Disc : Naruto milik Mk-sensei

Story By : Pena Bulu

Rated : T

Pair : SasufemNaru

Warning : OOC, FemNaru, aneh, gajelas, membosankan, typo bertebaran, mudah ketebak, bakal ada sejarahnya dikit-dikit. Gak suka jangan baca daripada bosan, Fict dengan alur berantakan, EYD eror :v

Yoo! Gimana chapter kemarin xD trip di Pulau Weh emang nyenengin, dan emang harus siap budget hahaha, tapi sebanding sama yang didapet, karena disana pasti asdfghjkl senengnya. Ugh, saya pengen Makanannya lol. Terimakasih, juga buat yang udah review. Sebenernya saya gaada ide buat chapter 2 untuk bisa ke Indonesia tapi malah kefikir ff lain :v, alhasil saya malah ngetik ini buat selingan lol tapi Happy Reading! ^^

.

.

.

Naruto berjalan menelusuri koridor sekolahnya yang sepi. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai. Keringat meluncur turun dari menyandang marga Namikaze, tapi Naruto lebih menyukai naik bis untuk berangkat sekolah.

You can't understand a city without using its public transportation system. –Erol Ozan–

Sebuah quotes yang bagus untuk seseorang yang ingin mengerti sebuah kota. Oke, bukan itu yang akan dibahas disini.

Hari ini, Naruto datang lebih pagi dari biasanya sampai-sampai koridor sekolah masih sepi. Bahkan tempat duduk panjang yang menempel pada tembok yang terletak didepan kelas pun belum ada yang menempati. Biasanya, sudah ada segerombolan gadis bergosip ria.

"Hei, Naruto." sapa seorang gadis berambut pink yang sangat dia kenal. Seorang gadis kelas sebelah yang suka nyasar ke kelasnya.

"Oh, Hai Sakura." balasnya kikuk dengan senyum yang err...terpaksa.

"Tumben sudah datang?" Sakura berjalan beriringan dengan Naruto. Mereka tidak terlalu dekat satu sama lain. Yang Naruto tahu adalah Sakura itu teman kecilnya Sasuke dan mereka sering atau bahkan selalu bersama, rumah merekapun sebelahan. Hmm entahlah.

"Keberuntungan, bis lebih cepat datang hari ini." balas Naruto santai sembari mengangkat kedua bahunya acuh.

"Boleh aku titip ini untuk Sasuke?" tanya Sakura sembari menyerahkan bento dari kotak bambu.

Naruto mengernyit sesaat, antara bingung dan aneh. Kenapa tidak gadis itu menyerahkan sendiri. "Kenapa tidak memberinya sendiri?" Naruto mengangkat tangannya untuk menerima sekotak bento itu.

"Yeah, nanti siang kemungkinan aku sibuk. Biasalah masih ada tugas kelompok dan itu sudah deadline. Ero-sensei itu tak membiarkan kami liburan dengan tenang." keluh Sakura tidak terima saat waktu liburan semester kelas mereka malah diberi tugas. Bahkan materinya belum diajarkan. Alasannya sih supaya para siswa bisa mempelajarinya dahulu.

"Hm, baiklah." balas Naruto tersenyum lembut lalu menyimpan bento itu kedalam tasnya.

"Terimakasih. Aku duluan. Jaa ne." pamit Sakura sembari menepuk pundak kiri Naruto pelan. Naruto sendiri hanya menganggukkan kepala dan kembali mengulas senyum di wajahnya.

Naruto melangkah kearah taman. Didudukkan dirinya diatas rerumputan hijau dan menyandarkan punggungnya pada pohon besar. Dikeluarkannya sebuah ponsel berwarna hitam dari saku roknya. Tangannya dengan cekatan membuka akun sosial medianya. Mengecek apakah ada pemberitahuan atau mention di akun twitternya.

Jemarinya segera menekan tombol like ketika matanya menangkap sebuah postingan dari Tenten yang mengunggah foto mereka bertujuh saat di Pulau Weh, Indonesia. Naruto mengulas senyum mengingat liburan mereka tahun ini.

Tapi kini senyumnya berubah. Naruto tersenyum kecut mengingat kejadian diperahu waktu itu. Cepat-cepat Naruto menggelengkan kepalanya mengusir bayang-bayang itu. Ini masih pagi, mengacaukan mood dipagi hari itu...bukan ide yang bagus.

.

.

.

Naruto mengeluarkan sekotak bento dari dalam tasnya lalu berjalan kearah meja Sasuke yang berada di pojok belakang dekat jendela.

"Ini." Naruto meletakkan sekotak bento itu dihadapan Sasuke. Pemuda itu mengernyit heran dan melayangkan tatapan tanya pada Naruto.

Naruto memutar matanya malas lalu mendudukkan dirinya di kursi depan Sasuke. "Itu dari Sakura. Tadi pagi dia menitipkan padaku." jelas Naruto.

"Hn." balas Sasuke tak ambil pusing. Tangannya meraih sumpit yang terletak di atas bento tersebut, lalu membukanya. Sasuke terkekeh pelan ketika melihat bentonya yang berbentuk Rillakuma yang lucu, boneka favorit Sakura.

Naruto menatap Sasuke sebal. Dirinya berusaha untuk tidak peduli, tetapi tidak bisa. Rasa susu melon favoritnya pun terasa tidak menyenangkan bahkan hambar tak berasa saat melewati lidah kemudian tenggorokannya dan lalu terasa basah di–

"Wah." teriak Naruto reflek yang kemudian berdiri. Susu melonnya membasahi seragam bagian perutnya. Pantas saja susu melonnya tidak terasa.

"Dobe!" cibir Sasuke yang masih dapat didengar Naruto.

"Ck! Tidak usah berkomentar." balas Naruto lalu pergi meninggalkan Sasuke dan susu melonnya diatas meja Sasuke.

.

.

.

"Gara-gara Uchiha." cibir Naruto sembari menginjak pencetan kran air dibawah kakinya. Wastafel yang baik itu dengan diinjak bukan? Kalau kita memutar krannya dengan tangan lalu mencuci tangan dan lalu mematikan dengan tangan juga berarti sama saja bukan? Yang memegang kran air tidak hanya seorang bukan? Oke, saya kembali salah fokus. Dan bukan ini yang akan dibahas.

Naruto menangkupkan sebelah tangannya lalu memercikkan pelan dan mengusapkan pada seragamnya yang kotor.

"Teme cap pantat ayam sialan." gerutu Naruto tidak jelas. Tangannya menarik seragamnya kebawah hand dryer bermaksud untuk mengeringkannya. Tingkah konyol yang mirip dengan Mr. Bean.

Setelah dirasa cukup, Naruto segera meninggalkan toilet agar waktu istirahatnya tidak terbuang. Setelah ini akan ada pelajaran Bahasa Jepang dengan guru menyebalkan dan sukses selalu membuat mata mengantuk.

.

.

.

"Eh, kau tahu tidak. Kudengar si Uchiha Sasuke itu menyukai wanita yang lembut, cantik, manis, dan katanya juga akan menambah nilai plus jika bisa memasak." Naruto menghentikan langkahnya sebelum berbelok ke koridor. Dirinya diam sesaat berusaha mencuri dengar siswi yang sedang bergosip itu.

"Wah seharusnya kau mulai berdandan. Ubahlah gaya rambutmu."

Naruto melangkahkan kakinya perlahan menggeser posisi berdirinya untuk lebih jelas mendengarnya.

"Kita lihat saja, mulai besok aku akan belajar berdandan." lirih Naruto lalu kembali melangkahkan kaki jenjangnya dengan melompat-lompat ala anak kecil sehingga rambutnya berterbangan.

.

.

.

"Hei, Temari. Bisa kau ajari aku dandan?" bisik Naruto pada Temari ditengah-tengah jam pelajaran.

Temari membulatkan matanya tak percaya, rasa kantuknya pun mendadak hilang. "APA?" pekik Temari yang langsung mendapat teguran dari guru mereka. Seorang Naruto yang anti dengan dandan minta diajari cara berdandan? What the hell, dunia seolah jungkir balik.

"Apa otakmu terbalik?" tanya Temari ragu. "Aku tidak sedang bermimpikan? Kau? Kau minta diajari berdandan?" ucap Temari pelan entah senang atau terkejut tidak percaya.

"Yeah, semua orang bisa berubah nona." balas Naruto malas. Dia berharap respon Temari akan biasa saja. Tapi ternyata autis! Luar biasa, ini diluar perkiraan. Naruto seorang gadis tomboy yang tidak terlalu mementingkan penampilan dan dandan, tidak seperti gadis lain yang hanya hobi berdandan tapi berskill nol.

Dirinya terlalu malas untuk menorehkan warna-warni di wajahnya, membuat riasan mata, juga menempeli bulu matanya dengan bulu mata palsu. Hell no! Bulu mata Naruto sudah cukup lentik dan tebal. Tanpa eyeliner pun matanya sudah terlihat indah. Baginya, memoleskan seperti itu ke wajahnya untuk saat ini belum saatnya. Dirinya masih ingin terlihat seperti remaja biasa dengan wajah cantik natural dan tidak terlihat lebih dewasa daripada umurnya. Alasan sebenarnya sih ya tentu saja karena dia tidak bisa :D

Dirinya masih ingat saat melihat Ino berdandan. Gadis itu benar-benar telaten merias wajahnya sendiri dan membuat kesabaran Naruto habis karena lamanya menunggu.

"Ino, Tenten." ucap Temari pelan sembari menggeser tempat duduk Ino dan Tenten menggunakan kakinya. Yang diganggu pun menundukkan badannya lalu menolehkan wajahnya kebelakang.

"Ada apa?" tanya Ino mewakili.

"Ajari aku berdandan." ucap Naruto datar dan to the point.

"APA?!" pekik Ino dan Tenten bersamaan yang lalu menbekap mulutnya masing-masing ketika menyadari mereka masih pelajaran.

"Kalian sama saja." cibir Naruto kesal.

"Ada angin apa hingga Namikaze Naruto ingin berdandan?" tanya Tenten.

Naruto memutar matanya malas. "Ayolah, aku ingin terlihat seperti remaja lainnya." balas Naruto beralasan.

"Bukankah kau bilang tidak ingin berdandan karena ingin mencerminkan remaja cantik natural? Bahkan kau selalu menasehatiku untuk tidak selalu berdandan, Naruto?" balas Ino menggoda Naruto.

"Ah, kalian ini. Semua orang berubahkan? Setidaknya ajari aku sedikit saja." ucap Naruto memohon.

Ino, Tenten, dan Temari terkekeh pelan. "Baiklah, nanti sepulang sekolah mampir kerumahku bagaimana?" tawar Ino yang dibalas dengan anggukan Naruto.

.

.

.

"Dobe, kaa-san bertanya tentangmu." ucap Sasuke berjalan menghampiri Naruto.

"Hm? Kalau begitu sampaikan salamku padanya. Aku belum sempat mampir kerumahmu." balas Naruto sembari mengalihkan tatapannya kearah Sasuke sekilas. Gadis itu terlihat sibuk menyalin tulisan dipapan tulis putih itu.

"Hn. Mau ku antar pulang?" tawar Sasuke.

Naruto mengalihkan tatapannya pada Sasuke lalu tersenyum manis yang membuat matanya menyipit imut. "Terimakasih. Tapi, mungkin lain kali. Hari ini aku ada janji dengan Ino."

"Hn." balas Sasuke tak jelas lalu berjalan keluar kelas beriringan dengan Naruto.

Ino sudah sejak tadi keluar kelas, biasa bertemu dengan pacarnya. Ritual milik Ino sebelum pulang kerumah.

"Jaa ne Sasuke." pamit Naruto lalu berlari meninggalkan Sasuke ketika mata birunya menangkap sosok Ino yang melambaikan tangan padanya.

.

.

.

Naruto mendudukkan dirinya dikasur king size milik Ino. Bibirnya mengerucut kedepan, wajahnya ditekut sebal.

"Ku kira hanya aku dan Ino, tapi kenapa kalian juga ikut?" untuk kesekian kalinya, Naruto menyampaikan pertanyaan ini dengan nada sebal.

"Aku hanya penasaran saja bagaimana hasilnya." balas Temari enteng.

"Naruto, oke kita mulai tapi dari mana ya?" tanya bingung.

Naruto mengernyit bingung pasalnya bukankah dia yang minta diajari tapi kenapa malah Ino yang bingung.

"Kau ingin yang seperti apa?" tanya Ino lagi.

"Sederhana, tidak mencolok, tidak tebal, tidak lama." Balas Naruto cepat.

"Memakai bedak dan lipgloss saja lah, aku yakin Ino tidak berani ambil resiko. Yang paling sederhana tidak masalah bukan?" timpal Temari.

"Tambahan sedikit blush on tipis sepertinya tidak masalah. Untuk membuat wajahmu terlihat lebih fresh." tambah Tenten sembari mengangkat bahu.

Dengan cekatan, Ino mengoleskan lipglossnya berbentuk seperti pensil pada bibir Naruto, juga bedak tipis dan tambahan blush on yang sangat tipis untuk menjaga kesan natural.

"Nah, untuk blush on kau hanya perlu tipis, jangan gunakan terlalu tebal. Nanti malah terlihat seperti badut. Juga lipglossnya oh iya, bedaknya juga jangan tebal. Tipis saja, jangan seperti tembok." Jelas Ino yang disertai anggukan Naruto.

.

.

.

Naruto berdiri dihadapan cermin dikamarnya. Rambutnya acak-acakan. Dirinya bingung mau diapakan gaya rambutnya ini.

Naruto meraih sebuah sisir lalu merapikan rambutnya, digerai sudah biasa. Dikucir ekor kuda, nanti mirip dengan Ino. Tiba-tiba senyum Naruto berkembang. Dengan cekatan, Naruto membagi rambutnya sama rata dan membuat twins tail.

"Tapi ini seperti anak Tk." keluh Naruto lalu melepas semuanya. Matanya melirik sebuah jam dinding di kamarnya.

"Gawat, nanti aku bisa terlambat."

Tangannya menyisir rambutnya yang lurus bergelombang dan mengubah poni depannya menjadi kesamping. Tangannya menepuk pelan pipinya merapikan bedak tipis dan sedikit sapuan blush on. Selanjutnya, tangannya meraih sebuah lipgloss berbentuk seperti pensil dan berwarna pink. Tangannya menarik penutupnya lalu mengoleskan lipgloss itu pada bibirnya.

.

.

.

Selama di perjalanan menuju sekolah, banyak yang memberi tatapan kagum padanya. Gadis ini, benar-benar nampak cantik dengan make up sederhana.

Dengan bangga, Naruto mulai melangkahkan kaki-kaki jenjangnya masuk kedalam sekolah. Bisik-bisik kagumpun langsung terdengar menyapa telinganya.

"Wow, tak kusangka kau belajar lebih cepat dari yang kubayangkan." Ucap Ino kagum setelah Naruto mendudukkan diri di bangkunya.

"Apa ini berlebihan?" Tanya Naruto memastikan yang mendapat gelengan serempak dari ketiga temannya.

Tak lama setelah itu, bel berbunyi. Pagi hari mendapatkan sarapan geografi. Ah terimakasih wahai guru pembuat jadwal!

"Baiklah, PR bab tenaga endogen dan eksogen dalam pembentukan muka bumi silahkan dikumpulkan dimeja." seru seorang guru bermasker hitam itu yang lalu diikuti dengan satu siswa paling belakang mengumpulkan buku milik teman-temannya.

"Baiklah kita ulang sebentar materi yang sudah berlalu. Tenaga endogen adalah tenanga yang berasal dari dalam bumi yang menyebabkan perubahan pada kerak bumi. Kau nona bercepol dua beri contohnya!" lanjutnya sembari menyenderkan dirinya didepan meja guru.

Merasa ditunjuk, Tenten pun berdiri. "Contoh dari tenaga endogen adalah letusan gunung berapi." jawab Tenten sedikit ragu.

"Ya, baiklah silahkan duduk." guru bermasker bername tag Hatake Kakashi itu lalu mendekati papan tulis putih.

"Letusan gunung berapi juga berdampak membentuk permukaan bumi." jelas guru Kakashi.

.

.

.

Naruto kembali berjalan menuju meja Sasuke dan meletakkan sekotak bento titipan Sakura, lagi.

"Dari Sakura." ucap Naruto datar lalu duduk dihadapan Sasuke sembari menengguk orange jus yang dibawanya dari rumah.

Sasuke masih tetap tak bergeming, mata onyxnya masih menatap Naruto datar.

"Apa?" tanya Naruto kesal karena sedari tadi mendapat pelototan dari Sasuke.

Tangan Sasuke mencengkeram dagu Naruto pelan, mengamatinya sebentar. Ibu jarinya mengusap perlahan bibir Naruto menghapus olesan lipgloss disana.

"Sejak kapan kau bermake up?" tanya Sasuke masih belum melepaskan tangannya.

"Kenapa?" tanya Naruto berharap.

Sasuke kembali menarik tangannya, lalu mengalihkan perhatiannya pada sekotak bento dihadapannya. "Rasanya jadi ilfeel jika kau yang bermake up." Balas Sasuke tanpa dosa. Padahal Naruto sekarang sudah bersungut-sungut kesal.

"Ck! Teme menyebalkan." kesal Naruto lalu menendang kaki meja Sasuke dan pergi meninggalkannya dengan masih mengumpat kesal.

.

.

.

"Tidak memakai make up lagi?" tanya Ino ketika melihat Naruto sudah kembali ke gaya awalnya.

Naruto mengerucutkan bibirnya kesal. "Sasuke malah jadi ilfeel padaku." jawab Naruto lesu yang dihadiahi gelak tawa keras dari Ino.

"Apa?" sentak Ino ketika mendapati sebuah tatapan tajam mengarah padanya.

"Kau menyebalkan, Ino." Naruto memutar bola matanya malas dan melipat tangannya didepan dada lalu menyenderkan punggungnya di sandaran kursi. Hal apa yang akan lebih menyebalkan ketika ditertawakan tentang dandanan? Banyak, tapi nyatanya gadis itu saat ini jadi sensitif tentang dandan.

"Hey guys, ke mall yuk." ajak seorang gadis berambut permen kapas sebahu yang tiba-tiba nyelonong masuk ke dalam kelasnya.

"Aku tidak bisa. Aku ada janji, jadi aku akan pulang cepat." tolak Naruto halus.

Gadis yang kerap disapa Sakura itu memandang Ino penuh harap. "Ino, temani aku ya?" pintanya memelas.

"Maaf Sakura, tapi aku juga harus pergi. Temari sudah pulang duluan, dan Tenten hari ini tidak masuk, dia sakit." balas Ino sembari memberesi buku-buku sekolahnya.

"Yah, mau bagaimana lagi. Ya sudahlah kapan-kapan saja. Bye." ucapnya lalu pergi meninggalkan kelas Naruto.

.

.

.

Sesampainya dirumah, Naruto segera melesat masuk kedalam kamar mandi dan bersiap-siap. Setelah itu, dikenakannya kaos santai berwarna merah dipadukan dengan celana jeans selutu dan sepatu kets hitam. Diraihnya sebuah tas dan topi. Tangannya merapikan rambutnya yang dibiarkan terurai jatuh sebatas pinggang.

Naruto melangkah keluar gerbang setelah menitip pesan kepada penjaga. Malam minggu yang akan dihabiskan tidak dengan keluarganya. Gadis itu bersiul ceria menikmati jalan kakinya di pinggiran jalanan kota. Sesekali dirinya melemparkan senyum kepada orang yang berpapasan dengannya. Ah jiwa muda yang menyenangkan. Biarkan jiwa muda mu mengalir bagai air, manfaatkan masa mudamu mengukir kenangan dan pengalaman.

Naruto sampai pada sebuah rumah berpintu gerbang coklat elegan. Rumah bergaya tradisional Jepang yang indah. Tak perlu bergaya ala Eropa untuk menampilkan kesam mewah. Rumah tradisional Jepang di era modern yang semakin jarang menjadi keistimewaan tersendiri. Tapi tidak menampik kemungkinan bahwa keluarga pemilik rumah ini mempunyai rumah bergaya modern nyatanya, disamping itu terdapat sebuah bangunan mewah bercat putih.

Naruto memasuki halaman luas rumah tersebut. Bersih dan asri. Sejuk juga terasa dari pepohonan yang ada dihalaman depan rumah ini.

Terlihat seorang wanita paruh baya berambut panjang sedang sibuk menyirami bunga-bunga.

"Bibi!" Seru Naruto lalu menghampirinya.

"Naru-chan!" Teriaknya girang lalu mematikan kran air dan segera menghampiri Naruto dan memeluk gadis bersurai pirang tersebut.

"Bagaimana kabarmu?" tanyanya setelah melepas pelukan mereka.

"Seperti yang bibi lihat sekarang." balas Naruto diiringi dengan tubuhnya yang berputar dan senyum lima jari di wajahnya.

"Apa Sasuke ada?" sambung Naruto.

Uchiha Mikoto – Ibu Sasuke – terkekeh geli. "Jadi, kau kemari untuk bertemu Sasuke begitu?"

"Bukan begitu, tapi bagaimana ya?" balas Naruto sembari melipat tangan kanannya didepan dada untuk menopang tangan kiri yang jari telunjukknya menempel di dahi – Berpose sedang berfikir – padahal sebenarnya gadis itu sedang menutupi rona merah diwajahnya.

"Hahahaha, Sasuke ada didalam. Masuklah." balas wanita paruh baya tersebut disertai dengan tepukan pelan di pundak Naruto.

Naruto mengulas senyum lembut dan mengangguk sekilas sebelum berlari menuju rumah kediaman keluarga Uchiha.

.

.

.

"Eh? Itachi-nii?" seru Naruto kaget ketika melihat duplikat diri Sasuke dalam versi lebih dewasa.

Itachi tersenyum lalu mengacak surai pirang didepannya pelan. "Lama tak jumpa, Naruto."

Naruto bersungut sebal ketika rambutnya menjadi sedikit lebih berantakan. "Lebih baik tidak usah kembali jika hanya ingin mengacak-acak rambutku." balas Naruto sembari tangannya masih merapikan rambut blondenya.

"Apa Sasuke ada?" tanya Naruto setelah dirinya mendudukkan dirinya di sofa dan meraih sebuah majalah.

"Ada, dikamar sepertinya. Jadi kau kemari hanya untuk bertemu adikku?"

"Urusai! Eh Itachi-nii, kau pernah kemari?" tunjuk Naruto seraya menunjuk salah satu pantai di Brazil. Pantai dengan pasir putih yang nampak lembut juga dengan birunya air laut tersebut.

"Tentu saja, tentu saja belum. Hahaha–Aduh. Hentikan." balas Itachi yang lalau terganti dengan aduhan kesakitan dari Itachi akibat rentetan pukulan majalah dibadannya.

"Itachi-nii menyebalkan." Naruto terus memukulkan majalah itu hingga terlihat sedikit lecek lalu meletakkannya dimeja dengan sedikit kasar.

"Naruto?" seru sebuah suara baritone dari belakang mereka.

Naruto dan Itachi segera mengarahkan pandangannya pada seseorang yang saat ini sedang berdiri di tangga.

"Teme?"

"Hn." balas Sasuke acuh, lalu segera melangkah melewati Naruto.

"Hei Teme, kau mau kemana?" tanya Naruto ketika menyadari pakaian Sasuke rapi walaupun terlihat santai.

"Aku ada janji dengan Sakura." balas Sasuke sembari berlalu.

"Aku ikut ya? Aku bosan." rengek Naruto.

Sasuke menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Naruto. "Ck, tidak bisa, dobe." balas Sasuke lalu segera melangkah keluar rumah.

Naruto menampakkan perubahan air wajah yang jelas terlihat setelah Sasuke menjawab pertanyaannya.

"Ah, aku mengerti. Ternyata kau menyukai Sasuke ya?" goda Itachi ketika melihat perubahan ekspresi gadis didepannya.

Naruto segera mengarahkan pandangannya, dan menaikkan salah satu alisnya berpura-pura tidak mengerti.

"Tenang saja, masih ada aku. Sasuke tidak lebih tampan dariku." ucapnya narsis yang dihadiahi gelak tawa geli dari Naruto.

"Itachi-nii percaya diri sekali hahaha. Sudahlah tidak mungkin aku menyukai si teme itu. Berani bertanding video game denganku?" tantang Naruto.

Itachi mengeluarkan smirk andalannya dan matanya mengerling lambat. "Siapa takut."

.

.

.

TBC

Hoho chapter ini mengecewakan-.- aku bingung serius, tapi ya sudahlah. Next chapter udah travelling lagi, semoga enggak bosen ya hahaha xD

Buat Olla sarannya akan kupertimbangkah tapi kayaknya udah tau jawabanku hahaha xD

RnR please kasih saran buat next fic atau kritiknya ^^