Cerita Sebelumnya :
Beberapa sorakan gembira karena Nagisa berhasil mengalahkan Takaoka.
Kali ini Nagisa berperan aktif, namun ia hanya menghela, beberapa gumam para murid yang meminta jatah, karena berhasil membuat Karasuma bekerja kembali menjadi guru di kelas 3-E. Nagisa pun segera pergi menjauh dari mereka semua, beberapa teman-temannya memanggil ia namun tak digubris.
"Nagisa-kun tunggu-…"
"Biar aku saja yang bicara dengannya, Aku permisi! Sela Karma menyusul Nagisa yang pergi menjauhi semua teman-temannya.
Semua pemandangan kembali membisu, memperhatikan Nagisa dan Karma yang menjauh. apa yang sebenarnya terjadi? Itulah yang ada didalam benak mereka saat ini.
.
.
Sebelumnya saya sebagai author berterima kasih atas masukannya. Pereview yang baik selalu meninggalkan pesan dan masukan bagi penulis, untuk penyemangat mereka sekalipun orang itu anonim.
Reviews :
Yuyu arxlnn (Chapter 1) : Sebelumnya terima kasih atas masukannya, maaf jika ada kekurangan dalam fanfic ini. Karena kondisi saya yang kurang baik. Sebelumnya saya harus operasi kecil mata, sehingga kondisi tidak bisa maksimal dalam pengerjaan proyek ini. Saya akan usahakan lebih baik lagi dichapter berikutnya dan sudah saya perbaiki Chapter pertamanya kok.
Chapter 2
Rasa sakit
"Nagisa, oii! Nagisa-…" Karma yang sedari tadi mengikutinya. berhenti, melihat sahabatnya juga ikut berhenti melangkah. Apa yang menyebabkan ia menjadi seperti itu, pikiran dan pertanyaan mungkin sudah terisi dalam otaknya saat ini.
"Maafkan aku!" sahutnya kepada Karma.
Karma Menghela.
"Aku mengerti akan perasaanmu, namun sudahlah jangan dipikirkan kembali ya!" kata Karma menghiburnya. Ritsu pun muncul pada ponsel Nagisa.
"Nagisa-san!?" Dirinya khawatir melihat perubahan sikap Nagisa yang menjadi dingin. Menanggung semua masalah seorang diri tidaklah baik. Perasaan itulah yang ingin mereka katakan kepadanya.
"Baiklah, aku mengerti. Terimakasih Karma, Ritsu!" ujarnya tersenyum mencoba menghilangkan penat masalah pada otaknya saat ini. Mereka berdua pun tersenyum menandakan masalah pria surai biru itu telah mereka anggap selesai.
.
.
Kejadian yang dialami Nagisa sesudah pertarungan ia dengan Takaoka Akira sudah berakhir, kini mereka berdua berfokus pada masalah berikutnya yaitu, ujian akhir semester. Taruhan telah disepakati antara kelas 3-A melawan 3-E, kesepakatan yang sudah mutlak diantara kedua kubu untuk saling bersaing dan memenangkan pertarungan dengan nilai tertinggi disetiap mata pelajaran yang berada di sekolah Kunugigaoka, memiliki hak untuk meminta permintaan.
Tentu saja bagi Karma dan Nagisa tidaklah begitu sulit, karena Karma memiliki IQ yang tinggi dan baik dalam segala bidang pelajaran, kejadian dimasalalu tidak akan dia ulangi kembali, sedangkan untuk Nagisa dia sudah memiliki dasarnya yang cukup menguntungkan, karena dia adalah seorang guru pada zamannya, sehingga Nagisa cukup mengulangi dan melatih kembali bagian bab pelajaran yang dia kurang pahami. Mengajar merupakan bagian dari profesinya dimasa depan. Impian yang dia jalani dan kagumi dari gurunya yaitu Koro-sensei.
Mereka saat ini sedang berada didalam kelas mengikuti ajaran super cepat dari guru gurita yang sedang membuat bunshin banyak untuk memantau setiap murid. Bagi semuanya cukup kesulitan mengikutinya, karena ada beberapa materi yang mereka tidak mengerti. namun untuk kedua kalinya. Koro-sensei, dibuat kagum dengan potensi yang dimiliki kedua muridnya. Shiota Nagisa dan Akabane Karma yang menjadi pusat utama ketidak percayaannya.
"Sepertinya, kau tidak memiliki masalah di bab ini, Karma-kun?!" ucapnya yang berdiri dengan bayangan serta ikat kepala putih yang bertuliskan pelajaran matematika.
Karma hanya tersenyum. "Tentu saja, karena aku selalu belajar dan mengulanginya agar paham, tapi sensei… bagaimana dengan Nagisa?!" kata Karma mengantung, melihat Nagisa yang terlihat sering melamun akhir-akhir ini.
"Tenang saja, dia sangat baik dan tidak memiliki hambatan sama sekali dalam semua pelajaran, hanya saja… sensei juga sedikit khawatir melihat Nagisa-kun saat ini!" jawabnya ragu.
"Begitu ya" sahutnya.
"Karma-kun, bisakah kau ajak Nagisa-kun bertemu denganku sesudah pulang sekolah? Ada hal yang ingin Sensei bicarakan diantara kalian berdua. Jangan lupa ajak Kotori-chan dan Akio-kun. kali ini sensei yang akan traktir. maukah?!" kata Koro-sensei mengajak untuk mengobrol sesudah pulang sekolah.
"Tentu saja!" sahut Karma menyetujuinya.
.
.
Sore senja matahari mulai larut dalam kegelapan, Semua murid kelas 3-E sudah pulang kerumah masing-masing, hanya menyisahkan Nagisa yang berada disekolah, seorang diri. Nagisa kebingungan mengapa dia harus menuruti perkataan Karma yang menyuruhnya untuk tidak pulang. Baginya itu terdengar egois dan tidak diberikan hak untuk bicara.
Menghela dan menyetujui perkataan sahabatnya untuk tidak meninggalkan sekolah sebelum Karma kembali, entah apa yang ia rencanakan?. Nagisa yang merasa bosan pun mengisi waktu luangnya untuk berlatih menggunakan pistol, pisau dan senjata khususnya yang ia dapatkan dari Lovro.
Saat ini Nagisa menggunakan senjata itu melatih kemampuan insting membunuhnya. Benang kawat itu bergerak dengan fleksibelnya. Beruntungnya Nagisa tak perlu menahan diri sekarang dalam berlatih, karena Karasuma dan Irina tidak berada disekolah saat ini, melemparkan tali kawat hingga menancap pada titik pusat lingkaran target.
CTRAAK!
Tubuh Nagisa pun tumbang ketanah, Kelelahan. Karena sudah berlatih selama 2 jam tanpa henti, keluh keringat mengalir dari dahinya yang membasahi wajahnya. nafas pria itu terengah-engah tidak teratur.
Menatap telapak tangannya sendiri.
"Terjadi lagi?!" batinnya melihat tangannya yang menjadi transparan.
menatap langit sore yang begitu menenangkan, sebuah handuk menutupi wajahnya. betapa Nagisa terkejut dengan orang yang melempar barang itu kewajahnya.
"Siapa-… Karma?!" Nagisa menyadari bahwa temannya telah tiba. bersama kedua orang yang ia kenal. "Maaf, jika sudah membuatmu menunggu!" kata Karma meminta maaf.
"Papa!" panggilnya memeluk Nagisa yang masih duduk ditanah.
"Kau mengajak Akio-kun dan Kotori!? Ceroboh sekali kau. Karma, bagaimana jika orang lain mengenalimu-…" ujarnya terkejut.
"Oi! Tenanglah dulu! ini bukan keinginanku, tapi dia!" ucap Karma untuk menghilangkan salah paham. Menunjuk orang dibelakang Nagisa.
"Nagisa-kun, akulah yang mengajak Akio-kun dan Kotori-chan!" ujarnya yang sudah berdiri dibelakangnya.
"Sensei?" Nagisa masih bingung, mengapa ia mengajak putrinya.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan?! ini adalah perintahku kepada Karma-kun untuk mengajak mereka berdua. besok kan hari week end, sensei ingin mengajak mereka berdua bersenang-senang sesekali. Bolehkan?!" ujarnya menampilkan daging barbeque dari belakang punggungnya.
Nagisa sekarang mengerti, mengapa Karma menyuruhnya untuk tidak pulang lebih awal, karena alasan ini. "Baiklah, Koro-sensei" pria itu menyetujui ajakan gurunya.
.
.
Malam itu, semuanya berada didepan halaman sekolah gedung lama, api unggun menerangi sekitarnya, karena tidak adanya penerangan listrik digedung sekolah mereka. beberapa canda dan tawa anak kecil yang sedang bersenang-senang. Kali ini Karma ikut bermain sekaligus mengawasi mereka untuk bermain disana. sedangkan Nagisa saat ini sedang duduk diperapian kompor pembakaran. Asap aroma menyengat dari daging dan sayuran yang begitu menggoda hidungnya membaliknya dan melumari kembali dengan bumbu agar merata matang.
Koro-sensei yang berada disitu, pun mulai membuka obrolan yang berada disamping muridnya. "Apa kau memiliki masalah, Nagisa-kun?!" tanyanya yang melihat, Nagisa selalu melamun.
Nagisa Terkejut.
"Ah- tidak… sedikit, aku tak tahu!" jawabnya kebingungan. Koro-sensei pun mengambil alih daging yang sudah matang itu kedalam piring dan meletakkan yang baru untuk dibakar kembali.
"Tentang Kayano-kah?" tebaknya, sambil memberikan daging yang sudah matang itu dengan bumbu-bumbu rempah. Mengangguk setuju perkataan senseinya.
Menghela dan menyentuh kepala Nagisa dengan tentakelnya.
"Nagisa-kun, kau orang yang sangat baik! Kau selalu menanggung semua masalah seorang diri dan tidak membutuhkan orang lain, caramu untuk menutupi kelemahanmu sangat baik, Aku yakin kau akan menemukan jalannya untuk menghadapi masalahmu ini!" ujarnya menasihati.
"Akupun setuju dengan Koro-sensei, Nagisa-san!" ujar seseorang yang muncul pada ponselnya.
"Ritsu?!"
"Aku tidak suka dengan sikapmu yang seperti ini, jangan menanggung semuanya sendirian. Bukankah kita ini adalah teman!" lirihnya tidak suka.
Nagisa kini mengerti, menyetujui perkataan mereka berdua. Beberapa tawa kecil terlihat dari mereka bertiga yang sedang bersenang-senang dekat api unggun. Orang yang sangat ia ingin lindungi dengan sekuat tenaga. "Maafkan aku, Ritsu, Koro-sensei. Terima kasih banyak sudah ada untukku!" kata Nagisa mulai tersenyum hangat, mencoba menghilangkan penat masalah yang ada dalam otaknya. Mereka berdua yang mendengar itu pun ikut senang.
"Syukurlah, jika dirimu sudah baikan. Nagisa-kun!" ucap Koro-senseinya ikut senang.
"Uhm!"
~o0o~
Hari ini pertarungan kelas 3-A dengan 3-E dimulai, pertaruhan yang melibatkan semua orang dikelas. Semua berusaha untuk menjawab soal yang tertulis pada lembar kertas diatas meja mereka. pengetahuan merupakan kunci menjawab test dihadapan semua murid saat ini. Kegelisahan dan kekhawatiran tentunya menghantui mereka, yang kalah harus patuh kepada yang menang. Hukum rimba jelas tertulis pada aturan di sekolah Kunugigaoka. Berusaha memaksimalkan diri untuk menyelesaikan pertarungan hidup dan mati dalam waktu 3 hari kedepan.
.
.
Ujian akhir semester yang dilakukan selama 3 hari telah usai, kini saatnya guru kuning itu membacakan hasil yang didapatkan semua muridnya. Ketegangan dan debar jantung mereka semua seakan melonjak siap keluar. keadaan mulai hening. Koro-sensei kini mulai membacakan hasilnya. Beberapa nama murid yang Nagisa dan Karma duga, akhirnya muncul seperti alur takdir normal yaitu, Nakamura Rio, Okuda Manami, Isogai Yuma, juga gang preman seperti Terasaka CS Pun mendapatkan nilai sempurna dalam ujian. Mereka berdua kali ini memaksimalkan diri untuk ikut serta mendapatkan nilai sempurna disetiap pelajaran, Shiota Nagisa mendapatkan nilai 100 di mata pelajaran bahasa inggris dan Akabane Karma mendapatkan nilai 100 di mata pelajaran matematika.
Beberapa kegaduhan ribut kelas, karena kali ini Koro-sensei akan kehilangan 9 tentakelnya, bukan 7 dalam kehidupan sebelumnya. Membuat dirinya terlihat pucat ketakutan, karena provokator Karma yang cukup senang mempermainkan gurunya kembali. merasakan de javu tidak buruk juga pikirnya. Pengalaman dan kemampuan mereka berdua yang disembunyikan cukup membantu dalam mengembangkan potensi diri. Nagisa dan Karma kali ini begitu senang dan saling beradu tinju, membuat Okuda dan Kayano sedikit heran dengan sikap mereka saat ini. semuanya kini berfokus pada liburan musim panas yang sudah susah payah mereka dapatkan. liburan khusus musim panas SMP Kunugigaoka, menginap dipulau Okinawa.
Keesokan harinya.
Suasana didalam aula gedung sekolah utama sudah terlihat jelas dengan hasil taruhan mereka sebelumnya. rasa kesal, iri, malu dan marah. Pemenangnya adalah kelas 3-E menang dengan skor pelajaran berjumlah 5 lawan 1 yang berarti, Kemenangan mutlak. Beberapa penjelasan yang dirapatkan didalam ruangan sebelum acara penutupan semester satu.
.
.
Pertemuan sesudah upacara digedung utama telah usai. Mereka kini berada didalam gedung lama, mendengarkan arahan dan masukan dari koro-sensei, tentu saja gurunya tidak ingin mereka semua bersenang-senang begitu saja tanpa memikirkan rencana utama yaitu membunuhnya.
Jam kelas pun telah berakhir, semua siswa rata-rata langsung pulang kerumah masing-masing, sebagian lagi ada yang bermain kesuatu tempat. Kehidupan yang cukup menyenangkan bagi seorang pelajar, namun tidak dengan Nagisa dan Karma. Lagi, dia pergi menuju sekolah Wakariba Play Group. Mengunjungi kedua anak mereka dalam tujuan pengawasan dan melindungi mereka adalah tujuan utama saat ini, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Memasuki ruang kantor.
Pengasuh sekolah itu yang mengetahui kedatangan mereka berdua segera memberitahu keadaan anak kecil surai biru itu yang sedang dalam kondisi tidak baik. Lebih tepatnya terkena demam musim panas, mendengar penjelasan itu segera Nagisa memasuki kamarnya dan terlihat Kotori yang sedang terbaring disana. deru nafasnya terengah-engah dengan kain basah pada dahinya untuk menurunkan panasnya.
"Kotori kau baik-baik saja?! Kotori!" panggilnya, mendengar sedikit keributan kecil, gadis itu membuka iris matanya yang sebelumnya menutup. Amber kecoklatan itu menatap pria yang ia kenal. "P-Papa?" panggilnya pelan tersenyum paksa.
UHUK! UHUK!
Gadis itu terbatuk kembali. berusaha untuk bangun dari kasurnya. Namun pria itu menahannya untuk tidak memaksakan diri. "Istirahatlah dan minum obatmu! Lihat, Aku membawakanmu pudding kesukaanmu seperti biasa!" kata Nagisa menyuruh putrinya istirahat kembali dan melarangya melakukan banyak aktivitas. Gadis itu terlihat senang, karena dibawakan makanan yang ia sukai, menerimanya dengan girang.
"Uhm!"
Sesudah menghabiskan pudding itu, Kotori pun beristirahat kembali. memeriksa demamnya yang masih tinggi dan terlihat masih lemas. Dokter pun sudah memeriksanya dan mengatakan bahwa kondisi Kotori saat ini sangat lemah dan butuh banyak istirahat. Nagisa dan Karma yang mendengar itu pun mengerti. Nagisa mengucapkan terima kasih kepadanya, karena sudah mau datang untuk memeriksa putrinya.
Mereka terdiam, bingung harus memilih topik apa untuk mencairkan suasana. Ristu pun mulai membuka obrolan. "Jangan khawatir, Nagisa-san. aku yakin Kotori-chan akan segera sembuh!" hiburnya kepada pria itu yang terlihat lesu.
"Hm! Terima kasih. Ritsu!" sahutnya tersenyum hambar. Karma pun membuka obrolan untuk memecah keheningan.
"Lalu bagaimana? Apa kau tidak bisa ikut dengan kami ke pulau Okinawa untuk rencana pembunuhan koro-sensei besok?!" tanya Karma. Nagisa yang mendengar itu hanya mengelengkan kepalanya, tidak tahu harus berkata apa.
Menghela sesaat.
"Kurasa, aku tidak bisa ikut besok!" ucapnya lagi sambil menyapu rambut putrinya yang sedikit berantakan pada dahinya.
"Apa?! lalu bagaimana dengan Takaoka Akira. Dia akan melakukan penyerangan disana untuk mencelakai teman-teman kita. Apa kau akan diam saja!?" tanya Karma yang kesal mendengar jawaban Nagisa. "Tenanglah, Karma-san!" lerai Ritsu dalam ponsel Nagisa yang saat ini sedang bimbang.
"Maaf!" gumamnya, karena membentak Nagisa.
"Nagisa-san?" pria itu berdiri dari posisi duduknya dan melihat kearah Karma.
"Dalam segi jenis pertarungan dan strategi, kau lebih baik dariku. Karma, oleh sebab itu aku meminta tolong padamu, untuk melindungi mereka semua, bisakah?!" ujar Nagisa memohon.
Karma dan Ritsu yang mendengar pernyataan Nagisa, Terkejut.
"Apa kau bilang, itu tidak mungkin… maksudku, tanpa kau aku tak bisa berbuat apa-apa. Nagisa!" kata Karma yang ragu.
"Aku yang akan mengurus Kotori-kun!" ujar seseorang melihat orang yang membuat pernyataan tersebut. pria paruh baya tua itu tersenyum dan menghampiri mereka bertiga.
"Masukata-san?!" gumam mereka terkejut.
"Aku akan merawat dia untukmu, Nagisa-san. bukankah kau punya tanggung jawab yang besar untuk melindungi teman-temanmu?!" ujarnya untuk tidak perlu khawatir.
"Tapi-…"
"Nagisa-san, melindungi keluarga yang kau sayangi memang benar, namun melindungi orang lain dengan kekuatanmu juga tidak disalahkan pula, percayalah dan serahkan sisanya padaku!" ujarnya meminta pria itu untuk tidak khawatir dengan putrinya.
Nagisa pun hanya menghela.
"Baiklah! Aku mengerti. Terima kasih. Masukata-san!" jawabnya mengalah menerima perintah dari Masukata. Karma dan Ritsu yang mendengar itu akhirnya bisa tersenyum mendengar jawaban Nagisa yang sebelumnya ragu-ragu.
"Baiklah, kita akan susun rencana melawan Takaoka Akira!" ucap Nagisa.
"Ok!" kata mereka berdua dengan semangat.
Waktu sudah menunjukkan sore hari. Nagisa dan Karma sesudah berkunjung dari sekolah Wakariba play group memutuskan untuk pulang kerumah. Lambaian kepada Kotori yang berada dalam gendongan sang pengasuh sekolah. Perpisahan diantara mereka berdua kepada anak perempuan itu yang terlihat senang. Masuk kembali kedalam sekolah.
Pengasuh sekolah Wakariba play group, tak menyadari bahwa ia diawasi oleh seseorang yang memiliki niat buruk. Memperhatikan gadis kecil itu yang tertidur kembali, sesudah berpisah dengan Nagisa dan Karma.
"Oh… sepertinya aku akan menggunakan dia!" gumamnya tersenyum dingin.
~o0o~
Hari yang ditunggu telah tiba, perjalanan dengan menggunakan kapal pesiar mewah menjadi momen menyenangkan bagi murid 3-E. Cuaca cerah yang begitu menyenangkan untuk melaksanakan misi pembunuhan. Beberapa dari mereka sangat bersemangat dan antusias. Nagisa dan Karma saat ini sedang bersandar pada besi kapal pembatas. Tidak, lebih tepatnya bertiga dengan Ritsu saat ini.
Okuda Manami dan Kayano Kaede yang melihat mereka berpisah dengan semua teman-temannya pun, menjadi merasa aneh dengan sikap mereka berdua. mendekatinya dengan tujuan ingin mengetahui sesuatu, sayangnya keinginan tahuan mereka harus berakhir. Nagisa dan Karma menyadari ada yang mendekat dan segera menutup buku catatan yang dibawa pria surai biru bertelinga kucing.
"Ada apa, Okuda-san, Kayano-chan?" tanya Karma ingin tahu.
Terkejut karena mereka berdua ketahuan.
"Teman-teman yang lain ingin membahas rencana pembunuhan. Koro-sensei, Bisakah ikut berkumpul untuk rapat. Karma-kun, Nagisa-kun dan Ritsu-san?" ujarnya meminta mereka untuk bergabung. Mereka bertiga saling melihat dan mengangguk mengerti.
Mereka berdua pun berjalan mendekati kedua wanita itu, berhenti didepan mereka. "Okuda-san, apa kau sudah menyelesaikan barang yang ku minta?" kata Nagisa didepannya. Wanita itu hanya mengangguk mengerti. mengeluarkan 2 botol dari tas slempang kecilnya. "Oh iya, ini barangnya. Nagisa-kun!" katanya sambil menyerahkannya pada Nagisa.
"Terima kasih. Ayo, kita kumpul!" ajak Nagisa, Karma pun hanya diam melangkah menuju tempat semua teman-temannya. Kayano dan Okuda tidak mengerti mengapa sikap mereka seperti menjaga jarak. "Okuda-san" panggil Kayano.
"Y-Ya?"
"Sebenarnya, Nagisa meminta bantuan apa padamu? Dan apa isi botol yang kau berikan padanya?!" deliknya ingin tahu.
"Itu penawar racun!" sahutnya melihat mereka berdua menjauh.
"Untuk apa?!" Okuda hanya mengeleng.
"Aku tidak tahu, aku hanya diminta oleh mereka berdua, Namun aku tidak diberitahu untuk apa!" jawabnya kembali.
"Oh, ya sudah ayo kita ikut berkumpul juga!" ajaknya.
"Y-Ya!"
Membahas rencana pembunuhan yang akan dilakukan untuk Koro-sensei, mempersiapkan peralatan dan barang-barang yang akan digunakan. beberapa masukan saran dari semua orang yang memperhatikan untuk tidak melakukan kesalahan. Rapat singkat itu akhrinya usai dengan teriakan semangat kelas 3-E dikapal pesiar yang melaju menuju pulau Okinawa.
.
.
Matahari telah sampai diatas ufuk, menandakan jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Perjalanan yang ditempuh selama 6 jam menggunakan kapal laut pun telah tiba di pulau Okinawa. Beberapa teriakan senang dan penuh semangat dari para murid 3-E yang akhirnya bisa menikmati liburan yang mereka dapatkan dengan kerja keras.
Beberapa pelayan mengajak mereka menuju tempat resepsionis untuk didata. Semuanya langsung menurut mengikuti arahan dari pengelola hotel. Mengisi form dan mengambil kunci yang diberikan. Persiapan tim dibagi menjadi 5 kelompok. Sesuai arahan Isogai Yuma yang memimpin. Setiap kelompok ditugaskan dipos-pos masing yang sudah di tentukan. Kesempatan yang mereka akan lakukan untuk mengakhiri misi pembunuhan. Membunuh Koro-sensei.
Kali ini, tim Nagisa, Karma, Kayano, Sugino dan Nakamura yang mempersiapkan rencana untuk memasang jebakan pada gereja mengapung. Beberapa pekerjaan yang dilakukan dengan cepat dan teliti untuk memaksimalkan rencana pembunuhan ini berjalan baik. Bagi Nagisa dan Karma ini tak akan menghasilkan apa-apa, karena mereka sudah mengetahui kemampuan gurunya yang super cepat itu. bahkan dengan mudah bisa mematahkan semua rencana murid 3-E, jika mereka ingin mengatakan kebenarannya.
Mereka berdua kini bermain mengikuti alur takdir untuk tidak memperlihatkan kecurigaan dan kekecewaan pada semuanya, sebenarnya Nagisa ingin memberitahu mereka kalau rencana ini memiliki kelemahan, namun ia lebih memilih menutup mulut. Tentu saja fokus prioritas mereka berdua saat ini adalah mengalahkan para pembunuh bayaran yang dipekerjakan oleh seseorang yaitu Takaoka Akira. "Semuanya sudah ok!" ujar Karma memberikan kode, mereka semua tinggal menunggu malam tiba untuk eksekusi.`
.
.
Malam itu rencana pembunuhan akan dilaksanakan, beberapa alat yang tersedia sudah ada didalam gereja mengapung yang jauh dari lokasi hotel, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan. Tentu saja targetnya adalah Koro-sensei, saat yang menyenangkan bagi gurunya itu menikmati kejutan pembunuhan yang ia tidak akan duga. Semua mulai berjalan hingga semua kelemahan gurunya tersebar dalam video yang di tontonnya. Beberapa ejekan yang mengintimidasi Koro-sensei yang terkejut dan benar-benar malu. ingin rasanya dia memilih mati daripada disaksikan dalam keadaan malu seperti ini oleh semua muridnya, pikir Koro-sensei.
Memalukan dan kehilangan keangkuhan menyebabkan Koro-sensei, kurang waspada. Air pasang mulai memasuki gereja dan tentu saja. eksekusi 9 tentakel itu harus berakhir ditangan Nakamura, Isogai, Okuda, Terasaka, Yoshida, Muramatsu, Hazama, Karma dan Nagisa. "Kita mulai. Koro-sensei, jangan menghindar!" ujar Terasaka berbicara.
DOR! DOR! DOR!
Letupan senjata peluru BB itu mengenai tentakel gurunya. "Nyuyaaah!" teriaknya kesakitan. kubah gereja itu pun terbuka akibat ditarik paksa dengan speed boat yang menjauhi lokasi, tentu saja kerjasama semua orang sangat penting. Beberapa orang keluar dari dalam air dengan menggunakan Flyboard.
Terkejut bahwa semua orang mengurungnya.
"Penjara Hidrolik!?" ujarnya tak percaya.
"Kau tidak akan bisa lari lagi, Sensei!" ucap Nagisa.
Ritsu pun keluar dari bawah lantai kayu gereja dan mengeluarkan semua peralatan tempurnya, shotgun dan galting gun muncul untuk menembak target. "Area target! 1 meter persegi disekitar Koro-sensei. Terkunci!" ujarnya memimpin serangan beruntun, dibantu dengan semuanya. Menyadari dan kagum dengan kemampuan semua muridnya. Lagi? Koro-sensei dibuat kagum dengan mereka Nagisa Shiota, Akabane Karma dan Ritsu yang sudah membuat skenario seakan terpojok oleh rencana mematikan semua murid 3-E. senyum palsu yang tentu saja gurunya mengetahuinya.
"Game over!" kata Ritsu mengakhiri, pemain utamanya yang akan mengakhiri sang guru 20 march, Chiba Ryuunosuke dan Hayami Rinka. Menembak, peluru melesat dengan cepat menuju Koro-sensei.
"Kalian benar-benar mengagumkan, namun…" batinnya yang sudah menyeringai memiliki rencana cadangan.
BOOM!
Sebuah ledakan gelombang kejut berhasil menciptakan ombak besar yang membuat semua orang terpental. Terkejut dan baru menyadari bahwa pembunuhan yang mereka lakukan, seharusnya berjalan lancar tanpa ada masalah, namun bagi mereka bertiga tentu saja hasilnya adalah gagal total. "Fuaaah,… tadi itu nyaris banget!" katanya yang muncul dari dalam air yang terlindungi oleh sebuah bola transparan.
Beberapa anak-anak itu yang melihatnya tidak tahu.
"Apa itu?!" batin mereka semua sweatdrop. Dengan hasil yang sudah diduga, tentu saja. Kegagalan dan kekecewaan yang mereka dapatkan dari rencana pembunuhan, setelah mendengarkan perkataan Koro-sensei yang memiliki kartu truf yaitu bentuk pertahanan mutlak.
Mereka semua kembali ke hotel dengan perasaan lesu dan tidak semangat, beberapa ada yang mulai ngelantur dan ada juga yang mulai terjangkit sakit, karena keadaan yang tidak bisa diduga. Tentu saja reaksi ini, Bagi mereka tiga sudah tahu. racun yang diberikan dalam minuman itu sudah mulai menyebar pada murid 3-E yang meminum jus pemberian pelayan.
Beberapa murid terlihat tegang dan khawatir, karena keadaan mulai aneh. Karasuma yang melihat kondisi itu pun menerima panggilan telepon yang ia tidak kenal dari handphone. Mengangkatnya dan terkejut mendengar nada bicara sarkasme dari penjahat yang meracuni beberapa muridnya. Tentu saja transaksi yang ia inginkan adalah buronan yang dipegangnya. Koro-sensei, Kayano dan Nagisa yang dia inginkan. Situasi semakin sulit dan membuat Karasuma kesal.
TCH!
Menghela dan mendekati Okuda.
"Okuda-san, berikan obat ini kepada semua teman-teman!" kata Nagisa yang sembari memberikan botol berisi penawar racun itu, tentu saja semua orang yang mendengar perkataannya terkejut.
"A-Apa maksudmu? Nagisa-kun, b-bukankah i-ini… obat buatmu… j-jangan ini buat kami semua?!" ujar Okuda yang kebingungan dan mulai menyimpulkan.
"Benarkah itu, Nagisa?!" tanya Kataoka. Nagisa hanya mengangguk mengiyakan perkataan wakil ketua.
Karma pun mendekati Nagisa. "Okuda-san, cepat berikan obat itu. biar sisanya kami yang menangani ini!" sergah Karma, wanita itu hanya menurut tanpa berkata apa-apa lagi. Bergerak menangani semua teman-teman mereka yang terjangkit virus tersebut.
"Takebayashi-kun, bantulah Okuda-san disini dan lindungi dia!" kata Nagisa, pria itu hanya menurut dan mulai ikut menanggani semua teman-teman.
"Nagisa-san, Karma-san. sudah waktunya!" kata Ritsu. Mereka berdua kini mulai bersiap-siap untuk segera bergegas berangkat.
Beberapa teman mereka terlihat terkejut akan tindakan Nagisa dan Karma yang sudah membuat serum penawar racun. Karasuma, Irina dan murid yang lainnya yang tidak terimfeksi tak mempercayai ini.
"Hmmm?!" Karma berdehem, tersenyum melihat reaksi mereka semua yang mematung, kecuali Okuda dan Takebayashi yang sibuk dengan teman-teman mereka yang sakit.
"Mau sampai kapan kalian melamun seperti itu?!" ujarnya tersenyum.
"Sejak kapan, kalian merencakan ini?!" tanya Karasuma ingin tahu. Nagisa dan Karma yang
Mereka berdua yang mendengar itu, hanya menghela.
"Karasuma-sensei. Ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan itu, lagipula waktu kita hanya 1 jam untuk sampai ke hotel dibelakang gunung bukan?!" ujarnya kembali pada topik yang sedang mereka hadapi.
"Tunggu! Bukannya kalau sudah mendapatkan penawarnya, berarti kita sudah tidak perlu melawan penjahat itu bukan?!" tanya Isogai. Perkataan itu membuat semua orang setuju.
Nagisa yang mendengar itu pun angkat bicara. "Benar, namun jika kita tidak menghentikan orang itu, maka akan ada orang lain yang disakiti olehnya. Isogai-kun!" ujarnya. Penjelasan Nagisa juga tidak disalahkan juga. Kini Kama yang bicara. "Kalau Isogai tidak ingin menghentikannya. Kami bertiga pun sudah cukup!" kata Karma mulai pergi.
"Tunggu, aku akan ikut! Tidak bisa kubiarkan kalian bertindak gegabah!" sergah Karasuma tidak ingin murid-muridnya kenapa-kenapa. Mereka bertiga hanya tersenyum paksa.
"Ya ampun. Karasuma-sensei, benar-benar semangat sekali!" kata Ristu terkekeh.
"Benar!" sahut Nagisa.
Karasuma yang mendengarnya sedikit kikuk dan mulai berjalan menghampiri mereka, tentu saja Irina ikut serta membantu. beberapa orang yang masih sehat pun ikut serta.
"Karasuma-sensei, Irina-sensei dan kalian semua mari kita percayakan kepada Nagisa-kun dan Karma-kun. aku percaya mereka memiliki rencana!" ujar Koro-sensei dalam kantong plastik. Mereka berdua hanya tersenyum.
"Ayo!"
.
.
Semua murid yang tidak terkena racun dan guru mereka, kini berada didalam komando Karma dan Nagisa. tentu saja membahas semua rencana musuh, kemampuan dan foto mereka. semua sudah mengetahuinya, saatnya bagi Irina Jelavich yang mulai beraksi tentu saja dengan kemampuan menggoda dan style dewasanya bukanlah masalah dalam menyusup. Tugasnya kali ini sebagai pengalih sudah selesai.
Memasuki Lorong didalam pintu, menuju belokan berikutnya. Menghadirkan seseorang pria dengan syal putih yang sedang bedeham. Tentu saja semuanya waspada, namun kecerobohan Terasaka dan Yoshida sekali lagi terulang kembali yang tidak mau sabar dan tidak mau mendengarkan.
"Hei!" teriak Karma kesal, karena mereka berdua tak menuruti perkataannya, tak menyadari bahwa pria yang sedang berjalan santai didepan mereka adalah musuh. "Terasaka-kun, awas!" teriak Fuwa. Menyadari itu Karasuma menarik mereka Yoshia dan Terasaka. Menjauhi senjata gas beracun yang musuh pegang.
TCH!
Nagisa dan Karma, segera menyuruh semua temannya bergerak dalam posisinya. Menahan pintu keluar, mereka berdua langsung menyerang dari belakang, pembunuh bayaran itu tak menyadari bahwa kedua anak surai biru dan merah itu berhasil menahannya.
"Karasuma-sensei!" panggilnya, segera pria itu melakukan serangan telak pada wajahnya. darah segar keluar dari sang pembunuh bayaran yang langsung pingsan ditempat.
Ketegangan mereka kini mulai tenang, karena musuh telah dikalahkan. Segera mereka mengikat musuh dengan lakban dan menyembunyikan dibawah bangku, Karasuma saat ini sudah terenggah-enggah, akibat terkena racun. Peluh keringat mengalir deras pada dahinya. Terasaka dan Yoshida pun akhirnya hanya menunduk menyesal. Karma yang berada disitu pun geram, akibat perbuatan mereka berdua yang ceroboh. "Sudah, kukatakan untuk tidak gegabah, mengapa kau masih bertindak semau kalian berdua, HA!" geram Karma yang sudah kesal. Baju mereka berdua dicengkram olehnya. Menyesal itulah yang dirasakan, Terasaka dan Yoshida. Suasana disana menegang dan khawatir akan ada perpecahan antara teman.
"Hentikan, Karma! Aku sudah tahu bahwa ini akan terjadi!" ujar Nagisa memberikan sebuah serum dalam botol didalam tasnya. Mengambil dosis dalam suntikan yang ia gunakan. "Tahanlah, Karasuma-sensei, ini sedikit menyakitkan!" lanjutnya menusukan jarum itu kedalam lengannya. Benar saja. Karasuma mengeram kesakitan sesaat dan mulai tenang. Isogai dan Sugaya pun membantu dalam membopongnya. "Terima kasih, Nagisa-kun!" ucapnya.
"Ya"
TCH!
Karma yang mendengar itu pun melepaskan cengkraman bajunya. Nagisa tahu, bahwa sahabatnya tidak ingin kejadian ini terulang kembali, namun nasi sudah jadi bubur terima saja. pikirnya. "Karma?" panggilnya.
"Aku tahu! maafkan aku, Terasaka, Yoshida. Ayo kita pergi!" ujarnya berjalan lebih depan. Mereka berdua kini merasa menyesal. "Tenang saja, jangan kalian pikirkan ya. terutama untukmu Terasaka-kun, Yoshida-kun. pakailah anti racun ini, kalian juga terkena racun itu bukan?" ujarnya kembali, keduanya terkejut. Nagisa segera menyusul Karma.
Mereka semua hanya menurut mengikuti kembali Nagisa dan Karma yang berada didepan. Semua rencana musuh, kemampuan, bahkan orangnya mereka berdua sudah mengetahuinya. Diam dan menutup mulut hanya itu yang teman-teman 3-E saat ini bisa lakukan, bukan tidak ingin membantah, hanya saja beberapa kejadian yang terjadi hari ini. membuat mereka belajar dari kesalahan.
.
.
Semua musuh yang tersisa, berhasil diatasi oleh Karma, Hayami dan Chiba, tentu saja. karena rencana yang mereka ikuti dari Nagisa dan Karma. misi penyusupan yang dilakukan kali ini. berhasil dengan sukses. Namun, lagi. Nagisa menjadi korban untuk menyamar sebagai wanita. tentu saja perannya disini tidak dibutuhkan. Karena Okano dan Yada yang berperan disini dalam melindungi semua siswi 3-E.
"Sudah lama sekali, kau tidak mengenakan ini. Na-gi-sa, kau menyukai ini sepertinya?!" ujar Karma yang mengejeknya dengan memperlihatkan hasil fotonya.
Mengambil handphone nya dan mulai menghapus foto tersebut.
"Erk! Apa yang kau lakukan, Nagisa?!" tanyanya tidak terima.
"Aku menghapusnya!" kata Nagisa kesal, sambil memberikan smartphonenya kembali.
"Padahal momen ini sangat bagus tahu-…"
"Bodoh! Aku tidak maufotoku tersebar luas!" ucapnya.
"Apa katamu!" geram Karma.
Mereka berdua masih berdebat, semua orang yang berada disitu sweatdrop melihat kelakuan mereka yang selalu bertengkar. Menghela melihat sikap Nagisa dan Karma saat ini membuatnya ikut senang. Menghadapi masalah tanpa ada rasa takut, bersikap tenang merupakan keputusan yang tepat saat ini bagi mereka berdua agar tidak membuat semua temannya khawatir. Dilantai atas sudah menunggu. Seseorang yang mereka berdua sudah ketahui. Ketidak percayaan mereka semua melihat seseorang yang dikenal.
"Kau?!" geram Karasuma.
"Kita bertemu kembali. Karasuma!" ujarnya dengan nada sarkasme.
Mereka semua menegang, tersirat rasa marah dan kesal. Murid 3-E saat ini yang mengetahui dalang dibalik penyebaran racun. Terasaka dan Yoshida saat ini dalam keadaan tidak baik menimbang sebelumnya mereka terkena gas beracun. Nagisa dan Karma saat ini masih dalam posisi tenang melihat musuh dihadapannya. tentu saja kewaspadaan Takaoka Akira kepada pria surai biru itu yang melihatnya dengan iris kejam. Ingin segera ia membunuhnya.
"Bocah, serahkan gurita itu dan kau yang mengantarkannya. Jika ingin penawar racun ini kuberikan!" ujarnya berjalan menuju landasan helikopter membawa penawar racun dalam koper yang sudah terpasang bom.
Nagisa saat ini melanjutkan langkah kakinya menuju landasan helikopter. "Jangan kesana, Nagisa!" mohon seseorang. Kayano Kaede terlihat takut melihat pria itu akan menghadapi iblis dihadapannya.
Tersenyum dan memberikan Koro-sensei padanya. "Jangan khawatir, semua akan selesai dalam singkat!" gumamnya pelan dan melihat kepada Karma. "Kumohon, lindungi semuanya. Karma!" ujarnya. Dirinya hanya mengangguk mengerti.
"Nagisa-kun, berhati-hatilah!" ucap Karasuma memperingati.
"Ya!" jawabnya, mengambil senjata pisau dan stun gun milik Terasaka.
Mereka berdua kini berdiri ditempat yang sudah disepakati, landasan helikopter sebagai ring pertarungan hidup dan mati mereka berdua. Takaoka Akira dan Shiota Nagisa akan menyelesaikan urusan tanpa adanya ikut campur tangan orang lain. ketegangan dan kekhawatiran membuat atmosfer sekitar tidak memihak pada mereka. Semuanya mengkhawatirnya pria surai biru itu yang akan menghadapi iblis didepannya.
"Takaoka!"
"Jangan salah paham! Aku tak ingin kalian menganggu waktu berhargaku bersama Shiota Nagisa-kun, jadi!" sela pria itu menekan sebuah tombol, ledakan besar menghancurkan tangga penghubung antara bangunan gedung dengan landasan helikopter.
Mereka semua terkejut, bahwa Takaoka sudah merencanakan ini semua. beserta ledakan dari penawar racun yang ikut hancur dalam kobaran api yang dilemparnya.
"Penawarnya!" teriak Kataoka melihat barang dalam koper itu hancur.
"Kurang aja!" geram Karasuma kepada temannya yang sudah keterlaluan. Nagisa saat ini masih diam dengan pisau yang ia genggam. Tersenyum kejam, melihat Nagisa yang menundukkan kepala, rencana untuk membuat dirinya putus asa dia pikir berhasil. "Jangan khawatir, Karasuma-sensei. Aku akan segera menyelesaikannya!" ucapnya dengan Sarkasme, menyiratkan kemarahan.
AHAHAHA!
Perhatian Nagisa kembali kepada pria didepannya. Tertawa lepas mendengarkan pernyataan Nagisa yang mulai marah. "Apa kau masih bisa bersikap seperti itu, Nagisa-kun?!" ujarnya menekan remote control, sebuah tuas alat berat turun, menampilkan seorang gadis kecil surai biru yang tak sadarkan diri. luka lebam biru pada wajahnya terlihat olehnya saat ini, keadaannya gadis itu terikat tergantung dalam pengait yang menahannya.
Mereka semua terkejut. Pisau pada tangan Nagisa menguat. Ia marah melihat anak kecil itu yang dijadikan sandera musuh.
HUH!
"Dia memiliki sandera?!" ujar Terasaka tak percaya.
"Kotori-kun?!" ucap Koro-sensei.
"Bagaimana bisa?!" tanya Karma tak percaya melihat orang.
Semua melihat kearah Karma dan Koro-sensei, mereka mengenal anak kecil itu. apa hubungan mereka dengan anak itu? pertanyaan-pertanyaan itu terbenak dalam pikiran mereka semua saat ini.
AHAHAHA!
"Aku akan membunuhmu, bocah!" geramnya tertawa melepaskan serangan pisau menuju Nagisa dengan berlari. Niat membunuhnya saat ini dalam keadaan yang menyenangkan untuk membunuh Nagisa.
"Nagisa-kun!"
"Nagisa!"
"Cepat lari!"
Teriakan teman-teman Nagisa yang khawatir melihat keadaannya terdesak. Nagisa yang masih dalam kondisi menunduk kepalanya pun akhirnya menghela dan mengangkat kepalanya kembali. niat membunuh Shiota Nagisa bangkit. Rasa haus untuk menyelesaikan musuh didepannya saat ini dalam kondisi sempurna. Takaoka yang menyadari perubahan Nagisa benar-benar terkejut.
MATA ITU MEMBUATKU BENCI! HA!
Teriaknya kembali menebaskan pisaunya berulang kali kepada Nagisa, namun dia dengan mudah menghindari semua serangannya tanpa kesulitan, Nagisa yang melihat celah pun menebaskan pisaunya kewajah musuh. Goresan itu berhasil membentuk tetesan darah pada wajah Takaoka.
AHAHAHAH! APA HANYA SEGINI KEMAMPUANMU, BOCAH!
Tertawa nista melihat serangan yang dilakukan tidak terasa menyakitkan, hanya seperti gigitan serangga pikir Takaoka yang masih angkuh. Semuanya terlihat khawatir pada Nagisa yang terlihat kelelahan.
Secara tiba-tiba, Takaoka tumbang, tubuhnya terasa berat, nafasnya terengah-engah. Tangannya menjadi kaku. "A-Apa yang terjadi padaku?!" ujarnya tidak mengerti.
Nagisa pun mendekati musuh dengan jalan santai. "Sepertinya sudah mulai bereaksi!" katanya dengan nada sarkasme. Memutar pisau belati itu dengan santainya. Menatap pria itu dengan dingin.
"Apa yang kau lakukan padaku, bocah?!" geramnya kepada Nagisa.
"Aku melakukan hal yang sama, seperti yang kau lakukan!" sahut Nagisa berdiri dihadapan Takaoka.
"Kenapa?! Aku tidak bisa membunuhmu! Aku ini adalah ayahmu. Kau harus menuruti semua perintahku!" katanya masih tidak menerima kenyataan ini.
"Apa kau akan membunuhku!? Kebanggaan dan kesombonganmu itu membuatku muak!"
"Kau… Kalian semua!…"
EH?!
Sebuah stun gun sudah menempel pada lehernya. Bergidik ketakutan dan tidak mampu melawan. Takaoka Akira kini bersujud dihadapan muridnya. Shiota Nagisa kini sudah siap melancarkan serangan kembali. "Selesaikan dengan itu Nagisa!" ujar Terasaka.
"Ya!"
"Takaoka-sensei… kapan aku bersikap bangga dan sombong dihadapamu?" ujarnya dengan nada sarkasme.
"Alasanku untuk mengalahkanmu itu sederhana!"
"Itu karena, kau… mengarahkan targetmu pada kebanggaanku!" kata Nagisa melihat anak kecil itu yang tidak berdaya.
Pria itu semakin gemetar ketakutan.
"Selamat tinggal, Takaoka Akira-sensei!" ucapnya, mengakhiri pria dihadapannya.
"T-Tunggu…"
ARRRGH!
Stun gun itu mengeluarkan listrik bertegangan tinggi. Membuat Takaoka pingsan ditempat, beberapa ketegangan sesaat mereka semua, akhirnya menjadi sorakan kemenangan bagi Nagisa. semuanya Nampak bisa bernafas lega, karena bos musuh telah dikalahkan. Pria itu segera mengambil remote control dalam saku Takaoka dan menurunkan anak kecil itu dari alat berat yang menggantungnya. Melepaskan tali yang mengikatnya dan memukul pelan pipi Kotori.
"Uhmm,… P-Papa?" panggilnya pelan yang masih setengah sadar.
Mengendong dalam pakuan di depan. "Jangan bicara! Istirahatlah kembali" ucapnya, gadis itu hanya mengangguk menurut.
Semua orang menghampiri Nagisa.
"Kau berhasil Nagisa!..."
"Nagisa?" Kayano Kaede tidak mengerti mengapa pria itu menatapnya dengan sendu. Mereka berdua kini berdiri saling membelakangi. Iris sapphire itu terlihat ragu. "Selamat tinggal Akari, maafkan aku!" bisiknya lirih kepada wanita itu yang menegang, terkejut bahwa Nagisa mengetahui namanya. Tubuh gadis itu kini sudah tak mampu merespon perkataan. Rasanya ia tidak memiliki kekuatan untuk berdiri setelah mendengarkan bisikan Nagisa. Dirinya tidak mengerti mengapa mulutnya tak mampu untuk bicara maupun bergerak.
"Kayano?!" panggil beberapa temannya yang khawatir. Tubuhnya terjatuh ketanah.
"Kayano!"
"Apa yang kau lakukan pada Kayano, Nagisa?!" tanya Kataoka.
"Hoi! Nagisa?!" panggil Terasaka.
Suasana disana semakin menyulitkan semuanya. Baik Nagisa dan Kayano saat ini tidak tahu harus memihak dan membantu siapa? Pria itu kembali melangkahkan kakinya mengabaikan semua panggilan semua temannya menuju tempat Karma, Karasuma dan Koro-sensei berada.
"Karasuma-sensei, bisa kau panggilkan helikopter untuk mengantarkanku kerumah sakit?" ucapnya.
"T-Tapi, bagaimana denganmu-…"
"Aku baik-baik saja, kumohon Karasuma-sensei!" mohonnya.
Karasuma pun mengabulkan permintaan muridnya, memanggil Helikopter yang menjemput mereka yang berada diatas hotel saat ini. Menunggu sekitar 20 menit, hingga tibalah 3 helikopter yang datang. Segera Nagisa pergi menuju kendaraan itu yang masih menderu dengan suara bising baling-baling yang berputar cepat.
"Karma!" teriaknya.
Pria itu hanya menghela.
"Sisanya serahkan padaku! Cepat pergi bawa dia!" ujar Karma menyuruh Nagisa segera pergi.
Helikopter itu pun membawa Nagisa dan kotori pergi menjauh dengan tujuan rumah sakit. sekilas Nagisa yang melihat Kayano Kaede masih terlihat shock, keraguan pria itu terlihat jelas, membuat mereka semua kebingungan dan ingin tahu. pesawat angkatan tempur itu kini semakin menjauh. melihat
Kembali kepada Akabane Karma dan Koro-sensei.
"Apa maksud semua ini Karma-kun, siapa anak kecil itu?! mengapa Nagisa tak mengatakan apapun, lalu Koro-sensei juga mengenalnya!" desak Kayano ingin tahu.
"Benar! beri penjelasan pada kami semua. Karma!" Isogai pun menyetujui.
"Aku juga ingin tahu, sebenarnya apa yang terjadi. Kalian berdua pasti mengetahui sesuatu kan?!" Kini Terasaka pun ikut ingin mengetahui kebenaran yang terjadi.
Beberapa pertanyaan bertub-tubi terus menyerang Karma dan Koro-sensei yang meminta penjelasan. Namun pria itu hanya diam, membalikkan badannya dan melangkah menjauhi mereka.
"Karma-kun-…" panggil Kayano memohon,
"Hentikan semuanya!" lerai Karasuma dengan nada tinggi, bangkit berdiri meskipun harus dibantu Sugaya dan Kimura.
Melihat kedua orang itu dengan tatapan tanpa arti. "Sekarang pergilah, Karma-kun!" ujarnya. Mendengar pernyataan itu Karma tersenyum hambar.
"Karasuma-sensei?!" terkejutnya mereka semua.
"Terima kasih, Karasuma-sensei!"
"Maafkan aku, semuanya!" lirihnya pelan, menjauhi semua orang.
"Karma-kun, jelaskan padaku apa maksud semua ini. Hei!" Kayano Kaede yang tidak terima pun mencoba menuju Karma, namun ditahan oleh Karasuma.
"Tenanglah, Kayano-san!" ujarnya. Wanita itu yang dibentak Karasuma akhirnya hanya menunduk lesu.
"Baik!" lirihnya pelan.
To Be Continue…
