut orang-orang sebagai orang yang gagal, tidak mempunyai keterampilan, bahkan lebih parahnya aku tidak dapat memecahkan soal matematika sederhana sewaktu di sekolah dasar, kakekmu sangat merasa kecewa dengan tousan, ia bahkan mengurung tousan di perpustakaan keluarga dengan seorang guru private setiap hari, sampai pada akhirnya tousan bertemu dengan seorang gadis kecil berambut pirang yang tergerai indah bermata biru yang selalu bersinar, ia adalah seorang murid pindahan dari Amerika waktu itu, ia sangat pintar, bahkan dapat dikatakan genius, tousan berteman dengannya berkat sensei tousan memintanya mengajarkan tousan. Ia dengan telaten mengajar tousan hingga pada waktu itu tousan dapat menyelesaikan soal itu. Sejak saat itu, tousan mulai belajar dengan giat agar dapat menyamainya, karena tousan sudah terlanjur menyukainya. Kami terus bersama hingga sampai perguruan tinggi, akhirnya tousan memberanikan diri mengungkapkan perasaan tousan padanya, ia menerima tousan dengan senang hati. Kami terus berhubungan sampai pada akhirnya kami melakukan hubungan terlarang itu, hingga akhirnya ia mengandung dirimu, pada waktu itu kami masih berada ditingkat semester 4, dengan penuh keberanian, tousan memberitahukan pada kakek dan nenekmu, awalnya mereka sangat marah dengan kelakuan kami, apalagi ia berasal dari klan Namikaze musuh bebuyutan klan kita, namun dengan hati lembut nenekmu akhirnya kakekmu menerima kaa-san dan juga dirimu. Kamipun mengunjungi kediaman namikaze untuk meminang kaa-sanmu agar dirimu mempunyai nama, namun apa yang kami dapat mereka malah mengusir kami seperti pengemis, sejak itu, kakekmu berjanji tidak akan mau berhubungan dalam bentuk apapun dengan keluarga namikaze. Keluarga namikaze memaksa ibumu untuk menggugurkanmu, namun ibumu tetap tidak mau melakukan itu, ia tetap berusaha mempertahankannya dan hingga mereka akhirnya mengurung ibumu. Tousan juga tidak berhenti memikirkan cara untuk dapat hidup bersama dengan ibumu, namun tidak ada yang berhasil. Tidak terasa sudah 9 bulan sejak kejadian itu, ibu sedang hamil besar, tousan melakukan suatu yang nekat, yaitu membawa lari ibu, awalnya kami berhasil kabur, namun setengah jalan para pengawal di kediaman itu mengetahui dan mengejar kami, tousan dan kaasan sungguh panik, apalagi air ketuban kaa-sanmu pecah, tousan sangat cemas, sampai akhirnya tanpa sadar tousan menabrak pohon. Kami kecelakaan, tousan terbangun 3 bulan setelah kejadian itu, dan mendapatkan berita bahwa kaa-sanmu sudah meninggal, rasanya tousan tidak ingin hidup. Namun, paman toneri menyelamatkan tousan dari tindakan bodoh itu dengan memberitahu bahwa dirimu masih hidup. Tousan seakan kembali hidup dan semangat. Tousan mencoba menjemputmu dirumah itu, namun yang tousan dapat mereka mengatakan bahwa dirimu baru saja mati. Mereka bahkan menunjukan kuburanmu. Kau tahu tousan seakan mati kembali, sejak itu tousan menjadi workerholic, sampai 12 tahun kemudian tousan mendengar bahwa kau belum mati, mata-mata tousan mengatakan bahwa mereka melihat seorang anak namikaze dengan rambut perak bermata biru. Tousan sangat yakin itu kau, namun sekali lagi tousan tidak mau gegabah, tousan menyuruh mereka untuk tetap mengawasimu, tak lama kemudian tousan mendapat laporan bahwa kau diperlakukan tidak baik oleh mereka, akhirnya dengan emosi tousan mendatangi mereka untuk menjemputmu, mereka melarang dan tetap mengatakan bahwa anak itu bukan kau. Sejak itu, selama satu tahun itu tousan melakukan berbagai cara agar dapat menemuimu, namun tidak ada yang berhasil. Sampai akhirnya tousan mendengar kau dikurung, hanya karena menolak untuk mengerjakan tugas menma, yang berujung ia tidak sengaja ditabrak oleh mobil. Mereka malah menyalahkanmu, tousan akhirnya tahu bahma mereka berniat membuangmu, itu sebabnya tousan menyuruh pamanmu untuk menjemputmu" jelas tousan dengan panjang lebar padaku.
Aku hanya menangis sebagai responku dalam mendengar ceritanya, aku tidak menyangka keluarga namikaze begitu jahat kepada kedua orang tuaku. Aku berjanji aku akan membuat keluarga itu bertekuk lutut padaku suatu hari nanti.
Ia memelukku, kami bertiga menangis dalam diam, tousan kembali mengucapkan kata maaf berulang-ulang. "baiklah, sekarang namamu adalah Naruto Otsutsuki, selamat datang dikeluarga kita, naruto-kun" ujar tousan setelah melepas pelukannya padaku. "hm" aku mengangguk, kembali memeluknya, sungguh aku merindukan pelukan seorang ayah. Kami-sama terima kasih kau telah menjawab doaku.
.
.
.
.
TBC
Hai hai, kembali lagi bersama dengan author gaje satu ini, ini adalah lanjutan cerita dari fic cold, dalam chap ini author berupaya untuk mengungkapkan jati diri naruto yang sebenarnya, agar reader gak bingung. Heheeh, semoga kalian suka dengan fic terbaru Author gaje ini,,, jangan lupa read and Review ya guys,,,
O yah, thank you for your appresiation,,,,,
Ok akhir kata..
WF Out...
