Disclaimer
Naruto milik MK
.
.
"Sebenarnya kita sedang apa di sini Ayah?" Pagi ini aku terpaksa bangun pagi. Ayah ku memaksaku untuk menemaninya ke sini. Iya memaksa, karena aku tidak mau menemaninya. Tentu kalian masih ingat kalau aku seorang pemalas kan?
Tapi dia selalu punya cara untuk membuatku menurutinya. Dia mengancam tidak akan memberikan aku uang jajan lagi. Tentu saja aku langsung takluk. Memang kedengaran manja, tapi aku tak bisa menyangkal kalau aku masih sangat butuh uang dari orang tuaku. Aku yang sekarang masih belum bekerja, jadi aku tak bisa apa-apa kalau Ayahku memblok uang jajanku. Sering aku berpikir, aku orang yang tidak berguna. Tapi mau bagaimana lagi, pemalas sepertiku mencari pekerjaan itu susah.
Dan di sini aku sekarang, berjalan berdua melihat sekeliling, ada banyak orang di sini dan aku sama sekali tidak nyaman dengan keramaian yang hangat di pagi hari.
"Ini toko pakaian sekolah, dan kau pasti tahu orang yang datang ke sini ingin membeli pakaian." Ya, Aku tahu Ayah dari nama di depan toko ini saja aku sudah tahu, tapi untuk apa kita datang kesini! Dan aku hanya memikirkan satu kesimpulan.
"Aku tahu. Dan Ayah tahu kalau aku tidak mau sekolah."
"Hn." hn? Hanya itu jawabanmu? Menyebalkan! Tiap kali Ayahku ingin menghindari sebuah topik dia pasti akan berkata hn. Itu selalu berhasil, karena aku tidak pernah tahu harus bicara apa setelah dia berkata hn. Dan itu sangat menyebalkan!
Ayahku berhenti di depan gantungan yang di penuhi seragam sekolah laki-laki, kini kulihat dia sedang memilah baju yang akan dia beli. Dan sebenarnya dia tak perlu memilahnya karena semua baju yang digantung di sana memilik satu jenis, yaitu seragam sekolah laki-laki. Dan aku tahu mengapa dia berlama lama memilah baju. Di depannya ada wanita cantik yang ku lihat masih muda, walau ku tahu dia sudah ibu ibu. Karena di sampingnya ada anak kecil laki laki, umurnya mungkin sekitar 24 tahun. Tentu saja umur wanita itu, bukan anak kecil itu. Ayah ku terus saja memilah baju, dan membuatku tidak sabar melihatnya.
"Ayah, bisakah kau cepat. Aku ingin cepat pulang." Saat aku mengatakan ingin cepat pulang, tentu saja aku benar benar ingin pulang. Dan aku tahu Ayahku mengerti kalau aku tak suka terlalu lama di luar rumah, bukan.. bukan di luar rumahnya yang aku tidak suka, tapi melihat orang orang yang berkumpul dan membicarakan orang lain membuatku muak. Tentu aku bukan orang yang anti sosial, aku bisa saja setiap hari main dengan anak-anak komplek. Tapi mengingat kalau hidup tenang dan tenggelam dalam dunia sendiri lebih nikmat aku tidak melakukannya. Pernah teman - temanku mengunjungi rumahku, dan aku merasa terganggu kehadiran mereka. Tentu saja aku tidak mengusir mereka, aku hanya diam seharian di kamar dan menguncinya seharian hingga mereka pergi dan tak kembali lagi. Jangan mengira kalau mereka memusuhiku, aku dan mereka masih akur dan menganggap teman. Dan karena itulah aku tidak merasa kesepian meski aku setiap hari mendekam di rumah, karena kalau aku mau, aku bisa bermain dengan teman-temanku.
"Iya iya baiklah." Syukurlah Ayahku menurut.
Akhirnya sesi belanja kami selesai, walau tidak bisa di sebut kami, karena aku hanya mengantar saja.
Hari ini cuaca cerah, hari yang pas untuk bersantai. Menikmati sinar pagi hari yang orang bilang menyehatkan bagi tubuh. Tentu ini masih pagi karena baru pukul 10.
Ayah ku dan aku kini tengah berjalan pulang, setelah kami turun dari bus. Dari halte sampai ke rumahku jaraknya tidak jauh, hanya sekitar 600 meter.
Sesekali aku membalas sapaan orang orang yang melewati ku dan menyapaku duluan. Orang yang tidak menyapaku akan kuanggap angin lalu saja. Kalau mereka pura pura tidak melihatku, mengapa aku harus menyapanya? Aku tidak suka menyapa orang duluan walau terkadang aku melakukannya tapi hari ini aku sedang malas, walau setiap hari memang begitu.
Setidaknya tidak menyapa duluan adalah hal yang kuinginkan saat ini. Meskipun sekarang aku harus menyingkirkan pikiran pikiranku itu.
Kini di depanku seorang gadis tengah berjalan ke arahku. Dia memakai baju abu abu yang terlihat cocok dengan warna mata dan rambutnya. Kesan imut dan manisnya bertambah. Aku tak tahu dia melihatku atau tidak karena dia terus memutar kepalanya seperti sedang mengingat ngingat tempat yang dia lewati. Tentu aku berharap dia melihatku lalu menyapaku duluan, tapi sebagai seorang lelaki aku harus menyingkirkan pikiran itu dan dengan keren menyapanya sambil tersenyum, hm. Itu harus kulakukan.
"Hey, Hanabi." Tepat setelah dia depanku aku memanggilnya. Dia berhenti lalu melihatku dan setelah itu dia tersenyum ramah. Ahh, Ayah apa kau lihat senyumnya itu?. Tentu Ayahku tidak akan mendengar apa yang aku pikirkan.
"Wahh, Hanabi sedang tur ya?" Dasar Ayah ku ini. Memang benar Hanabi sedang jalan jalan dan melihat lihat tempat di sini. Dia baru saja pindah ke tempat ini tentu dia harus tahu tempat tempat penting di daerah ini.
"Iya." Sambil mengatakan itu Hanabi mengangguk dengan imut. Ya imut.
"Aku hanya berjalan jalan di dekat sini saja, aku tidak berani terlalu jauh."
"Hm.. Tentu saja, kau baru di sini. Dan kau pasti akan tersesat bila terlalu jauh." Ayahku benar. Alasan Hanabi tidak terlalu jauh adalah itu. Itu normal karena dia baru saja pindah.
"Dan.. Karena ini sebuah tur. Jadi tentu harus ada pemandunya. Dan laki laki tampan di sampingku ini yang akan melakukannya. Apa kau mau Hanabi?" Apaan-apaan Ayahku ini kedengarannya dia seperti menawarkan ku pada Hanabi. Aku hanya diam, tentu bukan berarti aku tidak mau mengantarnya atau merasa terganggu. Untuk Hanabi yang cantik dan manis aku putuskan bahwa dia itu spesial.
"Um. Tentu aku mau, itu jika Naruto tidak keberatan."
"Tentu saja Naruto tidak keberatan. Malahan kalau aku tidak menyuruhnya untuk membantumu. Dia dengan berbagai alasan akan berusaha untuk menemanimu jalan jalan hari ini. Benarkan Naruto?"
"Ayah. Lepaskan rangkulanmu!" Ayah ku benar mungkin aku akan melakukan itu jika situasi ini tidak terjadi, tapi mengakui di depan orangnya tentu aku tidak lakukan. Aku tidak menjawab perkataan Ayahku untuk membuat seolah olah bahwa aku menemaninya karena alasan seperti 'ya mau bagaimana lagi' atau semacamnya.
"Baik, aku akan menemani Hanabi."
"Bagus kalau begitu. Tidak sia sia tadi kau merengek minta pulang cepat, ternyata insting mu bagus juga."
"Ah.. Sudah cukup Ayah. Jangan memperlambat kami." tentu aku mengatakan itu karena tidak enak membuat Hanabi kehilangan waktunya. Meski aku ingin sekali bisa cepat berjalan hanya berdua dengannya.
"Baiklah baiklah.. Tidak sabaran sekali, ingat jangan terlalu agresif."
"Diam! Cepat pergi sana."
Setelah itu Ayahku pulang. Ku lihat Hanabi tersenyum sambil melihat kepergian Ayahku.
"Bisa kita mulai?" Hanabi yang mendengarnya melihat ke arahku dan lalu tersenyum manis sambil menjawab iya. Kenapa dia selalu saja tersenyum?!.
Kami berjalan sambil aku yang menunjukan tempat tempat menarik berbicara menjelaskan. Hanabi nampak menanggapi dengan anggukan kepala, dan sesekali bertanya jika ada hal yang menurutnya menarik.
"Oh iya Naruto. Jika aku boleh bertanya,-" tentu boleh Hanabi kau tidak perlu meminta ijin karena kau itu spesial! "-Kau akan melanjutkan sekolah ke mana? Kau akan masuk ke sma yang mana? sma 1 atau sma 2?"
Tiba tiba di tanya soal sekolah olehnya membuatku bingung. Aku sama sekali tidak tahu tentang kedua sekolah itu. Hal-hal yang membuat orang tertarik memilih salah satu di antara kedua sekolah itu aku sama sekali tidak tahu.
"Mungkin aku akan masuk sma 1?" aku menjawab sma 1 bukan karena aku tahu sma itu. Tapi karena biasanya angka satu adalah hal yang membuat orang tertarik, dan aku menebak kalau Hanabi pasti ingin juga masuk sma itu. Dan se-sma dengannya adalah hal utama yang harus ku lakukan jika ku melanjutkan sekolahku.
"Aku tidak menyangka orang sepertimu akan memilih sma itu. Malah aku berpikir kalau kau tidak akan melanjutkan sekolah." Memangnya sekelihatan itu ya? Maksudku, kita hanya baru bertemu 3 kali dalam beberapa hari ini. Pertama saat dia baru pindah, kedua saat aku membantu memasukan barang barangnya lagi. Ketiga saat dia datang membawa makanan sebagai ucapan terima kasih. Memang saat yang ketiga aku sedang bermalas-malasan di sofa. Aku tidak tahu Hanabi punya kemampuan menebak pribadi yang sangat hebat.
Mengetahui dia tahu sifat ku yang sebenarnya aku jadi merasa malu. Entah kenapa di pandang tidak berguna oleh Hanabi sakit terasa berbeda. Ini lebih menyakitkan.
"Tapi mengetahui tujuanmu adalah sma favorit. Kupikir mungkin kau orang yang jenius."
"Eeh? Kenapa aku jenius?" Tadi dia memandang ku orang tidak berguna. Dan sekarang dia mengatakan aku jenius? Aku tidak paham cara kerja otaknya. Dan aku merasa bangga dengan pandangannya kali ini.
"Iya. Karena kau terlihat santai santai saja. Maksudku syarat untuk masuk sma favorit adalah nilai UN di atas minimal. Dan juga, semua orang tau sma favorit itu ada test sebagai syarat utama bisa masuk ke sekolah itu. Meskipun nilai UN juga bisa di bilang syarat utama. Tapi yang aku lihat kau sama sekali tidak nampak tegang dan terlihat santai. Menjalani hari hari seperti biasa, dan aku tak pernah lihat kau belajar. Jadi aku tebak bahwa kau itu jenius."
Hahh.. Jadi dia menganggap ku jenius karena aku santai santai saja meski ingin masuk sma favorit. Perlu kau tahu Hanabi. Aku santai santai saja karena aku tidak tahu bahwa syarat masuk ke sana itu merepotkan. Dan sekarang aku pusing memikirkannya bila aku jadi ingin masuk ke sana.
"Aku tidak seperti apa yang kau pikirkan Hanabi. Aku tidak jenius, pikiran mu yang pertama itu lebih tepat dalam menilai ku."
"Ya terserahlah. Yang jelas sekarang karena kau bilang akan masuk ke sana aku jadi lega. Karena aku bisa punya teman selama menjalani masa orientasi siswa." Setelah mengatakan itu Hanabi membalas sapaan nenek tua yang kebetulan menyapanya. Dengan senyuman manisnya dia melambai pada nenek tersebut.
Gadis yang cantik dan ramah. Kau sempurna Hanabi.
"Ya jika itu maumu, aku akan menjadi temanmu di sana." Sebenarnya aku ingin mengatakan. Jika itu demi dirimu aku akan mengorbankan jiwa dan raga ku. Tapi ku urungkan.
"Baiklah.. Kalau begitu kau harus berjanji padaku. Bahwa kau akan berhasil masuk ke sekolah itu. Tentu kau tak perlu khawatir tentangku, aku sudah belajar dengan rajin sejak aku tiba di sini. Jadi kau harus belajar dan masuklah ke sma favorit bersamaku. Janji?"
"Janji." Aku tidak tahu tapi secara spontan aku menjawabnya setelah aku lihat wajahnya. Dan aku tidak menyesali jawaban spontanku itu karena selanjutnya dia tersenyum dengan manis padaku. Hal yang aku sangat sukai darinya.
Kami memang baru bertemu, tapi Hanabi tanpa ragu mengutarakan keinginannya padaku bahwa dia ingin berteman denganku dan berangkat ke sekolah yang sama setiap hari.
Dan untuk pertama kalinya aku tahu yang namanya jatuh cinta. Meski aku sering melihat orang yang jatuh cinta, tapi merasakannya langsung ternyata menyenangkan. Jantungku berdebar debar saat aku memandangnya. Terkadang aku gugup bila dia menarik tanganku, walau alasan dia menarik tanganku adalah supaya aku cepat jalannya. Tapi sensasi ini sangat menyenangkan. Tiap malam aku akan melamun memikirkannya dan tersenyum sendiri saat ingat wajah manis nya yang tersenyum.
Aku tak bisa menyangkalnya, aku telah jatuh cinta padanya. Dan kini tujuan hidupku adalah bersamanya, impianku adalah bisa bersamanya.
Apa kalian pernah merasakan indahnya jatuh cinta ?
..
Hari ini seharusnya adalah hari aku bermalas-malasan seperti biasanya. Namun, karena kemarin seorang gadis cantik memintaku untuk menjadi temannya saat dia masuk sma, aku jadi harus belajar. Menemaninya di sma itu sudah pasti artinya aku harus ikut sekolah bersamanya. Tentu kalian heran, kemarin-kemarin aku sangat tidak ingin masuk sekolah lagi, bahkan walau di bujuk keluargaku pun aku tetap tidak mau. Namun hari ini aku tiba tiba memutuskan untuk melanjutkan sekolahku kembali. Ayah ku hanya bilang 'baguslah' saat ku minta padanya untuk mendaftarkan ku ke sebuah sma favorit.
Aku masuk ke sana bukan karena tempat itu di favoritkan banyak orang. Aku masuk ke sana karena, orang yang membuatku harus sekolah ada di sana. Dan juga menemani tidak bisa kau sebut menemani saat kau sendiri tidak bersama dengannya. Tentu aku masuk ke sana karena dia Hanabi.
Kini aku tengah mempelajari kembali pelajaran Smp ku. Teman ku bilang yang sudah menjadi murid di situ. Testnya adalah menjawab soal, dan dari beberapa soal itu ada soal yang di ajarkan saat di Smp. Dan sebagian soalnya lagi adalah soal-soal memakai sistem HOTS pada pertanyaannya. Tentu kalian tahu HOTS itu apa kan? Ya benar, HOTS artinya adalah panas.
Soal belajar aku memang malas, tapi bukan berarti aku tidak bisa belajar. Maksudku tidak bisa mendapatkan hasil dari belajarnya itu sendiri. Aku sangat mudah menghafal rumus atau kalimat-kalimat pendek yang penting. Mereka sangat mudah masuk ke dalam otakku. Otakku ini adalah berkah dari Tuhan yang patut aku syukuri. Namun karena aku sama sekali tidak ada tujuan yang harus ku wujudkan di masa depan akhirnya semangatku untuk belajar tidak ada. Tujuan seorang anak adalah belajar lalu sukses dan membahagiakan orang tua. Memang aku ingin membahagiakan mereka, tapi rasa sakit padaku oleh mereka saat ini membuatku takut. Bila aku sukses nanti aku malah membalaskan dendam rasa sakit karena sering di marahi dan di anggap tidak berguna. Tentu itu terlalu berlebihan, alasan utamanya adalah aku seorang pemalas.
Menghafal rumus memang mudah, tapi kalau tidak ada yang menjelaskannya tetap saja sulit.
Aku memang ingin mendatangi Hanabi dan mengajaknya belajar bersama. Tapi interaksi yang kami lakukan belum terlalu banyak, aku masih belum bisa menganggapnya lebih dari kenalan saja walau aku ingin lebih tapi perasaan canggung masih kudapati saat aku menatapnya.
Kini belajar sendiri saja yang bisa aku lakukan, mencari penjelasan materi lewat Vidio di internet.
Saat aku tengah mencari penjelasan materi tentang rumus luas segitiga. Aku mendapati di layar handphone ku tertera nomor yang tidak aku kenali. Itu sebuah panggilan dari nomor yang tidak ada di kontakku.
"Halo?" Aku mengangkat panggilan itu, tentu aku hanya bisa bilang halo karena tidak tahu siapa yang memanggil.
Kudengar orang di sebrang sana menghela nafas.
"Naruto, apa kau tidak mensave nomorku? Kukira Ayahmu sudah memberikan nomorku padamu."
"Ini siapa? Aku sama sekali tidak mengenal nomor ini."
"Ayahmu memberikan nomorku padaku dan bilang kalau kau ingin bertukar nomor denganku. Hahh.. Aku Hanabi, apa Ayahmu berbohong padaku?" Sudah kuduga, bila ada yang aneh dengan kehidupanku pasti Ayahku terlibat di dalamnya. Dia itu.. Aku sama sekali tidak pernah menyuruhnya seperti itu. Ayah aku tahu kau bermaksud baik, tapi caramu membuatku terlihat pengecut.
"Jadi bagaimana Naruto?"
"Bagaimana apanya?"
"Apa kau tidak mendengarkan ku! Aku tadi memintamu untuk mengantarku. Aku perlu membeli seragam." Hah? Omongannya sudah sejauh itu? Melamun memang kebiasaan yang harus ku hilangkan.
"Ah, baiklah-baiklah. Sekarang?"
"Tidak, kata Ayahmu toko itu hanya buka saat pagi, dan sekarang sudah sore. Bagaimana kalau besok?" Ah benar ini sudah sore. Toko itu memang hanya buka setiap pagi aku tidak tahu alasannya. Mungkin masih ada toko pakaian yang buka, tapi mungkin Hanabi tidak tahu dan mengira kalau hanya toko itu saja yang ada. Meski tidak mungkin itu alasan utamanya, dia pasti sibuk untuk sore ini.
"Baiklah, aku akan menemanimu besok."
Setelah itu dia berkata terima kasih lalu menutup telponnya. Aku heran, mengapa dia bisa semudah itu mengajakku yang baru di kenalnya. Tapi aku tak mau memikirkannya, besok adalah kesempatan untuk bisa jalan lagi dengannya. Ah.. Aku jadi tidak sabar.
"Wah.. Kencan pertamamu adalah pergi ke toko pakaian? Sangat tidak romantis sekali." Ayahku. Tiba-tiba saja dia duduk di sebelahnya dan menggodaku.
"Ayah, mengapa kau seperti berusaha membuat ku dekat dengan Hanabi?" Tak bisa tak kutanyakan. Setiap yang dilakukannya tentu jelas sekali. Dia ingin membuatku dekat dengan Hanabi.
"Aku hanya muak melihatmu seharian di rumah. Aku pikir jika kau punya pacar, kau bisa punya motivasi untuk bergerak keluar rumah. Memang aku yang memberikan nomor ponselmu setelah dia memintaku menemaninya untuk membeli seragam sekolahnya. Orang tuanya sedang sibuk, dan dia baru saja pindah ke sini. Jadi dia butuh orang yang menemaninya. Aku mau-mau saja menemani Hanabi. Tapi aku menolak, dan memberikan nomor ponselmu lalu bilang kalau kau ingin bertukar nomor. Tapi aku tidak menyuruhnya untuk memintamu menemaninya. Setidaknya kau harus senang Naruto."
"Ya.. Terima kasih." Aku hanya bisa bilang terima kasih atas kelakuannya yang seenaknya menyebarkan nomorku. Meski cepat atau lambat mungkin aku juga bergerak sendiri meminta nomor Hanabi.
Dan juga aku senang, mungkin aku bisa tambah dekat dengan dia.
..
Terima kasih, Apa cerita ini pantas di lanjutkan? Dan apakah akan ada yang mereview kali ini?.
