Air mata turun perlahan. Tanpa diduga tanpa bisa di cegah. Segala pelukan ini, apakah akan menghilang jika terbit fajar? Ataukah akan bertahan selamanya di hati kita. Seperti udara yang menjelma di dunia. Begitu di butuhkan, tanpa bentuk, tanpa ikatan. Hanya bertahan di manapun, tapi kita tahu ada. Seperti rasa cintaku Sasuke, tidak terbatas. Untuk segala hal yang kuhela, aku tahu. Kita akan saling memiliki.
.
.
.
Stalking Romeo
(first part for the Romeo trilogy)
Story board by: pororo90
Dikembangkan dari imajinasinya Ruu Shizuku
Disclaimers: all chara are belong to Masashi Kishimoto
and I don't take any provit for this,
just only to have fun.
Warning: AU/M/Typo/gajeness/OOC
Sasu-Hina rules.
.
DLDR!
Fragmen kedua.
(two face of angel)
.
Selamat membaca..
.
.
Mereka tahu ini keliru. Ketika ciuman yang lembut telah berubah menjadi lumatan penuh gairah. Ketika segala hasrat yang mereka coba simpan dengan rapi justru bergolak, melawan. Dan akhirnya menang mengalahkan akal sehat. Menghianati semua orang..
Manghianati Sakura.
Menghianati Naruto.
Menghianati nilai luhur persahabatan mereka.
.
Dan membiarkan nafsu dan kebutuhan akan cinta merajai semuanya. Membunuh akal logika, lalu membuat mereka terjerumus.
Jatuh.
Dan tak tertolong lagi.
.
Hinata tetap terjaga, meski Sasuke telah tertidur sambil memeluknya seperti sekarang. Pelukan erat. Yang tak pernah akan ia lupa.
Beberapa saat yang lalu, setelah penyatuan menyakitkan juga sensasi yang tak pernah ia rasakan meledak dan berbaur menjadi satu. Sesuatu yang menautkan keduanya lebih dari sekedar sahabat.
Tak ada sahabat yang meniduri sahabatnya sendiri.
Hinata merasakan cairan bening merembes di sudut matanya.
*Romeo Series*
.
.
Hinata tahu. Ketika saat itu tiba, ketika akhirnya ia merasaan apa yang disebut dengan kehilangan. Rasa bersalah muncul. Tapi tak dapat mengubah apapun. Hinata tahu, kalau ia terlambat. Ialah, orang paling egois yang pernah diciptakan di bumi..
Hanya karena ia rapuh, maka ia melukai semua orang.
Dan kehilangan Sakura. Satu-satunya sahabat perempuannya yang bisa memaklumi segala hal yang mungkin ganjil bagi orang lain.
Sakura, sahabat Hinata yang juga pacar Sasuke.
Bukan, bukan begitu yang sebenarnya.
Begini, urutan yang sebenarnya.
.
Hinata tahu persis bagaimana Sasuke mempertahankan diri. Jenis perilaku seseorang untuk mengaburkan jati diri yang sebenarnya. Ya, salahkan dirinya yang diam-diam mengamati Sasuke. Mengamati perilaku ganjil dari sahabatnya.
Sasuke adalah type mirror disorder. Melakukan kebalikan dari apa yang dirasakannya. Jadi, jika sesungguhnya ia orang yang rapuh dan pemilih. Maka ia justru akan menjadi pribadi stoic yang playboy. Hanya untuk menutupi seberapa kurang dirinya sendiri.
Namun begitu, ia tak perlu menjadi sosok lain jika bersama Hinata. Ia akan berubah menjadi lelaki yang agak manja, yang selalu minta di perhatikan.
Terutama soal urusannya bersama Sakura.
Hinata tahu betul kenapa Sasuke memilih gadis periang, yang sifatnya justru berkebalikan dengan Hinata. Karena Sakura tidak akan mengancam posisi Hinata. Karena mereka berbeda, sama sekali.
Sakura, tangguh. Dan Sasuke tahu, kalau wanita itu mempunyai hati yang lapang, jika suatu saat tahu bagaimana perasaan Sasuke yang sebenarnya. Namun bukan Sakura jika ia tidak mudah menyerah.
Memasuki kehidupan Sasuke-Hinata bukanlah hal yang bisa diterima akal logika. Sasuke lebih membutuhkan Hinata dari yang dapat dicerna akal sehat. Menyakitkan, saat kau tahu segala usaha yang kau kerahkan sia-sia. Tak berarti.
Namun, Sakura yakin. Dengan berdiri diantara keduanya sebagai sahabat yang bisa memaklumi segala ketergantungan keduanya akan bisa meredam kekecewaannya sendiri.
Dan berhasil.
Berhasil menjadi sebuah jarak yang setidaknya mengerem tingkat kedekatan Hinata dan Sasuke. Mengerem tingkat ketergantungan yang membuat Sasukenya sakit.
..
.
"Ada yang harus kita bicarakan Hinata.."
Hinata tersenyum manis, "Ya, Saku-chan.."
Sakura menggandeng tangan Hinata menuju atap sekolah. Membiarkan perbincangan kali ini menjadi milik mereka berdua. Tanpa kehadiran Sasuke, yang jelas akan lebih memperhatikan Hinata.
Angin musim gugur berhembus, Sakura masih menatap langit di ujung sana. Sambil sesekali menikmati keganjilan hening yang menyelinap diam-diam.
"Aku tahu, Sasuke tidak pernah mencintaiku.." ujarnya sambil melihat lagit. Tanpa memperhatikan Hinata yang meremas roknya dengan cemas.
Hinata terkesiap, lalu menunduk. Membiarkan matanya hanya memandangi lantai. Ia tahu, tahu kalau suatu saat akan jadi begini. Takut, perasaan takut menyergapnya. Seperti seorang anak kecil yang kepergok mencuri roti milik kawannya. Takut jika sang kawan akan meninggalkannya.
"Aku menyerah. Jadi, lebih baik kau bilang padanya kalau kalian saling menyukai."
"Tidak!" kali ini, Hinata membiarkan sisi satunya yang mengambil alih. Bukan Hinata si manis yang tergagap. Bukan Hinata si gadis kecil yang meminta perlindungan. Tapi Hinata-nya Sasuke. Yang melindungi Sasuke. Hinata si tegar, yang membuat Sakura hampir tak mengenalnya.
Hinata mendongak. Menatap mata Sakura sekali lagi. Bukan dengan tatapan segan dan malu-malu. Tapi seorang wanita dewasa yang tahu segalanya.
"Kau membenciku." Tuduh Hinata.
"Ya, Tuhan.. apakah itu yang ada di pikiranmu, Hyuuga?!" Haruno Sakura menatap Hinata nyaris tanpa berkedip. "Aku menganggapmu sahabat. Dan aku tahu betapa kau membutuhkan Sasuke. Dan oleh karena itu, aku memutuskan untuk pergi."
"Kau hanya seorang pengecut Haruno."
Mata Sakura melebar. Hinata yang pendiamnya sudah pergi sejak ia membawa gadis itu ke atap. Ia sadar, yang ia hadapi sekarang adalah Hinata yang lain. Hinata yang memiliki sisi yang sama dengan Sasuke. Sisi yang saling bergantung. Seperti udara dan partikelnya. Sisi yang kelam dan kesepian.
Sakura menarik napas, "Aku akan merindukanmu.." ia lalu mengulurkan tangan untuk menjangkau tubuh ringkih sahabatnya. Sahabatnya yang imut, dan juga rapuh. Memeluk Hinata yang mungkin untuk terakhir kalinya.
"Terima kasih karena kau memberikanku kesempatan menjadi sahabat dan juga seorang kakak perempuan kepadamu. Terima kasih karena kamu mengizinkanku terus bersama Sasuke. Terimakasih, karena kau membukakan mataku, bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa terus kuraih."
Setetes air mata jatuh. Merubah mood swing Hinata. Membut gadis itu menjadi Hinata yang dikenal semua orang. Gadis manis yang baik hati, yang tak mampu mengucapkan kaliamat kasar yang menyesakkan rongga dada. Hanya menjadi Hinata yang milik semua orang.
"Sakura-chan.. jangan begini" Hinata menelan ludah. "Ja-jangan, jangan pergi karena aku."
Sakura justru tersenyum tulus. Kemudian menepuk kepala Hinata dengan lembut. "Aku pergi karena keinginanku sendiri. Karena aku tahu, jalan yang terbaik untuk kita semua."
"Ja-jangan." Kali ini, Hinata yang cengeng telah kembali. Hinata yang menangis dipelukan Sakura. "A-aku sudah per-nah bi-bilang kalau me-menyukai Na-naruto-kun kan," Hinata menangis sesenggukan. Mengabaikan betapa memalukannya dia sekarang ini. Merengek seseorang untuk memaafkan kejahatannya.
Telapak tangan Sakura mengelus surai Hinata. "Kita tahu, kalau cerita itu bohong. Kita tahu siapa yang kau cintai sesungguhnya. Jadi Hinata kejarlah cintamu sendiri.."
"Ti-tidak, Sakura-chan. Ayo, kita lupakan semua ini. Anggap kita tak pernah bicara. Kau-kau harus bahagia ber-bersama Sasuke-kun. Aku akan menjauhkan diriku.."
"Dan membuat Sasuke seperti orang gila?"
Hinata terkesiap, ia meremas ujung roknya lagi.
"Kalau ada yang harus mundur, itu adalah aku.." Sakura menarik napas. "Sejak awal aku tahu, Sasuke hanya memperhatikanmu. Begitu pula dirimu. Tapi aku berpura-pura tuli dan buta. Hanya karena mencoba memahami dunia kalian. Aku jadi egois.."
"Sakura-chan—"
Sakura tersenyum, "Pertama kalinya mengenalmu, aku begitu iri. Kalian seperti dunia yang berbeda. Meski tanpa bicara pun, bagaimana kalian saling menatap, tentu bisa menebak. Bahwa kalian saling mencintai walaupun tanpa diucapkan. Saling bergantungkan diri. Jadi bagaimana rasanya bermain dengan kalian. Tapi sejauh yang kucoba, aku justru menjadi penghalang.."
"I-itu ti-tidak benar!" Hinata mencoba menyangkal.
"Berhentilah menjadi seperti ini Hinata.. Kita tahu, kalau kau terlalu baik seperti ini kau justru melukaiku.."
Hinata mengeratkan pelukannya kepada Sakura.
"Sebenarnya aku memang harus pergi karena orang tuaku pindah tugas. Kupikir, hubunganku dengan Sasuke-pun juga harus berakhir.."
Hinata membiarkan Sakura berbicara semaunya. "Tapi, aku sudah puas dengan rasa penasaranku. Jadi.. aku tidak ingin menyesal."
Tapi Hinata merasa tubuh Sakura berguncang. "namun begitu, aku justru mencintainya semakin dalam.."
"Sakura-chan—"
"Hinata berjanjilah padaku, untuk membahagiakannya.."
.
Aku tahu, kalau semua tak bisa kembali lagi. Keegoisanku telah kubayar mahal. Pada akhirnya aku hanya akan sendirian. Atau berakhir kesepian seperti Sasuke. Aku segera menggeleng. Jauh di dasar hatiku, aku menginginkan sesuatu yang normal. Bukan dengan diam-diam memuja dirinya seperti ini.
Ya, aku seorang penguntit. Diam-diam mengawasi Sasuke. Dan membuat dia seolah-olah tak bisa hidup tanpa aku. Tapi, aku hanyalah manusia kerdil yang takut akan adanya perpisahan. Jadi, meski kami saling mencintaipun, tidak akan ada ikatan yang lebih dari persahabatan. Karena seorang pacar hanya membuat kami bisa dipisahkan, tapi sahabat akan bersama selamanya.
*Romeo Series*
.
Aku mengantar Sasuke ke bandara. Melepasnya sebelum ia melepasku. Memasang wajah termanisku untuk ia kenang. Ia akan menjadi yang pertama. Dan aku juga akan menjadi yang pertama untuknya, selebihnya hanya inilah kami. Sepasang sahabat yang memiliki semuanya. Cinta, persaudaraan, dan juga persahabatan. Dan aku rela, menjadi stalker hanya untuk membuat ia tak bisa melupakanku. Aku tak bisa, hidup dengan dia yang mengacuhkan aku.
Aku memeluknya erat.
Air mata turun perlahan. Tanpa diduga tanpa bisa dicegah. Segala pelukan ini, apakah akan hilang jika terbit fajar? Ataukah akan bertahan selamanya di hati kita. Seperti udara yang menjelma di dunia. Begiyu dibutuhkan, tanpa bentuk, tanpa ikatan. Hanya bertahan di manapun, tapi kita tahu ada. Seperti rasa cintaku, Sasuke. Tidak terbatas. Untuk segala hal yang ku hela, aku tahu. Kita akan saling memiliki.
*END*
.
a/n:
Haaaiii..
Maaf telat update. *ojigi.
Berakhir mengerikan. Saya sudah tahu kalo membuat school fict itu akan jadi jelek begini #tapi maksa.
Jujur, saya sudah lupa gimana suasana sekolah. *ketahuan lok udah tua n bangkotan.
Hhuuuffttt.
Biarlah itu menjadi takdir saya, hiks.. T^T
Terimakasih kepada teman-teman yang telah mendukung saya.
rina. fitriana. 3192
uma
ayik
Dewi Natalia
Syuchi Hyu
Samuel D'Luciver
J. Vicko vie
Sa-chan 9797
Ulva-chan
Kirei Neko
Aizy. Evilkyu
Hinata holic
Renita Nee-chan
Rhe Muliya Young
Kirigaya chicka
Rara chan 89
Ore
Luluk Minam Cullen
Celty Fuyumi
Narshashl
Kin Hyuuchi
Lovelysasuhina
YuMin Lee
Aqua Titania
Terima kasih atas partisipasinya dalam menyumbangkan review.
Untuk semua pembaca, tak lupa saya berterima kasih juga untuk kalian.
Kalian adalah semangatku.
yooossshhhh!
Boleh meminta review?
salam hangat
poochan ^^V
