Kuroko no Basuke © ujimaki Tadatoshi

AU, OoC, Typo and an OC kind of fanfiction ... we did not gain any financial benefit from this story. This is purely for our satisfaction.

.*.

Ann and Azalea Airys

presents...

Only Hope

.*.

It's time to fight for your happy ending...

.*.

Bagi Yui menyukai dalam diam adalah sebuah kedamaian. Mengagumi dari jauh dan menyimpan rindu, itu sudah menjadi makanannya sehari-hari. Yui terbiasa, bahkan sanggup bertahan selama bertahun-tahun dengan semua itu. Namun itu dulu, sebelum seminggu lalu sahabatnya sendiri mengatakan dengan lantang tentang rasa sukanya terhadap orang yang sama. Apa yang harus Yui lakukan sekarang? Haruskah ia merelakan cinta yang telah lama terpendam untuk kebahagiaan Fuko?

Belum lagi gadis itu. Gadis yang hanya ia kenal berkat panggilan akrab pemuda bersurai biru itu. Entah sejak kapan mata kelabu gadis itu juga melihat Kurokonya? Ah, bukan sekadar melihat, gadis itu pun berani menyentuh Kurokonya tanpa ragu. Tampak begitu dekat dengan pemuda impiannya.Mengapa begitu banyak pengganggu sekarang, padahal dahulu kehidupannya begitu tenang, damai dan nyaman? Dahulu ia bisa menyukai, mengagumi, dan merindui Kurokonya tanpa gangguan, tapi kini semua menjadi menyebalkan.

Yui tidak ingin patah hati, namun sepertinya itulah yang akan terjadi. Malam ini di acara api unggun penutupan festival Fuko akan menyatakan perasaannya pada Kuroko. Meskipun ia tahu, kemungkinan terbesar sahabatnya itu akan ditolak. Kuroko mungkin tak akan menjadi milik Fuko, mengingat tanggapan dingin pemuda itu tadi pagi, tetapi bukan itu permasalahannya. Justru masalah akan muncul setelahnya, karena bagi Fuko penolakan bukan masalah besar, bahkan baginya itu adalah pintu gerbang menuju hati Kuroko. Menurut Fuko penolakan akan memberinya kesempatan untuk melakukan pengejaran secara terbuka—seperti yang dilakukannya pada Kagami dulu. Masalahnya Yui tidak ingin bersaing dengan Fuko. Ia tidak ingin memperebutkan Kuroko dengan sahabatnya, tapi ia juga tidak ingin menyerahkan Kuroko pada Fuko, atau pun pada sang rival baru, Yuki.

Desah tertahan keluar dari Yui saat ia melewati kedai-kedai yang mengisi halaman sekolah. Di hari festival, semua kelas membuka kedai di halaman depan sekolah. Setiap kelas menjual beragam barang, mulai dari makanan, aksesoris, kaos, hingga yang menawarkan jasa nail art. Yui melangkah dengan gontai, semangat yang dimilikinya tadi pagi saat membuka kedai takoyaki bersama teman-temannya menguap seiring beranjaknya hari menjadi siang. Fuko, Kuroko, lalu gadis misterius, Yuki, ketiga nama itu memenuhi kepalanya. Ingin diabaikan tetapi selalu terngiang. Lalu seakan tak cukup mengganggu isi kepalanya, kini ketiganya malah muncul di hadapannya secara bersamaan.

Di saat-saat seperti ini selalu saja dunia berubah menjadi sangat kecil. Ingin menghindari Fuko yang tak henti bercerita tentang Kuroko dan rencana penembakannya di kedai, ia justru menemukan gadis itu di sini, lengkap dengan Kuroko dan Yuki.

Yui langsung menyembunyikan dirinya di balik kedai burger, berpura-pura mengantri seperti pembeli lainnya, namun ekor matanya tak lepas dari tiga orang yang sedang berada di depan stand penjual es krim.

Dari jauh Yui mengamati Fuko yang memaksa masuk di antara Kuroko dan Yuki yang tengah duduk bersama menikmati es krim. Kuroko yang setia dengan ekspresi datarnya kini terlihat begitu terganggu dengan kedatangan Fuko, apalagi gadis itu membanjirinya dengan perhatian yang berlebihan. "Sadarlah Fuko, Kuroko-kun tidak menyukaimu." Yui membatin.

"Silakan antrian selanjutnya."

Yui mengabaikan suara yang masuk ke telinganya.

"Antrian selanjutnya."

Suara itu terdengar lagi, dan Yui tetap mengabaikannya. Hingga ia merasakan dorongan halus di pundaknya. Ia menoleh hanya untuk mendapati warna putih dari kemeja yang dipakai pemuda di belakangnya. Perlahan ia mendongak hingga mendapati wajah sangar familiar, yang sebelum seminggu lalu selalu menjadi topik utama pembicaraannya dengan sang sahabat.

"Maju Narahashi, sekarang giliranmu." Kata-kata Kagami menyadarkan Yui. Ia melangkah maju, tetapi saat berada di depan penjual ia bingung ingin memesan apa.

"Kami punya bermacam burger dengan berbagai ukuran, ada juga pizza mini." Penjaga stand berseragam putih lengkap dengan topinya tersenyum ramah sembari menunjukkan menu berlaminasi pada Yui.

Yui hanya memandang barisan gambar dan tulisan itu dengan pandangan kosong, ia tidak tahu harus memilih yang mana karena memang tidak berniat memesan apa pun. Ia masuk ke kedai itu hanya untuk bersembunyi bukan untuk membeli burger. Ia memerhatikan daftar menu, setelah beberapa detik ia memesan. "Burger keju," ujarnya tanpa benar-benar tahu apa yang ia pesan.

Sembari menunggu mata Yui kembali mengarah pada stand es krim. Ketiga orang itu masih di sana, namun posisi duduk mereka sudah berubah. Kini Kuroko duduk di tengah, diapit Fuko dan Yuki. Itu pemandangan yang janggal sebenarnya, tetapi sudah cukup untuk menghancurkan hati Yui. Kedua gadis itu baru-baru ini saja terlihat dekat dengan Kuroko, tetapi entah mengapa mereka terlihat begitu akrab dengan pemuda itu. Betapa mudahnya mereka melakukan itu, berakrab-ria dan mengobrol santai dengan Kuroko. Sedang dirinya yang telah lama memendam rasa hanya bisa menatap dari jauh dan memendam rindu. Tanpa terasa Yui menggigit bibirnya, hingga rasa asin menyapu lidahnya.

Tepukan ringan di pundaknya mengagetkan Yui. Ia berbalik dan bersitatap dengan mata rubi milik Kagami.

"A-ada apa, Kagami-kun?" tanyanya bingung.

"Aku memanggilmu dari tadi. Burgermu." Kagami menyerahkan sebuah kantong kertas kepadanya.

"Ah, terima kasih," ucap Yui sembari menerima burgernya. Kemudian matanya kembali ke Kuroko. "Kau tidak apa-apa dengan itu?" Tak terasa ia mengajukan pertanyaan itu kepada Kagami.

"Apa?" Alis ganda Kagami bertaut.

"Itu!" Dengan gemas Yui memberi isyarat pada Fuko yang tengah tersenyum manis pada Kuroko. "Kau tidak apa-apa Fuko mendekati Kuroko-kun?"

Lama Kagami tak berkata apa pun, matanya sama seperti Yui, terpaku pada Kuroko dan Fuko. "Aku tak tahu. Itu urusan dia, kan?" sahutnya seolah tak acuh tetapi nada kesal terselip dalam suaranya.

Mata cokelat Yui terarah pada Kagami, setengah mengomeli dia bertanya. "Apa kau tidak punya perasaan? Fuko selama ini begitu gigih mendekatimu, mengejarmu, dan dengan jelas menyatakan perasaannya padamu. Apa hal itu tidak sedikit pun menggerakkan hatimu?"

"Aku tak mengerti hal-hal seperti itu. Bukan urusanku!" sahut Kagami.

"Kau—pantas saja Fuko berhenti menyukaimu, kau memang menyebalkan." Setelah mengatakan hal itu Yui memutar tubuhnya dan berderap menjauh.

.*.

Festival musim semi SMU Teiko selalu ditutup dengan acara api unggun. Setelah semua kedai dirapikan, para siswa berkumpul di halaman depan untuk menyalakan api unggun besar di tengah halaman. Bukan hanya api unggun, sekeliling lapangan pun dihiasi dengan obor yang sengaja dinyalakan menggantikan cahaya lampu elektrik. Sebuah panggung setinggi satu setengah meter didirikan di salah satu sudut. Di panggung ini nantinya akan diadakan pertunjukan drama dan hiburan musik yang wajib ditampilkan oleh perwakilan kelas.

Ada sebuah legenda yang beredar di kalangan para siswi berkaitan dengan acara api unggun ini. Dalam legenda itu dikatakan; 'Setiap pasangan yang berdansa di acara api unggun akan bersama selamanya'. Karena itulah para siswi berusaha mengajak pasangan mereka untuk berdansa di acara api unggun. Untuk yang masih belum punya pasangan, event ini akan mereka manfaatkan untuk menyatakan perasaan pada orang yang disukai. Jika diterima mereka bisa berdansa di depan api unggun bersama pasangan lainnya, jika tidak ... yah, mereka terpaksa duduk bertopang dagu bersama para jomblo lainnya sembari memandangi pasangan lain berbahagia.

Biasanya Yui dan Fuko sangat menikmati acara api unggun ini. Di tahun pertama dan kedua mereka akan duduk bersisian sambil memandangi api unggun, berbagi kesepian sebagai gadis tanpa pasangan bersama. Tetapi tahun ini jelas akan terjadi perubahan. Lebih tepatnya Fuko ingin melakukan perubahan. Gadis bersurai ikal itu ingin berdansa mengelilingi api unggun dengan orang yang disukainya. Yui pun menginginkan hal yang sama, tetapi bagaimana bisa jika nyatanya mereka menyukai orang yang sama?

Yui melirik Fuko yang duduk memeluk lutut di sebelahnya. Kemeriahan atraksi siswa kelas 3D menyemarakkan hari yang beranjak senja, dengan tarian api dicampur drama kolosal singkat sama sekali tak menarik perhatian sahabatnya. Bahkan ketika Kise melepas jubah dan menunjukkan kostum gladiatornya—yang tentu saja membuat para siswi menggila—ia hanya menonton dengan wajah bosan.

Yui paham betul alasan sahabatnya memasang ekspresi seperti itu. Ia pun juga bisa merasakan aura badmood Fuko yang telah menguar semenjak acara api unggun ini dimulai. Alasannya cukup sederhana. Ia, entah dengan mukjizat apa, berhasil menyeret Fuko untuk menemaninya menonton atraksi bersama kerumunan siswa lainnya. Meski tentu saja ia harus memasang wajah memelas dan memohon-mohon sahabatnya itu terlebih dahulu. Sejujurnya Yui merasa cukup bersalah. Namun biar bagaimanapun, ia tak bisa mengikhlaskan pujaan hatinya begitu saja. Dan ini adalah salah satu upayanya untuk menghalangi rencana Fuko menjadi nyata.

Yui ikut bertepuk tangan seirama siswa lainnya ketika kelas Kise menyelesaikan atraksi mereka. Ia melakukannya hanya untuk mengelabui Fuko, sebagai ilusi bahwa ia menikmati dan menyaksikan pertunjukan tadi dengan seksama. Meski nyatanya, pikiran gadis itu sibuk mencari alasan lain untuk menahan Fuko, jika ia telah berniat pergi dan melanjutkan rencananya.

"P-pertunjukan tadi benar-benar mengagumkan ya?"

"Hmm..."

Basa-basi Yui hanya disambut gumaman tak acuh oleh Fuko yang masih memandang api unggun tanpa jeda. Yui hanya bisa tersenyum kikuk.

"Kenapa dari tadi kau diam saja, Fuko-chan? Apa ada masalah? Aku tahu kita duduk di sisi kanan dan ini bukanlah posisi yang bagus untuk melihat pertunjukan di atas panggung, tapi kupikir—"

"Yui." Panggilan singkat Fuko membuat gadis itu bungkam seketika. Dengan gugup, Yui membalas tatapan Fuko. "Y-ya?"

Fukolah yang pertama kali memutus pandang, hazel gadis itu kini mengamati tanpa minat pada pertunjukan puisi di atas panggung.

"Cuma perasaanku saja ... atau kau memang berusaha menghalangiku mencari Kuroko?"

Yui bisa merasakan hawa dingin yang menusuk hatinya berkat pertanyaan tepat sasaran dari sahabatnya itu.

Ia tertawa kikuk. "M-mana mungkin, Fuko-chan! Lagipula untuk apa aku melakukan hal seperti itu?"

Fuko melirik gadis itu dari sudut matanya. Ia bergumam pelan sambil mengendikkan bahu. "Entahlah. Bisa saja kan kau melakukannya karena sebenarnya Pangeran Impianmu itu adalah Kuroko-kun?"

Kedua iris Yui membulat kaget, rasa panik kini mulai berkembang dalam dirinya. Gadis itu membuang muka menghindari pandangan Fuko.

"J-jangan berasumsi yang tidak-tidak, Fuko-chan."

"Habisnya kau seperti tak rela jika aku menyukai Kuroko sih." Fuko mengeluarkan tawa kosong.

Mendapati sahabat bersurai pendeknya itu hanya terdiam tanpa reaksi, Fuko kembali melanjutkan, "misal yang tadi itu hanya imajinasiku saja ... lalu kenapa kau mencegahku saat aku ingin pergi?"

Yui menggigit bibir bawahnya gundah. Ia menunduk dalam, dengan suara kecil ia menjawab, "apa salah kalau aku ingin menghabiskan waktu bersama sahabatku lebih lama lagi? Bukankah dua tahun ini kita selalu bersama di acara api unggun? Lagipula sebentar lagi kita lulus, Fuko-chan ... dan aku tak yakin kita bisa menghabiskan waktu berdua seperti ini nantinya..."

Kepalan tangan Yui semakin mengencang seiring rasa bersalah yang memenuhi dada. Apalagi ketika Fuko malah menepuk-nepuk kepalanya, tanpa tahu yang diucapkannya tadi bukanlah alasan yang sebenarnya. Kedua iris Yui kembali berkaca-kaca.

"Maaf karena kurang peka dengan perasaanmu, Yui-chan." Fuko meringis. "Aku juga merasakan hal yang sama kok. Masih ingin bersamamu lebih lama lagi..." Ia pun tersenyum riang sebelum melanjutkan, "soal itu, seandainya kita berakhir di universitas yang berbeda pun, aku janji akan selalu menghubungimu, kita bisa bertemu dan jalan-jalan seperti biasanya, atau sekadar makan es krim bersama. Jadi, jangan bersedih lagi, oke?"

Yui kini memandangi sahabatnya itu penuh harap. Mungkinkah Fuko akan memilih menonton api unggun bersamanya dan melupakan rencananya?

"Jadi—"

"Jadi tunggu aku di sini, oke? Aku akan menemukan Kuroko dengan cepat untuk menyatakan perasaanku padanya. Dan setelah itu, kita bisa lanjut menonton acara api unggun ini bersama-sama, seperti yang kauinginkan. Lagipula kau tahu sendiri aku akan patah hati, jadi aku membutuhkanmu untuk menghiburku," potong Fuko dengan ceria. Senyum penuh harap Yui pun luntur seketika.

Belum sempat Yui menahan Fuko untuk beranjak pergi, suara dua orang pembawa acara telah menarik perhatian mereka untuk mengamati panggung kecil itu. Yui cukup penasaran dengan kehebohan Momoi mengenai pengisi acara selanjutnya, juga Himuro—yang biasanya terlihat tenang—terlihat menyetujui perkataan Momoi. Bahkan pemuda itu berkata jika ia cukup penasaran dengan orang ini, mengingat reputasinya yang terkenal dingin dan sedikit anti sosial.

Kontan saja komentar itu langsung menarik perhatian Yui. Dari sudut matanya, Yui dapat melihat jika Fuko kembali duduk dan kini menatap panggung dengan penuh perhatian.

Dan ketika duo pembawa acara itu akhirnya memanggil nama orang yang akan tampil, Fuko dan Yui saling melempar pandang dan menatap tak percaya pada pemandangan di depannya. Lupakan soal konflik internal antar sahabat ... karena kali ini, musuh terbesar telah menampakkan taringnya tanpa mereka duga.

Aihara Yuki adalah nama yang diperkenalkan oleh kedua pembawa acara tadi. Dan gadis itu, yang kini berdiri seorang diri di atas panggung dengan sebuah gitar putih di tangannya, tengah tersenyum simpul pada pemuda yang menjadi sumber masalah mereka selama ini. Kuroko Tetsuya—yang sebelumnya menghilang entah ke mana—kini bersama siswa lainnya, ikut menambah kerumunan di sekitar api unggun itu. Dan pemuda itu kini membalas senyuman simpul Yuki dengan sebuah anggukan singkat. Dari jarak ini Yui tak bisa melihat jelas ekspresi pemuda itu, namun Yui berani bersumpah jika ia melihat pemuda itu tengah tersenyum kecil pada gadis berambut hitam di atas panggung.

Yui pun hanya bisa harap-harap cemas menantikan aksi selanjutnya dari gadis itu.

Himuro terlihat kembali ke panggung sembari membawa sebuah kursi yang diletakkannya di tengah-tengah panggung. Pemuda itu tinggal sebentar untuk mengatur letak microfon sementara Yuki duduk di kursi yang dibawakannya. "Ganbatte!" Bisikan semangat Himuro terdengar oleh semua orang melalui microfon yang sudah dinyalakan. Yuki mengangguk dan tersenyum singkat pada pemuda itu.

"Selamat malam semuanya." Suara Yuki mulai terdengar. Kelabunya terlihat menyapu kerumunan siswa sebelum tertuju pada satu titik. Gadis itu tersenyum lembut. "Lagu ini kupersembahkan untuk seseorang yang spesial." Sorakan heboh yang berisi dukungan kontan keluar dari kerumunan penonton seiring pengakuan berani gadis itu. Setelah semua mereda, petikan gitar dengan tempo lambat itu pun mulai terdengar mengisi keheningan malam. Tanpa ia sadari Yui meremas ujung roknya. Matanya tak lepas dari Yuki yang terlihat bersiap menyenandungkan intro lagu.

*Kututup telepon malam ini
Sesuatu terjadi untuk pertama kalinya
Sesuatu mendesak dalam hatiku

Entah apa...

Yui menggigit bibir, suara jernih itu membuatnya iri. Jika dalam keadaan normal ia pasti akan menyukai nyanyian Aihara Yuki. Ia akan terhanyut seperti penonton lainnya karena gadis itu bernyanyi dengan penuh perasaan. Tetapi keadaan saat ini tidak normal bagi Yui, karena ia tahu untuk siapa lagu itu dinyanyikan.

*Karena kemungkinannya

Kau memiliki perasaan yang sama denganku

Hanya saja (aku berharap) terlalu banyak

Terlalu banyak

Mungkin saja lagu itu bukan untuk Kuroko. Yui mencoba berpikir positif. Namun seketika pikiran itu dipatahkan oleh komentar tiba-tiba Fuko.

"Sial, Aihara melakukannya dengan sangat baik. Bisa-bisa sebelum aku nembak, Kuroko-kun sudah diambil duluan. Lihat saja arah pandangnya! Meski sempat menatap area lain namun ujung-ujungnya tetap mengarah ke Kuroko juga. Mana pakai senyum segala lagi!" Kata-kata Fuko menusuk jantungnya, meniup pergi segala asumsi rekaan yang coba Yui buat dalam kepalanya.

*Mengapa aku tetap berlari dari kenyataan?

Segala yang ada dalam pikiranku adalah tentangmu

Kau menghipnotisku

Begitu menyihir

Dan aku harus tahu...

Pemuda itu pasti tersenyum. Lihat saja, matanya sedari tadi tak lepas dari gadis itu. Akhirnya ... Kurokonya benar-benar direbut. Bukan oleh Fuko, tetapi gadis lain yang dengan jelas menyatakan perasaannya di depan orang banyak. Ah, ingin rasanya Yui menyumpal mulut yang melantunkan lirik-lirik menyebalkan itu.

*Pernahkah kau berpikir

Ketika kau sendirian

Segala yang mungkin bagi kita?

Ke mana ini akan mengarah?

Apakah aku gila atau sedang jatuh cinta?

Ini nyata atau hanya ketertarikan semata?

Bisakah kau bernapas, ketika aku melihatmu?

Apa kau menahan (perasahaan), seperti yang kulakukan?

Karena aku sedang mencoba, mencoba untuk pergi

Tapi aku tahu ketertarikan ini tidak akan pergi jauh

Pergi jauh

Hentikan! Hentikan! Hentikan! Yui ingin sekali meneriakkan kata itu. Ia ingin meraih tangan Kuroko dan menariknya pergi. Kuroko harus dijauhkan dari semua ini, jika tidak...

Apakah pernah terlintas dalam pikiranmu

Ketika kita sedang bersama,

Menghabiskan waktu, hey, apa kita hanya teman biasa?

Ataukah lebih? Ataukah lebih? (Ataukah lebih?)

Ya. Kalian hanya teman. Tidak lebih, dan tak akan pernah lebih dari itu. Genggaman Yui semakin kuat pada ujung rok. Sekuatnya ia menahan diri agar tidak melakukan sesuatu yang akan disesalinya nanti.

Lihat, ini adalah kesempatan yang kita miliki

Karena aku percaya kita bisa

Ini akan menjadi sesuatu yang bertahan

Bertahan selamanya, selamanya

Cukup sudah. Yui menegakkan tubuh, namun ternyata ia kalah cepat. Fuko sudah berdiri lebih dulu, bahkan temannya itu sudah setengah jalan menghampiri Kuroko. Ketika suara tepuk tangan membahana, Fuko dan Kuroko beranjak dari tempat itu. Mereka menuju pinggir halaman, menjauh dari keramaian.

Yui tahu apa yang akan terjadi beberapa menit lagi. Fuko akan melakukannya, pernyataan itu akan terucap dalam hitungan menit.

Untuk sesaat keraguan itu muncul, memecah pikiran Yui yang berkabut. Sebagai sahabat ia harus diam dan membiarkan Fuko melakukannya. Namun sebagai gadis yang juga menyukai Kuroko, ia tidak rela. Ia tidak mau hanya menjadi penonton sementara Fuko dan Yuki maju ke medan perang.

Ia harus menghentikan Fuko.

Dengan keyakinan baru dalam hatinya, Yui menggerakkan kakinya. Hanya cahaya obor yang temaram sebagai penerang langkah cepatnya kala menyusuri jalan yang dilalui Kuroko dan Fuko. Mungkin Fuko akan marah padanya, tetapi ia akan memikirkan hal itu nanti. Yang sekarang harus ia lakukan adalah menghentikan Fuko, lalu menjelaskan pada sahabatnya itu jika orang yang disukainya adalah Kuroko Tetsuya.

Yui hampir terlambat saat menemukan Kuroko dan Fuko. Mereka sudah berhenti dan terlihat Fuko sudah mulai berbicara.

"Kuroko-kun sebenarnya aku—"

"TUNGGU!"

Suara itu tak hanya keluar dari mulut Yui. Kepala Yui tertoleh ke suara yang terdengar lebih nyaring dan menggelegar dibanding miliknya itu. Ia membeku kala mendapati Kagami Taiga berderap melewatinya dan menghampiri Fuko. Tanpa kata pemuda jangkung itu meraih tangan Fuko dan menariknya pergi. Saat Fuko melewatinya, Yui sempat bersitatap dengan sahabatnya itu. Namun ia sungguh bingung ketika mendapati Fuko sama sekali tidak terlihat marah atau kebingungan melihatnya, sahabatnya itu justru tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya. "Ganbatte." Kata itu terucap tanpa suara dari mulut Fuko sebelum gadis itu menghilang di balik pohon sakura bersama Kagami.

.*.

Canggung. Itulah yang Yui rasakan sekarang. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan saat ditinggal berdua saja dengan Kuroko. Yui memutar tubuh, berniat ingin melarikan diri, tetapi rencananya tak berjalan seperti yang diinginkan. Kuroko menutup jalan di depannya, dan setiap kali Yui mencoba mencari arah lain pemuda itu langsung pasang badan untuk menghalanginya.

"Kurasa ada yang perlu kita bicarakan." Kata-kata Kuroko membuat Yui diam di tempat. Dengan terbata ia berusaha mengelak. "Ku-kurasa tidak ada, Kuroko-kun."

"O ya?"

Sapphire Kuroko mengarah tepat ke mata Yui, membuatnya bergerak mundur. "Yang ingin bicara denganmu adalah Fuko, bukan aku." Ia beralasan sementara jantungnya kian memacu.

"Lalu mengapa kau menghentikannya tadi?"

Yui gelagapan. "Tadi itu Kagami yang berteriak," sahutnya.

"Kau juga."

Skakmat. Yui tak bisa kabur lagi. Meski suaranya tertutupi Kagami, tetapi Kuroko mendengarnya. "Aku—itu bukan suaraku," dustanya.

Sudut-sudut mulut Kuroko terangkat membentuk senyum, dan jantung Yui melewatkan satu degupan daat melihatnya. Itu senyuman langka, yang hanya akan terlihat di saat-saat spesial saja. Ah, apakah sekarang adalah saat yang spesial bagi Kuroko. Bersamanya ... saat ini?

"Aku mengenali suaramu, Narahashi. Bahkan jika kau terus bersikeras itu bukan suaramu, aku akan tetap yakin itu milikmu."

Pernyataan itu ambigu, membuat berbagai asumsi muncul di kepala Yui. "Kuroko-kun, aku tidak mengerti apa maksudmu," ujarnya pelan.

"Kurasa kau cukup pintar untuk tahu apa maksud kata-kataku," sahut Kuroko.

Yui menggeleng pelan sebagai jawaban. Ia memang memiliki dugaan, tetapi ia terlalu takut memercayai pikirannya sendiri. Yui takut terhempas jatuh karena harapan yang terlalu tinggi.

"Katakan apa yang ada di pikiranmu," ujar Kuroko.

Mata Yui menyipit. "Kau mempermainkanku," tuduhnya sembari mundur. Kuroko segera menangkap lengannya, menghalanginya menjauh. "Tidak, aku hanya ingin kau jujur pada diri sendiri," tegas Kuroko.

"Apa yang kauinginkan dariku?" Yui frustrasi. Ia mencoba melepaskan diri, namun Kuroko menggenggam erat lengan kanannya. "Kau ingin aku mengatakan apa, Kuroko-kun?"

"Katakan kau menyukaiku."

Mata cokelat Yui membelalak ngeri. Bagaimana bisa Kuroko tahu tentang perasaan yang ia tutup rapat dalam hatinya.

"Kau akan jadi pembohong jika tidak mengakuinya, Yui-chan."

"Yu-Yui-chan?" Yui hanya bisa melongo saat Kuroko memanggilnya dengan namanya.

"Jangan bilang kalau kau lupa namamu sendiri."

Hanya gelengan kepala yang bisa Yui berikan sebagai jawaban. Ia bingung sekaligus bahagia, saat mendengar namanya meluncur dari mulut orang yang disukainya.

"Apa kau akan memasang tampang bodoh itu semalaman, atau mulai mengatakannya?" Kata-kata sinis Kuroko menyadarkan Yui bahwa dirinya tengah berada dalam situasi genting.

"Mengatakan apa?" Ia masih mencoba berkelit. Rasanya begitu memalukan jika ia harus mengakui perasaannya sekarang.

"Jika kau memang tidak ingin mengatakannya, aku pergi." Kuroko melepas tangan Yui dan berbalik.

"Tunggu, Kuroko-kun!" Kini giliran Yui yang menghalangi langkah Kuroko.

Tatapan datar dari mata biru Kuroko membuat kegugupan Yui meningkat. Sekali lagi ia meragu, tak yakin mampu mengucap kata yang berada di ujung lidahnya setiap kali melihat sosok pemuda bersurai biru itu. Haruskah ia melakukan ini?

Harus!

Jawaban itu tercetus mantap dan tegas. Yui menarik napas dalam hingga oksigen memenuhi rongga dadanya, dan menghembuskannya perlahan bersama tiga kata yang telah lama ingin ia ucap.

"Aku menyukaimu, Kuroko-kun."

Senyum itu kembali menghias wajah tampan Kuroko. "Nah, tidak sulit 'kan, Yui-chan."

.*.

Acara puncak hampir dimulai saat Yui dan Kuroko kembali ke area api unggun. Api merah yang besar menyalah di tengah-tengah puluhan pasangan yang bergandengan tangan. Dansa akan segera dimulai, beberapa anggota OSIS yang bertugas sebagai pengurus panggung terlihat mempersiapkan lagu yang akan diputar.

Yui mengawasi gadis-gadis yang duduk di pinggi lapangan. Tahun lalu dan tahun sebelumnya lagi, ia menjadi bagian dari mereka. Duduk bersisian dengan Fuko sembari bermimpi berdansa dengan orang yang disukai. Seketika ia teringat sahabatnya itu, rasa bersalah meremas hatinya. Ia ingin segera menemuinya dan mengucapkan permintaan maafnya.

"Kaminari akan baik-baik saja." Kata-kata Kuroko membuat kepala Yui tertoleh kepada pemuda biru itu.

"Dari mana kau tahu aku memikirkan Fuko?"

"Aku tahu kau." Hanya jawaban singkat, tetapi sungguh membuat hati Yui berbunga. "Ayo!" Dan kini Yui melayang kala Kuroko membawanya masuk ke barisan pasangan yang akan berdansa.

Namun keraguan pada tangan yang tengah menggandengnya masih ada. "Kau yakin, Kuroko-kun?" tanyanya pelan.

"Berhentilah bertanya dan terima yang terjadi," jawab Kuroko. "Dan berhentilah memanggilku Kuroko-kun."

Wajah Yui seketika memerah. "Lalu aku harus memanggilmu apa?"

"Tetsuya."

Rambut Yui bergoyang ketika ia mengangguk. "Tetsu-kun?"

"Itu lebih baik." Senyum Kuroko mengembang. Malam ini Yui merasa sangat bahagia karena begitu sering melihat senyuman di wajah Kuroko, dan kebahagiaannya akan terus bertahan karena setelah malam ini ia yakin akan terus melihat senyuman itu.

**Masih kudengar suaramu, ketika kau terlelap di sisiku

Masih kurasakan sentuhanmu di dalam mimpiku

Maafkanlah kelemahanku, tapi aku tak tahu kenapa

Tanpamu sangat sulit untuk bertahan

Nada-nada mengalun indah dari speaker yang dipasang di panggung. Kali ini tak ada siswa yang bernyanyi. Lagu yang diputar merupakan suara milik penyanyi asli, Cascada. Musik nan lembut dan suara penyanyi yang menawan menambah suasana romantis bagi pasangan yang berdansa di sekitar api unggun.

**Karena setiap kali kita bersentuhan, aku merasakannya

Dan setiap kali kita berciuman, aku bersumpah aku melayang

Bisakah kau rasakan jantungku berdebar kencang, aku ingin ini sampai akhir

Memerlukanmu berada di sisiku

Karena setiap kali kita bersentuhan, aku tak bisa bergerak

Dan setiap kali kita berciuman, aku terbang ke langit

Bisakah kau rasakan jantungku begitu...

Aku tak bisa membiarkanmu pergi

Ingin dirimu dalam hidupku

Yui terhanyut dalam suasana itu, namun ada satu hal yang ingin ia pastikan sebelum malam berakhir. "Tetsu-kun."

"Ya?"

"Kau belum mengatakan kalau kau menyukaiku."

Langkah Kuroko terhenti, Yui pun mengikuti, sementara di sekitar mereka pasangan lain masih mengayunkan langkah mereka.

"Tetsu-kun?" Yui benar-benar bingung dengan sikap diam Kuroko. Pikiran negatif sudah merasuki pikirannya saat tak kunjung mendapat kepastian.

Lalu kepala Kuroko bergerak. Mulutnya menghampiri telinga Yui, mengucap kata yang selama dua tahun Yui tunggu.

"Aku menyukaimu."

**Pelukanmu adalah istanaku, dan hatimu adalah langitku

Menghapus setiap tetes air mata tangisanku

Saat senang dan susah, kita dapat melaluinya

Kau membuatku bangkin saat kujatuh

.*.

fin

.*.

*lirik lagu Crush-David Archuleta yang diterjemahkan author.

**lirik lagu Everytime We Touch-Cascada yang diterjemahkan author.

.*.

Author's Note:

Ann:

Dedek~ Ini untukmu, anggap aja hadiah wisuda ya, Maso-chan. Hehehe...

Gimana menurutmu? Kakakmu ini baik kan ngasih ending bahagia selamanya untukmu? Jadi kan, ngasih aku figur Babang Kagami. Wkwkwk... *just kidding*

Udahlah segini aja, soalnya saya nggak tahu mau ngomong apa lagi. Untuk kalian yang baca, ripiu, fav, dan follow, makasih banyak ya~

Azalea:

Huehehe... Jadi gimana Aunty? Apa kadar kemasoanmu sudah tercukupi? xDD

Chapter kali ini lebih banyak dikerjain Ann sih, aku cuma nulis satu part sambil ngedit-edit doang. Jadi, silakan berterima kasih pada Ann yang baik hati soal ending bahagia fic ini! Kalau endingnya yang bikin aku sih, udah pasti... *ditimpuk rame2 sebelum nyelesaiin komentar*

G kok, bercanda, ending ini udah pasti hepi karena pas kita telponan buat ngobrolin plot alurnya emang fix gini. Aku g (belum) sekejam itu. Meskipun emang aku yang nyaranin judul fic yang ambigu ini. Muahahaha... #plaks

Bagi yang masih kepo soal nasib Kagami dan Fuko, juga identitas asli sosok misterius di samping Kuroko tadi, silakan pantengin akun asliku dan Ann dengan seksama ... karena nanti akan ada Only Hope yang diceritakan dari sudut pandang Yuki dan Fuko. Dan tentunya ini bakal ngebahas scene2 yang hilang dari fic ini. So, stay tune, okay?! :")))))

Review dari Guest akan dibalas di bawah ini:

mei-chan: Hallo mei-chan! Syukur deh kalau kamu suka ama cerita ini. :")))) Untuk pertukaran pasangan sih, maaf banget, tapi itu kemungkinan besar g bakal terjadi. OC kami setia sama pasangan masing-masing kok~ Lagian Yuki g doyan ama Bakagami. Wkwkwkw...

PS. Dapet pesan dari Fuko, katanya dia juga g bakalan pindah ke lain hati. Xd

Ini udah lanjut btw, makasih sudah mau mampir&review fic ini! :"D

.*.

Omake:

Langkah-langkah mereka memelan ketika tujuan semakin dekat. Keduanya terlalu enggan untuk mengakhiri kebersamaan mereka. Yui ingin malam ini tak berakhir, ia ingin Kuroko tetap di sisinya seperti saat ini.

"Rumahmu setelah belokan itu, kan?"

Dengan enggan Yui menjawab pertanyaan Kuroko. "Ya." Mereka melanjutkan langkah meski semakin pelan.

"Aku tak tahu apa yang harus kukatakan pada Fuko," ujar Yui.

"Sudah kubilang dia akan baik-baik saja," sahut Kuroko.

Yui menoleh, tatapan bingungnya menyapu kekasih barunya. "Dari mana kau tahu?"

"Entah malam ini atau besok, kau akan mendengar kabar baik darinya," ujar Kuroko tanpa menjelaskan lebih detail "kabar baik" yang ia maksud.

"Atau kabar buruk." Yui pesimis.

"Jangan terlalu dipikirkan," kata Kuroko sembari menepuk puncak kepala Yui. "Tunggu saja saat itu datang dan hadapi."

"Ya." Yui menyahut tanpa semangat. Di kepalanya masih berputar tentang reaksi Fuko setelah tahu tentang ia dan Kuroko. Tiba-tiba ia ingat ada seorang lagi yang perlu diberitahukan tentang hal ini. "Bagaimana dengan Aihara?"

Alis Kuroko terangkat, sepertinya pemuda itu tak menyangka nama itu akan disebut. "Kenapa dengan Yuki?"

"Kau dan dia ... kurasa kalian punya hubungan...," ujar Yui ragu-ragu.

"Ya, kami memang punya hubungan."

Yui mengarahkan iris coklatnya pada Kuroko dengan hati berdebar. "M-maksudmu?"

"Kami punya hubungan yang sangat dekat dan sudah terjalin lama."

Kata-kata Kuroko membuat Yui semakin kebingungan. Sekali lagi berbagai asumsi muncul di kepalanya, asumsi negatif tentang hubungan keduanya.

"Kami bersahabat."

Jawaban Kuroko tak membuat Yui lega. "Kurasa lebih dari itu," ujarnya ragu.

"Tidak mungkin lebih dari itu." Jawaban tegas Kuroko membuat keraguan Yui sirna. Entah mengapa ia yakin jika Kuroko mengatakan yang sebenarnya. Mungkin apa yang dipikirkannya selama ini tentang Aihara Yuki salah, jika benar pun...

"Lagipula..."

"Lagipula?" Yui memandang Kuroko bingung.

"Yuki menyanyikan lagu itu untuk orang di sampingku."

Kedua iris Yui melebar mendengar pengakuan tak terduga dari kekasih barunya itu.

T-tungu dulu! Yang ada di samping Tetsu-kun kan...

Ah, sudahlah. Tak perlu memikirkan semua itu malam ini, karena malam ini adalah milik mereka berdua.

.*.

See you in another story~

.*.