CHAPTER TWO; MILKSHAKE

"Yang terbaik itu vanila, [Surname]-san."

"Tidak! Pastinya coklat! Pasti!"

Kagami terus memakan tumpukan burgernya, menghiraukan laki-laki berambut biru muda dan perempuan berambut [hair color] yang duduk bersebelahan di depannya. Sejak tadi, kedua orang itu tidak berhenti berselisih pendapat tentang mana yang lebih baik; vanila atau coklat.

Kuroko merengut, untuk kali ini tidak mau kalah. "Tapi coklat punya rasa vanila, [Surname]-san."

"Sebagai pecinta coklat, aku akan mengatakan; itu perbuatan tidak baik dan tidak suci! Jangan campur coklat dengan rasa lain!" balas [Name], juga tidak mau kalah. "Dan juga, coklat batang itu ada, tapi vanila batang—"

Sebelum [Name] bisa menyelesaikan perkataannya, Kuroko mengeluarkan sebuah bungkusan dengan tulisan 'Exclusive Production of Akashi Corp; Exclusive Vanilla Bar'.

"Akashi-san!" [Name] meneriakkan nama mantan kapten Kiseki no Sedai itu dalam kepalanya. Sejak membaca kata 'Exclusive Production', dia paham kalau hanya ada satu orang yang bisa membuat sesuatu seperti itu, dan mengenal Kuroko dengan baik.

"[Surname]-san."

"Hm?"

"Daripada meneruskan perdebatan kita yang pasti tidak akan selesai, sebaiknya kita meminta pendapat orang ketiga." Kuroko berkata, menatap laki-laki berambut merah yang duduk tepat di depan mereka berdua, membuat mata [Name] bersinar.

"BFFTT—" Kagami memuncratkan cola yang baru saja diminumnya.

"Itu ide yang bagus, Kuroko-san!" kata [Name] setuju, sebelum melihat Kagami sambil menaruk kedua tangannya di meja dan berdiri. "Jadi, kamu lebih suka yang mana, Bakagami? Coklat—"

"Jangan panggil aku Bakagami!"

Kuroko menghiraukan perkataan Kagami dan menyambung perkataan [Name]. "—atau vanila? Yang mana, Kagami-kun?"

"E-Er..." Kagami bergumam dengan gugup, menerima tatapan dari kedua temannya itu. Antara memilih vanila dan dihajar [Name], atau memilih coklat dan menerima Ignite Pass Kai dari Kuroko. "...burger?"

"Hah..." [Name] menghela nafas sambil kembali duduk di kursinya. "Sebenarnya aku sudah menduga jawaban itu, tapi apa rasa yang kecewa yang mengganjal di hatiku ini...?"

"Oi!" Kagami berteriak dengan kesal.

Kuroko ikut menghela nafas pelas. "Kita salah orang untuk dimintai pendapat, sepertinya."

TWITCH, TWITCH

"Kalau begitu, bagaimana dengan kalian?!" teriak Kagami, berusaha menahan tangannya yang gatal ingin memukul Kuroko dan [Name] dengan sangat-sangat keras.

"Aku suka vanilla milkshake." Kuroko berkata sambil menyedot milkshakenya.

"Coklat batangan itu yang terbaik, Bakagami!" [Name] berkata sambil tersenyum lebar.

"Sudah kubilang, jangan panggil aku—" Kagami memotong perkataannya sendiri, menyerah karena [Name] pasti tidak akan berhenti. "Hah... maksudku, kalian lebih suka cheese burger, atau teriyaki burger?"

...

...

"Aku tidak akan makan sesuatu menjijikkan seperti itu, Bakagami." Kuroko dan [Name] berkata bersamaan dengan nada monoton.

"Jangan panggil burger dengan sebutan 'sesuatu' dan membuatnya tidak jelas! Dan kenapa kamu ikut memanggilku seperti itu, Kuroko?!" Kagami akhirnya mencapai batas kemarahannya, dan memegang sisi bawah meja dari Magi Burger.

Kuroko menghilang dengan misdirection andalannya.

[Name] yang terkejut berteriak tentang bagaimana Kuroko tidak setia kawan dan perempuan berambut [hair color] langsung lari dari keluar dari restoran cepat saji itu.

"JANGAN KABUR, [SURNAME]!"

"KUROKO-SAN, AKU TIDAK AKAN MELUPAKAN INI!"