M VS N

(Masochist Versus Narcissist)

.

.

Do Kyungsoo Vs Kim Jongin

.

.

Inspired by manga 'M to N no Shouzou' © Tachibana Higuchi

All story plots by Light Kailan

.

.

A Kaisoo Fanfiction-Psychological!AU

[WARNING!]

Gore (bloody scenes)-Hemophobia, bad words, sexual tension.

I've warned you, okay. I ain't force you to read this fanfic. Please be kind.

No children please! Or you could skip the bad part. Take your own risk.

.

.

Let's begin

.

.

Act. 02

"PAIN & LOVE"

.

.


Mereka berakhir di tempat yang sama karena Kyungsoo meninju wajah Jongin setelah lelaki itu mencicipi bibirnya. Mereka berakhir di ruang kesehatan setelah Jongin berhasil menyeret Kyungsoo.

Jongin mengaduh merasakan bibirnya yang terluka. Luka itu diolesi dengan alkohol oleh Dokter jaga dan itu sangat perih. Sedangkan Kyungsoo menahan dirinya untuk tidak kumat di hadapan mereka. Rasa sakit di sikunya memberikan sengatan yang menyenangkan berkali-kali.

Tidak sengaja mata mereka saling terpaut dan Kyungsoo bergidik. Ada perasaan aneh yang menusuk bagian dadanya. Saking cepatnya kejadian itu, Kyungsoo bahkan lupa jika sedari tadi dia tidak memakai penutup wajahnya. Bias cahaya mengenai pipinya. Sejenak wajah itu bersinar karena wajah Kyungsoo yang terlampau putih. Bercak merah timbul seiring waktu menciptakan rona alami.

Jongin mengantisipasi sebuah rasa yang tak ia kenal sebelumnya. Orang di hadapannya seperti mengambil separuh dirinya. Menyerap energinya sehingga yang tersisa hanya kepingan terakhir. Pandangan Jongin merekat pada sosok Kyungsoo. Kyungsoo indah. Namun, tentu saja, bagi Jongin dirinya lebih indah; lebih sempurna. Pikir Jongin, yang membuat Kyungsoo indah adalah pantulan dirinya di mata jernih Kyungsoo. Mata itu bagai cermin.

Namun, ada sesuatu yang mengganjal di otak Jongin.

"Mengapa kau selalu menutup wajahmu? Kurasa tidak ada masalah apa-apa di wajahmu," tanya Jongin di tengah hening yang menerpa.

Kyungsoo tak mau menjawab. Untuk mendapatkan wajah mulus seperti sekarang, Kyungsoo merelakan waktu lama penyembuhan. Pertanyaan Jongin menyadarkannya tentang bahaya sinar matahari jika dia tidak menutup wajahnya , secepatnya Kyungsoo memasang maskernya kembali. Jika tidak, maka bintik merah di wajahnya akan muncul banyak.

Dokter jaga menjawab pertanyaan Jongin. "Xeroderma Pigmentosum. Itu semacam kelainan genetika yang membuat kulitnya alergi matahari. Kulitnya a– "

"Stop! Kurasa lukaku sudah terbalut sempurna." Kyungsoo mengernyitkan dahi dan keluar dari ruangan kesehatan dengan aura dingin. Dia membenci jika orang lain membicarakan tentang penyakitnya.

Kyungsoo sering bolak-balik ruang kesehatan sehingga Dokter disana tahu keadaannya. Bahkan itu sudah menjadi rahasia umum di sekolahnya, hampir semua orang tahu sehingga guru pun tidak mempermasalahkan jika Kyungsoo terus menerus menutup wajahnya selama jam pelajaran.

Jongin yang masih penasaran terus menanyai hal tersebut. "Apa penyakit itu bisa disembuhkan?"

"Itu akan sangat sulit mengingat bahwa XP adalah penyakit genetika yang langka. Satu-satunya cara adalah menghindari penyebab alergi, yaitu matahari."

Jongin banyak melewatkan informasi selama dia melakukan pemotretan. Jongin mengangguk-angguk sambil menyerap kalimat Dokter itu. Sebenarnya, sulit bagi Jongin untuk mengerti sebab matahari selalu ada dimana-mana. Otak Jongin tidak dapat membayangkan bagaimana kehidupan Do Kyungsoo di siang hari sementara lelaki itu masih harus sekolah.

...

Do Kyungsoo akan keluar pada malam hari. Dia dipaksa harus menyukai kegelapan. Dia dipaksa menjadi seperti kelelawar dan berteman dengan udara dingin yang menusuk tulang. Dia seperti makhluk nocturnal yang aktif saat malam tiba. Oh tidak, bahkan dia harus aktif di siang hari pula.

Do Kyungsoo akan pulang dari sekolah pada petang lalu melanjutkan kegiatan dengan bekerja paruh waktu di malam hari tanpa pulang terlebih dahulu ke rumah. Kyungsoo bekerja menjadi apa saja yang bisa ia lakukan; membagikan brosur, menjadi tukang cuci piring, maupun kasir pada minimarket di dekat rumahnya.

Uang. Uang mereka banyak terkuras karena pengobatan penyakit Kyungsoo. Kyungsoo butuh uang seperti ia butuh bernafas. Ibunya tidak lagi bekerja sebab menjadi sakit-sakitan karena bekerja terlalu keras. Kyungsoo tidak akan tega dengan kondisi hidup ibunya yang menderita. Dan ia akan lebih menyesal jika dia hanya berdiam diri di rumah menantikan mereka berdua menjadi mayat karena mati kelaparan. Mungkin tidak apa jika Kyungsoo mati, tapi Kyungsoo tidak akan membiarkan orang lain menderita karenanya. Sudah cukuplah penyesalan bertubi-tubi menghantuinya.

...

Jongin tidak pernah seperti ini sebelumnya; memikirkan orang lain. Dia masih memproses informasi tentang Do Kyungsoo di otaknya. Dan dia baru sadar apabila permintaan Kyungsoo tadi siang menjadi masuk akal. Dia menjadi tahu bahwa aegyo yang Kyungsoo lakukan tadi siang adalah demi mendapatkan posisi tempat duduk yang paling terlindung dari sinar matahari.

Malam itu Jongin mengendarai mobilnya. Dia baru pulang dari clubnya pada tengah malam. Mobilnya terpakir pada sebuah minimarket 24 jam. Belum sempat ia masuk, langkahnya terhenti ketika melihat kasirnya adalah Do Kyungsoo. Jongin menyipitkan mata dan menggaruk matanya dengan tangan. Pandangannya sedikit berbayang sebab ia setengah mabuk. Dia terpaku di pijakannya, memandang Kyungsoo dari luar.

Tidak tahu apa yang merasuki Jongin saat itu sehingga ia memilih mengikuti Kyungsoo dari kejauhan. Jongin merasa napasnya tercekat dan dadanya berdesir saat melihat Kyungsoo bergerak dengan bebas tanpa sesuatu yang tebal menutup tubuh kecil itu. Kyungsoo memakai kaos polos dengan cardigan tipis berwarna abu-abu dan celananya masih memakai celana seragam sekolah. Kyungsoo tidak memakai penutup wajah maupun sarung tangan. Jongin menyadari betapa mungilnya dan rapuhnya tubuh itu.

Kyungsoo menyelesaikan pekerjaannya pada pukul satu malam. Dia tidak henti-hentinya menguap. Matanya memerah dan tubuhnya sedikit pegal. Dia membuang sampah kemudian menutup minimarket itu untuk berganti shift. Dia akan pulang ke rumah sebentar lagi. Dia bahkan belum makan dan suara perutnya menggema tidak beraturan. Kyungsoo berjalan tertatih sambil menenteng kantung berisi bento yang nyaris kadaluarsa. Setelah ini dia masih harus mengerjakan pekerjaan rumah yang menumpuk.

Jongin mengikuti langkah Kyungsoo yang hendak pulang ke rumahnya. Jongin memelankan langkah dan berjalan dari jarak yang agak jauh. Sekarang kesadarannya sudah mulai kembali. Dia bisa melihat dengan jelas bahu sempit Kyungsoo. Jongin memandang Kyungsoo dari atas kebawah. Dia menilai dan mengagumi bentuk tubuh kecil yang mempesona; punggung Kyungsoo yang sedikit bungkuk, cara jalannya yang seperti pinguin, tungkainya yang berlekuk sempurna, dan bokongnya yang berisi. Jongin berusaha untuk tidak menyukai pemandangan di depannya, tapi tidak bisa. Apalagi ketika Kyungsoo menghentikan langkah tiba-tiba dan memandang ke arah bulan. Cahaya redup akan mengenai pipi putih itu dan membuat mata Kyungsoo berbinar.

Jongin selalu heran bagaimana bisa mata seseorang bisa sejernih itu. Jongin kali ini sudah terserap habis oleh Kyungsoo. Dia tidak punya jalan kembali karena dia secepat kilat menyebrang terlalu jauh. Dia jatuh pada lubang yang digilai semua orang. Dia jatuh cinta. Saat itu juga. Namun, dia tidak akan mau mengakuinya, bahkan kepada dirinya sendiri.

...

Sekarang Jongin tahu alasan mengapa Kyungsoo terlambat kemarin. Kyungsoo tidak hanya terlambat hari itu saja, tapi selalu terlambat setiap hari. Kyungsoo akan sampai dengan tergesa-gesa dengan peluh membasahi dahi. Jongin tahu mata Kyungsoo masih memerah karena menahan kantuk parah.

Untungnya hari itu guru pada jam pelajaran pertama datang terlambat sehingga Kyungsoo bisa memasuki kelas dengan santai. Kyungsoo sedikit tertegun ketika menyadari tempat duduknya telah kembali seperti semula.

"Kau tidak ingin berterimakasih?" tanya Jongin dengan seringai yang sombong.

Kyungsoo tidak bereaksi karena dia hapal tipikal orang seperti apa Jongin. Maka dari itu Kyungsoo menyibukkan diri dengan membuka buku dan berpura-pura membaca. Sayangnya, itu tidak mempan. Semakin Kyungsoo mengabaikan jongin, lelaki itu semakin gencar mengajaknya berbicara. Bahkan ini sudah jam istirahat kedua, tapi Jongin masih mengomel. Dia terus bertanya tentang penyakit Kyungsoo, seperti;

"Apa yang akan terjadi kalau kau dibawah sinar matahari? Apa kulitmu akan terbakar?"

Atau, "Apa sinar bulan juga membuat kulitmu melepuh? Bukannya itu juga pantulan sinar matahari?"

Atau, "Apakah rasanya sakit? Apakah sinar lampu juga menyakiti kulitmu?"

Kyungsoo sebenarnya sudah sangat geram. Dia menggertakkan gigi karena Jongin sangat cerewet. "Bisakah kau diam?" tanyanya dengan ekspresi marah tertahan.

"Ah, akhirnya kau buka suara. Tidak. Aku tidak bisa diam." Jongin tersenyum singkat.

"Apa maumu? Kau tidak sadar bahwa kau melibatkanku dalam masalah? Lihatlah fangirls-mu menatapku dengan jijik," balas Kyungsoo dingin sembari menunjuk arah jendela dengan dagunya.

"Kau sungguh tidak ingin berterimakasih denganku?" tanya Jongin lagi. "Aku sebenarnya sudah memasang kaca anti sinar ultra ungu di sekolah ini. Jadi kau bisa melepas itu." Jongin berkata sambil berlagak. Seperti biasa, dagunya akan terangkat dan seringai akan muncul. Jogin menunjuk-nunjuk masker yang Kyungsoo kenakan dengan cara sok sambil mengernyit.

Sedetik kemudian Kyungsoo membelalakkan matanya terkejut dengan pernyataan Jongin, tetapi dia berusaha untuk tidak menampakkan itu. "Baiklah, apa maumu? Aku rasa terimakasih saja tidak cukup untuk orang sepertimu." Kyungsoo menyerah.

"Nanti. Sepulang sekolah temui aku di dekat parkiran mobilku," jawab Jongin dengan seringai. Sudah dia duga Kyungsoo akhirnya menyerah juga. Sementara itu Kyungsoo hanya bisa menghela napas pendek dengan pandangan mengeluh.

...

"Orang sepertimu benar-benar brengsek kau tahu?" Kyungsoo datang menghampiri Jongin yang bersadar di mobil mahalnya. Sekarang sudah jam pulang sekolah, baru saja bel berbunyi dan Kyungsoo langsung menuju tempat dimana mereka janjian.

"Pamer?" sindir Kyungsoo. Dia memandangi Jongin yang tampak begitu bangga dengan kekayaannya hanya dari cara berdirinya. Di hadapannya ada manusia angkuh yang bersandar di mobil mahal, mengenakan jaket yang keren, dan sepatu limited edition.

Jongin malah tertawa. Kyungsoo menghentakkan kakinya kesal. Lalu ia berkata, "Kau menyuruhku datang kesini hanya untuk tertawa?"

"Bukan. Ya ampun galak sekali."

"Jika kau memaksaku berterimakasih, itu tidak akan terjadi, Tuan Kim. Aku tidak pernah meminta apapun darimu."

"Oh, astaga. Harga dirimu tinggi sekali." Jongin memasang wajah pura-pura sedih, kemudian tertawa kembali.

"Jadi apa maumu, huh?"

"Masuk ke mobilku dulu," kata Jongin dengan nada menyuruh. Tapi, Kyungsoo tidak semudah itu menurut.

"To the point, please." Kyungsoo memasang wajah malas, tapi tertutup masker sehingga Jongin tidak akan tahu.

"Jadi begini. Aku ingin kau bekerja denganku. Aku tahu kau miskin. Jadi, aku ingin membantumu," kata Jongin santai. Kyungsoo memang miskin, tapi mendengar Jongin yang berkata dengan nada meremehkan membuat dia merasa agak marah.

"Kerja apa?" tanya Kyungsoo asal. Kyungsoo sebenarnya agak sedikit tertarik karena mungkin saja Jongin serius dan menggajinya dengan uang banyak. Toh, Jongin sangat kaya.

"Tidur denganku. Maka, aku akan membayarmu lima ribu dollar semalam."

Kyungsoo tidak lagi berpikir. Dia langsung meninju wajah Jongin tanpa aba-aba.

"Kau sakit!" teriaknya jengkel.

...

"Fuck!" berkali-kali Kyungsoo mengumpat. Perkataan Jongin terngiang-ngiang di telinganya. Lima ribu dollar. Lima ribu dollar. Lima ribu dollar.

Kyungsoo menggertakkan gigi sembari mengkalkulasi kurs dengan jari. Dia seperti orang kesetanan di balik kasirnya. Lima ribu dollar bisa dia gunakan untuk membeli obat ibunya. Lima ribu dollar bisa untuk makan berminggu-minggu. Tidak! Itu bisa untuk berbulan-bulan, bahkan akan sisa. Lima ribu dollar bisa membuat tidurnya nyenyak karena dia tidak akan bekerja di sini lagi. Dia bisa menghasilkan lima ribu dollar hanya dalam semalam. Bayangkan jika dia melakukannya setiap malam. Dia akan kaya, Kyungsoo tidak akan miskin lagi. Dan lima ribu dollar bisa dipakainya untuk membayar home schooling.

"Shit! Fuck! Shit!" Kyungsoo bergerak mondar-mandir memusingkan. Dia dalam taraf kegalauan akut. Dia harus mempertaruhkan keperjakaannya untuk seorang lelaki. Dia bahkan tidak dapat membayangkannya. Dia berpikir lagi, mungkin ini tidak apa-apa. Bahkan, lima ribu dollar lebih banyak dari harga dirinya. Pun jika dia menjajakan dirinya di prostitusi, orang lain tidak akan membayarnya sebesar itu.

Kyungsoo benci uang! Bagaimana bisa uang bisa merubah dirinya secepat ini? Bagaimana bisa uang membuat dia menjadi rendahan dalam sekejap?

Kyungsoo menjambak rambutnya dan bergumam sendiri seperti orang frustasi. Beberapa pelanggan di minimarket itu kebingungan dengan tingkahnya sampai-sampai Kyungsoo di tegur berkali-kali.

...

Tersebutlah sebuah mansion di daerah Gangnam. Dari luar terlihat sangat mewah bergaya klasik, namun sepi bukan main. Mansion itu hanya di huni oleh empat orang yang nyaris saling tidak menyapa. Disana terdapat seorang Tukang kebun, Supir, Pembantu rumah tangga, dan satu majikan. Majikan itu bernama Kim Jongin. Dan Kim Jongin terkenal arogan.

Meski mansion itu begitu besar dan mewah, tetapi kamar milik Kim Jongin nampak seperti gudang. Dia tidak akan memperbolehkan seorangpun masuk kesana. Karena dia tidak akan berbagi hal pribadi dengan siapapun. Siapapun.

Di dalam kamar itu hanya terdapat sebuah tempat tidur tanpa perabot pelengkap. Kamar itu sangat besar, berukuran 10x10 meter dan lantainya penuh dengan kertas yang berhamburan secara acak. Lantainya kotor karena serbuk arang tercecer dan mencetak jejak kakinya. Beberapa kertas berukuran A3 di lantai itu sudah tergambar dan lainnya kosong tidak beraturan. Beberapa kertas pun ditempel secara acak di dinding, berdampingan dengan cermin yang besarnya sangat tidak masuk akal. Bayangkan, dua sisi dinding kamar itu dipenuhi oleh cermin.

Jongin melemparkan tasnya ke sembarang tempat. Kemudian dia menjatuhkan diri ke atas ranjang di sudut kamar. Dia menghela napas karena mengingat kejadian tadi. Jongin masih tak habis pikir bagaimana mungkin Kyungsoo meninjunya dua kali tanpa dia membalasnya.

Jongin berjalan ke sudut ruangan, kemudian bersandar pada sisi jendela sehingga dia bisa bercermin. Ketika dia melihat wajahnya yang lebam, dia berdecak kesal.

Kyungsoo sialan! Batinnya.

Sedikit cacat di sudut bibirnya itu membuat ia menggertakkan gigi. Namun, seperti biasa, seperti hari-hari sebelumnya, pada akhirnya ketika waktu berlalu dia akan meneliti tubuhnya sendiri seperti orang gila. Begitu dia menatap tubuh sempurnanya sendiri, maka dia akan hanyut dalam dunia yang hanya bisa dimengerti olehnya. Jongin akan terpaku, memuja, dan mendewakan pantulan dirinya. Itu akan berlangsung lama, sampai malam tiba.

Ketika dia sampai fase yang terlalu dalam, maka dia tidak hanya mengagumi dirinya dengan cara melihat pantulannya. Dia akan mengambil salah satu kertas kosong di lantai kemudian melukis dirinya sendiri dengan charcoal (arang). Dia tidak membutuhkan easel, kanvas,kuas, dan pallet. Dia akan meletakkan ketas itu di lantai dan menggambar dengan cara berjongkok. Sesekali dia mengambil penggaris dan mengukur ruas jarinya atau tungkainya sendiri. Bagi siapapun yang melihatnya, saat itu mata Jongin bersinar dan dia tampak sangat bahagia.

Sayangnya, tidak ada satu orangpun yang pernah melihatnya seperti itu.

Tiba-tiba Jongin terkejut oleh sebuah suara sehingga dia tersadar dari kegilaan. Dia menatap lukisannya sendiri dengan wajah horor, tapi ia menyeringai setelahnya. Kali ini dia menggambar tangan dan kakinya sendiri. Setelah itu, Jongin memajang lukisan itu di dinding, berjajar dengan lukisan-lukisan yang lain.

Jongin menoleh pada sumber suara dan menemukan ponselnya berdering. Dia membukanya dan menemukan notifikasi reminder. Dia mengira bahwa seseorang menelponnya, ternyata bukan. Seketika mood-nya berubah buruk. Air muka Jongin menegang. Dia baru ingat jika seminggu lagi dia ulang tahun.

...

Kyungsoo berjalan tertatih. Dia semalam tidak bisa tidur karena hari ini dia sudah memutuskan untuk menerima tawaran Jongin. Sehingga dibawah matanya ada lingkar hitam yang mencolok.

Seperti biasa, dia akan memanjat pagar yang jauh dari area satpam kemudian menyelinap ke sisi selasar. Belum sampai di kelas, seseorang menarik tasnya lalu menyeretnya ke bagian belakang sekolah. Tidak ada angin, tidak ada hujan, Kim Jongin meninju muka Kyungsoo sampai dia tersungkur di lantai. Rupanya Jongin sedari tadi menunggu Kyungsoo datang.

"Itu balasan yang kemarin," ujarnya sembari mengulum permen lolipop. Jongin melemaskan jemarinya dengan gaya yang menyebalkan. Dia melepaskan lolipop rasa rootbeer dari mulutnya, lalu berjongkok, kemudian menyodorkannya ke Kyungsoo.

"Mau?" godanya sambil menahan tawa.

Kyungsoo menepis tangan Jongin. Bukannya berdiri, Kyungsoo malah berbaring di lantai seperti kekurangan tenaga. Kyungsoo memandang langit-langit dengan pandangan hampa. Ada hening yang cukup lama sehingga Jongin menyipitkan matanya untuk mencerna situasi. Dia menanti reaksi dari Kyungsoo.

"Pukul aku lagi," gumam Kyungsoo lirih.

"Apa?" Jongin kira pendengarannya bermasalah. Jawaban Kyungsoo jauh dari ekspektasinya.

"Pukul aku lagi!" jawab Kyungsoo lebih tegas. Kyungsoo mengambil tangan Jongin dan memukulkannya ke wajahnya sendiri berkali-kali, bertubi-tubi, dengan keras. Wajahnya lebam, lalu pipi bagian dalamnya robek, menyebar rasa asin dari darah. "Seperti ini," jelasnya.

Jongin membelalakkan matanya melihat reaksi Kyungsoo yang tidak wajar. Saat Kyungsoo mulai tidak terkendali, Jongin menarik tangannya, kemudian memerangkap kedua tangan Kyungsoo di sisi kepalanya untuk membuatnya berhenti. Jongin melepas masker yang Kyungsoo kenakan. Lelaki dibawahnya itu tertawa lebar sekali. Lekuk bibirnya membentuk hati. Kyungsoo tertawa sampai matanya berbentuk bulan sabit. Dia tertawa tanpa suara. Jongin tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

"What the hell, Kyungsoo. Kau ini kenapa?!" tanya Jongin serius. Jongin menautkan alisnya. Ia menatap Kyungsoo kasihan sambil mengapus bekas darah yang mengalir di sudut bibir Kyungsoo dengan ibu jarinya.

...

Jongin mengetukkan jarinya di atas meja, sesekali dia akan melirik Kyungsoo. Dia melakukan itu berulang-ulang sampai jam pelajaran berakhir. Tak seorangpun yang tahu kecuali Jongin, bahwa di balik penutup wajahnya, Kyungsoo tengah tertawa tanpa suara. Jongin menggendikkan bahu, ia menggumam;

"Dasar aneh!"

Sepulang sekolah, Jongin langsung menghampiri mobilnya dengan langkah gontai. Dia pikir hari ini akan mengasyikan. Dia pikir dia akan berkelahi dengan Kyungsoo, namun lelaki itu malah memberikan shock therapy padanya. Jongin mulai bosan dengan gerombolan teman kaya-nya, sehingga dia pikir mempunyai mainan baru mungkin akan menyenangkan. Tapi, ternyata itu tidak sesuai harapan. Kyungsoo sangat aneh. Kyungsoo terlalu aneh.

Belum sempat ia menekan pedal gas, seseorang mengetuk jendela mobilnya. Jongin mengerutkan dahi. Bingung tercetak jelas dari rautnya.

"Ada yang harus aku bicarakan," kata Kyungsoo dengan suara bergetar. Otomatis Jongin menurunkan kaca jendelanya.

"Apa lagi sih?" Jongin memutar bola matanya malas.

"Em... jadi begini," kata Kyungsoo dengan gugup. "Tawaranmu kemarin masih berlaku?" lanjutnya.

Jongin mencoba mengingat. Dia nyaris saja lupa jika Kyungsoo tidak mengingatkan. "Jadi setelah kau memukulku kau mau bilang bahwa kau setuju sekarang?" goda Jongin.

Oh, ya ampun. Kyungsoo sangat kesal dengan ekspresi menyebalkan Jongin. Kyungsoo berusaha keras agar tidak memukul wajah Jongin lagi. Dia mengepalkan tangannya.

"Iya. Aku mau tidur denganmu. Ini demi uang."

Mampus. Mau ditaruh kemana lagi wajah Kyungsoo ketika Jongin membalasnya dengan tawa yang sangat nyaring. Beberapa orang yang lewat di dekat mereka bahkan sampai menoleh.

"Shut up!" Wajah Kyungsoo memerah andai saja ada yang bisa melihatnya. "Kalau tidak jadi yasudah!"

Sebelum Kyungsoo pergi, Jongin menarik lengannya. "Baik-baik. Masuklah ke mobilku."

Sepanjang perjalanan, Jongin hanya tertawa sampai tersedak berkali-kali. Dia kira hari ini akan berakhir buruk, tapi ternyata tidak juga.

Sementara itu kyungsoo menghembuskan napas kesal.

...

"Hotel?"

"Ya. Memangnya mau kemana lagi?" jawab Jongin datar.

"Rumahmu misalnya?"

"Itu tidak menarik. Rumahku tidak menarik." Jongin mengambil lengan Kyungsoo dan mereka berjalan ke kamar suite. Kyungsoo gugup sekali sampai keringat menetes dari dahinya. Untuk mengalihkan gugup, dalam hati dia merapalkan nominal uang yang bisa dia dapatkan.

Jongin menjatuhkan dirinya ke ranjang seukuran king size. Kemudian dengan enteng dia berkata, "Kau mandi dulu. Aku tunggu di Lobby."

"Mau kemana?" tanya Kyungsoo polos.

"Makan, Bodoh. Aku lapar."

Sebelum dia pergi, Jongin menyiapkan baju ganti untuknya dan Kyungsoo. Tiba-tiba kepalanya sakit ketika dia sadar ini terlihat seperti persiapan dinner romantis.

"Astaga," gumamnya sambil menggelengkan kepala. Lalu ia melempar kemeja itu ke lantai, tapi dia mengambilnya kembali.

Jongin kembali ke kamar mereka karena dia menunggu di lobby terlalu lama. Begitu Jongin masuk, Kyungsoo baru saja menyisir rambutnya yang masih basah.

"Katanya menunggu di lobby?"

"Kau lama sekali seperti gadis," sindirnya.

Jongin duduk di ranjang besar itu. Dia membuka sebuah kotak kecil dari sakunya kemudian melinting kertas dan daun kering untuk dibakar dan dihisap. Jongin beralih ke beranda, mengabaikan Kyungsoo, kemudian duduk menyilakan kaki menatap langit kusam. Bintang tak terlihat karena polusi cahaya. Hanya ada cahaya bulan dan riuh rendah suara kendaraan dibawah sana. Dari lantai tiga belas itu, Jongin tidak menikmati apapun. Dia menatap kosong.

"Kau merokok?" Kyungsoo mendekat, duduk di kursi di samping Jongin.

"Ini bukan rokok. Ganja. Mau?" Jongin asal menyodorkan lintingan ganja yang baru saja dia hisap. Asap keluar dari hidung dan mulutnya, mengepul berbentuk abstrak. Kyungsoo terdiam dan menatap Jongin dalam. Jongin menanti reaksi Kyungsoo. Dia yakin lelaki naif seperti Kyungsoo akan mengomelinya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Kyungsoo pelan.

Jongin tersentak lalu mengernyit. Dilihatnya ekspresi Kyungsoo untuk menerka maksud pertanyaan itu, tapi dia tidak menemukannya. "Ha?" tanya Jongin memastikan.

"Apa kau tidak apa-apa? Maksudku keadaanmu." Kyungsoo menggaruk tengkuknya bingung untuk memilih kata-kata yang layak. "Sepertinya kau memiliki banyak masalah." Kyungsoo menunjuk lintingan ganja yang menyala.

Jongin menatap Kyungsoo lama. Selama eksistensi dia hidup di dunia ini hanya ada dua cara orang menanggapi tawaran ganja-nya;

Pertama, mereka akan menasehatinya, mengguruinya seolah dia selalu salah. Mereka akan menghakimi Jongin tentang pilihannya tanpa ingin tahu maksud mengapa dia melakukan itu. Orang-orang itu adalah orangtuanya, gurunya, teman sekelasnya, dan orang yang bilang bahwa mereka 'peduli' padanya.

Kedua, mereka akan mengambil ganjanya dan menghisapnya bersama-sama. Mereka akan kegirangan begitu Jongin membuka kotak kecil legendaris miliknya dan membagikan barang haram itu secara cuma-cuma. Orang-orang ini adalah teman-teman Jongin yang sama kaya-nya dan naas-nya dengan dirinya.

Kyungsoo tidak masuk keduanya. Oleh sebab itu Jongin hanya bisa terdiam dan menggigiti bibir bawahnya. Dia berpikir bagaimana mungkin ada orang yang mempedulikannya tanpa menghakimi dirinya. Bagaimana mungkin ada orang yang mengkhawatirkan dia tanpa mencerca dirinya dan pilihannya. Lalu, Jongin tak mampu membalas.

Awalnya, dia pikir Kyungsoo adalah tipe naif yang akan merebut lintingan ganjanya, lalu mengomel dan kemudian menginjaknya di lantai. Tak ada satu orang pun yang tahu, bahwa tujuan Jongin melakukan itu hanya untuk mencuri perhatian siapapun. Siapapun. Dan Kyungsoo orang pertama yang mengkhawatirkannya.

Saat Kyungsoo menatapnya tanpa penutup wajah, saat Kyungsoo menatapnya dengan ekspresi seserius itu, Jongin bersumpah bahwa dia sangat ingin mencium bibir Kyungsoo dan melumatnya. Tapi, dia hanya bisa terpaku.

...

Situasi awkward yang Jongin ciptakan membuat Kyungsoo gelisah, apalagi ini pertama kalinya Kyungsoo makan di restoran semewah itu. Restoran itu berada di rooftop, lilin-lilin berjajar rapi mengelilingi kolam renang, dari samping Kyungsoo bisa melihat pemandangan kota Seoul.

Setelan jas yang Jongin dan dia pakai nyaris sama, membuat mereka seolah sedang berkencan. Ketika Kyungsoo mengitari pandangan, dilihatnya berbagai pasangan yang memadu kasih. Dan perutnya tiba-tiba saja terasa geli.

"Mengapa kau melakukan ini padaku? Kau seharusnya tahu. Ini bukan gayaku." Kyungsoo berkata sambil gugup. Ia memainkan kakinya dan menggigiti kukunya.

Jongin tersenyum simpul. "Semestinya kau berterimakasih. Setidaknya sesekali kau harus menikmati makanan orang kaya."

"Ini benar-benar kaku. Aku benci berada disini. Kita seharusnya langsung tidur saja." Kyungsoo memasang ekspresi kesal.

"Berhentilah mengomel sebelum kau mencicipi makanannya. Makanan di restoran ini terbaik."

Makanan yang Jongin katakan datang. Kyungsoo memandang Jongin dan dibalas dengan senyuman sombong. Kadar kekesalan Kyungsoo naik saat dia melihat jajaran sendok, pisau, dan garpu di mejanya. Kyungsoo berpikir, bagaimana cara memakan semua itu. Makanan di atas piring itu terlalu indah untuk dirusak.

"Grilled steak ratatouille dan saffron rice. Ini makanan favoritku." Jongin langsung mengambil pisau dan garpu kemudian melahapnya dengan ekspresi menikmati. Kyungsoo meneguk ludahnya kasar lalu meniru apa yang Jongin lakukan. Kyungsoo membelalak karena benar apa kata Jongin, makanan yang namanya aneh ini sangat enak. Jongin tertawa melihat ekspresi Kyungsoo.

"Rasanya unik kan? Saffron adalah bumbu yang membuat masakan ini sangat nikmat, mahal, dan berkelas. Kau harus mencoba ayam yang di rendam dengan saffron. Atau nanti pagi kita makan dengan Saffron Risotto."

"Kau benar-benar tedengar sombong Kim Jongin." Kyungsoo berkata tanpa melihat Jongin. Kyungsoo memakannya dengan lahap dan kalap. "Tapi kau memang benar. Ini enak," tambahnya.

Jongin menikmati suasana malam itu. Bahkan untuk berkedip pun dia enggan. Ingin dia simpan memori makan malam itu. Tentang bagaimana Kyungsoo kikuk memegang garpunya, tentang rambut klimis Kyungsoo, tentang bagaimana Kyungsoo bernapas sampai hidungnya kembang kempis merasakan angin sejuk malam itu. Sebab, sudah lama dia tidak makan malam dengan orang lain.

"Apa dengan makan malam ini kau akan memotong bayaranku?" tanya Kyungsoo saat dia sudah selesai makan dan mulai meminum wine-nya.

Jongin memutar otak. "Tentu saja kau harus membayarnya," jawab Jongin dengan ekspresi yang dibuat sedatar mungkin.

Kyungsoo nyaris tersedak. "Ta-tapi kau yang mengajakku kesini. Aku tid―"

Jongin memotong kalimat Kyungsoo cepat. Rasanya dia ingin menertawakan lelaki itu. "Maksudku kau harus membayarnya dengan makan malam juga. Aku penasaran bagaimana rasanya makan malam orang miskin."

Kyungsoo menghela napas lega. Sekarang dia sudah terbiasa dengan julukan orang miskin yang diberikan oleh Jongin. Dengan lebih mengenal lelaki itu, ia tahu Jongin tidak seburuk yang ia kira.

...

"Ah, aku kenyang sekali." Kyungsoo merebahkan diri di atas ranjang. Dirinya begitu capek, dia nyaris saja tertidur jika saja dia tidak ingat tugasnya malam itu. Seketika wajahnya memanas. Dia melirik Jongin di sampingnya.

Mati! Dia bisa mati karena gugup!

Jongin ikut merebahkan diri di sampingnya. Jongin melepaskan jasnya kasar lalu melempar sepatunya asal. "Bisa lepaskan kaos kakiku? Aku malas sekali bergerak." Jongin menoleh pada Kyungsoo dan mendapati lelaki itu terpejam.

"Ha? Apa?" balas Kyungsoo terkejut. Kyungsoo duduk dengan cepat dan matanya mengerjap karena rasa kantuk yang parah.

Jongin menunjuk-nunjuk kakinya. "Lepaskan," katanya.

Kyungsoo mengambil kaki Jongin dan melepas kaos kakinya satu perasatu. Jongin menyesal mengapa dia meminta Kyungsoo melakukan itu. Saat ini dia malah takut. Dia takut jika dia benar-benar menyukai Kyungsoo.

Saat Kyungsoo selesai melepaskan kaos kaki Jongin dia langsung ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Dia berdoa semoga saja Jongin tidak melihat betapa merah wajahnya. Berkali-kali dia meremas dadanya untuk meredakan rasa gugup dan rasa kantuk yang bercampur jadi satu.

Dia kembali ke kamar, dia melihat Jongin sudah bertelanjang dada. Kyungsoo mendekat, ikut membuka kemeja yang dia kenakan. "Ta-tapi aku belum pernah melakukannya." Sial! Nadanya bergetar karena dia malu.

"Apanya?" tanya Jongin mengerutkan dahi. "Jadi, kau juga suka melepaskan atasan saat tidur?" Jongin memandang Kyungsoo dari atas kebawah.

Kyungsoo bingung. "B-bukanya kita akan melakukan..." Sialan. Dia tidak tahu bagaimana mengatakannya. "S-sex?" tanya Kyungsoo polos.

Jongin tertawa lagi terpingkal-pingkal. Dia tidak tahu mengapa dia bisa tertawa semeriah itu. Mungkin karena ekspresi Kyungsoo yang terlalu polos. Mungkin karena sudah lama dia tidak tertawa dengan tulus.

Kyungsoo bingung dengan reaksi Jongin yang berlebihan. Dia kira Jongin meremehkan dirinya. Maka dari itu ketika dia sudah melepaskan atasannya dia langsung naik ke atas tubuh Jongin dan memerangkap kedua lengannya.

"Kenapa tertawa?!" tanya Kyungsoo marah. Kedua alis tebalnya terpaut. Jongin terengah-engah karena berusaha berhenti tertawa. Di sudut matanya ada air mata yang mengalir.

"Maksudku 'tidur' ya tidur. Bukan tidur berhubungan intim," jelas Jongin. Dia kembali tertawa. "Aku membayarmu untuk tidur. Just sleep not sex."

"Jadi?" Kyungsoo tidak bisa berpikir sekarang. Untuk apa Jongin membayarnya segitu banyak hanya untuk tidur saja dengannya? Otaknya berhenti berjalan. Genggaman tanganya pada lengan Jongin mengendur.

Jongin membalik posisi tubuh mereka sehingga Kyungsoo berada dibawahnya. Dia mengambil kemeja Kyungsoo yang tergeletak di lantai lalu memasangkannya kembali pada tubuh Kyungsoo. Wajah Kyungsoo seperti orang bodoh. Dia masih mengolah kalimat Jongin.

"Jadi tidur saja," jawab Jongin pelan sambil mengacak surainya. Dia melepas kaca mata Kyungsoo dan meletakkannya ke atas nakas. Dia menutup tubuh mereka berdua dalam selimut yang tebal. Saat itu mata Kyungsoo tidak bisa terpejam sampai akhirnya Jongin menutup mata Kyungsoo dengan jemarinya.

"Tidurlah," kata Jongin lagi. Jongin menenggelamkan dirinya di sisi Kyungsoo kemudian mematikan lampu.

Diantara suara napas lirih yang saling bersahutan. Diantara gelap malam dan sesekali terdengar detik jam, Kyungsoo ingin menangis. Dia tidak tahu perasaan apa yang menggebu dalam dirinya sekarang. Tidak ada seorangpun yang tahu. Sesungguhnya dia benar-benar lelah dengan rutinitasnya yang nyaris tanpa jeda. Sesungguhnya dia butuh tidur. Dia sudah lama tidak tidur nyenyak selama ini. Selama ini dia hanya memiliki sedikit waktu istirahat. Dia kelelahan.

Pada jam-jam ini biasanya dia masih berada di minimarket itu sambil menjaga kasir. Dia sangat ingin tidur. Dia merindukan tidur. Dan Jongin memberikan apa yang dia butuhkan. Jongin membuatnya tidur tanpa memikirkan uang atau makanan apa yang akan dia makan besok. Jongin memberikannya jeda waktu. Jongin membuat pikirannya lega.

Saat itu juga dia membenci Jongin. Kyungsoo membenci Jongin yang membuatnya jatuh cinta.

...

Jongin tidak dapat tertidur. Dia tidak sadar jika waktu cepat sekali berlalu. Semalaman dia hanya memandangi bagaimana cara Kyungsoo tidur. Lelaki bertubuh mungil itu tidur sangat nyenyak tanpa beban. Dia tidur meringkuk seperti janin memeluk lutut dan menghisap jempolnya. Jongin memandanginya, seperti terbawa ke dunia Kyungsoo sampai matahari pagi terbit. Saat cahaya matahari menerobos jendela, seketika itu pula Jongin menutupi tubuh Kyungsoo dengan selimut.

Seperti yang Jongin katakan semalam, pagi itu mereka sarapan dengan Risotto Saffron di kamar. Mereka terlalu malas untuk keluar kamar.

Meskipun Jongin tidak tidur semalaman, tetapi hari itu dia merasa lebih baik. Dia merencanakan banyak hal untuk hari minggunya itu.

"Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?" tanya Jongin tiba-tiba. Kyungsoo membalas dengan menggaruk tengkuknya.

"Kau masih berhutang makanan padaku. Ingat?" tambah Jongin.

Kyungsoo terlihat berpikir lalu memberi usul. "Aku akan memasakkanmu Kimchi Spaghetti."

"Kau bisa memasak?"

"Ya. Hobiku adalah memasak."

"Baiklah. Hari ini kita akan berbelanja."

Kyungsoo terkejut, membalas dengan membelalakkan matanya lebar.

...

Kyungsoo tidak pernah membeli barang sebanyak itu. Jongin memasukkan banyak sekali bahan makanan ke dalam troley, padahal sudah Kyungsoo bilang itu tidak perlu. Jadi, seharian itu Kyungsoo hanya mendengus dan mempelajari banyak hal baru dari sifat Jongin. lelaki itu sangat boros, cerewet, dan tidak mau mengalah alias keras kepala.

Setelah belanja selesai, di tengah perjalanan kembali, mereka membiarkan mobil berhenti sejenak dan terpakir di pinggir jalan. Dari situ mereka bisa melihat pantai dan merasakan deburan ombak dari kejauhan. Mereka duduk di atas kap mobil sambil menjilati gelatto yang dibelinya di cafè dekat situ. Kyungsoo baru sekali merasakan es seenak itu dan Jongin seumur hidupnya baru dua kali memakannya. Mereka terdiam karena mereka baru saja bertengkar apakah mereka harus pergi ke Lotte World atau tidak.

"Jadi keputusan akhirnya bagaimana?" Jongin berkata sambil menjilati gelatto yang mulai mencair. Dia menyukai rasa strawberry yang meleleh di lidahnya.

"Aku rasa kita tidak perlu kesana," jawab Kyungsoo singkat. Sebenarnya dia ingin sekali pergi ke Lotte World. Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup, tapi dia tidak ingin membuat Jongin malu dengan penampilannya.

"Aku memaksa." Jongin tahu jika Kyungsoo menginginkan itu. Saat Kyungsoo keceplosan mengucapkan tempat itu, Jongin melihat mata lelaki itu bersinar. Padahal sebenarnya itu hanya modus. Sebab, selama hidupnya Jongin tidak pernah kesana. Saat dia masih kecil dia ingin sekali pergi ke taman bermain. Hanya saja tidak ada yang pernah mengajaknya.

Pada akhirnya, Jongin selalu menang beradu argumen dengan Kyungsoo. Jongin memakai pakaian yang sama dengannya, memakai masker, sarung tangan, dan topi. Mereka terlihat seperti penjahat yang siap menculik anak kecil disana. Tapi Jongin bilang dia tidak peduli.

Cara Jongin menatapnya, cara Jongin berbicara dengan nada pelan yang lirih, dan cara Jongin menaikkan alisnya, membuat hati Kyungsoo berdebar. Sebenarnya dia ingin bertanya kepada Jongin, mengapa lelaki itu menjadi tiba-tiba baik padanya. Namun, pertanyaan itu hanya tercekat di tenggorokannya. Mengatakannya begitu sulit, karena jika dia mengatakannya, Kyungsoo takut keadaan diantara mereka akan terasa aneh.

Jadi, di lotte World itu mereka menaiki semua wahana. Kata jongin, kapan lagi mereka kesana. Dibandingkan Kyungsoo, Jongin lebih terlihat bersenang-senang. Saat Kyungsoo bertanya mengapa Jongin sangat senang, Jongin menjawab jujur bahwa itu adalah pertama kalinya dia pergi ke taman bermain.

"Ini adalah wahana yang terakhir. Apa kau yakin akan menaikinya?" Kyungsoo melirik nakal pada Jongin karena wajah lelaki itu pucat pasi. Mereka sudah menaiki wahana ekstrim, hanya tinggal roller coaster.

"Kau meremehkanku? Ayo naik!" Jongin terdengar kesal tapi wajahnya saat itu sungguh pucat sekaligus menggemaskan. Kyungsoo sesekali menahan ketawanya. Dia tidak pernah berpikir bahwa Jongin yang sombong dan angkuh akan terlihat selemah itu.

Maka, seperti dugaan Kyungsoo. Selama mereka menaiki roller coaster, Jongin hanya sekali berteriak kemudian terdiam. Setelah mereka selesai, lelaki itu memuntahkan gellato yang ia makan tadi ke pot bunga di dekatnya. Kyungsoo tertawa sambil mengejek.

"Ya ampun Tuan Kim lemah sekali."

Jongin memajukan bibirnya kesal. Dia menarik leher Kyungsoo dengan lengannya kemudian memaksa lelaki yang lebih kecil itu melihat muntahannya. Kyungsoo seketika langsung mual.

"Hentikan, Jongin!" Kyungsoo meronta tetapi Jongin terlalu kuat. "Hoeeekkk." Kyungsoo ikut memuntahkan isi perutnya.

Jongin tertawa kembali sambil menatap muntahan mereka dengan jijik. "Ew!"

Sebelum dia bertemu Kyungsoo, Jongin sudah lama tidak merasakan tertawa selebar itu, atau berteriak sekencang itu. Seharian mereka menghabiskan terlalu banyak berdua. Secara tidak sengaja Jongin menggenggam tangan Kyungsoo, tapi dia tidak berniat melepaskannya. Satu hari itu mereka seperti kembali ke masa dimana mereka anak-anak, mereka tidak mencemaskan apapun dan yang ada di pikiran mereka hanya bermain dan menghabiskan waktu.

Jongin berpikir bahwa ini adalah saat-saat paling bahagia di hidupnya. Dia seperti terlahir kembali seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Ketika dia berdiri di dekat Kyungsoo, dirinya seperti bermimpi. Bagaimana bisa ada seseorang yang hanya dengan menyipitkan matanya dapat menyinari hatinya? Bagaimana bisa ada seseorang yang hanya dengan bernapas di sampingnya maka semua kegelisahannya sirna? Saat itu Jongin menyukai apa yang sedang dia rasakan. Rasanya dia ingin menunjukkan semua sisi yang ada di dirinya pada Kyungsoo.

Jadi, dia membawa lelaki itu ke rumahnya.

...

Dari pada sebuah rumah, Kyungsoo menyebut tempat tinggal Jongin adalah istana. Dibandingkan tempat tinggalnya yang sangat kecil, rumah Jongin jauh di luar ekspektasinya. Seketika itu nyalinya ciut. Kyungsoo sudah berpikiran bahwa dirinya pasti akan di rendahkan oleh orang rumah itu. Namun, ketika dia memasuki rumah itu, Kyungsoo jadi berubah pikiran. Rumah itu sepi. Sepi sekali seperti rumah hantu.

"Apa kau benar tinggal disini?" tanya Kyungsoo bergidik saat malam tiba dan rumah itu terlihat sangat dingin. katanya, rumah mencerminkan orang yang menghuninya. Ketika Kyungsoo masuk ke dalamnya, ia bisa dengan jelas melihat kemiripannya dengan Jongin. Mewah, sedikit angkuh, tetapi sendirian dan terlihat kesepian.

"Ya masuk saja. Sudah kubilang disini tidak menyenangkan."

Kyungsoo menapaki tangga. Saking sepinya dia bisa mendengar langkah kakinya sendiri menggema. Dia berkali-kali menganga melihat banyak benda antik dan mewah disana. Rumah Jongin sama seperti lelaki itu, estetika.

"Tuan, apa perlu aku menyiapkan makan malam?" Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka dan bertanya pelan.

Jongin dan Kyungsoo menghentikan langkah. "Tidak usah! Kami sudah makan," jawab Jongin dingin. "Jangan mengganggu kami!" tambahnya.

"B-baik, Tuan."

Saat wanita paruh baya yang Kyungsoo yakin adalah pembantu di rumah itu berjalan pergi, Kyungsoo bertanya pada Jongin. "Mengapa kau kasar sekali?"

"Apanya?"

"Kau tidak sadar? Kau mungkin menyakiti hatinya."

"Oh, ya ampun, Soo. Aku malas sekali berdebat sekarang. Baiklah aku minta maaf, oke?" Jongin memutar bola matanya.

"Bukan padaku. Padanya." Kyungsoo menunjuk arah kemana pembantu itu pergi. Jongin menoleh, lalu menghembuskan napas lemah.

"Iya nanti," jawabnya sambil mengerucutkan bibir.

"Pffftt." Kyungsoo mengumpat tawa.

"Kenapa malah tertawa?!" Jongin kesal dengan reaksi Kyungsoo.

"T-tidak. Aku hanya lucu denganmu. Saat mendengar seseorang memanggilmu dengan kata 'Tuan' terasa sangat lucu. Tuan Muda Kim Jongin, pfftt."

"Ya! Diam kau!" Jongin menjitak kepala Kyungsoo pelan.

Melihat interaksi tuan muda mereka dengan orang lain membuat para pekerja di rumah itu keheranan. Tidak pernah majikan mereka membawa seorangpun ke rumah bahkan ke dalam kamarnya. Melihat tuan muda mereka tertawa dan tersipu adalah pertama kalinya bagi mereka. Melihat tuan muda mereka menurut seperti anjing kecil pada lelaki mungil itu membuat mereka sulit percaya.

...

Sesaat, Jongin menghentikan jemarinya untuk membuka kenop pintu. Ia sedang berpikir apakah dia benar harus membawa Kyungsoo ke dalam kamarnya karena itu sangat beresiko. Namun, begitu dia melihat wajah Kyungsoo kembali, dia memantapkan diri lalu membawanya masuk. Dia menantikan reaksi Kyungsoo. Jongin mengira lelaki itu mempunyai reaksi yang unik dan itu benar.

Dia membuka pintu kamarnya, Kyungsoo langsung menjatuhkan tasnya ke lantai dan terkagum-kagum dengan apa yang tengah dilihatnya. Seperti anak kecil yang baru pertama kali ke museum. Kyungsoo berjalan hati-hati melewati ceceran kertas di lantai agar tidak mengenainya. Dia berjalan maju untuk melihat lukisan di dinding. Dia mendekat lagi, meneliti lukisan itu dengan serius. Dia terlihat ingin menyentuhnya.

"Apa aku boleh menyentuhnya? Apakah ini charcoal?" tanya Kyungsoo tanpa menoleh. Jongin tidak menjawab, dia gugup. Dia tidak pernah membiarkan siapapun melihat karyanya. Dia tidak membiarkan orang lain tahu ini semenjak hari itu. Hari yang baginya sangat buruk. Baginya, memperlihatkan hal ini sama dengan memperlihatkan bagian paling intim dari dirinya. Jadi, Jongin hanya duduk di ranjangnya menanti setiap reaksi Kyungsoo.

"OH MY GOD, JONGIN. You are so talented as fuck!" Kyungsoo membelalakkan matanya, memperhatikan tiap potongan anggota tubuh Jongin di gambar itu.

Kyungsoo menutup mulutnya agar tidak berteriak seperti fangirl. Kyungsoo menatap Jongin sesekali, lalu membandingkannya dengan lukisan di dinding.

"Jongin, ini super realistic!" Kyungsoo memekik. "Bahkan pori-porimu dan kerutanmu tergambar nyata! Lihat apa kau benar-benar memiliki kumis tipis?!"

Kyungsoo mendekat pada Jongin yang sedang duduk di ranjang. Dia mengambil wajahnya, mendongakkan wajahnya sehingga Kyungsoo bisa meneliti setiap wajah Jongin dan membandingkannya dengan gambar yang tertempel di dinding. "Super duper realistic," gumamnya.

Wajah Kyungsoo memerah, dia tidak sadar dengan apa yang dilakukannya karena dia sangat excited. Kyungsoo ingin menjauhkan tangannya tapi ditangkap oleh Jongin.

"Ehem?" tanyanya tersipu sembari berdeham.

Jongin berdiri, memutar tubuh Kyungsoo agar Jongin dapat memeluknya dari belakang. Jongin berjalan perlahan, membawa tubuh mereka ke sudut ruangan untuk menjauh dari dinding dimana lukisan itu terpajang. Kyungsoo sudah merah padam. Dapat dirasakannya hembusan napas Jongin mengenai lehernya dan lengan yang membalut tubuhnya terasa hangat.

"Coba kau lihat." Jongin menunjuk ke arah depan dimana mereka bisa melihat dinding yang penuh lukisan itu dari jauh. Jongin menyentuh, dan menaikkan dagu Kyungsoo agar dia melihatnya.

"WHOA!" Mata Kyungsoo berbinar."Apakah itu Vitruvian Man? Dari dekat aku tidak dapat melihatnya. Itu Vitruvian Man versi kim Jongin yang sangat besar!"

Sebuah gambar yang besar tersusun atas kertas-kertas yang digabungkan. Dindingnya tinggi sehingga orang tidak dapat melihatnya dari dekat.

Vitruvian Man adalah masterpiece, terdiri atas sebuah lingkaran dan persegi yang di dalamnya terdapat lelaki bugil. Menjelaskan mengenai proporsi tubuh manusia sempurna secara presisi matematis, gabungan antara seni dan sains. Sementara itu, lukisan yang berada di kamar Jongin adalah Vitruvian Man dengan tubuh yang diganti tubuhnya sendiri. Di dalam lingkaran dan persegi sempurna itu, tergambar jelas tubuh Jongin yang bugil dan sangat realistis dengan ukuran presisi.

"Kau tahu?" tanya Jongin tak percaya.

Kyungsoo memutar tubuhnya sehingga mereka dapat beradu pandang, jemari mereka terpaut. "Leonardo da Vinci?"

"Leonardo dipengaruhi oleh tulisan Penulis Roman sekaligus Arsitek, Vitruvius. Itulah mengapa dikatakan Vitruvian Man. Since nature's most perfect object is man, building should be proportioned like the human body. Vitruvian man was Leonardo response."

"Smart." Sudut bibir Kyungsoo tertarik keatas, dia sama sekali tidak menyangka lelaki di hadapannya memiliki passion terhadap sesuatu.

"Kau tidak mengatakan aku... aneh?"

"Mengapa harus aneh?"

"Mereka bilang aku aneh. Narsis."

"Yes you are. Tapi, ini adalah bakat."

Kyungsoo berdeham untuk mengalihkan wajah mereka yang semakin lama semakin mendekat. Ketika dia melihat sebuah kain putih menutupi dinding di dekatnya, dia bertanya, "Untuk apa kain ini?"

"Jangan dibuk―" Belum sempat Jongin menyelesaikan kalimatnya, Kyungsoo membuka tirai itu dan Jongin tidak dapat mengantisipasi dirinya sendiri.

Jongin tidak dapat menghalangi dirinya sendiri. Cermin besar itu tersibak. Dia menatap cermin itu lama, membiarkan Kyungsoo kebingungan. Tautan tangan mereka terlepas dan Jongin menjauh. Ia mendekat pada cermin.

"Jongin?" Kyungsoo tidak tahu apa yang terjadi. Dia pikir Jongin hanya berniat bercermin, tapi itu terlihat aneh.

Kyungsoo lelah, jadi dia berbaring di ranjang Jongin sambil mengamati lelaki itu dengan kerutan di dahinya. "Jongin, mengapa kau bercermin lama sekali?"

Kyungsoo merengut, mengamati laki-laki itu. Jongin tidak peduli dengan sekitarnya. Semakin lama waktu berlalu semakin Kyungsoo merasa aneh. Jongin mengambil kertas dibawahnya, lalu menggenggam charcoal.

"Oke, baiklah. Kau mulai menggambar," gumam Kyungsoo.

Kyungsoo berjalan, mengamati dia dari dekat. Tidak pernah sebelumnya Kyungsoo melihat hal seperti itu. Dia bisa melihat kilatan di mata Jongin. Passion yang begitu kuat, aura yang begitu dahsyat. Jongin menjadi lebih tampan. Sangat tampan. Kyungsoo tidak tahu harus melakukan apa kecuali meneguk ludahnya.

Jongin mengambil penggaris, kemudian jangka. Jongin menggambar lagi, membandingkan tungkainya dengan coretan di kertasnya. Kyungsoo sempat bergidik saat dia mendekat karena laki-laki itu menepis keberadaannya. Di dalam ruangan itu ada Kyungsoo, namun dia merasa dia tidak berada disana. Kyungsoo berpikir, bagaimana bisa Jongin berubah secepat itu. Seolah dia berbeda dari orang beberapa menit yang lalu.

Jemari Jongin bergerak semakin cepat. Cepat. Cepat. Kyungsoo tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Jongin?" panggilnya. Jongin tidak terpengaruh. Kyungsoo semakin merasa aneh.

"Kim Jongin?!" Kyungsoo meninggikan suaranya. Jongin tidak menghiraukan. Gerakan jarinya sangat liar, dia tersenyum seperti orang gila.

Malam semakin larut. Ketika itu Kyungsoo mendengar suara tertawa yang creepy yang berasal dari Jongin. Jongin tampak seperti orang yang kerasukan. Kyungsoo mendekat, memegangi pundaknya.

"Jongin! kau mendengarku?!" Bukannya berhenti, Jongin malah menepis lengannya sehingga Kyungsoo tersungkur ke belakang. Baju Kyungsoo kotor terkena ampas arang di lantai.

"What the hell is going on with you?!" Kyungsoo tak habis pikir. Dia kembali mengambil lengan Jongin dan melemparkan penggaris yang di genggam Jongin. "Stop! Jongin stop!" Kyungsoo memaksa memeluknya.

Akhirnya Jongin berhenti. Tangannya mengendur, melepaskan genggamannya pada kertas dan charcoal ke lantai. Dia seperti bertransisi waktu, karena saat dia sadar ini sudah tengah malam. Jongin terlalu lama menyeberang jauh.

"Sorry." Jongin menenggelamkan wajahnya ke bahu kecil Kyungsoo. Ia nyaris menangis dan tubuhnya bergetar. Detik itu Kyungsoo sadar, ada yang 'salah' dengan Kim Jongin.

Tidak tahu siapa memulai. Mungkin mereka berdua berada dalam suasana dimana mereka dapat menerima keberadaan satu sama lain dan menginginkan satu sama lain. Atau mungkin Kyungsoo sudah menerobos batas dinding yang Jongin ciptakan. Atau mungkin karena mereka terbakar oleh sentuhan yang awalnya hanya pelukan erat.

Awalnya Jongin menghirup udara di sekitar leher Kyungsoo. Tapi itu membakar dirinya, sebab aroma tubuh Kyungsoo seperti pembangkit memori. Memori menyenangkan tentang bunga yang baru mekar, tentang embun pagi. Saat dia beralih mencium bibir Kyungsoo, maka habislah sudah penghalang diantara mereka.

Kyungsoo tidak berpikir bahwa ini adalah sesuatu yang salah atau terlalu mendadak. Ini adalah waktu yang tepat. Bagaimanapun dia memutar otaknya, dia tidak menemukan kesalahan dalam memberikan dirinya untuk terbakar gairah bersama orang di hadapannya. Dia menyukai debaran di jantungnya ketika Jongin menggendong tubuh mungilnya, kemudian menjatuhkannya ke ranjang sehingga tubuhnya memantul.

Padahal hari sudah larut. Detik jam terdengar ambigu berbaur dengan napas yang bersahutan lirih. Jongin membuka kemeja Kyungsoo dengan cepat, keringat mereka mengalir membawa aroma tubuh dan hormon pemikat. Mereka telanjang bulat, Kyungsoo berada di bawah tubuh sempurna Jongin. Jemari mereka terpaut dan bibir mereka tidak bisa berhenti memagut satu sama lain.

Tidak ada yang bisa berkata-kata, mereka berhenti hanya untuk bernapas atau melihat ekspresi masing-masing. Bertanya-tanya pada diri mereka sendiri apakah laki-laki dihadapannya menyukai sentuhan itu. Dan ketika mereka sama-sama tersenyum dengan wajah memerah, batasan ketakutan hilang dalam sekejap.

Pendingin ruangan dirasa tidak berguna karena tubuh mereka memanas. Sesaat jongin berhenti menciumi dan menggigiti lelaki di hadapannya hanya untuk memandang wajah Kyungsoo dengan jelas. Dia menangkup wajah Kyungsoo, memperhatikannya seperti mengagumi karya seni.

"Bagaimana mungkin aku menyukai freckles di pipimu?" Jongin bertanya pada dirinya sendiri seperti gumaman. Dia mengusap pipi itu dengan ibu jarinya lembut. Mendengar kalimat itu, daun telinga Kyungsoo memerah, begitu pula pipinya.

"Kau memiliki banyak tahi lalat." Jongin menyentuh satu-persatu tahi lalat itu dengan telunjuknya. "Starry night. Seperti rasi bintang."

Jongin menyentuh kulit leher dan bahu Kyungsoo, menggambar garis-garis, menyatukan dari satu titik ke titik yang lain. "Rasi bintang biduk," lirihnya.

"Aku tidak pernah tahu bahwa tahi lalat bisa seindah ini," tambah Jongin.

Kyungsoo menutupi wajahnya karena rasanya dia ingin menangis. Itu adalah pujian yang sangat indah. Dimana ketidaksempurnaan dirinya disukai oleh orang lain. Bahkan dirinya sendiri membenci freckles di pipinya atau tahi lalat di tubuhnya, tapi tidak dengan Jongin.

Jongin mengambil kedua lengan Kyungsoo dan menautkan jarinya kembali satu-persatu. Dia berkata lagi, "Bibirmu. Indah." Lalu Jongin menciumnya tepat di bibir. Bukan ciuman basah seperti yang mereka lakukan sebelumnya, melainkan ciuman lembut seperti kepakan sayap kupu-kupu. Ciuman itu beralih, ke setiap titik hitam kecil di tubuhnya.

Untuk orang seperti Jongin, dia tidak pernah mengagumi tubuh orang lain karena baginya tidak ada yang lebih sempurna dari dia. Tapi, Kyungsoo selalu berbeda. Dia memiliki daya tarik untuknya. Kyungsoo dan dia seperti kutub yang berlawanan, yang berbeda tetapi ingin berdekatan. Kyungsoo tidak sempurna, tapi Kyungsoo rasanya lebih dari itu.

Jongin mengecup seluruh bagian, memberikannya sensasi gila yang baru pertama Kyungsoo rasakan. Ketika Jongin memasukkan dirinya ke bagian intim diri Kyungsoo, saat itulah Kyungsoo menyukai apa yang dia rasakan.

Bagi Kyungsoo―orang yang membenci semua hal, ini terasa berbeda. Dia sempat kebingungan apa yang ia rasakan. Bukan karena rasa nikmat berhubungan badan. Bukan karena itu.

Tapi, karena bagaimana cara Jongin menatap matanya dalam. Bagaimana cara Jongin menikmati penyatuan tubuh mereka, mengagumi dirinya sampai ke dalam-dalam. Bagaimana cara Jongin kesulitan bernapas dan terengah-engah. Dia menyukai jika dia memuaskan orang dihadapannya, bukan hanya kepuasannya sendiri.

Seiring waktu berlalu terdengar suara tubuh beradu, ranjang berderit, napas terburu-buru, dan erangan tertahan. Seiring waktu berlalu, sebentar lagi pagi menjelang, tapi mereka masih melakukannya. Ini sudah erangan kenikmatan yang keberapa kali, mereka tidak sempat menghitungnya.

Saat itu, mereka kembali berada di puncak dan Jongin tidak ingin berhenti bergerak.

"Stop...hh..." Kyungsoo menahan dada Jongin, napas Kyungsoo terengah, dibalas oleh kerutan sedih di mata Jongin. "Maksudku, jangan keluarkan milikmu. Jangan bergerak dulu." Napasnya memberat. "Tetap seperti ini."

Jongin membalas dengan senyuman nakal. "Kenapa?" godanya.

"Aku mau mengatakan sesuatu." Kyungsoo mengambil wajah Jongin dan membisikkan kalimat ke telinganya;

"Jongin, bagaimana jika aku mencintaimu?"


.

.

-To Be Continued-

.

.

Author's Note:

Taraaaa...aku janjian update loh bareng RedSherry :)

Biar unyu gitu katanya wakakakak

Puas ga? Ini isinya fluff semua astaga. Seharusnya chapter ini tidak berakhir disini, tetapi aku membuatnya terlalu panjang dan harus ku stop di adegan ena. Wkwkwk..

Dan aku engga yakin ini hanya akan jadi threeshot. Mungkin empat chap atau lebih, aku juga engga tau. Bahkan aku belum memasukkan konflik utamanya. Huft.

I'm so sorry karena aku update-nya telat ga sesuai harapan kalian dan rencana awalku. Percayalah, aku sudah berusaha. Aku gabisa janjiin cepat-cepat lagi karena pasti hasilnya berantakan. Dan aku ini author yang suka ga pede sama tulisan sendiri.

Makasih ya buat yang udah nunggu dan kasih semangat baik di dm, pm, chat dll. Aku menghargai kalian semua.

Gimana menurut kalian chap ini?

Jangan lupa riview, fav, dan follow ya! :p

.

.

See ya,

Light Kailan

27/03/2017 19:42