I'm (not) Okay
By : Laurynaagatha
.
.
.
"Aku baik-baik saja, kau tak perlu khawatir padaku. Jika kebahagiaannya adalah kau dan bukannya aku, kenapa aku harus memaksanya untuk menyukaiku? Kau harus bisa membuatnya bahagia!" Senyuman itu merekah lebar di wajahnya. Tapi jauh di dalam hatinya, Minhyung mengakui bahwa ia benar-benar tersakiti.
Belakangan ini jadwal latihan untuk mempersiapkan penampilan di festival nanti semakin padat. Jika biasanya Minhyung akan mengeluh karena jam bermain basketnya harus terpotong banyak akibat latihan, maka beda lagi dengan kali ini.
"Hei, Minhyung-ah! Lapangan basket sedang kosong!"
Minhyung tersenyum begitu mendapati ajakan dari salah seorang temannya di klub basket. Ia mengambil tasnya dan berjalan keluar, tak lupa diberikannya tepukan sesaat pada bahu sang teman, "Maaf, kawan. Hari ini aku ada hal penting yang harus dilakukan."
"Ha? Memangnya apa itu?"
Senyuman konyol itu menghiasi wajah Minhyung, "Menggaet si pujaan hati!"
"Oi!"
Minhyung langsung berlari pergi meninggalkan temannya seraya tertawa lepas. Temannya itu pun hanya menggelengkan kepalanya menghadapi tingkah Minhyung yang sangat 'tidak Minhyung sekali' ketika pemuda yang fasih berbahasa Inggris itu mengalami yang namanya jatuh cinta.
"Cinta memang bisa membuat orang bodoh menjadi semakin bodoh…"
~I'm (not) Okay~
"Hoamm…"
Minhyung menguap lebar hingga setitik airmata menggantung di ekor matanya. Terhitung ini sudah tiga jam lamanya sejak ia menginjakkan kaki di ruang klub vokal, tapi latihan tak kunjung usai. Pada dasarnya, sebesar apapun semangat Minhyung untuk mendekati Haechan, pulang terlambat dari sekolah karena latihan vokal tetap bukan hal yang ia sukai.
"Aku mengantuk sekali…"
Plakk!
"Aw!"
Pukulan telak dirasakannya tepat pada pucuk kepalanya. Minhyung mengaduh dan melempar tatapan tajam pada si pelaku pemukulan yang berdiri di depannya, "Apa-apaan kau?! Kalau aku mengalami geger otak bagaimana?! Kau mau tanggung jawab?!"
"Berlebihan," Jeno memutar kedua bola matanya malas, "Kau bawa kendaraan ke sekolah?"
"Sepeda seperti biasa. Kenapa? Mau menumpang?"
"Kau pikir aku semerana apa hingga pulang pun harus menumpang padamu!" hampir saja Jeno memukul lagi kepala Minhyung, "Kau antar pulang Haechan saja. Dia tidak ada teman pulang hari ini dan kebetulan arah ke rumah kalian sama."
"Benarkah?!" Minhyung langsung berdiri dengan semangatnya, "Akan kulakukan!"
Jeno mengangguk dan menoleh untuk mencari Haechan, "Haechan-ah!"
Merasa namanya dipanggil, Haechan langsung berlari kecil menghampiri Jeno. Ia berdiri di hadapan Jeno sembari tersenyum "Iya, sunbae?"
"Hari ini kau tidak ada teman pulang, 'kan?"
Haechan mengangguk-angguk, "Jaemin bilang dia dijemput ayahnya, dan teman-teman yang lain arah pulangnya berbeda denganku. Jadi aku pulang sendiri. Memang kenapa, sunbae?"
"Kalau begitu pulang saja dengan Minhyung. Arah pulang kalian sama, 'kan?" Jeno diam-diam mengedipkan salah satu matanya pada Minhyung, "Bukannya aku tidak mau melakukannya, tapi arah ke rumahku berlawanan dengan arah ke rumahmu, Haechan-ah. Lagipula Minhyung bisa dipercaya."
Minhyung mengangguk-angguk.
"Eh?"
"Sudah, ya. Aku pulang duluan. Jaga anak itu sebaik mungkin, Minhyung-ah~"
"Iya, iya. Sudah sana pergi!"
Minhyung terkekeh ketika melihat Jeno yang sudah menghilang di balik pintu ruang klub. Ia pun beralih pada Haechan, "Haechan-ah, ayo kit-eh?"
Ekspresi Minhyung yang dipenuhi antusiasme itu lenyap. Begitu pula senyumannya yang langsung luntur ketika ia melihat raut wajah Haechan yang tatapannya masih tertuju pada pintu ruang klub.
~I'm (not) Okay~
Minhyung mengayuh sepedanya dengan kecepatan normal. Ini sudah malam, dan baik dirinya juga Haechan sama-sama tidak mengenakan jaket. Tentu saja Minhyung tidak mau mengebut dan membuat mereka berdua masuk angin karena udara malam hari yang terasa lebih dingin. Ia juga tak mau menerima resiko dengan terjatuh dari sepeda, apalagi jika Haechan sampai terluka.
"Sunbae…"
"Hm?" Minhyung menyahut sembari melirik ke belakangnya, tempat di mana Haechan berdiri dengan kedua tangan yang memegang bahu Minhyung, "Kenapa?"
"Sudah berapa lama kau dan Jeno-sunbae saling mengenal?"
"Mmm… lebih dari sepuluh tahun jika tidak salah. Memang kenapa?"
"Apa kau menyukai Jeno-sunbae?"
"Tentu saja," kemudian Minhyung buru-buru meralat, "Maksudku suka sebagai teman, sahabat begitu. Jangan salah mengartikannya, ya?"
Haechan terkekeh, "Selama ini aku berpikir kalian itu berpacaran. Habisnya kemana-mana kalian selalu berdua. Di mana ada Minhyung-sunbae, di situ juga ada Jeno-sunbae. Kalian benar-benar terlihat sangat dekat."
"Itu karena dulu Jeno adalah satu-satunya anak yang mau berteman denganku," Minhyung tersenyum sembari bernostalgia, "Aku lahir dan besar di Kanada dan pertama kali datang ke Korea ketika usiaku tujuh tahun. Saat itu anak-anak lain pasti menganggapku yang 'sedikit berbeda' dengan mereka sebagai anak aneh sehingga mereka menjauhiku. Tapi tidak dengan Jeno."
Minhyung memberi sedikit jeda pada ceritanya ketika dirasakannya kedua tangan Haechan tak lagi memegang bahunya, namun kini memeluk lehernya. Ia juga dapat merasakan dada Haechan yang bersentuhan dengan punggungnya dan kepala Haechan tepat di samping kepalanya.
"Biarkan seperti ini, ya? Biar sunbae tidak kedingingan juga hehehe..."
'Kuharap Haechan tidak mendengar suara detak jantungku.'
"Lanjutkan ceritamu, sunbae."
"Oh iya," Mark tertawa kikuk, "Mmm… jadi Jeno adalah satu-satunya anak yang ketika itu mau bermain denganku, mau menemaniku makan atau menemaniku yang selalu terlambat dijemput setiap pulang sekolah hingga orangtuaku datang. Dia juga satu-satunya orang yang tertawa setiap kali mendengar lelucon tak lucu dariku. Jeno itu… terlalu baik. Itu yang kupelajari tentang dirinya selama ini."
Haechan mengangguk-angguk hingga sisi wajahnya bergesekan dengan sisi wajah Minhyung. Jangan tanya seberapa merahnya wajah Minhyung saat ini.
"Jeno-sunbae itu memang terlalu baik. Sangaaatttt… baik! Dia selalu membantuku dalam banyak hal yang tak kumengerti. Jeno-sunbae memang yang terbaik!"
Haechan tertawa, begitu pula Minhyung yang mau tak mau ikut tertawa ketika mendengar suara tawa anak itu yang seolah mengalun merdu di telinganya.
"Aku suka orang seperti Jeno-sunbae."
DEG
"Sangat suka."
DEG
"Sepertinya aku memang menyukainya."
DEG
"Bagaimana menurutmu, sunbae?"
"E-eh? A-apa? Kenapa kau bertanya padaku?"
"Kau 'kan teman dekatnya," Haechan menjawab dengan ceria, "Jeno-sunbae itu suka orang yang seperti apa? Apa saja yang tidak Jeno-sunbae sukai dan apa saja yang dia sukai?"
"I-itu… kurasa… itu akan jadi cerita yang panjang…"
Dan sepanjang perjalanan itu, senyuman Minhyung seolah terkembang hambar tiap kali nama Jeno keluar dari mulut Haechan. Jantungnya serasa berdenyut sakit di setiap hembusan napas yang ia keluarkan.
'Seharusnya aku sudah menduganya…'
~I'm (not) Okay~
Minhyung berbaring dengan posisi telungkup di atas ranjang tidurnya. Entah kenapa hari ini ia merasa berkali-kali lipat lebih lelah dari biasanya. Tak mempedulikan teguran ibunya yang mengharuskan dirinya membersihkan diri dulu sebelum tertidur, ia berusaha menyamankan diri dalam posisinya saat ini.
"Aku suka orang seperti Jeno-sunbae."
"Sangat suka."
"Sepertinya aku memang menyukainya."
"Arrgghh!"
Minhyung berteriak kencang walaupun suaranya teredam oleh bantal. Kedua tangannya terkepal dan sesekali memukul-mukul permukaan ranjang tidurnya. Antara kesal, marah, kecewa dan perasaan lainnya terkumpul menjadi satu dalam dirinya. Benar-benar menyebalkan.
Jika sudah seperti ini, apa yang bisa ia lakukan? Marah pada Haechan? Atau marah pada Jeno? Mana mungkin. Lagipula seharusnya sudah sejak awal Minhyung mengantisipasi hal yang seperti ini. Belum tentu juga Haechan akan membalas perasaannya karena bisa saja anak itu malah menyukai orang lain.
Dan sekarang hal itu benar-benar terjadi. Haechan menyukai orang lain, dan orang lain itu adalah temannya sendiri. Tak ada yang bisa Minhyung lakukan selain melampiaskan perasaannya yang kacau pada ranjang seperti saat ini.
"Aku benar-benar tidak siap…"
Drrtt! Drrtt!
Getaran itu mengalihkan perhatian Minhyung. Ia mengambil tasnya dan mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas tersebut. Ada sebuah pesan masuk, dan itu dari Jeno.
[Bagaimana rasanya bisa mengantarkan Haechan pulang?]
Minhyung tersenyum kecil dan membalas pesan dari Jeno.
[Terimakasih padamu aku jadi bisa mengetahui letak rumahnya. Ternyata tak begitu jauh dari rumahku.]
[Hahaha! Kalau begitu kau tidak perlu capek-capek jika merasa merindukannya, 'kan? Datangi saja rumahnya.]
[Ya. Tapi kurasa mulai sekarang semuanya akan jadi sulit.]
[Apa maksudmu?]
Minhyung menghela napas dan menimang-nimang sesaat. Apa dia harus mengatakannya pada Jeno? Mengatakan bahwa Haechan lebih menyukai Jeno daripada dirinya? Mengatakan bahwa orang yang ia sukai menyukai temannya sendiri? Minhyung tak sampai hati melakukan hal itu dan membuat Jeno merasa bersalah.
Jeno itu orangnya terlalu baik, persis seperti yang dikatakannya pada Haechan tadi.
[Haechan ternyata menyukai orang lain. Jadi kurasa aku harus menyerah.]
[Hei! Jangan berpikiran seperti itu! Aku yakin kau bisa, Minhyung-ah! Memang siapa orang yang bisa mengalahkan pesona Lee Minhyung?]
"Kau orangnya, Jeno-ya…"
[Kau bahkan belum memulainya. Kupikir tidak ada kata 'menyerah' dalam kamus kehidupan seorang Lee Minhyung. Apa aku salah?]
[Jangan mengejekku.]
[Bersemangatlah, Lee Minhyung! Aku yakin jika Haechan banyak menghabiskan waktu denganmu, dia bisa melihat ke arahmu. Biarkan waktu yang menjawabnya. Semangat! Aku mendukungmu!]
Ingatan Minhyung melayang kepada saat sepulang latihan vokal. Tatapan Haechan kala itu setelah mendengar ucapan Jeno yang meminta ia pulang bersama Minhyung menyiratkan… kekecewaan.
"Tapi nyatanya, orang yang Haechan sukai adalah kau dan bukannya aku…"
To Be Continued
Yeay fast update~ cerita kayak gini sebenernya mainstream (banget) menurut saya sampe kayaknya udah ada yang bisa nebak alurnya kayak gimana. Tapi agak kaget juga waktu pada nebak kalau jeno suka mark. Lho kok? kkk~ nggak ya, disini udah ketahuan siapa yang suka siapa.
Rimm, Makasih udah dibilang bagusss^^ jeno emang pinter, saking pinternya bisa manfaatkan kesempatan dalam kesempitan wkwk
Markeu, Peran jeno itu sih kalau menurut saya emang kayak mak comblang lagi antara haechan sama mark, tapi emang perannya gak begitu banyak. Ini udah fast update ya~
Review?
