"Tunggu dulu Lupin, apa tidak apa-apa kalau kita membaca di perpustakaan?" Alice bertanya sambil melirik takut-takut, berharap menemukan hidung madam Pince di antara rak-rak buku. "Kau tahu, Madam Pince bisa membunuh kita, kalau kita berisik disini." Dia membuat gerakan dramatis memotong leher dengan tongkatnya.

"Yeah, kau benar. Aku belum mau mati sebelum menikah dengan Lily," James berkata sambil memandang Lily penuh harap.

"Dalam mimpimu, James! maksudku Potter!" Lily berkata sambil membelalak kepada James.

"Kau tidak tahu kan Lil, apa saja yang telah kita lakukan di mimpiku" James bergumam sambil menerawang mengingat mimpinya semalam.

"Aku tidak mau tahu!" Lily berkata sambil melotot ke James. "Kau tahu, kemungkinan aku menikah denganMU sama besarnya dengan kemungkinan melihat Filch nyegir malu-malu," dan dia membuat sebuah lingkaran sebesar telur naga dengan tongkatnya. "Sama dengan NOL BESAR"

"Tenanglah kalian semua... Madam Pince akan benar-benar membunuh kita kalau kalian ribut seperti ini" Frank berkata sambil memandang geli James yang sedang berakting mati, sekarat karena patah hati dan di bantu oleh Sirius yang sekarang sedang menyihir sebuah pemutar lagu, memainkan musik mellow ala opera sabun.

"Madam Pince sedang keluar tadi, aku tidak tahu kemana dia, tapi kurasa dia belum kembali" sahut Remus sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan teman-temannya.

"Kurasa kita harus melihat dulu untuk memastikan," Alice berkata setangah tertawa melihat James dan Sirius yang kini sedang berlari karena di kejar burung sihiran Lily.

"Tidak, kita bisa menggunakan mantra Muffliato jika Madam Pince kembali. Lebih cepat lebih baik." Kata Lily ragu.

"Tapi Lils, itu sama saja bunuh diri, Madam Pince akan membunuh kita kalau dia tahu kita membaca buku masa depan kita berdua." James tersenyum manis yang bagi Lily adalah senyum paling menjijikkan.

Lily mendengus, "bacakan saja dulu, Remus."

Remus mengangkat bahu. Menuruti kata Lily.

Dan Remus mulai membaca "Harry Potter and the Philosopher's Stone"

"Philosopher's Stone? Apa itu?" James betanya memandang teman-temannya.

Yang lainnya hanya mengangkat bahu dan Remus kembali membaca.

Anak Laki-laki Yang Bertahan Hidup

Mr dan Mrs Dursley

"Hm, rasanya familiar?" Lily bergumam.

Yang tinggal di Privet Drive nomor empat bangga menyatakan diri bahwa mereka orang-orang normal, untunglah.

"Terdengar seperti Muggle bagiku," James berkata pelan.

Mereka tak bisa diharapkan terlibat dengan sesuatu yang ajaib atau misterius, karena mereka sama sekali tak percaya omong kosong seperti itu.

"Yeah, Muggle," Sirius menyahut.

"Kenapa Muggle bisa ada di buku tentang anakku? Maksudku, kalau dia memang benar anakku, sih," kata James sambil memandang teman-temannya meminta jawaban.

"Ada yang salah dengan Muggle?" Lily bertanya, suaranya manis berbahaya.

"Tentu saja tidak Lils, kami bukan pembenci Muggle, yang kemana-mana menyiksa atau menjahili Muggle, kami menghargai perbedaan dan tentu saja cinta damai!" James menyahut cepat membusungkan dada.

"Aneh sekali kau bilang seperti itu, mengingat kelakuan kalian pada Severus," Lily memandang mereka dengan galak.

"Yeah, itu beda-dia Slytherin!" kata James.

"Dan Rambutnya berminyak!" Sirius menambahkan.

Lily membelalak kepada mereka.

"Sudahlah kalian," Remus menengahi mereka dan mulai membaca kembali.

Mr Dursley adalah direktur Grunnings, perusahaan yang memproduksi bor.

"Eh? Bor?" Alice, Frank dan James, Remus mengernyit mendengar kata itu

"Peralatan Muggle, untuk membuat lubang" Sirius menjawab cepat.

Semua menatapnya tak percaya.

"Apa?" Sirius bertanya.

"Kau-kau tahu tentang peralatan Muggle?" Alice bertanya dengan heran.

"Tentu saja aku tahu, aku kan mengambil Telaah Muggle." Sirius menjawab.

"Aku tidak tahu kalau kamu tertarik tentang Muggle, Sirius?" Remus menyahut.

"Sebenarnya aku mengambil Telaah Muggle dalam rangka membuat ibuku tersayang merasa semakin kesal," kata Sirius sambil mengangkat bahu, merasa sedikit getir mengingat ibunya.

Dia laki-laki besar gemuk

"Kau tahu, Padfoot? Kalau kau tidak berhenti makan, kau akan seperti orang ini." James berkata sambil nyengir jail ke Sirius, berusaha membuat suasana hati Sirius lebih baik, suasana hatinya selalu memburuk kalau mengingat ibunya.

"Tentu saja tidak! Aku tampan!" Sirius berkata sambil menyisir rambutnya dengan jari ke belakang.

Alice dan Lily memutar bola mata mereka.

Nyaris tanpa leher, walaupun kumisnya besar sekali. Mrs Dursley kurus berambut pirang, lehernya dua kali panjang leher biasa. Baginya ini menguntungkan, karena kegemarannya adalah menjulurkan leher di atas pagar-pagar, mengintip para tetangga.

"Hobi yang keren, pasti menyenangkan kalau menjadi tetangganya." Alice berkata sinis.

Suami istri Dursley mempunyai seorang anak laki-laki kecil bernama Dudley dan menurut pendapat mereka, di dunia ini tak ada anak lain sehebat Dudley.

Keluarga Dursley memiliki segalanya yang mereka inginkan, tetapi mereka juga punya rahasia, dan ketakutan terbesar mereka adalah, kalau ada orang yang mengetahui rahasia ini. Mereka pikir mereka pasti tak akan tahan kalau sampai ada yang tahu tentang keluarga Potter.

"Hei! Apa yang salah dengan keluarga Potter?" James berkata dengan sedikit kesal.

"Mungkin... kau pernah menjahili mereka?" Sirius mengusulkan. James hanya mengangkat bahu, merasa bingung.

Mrs Potter adalah adik Mrs Dursley, tatapi sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu. Mrs Dursley malah berpura-pura tidak punya adik, karena adiknya dan suaminya yang tak berguna itu tak layak sama sekali menjadi kerabat keluarga Dursley.

"Kau pastilah menikahi adik Mrs Dursley ini, Prongs" kata Remus.

"Yeah, calon keluarga yang menyenangkan," James menggerundel.

"Hm? Kau tahu, nama ini terasa familiar buatku" Lily berkata sambil mengernyit mencoba mengingat dimana dia pernah mendengar nama itu.

Mr dan Mrs Dursley bergidik memikirkan apa kata tetangga mereka jika keluarga Potter muncul di jalan mereka.

"Tenang saja, aku tidak akan repot-repot mengunjungimu," James bergumam kesal dengan keluarga Dursley yang tak menyukai keluarganya.

Keluarga Dursley tahu bahwa keluarga Potter juga punya seorang anak laki-laki kecil, tetapi mereka belum pernah melihatnya. Anak ini salah satu alasan bagus lain kenapa mereka tak mau dekat-dekat dengan keluarga Potter. Mereka tak ingin Dudley bergaul dengan anak seperti itu.

"Anak seperti itu?" Remus dan Sirius membelalak ke buku itu.

"Aku juga tidak mau anakku bergaul dengan anakmu!" James berkata dengan kesal memelototi buku yang di baca Remus.

Ketika Mr dan Mrs Dursley bangun pada hari Selasa pagi yang mendung pada saat cerita kita ini mulai,

"Akhirnya mulai juga, aku sudah mulai bosan," ujar Sirius sambil berpura-pura menguap.

tak ada tanda-tanda di langit berawan di luar bahwa akan terjadi hal-hal misterius dan aneh di seluruh negri.

Mr Dursley bersenandung ketika dia mengambil dasinya yang sangat membosankan untuk dipakainya bekerja,

"Sepertinya hidupnya membosankan," Frank berkata pelan.

dan Mrs Dursley bergosip riang seraya berkutat dengan Dudley yang menjerit-jerik dan mendudukan anak itu di kursinya yang tinggi.

Tak seorangpun dari mereka melihat seejor burung hantu besar kuning kecoklatan terbang melintasi jendela.

"Post burung hantu, eh?"

Pukul setengah sembilan Mr Dursley memungut tas kerjanya, mengecup pipi Mrs Dursley dan mencoba mengecup Dudley, tapi gagal, sebab sekarang Dudley ngadat dan melempar-lempar serealnya ke dinding. "Dasar anak-anak," senyum Mr Dursley sambil masuk ke mobilnya dan memundurkannya keluar dari garasi rumah nomor empat.

Di sudut jalanlah pertama kalinya dia menyadari ada sesuatu yang aneh- seekor kucing membaca peta.

"Hm?" Alice menaikan alisnya.

"Mungkin animagus?" Frank mengusulkan pelan.

Sekejap Mr Dursley tidak menyadari apa yang telah dilihatnya- kemudian dia menoleh untuk melihat sekali lagi. Ada kucing betina berdiri di ujung jalan Privet Drive, tetapi sama sekali tak kelihatan ada peta.'Rupanya tadi cuma khayalannya. Pasti itu tipuan cahaya.

"Jadi itu yang dipikirankan Muggle waktu melihat sihir? Tipuan cahaya?" Remus bertanya.

"Muggle benar-benar buta" James berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Mr Dursley mengerjapkan mata dan memandang kucing itu. Si kucing balas memandangnya. Saat Mr Dursley berbelok disudut dan meneruskan perjalanan, dia memandang kucing itu lewat kaca spionnya . Kucing itu sedang membca papan jalan yang bertuliskan Privet drive- bukan, bukan membaca melainkan memandang papan jalan itu, kucing tidak bisa membaca peta atau papan jalan.

"Sepertinya itu Mcgonagall?" Alice mengusulkan.

"Tidak mungkin, kenapa McGonagall berada di tempat Muggle?" Lily memandang Alice, bertanya.

"Hmm entahlah, aku juga yakin kalau itu McGonagall, kau tahu kan, dia itu animagi, bentuk binatangya kucing," Frank menyahut.

"Aku pikir bukan?" James berkata sambil nyengir ke Lily, berusaha mendapat nilai plus dengan mendukung gadis tersebut.

Lily hanya menyipit curiga.

"Oke, bagaimana kalau kita taruhan" Alice tersenyum jahil "Aku bertaruh lima galeon kalau itu McGonagall."

"McGonagall!" Frank ber-tos dengan Alice.

"Bukan McGonagall!" Lily, James, dan Sirius menjawab serentak.

"Kau tidak ikut, Moony?" Sirius memandang Remus yang tengah mengamati mereka dari tadi.

"Ayolah, biar semakin seru." James menyahut sambil nyengir lebar.

"Hmm.. baiklah," Remus berpikir, kemudian menjawab, "Aku pilih McGonagall!"

"Penghianat!' Sirius dan James menggerutu pelan.

Remus hanya nyegir dan melanjutkan membaca.

Mr Dursley menggelengkan kepalanya dan mencoba melupakan kucing itu. Selama mengendarai mobilnya ke kota, yang dipikirkannya hanyalah pesanan bor dalam jumlah besar yang akan didapatkannya hari itu.

Tetapi menjelang masuk kota, bor tergusur keluar dari pikirannya oleh sesuatu yang lain. Sementara terjebak macet seperti biasanya, dia melihat orang-orang berpakian aneh. Orang-orang yang memakai jubah.

"Penyihir," gumam Sirius.

"Ceroboh sekali, apa mereka tidak berpikir tentang undang-undang kerahasiaan Sihir?" kata Lily dengan sedikit mencela.

Mr Dursley tak tahan melihat orang-orang berpakaian aneh-aneh- dandanan anak muda zaman sekarang! Dia kira jubah bloon ini sedang mode.

"Hei! Tak yang salah dengan jubah!" seru James.

"Tapi di dunia Muggle jubah itu tidak biasa, Prongs." Sirius menjawab.

"Aneh"

Dia mengetuk-ngetukan jarinya pada kemudi mobil dan matanya menatap serombongan orang aneh yang berdiri cukup dekat. Mereka sedang berbisik-bisik tegang. Mr Dursley sebal sekali melihat bahwa dua diantaranya mereka sama sekali tidak muda lagi. Yang pakai jubah hijau zamrud

"Seperti mata Lily," James menyeletuk.

Lily sedikit memerah. Marauders, Alice dan Frank memperhatikan ini mereka tersenyum melihat reaksi Lily.

itu bahkan lebih tua dari dia! Kelewatan benar! Tetapi kemudian terlintas dibenaknya bahwa mereka mungkin sengaja berdandan seperti itu- mereka pastilah sedang mengumpulkan dana entah untuk apa- ya, pasti begitu.

"Muggle benar-benar buta!" James, Alice dan Frank, Remus menggelengkan kepalanya.

"Aku rasa cuma keluarga Dursley saja?" Sirius mengangkat bahu.

Kendaraan-kendaraan mulai bergerak, dan beberapa menit kemudian Mr Dursley tiba di tempat parkir Grunning, pikirannya kembali dipenuhi bor.

"Aku tidak peduli dengan bor itu, aku ingin tahu tentang keluargaku!" James mendelik kesal ke buku tersebut, berharap keluarganya melompat dari dalam buku.

Mr Dursley selalu duduk membelakangi jendela di kantornya di lantai sembilan. Jika tidak, mungkin sulit baginya untuk berkonsentrasi pada bor pagi itu. Dia tidak melihat burung-burung hantu terbang bersliweran di siang hari, meskipun orang-orang lain dijalan melihatnya. Orang-orang itu melongo dan menunjuk-nunjuk ketika burung-burung hantu tak putus-putusnya berterbangan.

"Merlin, sebenarnya apa yang sedang terjadi?" Alice bertanya, bingung melihat banyak sekali pos burung hantu di saat bersamaan.

"Entahlah, sepertinya ada kejadian yang penting?" ujar Lily sambil memandang ke teman-temannya. Yang lain hanya mengangkat bahu, dan menggeleng tidak mengerti, karena tidak ada yang bicara lagi Remus pun melanjutkan.

Sebagian besar dari mereka belum pernah melihat burung hantu, di malam hari sekalipun.

Tetapi Mr Dursley melewatkan pagi yang normal, tanpa gangguan burung hantu. Dia berteriak pada lima orang berbeda.

"Kasihan"

Dia melakukan beberapa pembicaraan telepon penting dan berteriak beberapa kali lagi. Hatinya sedang senang, sampai waktu makan siang, ketika dia memutuskan akan melemaskan kaki dan berjalan ke toko kue di seberang jalan.

Dia sudah lupa sama sekali pada orang-orang berjubah, sampai dia melewati serombongan lagi di sebelah toko kue. Dia mendelik gusar kepada mereka. Dia tidak tahu kenapa, tetapi mereka membuatnya resah. Rombongan yang ini juga berbisik-bisik tegang dan dia sama sekali tidak melihat satupun kotak pengumpul dana. Saat melewati mereka lagi dalam perjalanan kembali ke kantor, dia mendengar beberapa kata yang mereka ucapkan.

"Keluarga Potter, betul, begitu yang kudengar..."

"Ada apa dengan keluargaku?" James langsung panik. "Kenapa orang-orang membicarakannya?"

"Mungkin keluargamu memenangkan penghargaan, atau kau melakukan lelucon terbesar sepanjang sejarah" Sirius mengusulkan sambil nyengir jahil.

"Mungkin" James juga nyengir dan berpikir "Lelucon terbesar sepanjang sejarah" terdengar sangat keren.

"... ya, anak mereka, Harry.."

"Lihat James, Harry benar-benar anakmu!" seru Remus teringat judul buku ini.

Mr Dursley langsung berhenti. Ketakutan melandanya. Dia menoleh memandang mereka yang berbisik-bisik itu, seakan mau mengatakan sesuatu, tetapi tidak jadi.

Dia cepat-cepat menyeberang jalan, bergegas naik ke kantornya, dengan galak menyuruh seketarisnya agar tidak mengganggunya, menyambar teleponnya, dan sudah hampir selesai menghubungi nomor rumahnya ketika dia berubah pikiran. Dia meletakan kembali gagang telepon dan mengelus-elus kumis sambil berpikir... tidak, dia bodoh.

"Kejutan," Alice berkata datar.

Potter bukan nama yang tidak umum. Dia yakin ada banyak orang bernama Potter

"Tidak, sebenarnya satu-satunya disini," James berkata dengan bangga.

"Mungkin disini, tapi di dunia muggle mungkin namamu sedikit ehm 'pasaran'?" Sirius menyeringai.

James agak menggerutu.

yang mempunyai anak bernama Harry. Kalau dipikir-pikir lagi, dia malah tidak yakin keponakannya bernama Harry.

"Apa? Dia tidak tahu nama keponakannya? Lily menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dia bahkan belum pernah melihat anak itu.

"Surprise.. surprise.." Alice dan Frank berkata datar.

Siapa tahu namanya Harvey. Atau Harold.

"Hei, aku tidak akan menamai anakku dengan Harvey atau Harold!" James memprotes dan menggelengkan kepalanya.

Tak gunanya membuat Mrs Dursley. Dia selalu jadi cemas kalau nama adiknya disebut-sebut. Mr Dursley tidak menyalahkannya- kalau dia sendiri punya adik seperti itu... tapi, orang-orang ynag memakai jubah itu...

Sulit baginya untuk berkonsentrasi pada bor sore itu, dan ketika dia meninggalkan kantornya pada pukul luma sore, dia masih cemas sehingga menabrak orang di depan pintu.

"Maaf," gumamnya,

"Woww kejutan..! Aku tidak menyangka kalau dia tahu kata itu" kata Sirius

ketika laki-laki tua yang ditabraknya terhuyung nyaris jatuh. Sesaat kemudian baru Mr Dursley menyadari laki-laki itu memakai jubah ungu.

Dia kelihatan sama sekali tidak marah ditabrak sampai hampir jatuh. Sebaliknya, dia malah nyengir lebar dan berkata dengan suara melengking yang membuat oaring-orang yang leawt menoleh, "Jangan minta maaf, Sir, karena tak ada yang bisa membuatku marah hari ini! Bergembiralah, karena Kau -Tahu - Siapa telah pergi akhirnya! Bahkan Muggle seperti anda pun harus ikut merayakan hari yang amat membahagiakan ini!"

"Apa? Voldy akhirnya sudah pergi" seru James dan Sirius bersamaan.

"Benarkah? Voldemort sudah pergi?" Lily berkata tak percaya.

"Yes! Yes! Yes!" James dan Sirius meninju udara merasa senang.

Alice dan Lily saling memeluk. Frank mencium Alice dan James memeluk Lily (yang entah kenapa tidak menolak) dan para Marauders lain. Mereka tertawa-tawa dan ber-tos, mereka sangat senang.

"Voldy sudah pergi, Voldy sudah pergi... kita damai lagi..." James dan Sirius menyanyikan lagu sambil menari-nari, dan menarik Remus untuk ikut menari mengelilingi perpustakaan.

"Oh Merlin, syukurlah... akhirnya.. Dia pergi juga aku pikir dia sudah tak terkalahkan" kata Alice mukanya berseri-seri senang dan memeluk Frank yang ada di sampingnya.

"Tidak juga, Dumbledore lebih kuat dari Voldemort dan semua orang tahu kalau Dumbledore adalah orang yang paling di takuti oleh Voldemort" kata Remus yang tiba-tiba muncul di sebelah mereka, dia telah berhasil melepaskan diri Sirius dan James. Mereka berdua saat ini tengah menarikan tarian hula-hula modifikasi yang telah di kembangkan oleh Sirius.

"Mungkinkah Dumbledore yang mengalahkan dia?" Lily berkata dengan bersemangat.

"Entahlah, Ayo kita lihat!" kata Frank, dia mengangguk ke Lupin untuk melanjutkan membaca.

"Kalian berdua, Diam!" Seru Lily melihat James dan Sirius makin menggila.

Dan laki-laki tua itu memeluk pinggang Mr Dursley, lalu pergi.

Mr Dursley berdiri terpaku ditempatnya. Dia baru saja dipeluk oleh orang yang sama sekali asing. Seingatnya dia juga disebut Muggle, entah apa artinya itu. Dia jadi bingung. Dia bergegas ke mobilnya dan pulang, berharap bahwa semua tadi hanyalah kahayalannya. Ini sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya, karena dia orang yang tidak suka berkhayal.

Ketika mobilnya meluncur masuk ke perkarangan rumah nomor empat, yang pertama kali dilihatnya- dan ini tidak membuatnya bertambah lega- adalah kucing betina yang telah dilihatnya pagi tadi. Kucing itu sekarang duduk di atas tembok perkarangannya.

"Ayooo McGonagall.. go go McGonagall go!" ujar Alice antusias.

"Bukan!" seru Lily, James dan Sirius bersaman.

"Oke, kita lihat nanti!" kata Alice sambil nyengir ke Lily, James dan Sirius.

Mr Dursley yakin itu kucing yang sama. Dia punya tanda yang sama disekeliling kedua matanya.

"Shuh!" Mr Dursley mengusirnya.

Kucing itu tidak bergerak. Dia malah menatap galak Mr Dursley.

"Sepertinya McGonagall," Lily bergumam pelan.

"Apa, Lil?" Alice berkata sambil nyengir.

"Tidak-tidak ada," kata Lily keras kepala.

Apa ini perilaku normal kucing? Pikir Mr Dursley. Sambil berusaha menenangkan diri, dia masuk rumah. Dia masuk bertekad tidak akan mengatakan apa-apa kepada istrinya.

Mr Dursley melewatkan hari yang noramal dan menyenangkan. Saat makan malam dia bercerita kepada Mr Dursley tentang ibu tetangga yang punya masalah dengan anak perempuannya dan bahwa Dudley sudah bisa ngomong kalimat baru ("Tak Mau!").

Mereka semua mendengus

Mr Dursley berusaha bersikap biasa. Ketika Dudley sudah ditidurkan, Mr Dursley keruang keluarga untuk mendengarkan kabar terakhir dalam berita malam.

"Dan akhirnya, para pengamat burung dari segala tempat melaporkan bahwa burung hantu di seluruh negri bersikap aneh sekali hari ini. Meskipun burung hantu normalnya berburu di malam hari dan jarang terlihat disiang hari, ratusan orang melihat burung-burung hantu berterbangan kesegala penjuru sejak matahari terbit. Para ahli tidak dapat menjelaskan kenapa para burung hantu mengubah pola tidur mereka." Pembawa berita tersenyum.

"Tak heran, Voldemort telah di kalahkan ini berita yang heboh sekaligus menyenangkan," kata Frank.

"Sungguh aneh. Dan sekarang, kita bergabung dengan Jim McGuffin yang akan menyampaikan ramalan cuaca. Malam ini akan hujan burung hantu lagi, Jim?"

"Wah, Ted," kata si peramal cuaca. "aku tak tahu tentang itu, tetapi bukan Cuma burung hantu yang bersikap aneh hari ini. Para pemirsa sampai sejauh Kent, Yorkshire, dan Dundee bergantian meneleponku untuk memberitahu bahwa alih-alih hujan seperti yang kuramalkan kemarin, yang mereka dapat adalah bintang-bintang jatuh!

"Keren, kita harus mencobanya kapan-kapan!" James nyengir jahil ke teman-temannya.

"Yeah, kita akan mencobanya pada kesempatan pertama." kata Sirius antusias.

Mungkin orang-orang merayakan Bonfire Night lebih awal-padahal pesta kemabang api seharusnya baru minggu depan pemirsa! Tetapi malam ini bisa dipastikan hujan akan turun!"

Mr Dursley terenyak di kursi berlengannya. Bintang jatuh di seluruh Inggris? Burung-burung hantu berterbangan di siang hari? Orang-orang misterius berjubah diamana-mana? Dan bisik-bisik, bisik-bisik tentang keluarga Potter...

"Kenapa mereka terus berbisik-bisik tentang keluargaku?"

Mr Dursley masuk ke ruang keluarga membawa dua cangkir the. Percuma. Dia harus mengatakan sesuatu kepada istrinya. Mr Dursley berdeham panik. "Ehm- Petunia sayang-

Lily mencelos, matanya melebar "Pe.. Petunia..."

"Kenapa dengan Petunia, Lils?" James bertanya mengamati wajah gadis itu yang sekarang menatapnya penuh horor.

"Di..dia, kakakku..." Lily berujar lemah.. itu artinya.. dia dan Potter...

James melongo sesaat, kemudian dia mengacungkan tinju ke udara dan berteriak "Yes yes yes! aku menikahi Lily yes" Dia bersorak dan memeluk Sirius dan Remus.

"Tunggu dulu James, aku belum mau percaya kalau aku belum mendengar nama Lily Potter disini!"

"Oke, kita lihat nanti!" James nyengir lebar merasa sangat senang.

belakangan ini ada kabar apa dari adikmu?"

Seperti dugaannya, Mrs Dursley kelihatan kaget dan marah. Yah, biasanya kan mereka berpuara-pura dia tidak punya adik.

"Dia benar-benar Petunia yang kukenal, dia terus bersikap seperti itu sejak aku mendapatkan surat dari Hogwarts." Lily menunduk agak sedih.

"Tidak ada," jawabnya ketus.. "Memangnya kenapa?"

"Ada berita aneh tadi," gumam Mr Dursley. "Burung hantu.. bintang jatuh.. dan ada banyak orang bertampang aneh di jalan hari ini."

"Jadi?" tukas Mrs Dursley.

"Yah aku Cuma berpikir... mungkin... ada kaitannya dengan.. kau tahu, kan... kelompoknya."

"Kelompoknya? Apa kau tidak bisa berkata penyihir?" seru Sirius sambil memandang galak buku Harry Potter.

"Tidak, mereka tidak bisa. Mereka membenci sihir dan terus berpura-pura sihir atau penyihir tidak ada." Lily berkata dengan agak sedih mengingat sikap Petunia terhadapnya.

Mrs Dursley menyeruput tehnya dengan bibir cemberut. Mr Dursley mempertimbangkan, beranikah dia memberitahu istrinya bahwa dia telah mendengar nama Potter disebut-sebut. Dia memutuskan tidak berani saja. Sebagai gantinya dia berkata sebiasa mungkin, "Anak mereka- seumuran Dudley, kan?

"Kayaknya sih," kata Mr Dursley kaku.

"Siapa ya namanya? Howard, kan?"

"Harry. Nama jelek dan kodian, menurutku."

"Tidak! Menurutku nama itu bagus dan aku menyukainya," kata James sambil melotot ke buku itu.

Lily mengangguk dalam hati setuju dengan James, Dia juga menyukai nama Harry.

"Oh, ya," kata Mr Dursley, hatinya mencelos. "Ya, aku setuju."

Dia tak lagi menyinggung-nyinggung masalah itu ketika mereka naik ke kamar tidur. Sementara Mrs Dursley di kamar mandi, Mr Dursley merayap ke jendela kamar dan mengintip ke halaman depan. Kucing itu masih ada. Dia sedang menatap jalanan seakan menunggu sesuatu.

"Sebenarnya apa yang sedang di tunggu McGonagall?"

"Bukan McGonagall, Alice," Lily menyahut.

"Oke, kita buktikan!"

Apakah ini hanya khayalannya? Mungkinkah semua ini ada hubungannya dengan keluarga Potter? Kalau betul begitu... kalau sampai bocor bahwa mereka masih kerabat pasangan... wah, dia tak akan tahan.

Suami-istri Dursley naik ke tempat tidur. Mrs Dursley segera tertidur, tetapi Mr Dursley tidak. Dia memikirkan segala kemungkinan. Pikiran terakhir dan menenangkan sebelum dia tertidur adalah, seandainya pun keluarga Potter memang terlibat, tak ada alasan bagi mereka untuk datang ke tempat keluarga Dursley. Mereka tahu bagaimana pendapat dirinya dan Mrs Dursley mengenai mereka dan jenis mereka...

"Jenis?"

Mr dursley tak melihat bagaimana dia dan Petunia bisa terlibat dengan entah apa yang sedang berlangsung ini. Dia menguap dan berbalik. Semua itu tak akan mempengaruhi mereka...

Betapa kelirunya dia.

Ha!

Mr Dursley mungkin saja bisa tidur, walau tak nyenyak, tetapi kucing dia atas tembok di luar sama sekali tak menunjukan tanda-tanda mengantuk. Dia duduk diam bagai patung, matanya memandang tanpa kedip ke sudut Privet Drive dikejauhan. Ketika ada pintu mobil digabrukan ke jalan sebelah, dia tetap bergeming. Begitu juga ketika ada dua burung hantu melayang di atasnya. Kucing itu baru bergerak menjelang tengah malam.

Seorang laki-laki muncul di sudut yang diawasi si kucing. Kemunculannya begitu mendadak dan tanpa suara, sehingga kau akan mengira dia muncul begitu saja dari dalam tanah.

"Mungkin dia ber-Apparate!" seru James

"Portkey!" sahut Sirius

"Atau terbang?" Remus mengusulkan

Ekor si kucing bergerak dan matanya menyipit.

Belum pernah ada orang semacam ini di Privet Drive. Dia tinggi, kurus, dan sudah tua sekali, kalau dilihat dari rambut dan jenggot putihnya yang cukup panjang untuk di selipkan di ikat pinggangnya. Dia memakai jubah ungu panjang yang menyapu jalan dan sepatu bot bergesper dengan hak tinggi.

"Dumbledore!" seru mereka bersamaan.

"Kenapa Dumbledore dan McGonagall ada disana?"

"Belum tentu itu McGonagall," kata Lily keras kepala, meskipun sekarang dia tidak begitu yakin.

Matanya biru terang dan bercahaya di balik kacamatanya yang berbentuk bulan-separo dan hidungnya panjang serta bengkok, seakan sudah pernah patah paling tidak dua kali. Nama laki-laki ini Albus Dumbledore.

"Yeah, kita sudah tahu kalau itu Dumbledore"

Albus Dumbledore tampaknya tidak menyadari bahwa dia baru saja tiba di jalan tempat segala sesuatu dari namanya sampai sepatunya tidak diinginkan. Dia sibuk memeriksa jubahnya, mencari sesuatu. Tetapi tampaknya dia sadar dia diawasi, karena mendadak saja dia mendongak memandang si kucing, yang masih memandangnya dari ujung lain jalan. Entah karena apa, melihat kucing ini dia tampak geli.

Dia berdecak dan bergumam, "Seharusnya aku tahu."

Dia sudah menemukan apa yang dicarinya di kantong sebelah dalam. Ternyata korek api perak.

Dibukanya, diangkatnya ke udara, lalu dinyalakannya. Lampu jalan terdekat padam dengan bunyi pop pelan. Dinyalakannya lagi, lampu berikutnya ikut padam.

"Woww... keren.. aku ingin punya satu" kata Sirius kagum.

Dua belas kali ia menyalakan Pemadam-Lampu, sampai cahaya yang tinggal hanyalah dua sorot kecil mungil dikejauhan, yaitu mata si kucing yang mengawasinya. Jika ada orang yang melongok keluar dari jendela sekarang, bahkan si mata tajam Mrs Dursley pun tidak akan melihat apa yang sedang terjadi di trotoar. Dumbledore menyelipkan Pemadam-Lampu ke dalam jubahnya lagi dan berjalan menuju rumah nomor empat. Setiba disana dia duduk di sebelah si kucing. Dumbledore tidak memandangnya, tetapi setelah beberapa saat dia mengajaknya bicara.

"Tak disangka kita bertemu disini ya, Profesor McGonagall."

"Yes yes yes!" Alice dan Frank ber -tos Remus tersenyum "Go McGonagall"

Lily, Sirius dan James sedikit lesu dan menyerahkan uang taruhan mereka.

Dia menoleh untuk tersenyum pada si kucing betina, tetapi kucing itu sudah tak ada. Alih-alih kucing, dia tersenyum pada wanita bertampang agak galak yang memakai kacamata persegi, persis bentuk yang melingkari mata si kucing. Wanita itu juga memakai jubah, warnanya hijau zambrut. Rambut hitamnya digelung ketat. Dia kelihatan bingung.

"Bagaimana kau bisa tahu kucing itu aku?" tanyanya.

"Profesorku, belum pernah aku melihat kucing yang duduk begitu kaku."

"Siapa pun akan kaku kalau sudah duduk di tembok bata seharian" ujar Lily.

"Kau pun akan kaku kalau sudah duduk di tembok bata seharian," kata Profesor McGonagall.

"Waw Lil, kau dan Minnie kembar!" celetuk James.

Lily memerah.

"Seharian? Padahal seharusnya kau bisa merayakan hari gembira ini? Aku melewati paling tidak selusin pesta dan perayaan dalam perjalanan kemari."

"Kita juga harus merayakannya nanti, mungkin aku akan menghadiri puluhan pesta kejatuhan Voldy-Voldy" kata Sirius bersemangat.

"Ratusan," sahut James.

"Ribuan!" seru Sirius.

"Jutaan!"

"Milyaran!" mereka berdua berkata gila-gilaan.

"Kalian berdua, Diam!" kata Lily galak.

Profesor McGonagall mendengus marah.

"Oh ya, semua merayakan," katanya tak sabar. "Kau pikir mereka akan lebih hati-hati, tetapi tidak- bahkan para Muggle pun merasa ada sesuatu yang sedang terjadi. Itu di siarkan di warta berita mereka." Dia mengendikan kepalanya ke arah jendela ruang keluarga Dursley yang gelap. "Aku mendengarnya. Rombongan burung hantu… bintang jatuh… Nah, mereka kan tidak bego. Keanehan ini menarik perhatian mereka. Bintang jatuh di Kent- aku berani bertaruh itu Dedalus Diggle. Dari dulu dia kurang perhitungan."

"Dedalus Diggle?" kernyit Remus, mencoba mengingat nama itu di suatu tempat.

"Anak Hufflepuff kelas tiga" kata Frank.

"Kau tak bisa menyalahkan mereka," kata Dumbledore lembut. "Tak ada yang benar-benar bisa kita rayakan selama sebelas tahun ini."

"Sebelas tahun?" kata Lily, "Itu artinya empat tahun lagi."

"Yes! kita akan merayakan kejatuhan Voldy-Voldy empat tahun lagi!" James ber-tos dengan Remus, Frank dan Sirius.

"Aku tahu," kata Profesor McGonagall jengkel. "Tapi itu bukan alasan bagi kita untuk lupa diri. Orang-orang ceroboh sekali, berkeliaran di jalan di siang bolong, bahkan tidak memakai pakaian Muggle, bertukar gossip."

"Ayolah Minnie, rileks.. ini hari yang bahagia" kata Sirius sambil merilekskan posisinya di kursi.

Dia melirik tajam Dumbledore seakan berharap Dumbledore akan memberitahunya sesuatu, tetapi ternyata tidak, maka dia meneruskan, "Bagus sekali jika pada hari Kau-Tahu-Siapa akhirnya menghilang, bangsa Muggle juga akhirnya tahu tentang kita. Kira-kira dia betul sudah pergi, Dumbledore?"

"Kelihatannya begitu," kata Dumbledore.

"Yes!"

"Banyak yang harus kita syukuri. Kau mau permen jeruk?"

"Permen jeruk?" kata James setengah tertawa. "Dumbledore tidak pernah berubah"

"Apa?"

"Permen jeruk. Permen muggle yang aku sukai."

"Tidak, terimakasih," kata Profesor McGonagall dingin, seakan menurut dia ini bukan saatnya untuk makan permen jeruk. "Seperti kukatakan, bahkan jika Kau-Tahu-Siapa sudah pergi…"

"Profesorku yang baik, tentunya orang bijaksana seperti kau bisa menyebut namanya? Segala omong kosong 'Kau-Tahu-Siapa' selama sebelas tahun aku berusaha menyebut orang-orang dengan namanya yang sebenarnya: Voldemort."

"Voldemort!" seru mereka bersamaan.

Profesor McGonagall berjengit, tetapi Dumbledore, yang sedang membuka bungkus dua permen jeruk, kelihatannya tidak tahu. "Jadi sangat membingungkan jika kita selalu berkata Kau-Tahu-Siapa. Aku tak melihat alasan kita harus takut menyebut nama Voldemort."

"Aku tahu," kata Profesor McGonagall, kedengaran setengah putus asa, setengah kagum. "Tetapi kau lain. Semua orang tahu kau satu-satunya orang yang di takuti Kau-Tahu oh baiklah Voldemort."

"Jadi, Dumbledore yang mengalahkannya?" tanya Remus.

"Kau membuatku tersanjung," jawab Dumbledore tenag. "Voldemort memiliki kekuatan yang tak akan pernah kumiliki."

"Hanya karena kau terlalu-yah, mulia untuk menggunakannya."

"Aku setuju." Remus berkata pelan.

"Untung sekarang gelap. Belum pernah mukaku semerah ini sejak Madam Pomfrey mengatakan dia menyukai tutup telingaku yang baru."

Mereka mendengus tertawa.

Profesor McGonagall memandang tajam Dumbledore dan berkata, "Burung-burung hantu itu bukan apa-apa dibandingkan dengan kabar burung yang tersebar. Kau tahu apa yang dikatakan semua orang? Tentang alasan kenapa dia menghilang? Tentang apa yang akhirnya menghentikannya?"

"Apa.. apa?" James dan sirius berkata dengan bersemangat, yang lainnya memandang buku itu dengan tertarik, menunggu Remus melanjurkan.

Kelihatannya Profesor McGonagall telah mencapai pokok masalah yang ingin sekali didiskusikannya, alasan kenapa dia duduk menunggu di atas tembok keras dingin sepanjang hari, karena tidak sebagai kucing atau sebagai perempuan dia pernah memandang Dumbledore setajam sekarang. Jelas bahwa apapun yang dikatakan "semua orang" tak akan dipercayainya sampai Dumbledore mengatakan kepadanya bahwa itu benar. Tapi Dumbledore malah memilih permen jeruk yang lain dan tidak menjawab."

"Yeah, hidup permen jeruk" kata Sirius datar.

"Apa yang mereka katakan," dia meneruskan, "adalah bahwa tadi malam Voldemort muncul di Godric's Hollow. Dia datang mencari keluarga Potter.

James mencelos, wajahnya memucat. "Apa? Mencari keluargaku? Tapi—tapi kenapa?" Dia menggeleng lemah, takut mendengar kata selanjutnya.

Sirius dan Lily juga memucat. Tapi tidak berkata apa-apa dan mengangguk ke Remus untuk melanjutkan.

Menurut gossip, Lily dan James potter

"Apa? Ulangi sekali lagi!" tiba-tiba James berkata dengan bersemangat.

Menurut gossip, Lily dan James potter Remus mengulangi

"Kau dengar? Kau dengarkan yang barusan?" James tertawa-tawa dan meninju udara, merasa sangat senang, dia berteriak "Yes yes yes aku menikahi Lily, yes yes," dan dia berlari mengitari ruangan, seakan telah memenangkan Piala Dunia. lalu ber-tos dengan Sirius, Alice dan Frank tersenyum dan memberi selamat.

Lalu James mencium gadis itu, Lily hanya terdiam shock, tapi kemudian dia tersenyum dan wajahnya memerah. Alice menggodanya habis-habisan, membuat wajah Lily semerah tomat, Sirius menyihir konfeti berbentuk hati yang menjatuhi Lily dan James. Mereka merayakannya sampai akhirnya James menyadari kalau Remus hanya terdiam dari tadi dan dia bertanya, "Moony, sobat, kau tidak apa-apa?"

Remus hanya diam dan wajahnya memucat, dia menutup mata, membukanya menatap mereka nanar. Dia menelan ludah, tak sanggup mengatakan apa-apa, tenggorokannya serak. Dengan ngeri mereka semua memandang ekspresi Remus, takut akan apa yang ada di buku itu selanjutnya.

Dia menguatkan hati dia melanjutkan dengan pelan, hampir menyerupai bisikan.

Menurut gossip, Lily dan James potter sudah-sudah mereka sudah meninggal."

Sunyi, keheningan yang menyesakan hadir di antara mereka.

Sirius menggeleng tidak percaya.. "Tidak mungkin.. ini pasti salah…. Kalian tidak—tak maungkin" dia tak sanggup melanjutkan kemudian terduduk lemas di kursi.

Remus memandang mereka dengan sedih, dia ingin mengatakan sesuatu tapi tak sanggup, dia merasa sesak.. temannya.. temannya…

Lily terisak pelan dan James memeluknya. Wajahnya memucat dan dia menenangkan Lily "Tidak apa-apa Lil, tidak apa-apa.. semua akan baik-baik saja…"

Frank juga memucat, Alice mengangis dan berlari memeluk Lily.

"Tidak!" Tiba-tiba sirius berkata keras "Aku tidak akan membiarkannya! Aku akan melindungi kalian!"

Remus mengangguk mantap dan berkata "Aku juga, pasti!"

Lily dan James tersenyum kepda mereka, dan Lily berkata lemah kepada Remus untuk melanjutkan.

Dumbledore menundukan kepalanya. Profesor McGonagall memekik kaget.

"Lily dan James… tak bisa kupercaya… aku tak mau percaya… Oh, Albus…"

Dumbledore mengulurkan tangan dan membelai bahu Profesor McGonagall. "Aku tahu… aku tahu…," katanya sedih.

"Mereka menyayangi kita, Lils." James memandang gadis itu dan menggenggam tangannya Lily hanya tersenyum sedih.

Suara Profesor McGonagall bergetar ketika dia meneruskan, "Itu belum semua. Kata mereka dia mencoba membunuh anak keluarga Potter, Harry.

Mereka semua memucat.

"Tidak!" Lily berteriak histeris "Tidak.. tidak boleh—jangan anakku!"

James wajahnya mengeras "Tidak Lils, tidak—dia tidak akan menyentuh seujung rambut anak kita aku berjanji!"

Tetapi dia tidak bisa. Dia tidak berhasil membunuh anak kecil itu. Tak ada yang tahu kenapa atau bagaimana, tetapi mereka bilang, bahwa ketika dia gagal membunuh Harry Potter, kekuatan Voldemort punah dan itulah sebabnya dia menghilang."

"Apa? Bagaimana mungkin?" kata Lily

"Entahlah." James menggeleng kebingungan.

Dumbledore mengangguk tanpa bicara.

"Jadi-jadi betul?" Profesor McGonagall tergagap. "Setelah semua yang dilakukannya… semua orang yang telah dibunuhnya… dia tak bisa membunuh anak yang boleh dikatakan masih bayi? Sungguh mengherankan… mengingat segala upaya untuk menghentikan sepak terjangnya… tetapi bagaimana mungkin Harry bisa bertahan?"

"Mengagumkan," kata Frank "Bagaimana bisa seorang bayi bertahan?"

"Waw, anakmu pastilah hebat, Prongs" seru Sirius takjub sambil menjabat tangan James. "Dia mengalahkan Voldy!"

Lily tersenyum lega anaknya masih hidup dan dia berkata, "Tapi bagaimana mungkin?"

"Kita Cuma bisa menduga," kata Dumbledore. "Kita mungkin tak akan pernah tahu."

"Taruhan, Dumbledore pasti tahu." kata Sirius

Profesor McGonagall menarik sehelai sapu tangan sutra dan mengusap mata dibalik kacamatanya. Dumbledore menyedot hidung keras sambil mengambil jam emas dari dalam sakunya dan memandangnya. Jam itu sudah sangat tua. Jarumnya ada dua belas, tetapi tidak ada angkanya. Sebagai gantinya, planet-palanet kecil bergerak mengitari tepinya. Tapi Dumbledore pasti bisa mengartikannya, karena dia mengembalikan jam itu ke sakunya dan berkata, "Hagrid terlambat. Kurasa dia yang memberitahumu bahwa aku akan ada disini, kan?"

"Hagrid? Untuk apa dia di sana?" Frank bertanya.

"Ya," jawab Profesor McGonagall. "Dan kurasa kau tidak akan memberitahuku kenapa kau sampai berada di sini?"

"Aku datang untuk mengantar Harry kepada bibi dan pamannya. Hanya merekalah keluarganya yang tinggal sekarang."

"Tidak! Lily berteriak histeris. "Jangan.. jangan.. jangan kesana!"

"Lils, tenang," James menggenggam tangan gadis itu berusaha menenangkannya.

"Tidak James! Kau tidak mengerti—Petunia membenciku! Dia juga akan membenci Harry—Harry akan sengsara!" Lily terisak dan menangis pelan.

James memeluknya mencoba menenangkannya.

"Kau tidak- yang kau maksudkan tak mungkin orang-orang yang tinggal di sini?" seru Profesor McGonagall seraya melompat berdiri dan menunjuk rumah nomor empat. "Dumbledore- jangan. Aku sudah mengamati mereka sepenjang hari. Takkan bisakau temukan dua orang yang sangat berbeda dari kita seperti mereka. Dan mereka punya anak- kulihat anak ini menendang-nendang ibunya sepenjang jalan ini, menjerit-jerit minta permen. Harry Potter akan tinggal disini?"

"Ini tempat paling baik untuknya," kata Dumbledore tegas. "Bibi dan pamannya akan bisa menjelaskan segalanya kepadanya kalau dia sudah lebih besar. Aku sudah menulis surat kepada mereka."

"Surat? Surat!" Lily berteriak histeris dia berjalan mengitari ruangan"Bagaimana mungkin—apa dia pikir hal ini bisa di jelaskan dalam surat?"

"Tenanglah, Lil," wajah James mengeras, dia meraih tangan gadis itu, memegang tanganya, berusaha menenangkan Lily.

"Surat?" Profesor McGonagall mengulangi dengan lesu, kembali duduk di atas tembok.

"McGonagall setuju denganmu, Lils." Remus dan Alice berkata hampir bersamaan"

Orang-orang ini tak akan pernah memahami Harry! Dia akan jadi orang terkenal- jadi legenda- aku tak akan heran jika di masa depan nanti, hari ini akan di jadikan hari Harry Potter- akan ada buku-buku tentang Harry yang di tulis- semua anak di dunia kita akan mengenal namanya!"

"Wow, cool..." kata Sirius.

"Yeah, cool" James berkata bangga.

"Justru itu," kata Dumbeldore memandang dengan sangat serius di atas lensa kaca matanya yang berbentuk bulan-separo. "Semua itu bisa membuat sombong anak manapun. Sudah terkenal sebelum dia bisa berjalan dan bicara! Terkenal gara-gara sesuatu yang ingatpun dia tidak! Tak bisakah kau lihat, akan jauh lebih baik baginya jika dia dibesarkan jauh dari semua itu, sampai dia siap menerimanya."

"Itu memang benar, tapi—membiarkannya bersama keluarga Dursley.." Lily berkata dengan lesu.

Profesor McGonagall membuka mulut, berubah pikiran, menelan ludah, dan kemudian berkata, "Ya- ya, kau benar tentu saja.

"Tidak!" Lily menggelengkan kepalanya.

Tetapi bagaimana anak itu bisa tiba disini, Dumbledore?" Mendadak di amatinya jubah Dumbledore, seakan dia mengira Dumbledore mungkin saja menyembunyikan anak itu di balik jubahanya.

"Hagrid yang mengantarnya."

"Kaupikir- bijaksana memepercayakan hal sepenting ini kepada Hagrid?"

"Aku akan mempercayakan hidupku kepada Hagrid," James berkata cepat.

"Aku akan mempercayakan hidupku kepada Hagrid," kata Dumbledore.

"Kalian kembar!" Sirius nyengir jahil, berusaha mencairkan suasana.

James hanya tersenyum lemah.

"Aku tidak bermaksud mengatakan hatinya tidak berada di tempat yang benar," kata Profesor McGonagall menggerundel, "tetapi kau tak bisa berpura-pura tak tahu dia ceroboh."

"Hagrid memang agak ceroboh, Ingat inciden di Aula besar remaren?" Remus menggeleng-gelengkan kepalanya.

Yang lainnya tertawa.

"Dia akan cenderung… apa itu?"

Derum rendah memecah kesunyian di sekitar mereka. Derum itu makin lama makin keras sementara mereka memandang ke ujung jalan, mencari-cari lampu kendaraan. Bunyi itu membesar seperti raungan sementara mereka berdua mendongak ke langit- dan sebuah motor luar biasa besar jatuh dari angkasa, mendarat di jalan di depan mereka.

"Keren… aku harus memilikinya" Sirius berkata dengan takjub.

Remus dan James hanya tersenyum.

Sepeda motor besar itu masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan laki-laki yang duduk di atasnya. Tingginya nyaris dua kali laki-laki dewasa dan lima kali lebih lebar. Besarnya sungguh kelewatan, dan dia begitu liar- rambut panjangnya yang hitam dan lebat kusut dan jenggotnya yang juga lebat menyembunyikan sebagian besar wajahnya. Tangannya sebesar tutp tempat sampah dan kakiknya yang memakai sepatu bot kulit seperti lumba-lumba kecil. Lengannya yang besar dan berotot memeluk bungkusan selimut.

"Hagrid!" seru mereka bersamaan.

"Hagrid," kata Dumbledore lega. "Akhirnya. Dan darimana kau dapat sepeda motor itu?

"Pinjam, Profesor Dumbledore," jawab si raksasa, sambil turun dengan hati-hati dari motor itu. "Sirius Black muda pinjamkan padaku. Aku dapat dia, Sir."

"Yes! Itu milikku.. milikku" Sirius ber-tos dengan James dan Remus.

"Tidak ada kesulitan, kan?"

"Tidak, Sir- rumah nyaris hancur, tapi aku berhasil ambil dia sebelum para Muggle berdatangan. Dia tertidur ketika kami terbang melewati Bristol."

"Aww"

Dumbledore dan Profesor McGonagall membungkuk ke arah bungkusan selimut. Di dalamnya ada seorang bayi laki-laki, tertidur nyenyak. Di balik sejumput rambut hitam pekat di atas dahinya mereka bisa melihat luka berbentuk aneh, seperti sambaran kilat.

"Awww"

"Itukah…?" bisik Profesor McGonagall.

"Ya," kata Dumbledore. "Bekas lukanya tak akan hilang selamanya."

"Tak bisakah Dumbledore menghilangkannya?" Sirius dan James bertanya bersamaan.

"Tak bisakah kau melakukan sesuatu, Dumbledore?"

"Kalaupun bisa, aku tak mau. Bekas luka kadang-kadang ada gunanya.

"Mungkin beksa lukanya bisa menjadi semacam alarm?" kata Frank pelan.

Aku sendiri punya bekas luka di atas lutut kiri yang berupa peta jalur kereta apai bawah tanah London.

"Waw Dumbledore punya bekas luka seperti itu?" Remus berkata takjub "Pasti berguna sekali, eh?"

Nah, berikan anak itu Hagrid. Lebih baik segera kita bereskan."

Dumbledore menggendong Harry dan berbalik menuju rumah keluarga Dursley.

"Bolehkah- bolehkah aku ucapkan selamat tinggal padanya, Sir?" Tanya Hagrid.

"Tentu saja Hagrid," Lily tersenyum lembut.

Dia menundukan kepalanya yang besar berambut lebat dan memberi si bayi kecupan yang pastilah membuat gatal gara-gara gesekan kumisnya. Kemudian mendadak Hagrid melolong seperti anjing terluka.

"Shhh!" desah Profesor McGonagall. "Kau akan membangunkan para Muggle.

"M-m-maaf," isak Hagrid, seraya mengeluarkan saputangan besar berbintik-bintik dan membenamkan wajahnya di dalamnya. "Tapi aku t-t-tak tahan- Lily dan James meninggal- dan kasihan Harry harus tinggal dengan Muggle…"

Lily terisak, James memeluknya

"Ya, ya, memang sangat menyedihkan, tetapi kendalikan dirimu Hagrid. Kalau tidak, kita bisa ketahuan," bisik Profesor McGonagall sambil membelai-belai lengan Hagrid dengan amat hati-hati, sementara Dumbledore melangkahi tembok halaman yang rendah dan berjalan ke pintu depan. Dengan hati-hati dibaringkannyaHarry di depan pintu.

"Dia meletakkan anakku di depan pintu?" Kata Lily, matanya membelalak. "Bagaimana mungkin dia meninggalkan anakku di depan pintu? Dia sudah gila!"

Diambilnya sehelai surat dari dalam jubahnya dan diselipkannya di balik selimut Harry. Setelah itu dia kembali bergabung dengan dua orang lainnya. Selama semenit penuh ketiganya memandang bungkusan kecil itu. Bahu Hagrid berguncang, Profesor McGonagall berkali-kali mengerjapkan matanya, dan kilat yang biasanya ada di mata Dumbledore seakan telah padam.

"Nah," kata Dumbledore akhirnya, "begitulah. Tak ada gunanya lagi kita tinggal disini. Lebih baik kita pergi dan ikut perayaan."

"Yeah," kata Hagrid sengau. "Aku akan kembalikan motor Sirius. Malam, Profesor McGonagall… Profesor Dumbledore."

"Yeah Hagrid, cepat kembalikan padaku.. aku membutuhkannya untuk menyelamatkan Harry dari keluarga Dursley!" kata Sirius.

"Thanks, Padfoot." James berkata sambil memeluk Lily.

Sirius hanya mengangguk.

Sambil menyeka air matanya yang mengucur terus dengan lengan ajaketnya, Hagrid melompat ke atas motornya dan menstaternya. Diiringi deruman, motor itu terangkat ke angkasa dan meluncur dalam kegelapan malam.

"Kita akan segera bertemu lagi, Profesor McGonagall," kata Dumbledore sambil mengangguk kepadanya. Sebagai jawaban, Profesor McGonagall membuang ingus.

Dumbledore berbalik dan berjalan pergi. Di sudut dia berhenti dan mengeluarkan Pemadam-Lampu peraknya. Dijetreknya sekali, dan dua belas bola cahaya serentak meluncur menuju lampu-lampu jalanan, sehingga Privet Drive mendadak terang dan dia bisa melihat seekor kucing betinan menyelinap ke sudut di ujung jalan lainnya. Dia juga masih bisa melihat bungkusan selimut di depan pintu rumah nomor empat.

"Semoga semua baik, Harry," gumamnya. Dia memutar tumitnya dan dengan kebutan jubahnya dia lenyap.

"Mereka benar-benar meninggalkannya.." Lily berujar lemah menutup mukanya dengan kedua tangannya.

Angin sepoi meniup pagar-pagar tanaman di Privet Drive yang rapi, yang berjajar diam dan teratur di bawah langit kelam. Di tempat setenang ini tidak akan pernah kau sangka akan terjadi hal-hal menakjubkan. Harry potter berguling dalam selimutnya tanpa terbangun. Dengan salah satu tangan kecilnya memegang surat yang ada disampingnya, dia tidur terus.

"Awww"

Tanpa menyadari bahwa dia istimewa, tanpa menyadari bahwa dia terkenal, tanpa menyadari bahwa beberapa jam lagi dia akan terbangun mendengar jeritan Mrs Dursley saat membuka pintu depan untuk menaruh botol-botol susu, atau bahkan dia akan melewatkan beberapa minggu mendatang di dorong-dorong dan dicubiti oleh sepupunya, Dudley…

Mereka semua membelalak pada buku itu, Sirius dan James mendesiskan kutukan-kutukan untuk Dudley.

Dia tak mungkin tahu bahwa pada saat ini, orang-orang yang berkumpul secara rahasia di seluruh negeri semua mengangkat gelas dan berkata dengan suara pelan, "Untuk Harry Potter- anak laki-laki yang bertahan hidup!"

"Chapter pertama selesai," Remus berkata sambil meletakan buku itu di atas meja.

Hening, mereka semua larut dalam pikiran masing-masing. Hal seperti apakah masa depan itu…

"Hal ini gila!" Lily berkata secara tiba-tiba "Anakku tidak boleh hidup di sana, mereka akan menyiksanya—Aku akan pergi ke Dumbledore sekarang—dia tidak bisa, dia tidak boleh!"

James merengkuh Lily, berusaha menenangkan gadis itu, "Tenanglah, Lil tenanglah ini di masa depan, hal ini belum terjadi—ini hanya buku, kita tidak bisa—Padfoot, Monny." Dia menoleh ke teman-temannya. "Tolong jaga Harry, kalau—kalau terjadi sesuatu dengan kami berdua."

"Pasti!" seru Remus dan Sirius bersamaan.

"Kau bisa mempercayakannya kepadaku, Prongs," kata Sirius sambil memegang bahu James.

"Tenanglah, Lil" kata Alice sambil tersenyum "Seandainya Black dan Lupin tidak menjaga Harry, kami akan menjaganya untukmu." Dia memandang Frank yang mengangguk dan menggenggam tangannya.

"Tentu saja tidak! Aku akan menjaga Harry dengan hidupku!" kata Sirius.

"'Wow, apa kalian sudah memutuskan menikah?" potong Remus.

"Aku akan melamar Alice pada waktu kelulusan nanti!" Frank nyengir lebar dan mencium Alice.

"Selamat!" seru Lily dan Marauders bersamaan.

Lily memeluk Alice. Kemudian memandang sedih buku Harry Potter yang tergeletak di meja, "Good luck Harry" Dia berbisik.

Mereka semua menutup mata, berdoa, berharap yang terbaik untuk Harry. Untuk anak laki-laki yang bertahan hidup.]