A YAOI STORY!
.
GS FOR HUANG HEECHUL
.
GAK SUKA GAK USAH BACA
.
LEAVE REVIEW PLEASE?
.
KRISTAO
.
CHAPTER 1
.
.
.
.
Pemuda dengan tubuh lumayan tinggi itu menarik kopernya dengan bibir mengerucut lucu. Setelah berhasil mengusir Mamanya–yang sungguh sangat membuatnya malu itu, Zitao langsung menghentakkan kakinya kasar dan berjalan cepat meninggalkan semua mata yang memandangnya dengan tatapan aigu-manis-sekali-anak-panda-itu-didekapan-ibunya.
–Huh
Bagaimana bisa, Mamanya memperlakukannya seperti seorang gadis yang baru mengalami menstruasi pertamanya? Apa lagi Mamanya memperlakukannya seperti itu di sekolah yang mengajarkannya tentang–Sex. . . .
"Taozi, jangan lupa pakai body lotion yang sudah Mama masukan kedalam kopermu di bagian samping. Mama tidak ingin kulitmu kasar seperti ayahmu. Huh–padahal Mama sudah membelikan puluhan lusin body lotion untuknya, tapi menyentuhnya saja dia tidak pernah. Jangan lupa juga menggosok sela-sela kakimu sebelum pergi tidur dan setelah kau melakukan kegiatan yang membuatmu mengeluarkan banyak keringat–
–bercinta contohnya,"
Heechul menaik turunkan alisnya dan menatap Zitao dengan tampang sialannya -_- (jangan kutuk Zitao, Mama D;;;)
"kau tau kan bau kaki ayahmu itu seperti apa, itu karena dia tidak pernah menggosok kakinya sebelum pergi tidur dan setelah bercinta dengan Mama. Jangan kau tiru sifat jorok ayahmu itu. Kau adalah anak Mama, dan kau harus mewarisi kulit bersih dan terawat Mama." Tak pahamkah Mamanya jika Taozinya ini adalah seorang pria?
Zitao memutar matanya bosan, dan saat memutar matanya, ia baru menyadari bahwa orang-orang di sekelilingnya menatapnya dengan tatapan yang tidak jauh sialannya dengan muka Mamanya saat menggodanya.
Zitao menggigit bibir bawahnya dan menarik-narik lengan gaun Mamanya yang masih merocoskan ucap-ucapan yang membuat Zitao malu.
"–apa sih, Taozi? Diam dan dengarkan Mama. Mama sudah meletakkan pelembab wajah, pengharum nafas, pencabut alis, dan–lube di koper bagian depan," Zitao mendelik mendengar ucapan Mamanya yang tidak bisa dikatakan pelan itu, ia merasakan orang-orang di sekitarnya terkikik tertahan mendengar ucapan terakhir Mamanya yang membawakannya lube.
"kau tau kan lube gunanya untuk apa? Ah aku lupa, kau kan panda kecilku yang polos," Huang Heechul menepuk pelan pipi anaknya yang memerah karena menahan malu. "lube itu berguna untuk mempermudah masuknya penis ke hole sempitmu sayang. Kau kan masih perawan, jadi pasti akan sempit dan susah sekali penis untuk masuk kedalam holemu. Jadi Mama sudah menyiapkan lube agar kau tak begitu tersiksa kesakitan nantinya." Zitao tertunduk malu dan menepuk-nepuk jidatnya dengan pelan.
"Ah apa lagi ya yang Mama letakkan di kopermu," Heechul mengelus dagunya tampak seperti orang berfikir.
"Sudahlah, Ma–"
"Ah iya! Mama juga meletakkan sex toy di antara tumpukan pakaianmu!" Zitao langsung menyandarkan badannya pada dinding di sampingnya dan menahan emosinya agar tidak memecat Heechul sebagai orang tuanya. -_-
Sungguh–suara Heechul barusan bisa dikatakan setengah menjerit. Hingga dapat di pastikan jika seluruh orang yang ada di lorong yang sama dengan Zitao dan Mamanya itu akan mendengar ucapan Mamanya itu.
"Kau tau kan gunanya sex toy, gunanya itu untuk–"
"Iya Ma aku paham! Huh–Mama sebaiknya sekarang pulang dan menggosok kaki ayah yang bau itu!"
Itu sungguh memalukan!–batin Zitao dalam hatinya. Ia kembali melanjutkan jalannya yang tak tentu arah di sekolah barunya ini. Ini salah Mamanya yang tak membiarkan Zitao mengambil map sekolah barunya saat di pintu masuk utama tadi.
Zitao berhenti ketika melihat segerombol siswa tanpa seragam–yang sama dengan dirinya karena dia adalah siswa tahun ajaran baru dan belum mendapatkan seragam, sedang mengantri mengambil, segulung kertas? Entahlah Zitao tak terlalu bisa menangkap apa yang sedang mereka pegang itu.
Zitao menghampiri gerombolan siswa tanpa seragam yang sama seperti dirinya itu dan ikut mengantri. Sambil menunggu antrian yang agak panjang itu, Zitao menguping pembicaraan siswa yang sudah mengambil gulungan kertas itu.
"Aku dapat kamar 23 asrama Hosu. Kalian bagaimana?" tanya pemuda berpipi gembul sambil menunjukan gulungan kertas yang ia dapat.
Oh, undian kamar asrama.
"Aku dapat kamar 24 asrama Hosu juga. Kyaaa Minseokie~ Kita satu asrama! Bersebelah lagi!" pemuda bertubuh pendek itu lari di tempat sambil menjerit bahagia karena senang. Tunggu, apa pemuda itu memakai eyeliner dimatanya?
"Ck, jelas saja kau pendek, Baekhyunie. Aku dapat kamar 43 Asrama Uteru. Ck. Pasti karena kalian antrinya berurutan, jadi kalian bersebelahan." kini giliran pemuda dengan lesung pipi dan kulit putihnya yang sungguh sangat putih itu! Kulit Mamanya saja tak seputih itu.
Ck, Mama harus menggunakan lebih banyak body lotion lagi.
"Yak, Lay! Bagaimana bisa itu membuatku pendek?," Baekhyun menjitak pemuda berdimple bernama Lay itu. "Eh– ku dengar-dengar, kamar nomer 88 asrama Hosu itu adalah kamar yang paling spesial, loh!" lanjut Baekhyun.
"Bisa saja, kau berlari di tempat seperti tadi, lalu tulang kakimu tertekan, dan tidak bisa tumbuh!– eh, kenapa bisa spesial?" Lay menyipitkan matanya menunggu jawaban Baekhyun.
Baekhyun mendelikkan bahunya. "Aku juga tak paham. Mungkin kamarnya lebih luas?"
PLETAK
"Aduh–Kenapa kau menjitak kepalaku!"
Zitao sontak meringis sambil mengelus bagian belakang kepalanya yang ngilu. Ia lalu menolehkan kepalanya cepat, dan memandang sosok yang telah menjitak kepalanya dengan death glare imutnya.
"Hei, anak panda! Majulah! Jangan melamun! Apa perlu aku panggilkan ibumu, huh?"
Zitao yang merasa menjadi korban–karena ia di jitak, membalikkan badannya menghadap pemuda yang lebih pendek darinya.
"Hei, pendek! Bisakah kau tak usah menjitak kepalaku? Sakit tau!" ucap Zitao sembari memicingkan matanya.
Pemuda yang menjitak kepala Zitao tadi membelakkan matanya kaget. Lalu ia berkacak pinggang dan mendecih pelan. "Kau belum genap sehari bersekolah disini dan sudah berani memanggil sunbaemu dengan tidak sopan seperti itu?"
Zitao mengernyitkan dahinya.
Dia sunbaeku? Dia sunbaeku dan dia lebih pendek dariku?
Mata Zitao turun memperhatikan penampilan pria dihadapannya. Tunggu, dia memakai seragam sekolah ini. Dan nametag itu–
.
Kim Suho
Ketua Asrama Uteru
.
GULP
Zitao menelan ludahnya dengan berat. Kemudian ia meringis dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ma-maaf sunbae. A-aku kan reflek tadi karena kau menjitak kepalaku."
Suho–pria pendek itu memutar bola matanya dan melipat tangannya di depan dada. "Ck. Maju lah, giliranmu mengambil."
Sontak Zitao langsung membungkuk pada sunbae pendeknya tersebut dan berlari meninggalkannya untuk mengambil gulungan kertasnya.
Setelah memilih acak gulungan kertas yang ada di dalam baskom, Zitao memutar-mutar gulungan kertas yang didapatkannya dan membukanya
.
Kamar 88 Asrama Hosu
.
Sontak kedua bola matanya membola. Digulungan kertas itu, sudah ada kunci kamar dengan gantungan kertas bertuliskan '88HOSU'.
Sejenak, Zitao kembali mengingat pembicaraan pemuda-pemuda yang tidak lebih tinggi darinya tadi. Zitao pun tersenyum senang dan mengepalkan tangannya di depan dada.
"Berarti aku mendapat kamar yang lebih luas dari yang lainnya?" Zitao memekik senang. "Dan aku tak satu asrama dengan Kim Suho sunbae pendek tadi itu?"
.
.
.
.
"Selamat datang, siswa tahun ajaran baru Sex International High School! Saya, sebagai kepala sekolah SIHS, akan memberi keterangan singkat mengenai sekolah ini,"
Zitao dan yang lainnya–siswa baru tanpa seragam, langsung digiring menuju aula utama ketika semua sudah kebagian kamar asrama mereka. Zitao dan lainnya masih membawa koper mereka.
Sialan, kenapa mereka tidak membiarkan kita meletakkan barang bawaan kita dahulu?
Zitao mendesah pelan, dan kembali memperhatikan ke arah podium tempat kepala sekolahnya berdiri.
"Saya Lee Sooman. Kalian bisa memanggil saya dengan sesuka hati kalian, asal– masih ada sopan santun di dalamnya. Sekolah ini di bagi menjadi 3 asrama. Asrama Hosu, Asrama Uteru, dan Asrama Osuru. Asrama Hosu akan tinggal di gedung kanan, Asrama Uteru di gedung tengah, dan Asrama Osuru di gedung kiri,"
Gedung SIHS terbagi menjadi empat gedung. Gedung satu atau gedung utama– tempat pintu masuk utama, ruang guru, kelas tempat kegiatan belajar mengajar, perpustakaan, aula utama, aula makan, lapangan basket indoor, dan kolam renang indoor.
Gedung dua atau gedung kanan, merupakan gedung kekuasaan murid Asrama Hosu. Di gedung itu selain terdapat kamar-kamar para murid Asrama Hosu, juga terdapat cafetaria, ruang rekreasi, aula dan gym yang sudah pasti semua fasilitas itu khusus untuk murid dari Asrama Hosu.
Gedung tiga, atau gedung tengah, merupakan milik murid Asrama Uteru. Gedung ini berada tepat di belakang gedung utama, maka dari itu di sebut gedung tengah– gedung tengah di apit 3 gedung; gedung utama, gedung kanan, dan gedung kiri. Tak jauh berbeda dengan gedung kanan, selain kamar-kamar, disana juga terdapat cafetaria, ruang rekreasi, aula dan gym yang pasti di khususkan untuk murid Asrama Uteru.
Gedung empat, atau gedung kiri, merupakan gedung untuk murid Asrama Osuru. Yah, tak jauh berbeda lah dari gedung kanan dan gedung tengah.
Lorong menjadi penghubung antara keempat gedung tersebut.
"kalian sudah mendapat kunci kamar asrama kalian masing-masing bukan?"
Serempak seluruh siswa tahun ajaran baru menjawab. Sooman terlihat tersenyum tipis. "Bagus. Di kamar asrama kalian, kalian tidak akan tinggal sendiri," Terdengar suara bisik-bisik dari barisan para murid. Kita berbagi kamar begitu?
"Sssttt, harap tenang. Kalian akan tinggal bersama pembimbing kalian. Pembimbing kalian merupakan sunbae kalian dari kelas 2 dan 3. Mereka akan membimbing kalian, dan menjadi partner sex kalian,"
Terdengar kembali suara ribut. Ada yang memekik, menjerit senang, menjerit kaget. Zitao hanya memutar bola matanya. Bukankah memang karena itu mereka bersekolah disini? Untuk melakukan sex.
"Dan setiap Asrama memiliki Ketua Asrama masing-masing. Ketua Asrama kalian merupakan murid kelas 3. Kalian akan bertemu dengan Ketua Asrama kalian nanti saat makan malam– kecuali untuk kalian yang satu kamar dengan Ketua Asrama kalian, kalian akan menemukannya di kamar kalian."
"Dan untuk keperluan sekolah seperti seragam, buku, alat tulis dan lainnya, kami sudah menyiapkannya di kamar asrama kalian masing-masing. Untuk nametag, akan di bagikan menyusul. Mungkin juga ada yang bertanya-tanya tentang sistem pelajaran di sekolah ini. Sekolah ini tetap menjalankan pelajaran normal lainnya seperti Kimia, Fisika, Matematika,"
Terdengar kembali desahkan kecewa dari barisan para murid. Zitao juga ikut mendesah.
Hell, aku kira aku hanya akan bercinta di sekolah ini, ternyata ada Matematika juga T_T
"Hanya saja, pelajaran macam itu sungguh tidak di butuhnya disini, sehingga kalian akan belajar mengenai dasar-dasarnya saja. Dan karena ini adalah sekolah 'SEX', bagi kalian semua yang masih perawan–"
Zitao harus mendengar ini baik-baik–
"–kalian harus sudah tidak perawan lagi saat sarapan pagi besok! Ini semua demi kelancaran kegiatan belajar mengajar.
Mintalah bantuan pembimbing kalian. Akan ada sanksi bagi kalian yang masih perawan saat sarapan pagi besok! Mungkin sudah cukup tentang penjelasanku. Silahkah pergi ke kamar asrama masing-masing. Pukul 7 malam kita akan berkumpul di aula makan untuk makan malam. Kalian wajib menggunakan seragam untuk makan malam nanti. Terima kasih."
Seketika tubuh Zitao menegang dan ingin mengutuk Mama tercintanya.
.
.
.
.
.
Zitao dengan gemetar melangkahkan kakinya sambil menyeret kopernya menuju gedung kanan tempat kamar asramanya berada. Zitao masih memikirkan ucapan kepala sekolah barunya tentang dirinya harus sudah tak perawan besok pagi.
Sial.
Secepat itu kah? Baru beberapa jam yang lalu ia tiba di sekolah ini, dan bahkan ia belum genap sehari bersekolah disini, dan dia sudah harus menyerahkan keperawanannya?
"Jika Mama ada disini, dia pasti akan tertawa bahagia bersama kawanan setannya." Zitao mendengus sebal.
83, 84, 85, 86, 87...
88.
Zitao menarik nafas dalam. Menahannya beberapa detik, dan menghembuskannya perlahan. Ia berdiri dihadapan pintu yang akan menjadi kamarnya sebentar lagi dengan perasaan penuh kalut.
Tok
Tok
Tok
Zitao mengetuk daun pintu berwarna cokelat tua tersebut dengan perasaan campur aduk.
Tok
Tok
Tok
Kembali Zitao mengetuk. Tak ada respon.
Tok
Tok–
"Buka saja, bodoh! Kau punya kuncinya kan?!" suara berat khas orang bangun tidur terdengar dari dalam kamar asrama bernomer 88 itu.
Glup
Zitao dengan susah payah menelan air liurnya. "Apa semua sunbae di sekolah ini jahat?" gumamnya pelan.
Zitao memasukan kuncinya yang tadi ia dapat saat undian kamar asrama kedalam lubang kunci di daun pintu cokelat tua tersebut. Ia memutarnya perlahan, dan menariknya kembali sesaat mendengar suara klik.
KLEK
Zitao memasuki kamar asramanya tersebut sambil menarik kopernya masuk.
"Permisi."
Seorang namja dengan rambut pirang acak-acakan, mata sayu, baju piyama kotak-kotak yang tampak lusut, serta, errrr– bekas air liur yang menempel di pipi dan di dagunya yang telah mengering tengah berdiri di sisi kiri ranjang dengan ukuran king size berbalut sprai putih yang acak-acakan.
Reflek, Zitao pun langsung menunduk hormat pada orang yang di yakininnya sebagai sunbae, sekaligus roommate sekaligus partner bercintanya tersebut.
"Ha-hallo, sunbae. Namaku Huang Zi Tao. Aku yang akan menjadi roommatemu." Zitao kembali menegakkan tubuhnya dan menatap partnernya tersebut yang diam tak bergeming. Matanya yang tadinya sayu, kini tampak menajam. Zitao mulai takut sekarang.
"Kau mengganggu tidurku, Huang." Partnernya tersebut langsung meninggalkannya dan masuk kedalam pintu yang ada di ruangan kamar tersebut. "Mungkin itu kamar mandi?" Gumam Zitao sambil mendelikkan bahu.
Zitao menyeret kopernya ke ujung kanan ranjang berukuran king size di kamar itu, dia memperhatikan ruangan yang kini menjadi kamar asramanya. Kamar ini bernuansa hijau muda yang tampak sungguh sejuk dan segar di mata. Terdapat satu lemari besar dua pintu berwarna putih gading yang menyatu dengan dinding di sebelah pintu masuk, dua meja belajar saling berhadapan dengan buku-buku yang di susun rapi menjadi sekat antara dua meja belajar di sebelah kiri ranjang king size, dan di sebelah kanan ranjang king size, terdapat sofa berwarna senada dengan dinding ruangan ini–hijau muda, yang di bawahnya terdapat karpet bulu berwarna hijau tua dan TV LCD besar di hadapannya.
Zitao mengernyit "Apa spesialnya kamar hijau ini?"
KLEK
Mendengar suara pintu dibuka, reflek Zitao langsung membalikkan badannya kesumber suara.
BLUSH
Muka Zitao memerah. Dia membulatkan kedua bola matanya dan merasa detak jantungnya tak karuan. Ia segera memalingkan mukanya ke segala arah, menghindari penampakan tubuh atletis partnernya yang kini tengah bertelanjang dada.
Partner Zitao menyunggingkan senyuman remeh dan berjalan mendekati lemari besar yang berada di belakang Zitao.
"Dasar perawan."
Zitao lantas mendongakkan kepalanya, dan berbalik menghadap partnernya yang kini sedang membongkar isi lemari besar berwarna putih gading tersebut.
"Tu-tunggu. B-b-bagaimana bisa sunbae... tau?" Zitao bertanya pada partnernya dengan nada tergagap.
Partner Zitao yang tadinya menghadap lemari, kini memutar badannya berhadapan dengan Zitao. Ia menyunggingkan senyum mengerikan–yang entah mengapa malah mengingatkan Zitao pada Mamanya.
"Kau dan ibumu, di lorong gedung utama,,," Partner Zitao yang belum ia ketahui namanya tersebut berjalan perlahan mendekati Zitao. Sesekali, ia menaikan balutan handuk yang menutupi daerah private nya yang melorot karena langkah kakinya.
Zitao hanya mampu membelakan mata dan merutuki mulut merocos Mama tersayangnya. Ingin sekali ia mundur menjauh dari partnernya ini, namun ototnya serasa tak bisa ia gerakkan. Ia pun hanya mampu memejamkan matanya dan menunduk saat partnernya kini hanya tinggal satu langkah kaki darinya.
"Ck. Dasar perawan. Begini saja sudah takut, eoh?" Partner Zitao mengacak surai gelap Zitao dan melanjutkan mencari pakaiannya di dalam lemari.
Zitao yang merasa lega karena tidak terjadi hal-hal 'yang iya-iya' yang ia pikirkan tadi.
"Namaku Kris. Kau bisa pakai lemari sebelah ini,–" jari telunjuk tangan kirinya menunjuk pintu lemari sebelah kiri–sedangkan tangan kanannya masih sibuk membongkar lemari.
"–di meja belajarku terdapat aquarium, jadi kau bisa menggunakan meja belajar yang tidak ada aquariumnya–" Kris masih sibuk dengan lemarinya.
"–kita tidur seranjang. Jadi bersiap-siaplah, Huang." Kris menolehkan wajahnya pada Zitao, dan dada Zitao rasanya langsung merocos karena melihat senyuman menyeringai Kris.
Zitao lantas melangkahkan kakinya menuju kopernya–untuk memutus kontak dengan senyuman menyeringai Kris. Ia merunduk menidurkan kopernya, dan mencoba membuka kopernya.
Kris yang membalikkan badan setelah menemukan seragam sekolahnya, bertemu pandang dengan pantat Zitao yang setengah menungging itu. Ia kembali menyeringai dan mendekati Zitao.
"Mandilah, seragammu sudah ada di lemari–" Zitao tak bergeming dari posisinya–masih berusaha membuka kopernya sendiri yang secara tiba-tiba ia lupa passwordnya.
"–pakai seragam yang berwarna kuning–"
Kini Kris sudah berada tepat di belakang Zitao–yang otomatis pantat Zitao menghadap ke arah 'daerah pribadi' Kris.
"–menujulah ke aula makan, makanlah yang banyak Zitao–"
"–aku tak mau kau kelelahan saat di malam pertama kita." Kris meremas kedua pantat Zitao dan langsung kabur menuju kamar mandi.
"Ngh–" Mata Zitao membola sempurna. Ia pun langsung menegakkan kembali tubuhnya dan melihat sunbaenya yang lari kabur masuk kedalam kamar mandi lagi.
"YAK SUNBAE!" terdengar kikikan Kris bersama suara guyuran air shower dari dalam kamar mandi.
.
.
.
.
.
Maaf kalau banyak typo soalnya tanpa edit ini
Thanks buat yang udah review ;'3333
Buat yang tanya-tanya ini Yaoi atau GS, ini YAOI sayang. Emang keliatan kalau GS ya ;;;''DDDD
Aku bakal jawab reviewan kalian di PM :3
Last, terima kasih buat para pembaca dan pereview ^_^
