"apa kau sudah lebih baik?" Neji bertanya pada Hinata yang telihat sudah tenang. "y-ya Nii-san." Hinata melepaskan diri dari pelukan Neji, dan segera menghapus jejak air mata di pipinya. "Mari pulang." Hinata mengangguk dan segera menyusul Neji yang telah berjalan lebih dulu darinya.

Tanpa mereka sadari, bahwa ada seseorang yang sejak awal telah mendengar dan melihat apa yang mereka lakukan.

Disclaimer:

Naruto is Masashi Kishimoto

WARNING : Typo, Drama, etc *mohon koreksinya :')

Don't like don't read

Agreement

Chapter 2

"Hinata Nee-san, bagaimana? Apa kau sudah bertemu dengan calon suamimu? Apakah dia tampan?" Hanabi langsung menyerbu Hinata dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Hinata kembali mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, kegiatan makan malam bersama keluarga Sabaku. "mmm sudah Hanabi-chan, tapi dia tidak terlalu tampan." Hinata tersenyum canggung mengingat bagaimana rupa calon suaminya itu. "Nee, sayang sekali, padahal aku ingin memiliki kakak ipar yang tampan. Kasihan sekali Hinata nee, tidak mendapatkan suami yang tampan. Hihihii." Hanabi segera pergi setelah tertawa meratapi nasib kakak semata wayangnya itu, "tenang saja tou-san! kau akan mendapatkan menantu yang tampan dariku. Neee, nee-san." Hanabi kembali berteriak, menggoda Hinata yang masih terdiam di tempat. Hinata hanya bisa tersenyum melihat kelakuan adiknya itu, begitu pula dengan Hiashi, dia tersenyum di dalam ruangan kerjanya, mendengar Hanabi berteriak mengolok kakaknya. Hanabi memang selalu bisa meramaikan suasana rumah besar yang sepi ini.

Setelah selesai dengan ritual sebelum tidurnya, Hinata mengganti pakaiannya dengan piama tidur, dan menaiki kasur berukuran queen size, yang berada di tengah kamarnya yang cukup luas itu. Hinata membaringkan badannya, dia belum tertidur, dia menatap langit-langit kamarnya, memikirkan perkataan Neji, saat diatas atap hotel, beberapa jam yang lalu. 'apakah Neji nii-san benar-benar mencintai Temari-san? Pasti sangat sedih perasaan Nii-san. Tapi bagaimanapun, aku tidak boleh menolak perjodohan ini. Tou-san pasti akan benar-benar kecewa, bukan hanya Tou-san. Seluruh keluarga besar Hyuuga pasti akan kecewa. Hanya aku yang bisa diandalkan.' Hinata kembali menangis, mengingat begitu banyak hal yang akan dilaluinya nanti. Hinata bangkit dari tidurnya, dia melangkahkan kakinya menuju jendela besar yang terdapat di sebelah kiri kasurnya. 'bulan ini sangat indah, cahayanya menerangi gelapnya malam, dia sangat bermanfaat, dan tidak ada orang yang keberatan akan kehadirannya. Mampukah aku menjadi seperti bulan ini? Menjadi bermanfaat, dan tidak menjadi beban bagi orang lain?" Hinata bermalam dengan menatapi bulan yang indah dari jendela kamarnya, dia benar-benar tidak mengantuk.

"nee-san! Nee-san! Bangun nee-san, nanti kau akan terlambat kerja." Hanabi membangunkan Hinata yang sama sekali tak membuka matanya. "Tou-san, Nee-san tak mau bangun." Hanabi sibuk sendiri, karena Hinata yang tak kunjung bangun. "aaa, Nee-san. Kau tahu? Jika nee-san tak bangun-bangun, mungkin calon suamimu itu akan bertambah jelek." Sekejap, Hinata langsung bangun dari tidurnya. "hahaha, Nee-san, berarti calon suamimu itu benar-benar jelek ya?" Hanabi tertawa melihat reaksi kakaknya itu. Hinata tak menanggapi, dia masih setengah sadar dan tak sadar, tapi tetap saja dia memikirkan bagaimana rupa calon suaminya itu jika benar-benar bertambah jelek. "cepatlah mandi nee-san, nanti kau kesiangan. Jangan tidur lagi ya, aku akan berang ke sekolah." Hanabi berkata sambil mendorong kakaknya masuk kamar mandi yang berada di sudut kanan kamar kakaknya itu.

'Tak biasanya Hinata Nee bangun siang, apakah semalam Nee-san tak bisa tidur? Kasihan Nee-san, dia benar-benar memikirkan perjodohan ini.' Hanabi berpikir sejenak sebelum meninggalkan kamar kakaknya. 'yaaa, Nee-san pasti bisa menaklukan lelaki itu nanti, siapa juga yang mau melewatkan gadis cantik seperti Nee-sanku' Hanabi tersenyum bangga dengan kecantikan kakaknya. "Nee-san! Aku pergi ke sekolah duluan ya!" Hanabi pun pergi, walau tak mendengar sahutan dari kakaknya.

Hinata turun dari mobil mewahnya yang dikendarai oleh supir pribadinya di depan gedung besar yang sangat jelas dengan tulisan besar di atas gedung itu *PERUSAHAAN HYUUGA* seperti biasanya, Hinata berpenampilan sederhana, dia hanya menggunakan rok pendek selutut berwarna hitam dengan atasan yang berwarna abu-abu muda dan ditutupi oleh cardigan berwarna peach. Hinata tetap menawan, walau hanya berpenampilan sederhana.

Selama berjalan memasuki gedung tersebut, banyak karyawan yang menyapanya, atau hanya sekedar menunduk memberikan hormat. Dan Hinata selalu membalasnya dengan ramah. "Hinata! Tumben kau agak siang!" Tenten, sahabat Hinata sejak SMA itu memanggilnya dari kejauhan. Hinata menoleh sebelum menekan tombol lift "Tenten-chan, y-ya aku agak ke-kesiangan." Hinata tersenyum melihat sahabatnya yang semangat itu. "wah, tumben sekali kau kesiangan, pasti kau ada masalah ya? Jadi kau tak bisa tidur?" Ino yang juga baru datang, langsung ikut bergabung bersama Hinata dan Tenten. Ino juga salah satu dari sahabat Hinata. "Ino-chan, kau juga baru da-datang?" Hinata selalu bangga memiliki teman seperti mereka, terlebih kepada Ino, karna Ino sangat peka terhadap perasaannya. "Hinata, kau mengabaikan pertanyaanku." Ino tak akan berhenti mendesaknya untuk bercerita. "sudah-sudah, dari pada kita ribut-ribut di sini, lebih baik kita ke ruangan kerja kita masing-masing." Tenten melerai mereka berdua. "baiklah, tapi aku tak akan berhenti bertanya sampai kau bercerita Hinata." Ino menatap Hinata tajam. "ba-baik Ino-chan." Hinata tahu, bahwa sahabatnya itu benar-benar khawatir padanya. Lift datang, dan mereka masuk lift, menuju ruangan mereka masing-masing.

Hinata berada di ruangan yang cukup luas, dan bergaya modern, dia duduk di sebuah kursi yang didepannya terdapat meja kerja untuk meletakkan semua dokumen-dokumennya. Dibelakangnya ada jendela besar yang langsung memperlihatkan ramainya kota Jepang dari ketinggian gedung perusahaan Hyuuga itu. Hinata adalah Manager Utama perusahaan Hyuuga. Dia telah menduduki posisi ini sejak 2 tahun yang lalu, sejak dia lulus kuliah di umur 25 tahun, dan sekarang umurnya 27 tahun. Kemampuannya dan kecerdasannya memang sangat diakui. Ponsel Hinata bergetar, dengan segera dia mengeceknya. Pesan masuk dari Ino.

From: Ino

'Hinata, nanti kita makan siang bersama di tempat biasa ya, jangan lupa dan jangan menghindar dariku. Sampai jumpa.'

To : Hinata

Hinata memang berencana untuk menceritakannya nanti saat makan siang.

From : Hinata

'baiklah, Ino-chan. Aku tidak akan lupa.'

To : Ino

Setelah selesai membalas pesan singkat dari Ino, Hinata kembali melanjutkan pekerjaannya.

.

.

.

.

"kau, selalu saja merepotkan." Seorang pria berujar sinis ke ponsel yang digenggamnya, terdengar sekali dia kesal. "tunggu, dan jangan kemana-mana." Dia memutuskan sambungan Teleponnya, dan segera bangkit dari duduknya, dan pergi meninggalkan ruangan yang sunyi itu.

Pria tadi, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tetap dengan ekspresinya yang datar. Sesampainya dia di sebuah Bar yang cukup mewah, dia turun dari mobilnya dan langsung melangkahkan kaki jenjangnya ke dalam Bar tersebut. Matanya tampak sibuk melihat sekelilingnya, merasa sudah menemukan seseorang yang dicarinya dari tadi, dia segera menghampiri orang tersebut. "ayo pulang." Pria tadi berkata pada orang yang sudah setengah sadar itu. "eeeh, kau sudah datang? Cepat sekali, padahal aku masih ingin menikmati waktuku disini." Merasa tak ada sahutan, pria setengah sadar itu kembali berbicara "apa kau ingin segera pulang? Kau tahu? Disini banyak sekali wanita yang cantik, apa kau tak ingin menghabiskan waktumu bersamanya?" pria setengah sadar itu berucap sambil meneguk segelas Wine yang ada di genggamannya. "aku tidak punya waktu, cepat berdiri, atau aku akan meninggalkanmu." Pria itu segera melangkah, meninggalkan pria setengah sadar itu. Merasa tak ada gunanya untuk mengajak pria dingin itu untuk bergabung dengannya, pria yang sudah setengah sadar itu segera berdiri dan menyusul pria itu.

"mengapa kau pergi begitu saja, padahal kau sudah datang jauh-jauh ke Bar itu tadi. Percuma saja kau pergi jauh-jauh jika tidak menikmati waktumu dengan wanita cantik disana." yang diajak bicara itu hanya diam, tetap focus mengendarai mobilnya. "apa kau tidak bosan? Selalu saja memandangi dokumen bodoh yang tak ada habisnya? Aku akan mati kebosanan jika melakukan hal itu." Tetap saja tak ada sahutan. Merasa kesal, pria itu segera membentak "hoyy! Apa kau tak mendengarku? Kau selalu saja mengacuhkanku." Pria yang sejak tadi hanya focus mengendarai mobilnya itu, menolehkan kepalanya dan menatap pria disampingnya yang baru saja membentaknya. "maka dari itu, lebih baik kau diam. Kankuro." pria itu kembali focus mengendarai mobilnya setelah selesai mengatakan kalimatnya. Pria yang bernama Kankuro itu hanya bisa diam. Tidak mau memancing emosi pria yang disampingnya.

Agreement

TBC

maaf membosankan :'o dan juga makasih ya, yang udah mau baca :) dan juga makasih banyak yang udah mau ngereviews :') reviews kalian menyemangatiku~~~ *kiss

ohh ya, mungkin di chap selanjutnya nama Gaara akan keluar, tenang ini fict GaaHina kok. See youuuu