Sebuah SasuFemNaru ver. dari novel terjemahan Heaven karya Jennifer Laurens. Cerita secara menyeluruh (plot) sama dengan Heaven, namun akan diubah untuk kesesuaian cerita.
A Man From Heaven by Someone Has A Name
Naruto belong to Masashi Kishimoto
Pairing : SasuFemNaru
Genre : Family, Romance
Rate : Teen++ so- M
Warning! AU, Genderswitch, OOC
.
.
Informasi umur :
Naruto : 18 tahun
Naruko : 5 tahun
Kyuubi : 16 tahun
Sasuke : sekitar 20 tahun
.
.
Ada keuntungan tersendiri memiliki adik yang hanya berbicara sedikit. Sementara aku mengemudi pulang, masih merasa takut dan bingung karena pemuda di taman, aku lega Naruko tidak akan mengatakan apa-apa tentang kelalaianku pada kaa-san dan tou-san.
Aku menatapnya dari kaca spion tengah. Dia duduk, terlilit sabuk pengaman di tempat duduk khusus balita, mengepakkan tangannya. Aku tidak suka kalau dia sedang bertingah seperti itu.
"Berhenti mengepak! Kau tampak seperti burung."
"Bur. Bur."
Yah, terserah.
Suasana hatiku lebih tenang daripada biasanya. Namun dia duduk di sana sambil tersenyum, dengan ceria menatap keluar jendela seakan peristiwa lima belas menit terakhir tidak pernah terjadi. Dari seluruh peristiwa yang kuingat, tak menyisakan kesan baik apa pun untuknya. Entah memang keadaannya yang seperti itu atau dia senang menempatkanku dalam rasa ngeri yang baru saja kualami.
Aku menyalakan radio, mengencangkan volume lagu rock. Aku harus menjernihkan pikiranku dan satu-satunya cara yang mujarab adalah tenggelam dalam dentuman musik. Naruko tidak suka suara musik kencang yang lagi-lagi alasannya tak kami pahami. Yang bisa kami katakan hanyalah banyak anak autisme yang memiliki pendengaran yang sangat sensitif. Bahkan sering kali musik klasik membuatnya merengek-rengek.
Aku menatapnya lagi. Setidaknya dia sudah berhenti mengepak-ngepak. Sekarang dia benar-benar duduk diam seolah mendengarkan alunan musik yang tak bisa kudengar, dan dia memandang keluar jendela seperti patung.
Bagus. Kemenangan selalu terasa manis, tapi rasa bersalah segera menyusul. Aku tidak bisa membiarkan suara musik mengganggu pendengarannya, jadi aku mengecilkan volumenya dan melihat reaksinya. Dia berkedip dan mulai bergerak lagi.
Aku mendesah.
Sementara kami berkendara, aku mendengarkan musik dan ocehannya. Aku memikirkan pemuda di taman tadi. Mata oniksnya, yang tajam namun menenangkan dan menggairahkan di saat yang bersamaan, terpaku dalam ingatanku. Aku berusaha mengingat detail wajahnya. Aku tidak mem[erhatikan apa warna rambutnya. Aku tidak bisa membayangkan hal lain selain matanya.
"Aku pasti akan menjadi saksi yang sangat baik seandainya harus bersaksi mengenai pemuda itu di kantor polisi." Naruko mengoceh tak masuk akal di kursi belakang.
"Bagaimana kau bisa menemukan pemuda itu, huh?" kaa-san percaya jika kami berbicara kepada Naruko, suatu hari nanti dia akan menjawab. Jadi, kami terbiasa melakukan pembicaraan satu arah yang meninggalkan, setidaknya menurutku, kesan bodoh. Namun, saat itu aku harap aku bisa mengintip ke dalam otaknya dan memutar ulang apa yang terjadi di taman.
Mobil kami satu-satunya mobil yang terparkir di pelataran parkir. Karena kebiasaan, aku memeriksa tempat ke mana pun kami membawa Naruko secara menyeluruh. Karena semakin sedikit orang, semakin bagus. Dia tidak terbiasa dengan keramaian dan aku tidak suka dengan cara orang lain memandang kami.
Tidak ada orang lain di taman, itu fakta.
Tadi aku mengalihkan perhatianku darinya untuk mengirim balasan pesan pada Ino dan dia menghilang. Aku tahu seberapa cepat pun dia sanggup berlari, aku tentunya akan melihat punggungnya menghilang, aku yakin.
Aku sedang membalas pesan. Membalas pesan. Aib itu memaksa batinku untuk memuat satu lagi rasa malu. Aku seharusnya bisa mengetik selama satu detika tanpa harus kehilangan adikku dalam proses mengetik. Namun, aku tidak bisa menjelaskan bagaimana dia bisa mencapai paviliun dalam jangka waktu setengah detik.
"Siapa pemuda itu?" aku mengerutkan dahi. Mungkin dia bersembunyi, menunggu waktu yang tepat untuk keluar, dan pada saat aku tidak mengawasi Naruko dia berlari dengan cepat, menangkapnya dan berlari ke paviliun. Tapi, ide itu terdengar sama bodohnya seperti mendengar bahwa Masashi Kishimoto jatuh dari langit.
"Kuharap untuk sekali ini, kau bisa mengatakan padaku apa yang terjadi di taman."
"Taman! Taman! Taman!"
Aku sudah mengucapkan kata yang meledak-ledak. Sekarang dia berkicau seperti burung betet. Sial. Aku melihatnya dari kaca spion tengah. Dia mengepak-ngepak lagi.
XxXxX
Keanehan di taman tak terlupakan begitu saja olehku, bahkan setelah aku tiba di rumah yang menawarkan keamanan. Rumah bata kami yang berwarna abu-abu dengan daun jendela berwarna hitam dihiasi lapisan putih yang biasanya menjadi tempatku berlindung dari segala hal yang tidak sanggup kuhadapi. Tapi, akhir-akhir ini, ketenangnan semakin sulit untuk kuraih bahkan di rumah.
Kami tinggal di jalan yang memotong kaki gunung, di lingkungan yang ditumbuhi banyak pohon pinus dan aspen di pinggiran hutan di belakang rumah kami. Kyuubi, adik laki-lakiku, berada di depan rumah, kepalanya yang berambut oranye kusam lenyap di bawah kap mobil terbarunya, Suzuki Samurai biru kuno.
Aku berbelok ke halaman parkir, memarkirkan mobil dan mengeluarkan Naruko. Seperti kebiasaannya saat kami tiba di rumah, di berlari ke pintu, mendorongnya hingga terbuka dan menghilang.
Aku berusaha melupakan pertemuan dengan pemuda asing itu, tapi tetap saja tidak bisa. Dan tak mengatakan insiden itu pada kedua orangtuaku membuatku merasa seperti menyimpan rahasia. Tapi toh aku memang merahasiakan insiden itu, hanya Naruko dan aku yang tahu.
"Bagimana mobilnya?" untuk mengalihkan pikiranku dari insiden itu, aku menghampiri Kyuubi. Dari jemari hingga kedua sikunya kotor karena oli. Corengan hitam melintang di pipinya, mungkin tempat dia menggaruk pipinya.
"Aku tidak tahu harus memasang kabel ini dimana." Suara adikku begitu rendah hingga menggesek jalanan, sifat yang membuatnya terdengar bertahun-tahunn lebih dewasa, padahal usianya hanya terpaut dua tahun lebih muda dariku.
"Sebaiknya kau cepat-cepat menyelesaikannya, sepertinya sebentar lagi akan hujan," aku memberitahunya. Awan bergemelatungan di atas kepala sudah sangat mendung. Aku menggigil melihat awan-awan saling membentuk tak menyenangkan dan mendominasi.
"Bolehkah kupinjam mobilmu kalau aku tidak bisa membetulkan benda ini?" dia bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari kabel-kabel yang membingungkan. "Aku ada beberapa acara."
Aku melangkah ke dalam rumah. "Hanya jika aku tidak keluar dengan Ino."
Sunyi, Kyuubi kembali bekerja. Kesabarannya membuatku terkesan. Aku tidak akan pernah bisa terobsesi pada sesuatu yang mendetail seperti dirinya tanpa menarik-narik rambutku.
Aku masuk ke dalam rumah.
Rumahku beraroma roti bakar. Alih-alih tergiur oleh aroma sedap masakan yang tajam seperti Rachael Rayness itu, perutku malah bergolak. Kaa-san membenamkan tinjunya ke adonan hanya bila dia sedang tertekan, yang berarti aku harus menemukan cara untuk keluar rumah sesegera mungkin. Aku berbalik dan berjalan lurus menuju pintu.
"Naruto?"
Aku berhenti, mendesah.
"Aku mendengar suara alarm Naru, jangan mengabaikanku."
Karena kebutuhan, kami memasang sistem alarm untuk memonitor kedatangan dan kepergian Naruko sehingga kami tahu setiap kali dia berusaha membuka pintu atau jendela. Tidak peduli anggota keluarga yang lainnya merasa seperti maling yang tertangkap.
"Aku bisa saja Kyuubi," aku memberitahunya, merajuk menuju dapur. Naruko berada di meja dapur dengan sekantong besar keripik kentang.
"Dia sudah berada di rumah sejak sejam yang lalu." Kaa-san mengelap meja yang sudah bersih. Rasa tertekan yang dirasakannya menciptakan garis di antara alisnya dan memperdalam lipatan di kedua sisi bibirnya yang kecil.
Aku tidak ingin menanyakan bagaimana kabarnya hari ini. Hari yang mengesalkan terlihat di matanya yang tampak pasrah, gerakan kaku pada tubuhnya memberitahukan bahwa ia berusaha untuk tampak normal. Keluarga kami tidak "normal" sejak Naruko di diagnosis mengidap autisme.
Gumaman kecil naruko menarik tatapan frustasiku ke tempat dia duduk, makan, dengan kebiasaannya yang tak peduli pada keadaan sekitar. Dia melihatku mengawasinya dan mulai memanjat kursi.
"Turun!"
"Jangan meneriakinya," potong kaa-san.
Naruko akan memanjat apapun dan dia terus memanjat berulang kali. Bukan soal kami yang melarangnya dengan menurunkannya dari tempat dia memanjat. Berteriak atau berbisik. Memohon atau menuntut. Dia akan kembali memanjat seolah dikendalikan oleh kekuatan yang tak kasat mata.
"Oh, jadi kau boleh dan aku tidak boleh?"
Kaa-san berhenti mengelap meja dan menutup matanya seolah berdoa supaya mendapat kesabaran. "Kita semua sudah pernah bergiliran meneriakinya, tetapi bukan berarti kita harus terus meneriakinya."
"Jadi, kapan kau akan berhenti meneriakinya?"
Kaa-san menatap mataku, lelah dan putus asa. Aku benci tatapan itu. Sosok kaa-san yang kuingat sebelum Naruko di diagnosis itu bersemangat, tekut, kuat dan tidak pernah menyerah. Sosok kaa-san yang kulihat sekarang secara berangsur-angsur tampak lelah karena tekanan, seakan diamplas hingga yang tersisa hanya berupa kertas tisu.
Naruko masih berdiri di atas kursi. Matanya yang ceria melihat tanpa fokus ke mana pun sambil terus menggumamkan frase-frase yang tak memiliki arti.
Pada saat itu aku ingin mendudukannya kembali ke kursinya. Jariku meremas membentuk kepalan. Dengan kaa-san yang benar-benar tampak tegang, aku berbalik pergi sebelum aku melakukan sesuatu yang akan membuatku dalam masalah.
"Mau kemana?" kaa-san menuntut.
"Aku tidak bisa tetap diam di sini lagi."
"Dan kau juga tidak boleh keluar," bentak kaa-san. Kaa-san tidak ingin sendirian dalam penderitaannya. "Siapkan meja. Makan malam hampir siap."
Aku menggumamkan makian dan melintasi dapur untuk menuju lemari. Dengan gerakan kaku seperti robot, aku mengeluarkan taplak meja merah dan putih lalu memasangnya. Naruko, yang masih berdiri di atas kursi, mulai naik ke meja.
"Turun!" aku meraihnya, menariknya ke bawah dan mendudukannya di kursi.
Aku melirik kaa-san melalui bahuku, khawatir dia tidak suka perlakuan kasarku, tetapi dia sedang sibuk mengelap meja lain. Memunggungiku.
XxXxX
Aku tidak tinggal untuk makan malam, terlalu marah untuk makan. Aku tidak sabar untuk keluar rumah dan menghabiskan waktu dengan Ino. Kami berencana berkeliling dengan mobil, menyalakan musik keras-keras dan mungkin mengajak cowok-cowok keren jika kami tanpa sengaja bertemu mereka. Orangtua Ino tidak peduli jika kami membawa serta anak-anak lain ke rumah mereka untuk menonton film atau menjarah isi lemari es mereka.
Kami tidak pernah menghabiskan waktu di rumahku.
Aku memakai rok hitam pendek dan kemeja putih ketat. Mascara menefaskan mata biruku. Perona pipi dan lip-glos menghilap mewarai kulit dan bibirku yang pucat menjadi merah muda lembut. Aku membiarkan rambut pirang cerahku yang panjang terurai menggoda di sekitar bahuku, kemudian aku menuju pintu depan. Di lantai atas, aku mendengar suara kaa-san yang meninggi, "Waktunya mandi, Naruko."
Naruko menjerit. Suara jejak kakinya yang berlari, diikuti oleh suara dentum panik langkah kaki kaa-san yang mengejar.
"Berhenti berlari dariku!" kaa-san berteriak.
Aku melangkah keluar rumah.
Dua detik kemudian pintu depan terbuka. Aku berbalik, siap berteriak bahwa aku tidak sudi tetap tinggal. Kyuubi berlari kecil menghampiriku. Dia sudah memakai celana jins, T-shirt, serta kaus ketat berlengan panjang berwarna biru dan putih, membuat mata crimsonnya tampak lebih bersinar daripada langit sore. Ketika melihatku sudah berpakaian rapi, dia melambat dan mendesah.
"Yah, jadi, kau mau pergi? Tadinya aku mau pakai mobilmu."
Aku terus berjalan. "Maaf, kawan."
"Bisakah kau menurunkanku di suatu tempat?"
Sambil memasukkan kunci ke lubangnya, aku tersenyum kepadanya. "Kenapa? Tidak bisa bertahan lebih lama di rumah yang nyaman?"
Kyuubi mendengus dan membuka pintu penumpang. "Selamatkan aku."
Aku masuk ke mobil. "Jadi, kau ada acara apa?"
Dia menyelinap masuk, menutup pintu dan mengangkat bahu. "Tidak ada. Keluar rumah adalah satu-satunya rencanaku." Dia mengaitkan sabuk pengamannya dan aku menyalakan mesin.
"Aku mengerti," kataku, melaju ke jalan. "Naruko sedang bertingkah beberapa hari ini. Aku tidak tahan berada di dekatnya."
Dia mengangguk, melihat keluar jendela ke arah rumah-rumah yang kami lalui. Malam membuat langit menjadi hitam. Lampu dari rumah-rumah menebar cahaya keemasan di halaman rumput dan jalanan.
"Aku tidak tahu kenapa kaa-san dan tou-san tidak berniat memasukkannya ke salah satu tempat perawatan khusus. Kau tahu betapa hal itu akan membuat hidup kita lebih mudah? Bukan hanya hidup kaa-san dan tou-san, tapi hidup kita semua."
Kyuubi tidak mengatakan apa-apa, hanya terus menatap keluar jendela, ke dalam kegelapan.
"Mereka merawat orang-orang seperti Naruko, kau tahu?" aku meneruskan, suaraku meninggi.
"Kita tidak punya keahlian khusus untuk merawatnya. Dia sulit dikendalikan, merusak segala sesuatu, merangkak di atas semua perabotan, membuat lubang-lubang di dinding, berlarian. Kau tahu, keadaan tidak akan menjadi mudah seiring dia bertambah usia. Sekarang dia sangat kuat. Tou-san hampir tidak bisa mengendalikannya ketiak dia histeris. Bayangkan bagaimana jadinya jika ada seseorang dengan tubuh seukuran denganmu, atau denganku, melemparkan sebuah benda atau sesuatu yang lain." Aku menyusupkan tanganku ke rambutku dan mengerang.
Kyuubi tetap memalingkan wajahnya. "Yah."
"Maksudku," aku mengalihkan perseneling, melaju lebih kencang menyusuri jalanan. "Ini memalukan. Kita tidak bisa pergi ke mana pun bersama-sama. Apa yang akan kita lakukan? Merusak hidup kita untuk bergiliran menjaga Naruko selamanya? Kau pergi makan malam dengan tou-san duluan, lalu kaa-san dan aku menyusul kemudian? Karena itulah kita tidak bisa pergi bersama-sama. Kita terjebak bersama Naruko dan itu menyebalkan. Dia tidak suka pergi ke mana pun. Aku merasa tinggal di penjara."
Kyuubi merogoh ponsel di sakinya dan mulai mengetik pesan untuk seseorang. "Bisakah kau turunkan aku di rumah Kisame?"
Aku membelalakkan padanya. "Dia itu pecundang, kenapa kau bergaul dengannya?"
"Shiranai."
Aku tahu Kisame dan kemarahanku teralihkan. "Apakah dia menjual mariyuana kepadamu?"
Kyuubi menatap keluar jendela.
"Kau sebaiknya tidak mabuk. Itu hal terakhir yang dibutuhkan kaa-san dan tou-san sekarang ini."
Dia tidak mengatakan apap-apa.
"Aku tidak akan membawamu ke rumah tukang mabuk," aku menambahkan, berbelok ke jalan yang menuju rumah Ino. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan pada Kyuubi, tetapi tidak mungkin aku mengantarnya ke rumah Kisame.
"Kami tidak akan mengisap mariyuana," dia protes.
"Kau bisa menyembunyikan kebenaran dari kaa-san dan tou-san, tapi aku sudah pernah melihatmu mabuk. Mereka sudah punya cukup banyak masalah untuk dipikirkan, Kyuubi, tanpa harus mencemaskan dirimu. Dewasalah."
Kami berhenti di lampu merah dan dia keluar dari mobil, membanting pintu di belakangnya. Dia pergi ke seberang jalan dan berlari kecil tanpa menoleh ke belakang. Aku memukulkan pangkal telapak tanganku ke klakson. Kyuubi tidak membalikkan tubuhnya.
Lupakan. Aku memekik sambil menuju rumah Ino, melepas amarahku dalam raungan.
Aku benar-benar yakin orangtuaku tidak tahu tentang kebiasaan Kyuubi mengisap mariyuana, mereka terlalu sibuk dan masalah Naruko yang tak ada habisnya memberikan tirai yang sempurna untuk menutupi Kyuubi dan aku dari pandangan mereka.
Aku, dalam hal apa pun, tidak punya sesuatu untuk disembunyikan. Namun, aku tak pernah menyentuh obat-obatan atau mengisap mariyuana. Keduanya kuanggap sebagai kebiasaan seorang pecundang. Jauh di dalam hatiku, aku terluka. Kyuubi bukan pecundang.
Aku memeriksa kaca spion tengahku untuk melihat kalau-kalau dia berada di mana pun dalam jarak pandangku. Aku memejamkan mata selama sesaat, dengan dibanjiri perasaan bersalah aku menyadari bahwa pada dasarnya aku menyerahkannya pada Kisame dan membiarkannya mabuk-mabukkan padahal seharusnya aku membawanya pulang.
Dia sudah enam belas tahun, pikirku. Dia bisa menjaga dirinya sendiri. Seperti aku bisa menjaga diriku sendiri.
XxXxX
a/n :
Thanks to :
Ken Taraka, anita indah 777, Indah605, langit cerah 184, Namikaze Otorie, Pororokkamj, yukiko senju, eL Fhazelle.
Terima kasih sudah mendukung fic remake ini :) aku senang mendengarnya, hehe. Ah, update kilat akan saya lakukan, minimal satu hari dan max... ah entah kapan hehe. Coba di tunggu /tersenyum/.
Untuk Ken Taraka : yup, SASUNARU is not a doujinshi anymore! Kkkk.
Apakah chap ini menjawab pertanyaan kalian? Atau malah ada pertanyaan baru?
Aku ngga bakal bosen bilang, update atau delete? RnR minna!
Jaa naa!
