Jeeeng!

Setumpuk—oke, beberapa surat cinta akhirnya sampai pada meja Narrator. Semuanya disusun dengan rapi, malah ada juga yang berlumuran merah seperti darah—hei, ini bukan kasus pembunuhan atau apa! Semua yang terkumpul di situ hanyalah surat cinta... Iya, surat cinta. Lebih spesifiknya, surat berisi pertanyaan-pertanyaan yang sudah ditimbun semenjak acara abal-abalan ini ditayangkan oleh N*K berkat cuap-cuapan—.

Miyoshi : Woi! Kenapa situ pada delusi sih?! Buka aja surat-surat ini, napaaa?!

Narrator : Ah, nggak kok. Hanya meretoris perkataan tolol Author ini barusan—.

Miyoshi : Yakali, ingat durasi Mas.

Kaminaga lalu menginterogasi sekumpulan surat tiada dosa itu, dan kemudian menyelidikinya. Ia melihat bahwa semua surat yang dikirimkan pada acara ini... Kok rasa-rasanya punya aura centil? Apakah ini serangan para Fans? Teror? Bukan, bukan... Surat-surat ini rasanya jauh dari kesan brutal itu. Kalau stalking, rasanya bisa masuk akal—tolong ingatkan bahwa salah satu dari trio Under17 alias dibawah 170 senti itu memang maniak tebar pesona.

Mungkin, loh, mungkin.

Kaminaga : Surat-surat ini... Jangan ngomong kalau ini ditujukan hanya kepada dia... *bisik-bisik*

Hatano : Siapa?

Kaminaga : Kau tahu lah, Hatano... *bisik-bisik juga*

Narrator : Oke, oke, dengan ini Sesi Wawancara, dimulaaai~

.

.

.

Joker Game ~ D-Agency Talkshow!

© Himomo Senohara (is now Sakurasakakihara-P)

Disclaimer : Koji Yanagi. Iya, dia yang bikin, bukan saya. Kalau saya mah, talkshow abal-abal ini hehehe~

Warning : OOC plus AU plus ganjeeeen dan plus plus. Pijet plus-nya nganu— (okesip OOT). Rate fluktuatif, kayak Minggu Hitam— (bukan). Sumpah serapah diramalkan menyerang fanfiksi-coret-tulisan abal ini. Sempak mungkin menggantung di stage (?), tawuran mungkin tidak terhindarkan, atau bahkan ada sesuatu yang tak terduga di stage yang sudah susah-susah payah Author + Narrator dirikan demi jayanya talkshow abal-abal ini. Haram (?) dikonsumsi, kotak tawa tolong untuk dirantai agar tidak tiba-tiba hilang entah ke rimba, dan masih banyak lainnya. *cengir* *gak*

.

.

.

Jitsui : Ngomong-ngomong... Kemarin itu, lupa apaan?

Narrator : Cuma suruh pasang papan di atas tadi kok. Bohong mereka, dusta itu nggak baik, lho? *wink wonk*

Jitsui : Terus kau dusta ya, kalau Narrator lupa bahwa Sakuma itu bisa dijadikan anggota ke delapan kalo Hiroyuki itu didepak? *senyum malaikat*

*krik*

*krik*

Narrator : Kasihanilah Oda—eh, Hiroyuki kek! Dia kan sudah susah-susah ikut pelatihan, terus kenapa mendadak pengin Sakuma diikutsertakan?! Nggak, deh!

Jitsui : Bisa doooong~~ mau ajak gulat? *pasang muka antusias yang mengerikan*

Narrator : SUDAH, SUDAAAAH! IRIT DURASI, KEEEEEK!

.

.

.

Narrator : Baik, baiklaaah! *ambil salah satu surat* Kita saksikan isi surat pertama~ siapa-yang-akan-jadi-korbannya...

(Miyoshi dan kawan-kawan seketika merasakan chill dari Narrator yang mendadak masuk mode stalker. Pun demikian dengan para Fans, menduga-duga korban *?* persembahan nista itu. Kebanyakannya mungkin bisa diduga sih, tetapi who knows jika surat itu kenanya justru ke pria pendiam seperti Hiroyuki? Atau Fukumoto? Segala kemungkinan itu tak bisa diprediksi lho, karena berisi rute yang tiada habisnya—.)

Narrator : ... Cih, kenanya sudah bisa diduga sih. *pasang muka kecewa*

Hatano : Siapa sih?


(Ada yg kelewat nih Narrator-san, Sakuma-nya manaa? owh dia bukan anggota mata2/yha/ tapi2.. dia kan termasuk chara penting, penting di hati Miyoshi maksudnya..ehemm.. ya gak Miyoshi? :))) — Emma)


Amari : Emma?! K-Kaukah?! *langsung menoleh ke Emma*

Emma : Sa-Saya tidak melakukannya, Papa Amari—!

Narrator : ... Ini kan, delapan mata-mata, Mbak. "Mata-mata" lho, bukan penghubung seperti Sakuma...

Amari : Jangan abaikan drama-ku—! *panik*

Kaminaga, Miyoshi, Hatano : Dramaaaaaaa~ *chorus berjamaah*

Amari : DIAMLAH KALIAAAN!

(Dan Narrator pun kena sambit sandal sama para Fansnya)


(Nah itu dia pertanyaan saya buat mas (dead) Maki Katsuhiko.. Seberapa penting posisi Sakuma-san buat dia? Eaaaa... Tolong dijawab ya Mak- Miyoshi-san :))) — Emma)


Miyoshi : ...

*Tujuh pasang mata pun beralih ke Miyoshi; mereka rupanya juga terpancing untuk kepo dengan masalah pritilan kayak begitu*

Miyoshi : Well... EristnureinUntergeber—! *speed up hingga level maksimal*

Jitsui : Haaa...? Nggak jelas nih, pelan-pelanin aja kenapa...

Miyoshi : ... Narrator, bisanya kau—.

Narrator : Ingat, AIB KALIAN PUN DIPRETELI DI SINI. Tidak ada tawar-menawar. *senyum bisnis*

Miyoshi : Kuh... Gimana ya... *garuk-garuk kepala, mencoba stay cool*

(Fans : HALAAAAH! Jawab aja kenapaaaaa, plis!)

(Fans : Tunggu... Lihat, mukanya Miyo-Miyo ada kali semburat merah!)

(Fans : Duh, Miyo malu yaaa... Prikitwiwwwwww! *sorak-sorak nista*)

Amari : Oke, akan kubunuh siapapun yang beraninya nanya pake nama anakku! Untung aja anakku tidak paham soal beginian—.

(Emma : Itu pertanyaan tentang apa, Papa Amari? *pake muka polos, inosen semurni air suci*)

Amari : ...

Jitsui : Amari? Jelaskan dong, ke "anak"-mu tercinta. Oke? *pasang muka jahil*

Narrator : Oke, kalau tidak menjawab dalam tiga detik, akan kutambah dengan—.

Miyoshi : DIA ITU PA-PARTNERKU—.

Hening.

*krik*

*krik*

Miyoshi : ... Yuuki, maafkan saya... *langsung mengumpet di kolong*

Hatano : ... Perasaanku dia tadi ngomong sesuatu yang berlawanan? Yang mana yang benar?


(Apa sih yg bikin Miyoshi 'tertarik' ma letnan yg udah hampir dibuat harakiri itu? dari sisi mana hal menariknya dia? /ehemm/ — Emma)


Kaminaga : Ini sih, penyiksaan terhadap Miyoshi...

Hatano : (Untung saja aku tidak sekeren Miyoshi, kalau iya pasti bakalan harakiri hanya gara-gara skandal beginian...)

Miyoshi : Apa sih enaknya diteror beginian... *masih ngumpet*

Narrator : Hei? Jawab dong yang ini—. *seret Miyoshi kembali duduk di sofa*

Miyoshi : Dia mah gampang dijailin. Enak sih, lucu lihat mukanya yang bisa absurd—.

Hatano : S ternyataaa...

Jitsui : (Sebenarnya aku juga suka jailin dia... Tapi nggak yakin jawaban cuma segitu... Pasti ada alasan lain!)

Tazaki : Terus ada rumor...

Narrator : Wah, enak saja kau menyela begini, Tazaki—.

Tazaki : Tu-Tunggu! Saya ada bukti! Dengarin saja ini! Jadi, ada kali saya papasan sama Miyoshi—.

Miyoshi : TAZAKI! KUSUMPAHIN KAMU AKAN HOMO SAMA BURUNG ELAAAAANGG—.

Kaminaga : Wah! Miyoshi mengamuuuk!

Narrator : Woi! Siapapun, tahan dia!

*dan Fukumoto serta Oda—eh, Hiroyuki (berkat cuap-cuap ampuh beserta jimat super manjur ala Fukumoto) menahan Miyoshi agar tidak menggebuk Tazaki*

Tazaki : Oke, oke... Balik ke cerita. Jadi, pas di markas, ketemuan sama Miyoshi. Saya nguping dari luar, Miyoshi kayak ngobrol akrab sama Sakuma. Ada bau-bau seperti cinta, seperti "Kau pikir semuanya gampang, gitu?" pakai suara erotis... Samar-samar saya dengarnya seperti itu...

Jitsui : Whoa... Skandal!

Hatano : Skandaaaaaaaaaal! Dih, Miyoshi, kamu kok skandal begini?! *pasang muka OMG*

Miyoshi : A-AKU TIDAK SKANDAL! SUMPAH!

Kaminaga : Jadi, trait Sakuma yang gampang dibully itu yang jadi favoritmu, Miyoshi?

Miyoshi : ...

Narrator : ...

(Suasana mencekam. Fans dag-dig-dug. Author pun mengigit doujin JitsuEmm—oke, abaikan.)

Miyoshi : ... Ada lagi. Coba tebak?

Fukumoto : ABS?

Miyoshi : ... Fukumoto. Selesaikan di belakang yuk—.

Narrator : CUT! CUT! S-siapapun, hentikan aura begini—.

.

.

.

Tazaki : Eh... Kok Amari mendadak hilang di sini?

*dan Amari tahu-tahu berada di bangku penonton, dengan Emma disumpelin jari Amari pada kedua telinganya, berusaha menghindarkan Emma dari kenistaan Miyoshi*


(Benarkah rumor yg beredar bahwa selera Miyoshi itu militer/letnan muda macem Sakuma-uhuk-, Johan, Odagiri/Hiroyuki? /abaikan nama terakhir/ harus jawab ya Miyoshii /maksa/ — Emma)


Miyoshi : VERDAMMT! SCHEIβE! DU FOTZEEEEE! SOHN EINER HÜNDIIIIIINNN!

Jitsui : Siapapun, tenangkan diaaaa—.

Narrator : Whoa... Baru kali ini lihat dia sekesal ini... Ampun...


(Kalo boleh, aku mau tanya dong sama om Maki eh salah, om Miyoshi.. Uhh.. Siapa sih ibu bapaknya om Miyo kok dirimu bisa jadi narsis begitu? Terus berapa lama om Miyo menata rambut sebelum menjalankan misi? — Sve Ann)


(Satu jam setelah pertanyaan sebelum sesi ini, Miyoshi akhirnya bisa duduk tenang. Itu pun setelah dia dicuap-cuapi dengan kaca besar, berusaha mengalihkan perhatiannya dari kemarahan karena pertanyaan super aib miliknya. Sekarang Miyoshi masih sedikit tensi, itu pun dikipas-kipasi oleh Narrator dengan upaya meredakan bom waktu yang bisa sewaktu-waktu meledak—tahu saja pertanyaannya bakal seabsurd apa.)

Miyoshi : Aku tidak narsis! *pouts* Aku hanya memperhatikan penampilanku. Kalian tahu kan, salah satu taktik untuk menarik perhatian target dalam misi mata-mata? Salah satunya bisa jadi, adalah menggunakan penampilan gantengmu untuk menarik perhatian target. Misalnya saja, kau disuruh bikin koneksi sama target yang berasal dari kalangan tinggi. Coba tebak, apa yang harus diperhatikan pertama-tama?

(Fans : ...? Kami sungguh nggak paham—.)

Miyoshi : Ya, wajah! Dalam pembahasan kasus-kasus intel, kebanyakan upaya koneksi yang terjadi dalam kalangan atas itu memperhitungkan banyak faktor, salah satunya penampilan!

Narrator : (Wuah, pengetahuan baru...) *catet catet*

Miyoshi : Dari sini, kita bisa membuat fondasi latar belakang palsu—eh... Sudah masuk kode etik, jadi nggak usah dibahas ya? *wink wonk*

(Fans seketika meleleh melihat penampilan bling-bling Miyoshi. Tentu saja, tak terkecuali Author dan Narrator yang mau tidak mau harus takluk kepada pria ganjen begini—)

Kaminaga : Ngerti sih, ngerti, tapi kau bahkan menata rambutmu lama banget... Pakai apa sih?

Miyoshi : Biasa, conditioner. Terus ada juga pakai bahan herbal buat menyehatkan rambutku. Dan memang nggak main-main, bisa makan dua jam!

Hatano : Bisa-bisanya menghabiskan waktu itu hanya demi menata rambut... Sumpah, saya speechless nih, Miyoshi.

Jitsui : Saya pun nggak akan selama kau kalau menyangkut rambut... Like, sudah cukup kalau pakai conditioner. Lah, kamu... *ikut speechless*

Tazaki : Yuuki sampai komplen isi toiletnya dipenuhi bahan-bahan herbalnya kamu, lho, Miyoshi... *ikut speechless*

Miyoshi : Eh iyakah, Tazaki? *pasang muka tidak berdosa*

Tazaki : ... Sadar diri dong, Miyoshi.

Kaminaga : Eh, kamu juga tobat kek, Tazaki. Di toilet lantai dua juga dipenuhin 'bom'nya burung-burung ganjenmu, woi!

Tazaki : ... Diamlah, Ka-mi-na-ga. *pasang aura horor*

Fukumoto : ... Sudahlah... Narrator, tolong di-cut dong.

Narrator : ... E-eh, oke! Cut!


(JELASKAN APA HUBUNGANMU SEBENARNYA DENGAN MAS SAKUMA?! Dan kalau disuruh pilih, hidup sama Sakuma sampai mati atau keukeuh jadi Katsuhiko Maki lalu MATI SEORANG DIRI?! — InfiKiss)


Miyoshi : Lah, ini kok perasaan saya atau semuanya pada mengeroyokku dengan Sakuma?! Apa bagusnya Sakuma itu?!

Hatano : (Kayaknya dia tsundere...? Atau?)

Amari : Mungkin gara-gara insiden kau dipanggil Yuuki terus kau ngomong kalau Sakuma bakalan harakiri di depan mata-mata Amerika nyebelin itu—.

Miyoshi : Lucu, ya... Hanya berbekal itu doang, langsung pada nge-ship. Naik kapal seketika. Lucu sekali ya. *nada sarkas + kesal*

Kaminaga : Juga insiden kau ngajak ke kota, Sakuma-nya pada menolak. Dua kali.

Miyoshi : Itu sih, aku tahu trait dia. Biasa, orang militer, bosanan semua tuh.

Hatano : Terus ngapain ngajak dua kali? Itu apa sih?

Miyoshi : Entah? Kayaknya dia asik dijailin... Tapi ya, Sakuma pasti udah menduga kalau kita-kita itu monster. Sayang sekali dia nggak ikutan... *pouts*

Amari : (Cara jawabnya juga ambigu... Dih, labil bener ini pria!)

Tazaki : Dan kau yang smirk pas Sakuma nyaris di ambang kematian tuh—.

Miyoshi : Asik sih, pas mau mati tau-tau Sakuma berubah aura, mirip-mirip jadi kita. Hehehehe~

Oda—eh, Hiroyuki : (Duh ini Miyoshi... Serem sekali...)

Fukumoto : Kalau dipikir-pikir dan diperhatikan, hubungan mereka ini seperti anjing dan kucing.

Amari : Tapi lengket ya. *menatap horor Miyoshi*

Narrator : ... Anoo, nggak bermaksud menyela, tetapi Miyoshi, kau belum menjawab pertanyaan kedua itu.

Miyoshi : Diiiiiiihhh, mending lah jadi yang kedua! Ngapain juga bareng beruang itu... *pouts*

Tazaki : Memang nggak sedih ya, mati sendiri? Di Jerman, pula...

Miyoshi : Cemen lu, kalau nggak berani mati sendiri, tanpa ada siapapun yang kenal. HAHAHAHAHA~

Kaminaga : Oke, oke, lupakan Miyoshi yang sudah lupa minum obat nih. Cut dong~

.

.

.

Hatano : Ngomong-ngomong, pas Miyoshi ketusuk besinya, bisa juga itu nancep kokoronya yang bareng Sakuma... *bisik-bisik*

Jitsui : Barangkali. Makanya nggak heran lihat Miyoshi bangga mati sendiri gitu. Jangan-jangan itu bagian kokoronya ketinggalan di Jerman— *bisik-bisik*

Narrator : O-Oke, Cut!


("KALAU EMANG kamu masih bisa memutar kembali waktu dan gak jadi spy, apa kamu berencana mau buat program KB (Keluarga Berencana) bersama Letnan Sakuma?" — Denisaomine8)


Miyoshi : Ya ampun, Dewa, pokoknya siapa... Buddha, kek, Dewa Syiwa, Brahmana, Amun-Ra, Jesus, siapalaaaah. Kok makin sini pertanyaannya makin horor begini...

Kaminaga : Yang sabar ya Bung. Resiko terlalu akrab sama liasion, makanya jadi begini...

Miyoshi : Kamu tuh, tukang kompor yang efektif ya. *menatap horor Kaminaga*

Hatano : Ngomong-ngomong, itu kalau nggak jadi spy kan? Artinya, 0% kemungkinan ketemu sama Sakuma dong?

(Fans : DIH HATANO! JANGAN NGOMONG ASIN KEEEEEK! *lempar elpiji 3 kg berjamaah*)

Narrator : W-Woah! Langsung anarkis para supporter Miyoshi nih!

Miyoshi : Hatano bisa jadi benar. Jaman kita kan, siaga perang. Manchuria juga sudah dikompori, Cina—terutama Kwintang—sudah, tinggal bagaimana mengompori dalam negeri sendiri. Korea juga belum kelar-kelar saat itu, lho? Nggak kepikiran buat KB lah. Asal tahu saja ya, hampir seluruh lapisan rakyat sudah memiliki dasar dan basis-basis dalam kemiliteran, lho? Bukan mustahil kebanyakannya pada mikirin bertahan hidup.

Tazaki : Apalagi Letnan Sakuma. Dia pasti sibuk mengurus kompinya melakukan pertahanan diri melawan musuh.

Miyoshi : Naaah! Hampir mendekati nol 'kan, kemungkinan bisa ketemu? Apalagi aku... Misalnya kalau nggak spy, ya bisa ambil jalan lain. Misalnya, jadi Collaborator. Beda sama spy, tetapi dasarnya sama.

Fukumoto : ... Artinya, kau ada kemungkinan mengkhianati negaramu sendiri, Miyoshi?

Miyoshi : Mau tidak mau, iya. Aku lebih suka pekerjaan yang mengandalkan intelegensi~ *wink wonk*

Jitsui : ... Tunggu. Dengar-dengar Sakuma sebelum jadi liaison di sini, pernah mengurusi kasus spionase ya?

Kaminaga : Dan andai, andai lho... Sakuma ketemu Miyoshi seperti pas saya ketemu sama si bulb sialan itu...

Hatano : ...

Tazaki : ...

Amari : Bisa, bisa tuh.

Miyoshi : ... Errr, mungkin saya akan mengecohnya dengan penampilanku—.

Kaminaga : Kedengarannya sangat salah.

Jitsui : Banget.

Miyoshi : Kalian ini... Apa salahnya membela diri?

Hatano : Kalau pakai akal sehat, mana bisa dia ketipu sama penampilan rubahmu woi, Miyoshi...

Kaminaga : Eh, Hatano, Sakuma kan belum melihat sisi 'rubah' dia loh, Hatano. Nggak menutup kemungkinan dia bakalan tersihir—.

Narrator : Ini pertanyaan siapa, yang jawab siapa... Ya ampun, bisa nggak sih, konsisten gituuu?!

Miyoshi : Yaaa... Pokoknya, kalau disuruh KB... Like, I gave u a sh*t, so stfu gitu... Senarsis-narsisnya saya, ya normal lah orientasiku! Cuma ya, kebanyakan targetku cowok. Mau nggak mau, ya kepaksa mengandalkan penampilan gantengku untuk menarik mereka mendekat kemari~ *wink wonk*

Fukumoto : Dari omongan saja, sudah bermasalah...

Hatano : Sehati sama Fukumoto.

Miyoshi : ... Dan harus kuakui, Sakuma itu masuk tipe yang sulit kutaklukkan. Seandainya saja dia petinggi yang punya informasi yang kubutuhkan, bisa jadi aku mungkin sudah memakai cara kotor untuk mendapatkannya. Misalnya, melakukan s*x untuk melemahkan daya waspada. Atau memberinya serum yang bersifat adiktif, sehingga dia takkan bisa membedakan mana yang nyata dan fantasi, sehingga dia bisa mudah 'bernyanyi'...

Kaminaga : Dih, caramu sadis woi, Miyoshi—.

Miyoshi : I-Itu pun hanya pengandaian saja ya! Jangan diaplikasikan ke kenyataan ya! Dasar somplak!

Narrator : (Diam-diam Miyoshi bisa sadis... Jadi yang mana yang benar...)

.

.

.


Narrator : Yak, sudah habis?

Jitsui : Yaaah... Nggak ada surat untukku... *kecewa*

Kaminaga : Aku juga...

Tazaki : Miyoshi benar-benar superstar ya. Bahkan di Ani*rendz pada dua minggu terakhirnya, dia pelan-pelan merangkak masuk 10 besar... Sayang harus berakhir di posisi delapan.

Miyoshi : *kibas-kibas poni* Benar kan? Makanya... Langsung senang dah, melihatnya! *cengir*

Hatano : Cih... Bahkan aku tidak bisa mengalahkannya... *mencuih sebal*

Jitsui : Iya... Hebat ya.

Narrator : Nggak heran surat-surat di hari pertama isinya Miyoshi terus. Semuanya pada denial kali?

Kaminaga : ... Entah kenapa aku jadi ingin mengubur kembali Miyoshi... *gumam kesal*

Hatano : ... Sehati... *gumam, lalu gusur mendekati Kaminaga*

Jitsui : ... Yuk, pikirkan cara untuk membunuhnya... *menggusur dirinya mendekat ke Kaminaga, sambil bisik-bisik*

Amari : Ya ampun...

Narrator : Woi kalian! *tunjuk Kaminaga, Jitsui dan Hatano* Jangan jailin dia lah! Sportif kek, menghadapi kejayaan Miyoshi!

Miyoshi : GUEHEHEHEHEHEHE~~ Enak ya, diomeli sama Narrator~ guehehehehe~ *cengir nakal*

(Lalu Tazaki mengeluarkan smartphone, dengan jarinya menekan tombol nomor tertentu. Miyoshi, yang menyadari aura berbahaya dari Tazaki yang cengir-cengir tidak jelas saat menekan tombol smartphone-nya, langsung ambil ancang-ancang mencegahnya—dan oh! Kaminaga berikut Jitsui seketika menahan Miyoshi; membiarkan Tazaki menelepon entah siapa yang ada di seberang smartphone-nya)

Miyoshi : KAU TELEPON SIAPAAA—.

Tazaki : Yuuki-san. Hahahaha~

Miyoshi : JUST. NO

Narrator : JA-JANGAN BAWA DIA KEMARI—.

Tazaki : ... Katanya dia mau ikut—.

Narrator + Miyoshi : TIDAAAAAAAAAAAKK—!

Akankah Yuuki datang menyaksikan talkshow abal-abal...?! Mari saksikan acara kami, mulai tayang setiap dapat surat cinta dari kalian, wahai para Readers tercinta! Jangan lupa nyalakan laptop atau PC Anda, lalu masuk ke kolom pencarian, ketik FanficTV! Lalu di channel, pilih saluran kami—SenoChannel—dan ingat, jadwal tayang kami di pukul— *dilempar sandal oleh para Fans*

—o-oke, kami pamit dimari! Sampai jumpaaa~!

.

.

.

[U cannot say to be co without to be coo coo! *wink wonk*]