Sei-chan no Nichijou
Disclamer: Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi, cerita ini milik saya~
Pair: Harem!Akashi, multipairing, ukeshi.
Genre: Romance
Warning: sho ai, yaoi, ooc, typo, aneh dll
Humuphobia jaga jarak please, ini zona bahaya buat kalian :D
Rated: K+ sampe T aja yah, suasana puasa soalnya XD
Tertarik? Silahkan review :D
Tidak Tertarik? Silahkan klik tombol 'Back'
Tertarik, tapi gak mau review? Silahkan 'Fav' XD
Tidak tertarik tapi mau review ? Ampun jangan Flame DX
Reader and Silent Reader, welcome :D
Enjoy Reading Minna :D
.
.
.
.
.
.
"Akashicchi, aku ikut-ssu!" si pirang yang sudah selesai dengan urusan tikus 'mutan'nya mengejar Akashi yang baru sampai di halaman depan.
Si merah menoleh."Tikus di kamarmu sudah ketemu Ryouta?" Kise menggeleng, kamarnya berantakan tapi tak ada tikus satupun. Kagami, Aomine dan Mayuzumi juga tidak mau membantunya mencari tikus itu. Dasar.
"Kalau Kise ikut aku juga ikut." Si tan melangkah penuh percaya diri, dia sudah mendorong Kagami yang mendahuluinya tadi hingga pemuda beralis cabang itu mendarat indah di semak-semak.
"Hei! Aho, jangan main dorong, sialan!" raung Kagami wajahnya kesal bukan main. Kedua tangannya lecet dan pipinya tergores ranting nakal.
"Taiga, wajahmu." Akashi menaruh rasa iba pada pemuda itu. Tangan mungilnya merogoh ke kantung celana dan menarik sapu tangan berwarna marun. Diusapnya pipi Kagami yang kotor.
BRUUUK
"Akashicchi aku juga terluka-ssu!" ah kalau ini murni Kise menjatuhkan dirinya di rumput.
Mayuzumi yang hanya menjadi penonton lama-lama jengah juga. Dia menarik tangan Akashi yang masih mengusap-usap pipi Kagami."Kalau lama-lama kau bisa terlambat."
"Ah benar juga." Kagami mendelik pada si abu-abu, sementara Kise sama sekali tak digubris Akashi.
"Hidoi-ssu yo."
"Midorima kau jaga rumah ya!" teriak Aomine pada si surai hijau yang berdiri di ambang pintu.
"Tidak mau nanodayo, bukannya aku ingin ikut hanya saja aku malas di rumah sendiri."
Dan mereka berenam berjalan beriringan menuju tempat tujuan si merah. Setidaknya dengan mereka ikut kemana si merah pergi, mereka bisa mengontrol orang yang dekat dengan si tuan muda.
.
.
.
"Selamat sore senpai." Suara itu membuat pemuda raven yang tengah menyesap kopi hitamnya menoleh segera.
Byyuuurr
Dan berikutnya cairan coklat bening berasa pahit itu menyembur dengan indah. Seorang pelayan yang kebetulan lewat memberi tatapan membunuh pada pelaku penyemburan kopi.
"Senpai? Kau baik-baik saja?" si merah memandang khawatir padanya.
Aku baik jika hanya melihatmu datang sendiri teme. Rutuk Nijimura Shuuzo dalam hati. Sudut matanya berkedut mendapati pemuda-pemuda yang menjulang tinggi berdiri dibelakang si pemuda mungil.
"Sore senpai." Ujar si pirang dengan senyum innocent. Hanya dia yang sopan, Ah tidak hanya Akashi saja yang sopan lainnya pengganggu. Dan apa-apaan tatapan itu, Nijimura mahasiswa semester tiga tidak akan merasa gentar sedikitpun. Tatapan preman saja Cuma angin lalu.
"Senpai tidak keberatan 'kan aku mengajak mereka?"
Sangat keberatan jika hati kecilku yang menjawab, babe."Tentu saja tidak. Duduklah." Duduk yang jauh sana radius 500 meter kalau perlu. Nijimura menggeser duduknya yang langsung diduduki si hijau, merah kehitaman dan pirang. Sementara sofa panjang didepannya diisi biru tua, merah terang dan abu-abu. Bodohnya kenapa tadi dia memilih tempat duduk keluarga, seharusnya dia memilih tempat duduk khusus pasangan ehem. Mungkin Nijimura sudah feeling.
"Jadi senpai, ada urusan apa denganku?"
Ingin mengajakmu jalan-jalan sepanjang hari minggu besok. Sayang sekali kalimat yang meluncur mulus dihatinya tak pernah terucap, mungkin lain kali."Kau bilang ingin meminjam buku manajemenku bukan?"
"Ah ya, maaf aku lupa." Pemuda kecil berwajah lempeng itu menerima buku tebal pemberian kakak tingkatnya. Dia mengulas senyum tipis. Andai kamera DSLR milik Moriyama dia bawa, tak segan-segan senyuman itu ia abadikan, mencetaknya dengan ukuran kertas sebesar spanduk kampanye dan dia tempel di kamar apartemennya. Oh jangan lupakan bunga segar setiap pagi agar sang uhuk gebetan tetap terlihat cantik setiap saat.
Ngomong-ngomong beginilah ceritanya asal mula kenapa seorang Nijimura Shuuzo yang terkenal sangar bisa sebegitu OOCnya didalam hati karena Akashi Seijuurou adalah karena hari itu. Pada pertemuan pertama mereka.
-flash back-
Kala kelopak pink berbentuk hati milik bunga sakura berguguran sebagai penanda tibanya awal semester baru. Nijimura selaku panitia OSPEK sudah mempersiapkan wajah paling sangarnya dan berdiri di pintu masuk aula fakultas ekonomi. Dia bersidekap, bersiap berbagi teriakan di pagi hari untuk mempersiapkan mental para mahasiswa baru. Teman-teman seprofesinya pun tak kalah sangar. Berteriak menanyakan nama, jurusan yang dipilih, alasan berkuliah disini dan –ini yang paling modus- beri pujian untuk kakak tingkatmu agar boleh mengikuti upacara pembukaan OSPEK.
"Siapa namamu!" satu korban pertama setelah sepuluh menit menunggu.
"Akashi Seijuurou." Jawab pemuda merah dengan wajah datar namun tuturnya masih sopan.
Nijimura menaikkan sebelah alisnya, sepertinya dia tipe tangguh."Jurusan apa yang kau pilih, chibi?!"
Satu delikan tajam datang dari biner ruby yang berkilau. Nijimura menahan seringainya."Manajemen dan Bisnis."
"Apa alasanmu kuliah disini!" masih dengan teriakan yang sama sekali tidak woles.
Terdengar helaan nafas di pemuda merah itu."Karena ayahku menyuruh kuliah disini." Jawabnya singkat padat tanpa berkelit.
Biasanya mahasiswa baru akan menjabarkan serba serbi keunggulan Universitasnya, tapi si merah ini menjawab lain."Pertanyaan terakhir, berikan pujian terbaikmu untukku, agar aku memperbolehkanmu masuk."
Lepas sudah seringaian Nijimura, mendapati raut wajah terganggu dari sang kouhai.
Tiga puluh detik berjalan cepat, pemuda merah itu masih diam. Matanya berputar kekanan dan kekiri. Menganalisis keadaan, hanya satu kalimat pujian saja tanpa harus menjatuhkan harga dirinya. Dia sangat paham tingkat kejahilan para kakak tingkat dimasa-masa orientasi. Salah-salah pujiannya malah dibeberkan di mimbar, harga diri seorang tuan muda Seijuurou akan meluncur cantik nanti.
'Senpai...' matanya melirik seorang gadis yang tengah menunduk malu. Ah dia punya ide.
"Senpai," Akashi menundukkan kepalanya, lalu mendongak perlahan."...senpai tampan."
Wuuushh
Angin musim semi langsung menyibak poni Nijimura, mata kelabunya membulat, pipinya berserabut. Efek yang terlalu dramatis memang tapi coba lihat mata bulat itu, lihat ekspresi itu. Tuhan maaf sepertinya hambamu yang taat ini belok.
Akashi memperhatikan wajah sang senpai dalam diam. Dia menunggu untuk segera diijinkan masuk dan segera duduk, kakinya kesemutan ngomong-ngomong. Tapi melihat keadaan senpai yang diam dengan pipi merona membuatnya bingung harus melakukan apa.
Menggumamkan kata permisi dengan pelan dan si tuan muda melenggang begitu saja tanpa menunggu respon. Ternyata manjur juga cara gadis pink tadi, seulas senyum tipis tersungging. Akashi akan berterima kasih jika bertemu lagi.
.
Setiap mengingat masa pertama bertemu itu, Nijimura akan mengambil cermin dan memasang wajah sangar. Dan pujian Akashi akan menggema dikepalanya. Benar-benar ngenes sekali. Andai Nijimura tahu, pujian itu semata-mata Akashi lakukan agar bisa segera duduk. Tak terbesit sedikitpun dalam benak si tuan muda menganggap pujian itu datang dari hati terdalamnya, dia 'kan profesional. Dan rahasia besar itu belum diketahui oleh Nijimura. Biarlah tetap tersimpan dalam brankas kebahagian Nijimura Shuuzo.
Oke kembali ke masa sekarang.
"Hei Akashi, urusanmu sudah selesaikan. Bisakah kita pulang?" si tan menggaruk belakang kepalanya bosan.
Nijimura merengut mendengar penuturan itu. Si dekil itu merusak suasana menghayal Nijimura saja. Kalau dia mau pulang, pulang saja jangan ajak-ajak Akashi.
"Kagamicchi mau buat sup tofu katanya." Ini lagi mahkluk kuning berisik juga mengganggu. Dasar apa tak ada diantara mereka yang sedikit peka dengan modus terselubung Nijimura agar bisa berduaan dengan kouhai-nya?
"Jangan lupakan tofu lembut kesukaanmu itu." Kali ini si abu-abu ikut menimpali. Sepertinya pemuda-pemuda ini memang berniat menyuruh Akashinya untuk segera pulang.
Mata kucing beriris merah itu tampak berbinar."Kau akan membuat sup tofu Taiga?"
Kagami mengangguk antusias."Midorima sudah membelikan bahan-bahannya tadi. Iya kan Midorima?"
"Jangan salah paham nanodayo aku sama sekali tak ada niat untuk membelikanmu bahan-bahan untuk sup tofu kesukaanmu itu hanya kebetulan lewat saja di depan supermarket." Si hijau dengan tsunderenya seperti biasa berkata sambil menaikkan kacamatanya.
Nijimura berpikir, supermarket dengan kontrakan pemuda-pemuda itu serta kampus mereka berjarak cukup jauh dan bertolak belakang. Supermarket terdekat berada disebelah selatan kampus dengan jarak kurang lebih 500 meter. Sedangkan kontrakan pemuda-pemuda itu berada di utara kampus. Niat sekali pemuda ini untuk membeli bahan-bahan untuk sup tofu. Pengorbanan Nijimura belum ada apa-apanya.
"Jadi kita pulang-ssu, kita bisa masak bersama." Kise yang paling bersemangat sepertinya.
"Ya, ayo pulang. Aku juga ada kejutan untukmu Akashi." Akashi mendongak kearah si tan yang duduk disisi kirinya.
"Kejutan?" rautnya penasaran.
"Kau pasti suka." Kejutan? Apa kira-kira yang Aomine akan berikan pada Akashi, Nijimura memutar otak. Majalah? Akashi lebih suka novel. Dompet? Akashi punya lebih bagus. Baju baru? Baju Akashi selalu baru ngomong-ngomong. Lalu apa? Ah jangan-jangan CINCIN! Tidak boleh dibi_
"Senpai mau makan malam dengan kami?"
Hah? Nijimura memandang sang adik kelas meminta pengulangan kalimat.
"Senpai mau makan malam dengan kami?" ulang Akashi sama persis seperti yang dia ucapkan tadi.
Benarkah itu? Yes! Sorak si senpai penuh suka hati.
Apa! No! Kali ini suara hati para penghuni kontrakan penuh keberatan.
"Tidak merepotkan?" Nijimura berlagak sungkan.
Akashi menggeleng kecil."Tentu tidak. Mari senpai. Bukan begitu?" Akashi memandang satu per satu teman-temannya.
Pemuda-pemuda itu mau tak mau menganggukkan kepala mereka meski dengan berat hati.
.
.
.
Setelah pulang berbelanja keperluan tambahan mereka langsung menuju ke rumah. Oh jangan lupakan adegan untuk kelihatan heroik di mata Akashi. Pemuda-pemuda keren itu berebutan membawakan belanjaan. Karena lama tak menemukan titik temu akhirnya dengan adil si tuan mudalah yang membagi.
Aomine kebagian membawa beberapa plastik berisi snack. Kise mendapat bagian membawa sebungkus buah apel dan jeruk. Midorima membawa tiga botol soda. Mayuzumi kedapatan sayur mayur tambahan. Kagami dengan dua bungkus belanjaan untuk seminggu ke depan.
Nijimura? Dia mendapat bagaian menggendong Akashi dengan bridal style. Ah tidak-tidak itu hanya hayalan si dewan BEM. Karena Nijimura tamu dia tak membawa apa-apa.
Keenam seme itu mengekori calon uke mereka menuju rumah. Aura kelam nampak jelas menguar dari Aomine, Kagami, Kise, Mayuzumi dan Midorima. Dan aura kemenangan telak menyelimuti Nijimura. Sedangkan si mungil yang berjalan didepan tampak biasa saja. Mungkin sedikit senang karena sup tofu akan menjadi menu makan malam kali ini.
.
"Selamat datang senpai di tempat kami." Akashi membuka lebar pintu rumah. Tanpa menunggu si tamu masuk, para pemilik rumah segera masuk. Berharap setelah masuk mereka bisa menutup pintu rumah dan membiarkan si tamu berdiri di luar. Kejam memang.
"Biar aku yang memasak dengan Taiga." Kagami tersenyum cerah, rezeki anak baik.
"Aku mau bantu-ssu!" perusak suasana, si merah gelap memasang ekspresi masam.
Dan berakhirlah dengan berkumpul di dapur bersama. Saling berdesakan untuk berebut posisi terdekat dengan si mungil-tersayang.
Namun sayang niat mereka untuk berdekatan malah membuat si merah merasa risih.
"Shintarou bisa geser sedikit."
"Taiga, aku bisa memotongnya sendiri tak perlu bantuanmu."
"Senpai tolong lepaskan tanganmu."
"Ryouta pelukanmu membuatku tak bisa bergerak."
"Chihiro jangan bernafas dibelakangku. Itu geli."
Seperti itulah. Ngomong-ngomong masih kurang satu orang lagi...
"Akashi!" panggil pemuda itu lantang, cengirannya membuat dia dua kali lebih tampan.
Si pemilik nama berikut para pemuda yang ada didekatnya ikut menoleh."Kemarilah."
Akashi menelengkan kepalanya. Untuk beberapa detik para pemuda itu menahan nafas. Si merah meninggalkan pisau dan wortelnya dan menurut menuju tempat Aomine.
"Ada apa Daiki?"
"Tutup matamu."
Kelopak mata putih itu menutup tanpa protes. Aomine mendekatkan badannya. Seme-seme siaga dibelakang sudah memasang kuda-kuda. Jika saja terjadi sesuatu mereka akan siap menerjang si dim.
Aomine menyeringai mendapati tatapan membunuh pemuda warna-warni itu. Dia merentangkan tangannya lebar-lebar seakan ingin memeluk si merah. Kain yang sedari tadi tersembunyi dibelakang punggungnya sudah terpasang manis ditempat yang sesuai.
"Buka matamu."
Akashi membuka matanya."Kau suka?"
Si Akashi muda mengerjap beberapa kali. Mencermati benda apa yang tengah dia pakai."Apron?"
"Ibuku yang membuatkannya, khusus untukmu!"
"Terima kasih." Pemuda itu tersenyum."Tapi tulisannya kenapa harus_
"Biarkan kami melihatnya-ssu." Kise memutar bahu mungil Akashi. Apron berwarna biru tua, dengan model simpel mampu menghias badan mungil itu. Namun, detik berikutnya."Lepaskan itu-ssu! Benda itu tidak cocok!" teriak si pirang histeris.
"Benda macam apa ini!" kali ini Nijimura yang tak rela.
"Akashi kau terlihat gendut, cepat lepaskan." Mayuzumi tak mau kalah, alis Aomine berkedut.
"Ahomine! Jangan macam-macam kau!" Raung Kagami.
"Akashi lepaskan kain itu nanodayo." Midorima jujur dia tak suka Akashi diklaim secara tak langsung.
"Kalian kenapa sih, apron ini buatan bibi Konaya, sayang kalau tidak dipakai."
"Bukan masalah apronnya!" protes Nijimura.
"Ya! Tapi tulisannya-ssu." Disetujui oleh Kise.
"Kata-kata itu terlalu nista untukmu." Chihiro menimpali.
Urat siku-siku Aomine bermunculan."Teme! Memang apa yang salah dengan tulisan 'Daiki Wife' huh!"
"Tentu salah nanodayo." Ujar Midorima santai, dia masih memikirkan beberapa cara agar Akashi mau melepaskan apron nista itu.
"Bersainglah secara sportif, aho." Tunding Kagami tepat di muka si tan.
Kilat tak kasat mata saling memercik satu sama lain, tak lupa geraman dan gigi yang saling bergemeletuk. Menggambarkan betapa kukuhnya niat mereka.
PRANG
Pemuda-pemuda kelebihan hormon itu menoleh serentak. Pecahan piring yang cukup keras membuat mereka tersadar.
"Sudah ributnya? Sekarang lanjut masak." Pemuda-pemuda itu mengangguk patuh. Ada kalanya Akashi akan menjadi manis dan menggemaskan tapi ada kalanya pula dia akan menjadi lebih menyeramkan dari seorang iblis sekalipun.
Catatan mental untuk mereka minus Aomine. Mereka akan meminta ibu mereka untuk membuatkan apron dengan tulisan yang lebih baik daripada milik Aomine titik. Dengan ini perang sudah dimulai.
.
.
.
To be Continue
.
.
.
Haloo minna-san, akhirnya saya update juga XD
Terima kasih review, fav dan follownya saya senang sekali XD
kireimozaku, Akaverd20 , Erry-kun, Levi-chin, curw, ukeaka, NekoPanda, Sachi d Readers, Akashiya Shinku author MC Shirayuki , shourazeva, kurohime, jesper.s, madeh18 , no name, Anna-tachi, Kichiroo
Hmmm mengenai pertanyaan di review tentang 'Apa akan ada pair disini?' jawaban saya, maaf saya belum menentukan apa ada pair atau tidak. Saya Cuma berusaha menonjolkan perjuangan para ehem seme dan ketidakpekaan Akashi. Soal pair saya belum menentukan XD
Gimana kalau minna-san req satu pair buat jadi pair next chap? :D
Jadi ntar gini, kalo reqnya banyak, misal NijiAka. Chap depan NijiAka bakal ditonjolin banget gtu. Tapi bukan pair final ya. Gomen saya masih bingung milih pairnya XD
Segitu aja deh ya, B titip salam loh/lol XD
Matta ne!
Yang mau gabung ke grub WA Ukeshi Lovers bisa bm saya 53A76824. Gomen saya nggak punya line DX
