Author's Note:

Hai, terima kasih sudah membaca Y!SD prologue chapter 1! As the name suggests, ini masih prologue untuk memperkenalkan karakter, dan akan dibagi menjadi tiga bagian, padahal prologue dimana –mana biasanya satu kan yahaha gomen.

Thanks for the review, BlazingCourage! Iya, Frontier juga favorit saya. Sayang sekali Fandom Digimon Indonesia lumayan sepi cerita frontier semoga semakin banyak ya nantinya.

Untuk segala kekurangan di chapter sebelumnya dan chapter ini, Author minta maaf in advance. Semoga bisa lebih baik kedepannya.

Akhir kata, selamat membaca!

Jojo Signed Out


"Terima kasih atas kehadiran kalian semua! Bagi murid baru, kami tunggu kalian di klub teater!" seru MC, mengakhiri pertunjukkan klub drama yang disambut dengan tepuk tangan meriah. Di belakangya, para aktor dan aktris membungkuk untuk mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya tirai tertutup.

Pertunjukan dari klub drama telah selesai. Penonton mulai berhamburan keluar dari auditorium untuk kembali "hunting" klub-klub lain. Saat ini, jam dinding di auditorium menunjukkan pukul 10 pagi. Sudah cukup siang, namun sepertinya bagi beberapa klub, "pertunjukkan" baru dimulai. Banyak klub yang mulai memindahkan barang-barang dan alat peraga mereka dari depan sekolah ke ruang klub masing-masing, untuk memperkenalkan lebih lanjut tentang klub mereka dan juga mempertunjukkan keahlian klub masing-masing yang tidak bisa dilakukan di stand depan sekolah karena keterbatasan tempat.

"Baiklah," kata Kouichi. Pemuda berambut hitam sebahu itu kemudiaN menoleh ke Tomoki dan Izumi. "Aku masih akan mengecek kegiatan klub-klub lain. Kita ketemu lagi nanti ya," Tutupnya dengan senyum dan lambaian tangan.

"Ok! kalau ada yang mulai aneh-aneh, laporkan padaku ya Kouichi-kun," jawab Izumi dengan semangat.

"Ganbatte, Kouichi nii-san!" sahut Tomoki dengan mengepalkan tangannya, yang dijawab Kouchi dengan sebuah senyuman dan anggukan kepala sebelum akhirnya sang mantan prajurit kegelapan itu melenggang pergi.

Tidak lama setelah Kouichi melanjutkan "patroli"nya, sebuah suara yang tidak asing mulai terdengar mendekat.

"Tomoookiiiii~" seru seseorang yang masih mengenakan kostum dan make-up penyihir Oz berlari ke arahnya, tanpa aba-aba langsung melompat dan memeluknya erat. "Selamat datang di Sensetsu!" ujarnya gemas. "Aku kaget ketika melihatmu bersama Kouchi dan Izumi-chan, sampai dialogku salah!" repetnya tanpa henti dengan masih "meremukkan" tubuh Tomoki.

"Ju-Junpei nii-san, sesak" protes Tomoki kepada sang senpai yang memang tidak sadar akan bentuk tubuhnya.

"Junpei-kun senpai, ayo lepaskan dia," ujar Izumi yang memang memanggil Junpei dengan nama panggilan yang boros, sambil menepuk nepuk tubuh Junpei yang masih memeluk Tomoki.

"Iya iya, Izumi-chan cemburu ya?" goda Junpei dengan wajah merona setelah melepaskan pelukan yang lebih mirip pitingan dari Tomoki.

"120% tidak sama sekali," jawab Izumi jahat dengan senyum manis. Sungguh iblis.

"Izumi nee-san, berikutnya kita kemana?" Tanya Tomoki, seakan tidak memedulikan Junpei yang kini merenung di pojok ruangan auditorium.

"Hmm.. kita ke klub-ku! Home Economics!" jawab Izumi semangat.


.

Prologue Chapter : Tomoki & Clubs ( 2 )

.


Tomoki, Izumi, dan Junpei berjalan menyusuri lorong lantai dua setelah Junpei berganti seragam sekolah. Lorong-lorong kelas ini didekorasi meriah, tidak kalah dengan stand yang ada di luar. Namun seindah dan semeriah apapun dekorasi yang ada di dalam sekolah, tidak bisa melepaskan mata Junpei dari Izumi yang sedang menjelaskan tentang klub Home Economics kepada Tomoki.

Ya, perasaan Junpei belum berubah. Rasa sukanya kepada Izumi masih sama seperti 6 tahun yang lalu. Kau bisa bayangkan wajah Junpei ketika melihat Izumi pada masa promosi klub tahun lalu? That's a good one, tapi cerita itu untuk lain waktu.

Hal lain yang belum berubah dari mantan prajurit petir itu diantaranya masih bertubuh gempal dan berambut jabrik. Bagusnya, kegigihan dan usahanya untuk membantu orang-orang yang ia cintai pun tidak pernah mengendur. Junpei merupakan orang yang berhasil menghidupkan kembali klub drama dari ambang kehancuran, karena kekurangan anggota dan besarnya budget yang dibutuhkan untuk melakukan pementasan. Ia bekerja sambilan untuk membantu kebutuhan finansial klub serta terus menghubungi dan membujuk anggota-anggota yang malas hadir sampai yang telah keluar, hingga klub teater kembali dapat berjalan seperti sekarang.

Oh, keahlian sulapnya juga stagnan. Triknya tidak berkembang sejak 6 tahun lalu.

"Junpei-kun Senpai,"

"Ya?"

"Jangan menatapku terus…"

"Oh, maaf maaf!"

Bagian cinta bertepuk sebelah tangannya pun sayang sekali tak kunjung mengalami peningkatan status menjadi cinta beetepuk tangan.

Namun, Junpei akan terus berusaha semaksimal mungkin agar panggilan "Junpei-kun senpai" bisa berubah kembali menjadi "Junpei-kun".

Better yet, "Darling", which is almost impossible.

Mereka bertiga sampai di depan ruang PKK, tempat kegiatan klub Home Economics atau yang biasa disingkat oleh murid-murid Sensetsu sebagai HE. Semerbak wangi gula dan vanilla tercium keluar dari ruangan ini.

"Wangi sekalii~" Junpei mengendus-endus daerah sekitar, diikuti Tomoki yang melakukan hal yang sama.

"Tentu saja, cake kami terenak se-SMA di Jepang!" promosi Izumi dengan membusungkan dada, sedikit pongah.

Mereka memasuki ruangan PKK dan langsung disambut dengan semangat oleh sang ketua klub, Asahina Minami, seorang gadis cantik dengan rambut merah bergelombang.

"Ara~ Irasshaimase~" sapanya dengan senyum lembut. "Halo Shibayama-kun, silakan masuk… ara?" mata sayu Minami melihat satu sosok lagi berdiri diantara Junpei dan Izumi, seorang anak laki-laki yang belum pernah dilihatnya. "Kamu murid baru?"

"I..iya, senpai. Himi, kelas 1-7!"

"Ara~ Himi.. Selamat datang di Sensetsu Daifuzoku!" sapa Minami dengan senyum lebar. "Nah, ayo masuk. Izumi-kun, tolong antarkan mereka ke salah satu meja ya." Ujarnya yang dibalas dengan sigap oleh Izumi. Minami pun melenggang kembali untuk menyiapkan hidangan bagi kedua tamunya itu.

Asahina Minami, teman sekelas Junpei dan kebetulan merupakan pewaris tunggal usaha keluarga Asahina dibidang garment, dikenal sebagai produsen kimono nomor satu di Tokyo saat ini. Mempunyai banyak kelebihan dalam urusan rumah tangga, dan juga mempunyai kelebihan untuk ukuran…. Sesuatu. Lebih tepatnya dua buah sesuatu.

Untuk seorang pewaris usaha tradisional yang besar, rambut yang di cat merah seperti itu memang aneh. Orang kebanyakan akan berpikir "seseorang yang bekerja untuk produk tradisional biasanya sangat strict dalam urusan penampilan," namun keluarga Minami sedikit berbeda. Orang-tua Minami merasa berhutang padanya, hingga akhirnya Minami cukup, atau mungkin, sangat dimanjakan. Orang-tua berhutang apa pada anaknya? Again, That's for later.

Izumi kemudian mengarahkan kedua lelaki itu ke sebuah meja yang sudah dilengkapi dengan satu set garpu dan pisau serta tisu yang telah dibentuk dengan cantik.

Mungkin untuk yang tidak tahu, HE dianggap sebagai klub memasak, tapi sebenarnya tidak sesimpel itu. HE merupakan sebuah kesatuan pembelajaran tentang bagaimana seseorang dapat mengoptimalkan potensinya dalam merawat sebuah rumah dan keluarga, sehingga dapat memaksimalkan kebahagiaan dan menekan pengeluaran. Contohnya mudah saja : bagaimana memaksimalkan penggunaan bahan bahan makanan yang ada untuk membuat sebuah masakan yang extraordinary atau bagaimana membetulkan pipa air yang bocor dengan se-efisien mungkin menggunakan alat-alat yang tersedia di rumah.

Dari apa yang mereka kerjakan, HE di Sensetsu memang lebih mirip badan riset dibanding klub. HE biasanya diminati oleh murid-murid yang memiliki cita-cita di bidang kulliner ataupun ingin menjadi ibu rumah tangga, namun di Sensetsu banyak juga laki-laki yang masuk ke klub ini karena selain prospek sebagai chef terasa semakin menjanjikan, penanaman kemampuan sebagai handyman handal juga menjadi daya tarik tersendiri.

Walaupun begitu, ada pula beberapa murid laki-laki yang bergabung karena alasan "tertentu". Bisa dilihat dari beberapa anggota yang sesekali mencuri pandang.

Ya, beberapa murid perempuan yang bergabung di HE memang menarik. Bisa menghabiskan waktu bersama mereka merupakan sebuah "Oasis" di tengah-tengah neraka bernama matematika, fisika, dan kimia.

"Silakan," Izumi membawakan dua piring Carrot Cake ke meja Junpei dan Tomoki, tidak lupa dengan brosur dan formulir pendaftaran klub untuk Tomoki. Carrot Cake itu terlihat segar dengan lapisan cream cheese dan sebuah chestnut diatasnya, membuat Tomoki dan Junpei kagum.

"Ittadakimasu!" tidak butuh waktu lama bagi kedua laki-laki itu untuk segera menggenggam garpu mereka, memasukkan potongan cake tersebut ke dalam mulut, dan akhirnya pergi ke surga.

"Ini enak sekali, segar! Seperti dari toko-toko kue!" puji Tomoki dengan mata berbinar. Sementara Junpei terus menyendok kue itu ke dalam mulutnya dengan kecepatan tinggi.

"Fufu, tentu saja! Wortel yang digunakan kita tanam sendiri di belakang sekolah, cream cheesenya pun kita buat sendiri, sehingga dengan budget minimum kita bisa membuat kue dengan rasa yang setara dengan patisserie besar" jelas Izumi dengan bangga. "Kadang aku membuatnya untukku sendiri dan bisa habis beberapa potong. Kalorinya-pun tidak terlalu tinggi, sehingga dengan sedikit olahraga aku bisa tetap mempertahankan berat badan!" lanjutnya tanpa henti dengan membusungkan dada, walau tidak sadar bahwa Tomoki dan Junpei hanya fokus di cake mereka dan sama sekali tidak mendengar omongannya.

"Huhuhu benar!" ujar Minami yang dari tadi mencuri dengar dari belakang Izumi, dengan segera memeluk bekas penduduk Italia itu. "Lihat, lihat, tubuh Izumi tetap ideal kan, walaupun dia suka makan kue?" lanjutnya sambil terus melakukan skinship dengan kemudian menyentuh bagian-bagian tubuh si pirang yang malang (can't be specific.. this is a K-T rated fanfiction) membuat Junpei menganga, menjatuhkan kuenya dari garpu yang ia genggam, dan membuat Tomoki berwajah merah padam.

"Lihat, perut ini, lengan ini~"

"Se.. Senpai! he..hentikan!" berontak Izumi.

-xx-

"Maaf kalian jadi melihat yang seperti itu.." kata Izumi lesu.

"Tidak apa-apa, sama sekali tidak apa-apa! terima kasih!" ujar Junpei dan Tomoki, seraya mengacungkan jempol mereka dengan menyunggingkan senyum mencurigakan.

"Tolong mimisan kalian itu diseka."

"Oh, maaf." Jawab Junpei.

"Sekarang kita kemana, Izumi nee-san?" Tanya Tomoki setelah menyeka hidungnya.

"Kemana ya.. " Si pecinta warna pink mengadahkan kepalanya memikirkan apa lagi yang bisa ia perlihatkan pada Tomoki. Ia melihat jam tangannya dan menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul 11. Artinya kegiatan di lapangan sudah akan selesai. "Baiklah, kita langsung saja ke Gym dan Lapangan sepak bola ya. Kegiatan disana sudah mau selesai."

Seperti perkiraan Izumi, cuaca yang mulai terik membuat kegiatan di Lapangan Sepak Bola dibubarkan. Beberapa anggota Klub Sepak Bola membagikan selebaran dan formulir pendaftaran pada murid-murid yang mulai pergi untuk melihat klub lain.

Pemain nomor 9 yang baru saja menjadi Man of the Match menenggak sekaleng pocari sweat hanya dengan sekali teguk. Terik matahari di kota metropolitan Jepang ini memang sedang panas-panasnya walaupun masih musim semi. Ia yang sedang duduk lemas di bangku pemain tidak tahan untuk tidak mengeluh tentang panas dan teriknya cuaca saat ini.

"Sinting!" teriaknya kesal.

"Ya, sinting memang cuaca hari ini, sial," ujar sang manajer berkebangsaan Amerika, Destiny Bliss. Gadis berkulit coklat itu mengipaskan tangannya ke wajahnya yang bercucuran keringat. Tidak butuh waktu lama sampai ia membuka zipper jacket trainingnya, menyisakan seragam olahraga ketat yang membungkus tubuh gadis itu. Sang laki-laki puber di bangku pemain pun melirik dengan sedikit blush di kedua pipinya.

"Kau itu… disini jadi tambah 'panas' tahu," sindirnya yang dibalas Destini hanya dengan senyum sinis. "Lagipula, bukannya kau seharusnya membantu yang lain membagikan formulir pendaftaran?" tanyanya, tahu bahwa Destiny baru saja bolos untuk melihat-lihat pameran klub lain.

"Aku masih tidak mengerti mengapa kalian Nihonjin perlu mempermasalahkan pakaian apa yang dipakai orang lain," kata gadis berambut hitam bergelombang itu, tanpa memedulikan pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Ia pun mengambil tempat duduk di sebelah sang striker utama.

"Oh iya, tadi saat aku mencicipi kue di HE, aku lihat teman kecilmu,"

"Lalu? Dia kan memang anggota?" ujar si rambut coklat berantakan sambil meneguk kembali pocari sweatnya.

"Dia bersama Junpei dan seorang anak laki-laki imut, sepertinya murid baru," Ujarnya sambil tetap mengipasi dirinya sendiri, kali ini dengan buku skor seraya sedikit mengutuk global warming.

"Murid baru? Hee, dia punya kenalan di luar sekolah? Aku baru tahu."

"Ya, anak itu memperkenalkan dirinya kepada si senpai dada besar dengan nama..hmm.. " Si mulut tanpa filter melipat tangannya, berusaha mengingat-ingat. "Himi?"

Dalam sekejap, pemain nomor 9 melempar kaleng pocari sweat yang telah kosong ke tempat sampah yang tidak jauh dari bangkunya, dan tanpa basa-basi melontarkan pertanyaan dengan kecepatan bak machine gun kepada Destini.

"Dimana!? Dimana mereka sekarang!?"

"Hey, calm yo *** down!" ujar Destini yang aslinya keluar, melotot kepada si mantan prajurit api. "Mana kutahu! Mungkin masih disana!" ujarnya, mereferensikan ruang PKK, "sarang" klub Home Economics.

"Baiklah! Aku kesana!" ujarnya dengan bersemangat, mengikat tali sepatunya dan langsung berlari pergi. "Thanks, Amerika!"

"Uh-huh," jawab Destini tidak peduli, sambil terus mengipaskan buku skor dan mengutuk Global Warming.

-xx-

Di Gym, Kouji dan anggota klub yang lain sedang membagikan selebaran dan formulir pendaftaran klub. Ralat, Kouji sedang membagikan formulir pendaftaran klub dan anggota lain tidak dipedulikan oleh para calon anggota.

"Senpai, tadi kau keren sekali, teknikmu sempurna!" ujar salah satu murid laki-laki.

"Senpai, bagaimana caranya merawat rambut panjang seperti itu tanpa kena hukuman dari komite disiplin?" Tanya murid laki-laki lain.

"Senpai, siapa namamu? Kelas berapa?" tanya salah satu murid perempuan.

"Senpai, dimana formulir pendaftaran untuk fans klubmu?" Tanya murid perempuan lain.

Dan masih banyak lagi "Senpai 5W+1H" yang lain, membuat ketua klub yang melihat dari jauh geleng-geleng kepala.

"Kouji ya? Kasihan dia, hahaha" ujar wakil ketua klub.

Kontras dengan sang wakil, Ketua klub Kendo justru menghela napas panjang. "Aku hanya berharap hal ini tidak memengaruhi solidaritas klub," ujarnya, menunjuk kepada bukti berupa beberapa anggota lain yang kesal karena Kouji "mengambil" semua calon anggota.

"Lihat Morinaga, matanya seakan dia akan menelan Minamoto bulat-bulat," lanjutnya sambil menunjuk ke seorang anggota berwajah seram, sedang melotot ke arah Kouji yang sedang "sibuk".

Pada saat yang bersamaan, Tomoki, Junpei dan Izumi pun tiba di Gym. Melihat kerumunan orang di satu spot, Izumi dan Junpei yakin bahwa orang yang mereka cari ada disana.

"Disana ya," ujar Junpei.

"Ya, pasti disana," turut Izumi.

"Disana?"

Segera setalah kerumunan itu mulai terpencar, Junpei dan Izumi mengajak Tomoki untuk menemui salah satu mantan prajurit legendaris. Kouji dengan raut wajah lelah, lebih karena menghadapi kerumunan orang dan pertanyaan-pertanyaan dibandingkan dengan pertandingan eksibisi yang baru saja ia lakukan.

"Kouji, kerja bagus!" ujar Izumi dengan kedipan mata.

"Pasti sulit ya, untuk pemalu sepertimu menghadapi kerumunan seperti tadi?" goda Junpei.

"…Apa yang kalian lakukan disini? Klub kalian tidak punya kerjaan lain?" jawab Kouji dengan suara lelah, disertai helaan napas.

"Kouji nii-san!" sapa Tomoki. "Selamat siang, apa kabarmu?"

Kouji membelalakkan matanya ketika melihat orang yang juga dikenalnya baik. Mencoba menjawab dengan lantang, Kouji malah terbata-bata.

"To…Tomoki?" ujar Kouji. Malu, ia pun langsung memalingkan pandangannya. "Siang. A-Aku baik-baik saja."

Momen itu langsung ternodai ketika terdengar suara Junpei yang sedang berbisik kepada Izumi.

"Kenapa dia semakin tua semakin tsundere sih?"

"Memang sudah begitu dari sananya," jawab Izumi juga dengan berbisik. "Dan dia akan semakin tsundere begitu menginjak kelas 3 nanti."

Mendengar kedua orang itu bergosip, Kouji hanya bisa memberikan sebuah glare tajam, yang justru disambut dengan "Awwww, dia marah," oleh Junpei.

Kouji menghela napas dan memilih untuk mengacuhkan dua orang pengghibah itu. Ia kembali melihat Tomoki yang kini sedang membaca brosur klub kendo yang diberikan oleh salah satu anggota klub selagi si tsundere itu sibuk dengan Izumi dan Junpei.

"Selamat datang di Sensetsu Daifuzoku, Tomoki." Ujarnya, dengan menyungging senyum. "Cepat ya, lewat jalur akselerasi?"

"Iya, memang sulit, tapi kalau diseriusi ternyata bisa!" jawab Tomoki.

"Sudah bertemu Kouichi dan Takuya?"

"Kouichi nii-san sudah, tapi aku masih belum bertemu Takuya nii-san."

"Iya, seharusnya dia ada di lapangan sepak bola kan ya?"

"Sudah siang, kegiatan promosi klub sepak bola pasti sudah selesai." Pikir Kouji. "Kalian tidak ada yang menghubungi Takuya?" tanyanya kepada Izumi dan Junpei.

"Tidak, karena aku mau merahasiakan ini padanya dan kalian semua. Yang tahu hanya aku dan Kouichi!" jawab Izumi dengan senyum lebar. Jari jemari tangan kirinya membentuk symbol peace.

"Kejutanmu berhasil," respon Kouji dengan menyungging senyum. "Tapi karena semua sudah berkumpul, lebih baik panggil dia kema.."

"TOMOKI!"

Sebuah suara keras datang dari pintu gym, menolehkan pandangan semua orang kepada sesosok murid laki-laki dengan seragam sepak bola SMA Sensetsu Daifuzoku yang terkenal dengan warna merah maroonnya, cocok untuk sang mantan prajurit api yang identik dengan warna merah.

Sang murid laki-laki berambut coklat, tersenyum lebar walau lehernya basah oleh peluh yang berjatuhan dan nafas yang memburu. Terlihat jelas rasa senangnya ketika melihat sang junior, melihatnya dengan tatapan yang sama.

"Ah, sudah ketahuan," ucap Junpei, yang mengenali dengan baik sosok laki-laki di pintu gym itu.

"Rumor memang cepat beredar," kata Kouji, menimpali Junpei.

"Yah, yang penting misiku agar dia tahu terakhir sudah sukses," Izumi tersenyum, menantikan adegan apa yang akan ia lihat terjadi selanjutnya antara kedua orang itu.

Mantan prajurit es itu pun tanpa ragu dengan lantang meneriakkan namanya, nama laki-laki yang merupakan "kakak" terdekatnya selama berada di Dunia Digital. Sang prajurit api.

"Takuya nii-san!"

Prologue Chapter 2 - End


That's for Prologue Chapter 2! Terima kasih sudah membaca. At last, berikutnya adalah prologue chapter 3 dan terakhir, dimana Tomoki akan memutuskan klub apa yang akan ia masuki.

Disini mulai diperkenalkan beberapa OC, karena walau fanfiction ini akan jadi Tomoki-sentris nantinya, karakter Frontier lainnya juga akan punya cerita sendiri-sendiri dimana akan melibatkan OC-OC itu. Jadi jangan khawatir kalau karakter favoritmu entah Junpei, Kouji, Takuya, Kouichi, atau Izumi, mereka akan punya jam terbang juga.

Sekali lagi, terima kasih telah membaca.

Jojo Signed Out


Character Introductions for this chapter:

Nama : Shibayama Junpei

Umur : 18

Tinggi Badan : 178 cm

Berat Badan : 80 kg.

Kelas : 3-3

Hobi : Mengonsumsi dan meracik kopi

Musik Favorit : One Ok Rock

Klub : Teater

Yang Disukai : Izumi

Yang Dibenci :Laki-laki yang mendekati Izumi

Mantan prajurit petir yang kini menjabat sebagai ketua klub teater. Setelah berhasil mendapatkan teman-teman baru dengan menjadi dirinya sendiri, Ia sadar bahwa seni pertunjukan yang selama ini ia lakukan untuk merebut perhatian orang benar-benar merupakan panggilan jiwanya. Kehidupannya kini lebih banyak dihabiskan di klub, mengingat klub teater di ambang pembubaran. Di sisi lain, Junpei diwajibkan oleh orang tuanya untuk masuk ke Universitas yang bonafit di bidang ekonomi ketika Junpei lebih ingin masuk ke Universitas di bidang seni, untuk lebih jauh mengembangkan kemampuannya dalam seni panggung. Tekanan dari berbagai pihak membuatnya cukup down, untungnya dia masih memiliki teman-teman dan anggota klub yang terus mensupportnya.


Nama : Asahina Minami

Umur : 18

Tinggi Badan : 160cm

Berat Badan : 52 Kg

Kelas : 3-3

Hobi : Minum teh

Musik Favorit : Chatmonchy

Klub : Home Economics

Yang Disukai : Skinship

Yang Dibenci : Katak

Teman sekelas Junpei yang juga ketua klub Home Economics sekaligus sebagai pewaris tunggal Perusahaan Tekstil Asahina, sebuah perusahaan supply garmen untuk kimono yang saat ini menjadi raja bisnis tekstil di Tokyo. Bisa melakukan hampir semua jenis pekerjaan rumah, namun sangat buruk dalam berurusan dengan hewan. Sangat suka memeluk anggota klub yang perempuan, salah satu "objek skinship" favoritnya adalah Izumi.


Nama : Destini Moon

Umur : 17

Tinggi Badan : 172cm

Berat Badan : 53 kg

Kelas : 2-5

Hobi : Menyiksa anggota klub Sepak Bola

Musik Favorit : Isaiah Rashad, Princess Nokia

Klub : Sepak Bola

Yang Disukai : Pro Wrestling

Yang Dibenci : Diatur-atur

Murid pindahan dari Orlando yang menolak untuk mengikuti nilai-nilai Jepang, karena merasa pergaulan di Jepang terlalu kaku. Manajer iblis klub sepak bola, berawal dari gagalnya menjadi manajer klub basket karena mereka sudah memiliki dua manajer, dan klub yang belum memiliki manajer tinggal klub sepak bola (yang ia tidak mengerti dimana serunya olahraga itu) sehingga dia ogah-ogahan dalam bekerja. Anehnya walau berat bagi para anggota, lama-lama mereka terbiasa dan memperlakukannya sebagai salah satu anggota klub. Biasa dipanggil "Amerika" oleh para anggota klub sepak bola.


Nama : Minamoto Kouji

Umur : 17

Tinggi Badan : 173 cm

Berat Badan : 56 kg

Kelas : 2-1

Hobi : Membaca buku

Musik Favorit : Tidak punya

Klub : Kendo

Yang Disukai : Langit Subuh

Yang Dibenci : Everything (jk lol), Diganggu ketika sedang membaca buku

Mantan prajurit cahaya yang berkembang sebagai seorang remaja multi-talenta. Bergabung dengan klub Kendo karena menyukai sejarah jepang dan juga bushido, dalam waktu singkat Kouji berhasil menjadi salah satu Kendoka terbaik di level prefektur. Di sisi lain, harapan yang disematkan oleh orang-orang kepadanya karena dianggap sangat berbakat mulai membebaninya, dan sepertinya tidak akan makan waktu lama sampai ia meledak….