"He-hei...apa tidak apa-apa kita menjarah toko?" tanya Rin. Luka melipat tangannya di depan dada. "Kalau tidak, kita mau makan apa? Ikut memakan mayat-mayat yang bergelimpangan dijalan? Tentu tidak, kan?"

"Hah...setidaknya untuk keadaan darurat begini, sih...boleh saja." Ujar Gakupo sambil mengambil beberapa makanan kaleng dari rak-rak tinggi.

Sementara itu, Len tampak gelisah sambil sesekali menggigit bibir bawahnya, tangan kirinya tampak beberapa kali memencet tombol-tombol ponsel itu dengan cepat. Rin dengan takut-takut memegang pundak Len.

"Ka-Kagamine-kun?" Panggil Rin dengan sedikit perasaan takut bahwa Len akan marah padanya.

"Ada apa, Kazuku-san? Ada masalah?" tanya Len sambil tersenyum. Rin menggeleng.

"Sepertinya kau yang ada masalah, Kagamine-kun."

End Of Summer

Part 02: Kill for Survive

Rated: T

VOCALOID BY CRYPTON/YAMAHA MUSIC COMPANY

STORY BY AKANE MACHIKANA

"...begitu, ya?" Len menghela nafas. Hening, keduanya terdiam sejenak.

"Tidak apa-apa, kok Kazuku-san, ini bukan masalah besar!" Len berusaha tersenyum. Rin kembali terdiam. "Wajahmu mudah di tebak, aku tahu, kau sedang dalam masalah." Ujar Rin dengan wajah datar. Len juga terdiam.

"Begini...Aniki..." Len menggenggam ponsel ditangannya hingga tangannya memutih.

"Sudahlah, Kagamine-san, maafkan aku, aku tidak bermaksud-" Rin tergagap, Len mengangkat kepalanya dan mengelus kepala Rin.

"Jangan dipikirkan." Len tersenyum kepadanya. Tubuh Rin membeku di tempat, aliran darah ditubuhnya terasa naik ke wajah.

"Halo~? Apakah aku menganggu~?" goda Luka, wajah keduanya langsung memerah.

"A-a-a-a...Luka-senpai! Ini bukan seperti-" Len berusaha menjelaskan. Luka hanya tertawa kecil. "Bercanda, kok!"

"Oh iya, ada satu hal yang ingin kutanyanyakan dari Lui." Kaito mendekati Lui yang sedari tadi bermain dengan PSP miliknya didepan pintu.

"Bukannya rumahmu dekat? Kenapa harus di asrama?" Tanya Kaito, Lui terdiam, yang lainnnya juga terdiam, Lui menatap wajah mereka satu per satu dengan datar, wajah mereka seperti tidak sabaran.

"Karena...karena...ayahku membuang semua poster gameku dan membakarnya, makanya aku kabur dari rumah."

"Eh...?" semuanya langsung berkeringat dingin. Tentu saja, kabur dari rumah karena suatu alasan konyol? Lui menghela nafas, kemudian ia kembali berkata:

"Bukan itu saja, dirumahku sering ada orang-orang aneh yang keluar masuk rumah. Tapi itu dulu, yang terakhir kuingat, adik-adikku sudah diambil menjadi kelinci percobaan mereka." Jelas Lui, masih dengan wajah datarnya. Mereka terdiam, tidak menyangka, bahwa masa lalu seorang Lui Hibiki begitu gelap.

"Maaf aku telah bertanya." Ujar Kaito sambil memalingkan wajahnya. Lui hanya tertawa, tawa tanpa arti.

"Tidak, aku sudah tidak memikirkan itu lagi, kok." Yang lain bertatapan satu sama lain.

"...Baiklah, kurasa kita tidak akan kerumahmu, Lui. Sepertinya rumah yang paling dekat setelah rumah Lui adalah rumah Miku. Bagaimana, Miku?" tanya Luka. Miku hanya mengangguk, tanpa berkata-kata.

"Apakah ada yang tahu rumah Miku?" tanya Luka. Gakupo mendengus kesal." Tanyakan saja kepada orangnya sendiri, bodoh!"

"Untuk sementara ini, Miku tidak mau bicara! Dan...sekali lagu kau mengatai aku bodoh, mati, kau!" Luka mengarahkan Bokutonya ke arah Gakupo, Gakupo hanya menelan ludah.

"Kalian terlalu membuat suara!" ujar Kaito. "Aku tahu rumah Miku, ada dikota sebelah, maka kita perlu mobil. Kau mau kita menembus kota mati ini dengan kaki?! Sungguh tidak mungkin."

"Dasar cerewet! Kita ambil saja satu mobil dirumahku!" omel Lui, Kaito hanya memasang tampang datar.

"Diam, kau bocah!" balas Kaito dengan tampang datar. Lui terbawa emosi dan berakhir dengan mereka berdua beradu mulut.

"Hei! Hentikan! Kalian membuat suara terlalu kencang!" omel Luka.

"Ano...Luka-senpai...kau sendiri kencang..." ujar Rin. "A-ah?!" Len melihat sudah belasan, ah, tidak! Puluhan mayat hidup berkumpul di depan pintu mini market.

"Oh, tidak lagi..." Kaito menyambar panahnya. Lui mengambil linggis berat itu dan memukul pintu kaca super market hingga pecah.

"GRRRRAAAAHHHHH!" Mayat-mayat hidup itu menyerang mereka, Rin langsung menyambar tongkat bisbol besi di sampingnya dan memukul mayat-mayat hidup di dekatnya. Ia sempat berpikir, bahwa jika tidak ada tongkat bisbol itu, ia bisa saja tergigit kalau tidak segera menyambarnya dan memukul kepala mayat hidup itu hingga pecah. Oh Rin, pikiranmu sangat rumit.

Lui mengambil sebuah hand gun di kantungnya dan dengan lincah menembak kepala mayat hidup itu satu per satu. Len menatapnya kaget. "Lui! Darimana kau dapat barang seperti itu?!" Lui hanya tersenyum usil, "Hehehe...aku mencurinya, dari keamanan sekolah..."

"Itu tidak penting, yang jelas, kita harus keluar dari sini! Segera! Sebelum mereka berkumpul menjadi banyak!" ujar Luka yang mulai kelelahan menebas satu per satu mayat-mayat hidup itu.

"Ta-tapi...bagaimana?!" tanya Rin yang juga sudah mulai kelelahan. Len menghela nafas kemudian membisikkan sesuatu ke Lui, Gakupo dan Kaito.

"Begini saja, kami para lelaki yang menebas para mayat hidup itu, sementara kalian berlari dibelakang. Oh iya, satu hal lagi, kalian harus berlari cepat." Jelas Len.

"Ba-baiklah, sekarang?" tanya Rin. Len menggangguk, yang lain bersiap-siap dengan senjata ditangan mereka.

"Tuhan...maafkan aku..." Bisik Len berat, kemudian ia berlari menembus kawanan mayat hidup dengan katananya, begitu juga Lui, Kaito, dan Gakupo.

End Of Summer

"Sudah sepuluh meter kita berjalan, tetapi hanya mobil rusaklah yang ada." Ujar Luka sambil menatap jalanan kota yang sepi.

"Sudah kubilang, pakai mobilku!" sergah Lui. Kaito menatap Lui dengan malas. "Oke, oke, dimana mobil milikmu itu? Apakah kau punya SIM? Apakah kau bisa menyetir mobil?" Lui hanya mencibir mendengarkan pertanyaan beruntun dari Kaito.

"Kalau aku tidak bisa menyetir, untuk apa aku menawarkan mobilku pada kalian? Dan juga...SIM tidar terlalu penting untuk keadaan ini."

"Lalu, dimana mobilnya?" tanya Gakupo. Urat-urat kecil muncul di kening Lui.

"Di bagasi rumahku...!" Lui berusaha untuk tidak terlalu kencang.

"Oke, kita ke sana, sekarang! Masih ada 10 meter lagi setidaknya." Ujar Luka.

"Tapi ini jalan yang berbeda, senpai!" ujar Rin. Lui menggeleng cepat. "Tidak, ada jalan cepatnya menuju mansion milikku, percayalah."

"Baiklah, ayo! Ikuti Lui!" ujar Kaito, mereka mengikuti Lui yang berbelok sampai ke bagian pinggir kota, sepertinya itu bukan kompleks lagi, tetapi hanya tanah kosong yang dibiarkan begitu saja.

"Hah...cepat, lah. Aku juga sudah lelah, nih!" ujar Len.

"Bersabarlah sedikit!" Lui menyingkirkan beberapa daun-daun kering yang menempel di rambut honey brownnya.

"Yak, sedikit lagi, sedikit lagi. Dan...kita sampai!" Lui menunjuk mansion tua didepannya. Yang lain hanya mengangkat alisnya.

"Ini...rumahmu?" tanya Gakupo tidak yakin. Lui hanya mengangguk dengan wajah datar.

"Cepatlah, waktu kita tidak banyak!" ujar Luka.

"..." Lui membuka garasi rumah tua itu perlahan-lahan, yang lain mengintip ke dalam.

"Wo-wow...kau benar-benar...orang kaya, ya, orang ber-uang" ujar Rin kagum, pascanya ada banyak mobil-mobil yang harganya, tentu saja tidak tergolong dalam kategori 'murah'.

"Pilihlah. Setidaknya mobil yang-"

"Aku mau mobil yang besar, memuat perlengkapan-perlengkapan kita, dan juga muat untuk orang banyak, dan jangan lupa, irit bahan bakar." Ujar Luka dengan nada stoic.

"Kau mau? Ini, Suv Car Modovicated, tentu saja mobil ini tidak biasa, kita bisa memakainya." Ujar Lui menunjuk salah satu mobil besar di ujung garasi.

"Tu-tunggu dulu, apa nama mobil ini?!" tanya Len kaget, Lui dengan wajah stoic berkata: "Suv Car Modovicated"

"Ini...salah satu mobil terbesar di dunia...kau punya?! Wow..." Ujar Len masih tergagap.

"Lalu, kenapa?" tanya Lui datar.

"Tidak! Itu- itu-"

"Berhenti! Lanjutkan ini nanti! Yang terpenting, kita harus segera cari tempat istirahat sebelum hari gelap!" ujar Luka sambil naik ke dalam mobil itu.

"Hei, yang menyetir itu kan ak-" Lui hendak berkata, tetapi... "Berisik! Kalau kau tidak mau, silahkan tinggal disini!" omel Luka.

"Um...baiklah...senpai..."

End Of Summer

"Aku...mengantuk..." ujar Gakupo yang duduk disamping Luka. Sementara itu, Luka terus fokus ke jalan.

CRACK!

"GRAAAAHHH!" yang lain menengok ke bawah. "Tenang saja, itu hanya orang mati. Aku tidak peduli dia masih hidup atau tidak! Kita harus segera sampai ke rumah Miku!"

Yang lain hanya menghela nafas, sementara itu, Rin tampak terlelap dalam dekapan Len. Kaito yang melihat itu segera berbisik.

"Ssttt...lihat mereka! Polos sekali..." Miku yang mulai melupakan kejadian tadi pagi, tersenyum.

"Ya. Mereka manis!" ujar Miku, Kaito melirik Miku. "Miku? Kau tidak apa-apa?" Miku mengangguk.

"Kau tahu, untuk keadaan seperti ini, aku tidak mau bertindak seperti orang tidak berguna..."

Kaito tersenyum.

"Syukurlah, kau sempat membuatku khawatir, Miku..." ujar Luka lega. Miku tersenyum kecil. " Terima kasih, senpai!"

"Bagaimana? Apakah kita sudah sampai?" tanya Miku. Luka menggeleng. "Ini gawat..."

Dan, Miku melihat puluhan, bahkan ratusan mayat hidup sudah menghalangi jalan.

End Of Summer part 02, end.

TO BE CONTINUED

Maaf minna, mungkin ini terlalu sedikit ._. tapi Akane harus mengerjakan tugas-tugas sekolah yang lagi numpuk, terima kasih ya, mau membaca chapter 01 dan chapter 02 ini :D

Balasan Review:

Namikaze Kyoko:

Iya, sebenarnya sudah saya pisahin pakai garis, tapi entah kenapa setelah di update garis itu hilang...

Thanks for fave XD

Adelia-chan:

Makasih pujiannya :D iya, memang mirip, tapi jalan ceritanya berbeda, lho XD terima kasih, terima kasih, terima kasih atas pujiannya. :D dan, terima kasih sudah mau fave, pertama kali nulis fanfiction yang seriusan gini.

Iya, ini saya sudah update XD

Miidori:

Terima kasih atas pujiannya. Seperti yang saya bilang di balasan review sebelumnya, sebenarnya udah saya kasih pembatas waktu itu, tapi hilang entah kemana._. thanks for fave XD

Minami No Hikari Kagamine:

Terlalu sedikit, ya? Maafkan saya, soalnya gak yakin fict ini bakalan laku XD terima kasih sudah mau membaca fict abal ini.

Last.

Mind to review?