THE SWEETEST TROUBLEMAKER

.

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

And OCs

.

ChanBaek (GS)

Romance (little bit Humor)

.

DON'T LIKE DON'T READ!


Happy Reading!


.

"Kau yakin?"

Tanya Luhan dan Kyungsoo secara serempak dan mengundang kerutan di dahi Baekhyun. Gadis itu merasa penasaran, sejak kapan Luhan dan Kyungsoo memiliki ikatan batin yang sangat kuat sehinga membuat mereka begitu sangat kompak di setiap kesempatan?

Oh ya, lupakan saja tentang mereka yang sering mengucapkan satu kalimat yang sama secara bersamaan, karena hal tersebut adalah sebagian kecil dari sekian banyaknya kekompakkan penuh kekonyolan yang kerap kali mereka tunjukan.

Seperti saat ini, Baekhyun nyaris selalu mendengus melihat penampilan Luhan dan Kyungsoo yang mengenakan pakaian sama dan tentu membuat mereka lebih terlihat seperti saudara kembar namun dalam klasifikasi yang berbeda.

Ya, Rusa dan Burung hantu.

Gadis itu kemudian menghembuskan napas pelan, melirik kepada Luhan yang duduk di sampingnya sementara Kyungsoo duduk di kursi belakang. Hari ini ia memang menjemput kedua temannya itu untuk berangkat ke kampus bersama.

"Aku sangat yakin" Sahut Baekhyun seraya meraih cermin hias kecil dari dalam Makeup Pouch dan kemudian menelisik penampilannya dengan sedikit meringis.

Well, penampilan Luhan dan Kyungsoo yang mengenakan pakaian sama ternyata tidak lebih aneh dari penampilan Baekhyun saat ini.

Sebuah kain yang melingkar di kepalanya membuat gadis itu terlihat seperti pendekar dalam bentuk tubuh seksi bak supermodel.

Luhan dan Kyungsoo mengerjapkan mata.

"Tapi, umm.. Apakah aku memang harus memakai ikat kepala ini?" Tanya Baekhyun dengan sedikit memasang wajah cemberut ketika merasa penampilannya terlihat sangat konyol.

Kyungsoo mendengus sementara Luhan memutar bola matanya.

"Perlu aku ingatkan, ikat kepala ini sudah dimantrai oleh madam Zhang. Apakah kau lupa yang dia katakan? Kau harus memakainya pada siang hari dan kemanapun selama satu minggu ke depan untuk mengurangi kadar kutukan yang ada pada dirimu." Jelas Kyungsoo seraya menepuk bahu Baekhyun.

Sementara Luhan menganggukkan kepalanya setuju sembari membawa kepalan tangan ke udara untuk menyemangati temannya itu.

"B-benarkah?" Tanya Baekhyun masih terdengar ragu, namun beberapa detik kemudian ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat yakin, ia menganggukkan kepala kepada kedua temannya sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobil disusul oleh Luhan dan Kyungsoo.

Hal pertama yang Baekhyun dapati ketika berjalan di koridor kampus ialah beragam tatapan dari setiap orang. Namun Baekhyun tidak peduli, ia memasang wajah angkuh seraya berjalan dengan gestur menggoda, sesekali ia mengibaskan rambutnya dengan gaya centil. Beberapa saat kemudian Baekhyun memekik terkejut dan nyaris terjatuh ketika seseorang dari arah depan menabraknya.

"Hei, idiot! Apa kau tidak mempunyai mata?!" Bentak Baekhyun pada seorang gadis berkacamata yang tengah membereskan beberapa buku di lantai.

Teriakan Baekhyun itu sontak menarik perhatian beberapa orang yang berada di sekitarnya.

"Ma-maafkan aku Baekhyun-ssi. A-aku tidak sengaja." Sahut gadis itu terbata. Mencari masalah dengan Byun Baekhyun sepagi itu bukanlah awal yang bagus untuk memulai hari yang indah.

Baekhyun memejamkan mata sejenak seraya mengigit bibir bawahnya dengan gemas. Sebenarnya sedari tadi ia menahan dirinya untuk tidak memaki karena nyaris setiap pasang mata yang melihatnya melempar tatapan mencemooh akibat penampilannya yang konyol. Dan gadis culun itu membuat kesabarannya di ambang batas.

"Minggir sialan! Kau menghalangi jalanku!" Kembali Baekhyun membentak dengan kasar.

"Kau baik-baik saja?"

Suara Baritone itu.

Entah darimana datangnya lelaki itu, mendadak ia sudah berada dalam posisi berjongkok di hadapan Baekhyun yang berdiri angkuh seraya memangku tangannya. Lelaki itu membantu membereskan buku milik gadis berkacamata tadi.

Sementara gadis tersebut mendadak bisu ketika mendapati lelaki di sampingnya, mungkin ia tengah bertanya-tanya darimana datangnya pangeran tak berkuda yang membantunya membereskan buku saat ini? "Oh, a-aku.. ba-baik-baik saja. T-terimakasih." Sahutnya terbata, mendapati wajah tampan dan secerah mentari pagi membuatnya lupa bagaimana caranya berucap dengan benar.

Wajah Baekhyun yang masih digelayuti terkejut itu kembali berubah angkuh setelah si lelaki membantu gadis culun tadi berdiri.

"Sekali lagi maafkan aku, Baekhyun-ssi" Gadis itu kembali berucap seraya membungkukkan tubuhnya sebelum akhirnya berlalu.

Baekhyun tidak menyahut, atau tidak mendengarnya sama sekali karena perhatiannya sudah lebih dulu teralihkan pada lelaki yang berdiri di hadapannya saat ini.

Seperti kemarin, sosok itu kembali membuat otot-ototnya menegang seketika. Bedanya kali ini penampilan lelaki itu jauh dari kata berantakan khas anak berandal seperti yang Baekhyun lihat sebelumnya. Dia mengenakan sweater hitam, rambutnya ditata rapi sedemekian rupa layaknya bintang iklan minyak rambut.

Rambut? Ya, lelaki itu bahkan mengubah warna rambutnya.

Cokelat karamel membuatnya semakin tampan.

Mempesona.

Serupa mahakarya yang dipahat sempurna oleh seniman ternama, Baekhyun bahkan yakin tangannya akan teriris jika ia menyentuh rahang tegas itu. Oh mengapa bibir tebal itu begitu..

Begitu..

Baekhyun menelan salivanya.

Oh tidak! Sadarlah, Byun Baekhyun!

Ingat, lelaki yang berada di hadapanmu tidaklah lebih dari seorang berandalan yang kebetulan terjebak dalam wujud setampan Adonis.

Dengan cepat gadis itu mendelik kepada si lelaki.

Berbeda dengan Baekhyun yang harus mati-matian menetralkan detak jantungnya, lelaki itu justru terlihat biasa saja.

Park Chanyeol, dahinya mengkerut ketika memandang Baekhyun. Ah bukan gadis itu, ia hanya sedikit heran dengan ikat kepala yang dikenakannya.

"Apa lihat-lihat?!" Bentak Baekhyun galak seraya mendelik kepada Chanyeol.

Chanyeol menyentakkan kepala ketika suara melengking yang ia yakini berpotensi membuatnya tuli itu menyapa indera pendengarannya.

"Park Chanyeol!"

Sebuah suara dari arah lain membuat Baekhyun, Luhan, dan Kyungsoo mengernyit. Bukan karena tertarik pada si pemilik suara yang ternyata seorang wanita cantik itu, hanya saja ekspresi wajah lelaki di hadapan mereka berubah drarstis setelah melihat wanita tersebut.

Tampang datarnya tergantikan oleh wajah yang digelayuti senyuman, lelaki itu bahkan melambaikan tangannya kearah si wanita sebelum akhirnya berlalu menghampirinya.

Baekhun mendecih.

Kemudian ia berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya yang beberapa saat lalu terhenti, disusul oleh Luhan dan Kyungsoo, ketiganya berjalan bersama namun dengan ekspresi wajah yang sangat bingung seolah tengah memikirkan sesuatu.

"Bukankah ada yang aneh?" Itu Luhan.

"Aku yakin kita melewatkan sesuatu." Kemudian Kyungsoo

"Aku pun merasa begitu, apa yang.." Baekhyun menggantungkan kalimatnya, dahinya semakin berkerut.

Mereka bertiga kembali menghentikan langkah, saling melempar tatap dengan ekspresi wajah yang perlahan berubah terkejut.

"PARK CHANYEOL?!"

Seru ketiganya secara serempak dengan mata membulat sempurna.

.

.


-The Sweetest Troublemaker-


.

Chanyeol memasuki kafetaria kampus, berjalan menghampiri sekumpulan pemuda yang terdiri dari empat laki-laki dan satu perempuan.

"Yo what's up Chanyeolie!" Seru Wendy seraya meninju pelan bahu Chanyeol setelah lelaki itu duduk di sebelahnya.

Sehun yang tengah menyantap ramennya seketika terkekeh mendengar sebutan yang amat tabu bagi Chanyeol terlontar. Namun satu detik setelahnya ia mendengus saat Chanyeol dengan santai melemparkan cemilan yang tengah Jongdae nikmati kearahnya.

"Apa kalian sudah tahu penampilan Byun Baekhyun hari ini?" Wendy bertanya dengan gelak tawa.

"B Noona?" seru Sehun antusias.

Wendy memutar bola matanya, "Ya, ya.. B Noona mu yang sombong dan angkuh itu menjadi topik panas karena penampilan konyolnya." Kembali Wendy tergelak, kemudian ia menyalakan ponselnya, menunjukan foto Baekhyun yang terpampang di media sosial kepada Sehun.

Mata Sehun berbinar, "Bukankah dia terlihat lucu memakai ikat kepala itu?" Katanya dengan senyum merekah.

Wendy memandang jengah kepada temannya itu, bertanya dalam hati mengapa Sehun begitu mengidolakan sosok centil seperti Byun Baekhyun itu?

Sementara Chanyeol yang melihat sekilas foto yang terpampang di layar ponsel Wendy kemudian menaikkan sebelas alisnya. Ber-Oh-ria dalam hati ketika mengetahui nama gadis galak yang ia temui pagi tadi,

Dan kemarin,

Dan juga malam itu.

Chanyeol mendecih, mencemooh setiap orang yang berasumsi bahwa pertemuan lebih dari satu kali dengan orang yang sama dalam waktu yang intens adalah takdir yang telah Tuhan rencanakan.

Chanyeol memang sering mendengar tentang gadis cantik dan populer di fakultas ekonomi, namun Chanyeol tidak pernah tahu bahwa dia adalah Byun Baekhyun yang sering Wendy ceritakan dengan sinis. Selain karena Chanyeol bukan tipikal orang yang akan repot-repot mengurusi hal-hal yang tidak penting, ia juga termasuk orang dengan kadar acuh paling tinggi. Selama ia tidak mengenal orang itu, Chanyeol hanya akan bersikap sewajarnya.

Lelaki itu kemudian melirik kearah Wendy yang masih terkikik seraya memainkan ponselnya, ia tahu gadis itu kini tengah menuliskan berbagai cemoohan di kotak komentar foto gadis bernama Byun Baekhyun itu.

"Apa kau tidak mempunyai pakaian perempuan?" Tanya Chanyeol dengan suara rendah sembari menelisik penampilan Wendy.

Jemari Wendy yang sedari tadi menari-nari di layar ponsel terhenti, dan kemudian ia memutar bola matanya. Ia tahu itu bukan pertanyaan, melainkan omelan yang kesekian kalinya Chanyeol tujukan kepadanya.

Memangnya apa yang salah dengan dirinya yang memakai kaos oblong tanpa lengan dengan Ripped Jeans?

Bukankah ia terlihat keren?

"Tidak." Seolah tahu apa yang Wendy pikirkan, Chanyeol membantah dengan tegas. "Kau aneh."

Wendy mengerucutkan bibirnya.

"Wendy bahkan bercita-cita menjadi seorang suami bukan seorang istri, sampai mati pun kau akan tidak melihatnya memakai gaun dengan belahan dada rendah." Jongin yang sedari tadi mematut wajahnya di sendok akhirnya buka suara, berbicara dengan nada santai.

Tawa Jongdae meledak. "Eiyy, Sudah sudah." Tuturnya, kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah Wendy "Sekarang katakan padaku.." Lanjutnya dengan nada serius. "Apakah kau sering memakai pakaian dalam laki-laki?" Tanyanya dengan mimik muka yang dibuat sangat serius, namun sepersekian detik setelahnya tawanya meledak, disusul oleh Sehun dan Jongin.

Ketiga lelaki itu terbahak-bahak sehingga mengundang perhatian dari beberapa orang yang ada di kafetaria tersebut dan bahkan sampai membangunkan Johnny yang sedari tadi tertidur dengan posisi kepala tergeletak di atas meja.

"Kau baik?" Tanya Chanyeol kepada Johnny mengabaikan keempat makhluk hidup absurd yang tengah beradu mulut meski lebih banyak didominasi oleh omelan Wendy, gadis itu bahkan telah menjelma menjadi sosok barbar dengan menyerang dan memukul Sehun, Jongin dan Jongdae yang tak henti-hentinya membully dirinya.

Johnny menguap tak elit seraya mengucek sebelah matanya. Kemudian mengangguk untuk sekedar menjawab pertanyaan Chanyeol.

Wendy menghentikan aksi radikalnya, gadis itu melirik kearah Johnny dan memukul punggung lelaki itu. "Kau! Jika berani bertengkar dan menyusahkan pangeran Dobby ku lagi seperti kemarin malam, akan kuhajar kau!" Tuturnya diiringi delikan tajam.

Chanyeol mendengus ketika lagi-lagi Wendy menyebutnya dengan sebutan konyol itu. Lelaki itu kemudian menggeleng-gelangkan kepalanya tatkala melihat Sehun, Jongin dan Jongdae yang sudah menyerupai korban kekerasan rumah tangga.

Sedangkan Johnny meringis merasakan panas di punggungnya akibat pukulan Wendy yang semakin membuatnya yakin bahwa gadis itu adalah versi perempuan dari Hercules.

Wendy itu cantik, sungguh. Hanya saja tenaganya seolah melebihi kekuatan seribu pasukan Persia. Terlebih fakta akan kelakuannya yang sudah menjadi rahasia umum bahwa mungkin saja ada kesalahan cetak saat gadis itu dilahirkan ke dunia. Orang-orang akan menggeleng-gelengkan kepala mereka setiap kali mendapati kelakuan Wendy yang melebihi anak laki-laki.

"Apa kau tidak bisa sedikit lebih anggun?" Tanya Chanyeol kepada Wendy.

Sehun, Jongin, dan Jongdae yang tengah mengaduh kesakitan akibat serangan Wendy harus mati-matian menahan tawa ketika pertanyaan Chanyeol tersebut terlontar. Tentu saja, mereka tidak ingin kembali diserang oleh gadis jadi-jadian itu dan berakhir menjadi gundukan tanah yang dihiasi batu nisan.

"Jika aku berubah menjadi anggun, apakah pangeran Dobby ku ini akan menyukaiku setengah mati seperti ia menyukai Noona nya itu?"

"Konyol." Gumam Sehun.

"Mustahil." Jongin mendecih.

"Dalam mimpimu!" Ejek Jongdae.

Wendy kemudian menatap bosan kepada Johnny.

"Apa?" Kata Johnny seraya mengangkat bahu.

Mata Wendy memicing kearah Johnny, membuat lelaki itu siaga dalam mode waspada. Johnny tahu jika sudah seperti itu ia harus hati-hati dalam berucap, lelaki itu menyeruput habis jusnya kemudian bangkit dari kursi, tangannya terulur mengusak rambut Wendy seraya berucap, "Chanyeol tidak menyukai perempuan jadi-jadian sepertimu." Kemudian memundurkan kursi dan berlalu begitu saja, meninggalkan Sehun, Jongin dan Jongdae yang sudah tidak mampu menahan gelak tawa, mereka tertawa seraya memukul bahu satu sama lain layaknya sekumpulan Fangirl yang girang ketika melihat idolanya berada diatas panggung.

Johnny mempercepat langkah kaki ketika mendengar teriakan Wendy yang membahana memenuhi seisi kefetaria. Ia tahu jika satu detik saja terlambat pergi dari tempat itu, esok hari keluarganya akan berkabung dan teman-teman satu fakultasnya akan berbondong-bondong menghadiri pemakamannya.

Sementara Chanyeol memijit dahinya yang mulai berdenyut akibat kelakuan teman-temannya itu. Lalu matanya menatap ke sekitar, ia mendengus. Chanyeol tidak pernah nyaman menjadi pusat perhatian, berbeda dengan Sehun, Jongin, Jongdae yang seolah sengaja tebar pesona pada sekumpulan gadis yang tak pernah absen menatap mereka penuh puja.

.

.


-The Sweetest Troublemaker-


.

Baekhyun memijat pelipisnya dengan dramatis setelah membaca sederetan informasi tentang seseorang yang ia peroleh dari Luhan.

"Namanya Park Chanyeol." Kata Luhan.

"Shio nya monyet" Kemudian Kyungsoo dengan nada hati-hati.

Baekhyun meremas kertas dalam genggamannya, kemudian memejamkan mata sejenak. "Apa dia satu-satunya—

"Ya, dia satu-satunya yang bernama Park Chanyeol di kampus kita." Luhan Menyela dengan cepat.

"Dia dari fakultas teknik." Kemudian Kyungsoo.

Baekhyun menggeram tertahan. Kemudian menghempaskan dirinya keatas ranjang. "Mengapa?" Tanyanya kemudian.

Luhan dan Kyungsoo menatap Baekhyun tak mengerti.

"Mengapa harus dia?" Kembali Baekhyun bertanya dengan nada sedikit meratap.

Karena sungguh, dari sekian banyak lelaki tampan di dunia ini mengapa harus lelaki bertampang datar itu yang harus merenggut kesuciannya?

Meskipun Baekhyun tak mengelak bahwa mungkin saja tubuh tinggi tegap lelaki itu akan membuatnya tak berdaya selama ritual melenyapkan kutukan itu berlangsung..

Oh tidak! Tidak!

Mengapa Baekhyun berubah menjadi sangat mesum akhir-akhir ini?

Gadis itu kemudian menggigiti kukunya denga gusar, niatnya untuk mempertahankan harga dirinya yang tersisa kini seolah terpatahkan.

Karena lelaki itu.

Lagi.

Park Chanyeol seolah menyentil integritasnya sebagai wanita yang digadang-gadang menjadi penerus dari kecantikan dewi Aphrodite.

"Kau bilang dia dari fakultas teknik?" Tanya Baekhyun.

Luhan dan Kyungsoo mengangguk.

Baekhyun menautkan kedua alisnya. "Aku melihatnya dua kali berada di fakultas ekonomi, apa yang dia lakukan di sana?"

"Mungkin dia mempunyai teman di sana. Well, hal yang wajar mengingat fakultas ekonomi dan teknik saling berdekatan." Jelas Luhan. "Dan, umm B.. aku baru tahu bahwa dia adalah teman dekat Se-Se.." Ucapan Luhan tersendat karena mendadak ia kesulitan mengucapkan satu nama.

Baekhyun menautkan kedua alisnya, menatap Luhan dengan bingung. "Se? Se siapa maksudmu, Lu?"

"Sehun. Oh Sehun." Kyungsoo menyahut seraya melempar ekspresi jengah. Diam-diam ia tahu bahwa Luhan kerap kali memperhatikan mahasiswa teknik yang gemar membawa Skateboard ke kampus itu.

Maka, Kyungsoo tidak akan heran jika wajah Luhan akan merona dengan sendirinya ketika nama Oh Sehun menyapa indera pendengarannya.

"Sehun? Siapa Sehun?" Tanya Baekhyun lagi.

Kyungsoo mendengus. "Yang benar saja! Kau tidak tahu? Manusia albino yang kerap kali memanggilmu 'B Noona, B Noona' dan mengejarmu untuk sekedar meminta berfoto bersama, dia Oh Sehun."

Baekhyun memasang wajah berpikir, "Ahh aku ingat, dia salah satu penggemar fanatikku. Benar, lelaki yang mirip dengan Draco Malfoy itu bukan?" Seru Baekhyun diiringi kekehan renyah.

"Oh astaga!"

Luhan dan Kyungsoo menepuk jidat, bukan karena menyangkal akan ucapan Baekhyun yang menyebut Sehun sebagai penggemar fanatiknya, hanya saja dalam situasi genting seperti ini Baekhyun masih saja sempat antusias terhadap hal-hal yang menyangkut Harry Potter dan antek-anteknya.

"Bisakah kau berhenti menonton film Harry Potter?" Kyungsoo dan Luhan berucap gemas.

"Hei, tidak bisa. Itu film kesukaanku!" Baekhyun merengut seraya mendelik kepada kedua temannya seolah mengibarkan bendera perang, membuat Luhan dan Kyungsoo mendengus untuk ke sekian kalinya.

Well, seharusnya Luhan dan Kyungsoo tahu bahwa mereka tidak lebih berharga dari cerita fiksi tentang dunia sihir yang begitu Baekhyun sukai tersebut, dan hal itu mengingatkan Luhan dan Kyungsoo pada hal konyol dimana Baekhyun akan selalu menangis tersedu-sedu setiap kali menonton adegan ketika Profesor Snape membunuh Dumbledore. Baekhyun bilang orang tua berjanggut putih panjang itu sudah seperti kakeknya sendiri.

Oh yang benar saja! Seingat Luhan dan Kyungsoo, Baekhyun kerap kali membuat kakeknya sendiri naik darah karena ulahnya.

"Jadi, bagaimana?" Tanya Kyungsoo tak sabaran.

"Apa? Bagaimana apanya?" Sahut Baekhyun.

"Apakah kau sudah memutuskan akan menjadikan Park Chanyeol itu sebagai orang yang akan merenggut.. keperawananmu?" Luhan mengatakannya dengan wajah merona.

Kyungsoo ikut tersipu.

Sementara Baekhyun menggigit bibir bawah, menahan dirinya untuk tidak tesenyum meskipun wajahnya sudah semerah kepiting rebus. "Kau frontal sekali, Lu." Tuturnya dengan malu-malu, gadis itu menutupi wajah dengan bantal, menyembunyikan kekehan yang lolos dari mulutnya. "A-aku, aku tidak tahu. Haruskah?"

Kyungsoo dan Luhan ikut membaringkan tubuh mereka di ranjang Baekhyun, kini ketiganya menatap langit-langit kamar dengan wajah yang dihiasi semburat merah.

"Dia tinggi.." Kata Kyungsoo.

"Tampan.." Kemudian Luhan.

"Dan sepertinya dia perkasa." Tutur Baekhyun polos, membuat Luhan dan Kyungsoo menoleh kearahnya dan sepersekian detik setelahnya mereka tergelak. Ketiga gadis itu saling melempar pandang dengan ekspresi yang sangat mesum

.

.


-The Sweetest Troublemaker-


.

Chanyeol berlari menuruni tangga, membuat Haru dan sang ibu yang tengah duduk santai di ruang keluarga menyipitkan mata. Ya, jika mereka tidak mendapati Chanyeol yang tampak terburu-buru.

"Apa?" Tanya Chanyeol kepada kedua wanita itu.

"Oppa mau pergi?" Tanya Haru dengan mata memicing curiga.

"Kau mau kemana?" Tanya sang ibu terheran-heran seraya melirik jam dinding.

Terang saja, karena Chanyeol adalah tipikal orang yang jarang keluar malam.

Sungguh.

Jika bukan karena alasan paling masuk akal seperti membantu Johnny kemarin malam meskipun dirinya harus berakhir di kantor polisi, Chanyeol akan berpikir dua kali sebelum memutuskan keluar rumah ketika jarum pendek jam mengarah pada angka delapan.

Teman-temannya tahu Chanyeol adalah anak rumahan.

Bukan karena lelaki itu kurang pergaulan atau culun, hanya saja selain karena ayahnya kerap kali pulang larut karena harus bekerja lembur dan membuat Chanyeol merasa bertanggungjawab untuk menemani serta melindungi ibu dan adiknya di rumah, Chanyeol juga merasa tidak perlu menghabisakan semalaman suntuk diluar rumah dengan hal-hal yang tidak berguna dan melewatkan jam tidur yang sudah pasti akan berimbas pada kegiatannya di kampus.

Big No!

Park Chanyeol bukanlah Johny yang kerap kali melewatkan mata kuliah hanya untuk tidur di perpustakaan.

Jika dipikir-pikir, diantara teman-temannya hanya Chanyeol lah yang bergaya hidup bersih dan teratur.

Dia tidak seperti Jongin dan Johnny yang gemar melakukan One Night Stand dengan beberapa wanita.

Dia tidak seperti Sehun dan Jongdae yang kerap kali keluar masuk Club malam.

Well, meskipun alasannya keluar malam kali ini untuk pergi ke tempat itu, bukan berarti ia berniat bercumbu dengan sloki-sloki berisikan minuman berkadar alkohol tinggi. Melainkan karena seseorang.

Seseorang yang menghubunginya dengan nada suara mabuk berat, membuat Chanyeol dengan cepat menyambar jaket dan kunci mobilnya.

Lelaki itu semakin mempercepat laju kendaraannya, sedikit mengutuk pengguna jalan lain yang menghalanginya. Chanyeol mengeratkan pegangannya pada kemudi hingga membuat jari-jari kukunya memutih, menandakan bahwa emosinya tengah berkecamuk. Rasa cemas kian menyesakki dadanya. Hingga beberapa menit kemudian ia sampai di depan sebuah Club elit. Chanyeol membanting pintu mobilnya dengan cukup keras sebelum kemudian berlari memasuki bangunan besar tersebut.

Matanya menyapu bersih setiap sudut ruangan yang didominasi oleh beragam warna cahaya yang temaram serta dipenuhi oleh suara musik keras yang menghentak. Chanyeol menyipitkan mata ketika melihat sosok wanita yang ia cari tengah menyandarkan kepalnya pada Counter Bar. Kakinya yang hendak melangkah mendekati sosok tersebut tiba-tiba terhenti. Ia merasa terpaku di tempatnya berdiri ketika melihat seorang lelaki menghampiri wanita itu, Chanyeol kemudian memalingkan wajah ketika si wanita terbangun dan bergelayut manja pada lelaki itu sebelum kemudian menciumnya mesra.

Tanpa sadar tangan Chanyeol terkepal.

Dari awal, Chanyeol seharusnya tahu bahwa ia bukanlah satu-satunya orang yang akan wanita itu hubungi dan memintanya untuk datang.

Merasa keberadaannya sudah tidak diperlukan lagi, Chanyeol kemudian berbalik dan berniat untuk keluar. Namun sebuah lengan yang tiba-tiba melingkar pada perutnya membuat lelaki itu terkejut seketika.

.

.

.

Semua mata tertuju pada seorang gadis yang tengah meliuk-liukkan tubuhnya di tengah-tengah Dancefloor , gadis itu tampak sangat menikmati alunan musik tanpa mengindahkan tatapan lapar dari para lelaki yang memandang tubuh seksinya yang hanya terbalut oleh Mini Dress ketat. Seolah tidak peduli paha mulusnya menjadi tontonan gratis, gadis itu justru semakin meliuk-liukkan tubuhnya dengan gaya menggoda dan sesekali mengerling nakal, membuat lelaki manapun akan berlari menuju toilet terdekat untuk menuntaskan hasrat.

Setelah berhasil memperdaya Tao dengan segala tipu muslihat, Baekhyun akhirnya bisa bersenang-senang malam ini.

Tunggu, bukankah tadi ia mengajak Luhan dan Kyungsoo?

Kemana perginya Rusa dan Burung hantu itu?

Baekhyun menyipitkan matanya pada seluruh penjuru ruangan Club, pengaruh alkohol membuat penglihatannya sedikit memburam dan membuat gadis itu kesulitan menemukan kedua temannya. Matanya terus mencari dan menelisik setiap orang hingga berhenti pada sosok lelaki tinggi tegap yang berdiri di seberang Dancefloor, gadis itu semakin menyipitkan matanya, memastikan bahwa yang ia lihat saat ini adalah benar. Berjalan gontai karena kepalanya yang terasa pusing, Baekhyun mulai mendekati sosok itu. Ia merengut ketika melihat si lelaki tersebut berbalik dan hendak berlalu, namun gadis itu mempercepat langkah kakinya, mengabaikan beberapa orang yang menggerutu karena ia tabrak dengan tidak sengaja.

Baekhyun mengulurkan kedua tangannya, sebelum kemudian ia melingkarkannya pada perut lelaki itu. Aroma khas yang ia cium pertama kali dari punggung si lelaki membuat Baekhyun membenamkan hidungnya lebih dalam.

Ahh, Baekhyun menyukai aromanya.

Beberapa detik kemudian tangannya terlepas ketika lelaki itu berbalik menghadapnya.

Park Chanyeol mengernyit, menelisik gadis di hadapannya dari bawah hingga atas. Lelaki itu kemudian memalingkan wajah ketika netranya tertuju pada belahan dada dari Dress yang gadis itu kenakan. Dan beberapa detik kemudian ia kembali memperhatikan wajah gadis di depannya.

Sekarang ia ingat, gadis itu adalah Byun Baekhyun yang Wendy bicarakan tadi siang.

"Apa yang kau lakukan?" Chanyeol bertanya dengan nada tidak suka. Terang saja, untuk lelaki seperti Chanyeol yang bahkan tidak pernah menyentuh wanita dengan sembarangan tentu tidak suka dengan kelakuan gadis itu yang seenaknya memeluknya. Terlebih mereka tidak saling mengenal.

Baekhyun terkekeh renyah, kemudian menangkup wajah Chanyeol dengan kedua telapak tangannya, "Kau.." Baekhyun menatap Chanyeol dengan mata sayunya, "Brengsek!" Teriaknya kemudian.

Chanyeol menyentakkan kepala ketika mencium bau alkohol yang sangat kuat dari gadis itu. Kemudian ia melepas tangan Baekhyun dari wajahnya, "Kau mabuk!" Ucap Chanyeol dengan nada yang ia naikkan berharap gadis itu mendengar karena tempat itu begitu bising.

Baekhyun terhuyung namun dengan sigap Chanyeol menahan tubuh mungilnya, membuat tangan Baekhyun bersandar pada dada bidang lelaki itu.

"Apa menurutmu aku tidak cantik?" Tanyanya dengan nada meratap seraya mendongak, menatap Chanyeol .

Lelaki itu menaikkan sebelah alisnya.

"Mengapa kau mengabaikanku, huh?" Baekhyun kembali berteriak, "Apa kau pikir kau tampan?" Tanyanya lagi masih menatap Chanyeol.

Lelaki itu sedikit memiringkan kepalanya, memasang wajah bingung. Tangan kekarnya masih setia menahan tubuh Baekhyun.

Baekhyun merengut, "Kau memang tampan, Brengsek!" gadis itu kemudian terisak namun sesaat kemudian ia menunjuk Chanyeol dengan jari telunjuknya, "Park Chanyeol, kau…" Mata sayunya memicing, "Tampan!" Gadis itu berseru dengan nada kesal kemudian tertawa renyah.

Dahi Chanyeol kian mengkerut ketika namanya lolos terlontar dari mulut Baekhyun, bertanya-tanya dalam hati darimana gadis itu tahu namanya?

Oh itu tidak penting!

Untuk saat ini bagaimana caranya menangani gadis mabuk ini.

Chanyeol kembali menelisik penampilan gadis yang saat ini tengah bersandar pada dadanya, tak ia hiraukan umpatan-umpatan kasar yang gadis itu gumamkan. Chanyeol kemudian menggeleng-gelengkan kepala, bagaimana bisa anak kecil sepertinya bisa masuk ke Club ini? dengan pakaian yang sangat minim seperti ini?

Oh, ralat. Maksud Chanyeol tubuh Baekhyun itu mungil seperti anak kecil, terlebih saat ini ia tidak tahu gadis itu bersama siapa.

"Hei, kau datang bersama siapa? Kau sudah mabuk berat dan harus pulang." Ujar Chanyeol seraya menahan bahu Baekhyun dan sedikit mengguncangnya.

Baekhyun meronta, kembali mengumpat kasar sebelum kemudian menyandarkan dirinya kembali pada lelaki di hadapannya.

Chanyeol mendengus, mencoba menata kesabarannya yang mulai menipis. Meskipun ia tahu gadis itu sedang mabuk dan tidak sadar, namun kelakuannya yang memeluk dan bahkan menyentuh Chanyeol sungguh membuatnya merasa terganggu.

Merasa tidak ada jalan lain, Chanyeol memilih merangkul gadis itu. Namun sebelum memapah Baekhyun, Chanyeol sudah lebih dulu melepas jaket dan menutup tubuh Baekhyun yang sebenarnya Chanyeol tahu sedari tadi banyak mata keranjang yang mengincarnya.

Hal itu pula yang membuatnya memilih membawa gadis itu keluar dari Club tersebut, Chanyeol tidak bisa meninggalkan seorang gadis dalam keadaan mabuk seorang diri. Chanyeol bahkan tidak ingin ambil resiko jika terjadi apa-apa dengan gadis itu.

Dan ini murni karena Chanyeol ingin menolongnya, mengingat gadis itu sudah seperti anak ayam teler yang kehilangan induknya.

Lelaki itu membuka pintu mobilnya sebelum kemudian mendudukkan Baekhyun di sebelah kursi kemudi dan di susul olehnya, ia melirik kearah Baekhyun yang sudah tak sadarkan diri, kemudian menghela napas. Beruntung Chanyeol menemukan selimut Haru di kursi belakang. Dengan segera ia menutup paha Baekhyun yang terekspos dengan selimut tersebut.

Chanyeol menyalakan ponselnya dan menekan Speed dial , menghubungi Sehun. Tidak sampai setengah menit suara lelaki itu sudah terdengar di seberang sana.

"Yo bro!"

"Berikan alamat Byun Baekhyun, sekarang!"

Chanyeol mengernyit ketika Sehun tak kunjung menyahut, ia merasa tidak salah meminta alamat Byun Baekhyun kepada Sehun, karena Wendy bilang Sehun adalah penggemar Byun Baekhyun dan sudah pasti tahu segala informasi tentang gadis itu.

Chanyeol menjauhkan ponsel dari telingnya ketika mendengar ocehan Sehun yang menurutnya tidak penting.

"Jangan bertanya apapun, cukup berikan saja alamatnya!" Tutur Chanyeol dengan nada tegas dan membuat Sehun bungkam seketika.

Lelaki itu kemudian memutuskan panggilan setelah Sehun mengatakan akan mengirim alamatnya melalui pesan.

Helaan napas ke sekian kalinya keluar dari mulut Chanyeol, membayangkan nasibnya esok hari, tentu saja Sehun tidak akan membiarkannya lolos dari pertanyaan seputar Byun Baekhyun.

Chanyeol menoleh dan mendapati Baekhyun bergerak dan berganti posisi menyamping, menghadap dirinya.

Baekhyun mengerjap, mata sayunya menatap Chanyeol dengan sorot lugu. Membuat Chanyeol lupa bahwa ia harus menghirup oksigen, namun tanpa disangka-sangka Baekhyun bangkit dan melingkarkan lengannya pada perut Chanyeol kemudian membenamkan wajahnya pada leher lelaki itu.

Chanyeol terkejut dan berusaha melepaskan gadis itu, namun hal itu membuat Baekhyun semakin mencondongkan tubuhnya untuk merapat.

Sebenarnya Chanyeol bisa saja melepaskan Baekhyun dengan sekali hempas, hanya saja jika ia melakukan itu akan terkesan sangat kasar. Karena demi apapun Chanyeol tidak berani bersikap kasar terhadap perempuan. Karena menurutnya mereka itu adalah makhluk rapuh yang sudah semestinya dijaga dan dilindungi.

Chanyeol tidak menyangka Baekhyun adalah gadis yang sangat liar karena beberapa saat yang lalu nyaris saja ia terperdaya oleh sorot matanya yang lugu. Seharusnya ia ingat bahwa Baekhyun tengah mabuk berat.

"Hei, apa yang kau lakukan?" Tutur Chanyeol seraya berusaha melepaskan gadis itu dengan hati-hati.

Baekhyun menarik wajahnya dari leher Chanyeol, kemudian menatap lelaki itu lamat-lamat "Kau.." Baekhyun menggantung kalimatnya sejenak, "Maukah kau bercinta denganku?" Lanjutnya kemudian seraya mengerjap lucu, namun sepersekian detik setelahnya ia kembali tak sadarkan diri dan berakhir di pangkuan Chanyeol yang sudah membatu dengan mulut setengah terbuka.

.

.

.

TBC

.

.

AN:
Raisa update yang ini dulu ya sayang-sayangku, soalnya kan kemaren kita udah nangis berjamaah nah skrg kita santai-santai dulu, masa mau nangis lagi? haha untuk yang neror Raisa di ig atau pm tenang aja yang lainnya akan diupdate secepatnya :*

Btw itu anak solehnya siapa ya? duh bikin emezzzh wkwkwkk :D

Yang belum nonton Trailer The Sweetest Troublemaker link nya ada di bio ya :)

See you CHU~