Chapter 2. Invitation.
Nessie beranjak dari bangkunya dan mengajak ibunya mendekatiku.
"Mom, ini Ms. Roos, wali kelasku. Ms. Roos, ini Bella Cullen, ibuku" katanya dengan caranya yang menawan memperkenalkan kami.
"Oh, hello Mrs. Cullen" sapaku sambil menjabat tangan ibu Nessie. Dingin. Mungkin dia terlalu lama di dalam mobilnya yang ber-AC.
"Senang bertemu dengan anda, Ms. Roos", sapanya lembut dan anggun. Makin lama kuamati, wanita keren di depanku ini belum pantas menjadi ibu. Ah, maksudku, dia terlalu muda. Bahkan sepertinya aku jauh lebih tua darinya. Tunggu, oh iya, saja masih muda, jadi mungkin benar dugaanku mereka menikah di umur-umur yang masih belia.
"Ms. Roos, terima kasih sudah menjaga Renesmee", katanya sambil tersenyum anggun padaku.
"A..ah. Itu kewajiban saya. Lagi pula Renesmee anak yang baik. Dia dapat bergaul dengan teman-teman barunya dan sejauh ini saya lihat dia sama sekali tidak kesulitan mengikuti pelajaran", terangku.
"Benarkah? Ini kali pertama dia bersekolah di sekolah resmi. Karena keluarga kami seorang pindah, jadi Renesmee mendapatkan home-schooling selama ini. Syukurlah kalau dia bisa menyesuaikan. Saya mohon bantuannya, Ms. Roos", terangnya padaku.
"Oh. Begitu. Iya, pasti, tentu saja Mrs. Cullen. Lagi pula saya berhutang nyawa pada , tentu saja saya akan sangat senang sekali membantu cucunya" kataku sambil tersenyum. Kuharap senyumanku ini seanggun senyuman ibu dan anak di hadapanku ini.
"Oh, jadi anda mengenal Carlisle? Ah, baiklah kalau begitu Ms. Roos. Terima kasih banyak", katanya padaku lalu menggandeng Nessie dan mengajaknya pulang.
Aku juga harus pulang sekarang. Aku harus ke rumah sakit untuk kontrol lagi. You know, lukaku saat itu benar-benar parah. Entah kemampuan medis yang dimiliki hingga dia dapat menyelamatkan hidupku. Hem. Aku harap aku bertemu dengannya di rumah sakit.
Aku berjalan keluar sekolah menuju mobil kesayanganku, Hyundai Avega warna putih. Baru saja kubeli bulan lalu dengan tabunganku. Em, aku lihat Mrs. Cullen dan Renesmee masuk ke sebuah mobil sedan mengkilat warna hitam, dari lambang mobilnya sih Mercedez-Benz tapi aku tidak tahu tipe apa itu. Ah, aku tidak terlalu tahu mengenai otomotif, yang aku tahu pasti mobil itu luar biasa mahal.
Baiklah. Sampai di sini. Sampai jumpa di Halcyon Hospital.
AT HALCYON HOSPITAL
Aku turun dari mobil dan menuju tempat pendaftaran untuk konfirmasi nomor antrianku.
"Ms. Roos, ruang periksa di lantai 3 nomor 312", kata penjaga resepsionis.
"Terima kasih. Ah, maaf, siapa dokternya hari ini?" tanyaku.
"Dengan ", jawabnya dengan senyum.
OH. Hari ini dokter Cullen. Bagus. Aku ingin iseng saja bertanya padanya. Lagi pula dia orangnya sangat baik dan ramah, tidak ada salahnya, kan.
"Nomor antrian 312, Ms. Kourtney Roos", namaku dipanggil.
Aku berdiri dan berjalan masuk ke ruang periksa. Seorang dokter super tampan berambut pirang sambil tersenyum dan terlihat dia sedang menungguku.
"Hello, . Apa kabarmu?" Tanya lembut.
"Hi, dokter. Sangat baik. Tidak apa, panggil saja aku Kourtney?" pintaku.
"Oh, okay Kourtney. Silakan duduk" katanya mempersilakanku. Aku duduk di sebuah kursi berhadapan dengan . Seorang suster memeriksa tensiku, sedangkan menanyakan keluhan-keluhanku.
"Okay. Mari aku periksa. Berbaringlah di sana" katanya sambil menunjuk sebuah tempat tidur untuk memeriksa pasien. Aku berbaring, dan mulai menggunakan stetoskopnya untuk memeriksa detak jantungku dan melakukan pemeriksaan-pemeriksaan lain.
"Hari ini cucumu mulai bersekolah, dokter?" tanyaku.
"Oh. Kau bertemu dengan Renesmee? Iya, Edward anakku dan keluarganya menyusul pindah ke kota ini", katanya lembut.
"Haha. Aku kebetulan walikelasnya. Dia sangat cantik seperti ibu dan neneknya", kataku.
"Hahaha. Benarkah? Jadi kau juga bertemu Bella?" tanyanya sambil tersenyum.
"Iya. Dia menantumu? Dia sangat cantik dokter", kataku.
Dia tidak berkata apa-apa. Hanya tersenyum sambil terus berkonsentrasi memeriksaku.
"Hem, baiklah. Kondisimu bagus, Kourtney. Aku rasa mulai bulan depan kau tidak perlu kontrol lagi. Aku akan memberimu resep obat yang terakhir", katanya.
"Terima kasih dokter Cullen. Ini semua berkatmu", kataku.
"Aku hanya membantu, kau yang memiliki keinginan untuk hidup", katanya sambil tersenyum. Dia menulis beberapa resep obat untukku.
"Em, dokter. Sebenarnya sabtu minggu depan ulang tahunku yang ke-35. Aku akan mengadakan semacam acara barbeque di rumah dan mengundang beberapa teman dekatku. Aku ingin mengundangmu dan keluargamu juga, dokter. Apa kau bisa?" tanyaku. Aku tahu dia sangat sibuk, tapi kuharap hari itu dia sedang tidak jaga.
"Oh. Sangat menyenangkan. Tidak masalah kah? Kau tahu, kami berlima…" katanya.
"Sangat tidak masalah dokter. Ah, ini hanya hal sederhana. Aku tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikanmu dan istrimu, dokter" kataku.
"Hahaha… sudahlah. Kami tidak mungkin membiarkanmu begitu saja, kan? Tapi, terima kasih undangannya. Aku akan sampaikan pada Esme", kata dokter pirang itu.
Seperti biasa… aku sibuk dengan pekerjaanku, belum lagi aku bekerja paruh waktu membantu anak-anak di panti asuhan dekat sini, jadi aku hanya akan menyiapkan pemanggang, bahan makan, lalu aku akan minta tolong pada tetanggaku yang baik hati untuk memasang beberapa holiday lamp supaya ada dekorasi di pesta sederhanaku nanti.
Carlisle POV
Tidak terasa aku sudah bekerja seharian di rumah sakit hari ini, jika aku bukan vampire, aku pasti sudah sangat lelah, tapi aku sudah tidak ingat seperti apa rasa lelah itu. Sekarang saatnya pulang, Esme dan anak-anak biasanya sudah menunggu di ruang keluarga, oh, dan aku rindu pada cucu kesayanganku, Renesmee. Sebaiknya aku mampir beli roti strawberry kesukaannya dulu.
AT CULLEN HOUSE
Aku memarkir Mercedez Benz favoriteku ke dalam garasi, mengambil tas kerjaku, dan roti untuk Renesmee yang kuletakkan di jok belakang, lalu berjalan melewati pintu dalam menuju ruang tamu.
Seperti biasa, seorang malaikat cantik telah menungguku di sana, tersenyum padaku, menghampiriku, dan menciumku, tentu aku membalas ciumannya. Ini sudah kebiasaan kami selama lebih dari 80 tahun, sejak menikah…
"Hi, darling. How's day?" Tanya Esme.
"Beautiful!" jawabku spontan.
Tiba-tiba aku mendengar langkah kaki kecil yang berlari, makin dekat padaku.
"Granddaddy!" teriak Renesmee yang berlari ke arahku. Aku menangkapnya, memeluknya dan mencium pipi malaikatnya.
"Hi, Renesmee. I miss you", kataku.
"Me too~ Granddaddy!" katanya padaku dengan penuh senyuman.
"Look. Aku membawa roti strawberry kesukaanmu…", kataku pada Renesmee sambil mengangkat bingkisan kue yang kubawa.
"WOW! Thank you Granddaddy! I love you!" katanya sambil mencium pipiku. Renesmee lari ke dalam sambil membawa kuenya dan berteriak, "Mommy! Aku dapat kue strawberry dari Granddaddy! Aku akan memakannya bersama Jacob!"
Oh. Sungguh indah. Hidup yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Melihat seorang cucu yang bagaikan malaikat, mencium pipiku, memelukku, bahkan mengatakan bahwa dia menyayangiku. Aku sungguh beruntung memiliki keluarga ini.
Oh, aku ingat. Tadi Kourney mengundang kami ke pesta BBQ ulang tahunnya, "Esme, Ms. Kourney Roos, minggu depan dia mengundang kita ke acara BBQ ulang tahun di rumahnya".
"Oh, Ms. Roos? Baiklah. Tunggu, pesta BBQ?" Tanya Esme tidak yakin.
"Ya" jawabku singkat.
"Dia mengundang kita semua? Atau hanya aku dan kau?" Tanya Esme.
"No. Kita semua. Edward, Bella, Renesmee juga", kataku.
"Jadi. Bagaimana kita akan lakukan persiapan untuk pesta BBQ?" Tanya Esme. Aku yakin yang dia maksud adalah bagaimana supaya kami terlihat memakan BBQ tapi sebenarnya tidak. Jika kami nekat memakannya, sebenarnya tidak masalah, masalah datang setelah kami harus memaksa makanan tersebut keluar lagi melalui mulut. Menjijikkan. Bagaimanapun kami tidak memiliki sistem pencernaan yang berfungsi.
Esme melanjutkan kata-katanya, "Mungkin tidak masalah bagi kita, karena kita sudah biasa melakukannya, Edward juga. Tapi bagaimana dengan Bella?"
"Hem, aku yakin dia bisa melakukkannya, hanya perlu sedikit latihan" kataku meyakinkan Esme sambil meletakkan tanganku di samping pinggangnya, mengajaknya masuk ke ruang keluarga.
"Hi, Carlisle. Dad?" sapa Edward. Tidak biasa dia menyapaku seperti itu.
"Hm? Ada apa denganmu, Son?" tanyaku ingin tahu.
"Tidak. Hanya ingin memanggilmu", katanya tanpa dosa.
Renesmee dan Bella berjalan dari dapur menuju ke ruang keluarga. Renesmee membawa kue strawberry yang aku beli tadi yang sudah ditata rapi di atas sebuah piring kue kecil gaya Georgian.
Mereka duduk di sebelah Edward yang sedang duduk di sofa. Aku dan Esme duduk di sofa berhadapan dengan mereka.
"Jadi, kau tidak jadi makan dengan Jacob, Renesmee?" tanyaku pad Renesmee.
"Daddy bilang Jacob hari ini tidak dapat kemari, ya sudah aku makan dulu", kata cucu malaikatku.
"Dad. Apa kau yakin?" Tanya Edward yang sepertinya telah membaca pikiranku mengenai undangan Kourtney. "Dia wanita yang pernah kalian tolong? Dan Dia guru Renesmee?" Tanya Edward.
"Ms. Roos? Dia orang yang baik. Oh ya, dia cerita banyak tentang Carlisle dan Esme", kata Bella sambil tersenyum. "Memang ada apa dengannya?" Tanya Bella.
"Dia mengundang kita ke pesta BBQ ulang tahunnya minggu depan", jawabku.
"Um. Kalau begitu kita datang? Aku akan minta kalian untuk memberiku training supaya aku bisa terlihat memakan BBQ itu?" kata Bella dengan gayanya yang khas.
Kami semua tertawa mendengar perkataannya.
"Mom, kapan uncles dan aunts akan kemari dan tinggal bersama kita?" Tanya Renesmee pada ibunya.
"Aku rasa minggu dua minggu lagi, sayang", jawab Bella.
Sebelum pindah ke kota ini, kami tinggal Alaska. Setahun sebelum kami pindah ke kota ini, Emmett dan Rosalie ingin menikmati waktu private berdua di Belgia, sedangkan Alice dan Jasper sedang bersekolah di Perancis. Alice ingin memperbaharui gelarnya di bidang fashion. Apapun yang anak-anakku minta, akan kuberi selama itu masuk akal.
"Grand-daddy…", panggilan manja Renesmee bagaikan suara orchestra yang membawakan simfoni Waltz of the Flowers gubahan Tchaikovsy. Biasanya dia begini saat mau minta sesuatu hahaha. Apa sih yang tidak untuk Renesmee. Kulihat Esme dan orang tuanya tersenyum melihat Renesmee memanggilku seperti itu.
"Ada apa. Sweety?" tanyaku membalas panggilan manjanya.
"Ayo kita liburan!" ajak Renesmee. "Ayo liburan sekeluarga, termasuk Grandpa Charlie dan Grandma Renee?"
"Liburan? Kau mau ke mana?" tanyaku.
"Kata Mommy, Grandmommy punya sebuah pulau?" Tanya Renesmee.
Belum sempat aku membalas perkataan Renesmee, Bella berbicara duluan pada putrid semata wayangnya itu, "Sayang, pulau itu ada di dekat Brazil, di sana daerah tropis. Kalau mengajak Grandpa Charlie dan Grandma Renee, akan berbahaya. Bagaimana kalau mereka sampai tahu bahwa kita berbeda?"
"Hahaha. Jadi begitu. Renesmee ingin liburan sekeluarga dank au rindu pada Grandpa Charlie dan Grandma Renee?" Tanyaku.
"Iya... kita tidak pernah liburan bersama selama ini. Mereka juga tidak pernah mengunjungi kita saat kita di Alaska, bahkan waktu masih di Forks bahkan Grandma Renee hanya sekali saja mengunjungi kita", keluh Renesmee.
"Sayang. Em. Begini. Kau tahu bahwa pergi dari Forks dan Jacksonville menuju Alaska itu memakan biaya yang banyak? Jadi mereka jarang mengunjungi kita dan bertemu denganmu. Mereka sebenarnya ingin", jelas Bella.
"Hahaha… begini saja. Kalau kau ingin bertemu dengan mereka, kita bisa undang mereka dan minta mereka menginap di sini selama beberapa hari. Lalu, untuk liburan di Isle Esme, kita bisa lakukan setelahnya, tapi maaf Ness, tidak bisa mengajak mereka. Hanya keluarga kita saja", kataku mengajukan tawaran yang lebih aman pada Renesmee.
"Hem. Aku mau, Granddaddy!" jawabnya spontan. "Lalu kapan?" tanyanya to the point, spontan, tanpa basa-basi. Itulah Renesmee.
"Bagaimana kalau bulan depan? Aku akan mengurus semuanya", kata Edward.
Tunggu, bulan depan? Bulan depan adalah ulang tahun pernikahanku dengan Esme. Oh. Aku berusaha memblocking pikiranku supaya Edward tidak membacanya.
"Okay, Daddy!" kata Renesmee senang.
Tidak terasa hari sudah malam. Walaupun tidak berpengaruh bagi kami sebagai makhluk yang tidak butuh tidur. Tapi Renesmee tetap saja butuh tidur, karena dia hybrid-vampire. Renesmee adalah yang paling manja di rumah ini. Malam ini, dia memintaku untuk menceritakan sesuatu dan menina-bobokannya. Aku duduk di samping Renesmee, "Okay, Grand-daddy akan ceritakan padamu sebuah kisah vampire bernama Barnabas Collins. Tapi kau janji akan segera tidur, karena besok kau harus ke sekolah, my dear".
"Yap! Grand-daddy! Aku janji! Tapi, cerita Collinsport itu apa benar pemiliknya adalah vampire juga?" Tanya Renesmee.
"Okay. Tahun 1770an, ada sebuah keluarga dengan seorang anak laki-laki yang tinggal di Liverpool, Inggris…"
TO BE CONTINUED
