Masashi Kishimoto - Naruto.
#Comedy
#Romance
#NaruSaku
• Beautiful memories •
'Setiapku mendekat ke arahnya pasti ada tembok yang kokoh dan tinggi. Sasuke Uchiha adalah seorang yang Sakura cinta. Aku melihatnya kini sedang bersedih karena menunggu sesuatu yang tak pasti.
Aku dengan polosnya tersenyum penuh kecerian dengan harapan diapun akan ikut tersenyum bersamaku.'
• Point of view. •
• POV. •
Setiap aku dan Sakura berjalan berdua.
Aku selalu mendengar gumamannya menyebut nama seseorang yang menjadi sahabat sekaligus rival ku. Dia adalah Sasuke Uchiha yang selalu melekat dalam ingatanku dan Sakura.
Namaku adalah Naruto Uzumaki yang hanyalah anak sebatangkara tanpa adanya kedua orangtua dalam hidupku, aku menjalani semua hidup ini dengan senyuman yang kubuat bahagia namun didalam batinku sebaliknya dari sikapku yang terlihat bahagia.
Aku sudah lama menyukai Sakura bahkan mencintai, seorang yang mencintai oranglain. Jika ada yang bilang padaku bahwa aku ini bodoh! Ya aku memang bodoh dan egois dengan caraku sendiri dengan senyum dan sikap bodohku pula.
Sudah begitu banyak misi aku kerjakan bersamannya walau dikeadaan terdesakpun aku harus fokus untuk menjaganya biarpun pintu menuju kematian setiap saat terbuka lebar untukku.
Aku hanya memiliki satu keyakinan yaitu 'jika aku menjalani semuanya dengan seluruh kemampuan walaupun kehilangan salah satu anggota tubuhku, aku masih bisa tersenyum menyambut hari esok.
"Naruto!"
Sakura memanggilku dengan lantang sembari melambai ke arahku yang sedang latihan bersama guru terbaik di dunia. Kakashi Hatake, dia adalah guru yang baik bagiku dan ada lagi Iruka dan Yamato mereka berdua juga baik padaku seakan hidupku berwarna seperti pelangi setelah hujan deras turun di siang hari.
"Sakura, ada apa?"
"Ini untukmu!"
Hah! Inikan pil bodoh yang rasanya tidak enak!"
Tak!
"Makan saja! Namanya juga pil-obat untuk penambah stamina!"
"Uhh! Sakit! Kau selalu memukul kepalaku hehe.."
Sakura hanya tersenyum dan senyumannya itu menjadi pertanyaan yang tidak bisa, aku mengerti sedikitpun. Apa dia pernah berpikir bahwa aku ini selalu jujur bilang cinta padanya? Pasti dia akan berkata 'kau jangan bercanda! Cintaku adalah Sasuke!'
Yah begitulah dia galak dan selalu memuja-muja Sasuke sepenuhnya. Aku hanya bisa garuk kepala saat mendengarnya namun aku merasa sedih harus rela bahwa aku ini tidak pernah dilihat olehnya apalagi untuk mendapatkan sedikit cintanya.
Kuberjalan di atap perumahan sambil menikmati hembusan angin. Langkahku terhenti saat melihatnya sedang bersama Sai.
Sai adalah salah satu dari team 7 yang dulunya posisi Sai ditempati Sasuke.
Aku menghampiri mereka berdua dengan candaan seperti biasanya. Sai tersenyum polos disusul dengan Sakura menatapku dengan kesal. Aku hanya garuk kepala karena dia selalu saja kurang suka dengan sikapku yang dianggap bodoh ini.
Hari ini team 7 diliburkan dari misi agar kami bisa untuk beristirahat.
Aku hanya bisa bercanda bersama kedua 'kage bunshin no jutsu' yang aku ciptakan untuk menjadi pelepas keheningan di apartemen yang sepi ini.
"Kalian berdua curang!"
"Kami tidak curang! Kau saja yang terlalu bodoh!"
Aku dan kedua tiruanku ini kami bertiga bermain kartu dengan ceria dan saling curiga bila ada yang curang.
"Hahaha... Aku menang tanpa main curang seperti kalian!"
Blum.
Blum.
Mereka berdua menjadi kepulan asap tebal seketika itu juga perasaanku menjadi sedih.
Aku seperti orang bodoh tidak memiliki teman untuk menghabiskan waktu bersama.
Berbaring sambil menatap langit kamar dan kedua lenganku sebagai penganti bantal ditambah khayalan bahwa banyak teman yang ada di apartemenku ini.
Tok.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu menyadarkanku dari lamunan. Aku beranjak dan menuju pintu keluar apartemenku disaat aku membuka pintu langsung disambut dengan senyuman manis dari seorang yang aku cinta secara diam-diam.
"Sa-Sakura!"
"Kenapa kau terkejut seperti itu Naruto?"
"Hehe... Aku hanya senang makanya terkejut."
"Hm..?, benarkah? Karena senang sampai terkejut? Dasar kau ini selalu saja aneh."
• Point of view end. •
( POV. )
Naruto begitu senang saat membuka pintu karena Sakura ada dihadapannya. Sakura masuk ke dalam apartemen milik Naruto saat dipersilahkan untuk masuk.
"Naruto, apa kau tidak pernah bersih-bersih? Tempat tinggalmu kotor sekali."
Sakura berjalan menelusuri dalam rumah Naruto, ruangan yang terlihat begitu tidak terawat seakan seperti diabaikan. Cup ramen berserakan di atas meja.
"Hehe... Aku tidak sempat
bersih-bersih."
Sakura menghela nafas berat karena alasan Naruto yang tidak masuk akal pikir Sakura 'mungkin saja Naruto ini seorang yang pemalas di bidang bersih-bersih.'
Sakura mengajak Naruto agar membersihkan kamar yang begitu berantakan. Sakura sampai drop melihat boxer Naruto di sana-sini dan diakhiri dengan menjitak kepala Naruto beberapa kali karena Naruto sangat jorok menurut Sakura.
"Uhh.. Sakit.."
"Rasakan! Enak tidak! Dasar pemalas! Kau harus rajin merapikan kamarmu yang menjijikan ini!"
"Hehe... Biasanya bayanganku yang mengerjakan semuanya."
"Bodoh!"
Dak!
Duaaaar!
Sekali tinju kepalan tangan Sakura, Naruto langsung melesat menuju tembok dan menempel seperti Cicak di dinding.
"Arkk! Sakit.."
"Nikmati rasa sakitmu itu!"
"Sakura, kau tega sekali denganku.
Uhh.., rasanya badanku tidak bisa bergerak."
"Huufh..."
Naruto duduk bersandar di tembok sambil menatap Sakura yang mulai mendekat ke arahnya.
Sakura tersenyum sembari membelai rambut pirang Naruto. Naruto merona saat menikmati setia belaian di rambutnya. Naruto terus menatap intens mata Sakura dan dibalas dengan senyuman yang begitu menenangkan bagi Naruto.
"Naruto, apa kau selalu kesepian?"
"Tidak juga. Aku punya team yang baik dan guru yang baik ditambah lagi dirimu Sakura. Jadi mana mungkin aku kesepian."
"Kau pintar sekali bicara."
Naruto diam membeku saat Sakura memeluk tubuh Naruto. Niat Naruto ingin membalas pelukan Sakura, namun ada perasaan ragu di dalam benaknya.
"Tenanglah jangan merasa sendirian. Karena aku selalu ada di dekatmu Naruto."
"Sakura, aku sangat senang.."
"Kau selalu senang dikeadaan apapun ya? Dasar pintar membohongi perasaan sendiri."
"Hehe.."
Mereka berdua melanjutkan bersih-bersih sehingga selesai. Dan tanpa terasa siang pun sudah menjelang sore.
Naruto membuat 2 cup ramen yang bisa dinikmati untuk mereka berdua, Naruto dan Sakura mengobrol dengan ceria namun harus diakhiri saat Sakura pamit akan pulang ke rumahnya.
"Naruto ingat pesanku. Kau jangan malas! Mengerti?"
"Sip! Aku tidak akan malas! Ini janjiku sebagai seorang pria sejati!"
"Bagus, itu lebih baik. Kau pasti bisa jadi lebih baik! Naruto Uzumaki kan temanku yang sangat bisa diandalkan bukan?"
"Hehe... Begitulah, aku bisa diandalkan ya?"
"Dasar bodoh kenapa malah bertanya padaku!"
Saat Sakura membuka pintu apartemen Naruto, Naruto terlihat begitu sedih lalu bertanya kepada Sakura.
"Sakura, apa kau masih menyukai Sasuke?"
"Mm?, tentu saja. Aku ini sangat mencintai Sasuke melebihi apapun juga."
"Aku mencintamu Sakura. Apa kau bisa menerimaku?"
"Naruto.."
"Hahaha... Aku bohong, itu hanya masalalu dan Sakura pasti tau aku hanya bercandakan?"
"Bodoh. Kau selalu saja bersikap bodoh! Mau sampai kapan kau mau seperti ini? Jujur saja aku percaya kata-katamu itu Naruto."
"Per-percaya?"
"Terimakasih karena kau selalu menjagaku. Aku belum bisa membalas kebaikkan dan perasaanmu Naruto. Andai aku bisa memiliki kalian berdua.."
"Memiliki kalian berdua?"
"Apa aku ini egois? Ingin memiliki 2 cinta sekaligus?"
"Aku tidak tau.."
"Apa kau tau Naruto, aku ini lebih bodoh darimu. Dan tidak bisa memilih dengan baik."
Naruto hanya tertunduk lesu sembari mendengarkan ucapan Sakura, Sakura menatap Naruto dari ambang pintu sambil menunggu ucapan Naruto.
"Aku akan meyakinkanmu Sakura. Aku benar-benar mencintaimu dengan perasaan yang dalam."
Sakura meminta maaf karena perasaan dan pemikiran egoisnya itu namun Naruto hanya tersenyum. Sakura pergi meninggalkan apartemen Naruto, Naruto hanya melihat sekeliling apartemennya ruangan yang begitu sepi yang tadinya ada canda tawa begitu menyenangkan hati. Namun Naruto harus sadar bahwa dia hanya orang kedua dalam hati Sakura, Naruto berpikir dalam lamunannya.
'Dia seperti cadangan di dalam dunia cinta yang indah.'
#The_End
