Cruise Murder

AU. Pair but slight. Typo, EYD ancur, bahasa maksa.

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto-sama

Case by Crime Scene 2

Story by luscaluc

Author's Note : Cerita bergenre detektif-detektifan pertama yang saya bikin. Tapi karena saya gak pinter deduksi, jadi case-nya 'terinspirasi', atau lebih tepatnya 'ngambil' dari program tv Crime Scene 2, dengan sedikit perubahan plot. Jadi ide kasusnya murni punya Crime Scene 2. Buat yang udah nonton, baca aja. Buat yang belum, saya saranin lebih baik jangan nonton dulu sebelum fic ini complete :v *plak* ya kalau udah ketebak kan gak seru. Saya yakin banyak reader yang gak seperti saya yang begitu hobi sama yang namanya spoiler :p wkwk

Don't Like? Don't Read :)


"Halo?"

Semua orang yang berada di ruangan itu berubah hening, ketika Gaara berbicara dengan seseorang di ujung telepon. Kelihatannya penting. Tampak dari raut wajah Gaara yang berubah serius ketika melihat nama yang tertera ketika pertama kali ponselnya berdering.

"Gaara..."

Lama, air muka Gaara tiba-tiba berubah makin serius ketika seseorang dari seberang sambungan itu berbicara sesuatu padanya. Naruto lantas mengerutkan dahinya, "A-ada apa, Gaara?"

Ditanya seperti itu Gaara hanya melirik. Ia kemudian kembali fokus mendengarkan suara dari ponselnya. Sepenting itu kah?

"Hn. Aku mengerti," tutup Gaara, lalu menutup sambungan teleponnya. Hening sebentar. Pemuda itu kemudian mengedarkan pandangan ke arah orang-orang di sekelilingnya. Ekspresi Naruto, Shikamaru, dan Hinata juga tak kalah seriusnya, menanti kata-kata Gaara yang sepertinya sudah bisa mereka tebak.

"Kita ada tugas."

Cruise Murder

Dan disinilah keempat anggota kepolisian itu sekarang. Pertunjukkan Jazz di bar yang akan mereka dan penumpang lain saksikan terpaksa batal karena kejadian mengejutkan yang tiba-tiba terjadi di dalam kapal.

Pembunuhan.

Terdengar aneh memang, mengingat kapal adalah lokasi yang sama sekali tidak cocok untuk area pembunuhan. Siapapun pembunuhnya, ia tentu tidak akan bisa lepas dari penyelidikan polisi, kecuali jika mereka memang harus terjun ke laut. Para penumpang diperintahkan untuk tetap berada di kamar sampai kapal Center Cruise itu menepi di pelabuhan Jepang.

"Argh~ Kenapa harus disaat liburan seperti ini?!" Naruto meremas rambutnya frustasi. Shikamaru mengerling. Ia sedikit banyak menyetujui apa yang dikatakan Naruto. Tujuan mereka berempat ikut Cruise ini adalah untuk merayakan promosi mereka dan bersenang-senang. Dan ketika kesenangan yang jarang-jarang bisa mereka dapatkan ini terganggu? Merepotkan.

"Ini sudah resiko, Naruto," ucap Gaara sarkatis, "Harusnya kau sudah tahu itu."

Naruto cemberut. Pemuda dingin seperti Gaara memang tidak tahu apa itu yang namanya kesenangan. Naruto hampir berucap, "Tapi–"

"B-biar aku bacakan data kasusnya," potong Hinata cepat, sebelum kedua pemuda itu bertengkar lebih lanjut. Gaara menoleh. Naruto menghela napas pasrah. Ketiganya otomatis mengalihkan fokus pada Hinata.

Merasa mendapat persetujuan, gadis itu lalu melanjutkan, "Korban bernama Pein. 32 tahun, co-nahkoda satu, di kapal ini. Meninggal karena tembakan peluru di perut bagian kiri."

Ketiga pemuda itu memperhatikan dengan seksama. Gaara, masih dengan wajar sedatar tripleknya melontarkan pertanyaan, "Hanya itu? Bagaimana dengan suspectnya?"

Pertanyaan paling penting dari semua kasus pembunuhan, suspect. Tapi, tidakkah Gaara terlalu terburu-buru?

"Soal itu... Sejauh ini aku sudah mengumpulkan 5 orang yang sepertinya harus kita mintai keterangan, ini berdasarkan penuturan pelapor dan didukung oleh saksi mata. Hinata, tolong jelaskan detailnya," kali ini si jenius yang menimpali. Hinata merespon cepat, "B-baik!"

"Yang pertama, Uchiha Itachi, 32 tahun. Dia adalah kapten nahkoda di Center Cruise dan sudah bekerja di kapal ini selama 12 tahun. Dia yang melaporkan dan menemukan korban pertama kali," jelas Hinata. Ia kemudian melirik ke arah Naruto, Shikamaru, dan Gaara. Gadis ahli psikologi forensik itu memberi ruang bagi rekan-rekan cerdasnya itu untuk menyerap informasi yang berhasil dikumpulkan Shikamaru entah darimana.

"Suspect kedua ini adalah bawahan korban, co nahkoda kedua, Deidara. 32 tahun, telah bekerja di kapal selama 7 tahun. Yang ketiga ada manager bar Center Cruise, Akasu–"

"Apakah kru kapal cuma ada 3 orang?" sela Naruto. Shikamaru kemudian membuka mulut, "Sebenarnya ada banyak, tapi mereka ada digeladak bersama banyak orang melihat kembang api. 5 orang yang kucurigai ini karena mereka ada di dalam bersama dengan Pein."

Gaara menoleh ke arah Shikamaru.

"Kita tidak bisa menyimpulkan semudah itu, Shikamaru," sanggah ketua kita yang dari tadi kedengarannya diam saja, "Bisa jadi yang digeladak juga punya kesempatan."

Shikamaru mengerutkan kening, hendak protes. Ia mememutuskan kelima orang ini bukan tanpa alasan dan telah melalui berbagai pertimbangan. Pemuda itu berucap, "Itu tergantung perkembangan kasus. Kita pakai logika awam saja, Gaara. Toh mereka masih berstatus sebagai saksi. Kalau kita tak punya cukup bukti, kita bisa lebarkan suspect sampai ke yang ada di geladak."

Naruto tertawa mengejek, "Ternyata kau bisa bodoh juga ya, Gaara."

Gaara tak merespon. Ada benarnya juga perkataan Shikamaru. Gaara lalu melemparkan pandangan yang berarti 'lanjutkan', kearah Hinata.

Hinata kembali menjelaskan berkas kasus di tangannya, "Ehm.. Aku lanjutkan. Ketiga, manager bar, Akasuna Sasori. Bekerja di kapal ini baru 2 tahun, usia 32 tahun. Keempat, Haruno Sakura. Stewardess yang baru bekerja tahun lalu, usia 25 tahun."

"Yang terakhir?" tanya Naruto tak sabaran. Hinata pun menjawab, "Terakhir, penyanyi Jazz di bar Center Cruise, Yamanaka Ino. 29 tahun."

"Sasori..." gumam Gaara secara tak sadar.

Semua orang otomatis menoleh ke arah Gaara. Pemuda itu hanya menggeleng pelan, "Tidak apa."

Hinata pun menutup berkasnya, pertanda bahwa ia sudah selesai membacakan seluruh isinya. Naruto terlihat berpikir. Shikamaru melamun. Gaara menimbang-nimbang. Lama sekali. Melihat rekan-rekannya terlihat begitu serius, Hinata bertanya dengan takut-takut, "B-bagaimana, Gaara?"

"Hmm... Ini baru pukul 3 pagi," Gaara melihat arlojinya, "Naruto, kumpulkan suspect 1 jam lagi, kita lakukan interogasi. Aku dan Shikamaru akan melihat-lihat TKP. Sementara itu istirahatlah dulu."

Naruto dan Hinata mengangguk. Gaara mengerling pada Shikamaru, memberi kode pada pemuda itu untuk segera mengekor dan kemudian meninggalkan ruangan. Shikamaru pun beranjak dari sofanya dengan malas dan menyusul di belakang Gaara.

Cruise Murder

Gaara mengitari mayat Pein yang tergeletak bersimbah darah di ruang penyimpanan kapal. Begitu pula Shikamaru. Kapal masih menepi sekitar 4 jam lagi, yang artinya jenazah Pein jelas tidak bisa dibawa kemana-mana. Helikopter? Tidak, Gaara yang ditunjuk sebagai ketua penyidik itu entah kenapa menolaknya tanpa alasan. Ia hanya memerintahkan Shikamaru untuk memasang garis polisi dan mengunci jalan masuk ruangan sehingga tidak ada orang selain pihak kepolisian yang boleh mendekat.

Gaara memandangi Pein dari atas ke bawah. Seragam serba putih khas nahkoda yang diwarnai darah itu terlihat begitu ironis. Pemuda itu terpekur. Otaknya berusaha menganalisa apa yang telah terjadi di ruangan ini sebelumnya sehingga menyebabkan pembunuhan itu terjadi.

"Dilihat dengan mata telanjang, kematiannya mungkin disebabkan oleh tembakan peluru. Tapi aku tidak bisa menetapkan itu secara pasti tanpa otopsi," tutur Shikamaru yang merasa bertanggung jawab atas berkas kasus yang dibuatnya tadi.

Gaara hanya diam, tapi ia mengerti apa yang dikatakan calon kakak iparnya itu. Ia lantas berjongkok dan mencoba menganalisa sendiri luka tembak pada tubuh korban. Gaara masih bisa melihat peluru yang bersarang di perut kiri pein karena tidak sepenuhnya menembus. Benar yang dikatakan Shikamaru, secara kasat mata kematian Pein mungkin karena peluru yang menyebabkannya kehabisan darah atau kerusakan organ.

Shikamaru sendiri memilih untuk menganalisa bagian tubuh Pein yang lain. Kepala, dada, leher, punggung, oh darah Pein bahkan sampai menembus punggung.

Tidak, tunggu dulu.

Itu bukan darah yang menembus karena tembakan peluru atau apapun. Shikamaru menundukkan tubuh Pein sedikit dan mendekatkan pandangannya pada cipratan darah di punggung Pein. Dan pada kenyataannya itu bukanlah cipratan darah.

"Lihat ini, Gaara," titah Shikamaru. Gaara menoleh.

"Ini seperti luka tusukan. Tusukan benda kecil seperti... jarum?" Shikamaru menyipitkan matanya, berusaha menambah fokus. Gaara pun bangkit dan mengikuti arah pandangan Shikamaru. Seperti kata Shikamaru, di punggung Pein terdapat lubang kecil yang terlihat di pakaiannya dan darah yang mengalir dari sana. Dan itu memang terlihat seperti bekas tusukan.

"Kurasa lebih besar dari itu. Dan lukanya terlihat cukup dalam," opini Gaara. Shikamaru mengangguk mengiyakan. Ia tersenyum senang, "Satu hint kita dapatkan."

"Satu hint atau malah jadi satu lubang puzzle," cetus Gaara. Shikamaru tertawa kecil. Apa yang dikatakan Gaara benar, mereka memang belum boleh senang dulu. Mendapatkan fakta baru bisa jadi hal yang menyenangkan, atau bahkan makin membingungkan.

Gaara kembali menyisir ruangan. Matanya pertama kali jatuh pada kardus-kardus kecil yang berserakan di sekitar korban. Demikian pula dengan Shikamaru, namun respon pemuda ini lebih cepat dari Gaara. Ia segera berjongkok dan membuka kardus-kardus tersebut.

Dan mereka menemukan kembang api didalamnya.

"Kembang api? Apakah ini sisa festival tadi malam?" tanya Shikamaru. Gaara tak merespon. Ia bergerak membuka kardus yang lainnya.

Sama.

Setelah kardus-kardus itu dibuka, ternyata semuanya berisi kembang api yang sepertinya sisa dari festival yang diadakan Center Cruise dalam pelayaran terakhir mereka semalam. Gaara merenung, dihitungnya jumlah kardus yang tergeletak itu.

"Sembilan..." gumamnya pelan. Shikamaru menutup kardus tersebut dan mengembalikannya ke posisi semula. Gaara dan Shikamaru pun berdiri dan beralih pandang. Sepertinya kembang api itu tidak ada kaitannya dengan kasus ini.

Menelusuri lagi, ternyata ruang penyimpanan itu tampak tertata. Ada kotak-kotak kayu besar yang disusun rapi disana. Entahlah, Gaara ataupun Shikamaru tentu tidak tahu apa isinya. Kemungkinan besar adalah stock makanan atau peralatan. Iris jade pemuda itu menyisir lagi hingga pandangannya berhenti pada sesuatu. Matanya menangkap sebotol minuman aneh yang terletak di rak besar tepat di belakang posisi mayat.

"Apa itu miliknya?" tanya Gaara, entah pada siapa. Ia sebenarnya tahu bahwa Shikamaru jelas saja tidak tahu itu milik siapa. Shikamaru pun mengedikkan bahu. Gaara meraih botol minuman itu dan membaca label yang ada pada botolnya.

"Jus apel..." gumam Gaara. Shikamaru menelengkan kepala, "Dicampuri sesuatu?"

Bingo, tuan jenius.

"Exactly," tukas Gaara. Tangannya membolak-balikkan botol itu ke atas dan kebawah. Ada perbedaan warna cairan disana. Ia pun berkomentar, "Cairan putih yang terpisah dari cairan kuning ini jelas murni bukan jus apel."

Shikamaru mengangguk-angguk. Gaara terlihat membuka botol jus tersebut dan mencium baunya, berusaha mengetahui zat lain yang telah dimasukkan ke dalam jus apel yang kelihatannya enak itu. Shikamaru mau tak mau menaikkan sudut bibirnya, "Coba minum saja, Gaara."

Gaara mendelik, "Aku tidak mau mati konyol hanya karena jus."

Shikamaru tertawa. Gaara kemudian menutup botol jus tersebut dan memasukkannya ke dalam tas. Pandangannya beralih ke map kuning dan sebuah tas hitam yang sebelumnya tepat berada di sisi kanan jus apel. Gaara otomatis membuka map itu dan membacanya. Shikamaru pun turut membaca isi map tersebut.

"Ini..." Gaara menjeda kalimatnya, "Laporan tentang stock ruang penyimpanan."

Merasa tidak tertarik, Shikamaru mengalihkan perhatiannya ke arah sekeliling. Tabel laporan yang hanya 5 lembar itu terlihat tidak menarik untuknya. Berbeda dengan Gaara, ia terlihat begitu serius membaca laporan itu hingga dahinya mengkerut.

"Di sini tertulis, stock kembang api ada 10 pcs. Kenapa yang ada hanya 9?" tanya Gaara. Shikamaru pun menjawab pertanyaan calon adik iparnya itu asal, "Hilang?"

"Jangan terlalu mudah menyimpulkan sesuatu," sanggah Gaara sinis. Pria berambut hitam dikuncir itu hanya terkekeh.

Gaara diam. Hal itu memang telah mengganggu pikirannya sejak pertama kali ia melihat kembang api itu. Kenapa kembang api itu tidak digunakan seluruhnya? Dan sekarang malah timbul pertanyaan baru, kenapa kembang api sisa yang harusnya ada 10 kini tinggal 9?

Shikamaru mau tak mau ikut berpikir juga. Siapa yang tahu jika itu adalah petunjuk penting? Ia kembali mengitari ruang tempat kejadian perkara yang ukurannya hanya seleba meter itu. Berulang kali Gaara memindah-mindahkan fokusnya, berusaha meyakinkan diri bahwa tak ada yang terlewat. Namun hasilnya nihil. Merasa tak menemukan jawaban, Gaara menghela napas dalam.

"Kita harus kembali, Shikamaru. Ini sudah hampir satu jam," ucap Gaara tiba-tiba. Shikamaru menggeleng.

"Tunggu sebentar Gaara."

Shikamaru nampaknya melupakan sesuatu. Pandangannya tertuju pada tas hitam yang berada di sebelah jus apel tadi. Ah, bukankah mereka belum menyentuhnya? Shikamaru pun tergerak untuk menggeledah isi tas hitam tersebut. Ingin tahu apa yang mereka temukan?

"Bingo," kata Shikamaru senang.

"Kardusnya?" tanya Gaara. Sebelah alis imaginer-nya terangkat. Bagaimana kardus itu bisa ada di sana?

Sejurus kemudian, Shikamaru menatap Gaara serius.

"Kenapa co-nahkoda itu memasukkan ini ke dalam tasnya?" tanya Gaara sembari balas menatap Shikamaru. Shikamaru melirik sebentar, "Pertanyaanmu sama denganku. Itu yang harus kita cari jawabannya."

Shikamaru mencoba mencari sesuatu di dalam tas itu lagi. Ia menemukan sebuah ponsel, kartu identitas, dan beberapa alat tulis. Tanpa aba-aba, Shikamaru langsung menyambar ponsel itu dan mencoba menggeledahnya.

"Wah, ini milik Pein," celetuk Shikamaru. Gaara terlihat tak menghiraukan. Ia lebih memilih untuk berpikir keras mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri. Raut wajah seriusnya ia tampakkan sembari menatap kardus-kardus itu bergantian.

Otak jeniusnya tiba-tiba menangkap sesuatu. Tangannya tergerak untuk membuka kembali kardus-kardus itu dan menyelidiki lebih lanjut. Ia mengeluarkan kembang api berbentuk seperti buah peer itu dari dalam kardus.

'Ringan...' pikirnya spontan. Kembang api itu memang lebih ringan dari yang Gaara kira. Tangannya mengguncang-guncang kembang api tersebut. Wadah kembang api itu terbuat dari kayu, jika dilihat dari tekstur dan berat. Ia pun berinisiatif untuk membuka kembang api yang mungkin saja bisa dipisah karena ternyata ada sekat ditengah-tengahnya.

KLAK

Benar saja. Dengan sedikit kekuatan, kembang api itu ternyata bisa dibuka. Ia menemukan pasir, jerami, dan sumbu kembang api didalamnya.

'Kupikir kembang api itu isinya belerang,' batinnya lagi. Karena penasaran, Gaara menumpahkan isi dari kembang api itu ke lantai. Selanjutnya, ia menemukan sesuatu yang menarik.

"Astaga..." dari sisi lain tiba-tiba Shikamaru berujar.

Gaara menoleh, "Ada apa, Shikamaru?"

Shikamaru nampaknya baru saja dikejutkan oleh sesuatu yang ia dapatkan dari ponsel Pein. Ia kemudian menunjukkannya pada Gaara. Sebuah pesan, antara Pein dengan seseorang. Gaara yang membaca itu tiba-tiba menyeringai kecil. Ia lantas menunjukkan hal menarik yang baru saja ia temukan pada Shikamaru.

"You're Busted."


Mind to review? :)