Seminggu setelah kematian orangtuanya, Kise tidak pernah masuk ke sekolah. Salah seorang guru sempat mengatakan bahwa Kise izin sakit. Selain itu tidak ada kabar lain.
Kini sudah minggu ke2 dan Kise masih belum menampakan batang hidungnya di sekolah. Kuroko-teman sekelasnya-mulai sedikit khawatir. Sebenarnya tidak hanya Kuroko, yang lainnya juga—khususnya Aomine. Mungkinkah terjadi sesuatu padanya? Ia jadi teringat dengan stalker yang mereka bicarakan beberapa minggu lalu.
Jadi, Kuroko memutuskan untuk mengunjungi rumah Kise ketika sekolah usai. Lokasinya tidak terlalu jauh—menurut Kuroko. Hanya 15 menit jalan kaki dari Teikou sampai stasiun dan 30 menit perjalanan dengan kereta. Jam tangannya menunjukkan pukul 5.32 sore ketika ia tiba di depan kediaman keluarga Kise.
Ia memperhatikannya sejenak. Rumah itu tampak sepi seperti telah ditinggal penghuninya dalam waktu cukup lama. Debu tebal mengotori lantai teras rumah yang ia pijaki. Tanaman-tanaman didalam pot-pot kecil di halaman rumahnya tampak layu dan mati. Apakah Kise tidak pernah membersihkan rumahnya selama 2 minggu terakhir ini? Itu tidak mungkin. Kise adalah orang yang tidak suka rumahnya kotor dan senang bersih-bersih. Selain itu tanaman yang ada di pot-pot itu adalah tanaman kesayanganya.
Kuroko tidak mau berpikir yang aneh-aneh. Tangannya menekan tombol bel pintu.
"Kise-kun, ini aku Kuroko," panggilnya.
Tidak ada jawaban.
"Kise-kun..." Kuroko mencoba menekan tombol bel lagi. Tapi hasilnya masih tetap nihil. Ia mencoba hal yang sama berulang kali hingga ia menyerah.
Kali ini, ia mencoba menelepon Kise, tapi hanya di jawab oleh voicemail.
'Halo~ di sini Kise Ryouta-ssu! Kali ini aku sedang sibuk~ Jika ada pesan yang ingin disampaikan, silahkan bicara setelah bunyi berikut. '
'tuuut'
"Kise-kun, ini aku Kuroko. Kau ada dimana? Aku mengkhawatirkanmu. Jika kau mendengar pesan ini, tolong segera hubungi aku," Kuroko menutup teleponnya.
Ia menghela napas pendek. Sekarang sudah terlalu larut. Langit yang berwarna jingga mulai berganti gelap. Matahari sudah tidak tampak. Ia mengecek jam di ponselnya. Pukul 6.05 p.m. Kuroko tidak ingat sudah berapa lama ia disini. Terlalu sibuk khawatir dengan Kise hingga ia lupa waktu.
Untuk terakhir kalinya ia menekan tombol bel. "Kise-kun, aku akan kembali lagi besok," ucapnya lalu beranjak pergi dari sana.
.
.
.
.
BLOOD OF INNOCENCE
Chapter 2: Missing
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
Story © MurrueMioria
WARNING! AU, OOC, Boyxboy, Shounen-ai, yaoi, Typo, kaku, gak jelas
Don't like, don't read!
Pairing: Mainly Aokise, Haikise, slight allxkise, pairing lain mungkin akan ditambah
Rating: T (untuk sekarang)
.
.
.
.
SMA Teikou.
"Ha? Kise tidak ada dirumah?!" Kagami terkejut setelah mendengar cerita dari Kuroko pada keesokan harinya.
Kuroko hanya membalasnya dengan anggukan singkat. Saat ini mereka ada di kantin di jam istirahat sekolah, menunggu yang lainnya datang.
"Kemarin, setelah pulang sekolah, aku kerumahnya. Kondisi rumahnya kosong dan tak terurus," ujar si surai baby blue.
"Sudah coba telepon?" Tanya Kagami. Kuroko mengangguk pelan.
"Hanya dijawab oleh voice mail." "Apa benar itu, Tetsuya?" ucap seseorang yang datang menghampiri mereka.
Kuroko menoleh. "Akashi-kun." Ia hampir tak menyadari kehadiran pemuda pemilik mata dwi warna tersebut.
Akashi mengambil tempat duduk di sebelah Kuroko. "Ceritakan semua padaku."
.
.
.
Kelas I-B. SMA Teikou.
Aomine memandangi layar handphone-nya. Tidak ada pesan dari Kise selama 2 minggu ini. Aneh.
Biasanya Kise selalu mengirim pesan ke semua temannya tiap hari. Pesan yang berisikan kegiatannya sepanjang hari atau sapaan yang penuh dengan emoji. Kadang ia mengirim berbagai macam foto makanan dan minuman yang ia makan hari itu atau foto selfie dirinya.
Awalnya semua merasa terganggu dengan ulahnya. Namun seiring berjalannya waktu, mereka mulai terbiasa. Aomine sendiri hanya membalas beberapa dari puluhan pesan tak penting dari pemuda blond itu. Jauh didalam hatinya ia tau Kise sangat kesepian.
Dan sekarang...
Aomine melihat inbox pesannya, mencari pesan terakhir yang Kise kirim. Pesan terakhir yang dikirim adalah sehari setelah kematian orangtuanya. Isinya blank. Kosong.
Aomine sempat membalas pesan dan menelepon beberapa kali, tapi tidak diangkat.
"Kise... ada apa denganmu?" Gumam si surai navy blue itu.
Ia mendengar langkah kaki mendekat dan memasuki kelasnya.
"Dai-chan~" Momoi menghampirinya. "Ayo ke kantin! Yang lain sudah menunggu!"
"hmm..." sahut Aomine malas-malasan. Ia bangkit dari tempatnya dan mulai berjalan beriringan menuju kantin.
"Satsuki..." panggilnya ditengah perjalanan.
"Hmm?"
"Kise... Bagaimana kabarnya sekarang?" tanya Aomine. Matanya masih memandang kedepan.
Mendengar pertanyaan itu, ekspresi wajah Momoi berubah murung. Ia sedikit menundukan kepalanya. "Aku tidak tau."
.
.
.
"Jadi seperti itu, Akashi-kun," ucap Kuroko setelah menjelaskan kondisi rumah Kise hari itu ketika ia berkunjung.
"Kise tidak mungkin keluar rumah," Ucap Akashi.
"Kenapa kau berikir begitu?" tanya Kuroko.
"Insting. Karena aku selalu benar," jawabnya.
"..." Kuroko dan Kagami diam. Akahi tetaplah Akashi.
Tak berselang lama Midorima datang, disusul dengan Aomine dan Momoi.
"Ada kabar tentang Kise?" tanya si surai hijau. Yang lain hanya menggeleng.
"Bukannya aku peduli, Aku hanya heran. Kise sudah tidak masuk sekitar 2 minggu ini dan pihak sekolah tampak tak mempedulikannya," tambah Midorima.
"Mungkin pihak sekolah sudah memakluminya berhubung Kise itu seorang model," terka Kagami.
"Ryouta tidak ada jadwal pemotretan bulan ini," ucap Akashi. Yang lain hanya diam, bertanya-tanya bagaimana Akashi bisa tahu.
"Haruskah kita berkunjung ke rumahnya? Aku yakin ia bersembunyi di dalam sana," usul Kuroko, walaupun ia sudah berkunjung sebelumnya.
"Aku setuju dengan usulmu, Tetsuya," ucap Akashi setuju. Mata dwi warnanya kemudian melirik ke suatu tempat di belakang Kuroko. "Dan kurasa ada seseorang yang tau keberadaannya," lanjut Akashi tanpa mengalihkan pandangannya.
Penasaran, Kuroko menoleh kebelakang. Disana berderet mesin minuman otomatis. Tak ada seorangpun disana. Tapi ia merasakan seseorang berdiri disana sebelumnya—karena barusan ia mendengar seseorang menggunakan mesin minuman otomatis tersebut. Mungkin orang itu sudah pergi.
Ketika ia kembali melihat kedepan, matanya bertemu dengan manik dwi warna Akashi. Pemuda surai merah tersebut hanya tersenyum simpul.
"Aku pergi duluan. Ada hal yang harus kukerjakan," ucap Akashi seraya berdiri dari tempatnya.
..::====:::..
Seperginya akashi, Midorima kembali membuka pembicaraan. "Kuroko, kenapa kau berpikir Kise bersembunyi di dalam rumahnya?"
"Kalau Kise sembunyi, dia sembunyi dari apa?" Kagami menambahkan. Kuroko hanya mengangkat bahunya tak tahu.
"Cuma firasa-" Ucapan Kuroko terputus oleh sebuah bunyi getaran ponsel.
"Uhh... maaf, ponselku," Aomine segera merogoh benda tersebut dari sakunya dan melihat layar ponsel. Di sana tertulis 'Kise is calling'.
"Kise?!" Aomine membulatkan matanya.
"Ki-chan?!" Momoi—yang duduk tepat desebelahnya—ikut terkejut. Tanpa pikir panjang Aomine menekan tombol hijau di layarnya. "Kise?" ucapnya pelan.
Tak ada jawaban dari seberang sana.
"Kise? Oi! Kau disana kan? Jawab aku! Kise!" panggil Aomine setengah berteriak.
Masih tidak ada jawaban.
"Ki-chan... bicaralah... kami khawatir denganmu..." Kini Momoi yang bicara, memohon agar Kise bicara.
Tak lama kemudian telepon terputus. Diputuskan oleh pihak dari seberang sana.
"Kise menutup teleponnya," Aomine menatap layar ponselnya tak percaya.
Lalu sebuah pesan text muncul. Aomine segera membukanya, berharap itu dari kise.
Berkumpulah di depan pintu gerbang sekolah usai latihan klub. Kita akan kerumah kise. –Akashi
"Apa semuanya dapat pesan dari Akashi?" Tanya Midorima. Semua mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa usai sekolah nanti," Midorimapun beranjak dari sana. "Ya, sampai jumpa," yang lainnya ikut keluar kantin menuju kelas masing-masing diiringi bunyi bel sekolah.
.
.
.
Gymnasium SMA Teikou.
Kegiatan klub basket hari ini—dan hari-hari sebelummnya—tampak kelam tanpa keberadan Kise diantara mereka. Kehadiran pemuda blond itu biasanya menjadi penyegar dan penceria suasana. Suaranya yang agak cempreng dan tawanya yang khas selalu memenuhi gymnasium. Kini, tanpa kehadirannya, semua merasa ada sesuatu yang hilang.
"Haizaki tidak datang latihan lagi," gumam Midoriama sambil menaikan posisi kacamatanya yang sedikit turun.
Haizaki Shougo. Salah satu pemain frist string di tim basket SMA Teikou. Ia terkenal sebagai anak yang arogan dan suka menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Sikapnya itu membuatnya selalu dibangkucadangkan ketika pertandingan. Walaupun begitu, hanya Kise yang beranggapan sebaliknya. Ia mengatakan Haizaki tidak seburuk yang mereka pikirkan. Apa alasannya? Mereka tak tahu. Kise enggan menceritakannya.
Haizaki juga sering bolos sekolah dan kegiatan klub. Hubungannya dengan Aomine pun buruk. Membuat Akashi sedikit kewalahan mengurusi mereka.
"Bukannya dia memang tidak pernah datang?" ucap Kagami sembari menuju bench dan mengelap keringatnya dengan handuk. Ia kemudian berlari menuju ring basket—tempat Aomine latihan—dan mengajak Aomine one on one.
"Ya, tapi sebentar lagi akan ada pertandingan antar sekolah. Ia harus menggantikaan posisi Kise untuk sementara," kata Midorima, entah ia bicara pada siapa—karena yang diajak bicara sedang sibuk one on one.
"Biarkan saja," sahut Akashi, muncul dari ruang ganti. Matanya menatap sekeliling gymnasium. Di dekat ring basket ia melihat Aomine sedang one on one dengan Kagami.
"Oi, Ahomine! Bisa main yang bener, gak?!" geram Kagami yang merebut bola dari gengaman si pemuda tan tersebut.
"Kau tidak seperti biasanya, Aomine-kun," ujar Kuroko dari pinggir lapangan.
Aomine cuma diam. Tatapannya kosong.
"Aho! Dengar tidak?! Oi!" Kagami mengayun-ngayunkan tangannya tepat di depan wajah Aomine.
"A-Uh! Maaf... aku tidak fokus..." jawab Aomine tersadar dari lamunannya. Tangannya menggaruk belakang kepalanya.
Akashi yang memperhatikan mereka hanya menghela napas panjang, lalu menepuk tangannya agar semua mata tertuju padanya.
"Latihan hari ini cukup sampai disini. Cepat ganti pakaian kalian. Kutunggu di gerbang bersama Momoi," ucapnya.
Tidak ada gunanya latihan dilanjutkan, jika kondisi tidak sekondusif biasanya. Ternyata ketidakadaan pemuda pirang itu membuat kegiatan klub menjadi terganggu.
Setelah semua berkumpul di depan gerbang, mereka mulai berangkat menuju kediaman Kise.
.
.
.
Benar apa yang dikatakan Kuroko, kondisi rumah Kise tampak tak berpenghuni. Akashi memeriksa jendela, menyentuh permukaannya dengan jemarinya.
"Debunya cukup tebal," gumamnya. Ia kemudian beralih ke pintu, memperhatikan gagangnya. Tangannya menyentuh dagu, memikirkan sesuatu.
"Gagang pintu ini tidak ada debunya. Itu berarti seseorang pernah membuka atau menutup pintu ini," Ucap pemuda surai merah tersebut.
Aomine yang daritadi diam, langsung bergerak maju dan menggedor pintu. "Kise! Buka pintunya!"
Tidak ada jawaban.
"Kise, aku tau kau ada didalam! Cepat buka!" Aomine terus menggedor pintu.
"Aomine-kun, hentikan! Kau berisik," Kuroko menahan tangan Aomine. Pemuda navy blue itu cuma menggerutu dan mundur.
"Ryouta," panggil Akashi dengan volume yang tinggi, berharap dapat terdengar sampai kedalam. "Kami tau kau ada di dalam sana dan aku tau kau sedang ketakutan."
"Ketakutan?" gumam Kagami.
Akashi tak mempedulikannya dan terus melanjutkan. "Kembalilah sekolah, ceritakan pada kami apa masalahmu. Kami semua sangat mengkhawatirkanmu."
"Itu benar, Kise-kun," Kuroko menambahkan. "Ini untuk kebaikanmu."
"Kami tidak akan memaksamu, Ryouta" sambung Akashi lalu beranjak pergi.
"Eh?! Akashi-kun?" Momoi menatapnya bingung.
Akashi berhenti melangkah tepat di depan pintu gerbang. "Kita pulang," ucapnya—atau lebih tepatnya perintah—tanpa menoleh kebelakang.
"AP-?! Tapi-"
"Cukup, Daiki! Kita pulang!" Mata dwi warnanya menatap Aomine tajam. "Sekarang!"
Aomine langsung diam. Yang lain menuruti perintahnya. Sebelum pergi, ia mendongak menatap jendela kamar Kise yang berada di lantai atas.
"Ck!" Dengan berat hati, pemuda tan itu pergi tanpa mengetahui sepasang mata mengintip dari sebuah tirai jendela suatu rumah yang berada tak jauh dari rumah Kise.
..:::====:::..
"Kau dengar itu, Ryouta? Akashi sampai berteriak. Suaranya bahkan terdengar dari sini," ucap pemuda yang mengintip dari jendela. Mata peraknya mengikuti pergerakan Akashi dan kawan-kawan.
Ia memperhatikan Akashi berhenti tepat di depan rumah ia berada. Kepalanya mendongak ke atas menatap jendela. Tatapan sepasang mata dwi warna milik Akashi seolah menatap balik langsung menuju mata peraknya. Sontak, pemuda itu secara refleks menutup tirainya.
"Uhhh... dia melihat ke sini!" gumamnya. Jantungnya berdebar kencang, agak sedikit takut dengan pancaran aura si pemilik mata dwi warna tersebut.
"Hei Ryouta, bagaimana kalau kita beritahu mereka sekarang?" usulnya sambil menoleh ke sebuah ranjang. Di sana terduduk seorang pemuda pirang yang tengah memeluk lututnya. Wajahnya tampak suram. Matanya sembap dan kantung mata dapat terlihat dengan jelas.
"Tidak... Jangan... " Ia membenamkan wajah dibalik lututnya. "Sekarang belum waktunya, Shougo-kun."
To Be Continue
Informasi:
1. Di fanfiction ini Teikou itu SMA.
2. Akashi dkk (minus murasakibara) anak kelas 1
kelas I-A : Akashi, Midorima, dan Momoi
Kelas I-B : Aomine dan Haizaki
Kelas I-C : Kise dan Kuroko
Kelas I-D : Kagami
Halo, ketemu lagi~ Maaf baru bisa update sekarang. Orz
Sebenarnya ini udah dibikin dari kapan tau, tapi saya ngetiknya di notes hp dan males mindahinnya ke lol
Kayaknya ini akan slow update, berhubung saya jarang buka lappie (sekalinya buka, saya malah gambar, bikin doujinshi, nonton anime lol)
Untuk chapter 3 akan agak lama publish-nya. Masih tengah jalan soalnya dan bulan depan saya mulai magang full time. ;;-;;
Ngomong-ngomng, saya juga bikin dj aokise juga (promosi). Judulnya Memories of Love. Ini on going doujinshi dan baru publish chapter 1. Kalau ada yang mau liat, bisa cek ke tumblr saya, murruemioria(titik)tumblr(titik)com(slash)current_project
Terima kasih fav dan review nya~ sampai jumpa di chapter depan
Waktunya balas review :3
Lovely Orihime: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca. Iya, saya suka banget kise di anu-anuin sama semuanya hahahahaha /plakk
Saya gak pinter bikin deskripsi, tapi akan di usahakan. Oh iya, ini au (lupa ditambahin) ^^;
Noe Hiruma: ini udah lanjut~ :3
Nozuki0107: Haizaki itu apanya Kise ya? Hmmm… rahasia~ /plakk (kemungkinan akan dijelaskan di chapter depan)
yukiya92: ini udah lanjut~
Atma Venusia: Makasih~ ini udah lanjut, kok :)
Aoi: Masih dirahasiakan~ :3
Yanchoco: ya elah, Yan…. Nanti tak buatin aokaga dah….
