Siapa itu Sasuke? Itulah yang selalu hadir dalam benak Naruto. bertanya-tanya siapakah pemuda tampan tanpa marga di kelasnya itu.
Bukan tanpa sebab Naruto berpikiran demikian. Hanya saja, ia masih tidak bisa mengerti dengan sikap Sasuke yang terkesan aneh padanya. Terkadang, Sasuke akan bersikap baik padanya dan selalu muncul ketika pemuda itu membutuhkan bantuan. Lalu, dilain keadaan, Sasuke juga akan bersikap acuh tak acuh ketika Naruto mengajaknya untuk mengobrol mengenai kehidupan pribadi pemuda berkulit ala blaster itu.
Entah sudah berapa kali Naruto menghela nafas panjangnya. Sasuke masih meliputi pikirannya sampai saat ini. Jam menunjukan pukul 7 malam, selepas mengerjakan PR yang diberikan sensei di sekolah. Naruto segera keluar dari kamarnya ketika mendengar panggilan sang ibu, yang memintanya untuk cepat keluar karena makan malam sudah disiapkan.
"ibu sudah sehat?" Tanya Naruto, begitu melihat sang ibu yang sedang menata sendok di atas meja makan. Wanita berusia 38 tahun dengan surai merah mencolok itu tersenyum lembut, seolah mengatakan jika ia sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
"tentu saja, sayang" sahut Kushina.
Srekk..
Terdengar suara kursi yang digeser, dan kini sosok mungil itu telah duduk santai di hadapan lauk pauk yang terlihat menggugah selera. Naruto memandang takjub makan malam dihadapannya, memandangnya seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan baru oleh ibunya. Entah kapan itu terjadi, Kushina sudah duduk berhadapan dengan putra semata wayangnya dan tengah menyendokan nasi ke dalam mangkuk sang buah hati.
"hummm, pasti enak" puji Naruto.
Kushina tertawa pelan, ia menyodorkan mangkuk tersebut untuk Naruto.
"kau harus makan yang banyak, Naru-chan" kata Kushina, dan membuat Naruto memiringkan kepalanya, dengan tatapan penuh tanda Tanya.
"lihat! Kau mungil sekali, padahalkan Kaachan selalu memberimu makanan yang bergizi. Tapi sepertinya penumpukan lemaknya disini" goda Kushina—mencubit gemas pipi Naruto.
"aduuuhhh..duuhhh..duhh" Naruto mengaduh kecil, kenapa pipinya selalu menjadi korban cubitan gemas perempuan-perempuan yang tidak tahan melihat pipi gembul kemerahan itu.
"hahahahaha.." Kushina tertawa lagi.
Naruto adalah semangat baginya, melihat wajah polos Naruto selalu bisa menghapus rasa penat di diri Kushina. Mau tidak mau, Naruto juga tertawa ketika melihat tawa di wajah ibunya. Inilah yang sangat Naruto harapkan, ibunya akan selalu ada bersamanya dan tertawa bersama meskipun hidup mereka hanya bisa dikatakan sederhana. Cukup berbeda dengan teman-temannya di Konohamaki High School, yang notabene selalu hidup berkecukupan setiap harinya.
"sudah..sudah..habiskan, anak manis"
"OKAACHAN"
.
.
.
.
Love Is Money
Genre : Romance/Drama
Rating : T
Pairing : Sasunaru slight NejiNaru
WARNING: Boys Love, OOC, Typos, GAJE, AU (Cute Naru)
Naruto Belong To Masashi Kishimoto(c)
(disini Naru-nya memang sengaja dibuat gak matre-matre banget, soalnya Naru kan punya alasan tersendiri buat begitu. Soal, Naru yang jadi simpenan orang kaya ber-istri, itu cerita lama dan bakalan jadi rahasia terbesar yang memecahkan kenapa-apa-maksud Sasuke yang sering memata-matai Naru)
.
.
.
.
"Perhatikan jalanmu, dobe"
Naruto menoleh kepada sosok pemuda yang baru saja ia tabrak saat dirinya tengah sibuk dengan ponsel pintar miliknya.
"eh? Maaf..maaf" ucap Naruto—membungkukan tubuhnya, hormat.
Karena terlalu focus membalas pesan singkat dari gebetannya Gaara, ia sampai lupa untuk berjalan yang benar. Gerbang sekolah masih tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa siswa-siswi yang berlalu lalang memasuki halaman sekolah yang cukup luas.
Sasuke mendengus pelan, percuma saja jika harus berdebat dengan teman sekelasnya itu. Ini masih pagi, masih terlalu awal untuk memulai hari buruknya.
"kau tahu? tidak baik berjalan sambil memainkan ponselmu" Sasuke menarik ponsel Naruto, dan membuat Naruto terkejut bukan main.
"hey, kembalikan!" seru Naruto, berusaha keras merebut kembali ponsel miliknya.
"ada banyak orang yang tewas di jalanan karena lebih focus dengan gadget mereka masing-masing" Sasuke berkata lagi.
Naruto mem-poutkan bibirnya, lucu. Untunglah masih terlalu pagi, jadi tidak ada teriakan-teriakan histeris dikarenakan tingkah imutnya itu.
"tapi kan aku tidak memainkannya di jalan raya" sahut Naruto.
Sasuke Cuma mengangkat bahu saja, iris obsidiannya itu memutar sekilas menanggapi sahutan Naruto.
"kembalikan, Sasu!" seru Naruto.
"ini" Sasuke memasukan ponsel tersebut ke dalam saku celana Naruto.
Sasuke berbalik arah dan berjalan meninggalkan Naruto yang masih tidak mengerti dengan tindakan teman sekelasnya itu. Tiba-tiba wajahnya memanas, dan membuat Naruto menampar pelan pipinya.
Ia meringis kesakitan, wajah tampannya terasa semakin panas dan memerah.
"SASU TEME, KAU MENYEBALKAN" Teriak Naruto, keras.
Pemuda yang belum terlalu jauh itu, mengulas senyum kepuasan setelah berhasil mengerjai teman pirangnya.
Padahal jika Naruto tahu, Sasuke sengaja menabrakan tubuhnya ke arah sang blonde, hanya untuk memulai interaksi saja, pemuda itu sungguh modus rupanya.
.
.
.
.
Sepulang sekolah..
"hey" Teriak Naruto pada seorang pemuda tinggi yang berlalu di depannya.
"hey, Sasu baka teme!" Naruto berteriak lagi. Namun, tampaknya Sasuke enggan untuk menoleh. Jelas saja, earphone menghalangi pendengarannya dari suara pemuda berwajah unyu itu.
"ck" Naruto berdecak kesal.
Pemuda mungil itu pun berlari mengejar Sasuke, pemuda berambut raven itu lantas saja menyipitkan matanya melihat sosok teman sekelasnya yang tiba-tiba saja menghalangi jalannya.
"dompetmu jatuh" Naruto menyodorkan sebuah dompet berwarna hitam pada Sasuke. Rupanya Sasuke tidak menyadari jika dompetnya telah terjatuh dari saku celananya.
"untung saja kau yang menemukannya. Terimakasih, dobe" ucap Sasuke—menerima dompet tersebut dari tangan Naruto.
Naruto menganggukan kepalanya, dengan senyum di wajah manisnya.
"omong-omong, kau mau kemana? Kok jalannya cepat sekali" Naruto bertanya. Sasuke memasukan dompet tersebut ke dalam tasnya, supaya tidak terjatuh lagi.
"kau tidak membukanya kan, Dobe?" Tanya Sasuke—ngawur, itu tidak mungkin kan kalau Sasuke curiga Naruto telah mengambil uang di dalam dompetnya.
"APA? tentu saja tidak! Kau bisa check sendiri!" sahut Naruto, menyangkal tuduhan Sasuke.
"baiklah, aku percaya itu" sahut Sasuke.
"ayo!" tiba-tiba saja Sasuke menarik pergelangan tangan Naruto dan membuat si pirang melongok tidak paham maksud pemuda itu.
"kita mau kemana, Sasu?" Tanya Naruto, ia tidak tahu hendak kemana Sasuke membawanya pergi. "aku ingin mentraktir orang yang telah menemukan dompetku" jawab Sasuke.
Selang beberapa menit mereka berjalan, keduanya pun kini sudah tiba di depan kedai makan sederhana di pinggir kota Konoha. Mencoba mencerna apa yang telah terjadi hari ini, bagaimana bisa Sasuke membawanya ke tempat makan seperti ini?
"a..apa?"
Sasuke melirik Naruto yang tengah memasang tampang horror di wajah manisnya. Bibir pucat itu tertarik, menampakan senyum tipis di wajah tampannya diam-diam.
"ayo!" Sasuke menarik pergelangan tangan Naruto.
"tidak mau!" Naruto menghentak kasar tangan Sasuke, dan membuat sang empunya menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"aku tahu kau selalu makan di cafe-cafe bintang lima bersama pacarmu. Tapi apa salahnya untuk mencoba makanan di tempat ini, sekali saja juga tidak membuatmu mati" Kata Sasuke—pemuda itu melangkahkan kaki lebih dulu dari Naruto.
Bagaimana Sasuke bisa tahu?
Kenapa Sasuke bisa tahu semua yang Naruto lakukan bersama kekasihnya?
Tidak mungkinkah orang di depannya ini seorang cenayang, Naruto sendiri pun juga tidak mengerti mengapa anak baru itu seolah begitu mengerti dirinya dibandingkan Neji, yang notabene adalah kekasihnya.
Naruto berusaha menampik segalanya, satu hal yang membuat Naruto teringat akan seseorang yang telah menanggung biaya sekolahnya saat SMP dulu yang saat ini ia sendiri juga tidak tahu dimana sosok 'paman' itu. Sosok 'paman' sangat mirip dengan Sasuke, hanya saja 'paman' jauh lebih dewasa dari Sasuke. Tapi itu sudah lama sekali, dan Naruto juga sudah melupakan hal itu.
Di dalam kedai itu, Sasuke membungkuk hormat pada seorang laki-laki gendut berpakaian ala koki disamping seorang gadis berusia 20 tahunan yang sedang tersenyum ramah menyambutnya. Sepertinya paman berbadan tambun itu adalah pemilik kedai sederhana ini.
"kyaaaaaa, manisnya! Siapa ini" gadis manis itu berteriak histeris ketika seseorang yang tak lain dan tak bukan Naruto , tiba-tiba saja muncul dari arah pintu.
Sasuke menoleh ke belakang, disana tampak Naruto dengan wajah ketakutannya melihat Ayame memandang histeris padanya. Dengan langkah cepat, Naruto beralih ke punggung lebar Sasuke dan bersembunyi di balik tubuh tinggi itu. "Ayame, kau membuat anak itu takut" ujar sang pemilik kedai.
"lihat ayah! Dia sangat imut sekali,aaaaaa aku jadi ingin punya adik" kata Ayame.
Paman bertubuh tambun itu membungkuk, minta maaf akan sikap putri semata wayangnya itu.
"paman, kami pesan 2 mangkuk ramen special" ujar Sasuke, akhirnya menyebutkan pesanan yang hendak ia makan bersama Naruto. "siap..pesanan segera datang" sahut pemilik kedai itu.
Sasuke menarik pergelangan tangan Naruto dan membawanya menuju meja yang masih kosong. Pemuda manis itu tidak menolak, dan membiarkan teman barunya itu menarik tangannya.
Naruto mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri, kedai rumah makan ini tampak sederhana dengan banyaknya pengunjung yang meluangkan waktunya makan siang di tempat ini.
Semuanya tampak menikmati semangkuk ramen, yang ternyata telah ia ketahui, bahwa ini adalah kedai makan ramen. Sasuke tersenyum simpul melihat gelagat bingung Naruto, ia maklum mengapa Naruto seperti itu. Karena belum pernah seorangpun ada yang mengajaknya ke tempat seperti ini selain Sasuke.
"ekhem" deheman Sasuke membuat lamunan Naruto buyar. Ia menoleh ke arah Sasuke dan menatap pemuda itu dengan tatapan penuh Tanya. "Apa?" Tanya pemuda berparas manis itu. Sasuke menggelengkan kepalanya, baru saja ia ingin berbicara, tiba-tiba saja Ayame datang membawakan pesanan mereka. "ini dia, Sasuke-kun" ujar Ayame, tersenyum ramah pada kedua siswa SMA itu. Ia meletakan pesanan keduanya di atas meja, kemudian melenggang pergi setelah berpamit diri.
Sasuke melepaskan sumpit dari bungkusnya dan mulai menikmati ramen pedas miliknya. Dengan lahap ia memakan ramennya tanpa mempedulikan Naruto yang masih memandang ramen di hadapannya. "kau ini kenapa?" Tanya Sasuke. Tetapi Naruto malah menundukan kepalanya, seolah ada beban yang bergelayut manja dalam pikirannya.
"hiks"
Pemuda raven itu semakin tidak mengerti, apalagi ketika mendengar isakan kecil itu lolos dari bibir mungil pemuda manis di hadapannya. "hiks..hiks hiks.."
Bingung dibuatnya, Sasuke pun memutuskan untuk menyobek selembar tissue dari tissue gulung tak jauh dari mangkuk ramen miliknya. "hey, kau kenapa menangis?" Tanya Sasuke—seraya menghapus jejak-jejak air mata di pipi chubby Naruto. lantas saja Naruto terkejut melihatnya, lagi-lagi Sasuke bersikap lembut padanya.
"jangan menangis, aku tidak suka melihat orang menangis" kata Sasuke.
Naruto mendongakan kepalanya, memberanikan diri untuk melihat sosok tampan yang tengah duduk di hadapannya kini. "aku tidak tahu bagaimana cara menangani orang yang sedang menangis" Sasuke berkata lagi, kemudian ia kembali menikmati ramennya.
"kau mau tidak? Kalau tidak, aku saja yang habiskan" entah kenapa, Sasuke terlihat OOC hari ini.
Naruto menggelengkan kepalanya, dengan lemas ia membuka bungkus sumpit di tangannya dan memutuskan untuk menikmati makanan tradisional itu.
"bagaimana, enak tidak?" Tanya Sasuke—kala Naruto mengunyah mie berkuah lemak itu di dalam mulutnya.
"iyaa, sangat enak" jawab Naruto, wajahnya masih memerah sebab baru saja ia menangis. tapi, ia tidak bisa pungkiri kalau ramen ini sangat enak. Mirip sekali dengan ramen yang sering dibuatkan ibunya di rumah.
"kalau ada waktu, aku akan mentraktirmu makan disini lagi" kata Sasuke.
Sasuke melirik arloji yang melingkar pada pergelangan tangan putih ala blasternya. Jarum jam menunjukan pukul 4 sore. "habiskan makananmu, aku akan mengantarmu pulang" titah Sasuke. "hm" sahut Naruto.
.
.
.
.
Keduanya tampak sedang berjalan di pinggir trotoar, memang sehabis makan di kedai paman Teuchi, Sasuke menepati janjinya untuk mengantar Naruto pulang ke rumahnya.
"tentang tugas dari Anko-sensei" Naruto mulai membuka suara. Mereka berjalan dalam keheningan, dan Naruto tidak suka hal itu.
"aku sudah menyerahkannya kemarin" sahut Sasuke, pandangannya lurus ke depan, tanpa menoleh sosok yang lebih pendek darinya itu, (kira-kira 15cm).
"apa? tapi kan, kita belum melakukan survey dan mencari beberapa orang untuk di interview" Naruto tampak terkejut mendengar ucapan Sasuke mengenai tugas mereka yang sudah di selesaikan dalam waktu singkat.
Sasuke menghentikan langkahnya, ia melirik Naruto yang juga reflex menghentikan langkahnya.
"kita kan bukan reporter, jadi untuk apa mencari orang untuk di interview" ujar Sasuke, tatapannya begitu serius menatap maniks biru Naruto.
"namanya juga survey, pasti kita membutuhkan orang untuk di interview"
Decakan pelan keluar dari bibir pucat Sasuke, ia tidak mengerti kenapa Naruto memiliki sudut pandang yang begitu rumit seperti teman-teman mereka di kelas (tentu saja hanya Sasuke dan Shikamaru saja yang tidak memiliki pandangan rumit di kelas).
"memangnya Anko-sensei mewajibkan kita untuk men-interview seseorang?" Tanya Sasuke.
Naruto diam saja, dengan tatapan polosnya yang tampak seperti orang bodoh di mata Sasuke.
"kau ini, sedikit lebih pintar bisa kan" kata Sasuke—menjitak pelan kepala pirang Naruto.
"aku tahu kalau kamu pintar, tapi jangan bicara seperti itu dong. Aku kan tidak bodoh" Naruto mem-poutkan bibirnya lucu.
"hah, sudahlah.. ayo jalan! Aku akan bekerja nanti" Sasuke menarik pergelangan tangan Sasuke.
"b..bekerja?"
"kenapa?" Sasuke balik bertanya.
Naruto terkejut mendengar ucapan Sasuke. Apa benar pemuda itu akan bekerja? Untuk apa?
Sekolah kan melarang seorang murid bekerja, dan lagi, Sasuke bekerja hingga larut malam. Bagaimana dia belajar? Tapi, kenapa Sasuke selalu mengerjakan PR-nya dengan baik? Naruto saja tadi belum sempat mengerjakan PR biologi-nya.
"kau tahu? bekerja itu kan—"
"dilarangkan? Sekolah melarang keras murid untuk bekerja" sela Sasuke, memotong ucapan Naruto. "tapi kalau kau mau tahu saja, cukup banyak murid disekolah kita yang bekerja" lanjut pemuda bermata onyx itu.
Sasuke hendak menarik pergelangan tangan Naruto lagi, namun pemuda itu menolaknya dan malah berbalik menahan pergelangan Sasuke. "ajak aku ke tempatmu bekerja ya, ku mohon" pinta Naruto. Sasuke menatap Naruto datar, itulah yang bisa ia lakukan. Karena seorang Sasuke memang tidak memiliki banyak ekpresi seperti pemuda lainnya.
"keluargamu pasti akan mencari dirimu" kata Sasuke—ia ragu untuk mengajak Naruto pergi ke tempat ia bekerja.
"Sasu, ku mohon" lagi, Naruto memohon.
Padahal, Naruto sendiri juga tidak tahu untuk apa ia memaksa Sasuke mengajak dirinya ke tempat pemuda itu bekerja. Paling-paling, ia hanya akan mengganggu pemuda raven itu untuk bekerja. "hn, baiklah" sahut Sasuke.
.
.
.
.
Raspberry Café
Sebuah cafe bernuansa modern, dengan warna pink dan hitam mendominasi setiap sudut ruangannya. Naruto menatap tidak percaya sekaligus takjub dengan apa yang ia lihat saat ini.
Benarkah Sasuke bekerja di tempat ini?
Mengingat Sasuke yang minim ekpresi saat di kelas mereka akan bekerja di cafe unyu seperti ini.
Ingin rasanya ia tertawa keras saat ini.
"waahh, Sasuke-kun sudah datang ya" seorang gadis berpakaian maid, dengan sebuah bando telinga kelinci bertengger manis di kepala merah jambunya itu.
Naruto tidak lupa siapa gadis itu, dia adalah Haruno Sakura yang disinyalir kekasih pemuda berambut raven itu. "ahh, siapa ini" Sakura berjalan mendekati Naruto yang tengah berdiri di samping Sasuke.
"huwaaahhh, kau imut sekali" dengan gemas, Sakura mencubit kedua pipi chubby Naruto.
"kau mau bekerja disinikan? Iya kan? iya kan?" Tanya Sakura—penuh harap.
Sasuke menghela nafas pelan, ia menarik tangan Sakura untuk menjauhi wajah Naruto.
"halahh, Sasuke-kun tidak asyik" kata Sakura.
"kau Naruto kan? anak 12-C? Kau tahu tidak? Sudah lama aku mau menyapamu, tapi melihatmu yang selalu menjadi inceran banyak orang aku jadi tidak berani dekat-dekat" Sakura berkata lagi, sambil meletakan kedua tangannya pada masing-masing pipinya itu.
"ayo Naruto, kita biarkan gadis aneh ini bicara sendiri" Sasuke dengan amat sangat posesif menarik Naruto untuk masuk ke dalam sebuah ruangan. Mungkin saja itu ruangan staff, karena ada semacam loker berderet di dalamnya.
"kau bekerja di cafe ini?" Tanya Naruto.
"hn" sahut Sasuke—membuka satu persatu kancing seragamnya (Sasuke tidak memakai gakuran).
"jadi, tadi itu kekasihmu?" Tanya Naruto.
Sasuke mencium sebuah radar kecurigaan pada diri Naruto, entah kenapa ia malah mengira kalau Naruto sedang cemburu padanya.
"tentu saja bukan. Dia itu sahabatku" jawab Sasuke—seraya memakai baju ala butler miliknya.
Naruto menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, siapa sih pemilik cafe unyu menye begini? Terlebih lagi, bukan Cuma Sasuke dan Sakura yang bekerja disini. Ternyata masih ada anak-anak dari sekolah mereka yang juga ikut bekerja disini.
Krieett..
Keduanya menoleh ke arah pintu, tampak seorang pemuda dengan rambut ikat nanas baru saja tiba di depan pintu dengan masih memakai kemeja santai dan sebuah tas selempang berwarna hitam.
Iris kuaci itu tampaknya terkejut kala melihat sosok pirang bertubuh mungil itu berada di dalam ruangan tersebut.
"shi..shikamaru" Naruto juga tak kalah terkejut. Bagaimana bisa? Shikamaru kan bukan seorang type yang mau bekerja di tempat yang chibi-pinky-cutie begini.
"lho, kau juga mau bekerja disini?" Tanya Shikamaru—melangkah masuk ke dalam. Naruto menggelengkan kepalanya pelan, dia juga masih belum mengerti kenapa cowok-cowok kece macam Sasuke dan Shikamaru mau bekerja disini? Cafe nuansa pinky begini? Ya ampun...-_-
"ku kira kau akan bekerja disini" kata Shikamaru, ia mulai memakai rompi maid berwarna hitam tanpa melepaskan kemeja berwarna putih itu yang lebih dulu melekat di tubuhnya.
"sebenarnya ini tuh cafe macam apa?" Tanya Naruto—mengedarkan mata birunya. Begitu banyak pertanyaan yang timbul di kepala kuningnya itu. Shikamaru berjalan menuju loker miliknya, dan memasukan tas selempang hitamnya itu ke dalam loker tersebut. "mungkin Sasuke bisa menjelaskannya" sahut Shikamaru—pemuda Nara pun melangkah keluar, meninggalkan dua pemuda itu.
"aku harus bekerja, mungkin nanti akan ku jelaskan" ujar Sasuke, sosoknya tampak tampan dengan balutan seragam butler itu. Naruto membuang muka ke arah lain, berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya. Apa-apaan itu? Sasuke masak kelihatan sangat tampan sih. Sasuke benar-benar seperti iblis berwajah rupawan!
"terus aku bagaimana?" Tanya Naruto, lagi-lagi ia bertanya.
"kau bisa duduk disana, jika kau haus atau lapar, kau bisa SMS dan aku akan membawakan sesuatu untukmu" sahut Sasuke.
.
.
.
.
.
Beberapa hari kemudian
Mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, dimana ia melihat Sasuke memakai seragam Maid, Naruto jadi sering tersenyum sendirian. Bahkan hari ini, entah sudah berapa kali ibunya menegur Naruto supaya tidak melamun sambil tersenyum seperti orang gila. Mau lagi makan, belajar, mandi, bahkan menjaga toko pun Naruto tidak bisa melupakan rupa Sasuke versi butler.
"kenapa kakak senyum-senyum sendiri?" Tanya seorang anak kecil, yang sudah menjadi pelanggan setia toko pernak-pernik milik keluarganya. Bocah bernama Nagato itu rupanya kepo melihat seorang pemuda manis seperti Naruto terus menerus tersenyum seperti itu.
"ahh..t..tidak..m..mungkin Nagato-chan salah lihat" sanggah Naruto, berusaha mengelak.
Nagato memanyunkan bibirnya lucu. Kemudian seorang gadis berusia 10 tahunan muncul dengan beberapa macam benda yang hendak ia beli. "ahh..kak Konan" Nagato berjalan mendekati gadis berambut soft purple itu. "wahh, hari ini Konan belanjanya banyak sekali" Kata Naruto—dengan senyum manis di wajahnya. Konan mengangguk lucu, gadis kelas 5 SD ini memang sangat suka membuat prakarya dan ia menjadi pelanggan tetap di toko Naruto.
Konan juga sering mengajak adik kecilnya Nagato ke toko itu. Selagi Konan memilih bahan-bahan untuk prakarya miliknya, Nagato pasti akan duduk menemani Naruto yang tengah menjaga kasir. Naruto tidak keberatan, ia malah suka saat dimana Nagato mau menemani dirinya di sini. Bocah 5 tahun seperti Nagato memang masih menggemaskan, Naruto saja kadang sering mencubiti pipi tembam anak itu. Meskipun sering mengaduh sakit, tetap saja Nagato tidak pernah merasa jera untuk bermain dengan Naruto.
"iya..hari ini aku akan membuat banyak prakarya" jawab Konan. Hari ini adalah hari minggu, hari dimana pelanggan kecilnya ini akan datang ke toko mereka dengan membeli banyak belanjaan.
Nagato melompat-lompat kecil menuju kasir dan membuat beberapa pengunjung tersenyum simpul melihatnya. Mereka gemas melihat bocah itu bertingkah lucu, sangat alami mengingat usianya yang baru menginjak 5 tahunan itu.
"ehhh..Nagato jangan begitu nanti jatuh!" kata Konan, mencoba mengingatkan adik kandungnya untuk tidak bertingkah terlalu aktif.
Ringg..
Gemeringcing lonceng berbunyi kala seorang gadis berambut indigo membuka pintu ruko itu. Gadis itu mengundang banyak decakan kagum dari pengunjung yang tengah mengantri di meja kasir. Seakan sosok itu adalah seorang bidadari yang baru saja turun dari langit, terlalu hiperbolis memang. Dengan anggun, gadis berbalut gaun berwarna lavender itu melangkah—seolah sedang mencari-cari barang yang hendak ia beli.
"terimakasih, semoga tidak sungkan berkunjung di toko kami" ucap Naruto, kepada pengungjung terakhirnya. Naruto menghela nafas pelan, tampaknya toko sangat ramai hari ini.
Ditolehkan kepalanya ke arah seorang gadis cantik yang menjadi pengunjung terakhirnya itu. Gadis bergaun lavender itu tampaknya sedang mencari-cari sesuatu di rak—khusus hadiah. Ia merasa, gadis itu butuh bantuan. Naruto pun memutuskan untuk berjalan mendekati sang gadis—hendak membantu sang gadis.
"maaf, bisa saya bantu" Naruto menyapa gadis itu dengan senyum ramah.
"Apa kau yang bernama Naruto?" Tanya Gadis tersebut, membuat senyum di wajah pemuda bertubuh mungil itu lenyap seketika. Jantungnya berdetak cepat, takut-takut ia mengangguk.
"Namaku Hyuga Hinata" Hinata meraih sebuah lampu hias berbentuk hati dari atas rak dengan kedua tangan putih susunya itu. Maniks lavender itu meneliti lekuk-lekuk benda di tangannya dengan tatapan khas seorang bangsawan. Tanpa mempedulikan Naruto yang terkejut bukan main mendengar ucapan gadis bermarga Hyuga di hadapannya kini.
"aku sudah tahu siapa kamu, hubunganmu dengan kakakku, dan juga pandanganmu mengenai kak Neji" Ujar Hinata—tersenyum angkuh. Sebagai seorang yang masih memiliki darah biru, memang akan membuat gadis itu terlihat anggun bagaimanapun juga.
Pranggg...
Lampu hias itu ia jatuhkan dan membuat kedua maniks sapphire Naruto membola seketika. Ia menatap tak percaya, jika gadis yang terlihat bagaikan seorang malaikat ini begitu tega menghancurkan barang yang ia jual.
"jauhi kakakku!" seru Hinata—dengan nada dingin.
"a..apa?"
Hinata melangkah lebih dekat lagi, "apa kau tuli? Jauhi kakakku!" Hinata berkata lagi.
"lagipula, apa yang kau inginkan? Uang? Kau mau berapa?" Tanya Hinata—melayangkan tatapan hinaan pada Naruto. "aku tidak suka kakakku dekat-dekat dengan seorang pemuda seperti dirimu" ejek Hinata.
Hancur sudah perasaan Naruto hari ini. harga dirinya terasa seperti terinjak-injak mendengar ucapan gadis Hyuga itu. Remuk, terasa seperti ribuan duri yang menusuk dalam titik pusat kehidupannya. Bulir-bulir bening menetes tanpa ia harapkan. Apa serendah inikah ia untuk seorang Hyuga?
"ini, kemudian jauhi kakakku!" Hinata menyodorkan segepok uang dan melenggang pergi meninggalkan Naruto.
.
.
.
.
Di luar ruko milik Naruto, tepat di seberang sana sebuah mobil sport terparkir dengan seorang pemuda bersurai merah bata berada di dalamnya. Senyuman terukir di bibirnya kala maniks jade-nya itu menangkap sosok seorang gadis bersurai indigo berjalan mendekati mobil miliknya.
"kau sudah melakukannya?" Tanya pemuda itu.
Gadis bermarga Hyuga itu mendengus bosan, dan melemparkan pandangannya tanpa menjawab pertanyaan pemuda itu. Hinata sudah keluar dari toko itu, seharusnya pemuda disampingnya ini sudah jawabannya, bukan?
"kini aniki sudah milikmu seutuhnya" ujar Hinata, menatap kosong jalanan dari kaca mobil. Terdengar tawa sinis dari bibir pemuda di sampingnya itu.
Apa Hinata harus peduli?
Rasanya cukup sudah Hinata berlaku seperti seorang iblis hari ini.
"tak kusangka kau bisa melakukan—"
"jangan memintaku untuk menyakiti seseorang lagi.." sela Hinata.
Pemuda itu menaikan satu alisnya, beretepuk tangan sebentar seolah Hinata sudah melakukan atraksi yang memukau di hadapannya. "selama 2 bulan aku memergoki kakakmu bersama pemuda itu. Selama itu pula aku berusaha mendekati pemuda manis itu. Aku hampir menyukainya jika tak kuingat siapa pemuda itu" pemuda itu mulai berkata-kata lagi.
"siapa peduli" gumam Hinata.
"kau harus peduli!" seru pemuda itu, menarik rambut panjang Hinata.
Hinata menatap tanpa emosi, seolah tidak ada ketakutan yang tersirat di wajah cantiknya itu.
"hahahah" Hinata mulai tertawa.
"kali ini kau menang.. tapi, kau tidak sepenuhnya bisa memiliki kakakku, Gaa-Ra-Sa-Ma" eja Hinata.
.
.
.
.
Malam ini terasa begitu membosankan bagi Sasuke. Entah sudah berapa kali ia menghela nafas hanya untuk membuang rasa bosan yang melanda hatinya. Sepulang bekerja, tidak langsung pulang mungkin adalah pilihannya untuk saat ini.
Udara mungkin akan semakin dingin, namun Sasuke tetap berjalan santai menembus kegelapan sambil sesekali mengeratkan syal berwarna biru di lehernya. Pemuda dengan dibalut blazer hitam itu tanpa ragu menelusuri jalanan kota tanpa ada rasa takut di hatinya. Biasanya, Sasuke akan segera pulang ke flat miliknya untuk istirahat setelah bekerja full seharian. Overtime memang kurang bagus untuk seorang pemuda seperti dirinya.
Melihat sebuah stand kopi di pinggir jalan, Sasuke pun memutuskan mampir untuk membeli satu gelas kopi. Ia mempercepat langkahnya menuju stand kopi langganannya setiap malam, jika suntuk Sasuke bahkan bisa menghabiskan 4 gelas kopi demi menghilangkan kesuntukannya itu. Sungguh, mengerikan!
"selamat malam, bibi" ucap Sasuke—membungkuk hormat pada seorang wanita paruh baya pemilik stand kopi itu.
"whoaaa, ada Sasuke-kun ya" sapa bibi itu, ia terlihat senang ketika melihat sosok muda langganannya tiba di kursi panjang khusus seorang pembeli.
"baru pulang, hm?" Tanya sang pemilik kedai, tampaknya ia seorang wanita tua yang ramah.
"ya, begitulah,bi" jawab Sasuke. Bibi pemilik kedai sudah tahu apa yang akan di pesan Sasuke, maka dari itu dengan sangat cekatan bibi memasukan cairan kopi hangat ke dalam gelas plastic yang sangat praktis untuk pelanggan mudanya itu.
"ini, bi..terimakasih" ucap Sasuke.
.
.
"dobe" gumam Sasuke, ketika melihat sosok mungil berambut pirang sedang berjalan menuju taman sendirian di malam hari.
Maniks obsidian itu lantas mengekori gerak-gerik pemuda manis itu. Tanpa memperhitungkan lagi, Sasuke segera mengikuti langkah Naruto dari belakang. 'mau apa dia kesini?' Sasuke bertanya-tanya dalam hati. Ia terus mengikuti Naruto, tanpa diketahui oleh pemuda tersebut.
Setelah memasuki taman, Naruto segera duduk di bangku taman berbanding jauh dengan Sasuke yang malah bersembunyi di balik pohon. Ini aneh sekali, Naruto tidak akan mau pergi ke tempat sepi malam-malam begini. Pasti ada masalah, Sasuke paham betul siapa pemuda itu. Naruto bukan seorang pemberani pada hal yang berbau hantu, kiranya apa yang membuat si dobe begini?
"hiks.." Naruto menangis seraya memeluk lututnya—menyembunyikan wajah manisnya. Ia menangis mengingat kejadian yang baru saja terjadi 2 jam lalu. Saat dimana Naruto mendatangi gebetannya, Gaara. Ia bermaksud untuk membagi kisah pada pemuda berwajah manis itu. Namun kenyataan pahit menampar telak hati kecilnya, tak bisa percaya dengan apa yang diucapkan Gaara saat itu.
Dengan gamblangnya Gaara mengatakan, bahwa dialah orang yang dicintai oleh Neji, kekasihnya. Gaara lah yang dipilih Neji untuk menjadi pendamping hidupnya kelak. Tanpa menoleh, Naruto langsung pergi sambil menangis. ia sungguh tidak percaya, kalau orang yang sudah sangat ia percayai seperti Gaara mau menusuk dirinya seperti ini.
Tanpa merasa bersalah, Gaara malah berteriak jika ia dan Neji akan segera bertunangan secepatnya. Lagi-lagi, Naruto merasa hatinya terasa disobek jadi dua saat ini. sungguh menyakitkan, sakit bukan main, tak tahukan Gaara dimana rasa sakitnya itu terasa? Sakitnya tuh disini, di dalam hatinya~
"kenapa Gaara-san begitu tega" Naruto mendongakan kepalanya, wajahnya memerah begitu sembab. Jejak air mata terlihat jelas, andai saja ada Sasuke. Mungkin saja, pemuda itu akan menghiburnya saat ini. "Sasu..hiks" tanpa sadar, Naruto memanggil nama pemuda tampan misterius itu.
"Ya, ada apa?"
Naruto menoleh ke kanan ketika mendengar suara tenang nan dalam itu bertanya padanya.
Apa itu hantu?
"S..Sasukeh" Naruto menatap Sasuke dengan air mata yang berlinang deras di wajahnya.
"Kenapa kau menangis?" Sasuke bertanya—baru saja hendak mengambil sapu tangannya, tiba-tiba saja Naruto sudah memeluknya lebih dulu dan menenggelamkan wajah manisnya pada dada bidang dan lebar milik Sasuke.
Pemuda berwajah tegas itu melotot, terdengar suara Naruto semakin keras menangis.
"sudahlah, jangan menangis!" hibur Sasuke—mengusap lembut punggung Naruto.
Dengan lembut, Sasuke menjauhkan tubuh Naruto dari tubuhnya untuk meminta pemuda manis itu berhenti menangis.
"kenapa?" Tanya Sasuke..
"ceritakan padaku, pelan-pelan saja" Lanjutnya.
"kau benar..kau benar dia bukan orang yang baik"
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Omake
Disini sekarang Naruto berada, mengaduk pelan vanilla latte pesanannya di sebuah cafe klasik di tengah-tengah kota Konoha. Sosok pemuda bersurai merah bata itu tersenyum tipis melihat si pirang yang tampak enggan menikmati suguhan di depan matanya. Apa? baru tadi siang kejadian menyakitkan itu terjadi. Seorang gadis cantik datang ke tokonya, dan memaki keras dirinya bak seorang gundik yang ketahuan selingkuh oleh istri tuannya.
"kau ada masalah?" pemuda tampan itu bertanya.
Naruto mendongakan kepalanya, dan mengangguk pelan—sedikit meremas celana jins yang ia pakai.
"apa tentang kekasihmu?" Gaara bertanya lagi. Naruto mengangguk pelan, sedikit menghapus jejak air mata di pipi chubby-nya.
"tadi ada seorang gadis yang mengaku sebagai adik Neji. Dia memintaku untuk—"
"untuk menjauhi kakaknya?" what? Kenapa bungsu Sabaku ini bisa tahu?
Naruto menatap Gaara tidak percaya, bagaimana bisa?
"maafkan aku Naruto, tapi akulah orangnya" kata Gaara—dengan nada menyesal yang terlampau dibuat-buat.
"a..apa?" Naruto bertanya—ia tersenyum, dengan maksud mengatakan bahwa ini adalah lelucon, dan berhenti bermain-main. Namun bukan begitulah nyatanya, berbanding terbalik dengan Gaara yang masih menyesal telah mengatakan hal itu. Ok, Naruto tahu siapa pemuda di hadapannya ini. seorang anak penguasaha mebel terkenal di kota mereka, memiliki rupa yang manis, dan sikap yang anggun tentu tak ada yang bisa menolak pesona pemuda ini bukan? Tapi, apa Neji juga akan terpikat olehnya?
"dia mencintaiku Naruto! Neji mencintai aku" jawab Gaara—tersenyum iblis telah berhasil menyakiti perasaan pemuda manis ini
"GAARA-SAN!" Teriak Naruto—terdengar bangku yang tergeser ketika Naruto berdiri tegak. "kau!" Naruto menunjuk wajah Gaara, betapa teganya pemuda ini. wajahnya seperti malaikat, namun kelakuan seperti iblis. Naruto benci dihianati!
"Kami akan segera bertunangan, jangan lupa datang ya" ujar Gaara. Naruto melenggang pergi dengan perasaan yang hancur. Lantas, Gaara tertawa senang melihatnya. Menghancurkan seorang Naruto, ternyata sangat mudah baginya. Ya, apapun alasannya, Gaara tidak akan pernah memberikan sebuah celah untuk kebahagian seorang Naruto.
.
.
.
Apa ini? aaaarrgggghh, semakin Gaje Minna:'(
Gomen..gomen..gomen..AI udah mencoba yang terbaik, tapi maaf kalau kalian merasa kecewa.
Kecewa atas kegajean yang telah AI buat ini (woo, lebay)
Ahh..yasudlah.. sekedar info ne.. soal fic Cinta Yang Lain, AI bakalan re-publish buat betulin alur cerita yang berantakan kacau balau macam hati AI yang denger Sungmin (yang katanya) mau nikah.. huweeeee- _- okehh, siapa yang setuju AI re-pub fic Mellow itu?
Thx senpai for review: Akasuna no Akemi, Alta0Sapphire, mifta cinya, Inez Arimasen,Onphire Chibi, Kazekageashainuzukaasharoyani,noaiy kyukihae,hanazawa kay, Saory Athena Namikaze,Uzumakianikazehaki, RisaSano, KitsuneRiku11, FukudaAo, dan guest-guest lainnya.
