FF Yunjae /Yaoi /Tell Me The Reason, WHY? /PG-NC /Chapter III
Pairing : Yunho x Jaejoong
Cast : DB5K n other cast
Rate : PG – NC
Genre : romantic, Yaoi, Hurt…
Author : ReaYoonJae
…
Dua minggu sejak Yunho tak mau membagi suara dengannya, Jaejoong menjadi lebih pendiam. Gelisah selalu terbawa-bawa hingga tidurnya. Setiap malam setelah hari itu, Yunho jarang pulang ke apartmen. Entah apa yang dia perbuat diluar sana, bersama siapa berhari-hari, dan apa yang membuatnya begitu betah menyiksa Jaejoong seperti ini.
Apa? Mungkin lebih tepatnya, mengapa?
Barangkali Jaejoong terlalu lemah untuk membuka mulutnya – bertanya. Tidak ada jawaban yang muncul begitu saja tanpa pertanyaan. Tidak ada perubahan tanpa sebab. Dan Jaejoong tidak tahu apa-apa tentang keduanya. Semua yang ada padanya terlampau penuh dengan mimpi, pengharapan akan masa-masa indah yang mungkin saja dapat kembali tanpa perlu tahu jawaban dan sebab itu.
Mungkin Jaejoong bisa berakting menutupi apa yang tejadi, dengan tersenyum mana kala Yunho tiba-tiba muncul. Jaejoong dapat mengangguk dan mengatakan 'semua baik-baik saja' – 'aku bahagia' – pada orangtua dan kakaknya, juga pada orangtua Yunho. Akan tetapi jauh dalam hatinya, dia mengakui satu hal – hatinya mulai berlubang, sebentar lagi tidak utuh, dan lama-kelamaan menjadi serpihan-serpihan kecil. Kadang kala dia ingin berteriak keras, kalau perlu membangunkan seluruh dunia, agar semua orang tahu betapa garis hidupnya begitu malang. Kadang kala dia ingin mengakhiri hidup seperti yang dialakukan orang lain. Mati untuk pembuktian cinta – terdengar sangat mengagumkan sekaligus menyedihkan. Tetapi lebih dari semua pemikiran semu itu, Jaejoong masih memendam harapan akan hari esok yang lebih cerah, dan impiannya bukan sekedar mimpi, tapi akan menjadi kenyataan.
Dan akhirnya, Jaejoong harus mengalah pada waktu. Sekali lagi membuang rasa malunya untuk berbagi dengan Junsu – sahabatnya.
…
Junsu menatap lagi pada Jaejoong. Sudah cukup lama mereka hanya duduk saja tanpa bicara. Terlebih sahabatnya itu, sejak datang tadi tak ada satupun kata yang keluar dari bibirnya. Junsu memang mengira sahabatnya itu sedang dalam masalah, atau lebih tepatnya mendapat masalah lagi. Dan semua ini tentu saja berkaitan dengan Jung Yunho. Selain karena pria itu, tidak ada hal apapun yang dapat membuat Jaejoong terlihat sedih ataupun senang.
Masih sambil memandangi Jaejoong, Junsu meminum kopi yang sudah mulai dingin karena diabaikan begitu saja sedari tadi. Di depannya Jaejoong hanya diam dengan pandangan lurus namun tidak tertuju. Junsu menyimpan lagi kopinya dengan helaan nafas di akhir gerakannya.
"Apa yang dia lakukan padamu sampai kau terlihat seperti orang yang tidak punya tenaga?kau tidak ada bedanya dengan mayat hidup.. " ucap Junsu. Kesabarannya untuk mengabaikan Jaejoong beberapa saat tidak terkontrol lagi. Yeah, dia sangat mengkhawatirkan Jaejoong.
"Jaejoong.."
Jaejoong akhirnya mau melihat padanya. Pria itu menggumam seolah baru tersadar dari lamunan panjangnya. Ah sebenarnya dia memang baru saja kembali dari pikirannya tentang Yunho.
"Junsu ah.. Kali ini aku yang salah. Yunho..dia melihatku bersama Changmin.."
Junsu mengangkat keningnya. Tidak mengerti.
"Changmin menciumku.."
"Apa?"
Keterkejutan Junsu hanya dibalas dengan anggukan kepala dari Jaejoong, dan wajahnya juga semakin murung.
"Aku yang salah.." Jaejoong menggumam, lirih.
Junsu mulai menormalkan keterkejutannya, lalu memandangi Jaejoong dengan tatapan tidak percaya. Bukan karena ciuman itu, tapi karena Jaejoong yang malah menyalahkan dirinya sendiri.
"Mengapa kau harus menyalahkan dirimu sekarang? Jung Yunho selalu membuatmu sakit hati, apa kau lupa? Oh jangan bohong kalau kau tidak pernah melihatnya berciuman dengan perempuan lain. Aku tahu itu…kau juga telah melihat yang lebih dari itu bukan?" ujar Junsu berapi-api. Entah kenapa emosinya meningkat dengan melihat sikap Jaejoong yang seperti itu.
"Berhentilah menyalahkan Yunho. Kali ini memang aku yang salah karena itu aku mengerti mengapa dia tidak mau mendengarkan penjelasanku.."
Junsu menggelengkan kepalanya.
"huh.. Maaf aku harus mengatakannya lagi, tapi kau benar-benar bodoh, Jaejoong. Yang aku tahu seseorang yang tidak mau mendengar penjelasan dari orang lain padahal apa yang dilihatnya belum tentu benar, hanyalah orang yang ingin menutupi hal buruk yang ia lakukan"
Jaejoong jadi terdiam. Dia memejamkan matanya rapat-rapat. Mendengar ucapan Junsu barusan, sebilah pisau seperti menancap di dadanya.
Benarkah itu?
"Justru kau yang harus berhenti menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Diantara kau dan Yunho terlalu banyak… seharusnya kau mendengar apa yang aku sarankan.. Jaejoong, ingat logika lebih penting dari perasaan…"
Jaejoong membuka matanya lagi. Dia merasa tidak terima mendengar Junsu terus-menerus seperti menyudutkan Yunho. Sudah cukup. Apa yang terjadi selama ini, memang hanya dirinya yang tahu,orang lain tidak tahu dan sepantasnya tidak pernah tahu agar mereka tidak membuang omongan yang tak berguna dan malah menambah pedih di hatinya.
"Kau tidak mengerti, Junsu ah.."
Junsu juga tidak mau kalah dengan sahabatnya itu. Dia membalas tatapan tajam Jaejoong.
"Aku tidak mungkin duduk bersamamu setiap kali kau menghubungiku jika aku tidak mengerti apa yang terjadi pada kalian.."
"Tidak. Kau sama sekali tidak mengerti. Bagimu mungkin ini hanya hal biasa, karena itu kau dengan mudah bisa mengutarakan saran-saran tak jelas itu. Pernikahanku, Jung Yunho, bagiku sangat berarti…"
"Bagimu demikian, tapi baginya?"
"Apa maksudmu?"
Junsu agak memajukan posisi badannya hingga lebih mendekat pada Jaejoong.
"Jaejoong, seseorang tidak akan merusak pernikahannya jika itu ada arti baginya.."ucapnya agak pelan, namun terdengar begitu kuat di telinga Jaejoong.
"Jadi menurutmu Yunho tidak….dia tidak menginginkan pernikahan kami? Lalu kau lupa apa yang dulu dia lakukan untuk bersamaku? Kau tahu semuanya.."
"Dulu.."sergah Junsu.
Jaejoong terdiam.
"Aku tahu dia sangat mencintaimu. Aku tahu apa yang dia lakukan agar kau mau memaafkan setiap kesalahannya. Aku tahu perngorbanannya untuk dapat bersamamu. Tapi itu dulu..aku tidak tahu sekarang.."
"Dia masih sama. Kau hanya tidak mengerti bagaimana Yunho.."
Suara Jaejoong tiba-tiba bergetar. Dia ingin menangis. Mengapa Junsu juga harus menyakiti perasaannya? Tidak pernah dia merasa sesakit ini karena ucapan sahabatnya itu. Apa karena sekarang dia sadar bahwa Junsu benar? Atau?
"Okay.. aku tidak mengerti apa-apa…" Junsu mengangkat tangannya. "Aku adalah sahabatmu yang tidak mengerti bagaimana terlukanya kau sekarang.. jadi jangan temui aku jika kau masih menganggapku tidak mengerti.."
Setelah meluapkan kekesalannya, Junsu langsung pergi tanpa menatap pada Jaejoong. Bukan karena dia jahat, tapi rasa sayangnya pada Jaejoong, dia menganggap Jaejoong sebagai saudaranya, karena itu dia tidak mau Jaejoong terus-menerus dipermainkan. Dia ingin Jaejoong membuka mata dan segera sadar.
"Kau tidak mengerti.. junsu ah.."
….
Ribuan meter dari tempat Jaejoong duduk termenung meratapi kisah cintanya, seorang pria tampan sedang memandag keluar melalui jendela besar di depannya. Jung Yunho masih berdiri di belakang meja kerjanya dengan pakaian yang tidak beraturan lagi, dasinya sudah melorot. Rambutnya acak-acakan karena masih memikirkan perbuatan yang Jaejoong lakukan. Yup, Yunho belum sepenuhnya melupakan apa yang dia lihat beberapa hari lalu antara pasangannya itu dan Changmin. Tentang ciuman keduanya sampai saat ini jelas masih terterah di kepalanya. Jaejoong bahkan sudah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat itu, tapi dia tidak yakin dan tak mau dengan mudah memperayainya. Baginya itu hanya alasan untuk menutupi kebohongan.
Bukankah sekarang Yunho berlagak seolah yang paling benar?
Yunho sangat membenci itu. Dia membenci penghianatan. Tetapi entah bagaimana selalu saja ada perasaan yang mengharuskannya untuk bersikap lembut pada Jaejoong. Dan entah bagaimana semua itu membuatnya bingung. Yunho mengingat lagi bagaimana pria manis itu memelas padanya untuk dimaafkan. Namun ego nya masih terlalu tinggi untuk membuatnya benar-benar memaafkan Jaejoong. Kadang kala Yunho merasa dirinya keterlaluan karena selalu bertindak tidak baik pada Jaejoong, tapi kadang kala juga dia merasa senang melakukan hal itu.
Egois!
Dulu, saat mereka baru pertama kali bertemu, Jaejoong begitu indah di matanya. Yunho tidak mengatakan sekarang tidak indah lagi, namun sesuatu membuat matanya berpaling. Saat-saat mereka memadu kasih sebagai sepasang kekasih, Jaejoong begitu sempurna dan tiada bandingan dalam dunianya, entah sekarang apa yang terjadi sampai dia bisa menduakan Jaejoong dengan wanita-wanita lain. Okay. Jung Yunho memang dulunya straight. Dia memacari banyak perempuan sejak di sekolah menegah sampai kuliah, dan semuanya perlahan berubah saat dia bertemu dengan Jaejoong di hari itu.
Drrrttt… drrrtttt..
Lamunannya terhenti begitu suara getaran pada ponselnya terdengar dari arah belakang. Yunho menengok kemudian meraih benda itu. Meski agak ragu karena mengetahui siapa yang menghubunginya, Yunho akhirnya menekan tombol hijau kemudian melengkatkannya ke telinga.
"Sudah beberapa hari ini kau tidak datang ke tempatku. Kau tahu? Kau melewatkan banyak hal menarik" Park Yoochun.
"Aku merasa tidak dalam mood yang baik untuk kesana.."
"Tunggu apa lagi, mood mu akan membaik setelah kau datang ke tempatku"
"Akan aku pikirkan.."
"Oh come on.. itu terdengar seperti bukan Jung Yunho sahabatku. Jangan menolak lagi karena aku sangat mengharapkan kedatanganmu. Lagipula 'sepupuhku' akan datang lagi.. jadi jangan sia-siakan waktumu, okay?!"
Teleponnya terputus sebelum dia mengatakan penolakan. Yunho membuang nafas beratnya, lagi. Sudah beberapa hari ini memang dia tidak mengunjungi clab Yoochun, dia juga jarang pulang ke apartment. Dia lebih memilih tidur di kantor. Entahlah emosinya akan naik begitu saja jika melihat Jaejoong, apalagi tadi pagi saat dia pulang, dia justru menemukan pesan dari Shim Changmin di ponsel Jaejoong. Mungkin Yunho terdengar kekanakan karena bertindak seenaknya dengan mengecek ponsel Jaejoong, tapi ya.. Yunho membenci hal itu. Pesan Shim Changmin meski hanya persoalan kabar, namun memecahkan amarahnya.
Mungkin Yoochun benar. Saat ini dia butuh hiburan.
….
Jaejoong merapatkan jaketnya sembari memeluk tubuhnya sendiri. Dia semakin menggigil, bukan karena udara yang berhembus menyapa kulitnya, tapi karena Jung Yunho – tak ada lagi tangannya yang merangkul tubuh Jaejoong, tak ada lagi kehangatan seperti dulu saat dia separu dunia sengaja menghangat hanya untuknya. Kali ini benar-benar berbeda.
"Kau sangat menderita.."
Benarkah dia sangat menderita?
Jika hal itu benar, mengapa dia masih berdiri saat ini?
Mengapa setiap senyuman masih terukir di bibirnya?
Barangkali Jaejoong hanya belum sadar. Atau cinta menutupi pandagannya dari kenyataan?
"Tinggalkan Yunho.."
Untuk yang satu ini, kepala Jaejoong dengan cepat bergerak – kekiri-kekanan. Dia memang terluka, hatinya sering menjerit minta tolong, namun tak pernah sekalipun dalam otaknya terbersit kata-kata tadi, seperti yang selalu diucapkan Junsu kala pria itu memberikan tanggapan. Dalam pemahaman Jaejoong, hidup bersama adalah menerima apapun, baik-buruk, luka dan temasuk….derita?
Bodoh!
Jaejoong kembali mendorong pintu apartmen untuk yang kesekian kalinya. Dalam benaknya masih berharap akan sosok Yunho yang tiba-tiba muncul, selangkah demi langkah hingga benar-benar dekat di depannya. Namun kenyataannya masih sama seperti pertama kali dia berdiri di situ. Tidak ada Yunho. Jaejoong menduga Yunho masih marah padanya, terlebih mengenai pesan yang dikirimkan Shim Changmin tadi pagi. Sebenarnya pesan biasa saja. Changmin hanya menanyakan kabarnya, tapi itu tidak ditanggap biasa oleh Yunho. Namun itu tidak ditanggapi biasa oleh Yunho. Pria itu malah memperlihatkan raut wajah tak sukanya, kemudian pergi tanpa kata-kata. Yunho bahkan baru kembali sejak beberapa hari tanpa kabar, dan Jaejoong makin menyalahkan dirinya sendiri karena hal itu.
…
Mirotic Club
"Aku dengar dari Yoochun kau sedang ada masalah.. kalau kau mau berbagi, aku siap mendengarnya. Mungkin saja aku bisa membantu.."
Yunho menengokan kepalanya ke samping, tepat pada seorang perempuan cantik yang baru saja bersuara – Caroline Lee. Perempuan yang dia kenal dua minggu yang lalu, tepatnya saat dia pergi setelah menyalurkan amarahnya terhadap Jaejoong yang kedapatan 'selingkuh'.
"Terima kasih.. tapi ini bukan masalah besar, aku masih bisa menanganinya sendiri.."
Perempuan itu mengangguk kemudian mengulas senyuman.
"Kalau begitu tersenyumlah.. kemana Jung Yunho – ku yang selalu tersenyum untukku?"
Melihat senyum manis perempuan itu, tarikan di sudut-sudut bibir Yunhu pun merekah. Pria tampan itu ikut tersenyum.
"Sekarang sudah kembali menjadi Jung Yunho –ku.."
Yunho tersenyum lebar, hampir tertawa. Hal itu seolah membuat penat dikepala Yunho lenyap begitu saja. Caroline perempuan yang baik dan penuh perhatian menurutnya. Yunho tidak bisa memungkiri bahwa dia tertarik dan.. membutuhkannya.
"Kau mau minum lagi?"tawar Caroline sambil mengangkat sebotol tequila.
Yunho menggeleng pelan.
"Okay.."
Perempuan itu baru saja akan menuangkan tequila ke gelasnya tapi Yunho menghentikan gerakannya. Yunho menyentuh tangannya.
"Berhentilah minum..tidak baik bagi kesehatanmu.."
"Kau sedang dalam masalah, tapi bisa-bisanya menasehatiku.. kau juga seharusnya berhenti minum…dan..berhenti memakai obat-obat yang diberikan Yoochun.. kalau kau tidak berhenti, aku juga sama.."
Apa yang Caroline katakan mungkin terlalu berlebihan mengingat mereka baru saling kenal, dan belum memiliki status pasti dalam hubungan. Akan tetapi bagi Yunho kata-kata itu bermakna lain. Dalam. Dia terpanah. Dimatanya Caroline bak penolong yang siap membawanya menjauh dari kekacauan.
Yunho yang tak kunjung memberi tanggapan pada ucapannya, membuat perempuan itu membuang nafas panjang, juga mengubah raut wajahnya menjadi sendu.
"Aku tahu kau pasti tidak bisa..lagipula aku bukan siapa-siapa untukmu.."katanya pula.
Tapi diluar dugaannya, perlahan-lahan Yunho menggenggam tangannya kemudian mengecupnya dengan lembut.
"Aku akan berhenti.."ucap Yunho, terdengar sangat pasti.
"Benarkah?"
"Karena kau yang melarangnya maka aku akan menurut.."
Apa yang terjadi dengan Yunho? Bukankah perempuan itu hanya seorang yang baru dia kenal? Bukan siapa-siapa. Tapi mengapa dia begitu penurut? Bahkan Jaejoong yang telah lima tahun hidup dengannya, mengenalnya jauh lebih dalam, tidak bisa membuatnya menjauh dari obat-obatan pemberian Yoochun.
Apa ini pertanda Yunho sedang jatuh cinta? Lagi? Serius?
Kemudian yang terjadi pada perempuan itu, dia tersipu malu.. Wajahnya merah padam dan jika penerangan di sana tidak redup maka Yunho akan dapat melihat rona itu dengan jelas. Tanpa menunggu lagi, perempuan itu memeluk Yunho, dan Yunho pun membalas pelukannya.
So.. sekarang mereka berpacaran?
Yunho tiba-tiba melepaskan pelukannya. Dalam pikirannya tertera bayangan wajah Jaejoong yang tengah menatapnya dengan kecewa.
"Maafkan aku.."
Yunho cepat menggeleng begitu Caroline mungkin merasa tidak enak karena memeluknya tadi. Sungguh bukan itu yang membuatnya melepaskan pelukan Caroline, bukan karena tidak suka, tapi… Shit. Bisa-bisanya disaat dia membutuhkan ketenangan, ada Jaejoong yang menghancurkannya.
"Caroline…aku.. sebenarnya aku telah.."
"Yun.."
…
Jaejoong memutuskan untuk pergi ke club yang seingatnya adalah tempat biasa Yunho datangi – club milik Park Yoochun. Sebenarnya Jaejoong telah berjanji tidak mau lagi menginjakan kaki ditempat itu, karena terlalu banyak luka dihatinya, tapi kali ini demi rasa rindu dan bersalahnya pada Yunho, Jaejoong harus membuang jauh-jauh semua itu. Dia akan menjelaskan semuanya, sekali lagi pada Yunho. Dan Jaejoong berharap kali ini akan berbuah manis.
Tepat di sudut sana Jaejoong melihat Yunho duduk bersama seorang perempuan cantik. Tidak! Mereka bukan hanya duduk, mereka sangat dekat, dan mesra, mereka berpelukan. Ada gemuruh dalam dadanya, bukan gelora melainkan badai yang memporak-porandakan hatinya. Dia tahu ini bukan pertama kalinya melihat Yunho bersama perempuan, tapi sakit hati yang dia rasakan akan selalu sama tidak berkurang barang sedikit saja.
Langkah kakinya terus mendekat.. mendekat hingga kedua orang itu melepaskan pelukan mereka.
Agak ragu.. akhirnya Jaejoong membuka mulutnya.
"Yun.."
"Jae…joong?"
Betapa Yunho sangat terkejut saat ini. Baying-bayang wajah Jaejoong yang memandangnya dengan kekecewaan sekarang tampak jelas di depannya.
Mata Yunho membesar dan dadanya tiba-tiba bergetar tidak nyaman. Dia baru saja tertangkap basah sedang berselingkuh?.
Sama halnya dengan yang Jaejoong rasakan, ini bukan pertama kalinya dia tertangkap sedang berpelukan dengan perempuan lain oleh Jaejoong, tapi kali ini….berbeda. Tatapan Jaejoong membuatnya takut.
"Siapa dia?"
Perempuan cantik yang duduk disebelah Yunho bersuara. Dia menatap pada Yunho kemudian pada Jaejoong. Mata perempuan itu meneliti seakan menaruh curiga pada setiap tatapannya.
Tunggu! Bukankah seharunya pertanyaan dan tatapan itu adalah milik Jaejoong? Tapi apa yang dilakukan pria manis itu?
Dia hanya terdiam.
"Yunho..? siapa dia?"
Dengan agak ragu Yunho mulai membuka mulutnya.
"Dia Kim Jaejoong.."katanya.
"Temanmu?"
Sekarang giliran Yunho yang melihat pada perempuan itu kemudian memandangi Jaejoong. Ada sesuatu yang mengganjal otaknya, lalu menyalurkannya ketenggorokan sehingga dia merasa ragu untuk berterus terang. Padahal beberapa menit yang lalu dia berniat mengaku pada Caroline bahwa dirinya sudah menikah. Tapi apa yang terjadi sekarang?
Bibirnya keluh.
"Dia- "
"Kami berteman.." ucap Jaejoong akhirnya.
Pahit. Terluka akan kata-katanya sendiri.
Jaejoong juga tidak tahu mengapa dia sampai berucap seperti tadi. Jaejoong tidak tahu untuk apa, tapi dia baru saja menyangkal hubungannya sendiri di depan seorang perempuan yang tidak dikenalnya.
Untuk menyelamatkan Yunho? Tapi mengapa? Bukankah dengan begini dia telah menunjukan betapa bodohnya dia? Entahlah!
Kemudian hening.
Mulut Yunho terkatub dan matanya terus memandangi Jaejoong. Entah mengapa dia merasa bersalah. Ah, mungkin Yunho terlalu egois. Sudah seharusnya dia merasakan itu. Jaejoong bukan sekedar teman baginya, tapi lebih dari itu. Mereka sudah bersama sejak lima tahun yang lalu, melalui banyak sekali rintangan, airmata dan canda tawa, tapi mengapa dia tidak memiliki keberanian untuk mengenalkan Jaejoong sebagai pasangannya?
"Namaku Caroline.. Aku sepupuh Park Yoochun, kau kenal dia kan? Dan juga…aku kekasih Yunho"
Kepala Jaejoong bagai terhantam batu besar. Untuk pertama kalinya kata-kata itu terdengar langsung olehnya dari mulut seorang perempuan.
Dan sekali lagi Jaejoong hanya diam. Jika dia bukan laki-laki, saat ini juga raungannya akan keluar, dan airmatanya akan mengucur deras tanpa henti. Kadang kala Jaejoong berkhayal ingin menjadi seorang wanita. Dia ingin bebas mengeluarkan segala keluh kesahnya. Bebas menangis tanpa malu pada orang lain.
"Jaejoong ssi..bergabunglah bersama kami kalau kau mau.. atau kau ingin sesuatu yang 'lebih'?"tawar Caroline pada Jaejoong. Perempuan itu mengulas senyumannya.
Yunho tiba-tiba berdiri dari duduknya. Tawaran Caroline tadi terasa tidak benar. "Tidak"
"Huh?"
Caroline mengernyitkan keningnya.
"Maksudku..aku akan mengantar Jaejoong pulang.."ucap Yunho, sedikit memperbaiki ucapannya agar Caorline tidak salah megerti.
"Tapi Jaejoong ssi baru saja datang.."
Hening lagi.
"Okay.. tapi kau janji akan kembali lagi, Yunho ya?"
Perasaan Jaejoong kembali meredup mana kala ada orang lain yang menyebut nama Yunho seperti itu. Jung Yunho, Yunho, Yunho ya.. Nama itu hanya dia yang boleh memanggilnya – hanya miliknya. Tapi nyatanya yang terjadi hanya kebisuan. Jaejoong tak sepata kata pun yang terlontar dari bibir mungilnya.
"Aku tidak bisa.. Besok aku ada meeting penting di kantor. Maafkan aku.."
"Baiklah.. " gumam perempuan itu, agak kecewa. "Telepon aku jika kau sudah sampai dirumah.. okay? Dan.. Jaejoong ssi.. senang berkenalan denganmu.."
Jaejoon tersenyum paksa sementara Yunho menganggukan kepalanya dengan cepat kemudian meraih tangan Jaejoong dan segera pergi dari sana.
Benar-benar mendebarkan.
….
Jaejoong segera melepaskan genggaman tangan Yunho begitu mereka tiba di parkiran club. Nafasnya memburu. Dadanya sangat sakit, seolah ribuan lebah menyengatnya habis.
"Jadi dia kekasihmu? Perempuan di klab itu? aku tahu Yunho ya, aku tahu kau punya banyak kekasih. Tapi setidaknya kau mencari yang baik-baik bukan seperti dia.."
"Jaejoong, dia bukan perempuan seperti itu.. Caroline adalah perempuan baik-baik.."
Baik? Apa dia lebih baik dariku?
Jaejoong mengangguk. "Yah, dia memang perempuan baik. Dia pasti sangat penurut, bukan?"
Yunho mengerutkan keningnya.
"Kau suruh buka baju, maka dia akan membukanya.. "
"Kim Jaejoong.."Yunho mendesis.
Jaejoong membalikan tubuhnya kemudian manatap agak tajam pada Yunho. "Apa aku salah? Baik seperti itu yang kau maksudkan bukan?"
Yunho memilih tak menyahut karena dia merasa Jaejoong hanya akan membuat amarah naik kembali.
"Kau sedang membalasku?"
Yunho berpikir sebentar. Apa yang Jaejoong tanyakan barusan ada bagusnya juga untuk dirinya. Yeah, setidaknya dia bisa membalikan keadaan.
"Bagus kalau kau menyadari kesalahanmu.."
Dan yang terjadi pada Jaejoong setelah mendengar perkataan Yunho.. sakit hati dan kekecewaan, marah dan kecemburuannya tergantikan dengan permohonan.
Jaejoong menjatuhkan lutunya di depan kaki Yunho. "Yunho ah, maafkan aku.. aku mohon.."
Apa yang Jaejoong lakukan sontak membuat beberapa orang yang ada di tempat itu menatap pada mereka dengan penuh tanda tanya. Yunho yang tadinya diam mulai terusik.
"Ya! Apa yang kau lakukan?.. apa kau tidak lihat disini banyak orang? Untuk apa kau memohon seperti pengemis? Apa kau tidak punya harga diri?"
Kalau kau tahu Yunho ya.. harga diriku sudah lama mati karena kau..
Kekecewaan Jaejoong hadir lagi. Betapa dia bersedih karena Yunho mengatakan harga diri di depannya. Agak lesuh Jaejoong berdiri dari posisi yang tadi yang semula bersimpuh di kaki Yunho.
Sangat menyedihkan!
Dia bernafas dengan tempo cepat demi mengurangi panas pada matanya.
"Kau benar..aku tidak punya harga lagi..dimatamu.. jadi untuk apa kau mengajakku pulang? Mengapa kau tak membiarkanku melakukan seperti apa yang kau lakukan dengan perempuan itu? Dia bahkan menawariku hiburan ditempatnya.. mengapa kita tidak sama-sama saja?" entah kata-kata yang datang dari mana. Seolah Jaejoong mendapatkan dorongan untuk lebih berani.
PLAKK
Yunho menamparnya. Untuk apa? Jaejoong bahkan tidak merasakan sakit lagi. Dia sudah kebal.
"Junsu yang mengajarimu bicara seperti ini?" Yunho berteriak.
"Tidak.. dia tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kita.."
Kalau tidak segera diakhiri, Yunho dapat memastikan dia akan kehilangan kendali dan akan memukuli Jaejoong lagi. Jadi.. Yunho menyeret Jaejoong ke dalam mobil dan setelah itu mengemudikan mobilnya dengan serampangan.
…
Sikap berani yang ditunjukan Jaejoong seminggu yang lalu, tampaknya belum membuat Yunho sadar. Hubungan pria itu dengan Caroline justru semakin dekat. Bahkan Yunho dengan terang-terangan membawa Caroline ke apartmennya dan Jaejoong. Yunho tanpa rasa bersalah berterus terang akan pergi dengan Caroline. Betapa dia tidak dapat melihat setiap anggukan kepala yang Jaejoong berikan adalah bentuk keputus-asaan.
Dan satu lagi, perempuan itu sudah tahu bahwa Jaejoong adalah orang yang dinikahi Yunho (kekasihnya) sejak lima tahun yang lalu. Setelah mengetahui status Jaejoong, Caroline justru tidak memperdulikannya, dan malah bersikap seolah Jaejoong lah orang ketiga dalam hubungan mereka.
Semua itu membuat Jaejoong hampir-hampir menyerah. Sakit dihatinya sudah terlampau besar, dan lubang di dalam sana terlalu dalam. Tapi sebelum dirinya benar-benar menyerah pada keadaan, Jaejoong berusaha tersenyum lagi. Dia yakin Yunho akan kembali seperti dulu asalkan dia terus bersabar dan.. sedikit berubah.
Jaejoong mengubah penampilannya. Dia mendatangi salon ternama di Seoul, mengecat rambutnya menjadi hitam serta membuatnya agak pendek. Jaejoong juga membeli beberapa pakaian baru. Mungkin terdengar lucu, tetapi dia ingin tampil berbeda di depan Yunho. Hmm.. sedikit menggoda. Jangan katakan Jaejoong maniak, jangan katakan dia haus akan sentuhan. Dia hanya merindukan Yunho-nya yang dulu. Yunhonya yang begitu terkesima akan penampilannya.
…
Hari berganti..
Tetapi perubahan itu sama sekali tidak membuat Yunho tertarik. Walau susah payah Jaejoong mengubah dirinya, Yunho justru lebih banyak memuji Caroline.
Dan sekali lagi.. Jaejoong harus membuang rasa malunya.. berakhir menangis tersedu-sedu di depan Junsu.
Junsu benar-benar tidak tegah melihat sahabatnya itu. Jaejoong yang dia lihat hari ini sangat berbeda dengan Jaejoong yang pernah dia lihat sebelum-sebelumnya. Kali ini jauh lebih menyedihkan. Junsu dapat melihat raut wajah sahabatnya itu, terlebih sembab di matanya.
"Apa menurutmu aku sangat mengerikan? Apa aku tidak menarik lagi? Atau aku terlihat sudah sangat tua?"
Berbagai pertanyaan yang Jaejoong lontarkan bagai anak panah yang siap diarahkan ke Junsu. Pria itu bertanya dengan airmata yang terus mengucur dari mata indahnya.
"Aku melakukan semuanya untuk membuatnya melihatku, sedikit saja. Aku ingin dia mencintaiku lagi, seperti dulu.."
Jaejoong sangat kecewa – pada Yunho – pada dirinya sendiri.
"Jaejoong.."
Junsu mengusap tangan Jaejoong.
"Apa aku salah melakukan semua ini? Aku hanya ingin tampil beda di depannya…"
"Jaejoong dengar..!"
"Apa aku.." tangisan semakin menjadi.
"Kim Jaejoong!"
Jaejoong tersentak kaget. Tangisannya agak terhenti. Tubuhnya bergetar.
"Jika dia tidak lagi menyukaimu apa adanya, maka jangan berusaha untuk mengubah dirimu. Jangan sekali-kali mengubah dirimu hanya untuk membuatmu terlihat bodoh dan menyedihkan di depannya. .. Kau hanya perlu menjadi dirimu yang sebenarnya.. "
"Itu berarti dia tidak mencintaiku lagi..?"
Junsu tidak menjawab. Pria itu beranjak dari duduknya dan memeluk Jaejoong. Jawabanya adalah "YA" tapi dia tidak setega itu untuk mengatakannya. Dia tidak ingin Jaejoong semakin terpojok dan tidak berdaya. Dia ingin Jaejoong mengerti bahwa Jung Yunho telah berubah.
Jaejoong kembali menangis tapi kali ini dalam diam. Dia membenamkan wajahnya di pundak Junsu.
Berbagi perih dan pedih.
Cinta.. Cinta.. Cinta..
Tidak ada yang perlu diubah untuk meraihnya, karena cinta lahir dan tumbuh tanpa syarat. Kau tidak perlu membelinya, karena cinta tidak akan ditemukan di toko manapun. Cinta lahir begitu saja, dan kadang kala tanpa kau sadari. Bahkan rasanya kau bisa memindahkan gunung paling tinggi di dunia saat jatuh cinta, atau menghentikan rotasi bumi, dan menyetelnya hanya untukmu – hanya untuknya.
Cinta tidak mutlak berpaut pada 'keindahan', karena keindahan itu adalah semu. Cinta lebih tulus, jauh dari dasar hati manusia.
Jangan mengubah dirimu..
"Jangan menangis lagi, Jaejoong. Ingat masih ada aku bersamamu, masih ada kakakmu, orangtuamu. Masih banyak yang mencintaimu tanpa perlu kau berubah.."
Jaejoong mengangguk lemah.
"Apa orangtua Yunho sudah tahu hal ini?"
Jaejoong menggeleng. Jangankan orangtua Yunho, orangtuanya sendiripun Jaejoong tak berani untuk mengatakannya. Jujur saja dia malu. Malu karena nyatanya hubungan yang mereka agung-agungnya dulu harus hancur begitu saja. Karena itu dia ingin menelan setiap pahit itu sendiri saja.
"Seharusnya kau bicara dengan orangtuanya.. mereka mungkin akan membantumu, Jaejoong.."
"Haruskah?"
Junsu mengangguk.
"Tapi ini masalah kami.. lagipula dulu mereka sangat-sangat tidak setuju dengan hubungan kami.. mereka pasti tidak mau ikut campur.."
"Kau hanya belum mencobanya.. Ayolah.. jangan bersedih lagi.. Well, aku benci untuk mengatakannya, tapi aku akan mendukungmu untuk terus bertahan.. Jangan biarkan perempuan itu menang.. Kau mengerti?"
"Jika.. hasilnya tetap sama? Apa kau harus terus bertahan?"
"Kau tahu sendiri jawabannya.."
Jaejoong mengangguk, meski dia masih ragu jika dia mampu melalui 'jawaban' itu.
…
Dua hari kemudian..
Caroline menyimpan kedua tangannya ke depan dada sembari memandangi Jaejoong. Sudah lama dia mengingkan pertemuan ini. Saat dimana dia bisa bicara berdua saja dengan Kim Jaejoong – seorang pria yang menjalin hubungan dengan kekasihnya – Jung Yunho. Dia tahu Jaejoong adalah orang yang dinikahi Yunho, orang yang hadir lebih dulu dalam hidupnya, sementara dirinya hanyalah orang ketiga. Tetapi Jaejoong adalah laki-laki, sama seperti Yunho. Dan dimatanya, hubungan seperti itu bukan hubungan yang benar.
Jaejoong. Walau hatinya sudah porak-poranda, namun keyakinannya bahwa Yunho akan kembali seperti dulu masih sama, karena itu dia menyanggupi tawaran Caroline untuk bertemu. Semua ini juga berkat Junsu yang mendukugnya. Jaejoong agak tidak mengerti juga, awalnya sahabatnya itu mati-matian menyuruhnya untuk meninggalkan Yunho, tapi sekarang Junsu malah mati-matian mengharuskannya untuk menghadapi Caroline.
"Jaejoong ssi.. lama tidak bertemu. Aku dengar dari Yunho kau kurang sehat. Aku minta maaf karena memintamu datang kemari. Aku hanya ingin menyampaikan beberapa hal padamu, dan aku harap kau bisa mengerti.."
Jaejoong mengangkat wajahnya – menatap perempuan itu.
"Aku tahu, kau ingin agar aku menceraikan Yunho, kan?"
"Jaejoong ssi.."
"Aku tidak akan pernah melepaskan Yunho.. dia milikku dan selamanya akan seperti itu. kau tidak berhak untuk memaksaku.."
Mendengar perkataan Jaejoong, Caroline justru mengulas sebuah senyuman sinis.
"Apa kau tidak pernah tahu, Jaejoong ssi? Hubungan yang sebenarnya adalah antara laki-laki dan perempuan! Tujuan menikah adalah menyatukan dua pribadi kemudian menciptakan keturunan! Aku pikir kau bisa memahaminya sekarang.. "
"Apa kau tidak pernah berpikir bahwa Yunho menginginkan keturunan? Dan kau sama sekali tidak bisa memberikannya.. Tidakkah kau merasa bahwa kau sangat egois?bagaimana bisa kau hanya melihat dari satu sisi saja?perasaanmu bukanlah hal terpenting! Jika kau benar-benar mencintai Yunho, maka relahkan dia mencari cinta yang sebenarnya, dan itu adalah bersamaku.."
Kata demi kata yang barusan dia dengar…. Jujur saja kembali melumpuhkan pertahannya.
Jaejoong terus diam bahkan sampai perempuan itu meninggalkannya sendirian di café itu. Perlahan air matanya mulai jatuh, kembali jatuh.
"Joongie ah.. let's make a baby.."
"Kenapa kau tidak bicara sepata kata pun? Jika memang kau berpikiran seperti itu, mengapa kau tidak bicara denganku?mengapa kau justru mengatakan padanya?"
Jaejoong langsung menghajar Yunho dengan berbagai pertanyaan yang memang sejak beberapa jam lalu menghantui pikirannya. Dia ingin segera tahu jawabannya langsung dari mulut Yunho.
Yunho agak terkejut, seutuhnya belum mengerti arah pertanyaan Jaejoong barusan. Dia memilih mengabaikannya dengan terus melangkah masuk ke kamarnya, membuka pakaiannya. Pikirannya benar-benar penat karena urusan kantor, dan Jaejoong malah langsung menceramahinya? Yunho harus mengelak jika tidak mau emosinya meningkat lagi.
Jaejoong mengikuti pria itu.
"Mengapa kau membicarakan hal itu dengannya? Kau benar-benar menginginkan anak?"
Yunho terhenti dari aktifitasnya. Kaos yang tadinya akan dipakainya, tergeletak kembali di atas rak lemari. Kepalanya memutar memandangi Jaejoong. Sekarang dia mengerti maksud Jaejoong.
Anak? Yah. Dia memang menginginkannya sejak lama.
"Aku hanya tidak ingin kau terluka.."sahut Yunho, akhirnya.
"Kau jelas sudah melukaiku dengan bicara hanya padanya"
"Lalu menurutmu aku harus bagaimana?"
Jaejoong terdiam, jadi tak bisa bicara lagi. Dia mendudukan tubuhnya di tepian ranjang. Wajahnya memerah, dadanya terasa sakit. Dia mengusapkan telapak tangan ke depan wajah berkali-kali.
"Joongie ah.. let's make a baby.."
Bisikan yang sering Yunho lancarkan ketilinganya saat mereka masih baik-baik saja, terlintas begitu saja. Jaejoong mengangkat wajahnya, kemudian perlahan-lahan mulai melangkah ke belakang tubuh Yunho.
"Kita bisa mencobanya.."ucapnya, lirih.
"Huh?"
"Yunho ya.."
Seiring dengan suara merdunya, jemari Jaejoong mulai bersentuhan dengan kulit punggung Yunho. Agak menekan di beberapa bagian, jari-jarinya terus melintas dari atas ke bawah hingga berakhir menyilang di depan perut pasangannya itu.
Yunho belum bereaksi lebih.
"Yunho ya.."
Bisikan halus Jaejoong di telinga Yunho, berhasil membuat pria itu membalikan tubuhnya. Mata mereka bertabrakan, dan Jaejoong langsung mengambil kesempatan ini untuk meraih bibir Yunho. Dia mengecup berkali-kali, kemudian tanpa malu mengulum bibir Yunho di dalam mulutnya. Tubuh besar Yunho terdorong membentur lemari yang belum terkunci.
"Yunho ah.. mari kita mencobanya..membuat bayi.." desah Jaejoong di sela-sela gerakan bibirnya.
"Kim Jaejoong.."
Dan Jaejoong pun terhenti. Tubuhnya agak menjauh beberapa senti karena didorong Yunho.
"Bagaimana bisa kau berbuat seperti ini? Apa kau sudah gila?"suara besar Yunho mengejutkannya.
Gila?
Memalukan. Menyedihkan.
"Bukannya kau yang dulu sering mengatakannya padaku?mengapa kau begitu terganggu sekarang? Kau bahkan mengatai aku gila?"
"Jaejoong ah.. "
Yunho mencoba meraih pundak Jaejoong. Yeah, sedikitnya dia merasa bersalah.
"Kau telah berubah, Yunho ya…"
"Kim Jaejoong, dengarkan aku.."
"Kau sudah berubah, ya sudah sangat lama, tapi sekarang aku baru menyadarinya. Junsu benar, semua orang benar, aku memang bodoh.."
Jaejoong terus berjalan mundur sambil menggelengkan kepalanya.
"Jaejoong ah.. dengarkan aku.."
"Saat aku mengatakan 'mari membuat anak' apa menurutmu setelah itu kau memang akan mengandung? Aku hanya membuat lelucon.."
Bagai diterjang ombak. Jaejoong terhenti dari gerakan mundurnya. Mata besar Jaejoong melebar.
"lelucon?"
Yunho berhasil meraih pundak Jaejoong.
"Kau sendiri tahu kita tidak akan mungkin memilikinya, maksudku kau tidak akan hamil meski aku berkali-kali mengatakan 'mari membuat anak' meski aku berkali-kali melakukannya denganmu"
Meski Yunho menjelaskannya dengan pelan dan lembut, tapi itu sangat menyakitkan ditelinga Jaejoong.
"Jadi selama ini yang kau katakan hanya sekedar lelucon? Tentang apa yang kita lalui selama ini..semua lelucon saja?"
"Bukan begitu.."
Jaejoong menghentakan tangan Yunho dari pundaknya.
"Aku mengerti sekarang, lima tahun kebersamaan kita hanya lelucon bagimu.."
Jaejoong putus asah. Semua rasa bercampur jadi satu.
Lelucon.
Jaejoong tahu itu, dia tidak akan pernah mengandung. Tetapi mengapa Yunho harus mengatakannya? Mengapa harus membuat hatinya sakit? Yunho yang dia kenal dulu adalah Yunho yang tidak pernah membuat hatinya sakit. Yunho yang dia kenal adalah Yunho yang sanggup membuat lelucon menjadi suatu yang serius dengan nada penuh pengharapan.
Tetapi sekarang?
Ternyata Junsu benar. Yunho yang sekarang bukan Yunho yang mengejarnya dulu.
Mereka jauh berbeda.
Tanpa menunggu lagi Jaejoong langsung berlari meninggalkan Yunho yang tampak menyesali perkataannya.
"Jaejoong ah.."
"Kim Jaejoong…"
Yunho juga berlari mengejar Jaejoong.
Yunho berteriak frustasi melihat Jaejoong yang sudah menaiki taksi dan pergi tanpa melihat atau mendengar panggilannya. Yunho bahkan melupakan keadannya yang sekarang hanya menggenakan celana panjangnya. Dia tidak memusingkan tatapan orang-orang yang memandangnya aneh.
Jaejoong…
Rasa bersalahnya kian besar. Baru menyadarinya sekarang? Seharusnya sejak lama. Airmata pria manis itu sudah lama tumpah dan semestinya jari-jarinya siap untuk menghapuskannya.
Kenapa baru sekarang?
Jaejoong…
Jaejoong…
Jaejoong…
Jaejoong –nya pergi?
Untuk pertama kalinya semenjak dia sering bertindak kasar pada Jaejoong dan pria itu pergi.
Yunho ketakutan.
TBC…..
