YunJae Fanfiction /Secret Wedding/Part two
Pairing : Yunho x Jaejoong
Rate : PG – NC
Genre : Romance, Yaoi, hurt, … (maybe masih ada yg laen)
Length : two – …?
Author : ReaYoonJae
"Okay, kita sudah selesai. Kalau kau masih mau disini silakan saja, aku sudah akan pergi"kata Jaejoong beberapa saat setelah menormalkan pikirannya.
"Kalau mau pergi tinggal pergi saja, tidak perlu mengatakannya padaku.."jawab Yunho.
Oh God! Jaejoong mendengus kesal. Bagaimana mungkin Yunho bersikap seperti ini? Benar-benar menyebalkan. Dan tanpa bicara lagi, Jaejoong akhirnya beranjak dari duduknya kemudian dengan cepat melangkah meninggalkan Yunho yang tampaknya sama sekali tidak peduli.
…
Jaejoong tiba-tiba menghentikan langkahnya sebelum dia benar-benar jauh dari café itu. Dia memandang ke arah jendela tepat di mana Yunho masih duduk dengan manis di sana. Pria itu tampak sedang mengobrol lewat ponselnya. Dari tempat Jaejoong berdiri, dia dapat melihat senyuman Yunho terukir dan ternyata Yunho juga sedang memandang ke arahnya. Jaejoong mengerutkan keningnya, agak tidak mengerti mengapa Yunho tersenyum begitu. Sampai akhirnya Jaejoong menyadari bahwa senyuman itu sama sekali tidak tulus tapi berupa seringaian. Lagi-lagi Jaejoong dibuat kesal dan akhirnya dia balik lagi untuk menemui Yunho. Rasanya masih ada yang perlu dia sampaikan pada pria tampan itu.
Tampak dari kejauhan Yunho sama sekali tidak menyadari akan kehadiran Jaejoong. Pria tampan itu dengan santai mengakhiri obrolannya dengan seseorang ditelepon, sesaat meletakan ponselnya ke meja. Yunho masih tidak menyadari hingga perlahan Jaejoong sudah berdiri tepat di depan mejanya.
"Hei kau.. kenapa kau sombong sekali?"tanpa basa-basi Jaejoong langsung mengutarakan apa yang ingin dia sampaikan pada Yunho. Yah, dia memang tidak senang dengan kata-kata Yunho yang terkesan sangat sombong tadi, dan juga tawa mengejeknya itu.
Yunho yang baru saja akan meneguk sisa kopinya jadi terhenti kemudian dengan kaget menatap pada Jaejoong. "Aku?"tanyanya, seolah kebingungan dan tentu saja terkejut.
Jaejoong mengarahkan jari telunjuknya pada Yunho, membuat gerakan menunjuk-nunjuk pria itu.
"Ya kau, memangnya siapa lagi?"ujarnya pula tanpa menghiraukan suara besarnya yang mungkin saja sudah menggangu pengunjung yang lain.
"Ternyata kau benar-benar sudah gila. Apa-apaan kau? Turunkan jarimu itu.."balas Yunho penuh penekanan pada kalimat terakhir. Sungguh dia paling tidak suka saat orang lain bicara dengannya dan menunjukan sikap yang sekarang Jaejoong tunjukan. Apalagi dengan jari itu.
Tapi tunggu.. Jari..
Yunho mengamati jari manis Jaejoong yang tersemat sebuah cincin. Sepertinya begitu familiar dengan cincin itu. Yunho terus mengamati seraya berpikir sampai mata kecilnya terbuka lebar. Itu, bukankah itu cincinnya? Lalu mengapa ada di jari Kim Jaejoong?
"Kim Jaejoong, kenapa cincinku sampai ada padamu?"
Jaejoong tersentak kaget. Emosi yang tadinya cukup tinggi akhirnya mulai mereda berganti dengan kebingungan. Dia kemudian melihat pada jari-jarinya. Yah, dia juga baru menyadari ada cincin asing di jari manisnya. Apa-apaan ini.
"Pasti karena kekonyolan itu.."gumam Yunho.
Jaejoong masih diam, tiba-tiba tak ada kata untuk membalas ucapan Yunho. Dia juga membenarkan hal itu, semua ini karena kebodohan mereka.
"Cepat kembalikan cincinku.."ucap Yunho sambil menyodorkan tanganya, menanti Jaejoong untuk memberikan cincinnya kembali.
Jaejoong tersenyum kecut.
"Kau pikir aku sudi untuk memakainya? kalau waktu itu bukan karena mabuk cincin ini tidak akan pernah berada di jariku.."katanya.
"Kalau begitu cepat sini.." Yunho kembali meminta dengan menggerak-gerakan tangannya.
Tatapan aneh, senyuman aneh, dan gaya Yunho yang sombong itu membuat Jaejoong sangat kesal. Dia kemudian melepaskan cincin itu dari jarinya, namun naas cincin itu tidak mau lepas. Apa cincinnya yang kekecilan? Atau jarinya yang kebesaran? Jaejoong jadi bingung sendiri, tapi mengapa bisa masuk saat dipasangkan?
"Mana.."Yunho terus menuntut.
"Cincin ini tidak mau lepas.."
"Apa kau tidak bisa memberi alasan yang lebih masuk akal? Mana ada cincin yang tidak mau lepas, bilang saja kau tidak mau melepaskannya.. kau ini.. dasar pembohong"
Jaejoong melebarkan matanya dan menatap tajam pada Yunho.
"Apa? Apa katamu?"
"Ya, kau pembohong, jadi berhentilah bertingkah cincin itu tidak mau lepas dari jarimu.."
"Asal kau tahu, Jung Yunho! Aku sangat membencimu…"
"Bagus kalau kau membenciku, karena aku juga sama. Jadi sekarang cepat kau lepaskan cincin itu"
Jaejoong terus berusaha, tapi entah mengapa cincin itu tetap tidak mau lepas. Jaejoong akhirnya menyerah, jadinya putus asa, juga kesal dengan wajah Yunho yang tersenyum sinis seolah sedang meremehkannya.
"Aku akan memotong jariku biar cincin sialanmu ini lepas.."ujar Jaejoong setelah beberapa saat terdiam. Matanya masih memandang tajam pada Yunho.
Terdengar tawa Yunho setelah itu.
"Oke, kabari aku jika jarimu sudah kau potong biar aku akan mengambil cincinku"
"Mwo?"
"Wae? Bukannya tadi kau mau pulang? Pulang saja dan jangan lupa kabari aku kalau kau telah memotong jarimu. Okay?!"
Jaejoong membuang nafasnya berkali-kali. Sungguh dia sangat kesal, benci pada Jung Yunho. Tanpa pikir panjang lagi Jaejoong langsung berlalu dari hadapan Yunho dan kali ini tanpa menengok lagi.
Sementara Yunho hanya memandangi kepergiaan Jaejoong dengan santai seolah tidak ada artinya sama sekali, dan memang seperti itu. Lagi-lagi Yunho harus mengutuk dirinya karena telah menikah dengan pria itu. Yunho akhirnya meneruskan kegiatanya yang tertunda tadi. Dia mengambil lagi cangkir kopinya, tapi sebelum dia mendekatkan cangkir itu ke mulutnya, Yunho mendapati ada benda asing di jarinya.
Sebuah cincin.
Dan Yunho tahu cincin itu punya siapa. Sekarang lengkaplah sudah, mereka memang pasangan yang telah menikah dengan saling bertukar cincin.
"Mengapa cincin sialan ini tidak bisa lepas? "
Jaejoong masih tampak kesusahan untuk melepaskan cincin milik Yunho dari jarinya. Setelah kembali ke apartmennya, hal inilah yang pertama kali dia lakukan. Melepaskan cincin yang dia sebut sialan tadi. Jaejoong terduduk di salah satu sofa pada ruang tengah apartmennya. Karena frustasi dengan cincin itu, akhirnya Jaejoong berhenti untuk terus mencoba. Dia menatap cincin itu sekali lagi.
"Apa aku harus memotong jariku?"
" Tidak mungkin"
Jaejoong menggeleng-gelengkan kepalanya. Tentu saja saja dia tidak akan berbuat senekat itu demi sebuah cincin agar bisa lepas dari jarinya.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Terdengar suara seseorang dari balik pintu kamar. Jaejoong segera menolehkan wajahnya pada orang itu – Kim Junsu. Sepupuhnya ini memang baru saja tiba semalam dari Korea. Jaejoong juga tidak tahu ada apa yang menyebabkan Junsu datang, dan Jaejoong berharap kedatangan Junsu bukan karena desakan orangtuanya.
"Oh, kau bisa bantu aku? Cincin ini tidak bisa lepas.."kata Jaejoong setelah Junsu sudah duduk di sebelahnya.
Sepupuhnya itu mengerutkan keningnya kemudian melihat pada jari Jaejoong.
"Tidak mungkin aku memotong jariku kan?"Tanya Jaejoong lagi.
Junsu tiba-tiba tertawa. Perkataan Jaejoong terdengar sangat aneh dan bodoh.
"Yah, kau bodoh atau apa? Mengapa harus memotong jari untuk melepaskan satu cincin? Bagaimana kalau setiap jarimu ada cincin dan tidak mau lepas, lalu kau berpikiran akan memotongnya semua?" ujar Junsu masih seraya tertawa-tawa.
Jaejoong mendengus kesal. Mengapa semua orang tampak menyebalkan di matanya? Lagi-lagi Jaejoong harus mengutuk dirinya, mengutuk kecerobohannya beberapa hari lalu. Jika dia tidak mabuk, maka tidak ada hal konyol seperti ini.
"Kau mau bantu atau tidak?"
Tawa Junsu semakin melebar.
"OMG Jaejoong, lagi-lagi aku harus bilang kau bodoh.."
"Apa?"
"Tinggal kau lumuri saja jarimu dengan sabun cair, atau minyak, sudah pasti cincin itu lepas.."
Jaejoong yang semula mulai emosi dengan tawa dan kata-kata Junsu yang terus menyebutnya bodoh, sekarang jadi terdiam. Benar juga kata Junsu. Mengapa dia bisa sebodoh ini? Bahkan sekarang dia harus mengakui bahwa dia memang bodoh.
Lama terdiam, Jaejoong akhirnya beranjak dari duduknya, dan sebelum dia melangkah ke kamar mandi, dia menatap pada Junsu.
"Yah, aku tahu itu, hanya saja aku ingin melepaskannya sendiri.."katanya pula.
Junsu memilih diam agar tidak memperpanjang masalah. Pria manis ini tahu bahwa sepupuhnya ini tidak akan pernah mau mengalah. Beberapa saat kemudian Jaejoong kembali dengan wajah penuh kelegaan. Dia langsung menghambur duduk di sebelah Junsu.
"Akhirnya.."ujar Jaejoong dengan wajah penuh kemenangan seolah baru saja menang lotre.
Junsu mengamati Jaejoong, jadi agak aneh juga melihat tingkah sepupuhnya itu yang terkesan terlalu berlebihan hanya karena sebuah cincin berhasil lepas dari jarinya.
"Cincin baru ya? Coba kulihat.. " tanpa menunggu Jaejoong bicara, Junsu langsung menyambar cincin itu dari tangan Jaejoong. "wow bagus sekali.."komentarnya.
Jaejoong memutar matanya. Dalam otaknya terus mencetak kata-kata 'apa Junsu sudah buta?'
"Bagus apanya? Itu cincin sialan sama seperti pemiliknya yang juga sialan"ujarnya, benar-benar malas menanggapi keterkaguman Junsu pada cincin itu.
Junsu meletakan cincin itu ke meja, dia memposisikan tubuhnya menyamping untuk lebih leluasa melihat Jaejoong.
"Eh? Jadi ini bukan milikmu?"tanyanya.
Jaejoong terdiam, seolah sadar bahwa dia baru saja mengatakan sesuatu yang mungkin saja akan membuat Junsu terus memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Memangnya apa yang barusan kukatakan?"Jaejoong balik bertanya, wajahnya dibuat-buat seolah tidak ingat lagi dengan ucapanya tadi.
"Cincin sialan sama seperti pemiliknya yang juga sialan"sahut Junsu.
"Aku tidak berkata cincin itu bukan miliku kan?"
"Jadi kau sedang mengatai dirimu sialan? O.o"
"Ah.. eh.. itu.. maksudku.. emm"
Jaejoong jadi bingung sendiri, tidak tahu harus menjawab kata apa pada Junsu. Dan tampaknya dia semakin kelihatan bodoh.
"Kenapa kau? Sejak aku datang, aku melihat kau tampak sangat aneh.."
Jaejoong menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak ada apa-apa.."
"Apa terjadi sesuatu ?"
"Ne?"
"katakan padaku"
"Apa? Tidak ada yang terjadi.."
"Lalu mengapa kau gugup begitu?"
"Yah.. lalu aku harus tertawa? Aku mau tidur.."
Junsu tidak membalas lagi, dan Jaejoong juga akhirnya pergi ke kamarnya. Meskipun Junsu merasa ada yang aneh dengan kakak sepupuhnya ini, tapi Junsu tidak mau menebak yang tidak-tidak. Mungkin saja Jaejoong hanya terbebani dengan perjodohannya. Ah, mengingat tujuannya datang ke Paris, Junsu jadi tidak tegah dan merasa bersalah pada Jaejoong. Yah, dia memang sengaja diutus oleh paman dan bibinya untuk membawa Jaejoong kembali ke Korea.
Secret Wedding
Tidak terasa pernikahan konyol antara Yunho dan Jaejoong sudah berjalan selama dua bulan. Akan tetapi keduanya belum bertatap muka sejak pertemuan di café itu. Jangankan untuk bertemu, tahu 'pasangan' mereka sekarang berada di mana, keduanya sama sekali tidak ambil pusing. Baik Yunho mapun Jaejoong sebelumnya telah membuat kesepatakan bahwa tidak ada yang boleh membocorkan rahasia gila tentang pernikahan mereka pada siapapun.
Tentu saja harus dirahasiakan. Apa jadinya nantinya jika orang-orang tahu bahwa Yunho dan Jaejoong terlibat pernikahan saat mereka selesai merayakan kelulusan? Tidak bisa dibayangkan bagaimana reaksi orang-orang terdekat mereka nantinya. Karena itu mereka telah menyepakati untuk tidak membicarakan hal itu lagi. Satu hal juga yang mereka sepakati adalah jika keduanya bertemu secara tidak sengaja, tidak perlu ada basa-basi dengan saling menegur.
Namun bagi Jaejoong terlalu berlebihan jika mereka sampai tidak bertegur sapa jika bertemu. Jaejoong menggerutu dalam hati. Yah, memang kesepatakan telah dibuat tapi untuk yang satu itu adalah murni dari suara Yunho. Jaejoong memang tidak mempermasalahkannya, namun baginya itu terlalu mengada-ngada. Menurutnya justru akan tampak aneh jika kelak mereka bertemu kemudian tidak akan saling menegur. Tidak begitu rumit jika hanya dia dan Yunho yang berpapasan, tapi bagaimana kalau ada orang lain? Yoochun misalnya? Tentu saja mereka tidak bisa bertingkah seolah tidak kenal.
….
Jaejoong menghempaskan tubuhnya di ranjang begitu dia masuk ke kamarnya. Yah, sekarang Jaejoong sudah kembali ke Korea. Dan dia baru tahu juga kedatangan Junsu ke Paris waktu itu karena keinginan orangtuanya agar dia tidak berlama-lama di sana dengan begitu rencana untuk menikahkannya dengan puteri seorang kolega keluarga mereka akan cepat-cepat terlaksana.
Gerutuan Jaejoong semakin menjadi kala mengingat rencana gila kedua orangtuanya. Dia bahkan sudah sebesar ini, sudah tahu mana yang baik dan mana yang tidak, dia sudah bisa membedakan apa yang perlu dan tidak perlu, tapi mengapa justru untuk hal yang sebenarnya sangat serius, orangtuanya begitu egois dengan tidak memberinya pilihan? Yah, dia bisa mendapatkan seorang gadis tanpa orangtuanya campur tangan.
"Joongie…"
Jaejoong langsung mengubah mimic sebalnya begitu ibunya mendorong pintu kamar dan melangkah mendekatinya yang tengah berbaring.
"Mama pikir setelah kau tinggal bertahun-tahun di Paris, mama akan menemukan putera mama yang mandiri dan tidak pemalas.."ucap ibunya – Kim Yoori.
Jaejoong mengerutkan keningnya, agak tidak mengerti dengan ucapan ibunya barusan. Pemalas? Bukankah dia tipikal orang yang rajin? Dan ibunya sangat tahu itu, lalu mengapa sekarang berkata lain?. Jaejoong pun mendudukan tubuhnya dengan menyandar di kepala ranjang. Dia memandangi ibunya dengan tatapan seolah sedang memprotres.
"Lihat saja sekarang, kau baru datang, tapi tidak menyapa mama dan papa malah langsung tidur-tiduran.."lanjut ibunya. Kim Yoori dan suaminya memang tidak sempat menjemput Jaejoong di airport dan hanya menyuru Suyoung.
"Ma, bukan berarti aku pemalas kan? Aku hanya ingin beristirahat.."selah Jaejoong.
"Haa, sifat keras kepalamu masih saja ada.. Ohya, kalau saja kau membawa seorang gadis kemari, mungkin saja mama akan membatalkan perjodohanmu.."
Jaejoong mengusap wajahnya. Ini yang tidak dia sukai saat kembali ke Korea, yaitu diperhadapkan dengan 'calon istri'.
"Ma, aku pasti akan mendapatkannya dengans segera, jadi tolong jangan melanjutkan rencana kalian.."ucap Jaejoong.
"Buktinya kau masih sendiri sampai saat ini.. Joongi ah, usiamu tidak muda lagi, sebaiknya kau memikirkan masa depan.. puteri keluarga Lee adalah gadis yang cocok denganmu. Dia sangat cantik. Mama yakin kau tidak akan kecewa.."
"Aku tetap tidak mau, aku ingin mencari calon istriku sendiri. Lagipula.. aku.. sudah.."Jaejoong jadi menggantungkan kalimatnya. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia telah menikah, terlebih dengan seorang pria menyebalkan, dapat dipastikan ibunya akan pingsan.
"Sudah?"Tanya ibunya, jadi penasaran juga.
Jaejoong menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Ania.. pokoknya aku tidak mau dijodohkan dengan puteri keluarga Lee atau dengan siapapun pilihan mama dan papa.."
"Lihat saja dulu, kau belum bertemu dengannya.."
"Okay, aku akan bertemu dengannya. Tapi mama dan papa harus janji, jika aku tidak tertarik maka jangan paksa aku untuk menikah denganya.."
"Mama janji, tapi entah bagaimana dengan papa mu.."
Jaejoong mendengus sebal dan ibunya malah tertawa.
"Oh, mengapa mama dan papa tidak mencarikan calon suami untuk Suyoung noona? Noona saja belum menikah, tapi mengapa aku harus?"
Kim Yoori beranjak dari duduknya dan melangkah ke depan jendela. Dia melihat ke luar setelah itu kembali memandangi wajah puteranya. "Itu karena kau satu-satunya anak lelaki dikeluarga ini.. hmmm.. biarkan kakakmu itu, entah apa yang ada di pikirannya. Kau tahu? Sebenarnya dia hampir menikah setahun yang lalu, tapi satu bulan saat pernikahannya akan digelar, dia malah membatalkannya.. mama tidak mengerti dengan isi otaknya.. "ucap Kim Yoori, jadi kesal dengan sikap puteri bungsunya itu.
"Noona sudah menceritakannya padaku, ma. Pria itu rekan bisnin papa kan? Jelas saja noona tidak mau.." Jaejoong juga beranjak dari ranjang kemudian duduk di sebuah sofa di dekat jendela. Ibunya juga ikut duduk di situ.
"Aishh.. kau.."
"Noona bilang dia tidak mau menikah dengan ahjussi.."
"Mwo?"
"Yah, bukannya pria itu sudah berumur? 45 tahun kan?"
"Aigoo, sejak kapan usia menjadi penghalang,huh?" Kim Yoori menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak terima dengan perkataan Jaejoong tentang pria berumur barusan.
"Usia memang tidak menjadi penghalang tapi jika pria itu tidak dicintai noona, maka itu merupakan penghalang…"Jawab Jaejoong.
"Jaejoongie.."
"Sudahlah ma, jangan terus menjodohkan aku, menjodohkan noona. Tunggu, jangan-jangan puteri keluarga Lee itu seorang ahjumma?" Jaejoong bergidik ngeri atas tebakannya barusan.
"Mwoya?"
"Aku hanya menebak saja.."
"Kalau kau bertemu dengannya, kau pasti akan berterima kasih karena mama dan papa sudah begitu baik mencarikan calon istri yang cantik untukmu.."
"Kita lihat saja nanti.."
Kim Yoori harus mengalah saat ini, dia menghela nafas setelah itu. Dia yakin puteranya akan menyetujui perjodohan ini karena puteri rekan bisnis mereka itu sangat cantik. Kim Yoori menepuk pundak puteranya itu sesaat kemudian beranjak dari duduknya dan melangkah keluar dari kamar Jaejoong.
Sementara Jaejoong tersenyum puas. Janji adalah janji. Sudah pasti dia tidak akan tertarik, dan ibunya harus menepati janji dengan tidak lagi menojodohkannya.
club
Setelah beristirahat dan bertemu dengan satu-persatu keluarganya, Jaejoong akhirnya menepati janji untuk menemui Yoochun di klab. Sahabatnya itu sudah duduk di conter bar dengan segelas alcohol di atas meja. Jaejoong menepuk pundak Yoochun kemudian duduk di sebelahnya.
"Sudah lama?"tanyanya pula.
Yoochun menggelengkan kepala lalu memberikan segelas vodka pada Jaejoong, dan Jaejoong langsung meneguknya sampai habis.
"Sebenarnya aku mau mengajak sepupuhku tapi dia mendadak ada pekerjaan.."Jaejoong kembali bersuara. Dia memang ingin Kim Junsu ikut, tapi sayang sepupuhnya itu ada pekerjaan lain. Jaejoong tak habis pikir bahkan Junsu tidak memiliki waktu yang banyak untuk bersenang-senang. Inilah salah satu keadaan yang tidak dia sukai dari keluarganya. Saat anggota keluarga sudah bergabung dengan perusahaan keluarga, maka waktu bersenang-senang tidak sebanyak dulu. Jaejoong jadi tidak ingin kelak harus mengikuti Junsu.
"Sepupuhmu yang datang ke Paris waktu itu?"Tanya Yoochun.
Jaejoong menganggukan kepalanya kemudian meminta segelas lagi pada bartender. Kepalanya benar-benar dipusingkan dengan perjodohan. Mengapa dia bahkan tidak diberi kesempatan semenit saja agar kepalanya jauh dari hal-hal membosankan?
"kenapa dia lama sekali?"
"Siapa?"
"Yunho, aku sudah meneleponnya tadi. Dia bilang dalam perjalanan"
Jaejoong jadi terhenti ketika gelas kedua akan menyentuh bibirnya. Dia meletakan gelas itu ke atas meja, kemudian memutar posisi duduknya menghadap Yoochun.
"Siapa?"Jaejoong mengulang pertanyaannya dan berharap jika dia salah mendengar.
Tapi..
"Yah.. kenapa kau lama sekali, huh?"
Pendengarannya ternyata tidak salah. Benar yang ditunggu Yoochun adalah Jung Yunho si pria sombong nan menyebalkan. Yunho hanya menatap malas pada Jaejoong kemudian duduk di sebelah Yoochun. Pria ini juga memesan alcohol yang sama dengan yang diminum Yoochun dan Jaejoong.
"Ada apa dengan kalian? Kulihat kalian seperti bermusuhan. Bukannya kalian sudah akrab sejak di klab waktu itu?"Yoochun langsung bertanya begitu dia menangkap kejanggalan dari padangan Yunho untuk Jaejoong barusan.
"Tidak mungkin aku akrab dengannya.."sahut Yunho.
Jaejoong memicingkan matanya. Apa yang Yunho katakan barusan? Sungguh sangat sombong. Dia benar-benar tidak tahan meski baru semenit Yunho berada di dekatnya. Bagaimana jika sejam? Jaejoong pasti akan mati kesal.
"Aku mau ke toilet.."
Yoochun mengangguk sedangkan Yunho hanya memalingkan wajahnya tidak mau bertatapan dengan Jaejoong.
"Ada apa dengannya? Sejak dari Paris dia jadi aneh.. apa kau tahu apa yang terjadi padanya?"
"Kau saja temannya tidak tahu, apalagi aku?"
"Kupikir kalian sudah berteman.."
"Aku tidak mungkin berteman dengannya.."
"Sebenarnya ada apa diantara kalian? Mengapa kalian bermusuhan, huh? Terutama kau.. waktu kuliah kau sering sekali mengatainya.."
"Aku hanya merasa tidak cocok untuk berteman dengannya.."
"Mengapa?"
"Apa harus ada alasan?"
Yoochun menganggukan kepalanya jadi tidak mau berbedat lagi. Yunho memang keras kepala dalam hal apapun, meski pada hal sepele sekalipun. Biarlah, berteman atau tidak itu urusan mereka berdua. Yoochun melanjutkan lagi menghabiskan vodka yang barusan dituangkan bartende, dan Yunho juga melakukan hal sama..
Tiba-tiba bunyi ponsel Yoochun terdengar ditengah-tengah bisingnya klab itu. Yoochun memang sengaja menyetelnya lebih keras jika dia sedang berada di keributan. Mata kecil Yoochun seketika melebar, dan wajahnya berubah gugup ketika mendapati nama itu di layar ponselnya. Cukup lama setelah menormalkan debarannya, akhirnya dia menekan tombol hijau kemudian mendekatkan ponsel itu ketelinganya.
"Yoochun ah.."
DEG..DEG..DEG
Degupan jantungnya begitu kuat. Suara ini, sudah bertahun-tahun dia tidak mendengarnya..
"Yoochun ah..?"
"Ne…" akhirnya satu kata keluar dari mulut Yoochun.
"Aku baru tiba dari Jepang, dan sekarang ada di depan rumahmu. Apa kau ada di dalam?"
"Ne?"
"Aku ingin menemuimu.. tapi jika kau tidak ada dirumah, aku akan pergi, mungkin lain kali saja aku.."
"Jangan pergi, aku akan segera kesana..tunggu aku, eoh?"
"Okay.."
Klik…
Yunho memandangi Yoochun dengan serius, agak penasaran juga dengan siapa yang menelepon sahabatnya itu. Dan yang paling membuat Yunho penasaran adalah mimic wajah Yoochun yang begitu senang begitu mengakhiri pembicaraannya.
"Siapa?"
"Changmin.."
"Eh?"
"Dia menungguku di rumah.. maaf aku tidak bisa menemanimu di sini.. "
"Aku mengerti, sudah sana cepat temui dia.."
Yoochun menganggukan kepalanya kemudian beranjak dari duduknya. "Oh, katakan pada Jaejoong aku sudah pergi.."
Yunho balas menganggukan kepalanya.
Selang beberapa saat Jaejoong kembali dari toilet dan dia begitu terkejut ketika matanya menangkap hanya ada Yunho di sana. Kemana perginya Yoochun? Jaejoong lagi-lagi harus mendengus kesal mengingat dia akan berdua saja dengan pria sombong itu. Meski ini tempat umum tapi mereka akan duduk menyebelah nantinya.
"Sebenarnya aku tidak ingin bicara denganmu, hanya saja aku tidak melihat Yoochun…"ucap Jaejoong setelah dia duduk.
Yunho memasangkan api ke rokoknya kemudian tanpa melihat Jaejoong, "dia sudah pulang.."jawabnya.
Jaejoong memutar matanya. Apa-apaan gaya bicaranya itu? bagaimana bisa dia bicara begitu sombong tanpa melihat lawan bicaranya?
Yunho membuang abu rokoknya ke asbak. "Oh.. apa kau sudah memotong jarimu?" tanyanya dan lagi-lagi tanpa melihat pada Jaejoong.
"Untuk apa aku memotong jariku? Kau pikir aku sudah gila?"ujar Jaejoong.
Akhirnya Yunho memutar kepalanya, untuk memandangi pria itu.
"Lalu mana cincinku?"tuntutnya.
Yunho melirik ke jari Jaejoong dan ternyata cincinnya masih tersemat di sana.
"Omo.. Kim Jaejoong..! kau masih memakainya..?"
"Jangan berpikiran sembarangan.. kau pikir aku ingin terus memakainya? Cincin ini yang tidak mau lepas dari jariku.."selah Jaejoong, tentu saja bohong karena nyatanya dia sudah berhasil melepaskannya. Tapi entah mengapa dia memasangnya kembali.
"Ha.. bilang saja kau memang tidak mau melepaskan bendah itu.."
"Kau.."jaejoong berusaha melepas cincin itu, dan entah mengapa begitu mudah lepas. Jaejoong meletakan benda itu dengan kasar ke meja bar.
"Ini.."
"Kau memang pembohong, waktu itu kau bilang tidak mau lepas, nyatanya bisa dengan mudah kau lepas..:"
Jaejoong hanya tersenyum, tidak mau menanggapi celotehan Yunho yang malah akan membuat darahnya naik.
"Sekarang mana cincinku, aku tahu ada padamu.."ucap Jaejoong sembari menyimpan tangannya di depan Yunho.
"Kau pikir aku senang memakainya?aku tidak sepertimu.. Cincin jelek itu sudah kubuang.."
"Kau.. "Jaejoong terus dibuat kesal dengan setiap ucapan Yunho serta nada bicaranya yang tidak mengenakan itu. Jaejoong pun melirik cincin yang terletak di meja itu. Dia bermaksud mengambilnya untuk dibuang, tapi sungguh sial karena sebelum tangannya berhasil meraih cincin itu, tangan Yunho sudah lebih dulu mengambilnya.
"Sekarang kita benar-benar selesai.. aku pergi.."ujar Yunho.
"Pergi saja, memangnya ada yang ingin menahanmu di sini. Kau terlalu percaya diri.."
Sama halnya dengan Jaejoong tadi, Yunho juga tidak mau membalas ocehan Jaejoong. Dia justru tersenyum tapi terlihat sangat memuakkan di mata Jaejoong. Setelah itu Yunho langsung pergi.
Satu hal yang tidak mereka sadari bahwa mereka telah melanggar salah satu kesepakatan.
Hari dimana Jaejoong akan dipertemukan dengan puteri keluarga Lee akhirnya tiba. Meski Jaejoong terus menampakan raut kesal, dan tidak bersahabat pada ibu dan ayahnya, tapi keputusan orangtuanya itu tidak bisa dia tolak. Dan sekarang di sinilah Jaejoong, duduk manis di sebuah restoran. Di sebelahnya ada ibu dan ayahnya, di depan ada Suyoung noona dan tawa yang sedari tadi dia tunjukan untuk Jaejoong. Pria ini jadi menyesal karena sudah membela kakanya itu di depan ibunya. Dan lagi, posisi duduk antara dia dan kedua orangtuanya, terlihat seperti dia adalah tawanan dan kedua orangtuanya adalah pasangan polisi yang mendekapnya agar tidak lari.
Beberapa menit menunggu, akhirnya keluarga Lee datang juga. Jaejoong segera menundukan wajahnya, takut jika tebakannya mengenai ahjumma ternyata benar. Bisa dibayangkan dia akan langsung melarikan diri dari restoran ini.
"Maaf membuat kalian menunggu lama, Caroline yang mengakibatkan semua ini. Dia ingin berdandan cantik untuk menemui calon suaminya.."
Jaejoong memutar matanya mendengar suara seorang bibi barusan, dan dia bisa menebak itu suara Bibi Lee. Apa-apaan ini, calon suami? Seperti dia sudah menyetujuinya saja. Jaejoong terus menggerutu dalam benaknya.
"Kami juga baru tiba.. Aigoo, tanpa berdandan Caroline sudah sangat cantik.."balas Kim Yoori.
Mereka tertawa, wajah Caroline memerah. Sedangkan Jaejoong masih betah dengan menundukan wajahnya. Hingga pada detik berikutnya saat suara Bibi Lee kembali terdengar..
"Dia.. Jaejoong?"
Kim Yoori menyikut lengan puteranya, dan Jaejoong akhirnya mengangkat wajahnya sembari mengangguk dengan wajah yang dibuat sebisa mungkin agar tersenyum.
"Aigoo, Bibi tidak menduga kau akan setampan ini.."
Jaejoong kembali memaksakan senyuman sembari menganggukan kepalanya. Tatapannya kemudian tertuju pada gadis di sebelah kakaknya. Caroline?
Okay, Jaejoong harus mengakui bahwa gadis itu benar-benar cantik, bahkan sangat cantik. Ternyata dugaannya tentang ahjumma salah besar. Caroline sungguh luar biasa. Dan akhirnya senyuman pura-pura tadi langsung berganti dengan senyuman tulus ketika Caroline juga balas memandanginya.
"hmmm…"
Jaejoong tersadar begitu gumaman ibunya terdengar. Jaejoong jadi salah tingkah karena kedapatan terus memandangi Caroline.
"Kalian benar-benar serasi.."lanjut ibunya.
"Bibi membuatku malu.."Ucap Caroline dan diikuti dengan gelak tawa dari yang lainnya.
"Mengapa harus malu, sayang? Tidak lama lagi kau akan menjadi bagian dari keluarga kami.."
Caroline tampak mengangguk masih dengan wajah meronanya..
"Tampaknya kita perlu memberi mereka waktu agar lebih mengenal satu sama lain, bagaimana menurutmu Jaejoong?" Tanya ayah Caroline – Lee Soo Man (LOL)
"Ah.. aku.." lagi-lagi ibunya menyikut lengan Jaejoong.
"Sebagaimana yang menurut kalian baik, aku tidak punya daya untuk menolak.."
'Ne?"wajah bingung dari Lee Yoona dan suaminya, serta raut kesal dari ayah dan ibunya langsung tampak mendengar perkataan Jaejoong.
"Ah, maksud Jaejoong dia menyetujuinya.." selah Suyoung, jadi tidak tegah juga jika adik kesayangannya itu mendapat masalah sepulang nanti.
"Kalau begitu setelah makan, kalian pergi jalan-jalan.."ujar ayah Jaejoong – Kim Jung Il.
Caroline manganggukan kepalanya, sementara Jaejoong tampak masih berpikir, namun pada akhirnya dia juga ikut mengangguk.
Jaejoong hanya tidak ingin mendapat amukan dari ayahnya, dan juga tidak ada salahnya hanya berjalan-jalan. Caroline gadis yang cantik, dia psti tidak akan bosan dika berduaan nantinya.
"Jadi kau sudah bertemu dengan calon istrimu?"Tanya Yoochun pada Jaejoong ketika mereka sudah duduk di sebuah restoran. Keduanya memang merencakan untuk bertemu. Jaejoong dengan ceritanya sendiri, dan Yoochun dengan masalahnya.
Jaejoong mengangguk "Hmmm.. namanya Caroline.."katanya.
"Apa dia cantik?"
"Sangat cantik.."
"Lalu.."
"Lalu apa?"
"Kau menerima perjodohanmu?"
"Tentu saja belum.. aku memang menyukainya, tapi.."
"Mengapa?"
"Entahlah, aku hanya belum ingin menikah.."
Jaejoong memang tak menampik bahwa dia menyukai Caroline, gadis itu juga sangat baik dan dia begitu nyaman bersama Caroline. Tapi tentang pernikahan, rasanya masih terlalu jauh untuknya.
Yoochun meneguk kopinya. Sesaat mulai berpikir dengan apa yang diucapkan Jaejoong. Seharusnya Jaejoong tidak perlu bingung jika dia memang menyukai gadis bernama Caroline itu.
Jaejoong yang baru saja akan meminum jus jeruknya, jadi terhenti begitu dia mengingat tentang kejahatan Yoochun di klab waktu lalu.
"Yah, bagaimana bisa kau yang mengajakku ke klab waktu itu tapi kau pergi tanpa menungguku?"hardiknya pula.
"Maafkan aku.. "
"Sebenarnya kau ada urusan apa? Siapa yang kau temui, hm?"
"Shim Changmin.."
Mata Jaejoong terbuka dengan lebar demikian juga dengan mulutnya. "Mwoya? Kau bertemu dengan Changmin?" tanyanya, begitu terkejut.
Raut wajah Yoochun tiba-tiba mulai redup. Dia mengingat lagi pertemuanya dengan Changmin beberapa hari lalu. Setelah bertahun-tahun tidak melihat wajah pria yang masih sangat dia cintai itu, jujur saja semua gejolak yang selama ini tertahan di dada, akhirnya keluar. Tapi, kebahagiaan tetap tidak berpihak padanya. Changmin tidak sendiri waktu itu, melainkan bersama istrinya – Shim Eunsu.
"Dia datang menemuiku hanya untuk mengabari bahwa mereka akan menetap di Seoul.. dan.. Eunsu tengah mengandung.."
Jaejoong bisa melihat kekecewaan dari sahabatnya itu. entah dia harus berbuat apa sekarang untuk menenangkan Yoochun. Dia memang Yoochun masih mencintai Changmin, tapi seharusnya Yoochun bisa merelakannya bersama Eunsu.
"Aku tahu kau masih mencintainya, Yoochun ah. Tapi aku mohon jangan siksa dirimu.. dia sudah bahagia dengan pilihannya, maka kau juga harus bahagia dengan hidupmu.."ujar Jaejoong mencoba member pencerahan bagi Yoochun.
Yoochun menggeleng dengan cepat.
"Kebahagiaanku hanya bersamanya.."ungkapnya.
"lakukanlah. Jika kau ingin hidupmu terus-menerus diliputi kesedihan, maka jangan bangun.."
Yoochun terdiam. Meski perkataan Jaejoong terdengar sangat menghardiknya, tapi dia tidak bisa menyelah. Mungkin Jaejoong benar, tapi dia sungguh tidak bisa melupakan pria itu.
"Sudahlah, mana senyumanmu yang selalu kau perlihatkan? Aku tidak ingin punya teman menyedihkan sepertimu.. ayolah, lihat banyak gadis-gadis yang ingin dekat denganmu.. bukalah dirimu untuk kebahagiaan.."
Yoochun kembali memandangi Jaejoong, beberapa saat dia dengan pikirannya sampai akhirnya dia mengaggukan kepalannya meski itu bukan suatu pertanda dia akan melupakan Shim Changmin. Dia hanya ingin mencobanya.
"Ohya, sudah lama kita duduk tapi belum memesan makanan.."kata Jaejoong, dia melihat jam tangannya. Sudah lebih dari setengah jam mereka duduk tanpa memesan makanan. Apa Yoochun memang hanya ingin minum kopi ke restoran ini? Dan dia hanya minum jus? Oh God, dirumah dia bisa membuat jus sekolam penuh tanpa perlu datang ke restoran.
"Yunho belum datang, kita harus menunggunya.."sahut Yoochun.
"Mwoya? Jung Yunho? Mengapa dia harus datang? Dan mengapa kita harus menunggunya? Aku tidak mau.." Jaejoong membuang nafas beratnya. Lagi-lagi kesialan akan menimpahnya.
"Ada apa denganmu? Kau sangat terganggu kalau dia datang?"
"Eh.. maksudku.. aku belum makan dari tadi.."ucap Jaejoong mendadak jadi gagap.
…..
Beberapa saat kemudian tampaklah Yunho menggandeng seorang perempuan cantik berjalan mendekati meja Jaejoong dan Yoochun. Entah ini sudah keberapa kali Jaejoong harus memutar matanya, mendegus kesal, dan bersikap malas. Yang pasti dia benar-benar tidak nyaman harus dipertemukan lagi dengan Yunho, dan juga gaya Yunho yang sombong itu.. ahhhh Jaejoong benar-benar muak. Bagaimana bisa dia menikah dengan pria itu?
"Mengapa kau sangat lama, huh? Jaejoong sampai gelisah menunggumu.."
"Apa?" secara bersamaan Yunho dan Jaejoong berseruh.
"Siapa yang menuggunya?"Tanya Jaejoong dengan mimic wajah yang sangat malas.
Mereka kemudian terdiam, sampai Yunho mengeluarkan suaranya, dan kali ini sangat lembut.
"kenalkan ini kekasih ku.."ucap Yunho mengenalkan gadis disebelahnya pada yoochun dan Jaejoong juga tentunya.
"Yo kau sudah memiliki kekasih rupanya.."
"Annyeong.. Tiffani imnida.." ucap gadis itu memperkenalkan diri.
Yoochun menyambutnya dengan mengenalkan namanya, tapi tidak demikian dengan Jaejoong. Pria ini justru tersenyum kecut merasa bosan berada di tengah pasangan' aneh.' Apa-apaan datang dengan mengenalkan kekasih? Dia pikir ini acara kencan? Jaejoong terus menggerutu dalam otaknya. Akan tetapi seulas senyum tiba-tiba tampak di bibirnya saat satu ide tertera di kepalanya.
"Jung Yunho, dia Kekasihmu?"Tanya Jaejoong, memulai aksinya.
Yunho tampak kaget mendengar suara Jaejoong, dalam kepalanya dia bertanya-tanya 'apa pria pembohong ini tuli?' namun sebisa mungkin dia bertingkah tidak terganggu dengan menganggukan kepalanya.
"Oh.. Bukannya kau telah menikah..?"Jaejoong melanjutkan pertanyaannya. Dia sengaja menbuat kebingungan besar di wajahnya.
Yoochun hampir menyemburkan kopi yang barusan dia minum. Sungguh kaget dengan kata-kata Jaejoong. Dan Yunho sudah melayangkan tatapan membunuhnya pada Jaejoong. Sama halnya dengan Yoochun, Tiffani kekasih Yunho juga tidak kalah shock.
"Mwo? Oppa, apa ini benar?" Tiffani memandang pada Yunho dengan tatapannya yang seolah meminta penjelasan.
Yunho akhirnya melihat pada kekasihnya itu, kemudian memberikan tatapan yang menyiratkan bahwa apa yang Jaejoong ucapkan tidak benar. "Ah.. jangan ditanggapi. Jaejoong memang selalu membuat lelucon.."katanya.
Tiffani membuang nafas lega, akhirnya setelah tadi kepalanya pusing dan hampir membuatnya pingsan. Dia berusaha tersenyum pada Jaejoong.
"Bukan hanya aku saja Tiffani ssi, kekasihmu ini juga sangat suka membuat lelucon. Benar kan, Yunho ya?"Jaejoong berkata lagi, sengaja dibuat-buat dengan nada manja di saat menyebut nama Yunho.
Yunho kembali memandang kesal pada Jaejoong. Apa tidak salah dengan pendengarannya barusan? Apa Jaejoong sudah gila sampai membuat suara semengerikan itu? sementara Jaejoong pura-pura focus pada jusnya setelah bicara tadi.
Dan Yoochun? Dia kebingungan sendiri.
Tiffani sudah pulang lebih dulu karena ada urusan penting dengan keluarganya. Salah satu kakaknya yang sejak menikah tinggal di Jepang, baru saja mengunjungi rumah orangtuanya, jadinya dia harus segera bertemu dengan kakaknya itu. Yoochun juga sudah pergi beberapa saat lalu, dan sekarang tinggalah Jaejoong dan Yunho dengan jutaan kekesalan dalam kepala.
"Kim Jaejoong, mengapa kau berkata seperti tadi di depan Tiffani?"Yunho langsung bertanya pada Jaejoong. Dia memang ingin sekali menghardik pria itu karena begitu kesal dengan tingkah aneh yang Jaejoong perlihatkan sejak tadi. Untung saja Tiffani dan Yoochun tidak menduga hal-hal aneh di antara mereka.
"Itu kenyataan bukan?"jawab Jaejoong, santai.
"Kau menganggap apa yang kita lakukan itu sebagai sesuatu yang serius? Hei, Kim Jaejoong! waktu itu kita dalam keadaan mabuk, tidak tahu apa-apa, jadi jangan sekalipun beranggapan serius.."ujar Yunho, tiba-tiba jadi marah. Dia terus menatap Jaejoong dengan tajam walau pria itu tampak tidak mau bertemu pandang dengannya.
Jaejoong akhirnya memposisikan kepalanya sejajar dengan Yunho, dan mata mereka bertemu.
"Ya, pernikahan kita memang hanya sebuah kesalahan. Tapi, apa yang kau dan aku ucapkan di hadapan pendeta di Paris sana bukanlah hal yang bisa kau anggap konyol. Kita sama-sama mengucapkan janji untuk selalu bersama.."ujar Jaejoong. Sebenarnya dia tidak begitu sadar mengapa bisa berkata-kata seperti ini. Dia hanya bosan dengan tingkah Yunho yang seolah begitu menyalahkannya, dan dia sangat terganggu karena Yunho selalu menyebut pernikahan.
Yunho membulatkan matanya setelah Jaejoong selesai dengan ocehannya.
"Apa? " desisnya pula.
"Kim Jaejoong, kau menyukaiku?"
TBC….
