You don't even call me first anymore
When you're with me, you would only look at the sky even if a day is a second long
I know your mind, the distance between you and me…
… is going farther and wider, we're no better than strangers.
—I'am a loner* CN BLUE—
.
.
Happy reading minna~
…
"Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian?" Sakura memandang wajah Hinata dengan kening berkerut.
Hinata tersenyum, lalu menyesap teh hangat yang disediakan oleh konsultan kesehatan yang nota bene adalah sahabatnya di bangku SMA. Sahabat pertamanya, yang mungkin juga satu-satunya yang ia miliki jika Sasuke tidak dihitung. Ya, sejujurnya Hinata tak pernah mampu memasukkan Sasuke ke dalam kotak berisi sahabatnya. Sasuke berbeda. Ia tahu benar, tapi, ia tak mampu-
-ada kotak khusus untuk Sasuke, tapi ia menyangkalnya.
"Apa kau akan terus berpura-pura seolah aku tak mengetahui apapun?"
"Saku—" hinata menatap mata hijau Sakura yang menatapnya geram.
"Demi Tuhan, Hinata. Katakanlah, mengapa kau menikahi Gaara jika kau tahu kau hamil anak Sasuke dan mencintainya?!"
.
Ya, mengapa?
.
Hinata hampir saja mengucapkan apa yang juga di pikirkannya. Namun, wanita itu justru menggigit bibirnya kuat-kuat.
Sakura mendengus, ia marah. Marah kepada wanita bodoh yang ada di depannya ini. "Jika ini tentang masa SMA dulu, aku sudah pernah bilang. Semua sudah berlalu." Ujar Sakura.
.
Hinata mendongak. Ia menarik napas, hanya untuk membiarkan air matanya lolos. Ia memejamkan mata, mengenang kembali segalanya dari awal.
…
..
Sakura adalah sahabatnya. Dan gadis bersurai permen kapas itu menyukai Sasuke. Singkatnya lalu mereka berpacaran, ia merasa kesepian, karena kedua sahabatnya terlihat sering berdua. Lalu menyadari satu hal, bahwa ia tidak bisa mengingkari kalau ia cemburu. Lalu datang Naruto. Yang sanggup mengalihkan dunianya dan Sasuke bukan lagi prioritasnya. Tapi lagi-lagi. Ia hanya melihat kehampaan ada ruang kosong yang terlambat ia sadari.
Lalu ia melihat kesempatan yang ada, dan mengambil Sasuke untuk dirinya sendiri. Namun, perasaan bersalah menggerogotinya. Terlebih ketika kepergok berselingkuh di belakang Naruto yang sedang bersama Sakura. Kemudian, Naruto kecewa, pergi, dan Hinata yang sadar lalu berlari untuk mengejar kebahagiaannya sendiri. Sayangnya ia tak melihat jika ada sebuah mobil melaju berkecepatan tinggi yang melaju ketika ia menyeberang. Naruto yang melihat segera berbalik dan melindunginya. Ia selamat namun mati karena menyelamatkan Hinata.
.
Pesan terakhir pacar pertama-nya, "Aku mencintaimu, selalu—"
Rasa penyesalan itu menyakitkan. Dan lebih sakit jika ia terus mengulangnya.
…
..
.
Bersama dengan Sasuke hanya akan mengulang-ulang segala kesalahan di masa lalunya. Jadi inilah pilihan satu-satunya yang Hinata pikir bisa dipilih. Bahwa menjauh sejauh-jauhnya dari Sasuke adalah pilihan yang paling masuk akal. Karena ia yakin, dengan menjauh akan membuatnya merasa tenang. Tidak perlu takut akan segala hal yang mungkin akan membuatnya tenggelam dalam luka lama.
"Jika ini menyangkut Naruto—"
"Berhenti!" potong Hinata. "Aku bukan gadis dungu, Sakura."
.
Sakura menyipitkan mata, enggan untuk mendengarkan meskipun harus.
"Bagaimana kau akan menjelaskan keberadaan Ino jika aku bersamanya, ha?" Hinata mendongak, menatap warna jamrud milik sahabatnya yang berambut merah muda. Menatapnya dengan rasa kesal dan juga cemburu.
.
Sakura menarik napas. "Sampai kapan kalian akan menjadi orang bodoh, he?! Dia menerima Ino karena kau lebih dulu yang bertunangan dengan Gaara!"
Hinata tersenyum pahit, "Aku bukan kekasihnya. Jadi inilah balasanku untuknya!"
"Tsk!" Sakura berdecak gusar, "Jangan bilang itu strategimu untuk diakui olehnya."
"Ya!"
"Kalian sama-sama gila!" Sakura geregetan.
.
Hinata menunduk, "Romeo dan Juliet. Aku benci jika aku hanya menjadi Juliet yang menunggu Romeo datang sebelum kematianku. Aku benci hanya menjadi miliknya atas dasar nafsu. Aku benci ia datang jika dunia tak mengakuinya. Aku benci.." Hinata terisak, "Menjadi orang yang terlalu dekat hingga ia tak pernah tahu sakitnya ditinggalkan."
"Hinata.."
.
Hinata bangkit dari tempat duduknya, tidak menghiraukan panggilan Sakura.
"Hinata!" suara Sakura meninggi.
Wanita bersurai indigo itu menghentikan langkah, meski ia menoleh, tapi tubuhnya enggan berbalik. "Ini harga diriku yang terakhir Sakura. Bukan aku yang harus berjuang untuknya. Tapi biarkan ia menentukan apa yang bisa ia perjuangkan untukku."
"Dia sedang sakit, apakah kau mengerti?" Sakura mengharapkan Hinata mengampuni Sasuke.
"Apakah jika ia sehat, ia akan memilihku?"
.
.
Sakura mematung. Matanya menatap Hinata sendu.
"Jika ia sehat, apakah ia bisa memilihku tanpa memandang dirimu, Ino atau wanita manapun di luar sana? Apakah ia akan bercinta denganku dan mengabaikan aku adalah sahabatnya?"
"Cukup Hinata! Jangan siksa dirimu dengan pertanyaan konyol macam itu!"
.
"Aku hanya bertanya sebagai wanita, Sakura. Ia belum bisa membedakan mana cinta dan kebutuhan. Dan aku bukan keduanya!"
Sakura memandang Hinata dengan raut muka prihatin.
.
Wanita Hyuuga itu mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Ia lelah.
Lelah menjadi Juliet yang merana karena menunggu Romeonya.
.
.
.
STEALING ROMEO
(3rd part for the trilogy)
Story by: Pororo90
All chara's belong Masashi Kishimoto.
Warning: AU/OOC/Typo/Gajeness
Rated M
DLDR!
Fragmen 2: Romeo - Juliet's tale.
You've been warned!
…
..
.
Sasuke mengasingkan diri ke Maldives. Menata hatinya yang kacau balau karena Hinata. Ia tak pernah mengira Hinata akan meninggalkannya. Tidak setelah semua hal yang mereka lalui bersama. Ia menarik napas lelah, lalu menyandarkan kepalanya ke kursi malas di balkon belakang hotelnya. Menikmati matahari tenggelam kesukaan Hinata lalu justru berakhir dengan meremas rambut panjangnya yang berantakan.
Sungguh, ia hanya butuh suasana kondusif untuk menata hati dan memulihkan diri. Tapi bagaimana cara ia bisa pulih jikalau obatnya tertinggal di Suna. Di dalam dekapan keluarga Sabaku. Ia tak yakin luka ini bakal sembuh. Rasa sakitnya justru makin mengakar. Kesepian dan juga perasaan diabaikan membuatnya kehilangan jati diri.
Ia bahkan tidak peduli bagaimana tamparan Ino saat tahu ialah yang merencanakan penghilangan Hinata ketika pesta topeng. Ia tidak patah hati ketika Ino dengan air mata dan kemarahannya meminta putus. Ia tak hilang harapan saat keluarga Yamanaka dan Namikaze memutuskan hubungan kerja. Baginya semua kerugian materi bisa dicari. Kehilangan image di mata publik bisa dibangun kembali, tapi tak ada dalam kamus masa depannya kehilangan Hinata.
Tubuh Sasuke masih berada di atas kursi malas yang menghadap ke pantai. Ia butuh ketenangan. Butuh udara yang sempat terenggut darinya.
...
"Kau bersembunyi di sini sementara kekasihmu menyiapkan pernikahan, tch. Betapa menyedihkannya dirimu."
Obito Uchiha, si muka parut menatapnya dengan mata yang masih utuh sebelah. Paman jauhnya yang memiliki marga yang sama itu mengejeknya dengan memberikan senyum sumbing yang sama sekali tidak keren.
Obito hanya lelaki cacat wajah yang memiliki real estat besar. Ia adalah Uchiha kaya yang tidak berkeinginan menikah tapi memiliki satu anak angkat.
Dan Sasuke adalah keluarga sahnya yang paling jauh sekaligus paling murni.
Sasuke berdecak kesal saat orang tua itu datang merecoki hidupnya, sama saat seperti pria itu tiba-tiba memperingatkannya tentang Hinata yang tiba-tiba menerima pinangan Sabaku.
"Lihat aku." Obito memandang hamparan laut lepas. "Aku menyesal. Karena tak pernah mengucapkan kata cinta bahkan ketika ia masih ada di sisiku. Tak pernah memperjuangkannya karena tahu betapa ia mencintaiku. Aku terlalu percaya diri bahwa ia akan kembali kepadaku.."
Sasuke merasa dirinya ditampar.
.
"Ketika ia memutuskan untuk menerima tunangan yang dipilihkan orang tuanya, aku hanya menjadi pecundang yang sok tegar dengan melepas ia pergi. Tapi diam-diam mengatur strategi agar dia meninggalkan tunangannya. Berharap dialah yang mengejarku seperti sebelumnya. Tapi sifat tamak yang diwariskan Uchiha hanya membuahkan sifat egois yang merugikan. Aku melarikan dia di detik terakhir. Mengabaikan tatapan terluka semua orang. Lalu mobil kami tergelincir. Dia terjebak didalam mobil sementara aku berhasil keluar dan berusaha menolongnya."
Sasuke menelan salifa yang berubah menjadi gumpalan duri.
"Aku baru tahu kalau dia hamil anakku saat outopsi berlangsung. Luka di wajahku akibat kecelakaan itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan rasa kehilangan dan penyesalan di dalam hatiku. Hingga hari ini aku menyesal telah mengabaikan perasaan Rin. Dan aku hanya puas ketika orang lain yang mengaku suaminya membawa jasadnya pergi dari jangkauanku."
Kami terdiam,
"Luka di wajahku tidak ingin kuperbaiki. Setidaknya setiap kali aku bercermin aku akan selalu ingat rasa sakit ini, ini adalah caraku menebus dosa padanya. Sekarang tinggal sebuah pertanyaan, apakah dia pantas kau perjuangkan? Apakah kau mau memohon untuknya. Itu jelas adalah pilihanmu sendiri. Kau tahu, kadang kehamilan membuat orang lebih sensitif, lebih peka, lebih egois dan bahkan lebih pencemburu. Perhatianmu adalah sebuah kewajiban ah- tidak. Sebuah perintah. Dan kau tidak memahami perintah itu Sasuke!"
.
Sasuke menggeram, "Dia sendiri yang memilih pergi."
"Itu karena dia hamil! Apa kau tak pernah baca jika wanita hamil itu moodnya seperti roller coaster?!"
.
Suara Sasuke tercekat, "Kau tahu Hinata hamil?"
Obito Uchiha tertawa sumbang. "Ini bukan pertama kalinya ia hamil anakmu."
Sasuke merasa udara di sekitarnya menghilang. Ada perasaan marah ketika tahu berita ini.
"Ia pernah hamil tapi keguguran, tepat saat kepergianmu ke luar negri. Saat ia ingin mengabarkan kepadamu, kau sudah bersama dengan gadis yanga lainnya lagi. Menurutmu apa lelaki berengsek seperti kau pantas untuk dipilih?"
"Bagaimana kau tahu?" Sasuke mencengkeram kerah Obito. Gusar atas semua informasi bertubi yang menyudutkannya.
Lelaki tua itu terkekeh, menatap mata Sasuke sendu. "Karena aku melihat diriku dalam dirimu. Jadi aku menitipkan sebuah takdir yang berbeda dari yang kumiliki. Hanya kau Uchiha yang tersisa selain aku. Apa kau pikir aku akan membiarkanmu menderita sepertiku?"
Cengkeraman di leher Obito mengendur, "Jika kau tak mau menekuk lututmu demi egonya yang mungkin saja bawaan bayimu, kau akan kehilangan dia selamanya. Percayalah!"
"Jadi aku harus bagaimana?!" Sasuke mengacak rambutnya, lalu dengan gusar mengusap kasar wajahnya yang tampak mengerikan dengan tampang kuyu, kantong mata, serta jambang yang belum dicukur.
"Kau bisa menculik dia di keramaian seperti yang kau lalukan pada pestanya Ino. Atau kau akan memperkosanya lagi seperti yang kau lakukan malam itu hanya untuk menunjukkan seberapa kuatnya kau megikatnya dengan takdirmu. Berharap egomu yang setinggi Kilimanjaro itu terpuaskan. Titik masalahnya adalah tergantung tekadmu sebesar apa? Bukankah kalian ini sepasang idiot yang tidak bisa bermain dengan yang lain?"
"Jika dia menolak?"
"Menurutmu dia hamil atas kemauannya sendiri?! Bukankah kau tak peduli ia mau atau tidak hamil anakmu. Kenapa kau repot memikirkan perasaannya?"
Sasuke menatap sebelah mata Obito yang masih berfungsi,
"Kita tidak pernah menyadari, bahwa para iblis selalu lebih mengerti jalan pikiran para malaikat. Karena mereka diciptakan dengan tangan yang sama. Tapi diberi tugas yang berbeda." Obito kembali meracau. Lalu terkekeh sumbang, "Hei Romeo, jemputlah Julietmu kembali."
****Romeo Series****
.
.
.
Ketika kakinya menginjak kota Suna yang berbau gurun, ia memang sengaja mengikuti kekasihnya itu pergi.
Mobil putih milik keluarga Sabaku berbelok ke sebuah klinik kecil yang tampak familiar di matanya.
Duduk di meja kemudi dengan gusar ia mencengkeram stir mobilnya kuat-kuat. Ada kepingan ingatan yang menyakitkan pada masa lalunya yang tak ingin ia hadapi sekarang.
Tentang kesalahan yang berputar-putar dalam benaknya seperti angin puting beliung. Ia merasa begitu terasing. Kenangan penghianatannya terhadap Sakura menghantam ingatannya dan nyaris membuatnya meninju kaca depan mobilnya.
Bertemu dengan Sakura sekarang adalah kenyataan yang paling dihindarinya. Tapi ia tahu masa depannya di mulai dari sini.
'Tergantung seberapa kuat tekadmu.'
Jadi Sasuke memutuskan untuk menghadapi apapun di luar sana. Meski itu akan menyakitinya, setidaknya ia akan merebut kembali keluarganya.
Sesuatu yang pantas dan sepadan dengan apa yang ia raih sekarang.
.
.
Langkah kakinya menuntunya kepada sebuah bilik kecil kusam yang tak pernah ingin dia singgahi bahkan dalam mimpi sekalipun.
Ia mengetuk pintu dengan perasaan takut yang ia sembunyikan di balik rahangnya yang terkatup. Sekilas ia memang kelihatan marah. Tapi sesungguhnya ia takut. Takut pada takdir yang tak pernah berpihak padanya.
Ketika pintu terbuka, jantungnya berdenyut nyeri.
"Hai Sasuke. Lama tak berjumpa-"
****Romeo Series****
.
.
Mereka duduk berhadapan. Dan Sasuke mencengkeram pinggiran kursi. Sakura Haruno tampak tenang dan juga dewasa. Wanita yang pernah menjadi pacar pertamanya itu terlihat baik-baik saja. Tak ada dendam dan juga guratan emosi. Padahal jika ia menengok ke belakang, ia yakin seharusnya ada luka yang tertinggal dan membuat jarak diantara keduanya.
.
Sasuke mendesah, "Ijinkan aku membawa Hinata."
"Tidak." Sakura tidak akan membiarkan sahabatnya dilukai oleh Sasuke lagi meski ia tahu penolakannya ini tidak akan mempan.
"Ada anakku di sana. Dan aku tidak akan mengizinkan siapapun selain aku yang akan dipanggilnya sebagai Ayah."
.
"Kau dan keegoisanmu." Gigi Sakura gemerutuk.
"Ckck, bukan aku yang egois. Lihatlah Hinata. Ia bahkan mencampakkan aku. Aku hampir gila kehilangan dia dan dia justru memilih Sabaku. Kau pikir siapa yang menderita. Kau tahu aku tak bisa hidup tanpanya."
.
"Dia masih mengingat Naruto." Suara Sakura berdesis. "Dia mengingat setiap hal yang harus ia bereskan karena permainan kalian."
.
Deg!
.
Sasuke merasa jantungnya sakit, dalam hening ruangan praktek Sakura, lelaki itu tersesat lagi dalam labirin.
.
"Menurutku, bukan hanya kau saja yang sakit selama ini. Hinata juga."
.
Sasuke menekan kuat-kuat gumpalan tangannya di atas lutut.
.
"Publik telah menghakiminya sebagai perempuan egois. Tapi pernahkah kau berpikir jika ia juga korban? Ia memilih Sabaku bukan tanpa pertimbangan. Kau yang tak pernah menegaskan eksistensi macam apa yang kalian hadapi. Dia ingin sebuah tempat permanen yang tak pernah bisa kau tawarkan."
.
Sasuke menjambak rambutnya, "Eksistensi macam apa?! Bahkan dia hamil anakku. Bukankah semua jelas. Aku bahkan menginginkan dia sebagai ibu untuk anak-anakku! Kurang jelas apa ha?!"
"Dia bukan binatang peliharaan, Sasuke!" Sakura merendahkan intonasi bicaranya. Ia marah lada dua orang idiot yang tak pernah belajar pada sejarah kelam kehidupan mereka sendiri. "Dia merasa menjadi pelacurmu karena kau tak pernah menjadikan dia kekasihmu!"
.
.
Sasuke terkesiap. Tak siap atas tuduhan itu. Demi Tuhan yang enggan diakuinya, jelas-jelas itu tidak benar! Sasuke menggelengkan kepalanya secara tak sadar.
.
"Apa kau pikir ia baik-baik saja setelah kau menidurinya berulang-ulang. Mana ada sahabat yang meniduri kawannya sampai hamil, ha?!"
.
.
Sasuke megap-megap, "Kupikir dia mengerti.. Kami bersama sekian lama, dia paham aku. Kupikir dia tahu kalau aku takkan bisa hidup tanpa dirinya."
"Ckck.. Hinata adalah pengamat. Kau pikir apa yang ia lihat sama seperti yang kau rasakan. Dia tak mampu membaca pikiranmu. Dia hanya mengimbangimu. Bukan pembaca pikiran!"
.
"Saku, aku-"
.
.
"Diam dan dengarkan!" Potong Sakura, "Kami para wanita selalu dicemaskan dengan kata-kata. Kami selalu takut apa yang dipikirkan orang-orang. Ia mendengar semua bisik-bisik yang dialamatkan padanya karena affairnya denganmu. Ia menghormati Naruto. Dan menghormati kenangan di mana ia adalah satu-satunya gadis yang dicintai lelaki itu sampai mati. Kau pikir beban mental itu sanggup dihadapi sendirian? Dan ia masih menghormatimu sebagai pribadi yang menjadi sandarannya ketika ayahnya meninggal. Tapi jangan perlakukan dia seperti sebuah benda pusaka jika kau tahu kaulah yang merusaknya. Menurutmu bagaimana perasaannnya saat kau tidur dengannya lalu keesokan harinya kau meninggalkannya sendirian?! Dia telah melewatkan menangis seorang diri tanpa kau. Jadi katakan padanya. Bahwa kau mencintainya sampai ingin mati. Dan kau menyesal membuatnya berjuang menjaga reputasimu. Memohonlah agar anakmu dan dia mau kembali."
Sasuke merasa kepalanya berdenyut. Tapi aneh ya dadanya telah lega. Selama ini ia buta pada segala kenyataan akan Hinata. Ia hanya mementingkan dirinya tanpa mau melihat sekitarnya.
Hinata telah melindunginya. Dan kini saatnya ia yang melindungi Hinata.
"Perjuangan besar itu selalu berbuah manis. Sobat."
****Romeo Series****
.
.
Melihat Hinata begitu dekat selalu menimbulkan kenyamanan tersendiri di benaknya. Seperti perasaan nyaman yang pas. Orang yang tepat di tempat yang tepat.
Ia masih mematung di tempatnya, di depan pintu kamara Sakura yang digunakan Hinata untuk istirahat sejenak setelah konversasi Hinata yang menguras emosi bersama Sakura tadi pagi.
Wanita itu tampak kurus. Lingkar matanya yang hitam membuat dada Sasuke berdenyut. Ada rasa sakit saat tahu jika Hinata juga menderita karenanya.
Apakah wanita yang ia cintai makan dengan baik. Apakah ia muntah. Apakah anaknya yang bergelung di dalam perut perempuan Hyuuga itu menyusahkan. Apa keduanya merasa sakit. Pertanyaan itu menghantamnya bertubi-tubi dan nyaris membuatnya takut dan lari tunggang-langgang. Ia sadar ia memiliki masalah kejiwaan. Tapi bukan saatnya ia berlindung pada kenyataan itu dan berusaha keluar dari cangkang kenyamanannya.
Sudah saatnya ia menjadi lelaki. Bukan cowok yang cinta mati pada Hinata. Tapi lelaki yang mampu mengayomi keluarganya.
Keluarga yang sempurna.
.
.
.
Ia melangkah dengan keyakinan teguh. Duduk di tepian ranjang dan membelai sayang surai indigo yamg begitu lembut di tangannya. Betapa ia merindukan wanita ini. Betapa udara menjadi sesak karena keharuan akan pertemuan keduanya.
Matanya memanas. Ia benci menangis. Tapi demi Hinata ia rela menjadi manusia menyedihkan.
Ia menyesal karena hanya memikirkan dirinya sendiri. Dan menyerah di saat yang tak tepat. Kali ini, ia akan mencoba mempertaruhkan semuanya. Untuk Hinatanya.
Ia menundukkan kepalanya, mencium dengan gerakan yang begitu lembut dan penuh keintiman. Mencium pelipis Hinata dengan sayang. Ada rasa hormat di dalamnya. Dan Sasuke tak bisa menahan diri untuk ikut rebah bersama sang pujaan hati di kasur sempit itu.
...
...
.
Ia terbangun dan merasa gelisah ketika Hinata tak lagi di sampingnya. Dalam pandangannya yang kabur ia berlari kesetanan keluar dari kamar dan menabrak Sakura di lorong.
Ia melihat Hinata yang hendak masuk dalam sedan putih yang dengan setia terparkir di depa klinik.
Tak ingin menyiakan kesempatan, Sasuke segera meraih tangan Hinata yang sudah masuk ke kursi belakang dan bersiap menutup mobilnya.
Namun rangan Sasuke menyelinap, menahan pintu agar tidak tertutup. Hinata terkesiap. Apalagi dengan gerakan yang kuat Sasuke mencengkeram tangan dan memaksa wanita yang dalam hitungan hari akan menjadi bagian dari Sabaku.
"Lepaskan!"
"Tidak. Aku tidak akan melepasmu kali ini atau lain kali. Aku tidak mengizinkan kau berada di manapun kecuali bersamaku."
.
PLAK!
.
Satu tamparan keras membuat pipi Uchiha itu memerah. Tapi Sasuke justru memberikan senyum lembut yang tak bisa dimengerti oleh Hinata.
.
"Kau boleh menamparku atau mencekikku karena segala hal berat yang kau hadapi. Tapi jangan pernah meninggalkan aku atas alasan apapun. Berjanjilah Hinata."
Hinata menelan ludah susah payah. Benci menjadi galau akibat bertemu Sasuke.
.
Ia melihat Sasuke menekuk lututnya di tanah. "Aku memohon kepadamu. Kali ini aku akan berjuang. Aku tidak akan lari dan meninggalkanmu sendiri."
Hinata diam,
"Ayo kita lari. Di mana hanya kau dan aku di dalamnya. Tanpa masa lalu.."
.
.
Hinata merasa tubuhnya limbung. Dengan sigap Sasuke menggendongnya dan menaruh Hinata ke mobilnya sendiri tanpa mengindahkan teriakan sopir pribadi keluarga Sabaku yang berteriak-teriak.
Sasuke melarikan kendaraannya sebelum Sabaku menyadari ia mencuri tunangannya. Ia akan membawa Hinata ke tempat yang di mana tak seorangpun menemukan mereka. Dan membangun masa depan tanpa ada tatapan menghakimi.
Sasuke merasa aneh ketika tangan Hinata menuju roda kemudi.
"Maaf-" Hinata menangis.
.
Sasuke mengernyit heran, tak mengerti hal yang terjadi sekarang. "Untuk apa?" Ia menatap Hiantanya dengan sorot mata sendu dan rasa sakit yang tak bisa ia jabarkan.
Dalam hatinya meronta memohon Hinata untuk tidak mengucapkan satu katapun yang dapat mematahkan hatinya lagi.
.
"Untuk tidak bisa kembali padamu." Hinata menarik stir ke kanan.
Sasuke tak dapat memprediksi gerakan itu lebih cepat. Mobil itu berdecit dan serta-merta berbelok ke lajur kanan. Sayangnya sebuah truk terlalu dekat dengan jaraknya. Mereka bertabrakan lalu mobil yang ditumpangi sepasang Romeo dan Juliet terguling.
Menghantam marka jalan lalu terseret beberapa meter dengan posisi terbalik. Rasanya begitu cepat dan seperti mimpi.
Rasa nyeri di punggung dan wajahnya yang menghantam savety bag membuat kepalanya pening. Ada pecahan kaca yang melukai pelipisnya. Tangannya berdarah, dan kakinya begitu kebas seolah mati rasa.
Ia lihat Hinata terikat kencang seatbeltnya. Sundress berwarna kuningnya jadi merah. Ia melihat Hinata yang masih bernapas tersengal. Ia mengusap air mata yang tak sengaja turun di pipinya. Kepalanya juga berdenyut menyakitkan. Bau anyir menyeruak di udara. Ada ketakutan saat semua yang ia miliki, Hinata-nya dan juga anak yang bergelung manis di perut orang yang ia kasihi akan mati akibat kecerobohan mengemudinya.
.
Ketakutan itu terasa nyata. Sangat nyata ketika ia tak melihat Hinata tersayangnya diam tak bergerak. Ia berusaha bergerak cepat. Ia menarik paksa seatbeltnya sendiri. Lalu menjangkau Hinata yang berlumuran darah. Kesadaran ketika Hinata mati membuatnya kalut. Ia takut. Dengan sisa kesadaran yang masih tersisa dia berteriak.
.
"Jangan tinggalkan-" Sasuke mengelus pipi Hinata yang ternoda cairan merah. "Tetap di sisiku." Ia merintih. Memohon Hinatanya tetap ada.
"Tolong." Suaranya serak. Parau akibat dadanya yang terasa sempit karena menahan air mata berlomba untuk turun.
.
.
"Hinata." Ia memanggilnya dengan penuh rasa sayang yang pilu. Setelah sekian lama, ia baru pertama kali ini ia memanggil Hinata semesra itu.
"Jangan!" Sasuke mengerang frustasi. Tangannya gemetaran membelai rambut Hinata yang basah dan berbau anyir.
.
Sakit menjalar di perutnya, lalu dadanya tersengal-sengal. "Jangan tinggalkan aku." Sasuke memohon di sela tangisnya dan kepala yang begitu nyeri seperti di godam.
"Aku mencintaimu." Sasuke merangkak menuju arah Hinata. Dan memeluk tubuh basah itu erat-erat.
.
"Aku mencintaimu.." Sasuke merasakan dadanya terbakar. Perutnya mual bukan main saat bau anyir itu mampir lagi di hidungnya.
Ia memeluk Hinatanya erat-erat. Seolah menyembunyikannya dari malaikat maut yang akan segera datang.
.
.
"Aku mencintaimu." Sasuke berbisik mesra di telinga Hinata. Dan selubung putih merenggut kesadarannya.
****Tbc****
..
.
A/n:
Hai..
Udah lama banget ya aku nelantarin fict ini. Selain karena aku udah nggak ngetik lewat kompi ato lepi, aku terserang WB saudara-saudara.
Aku juga berniat menonaktifkan akun ini. Tapi kupikir kok kesannya nggak tahu diri banget. Aku punya banyak teman di sini. Aku mulai punya style nulis juga di sini. Aku belajar banyak hal juga di sini. Di dunia biru yang keren. Opsi meninggalkan FFn terdengar seperti malin kundang yang lupa kepada ibunya (?)
Jadi aku memutuskan untuk melanjutkan apa yang sudah kumulai. Biar jadi author yang nggak lari dari tanggung jawab.
Terus dukung aku ya, :)
Kalian ngrasa nggak sih kalau gaya bahasaku berubah lagi? Semoga itu nggak mengganggu kalian membaca ceritaku.
Aku takut fellnya Sasuke nggak nyampe. Apalagi di bagian akhir.
Tapi ini belum berakhir. Simpan harapanmu oke. Salurkan harapan anda di kotak riview. Kikikikkk..
Chapter depan adalah fragmen terakhir; judulnya The Infinity.
Yang kemungkinan besar akan dipublish sekitar hari Sabtu.
Saya akan menemani reader tachi sekalian bermalam minggu *nariHula.
(Nb; jika bukan Sabtu ini brarti Sabtu depannya lagi yak :)
*tolong tagih saya jika saya (pura-pura) lupa. Oke. (y)
Sincerly
Poo
