Lesson 1: It's always the kids raise in strict upbringing that get knocked up first.
.
.
.
Gadis berambut cokelat itu menatap dengan pandangan sedih kearah piala winter cup yang mereka menangkan tahun lalu. Disebelah piala tersebut tampaklah foto seluruh tim. Matanya terpusat pada pemuda berambut cokelat dengan nomor punggung 12.
"Ah, disini rupanya." Ia menoleh kearah asal suara dan melihat Kuroko berjalan kearahnya. "Kantoku, latihan akan segera dimulai." Ujarnya mengingatkan.
"Apa kau masih memperhatikan foto Furihata-kun lagi?" Tanya junior berambut biru muda itu. "Kau tahu kita harus move on, untuk Furihata-kun juga. Dia pasti tidak ingin melihat kita terus bersedih karena kehilangannya."
"Aku tahu, tapi…setiap kali melihat fotonya, aku selalu terkenang…aku…aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal sebelum dia pergi waktu itu." Ujar Riko seolah menahan tangis.
Furihata-kun…
Tidak terasa waktu terus bergulir semenjak kau pergi waktu itu. Kami semua sehat-sehat saja disini, walau kami sangat merindukanmu.
Tanpa kehadiranmu, kami semua merasakan kekosongan yang amat sangat…latihan basket tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Meski kita baru saling mengenal selama setahun, kau memberikan kenangan yang tak tergantikan seumur hidup bagi kami semua. Winter cup pertama yang kita ikuti dan menangkan bersama akan selamanya menjadi kenangan untuk memperingatimu.
Suatu saat nanti, aku berharap bisa bertemu denganmu di kehidupan selanjutnya kelak…
Sampai saat itu tiba, teruslah melihat kami dari atas sana…
Selamat jalan dan terima kasih untuk segalanya, Furihata-kun…
.
.
The End
"TUNGGU DULU!" Pintu gym Seirin tiba-tiba didobrak oleh Furihata yang berlari masuk kedalam dengan penuh kemarahan.
"Ah…Furihata masih hidup rupanya." Sapa Kagami dengan nada datar.
"Reaksi macam apa itu?! Kenapa kau tidak terdengar senang saat mengatakan itu?!" Protes Furihata menanggapi respon si pemuda berambut merah dengan alis bercabang tersebut.
"Apa maksudnya ending seperti itu ?! Jangan membunuhku seenaknya dalam cerita!" Serunya menunjuk kearah Kuroko selaku narator.
Kuroko terdiam sebentar sebelum tersenyum manis dengan pose imut ia menggetuk kepalanya sendiri dan mengedipkan sebelah matanya dan melunjurkan lidahnya. "Ups…enggak sengaja, eheheh." Ujarnya dengan nada lugu yang ditinggikan yang pastinya super ooc banget.
"Kau pikir ini sesuatu yang bisa dimaafkan hanya dengan mengatakan 'ups…enggak sengaja, eheheh.'?! Jangan sok imut!" Walau harus kuakui lumayan imut! Bagian yang terakhir sengaja tidak diucapkan berhubung Furihata tidak mau mengambil resiko mengetahui Akashi ada dalam jarak pendengaran. Salah bicara dan model rambutnya bakal berubah.
"Lagipula, apanya yang waktu terus bergulir?! Aku baru saja ketemu dengan kalian kemarin saat kalian mengantarku ke stasiun kan?!" Protes Furihata tidak terima dengan perlakuan didapatnya.
"Ah, bagaimana pertemuannya dengan ayah Akashi-kun? Sepertinya kau sehat-sehat saja, patut di syukuri."
"Soal itu…sejujurnya aku tidak tahu mana yang lebih buruk, antara di vonis mati atau soal ini…" Wajah Furihata memucat saat mendengar Kuroko membawa topik tersebut.
"Hah? Kalau ngomong yang jelas." Kagami menaikkan sebelah alisnya.
"Itu…" sebelum Furihata sempat menjelaskan, Kise mendadak mendobrak masuk ke dalam gym Seirin.
"Kurokocchi!Gawat! Gawat! Ada berita besar-ssu!"
"Kudengar dari Midorimacchi! Katanya Akashicchi hamil-ssu! Apa itu benar?!"Kata-kata si pirang itu dengan sukses membuat seluruh anggota Seirin selain Furihata membatu di tempat.
"…Kise-kun…aku tahu kau memang memiliki tingkat intelegensi dibawah rata-rata tapi tak kusangka sudah sampai di level yang begitu memprihatinkan…" Kuroko menjawab sambil menggelengkan kepala setelah shock-nya mereda.
"Apa yang terjadi? Apa karena kepalamu kepanasan, otakmu meleleh? Atau kau makan sesuatu yang salah menyebabkan otakmu mengecil? Atau otakmu diculik alien saat kau tidur atau semacamnya?" Ujarnya memberikan pendapat yang dirasanya dapat menjelaskan alasan kenapa Kise tiba-tiba mengatakan hal absburd begitu.
"Kejam! Berhentilah menghina otakku-ssu! Lagipula aku mendengarnya dari Midorima-cchi karena itu aku ingin mngkonfirmasinya!" Kise berseru sambil menangis akan kata-kata kejam teman baiknya itu.
"…Memang sulit dipercaya, tapi ucapan Kise benar." Furihata menjawab sambil tersenyum kaku, masih tidak bisa melihat mata Kuroko. "Usia kandungannya sudah memasuki minggu kedua."
"…Furihata-kun…" Kuroko menatap datar dengan pandangan menyelidik kearah remaja berambut cokelat tersebut. Keringat dingin tampak bermunculan, menghiasi wajahnya. Kuroko kurang lebih bisa menebak siapa ayah sang jabang bayi.
"Sulit di percaya?' itu kata-kata yang tidak sepantasnya keluar dari mulut seorang calon ayah bukan?" Suara familiar yang datang dari arah pintu masuk gym Seirin membuat Furihata bergidik ngeri.
(Note: yang ini adalah Akashi 'Bokushi')
"Akashicchi!" Seru Kise tampak terkejut saat melihat sosok Akashi berjalan kearah mereka.
"Eeeeh?! Furihata ayahnya?!" Lanjut Kise tampak lebih terkejut lagi.
"Anu boleh aku menyela?…apa yang terjadi saat Furihata-kun pergi menemui ayah Akashi-kun?" Kemarin bertemu mereka mengkhawatirkan keselamatan Furihata, sekarang dia tiba-tiba pulang bawa momongan? Jelas saja semua anggota Seirin (Plus Kise yang kebetulan ada di situ) menuntut penjelasan.
Furihata dan Akashi saling bertukar pandang sesaat sebelum Furihata memutuskan untuk menjelaskan.
"Sebenarnya…"
.
.
Flashback
"Selamat datang ke kediaman keluarga Akashi, Furihata Kōki-sama."
Kaki Furihata melemas saat melihat jejeran maid yang berbaris dihadapannya sambil membungkuk menerima kedatangan mereka.
"Apa ayahku sudah tiba?" Akashi bertanya dengan nada sopan pada salah satu maid.
(Note: yang ini adalah Akashi 'Oreshi')
"Iya, Masaomi-sama telah menanti kedatangan anda di ruang kerjanya." Wanita itu memberi jawaban.
"Kōki bagaimana perasaanmu? Kau akan bertemu Otou-sama sesaat lagi." Remaja berambut merah itu menoleh kearah pacarnya di belakang.
"Apapun yang terjadi, terjadilah! Aku siap menghadapinya!"
"Tampaknya kau sudah mempersiapkan mental dengan baik ya." Akashi berujar sambil tertawa kecil.
Sama sekali tidak! Siapa saja tolong aku!
Kakiku! Kumohon! Berhentilah bergerak!
Mereka berjalan hingga tiba di sebuah lorong yang penuh dengan berbagai macam piagam penghargaan.
"Anu…Seijūrō-san…lorong apa ini sebenarnya?" Furihata bertanya sambil memperhatikan piala-piala yang dipajang dalam kotak kaca yang dilewatinya. Beberapa diantaranya didapatkan di tahun sebelum ia lahir.
"Ah, ini trophy hall, tempat dimana ayahku memajang beragam penghargaan yang diperolehnya."
"Heeh…begitu ya…sepertinya dia jago bela diri." Furihata sedikit gemetar saat ia menemukan jejeran olimpiade medali emas dari pertandingan judo, karate, aikido, fencing dan kendo.
"Ah, beliau memang memiliki ketertarikan pada seni bela diri karena itulah ia mendedikasikan masa mudanya untuk mempelajari berbagai macam bela diri. Dia juga mahir menggunakan berbagai macam senjata." Akashi menjelaskan sambil meneruskan langkahnya. Terdengar nada bangga dalam suaranya.
"Bela diri ya…" Gumam Furihata dengan lirih.
Dia akan menggunakannya untuk membunuhku! Namun ia berteriak sekeras mungkin dalam hati.
"Di depan sana adalah pintu menuju ruang kerjanya." Akashi memperingatkan bahwa mereka sudah hampir tiba di tujuan. Jantung Furihata berdegup kencang saat melihat pintu kayu didepannya.
Tidaaaaaaaak!
Keringat dingin bercucuran dari kepala Furihata seraya ia mengamati Akashi mengetuk pintu tersebut. Dia menyesal kenapa tadi ia tidak langsung melompat keluar dari limo saat masih ada kesempatan.
"Masuklah." Terdengar suara berat menjawab dari balik pintu.
"Maaf mengganggu, aku telah tiba Otou-sama." Akashi membuka pintu tersebut perlahan dan kemudia menundukan kepalanya sejenak sebelum menjawab.
"Oh, Seijūrō kau sudah datang rupanya…" Terdengar suara yang berasal dari figur yang duduk di kursi di balik sebuah meja kerja yang terbuat dari kayu mahogani di hadapan mereka.
Secara keseluruhan, Akashi Masaomi tampak seperti pria pertengahan 40-an yang sehat. Furihata dapat melihat Akashi mewarisi rambut merahnya dari pria yang berdiri hadapannya. Namun matanya yang berwarna kuning keemasan berkilat mengerikan membuat Furihata membeku ditempat.
"Dan orang yang dibelakangmu?" Pupil emasnya mendelik tajam ke arah Furihata yang berjengit sambil bersembunyi dibalik Akashi.
Kejadian ini mengingatkannya pada saat pertama bertemu dengan Akashi, kejadian waktu itu malah masih mending karena dia cuman diusir lah ini?
Pandangan yang diberikan oleh kepala keluarga Akashi seolah mau mencabik-cabik remaja berambut cokelat itu. Furihata bisa mati sakit jantung kalau ditinggal berdua bersama pria tersebut di ruangan itu.
"Ah, dia orang yang kuceritakan. Aku telah membawanya." Akashi tampak tenang menghadapi situasi tersebut. Mungkin bahkan terlihat sedikit senang, sejak awal dia memang ingin ayahnya mengenal Furihata.
"Jadi rupanya bocah macam dia, ya?" Pria itu berkomentar dengan nada dingin dan meremehkan.
"Ah…na-namaku Furihata Kōki…" Furihata akhirnya berhasil mengeluarkan suaranya walau terdengar seperti cicitan tikus kejepit.
Kepala keluarga Akashi tersebut mengambil salah satu cerutu dari kotak yang terbuat dari kayu cendana diatas meja kerjanya. Membuat situasi mereka lebih terlihat seperti bos mafia dan seorang korban yang tak sanggup melunasi hutangnya daripada perkenalan ayah mertua dan anak mantu.
"Aku telah menantikan kedatanganmu Furihata Kōki,"
Untuk mengirimu ke alam sana!
Eh? Apa yang barusan itu? Aku mendengar sesuatu di latar background-nya! Dia bilang ingin mengirimku ke alam lain?! Aku pasti salah dengar iya kan? Aku cuma salah dengar kan?! Furihata makin gemetaran.
"Aku banyak mendengar tentangmu dari Seijūrō," Tangan pria berambut merah itu merogoh bagian dalam jas hitam yang dikenakannya.
Pistol?!
Furihata menarik nafas lega sesaat saat meihat benda yang ditarik keluar dari saku jasnya adalah sebuah lighter yang dipakai untuk menyalakan cerutu di mulutnya.
"Sejujurnya, aku sedikit menaruh ekspetasi padamu namun setelah melihatmu secara langsung, aku langsung menyadari aku terlalu berharap lebih." Pria berambut merah itu mengeluarkan sebuah buku catatan hitam dari laci meja kerjanya. "Benar-benar mengecewakan." Ujarnya sambil menulis sesuatu di notes tersebut.
Apa itu?! Death note?! Apa dia barusan menulis namaku didalam?! Apa aku akan tetap hidup 30 detik ke depan?!
"Langsung saja ke pokok permasalahan. Aku tidak suka basa-basi." Ia menutup buku catatan tersebut dan berdiri dari tempatnya membuat Furihata mundur teratur beberapa langkah kebelakang.
"Apa kau Furihata Kōki, siap mempertanggung jawabkan perbuatanmu?"
"Dengan menjadi ayah dari bayi yang di kandung oleh putraku!"
"Baik! Aku bersedia!" Kata-kata itu terucap begitu saja oleh Furihata dengan spontan. Saking takutnya ia langsung menjawab tanpa pikir panjang.
"….."
Eh? Apa? Apa yang dikatakannya barusan itu…
Setelah beberapa saat, otak Furihata akhirnya berhasil mencerna apa seluruh kata-kata ayah Akashi. Remaja berambut cokelat itu berkedip sekali dan kemudian dua kali.
"Hmph, kalau begitu sebaiknya kau mempersiapkan diri. Menjadi bagian dari keluarga Akashi bukan hal yang mudah, akan kubuat kau bekerja hingga muntah darah." Walau pernyataan itu terdengar menakutkan, ada sedikit rasa lega dibalik sarkasme pria tersebut.
"Anu…tunggu sebentar…yang barusan itu…" Furihata tersenyum kaku. "Bisa…tolong diulang?"
"Kubilang akan kubuat kau muntah darah."
Sadis! Kenapa bagian itu yang diulang sih?! Protes Furihata dalam hati. Mana dikasih penekanan pula!
"Tidak, tidak, yang bagian aku menjadi ayah?" Furihata bertanya lagi, ia ingin memastikan pendengarannya tidak salah.
"Benar." Ayah Akashi menganguk.
"Tunggu, tunggu, tunggu sebentar! Pasti ada sedikit kesalahan disini. Ayah apa? Ayah SIAPA?" Nada Furihata meninggi, ia luar biasa panik sekarang.
"Kau belum mengatakannya padanya Seijūrō?" Mata emasnya mendelik ke arah putranya.
"Seijūrō-san? Itu…bohong kan?" Furihata menoleh dengan tatapan 'tolong katakan kau cuma bercanda!'
"Maaf, aku bukannya ingin menyembunyikan hal ini darimu…" Remaja berambut merah itu bergumam.
"…Dan sebelum kau menyela, aku punya buktinya Kōki." Akashi mengeluarkan sebuah alat tes kehamilan dari saku jasnya. Hasilnya tertanda positif. "Kalau kau tidak percaya, aku sudah mengetesnya sampai 30 kali dan hasilnya positif semua. Aku bahkan sudah berkonsultasi pada dokter pribadi keluarga Akashi dan pernyataannya pun sama, aku positif hamil."
"Eh?"
"Eeeeh?"
"EEEEEEEEEEEEEEEEEEHHHHHHHHHHHHHHHH?!"
Selang beberapa detik setelahnya terdengar bunyi gedebuk keras dan tubuh Furihata yang tak sadarkan diri ambruk ke atas lantai yang di lapisi karpet mahal berwarna merah beludru. Wajahnya putih pucat, matanya terbuka lebar namun pupilnya menghilang, hanya bagian putihnya saja yang tampak. Disudut mulutnya menetes darah.
Otaknya tidak sanggup memproses kata-kata tersebut dan menjadi overload sehingga otomatis men-shut down seluruh sistem di dalam tubuhnya.
"Kōki?! Bertahanlah!"
"Memalukan, begitu saja pingsan. Bagaimana bisa bocah lemah seperti ini jadi ayah dari cucuku, mencoreng nama keluarga saja!"
Samar-samar Furihata dapat mendengar seruan khawatir dari arah Akashi dan komentar dingin dari ayahnya.
Kami-sama…kalau kau benar-benar eksis di dunia ini…kumohon ambillah nyawaku sekarang juga…
End of flashback
.
.
"Akashi-kun…selamat atas kehamilanmu." Kuroko mengucapkan selamat pada Akashi sambil tersenyum tulus.
"Terima kasih, Tetsuya." Akashi membalas senyuman tersebut sambil menganguk.
"Furihata-kun, yang tabah ya, jadi ayah di usia remaja itu berat lho." Kuroko menoleh kearah Furihata dan memberinya pandanga penuh rasa kasihan. Pertama karena ia akan menjadi ayah diusia remaja, kedua karena dia akan masuk keluarga Akashi.
"Te-terima kasih sudah mengkhawatirkanku…" Furihata menangis sesenggukan penuh haru.
"Tunggu! kalau ini adalah lelucon untuk april mop, menurutku lelucon kalian benar-benar buruk." Hyuuga menengahi. Disaat seperti ini ia harus bertindak sebagai 'the straight guy' atau istilah lainnya Tsukkomi menghadapi situasi tersebut.
"Kejamnya~ apa kau tidak bisa ikut berbahagia bersama kami Hyuuga-kun? Dengan kehadiran bayi ini Seirin dan Rakuzan resmi menjadi satu keluarga bukan begitu Sei-chan?" Ujar Mibuchi yang berjalan masuk ke dalam gym Seirin diikuti oleh Hayama dan Nebuya.
"Jadi satu keluarga apanya? Yang ada cuma ketambahan satu diktator lagi! Menghadapi satu saja kami kewalahan apalagi 2!" Protes Hyuuga dengan berapi-api.
"Oi, katakan sesuatu Riko!" Hyuuga mendesak gadis berambut cokelat yang masih tertegun itu.
Riko tampak sedikit ragu saat berjalan kearah Akashi sebelum mengatakan.
"Akashi…apa menurutmu setelah dia lahir nanti, bolehkah dia mengikuti latihan reguler Seirin?" tanyanya ragu-ragu namun penuh harap.
"Oi, apa maksudnya itu, Kantoku?" Hyuuga tidak percaya akan pertanyaan yang baru saja didengarnya.
"Tentu saja, biar bagaimanapun ayahnya akan berada di sini. Iya-kan Kōki?" Akashi melirik kearah Furihata (yang memalingkan wajahnya yang penuh ketakutan) sambil tersenyum manis (Baca: maut).
"Eeh~ aku membayangkan bagaimana anak kecil yang imut lari-larian memainkan bola di tengah latihan sambil mengenakan kaus seragam basket yang sedikit kedodoran pasti akan sangat menggemaskan!" Riko tak bisa menahan diri untuk tidak menjerit kegirangan membayangkan pemandangan tersebut.
"Ide kantoku boleh juga, lagipula banyak yang suka anak-anak jadi dia bisa menjadi daya tarik bagi kedua tim." Izuki menganguk memaklumi pendapat pelatih mereka.
"Mitobe punya adik, jadi keluarganya punya banyak baju-baju untuk balita." Koganei menyarankan sambil melihat kearah Mitobe yang tersenyum sambil menganguk.
"Eh? Boleh aku meredesainnya? Aku ingin membentuk pola yang imut-imut!" Mibuchi menawarkan diri.
Semua disitu tampaknya bercakap-cakap dengan riuh membicarakan tentang bayi Furihata dan Akashi.
"Sepertinya mereka bersemangat sekali menantikan kelahiran bayimu Furihata." Fukuda tertawa kecil sambil menepuk pundak Furihata. "Bagaimana? Apa kau sudah memikirkan nama untuknya Furiha…TA?!"
Ia terkejut melihat sosok lesu dan tak bergairah di sampingnya. Mata cokelat Furihata nampak redup dan wajahnya kosong saat ia menatap kearah Fukuda.
"Haa…?" Tanya Furihata dengan ekspresi dan nada seperti orang sekarat.
"Bukan 'haa'! Kenapa ekspresimu seperti orang mau mati begitu?!"
"Aku mau cari udara segar diluar dulu…" Furihata berjalan dengan sempoyongan ke arah luar bangunan gym itu.
"Furihata kelihatannya tidak bersemangat…" Ujar Fukuda saat memperhatikan teman baiknya.
"Apa boleh buat kan? Kau tidak bisa menyalahkannya. Menjadi seorang ayah di usia remaja adalah mimpi buruk bagi siswa SMA manapun." Kawahara menggelengkan kepala memaklumi perasaan Furihata.
Diantara keriuhan tersebut, Akashi sempat memperhatikan Furihata berjalan keluar gym dan memutuskan untuk mengikutinya.
.
"Hei, Furihata, bagaimana keadaanmu?" Kiyoshi tersenyum saat melihat sosok adik kelasnya keluar dari gym. "Mibuchi sudah memberitahuku apa yang terjadi." Lanjutnya.
"Bagaimana menurutmu Kiyoshi-san? Aku baru mengeyam pendidikan sampai di bangku kelas 2 SMA, aku bahkan belum mengikuti kegiatan field trip sekolah…pokoknya banyak hal yang masih belum kurasakan! Aku bahkan belum menjadi orang dewasa yang legal dan sekarang aku menemukan fakta aku sudah punya anak?!" Furihata memengangi kepalanya dengan frustasi.
"Bayangkan saja bagaimana reaksi keluargaku kalau sampai mereka tahu aku menghamili anak orang! Pendapat para tetangga akan keluargaku juga pasti berubah!" Serunya membayangkan tante-tante tukang gosip yang sering ditemuinya sepulang sekolah.
"Bahkan kakakku saja belum menikah dan aku sebagai adik malah sudah punya anak?!"
"Topik ini pasti akan terus dibawa disetiap pertemuan keluarga!"
"Ini hal tergila yang pernah terjadi padaku!"
"Apa kau menyesalinya?" Tanya Kiyoshi dengan ekspresi serius membuat Furihata menoleh kearahnya."Apa kau menyesali akan hubunganmu dengan Akashi?"
Furihata terdiam sesaat. "Sesungguhnya aku sendiri tidak begitu memahaminya…" Ujarnya, matanya terpusat ke arah lantai berbahan dasar batu dibawah kakinya.
"Satu-satunya alasan yang mendorongku menyanggupi perintah ayah Seijūrō bukan karena takut akan ancamannya atau apapun, tapi karena Seijūrō-san menginginkannya."
"Aku tidak habis pikir kenapa dia bisa dengan tenangnya menerima situasi ini, aku tidak punya pekerjaan, tidak punya modal apapun, tidak ada jaminan aku dapat menjadi seperti yang diharapkannya dimasa depan dan dia… menerimaku dengan kondisi seperti itu." Sesungguhnya Furihata merasa takut. Ia tidak yakin dapat memenuhi ekspetasi Akashi dan tidak ingin mengecewakannya disaat bersamaan.
"Biar bagaimanapun mereka adalah kewajibanku, tanggung jawabku, aku tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja!" Namun Furihata sadar, melarikan diri bukanlah jawaban dari permasalahan. Dia memang pengecut namun ia tidak cukup egois untuk meninggalkan Akashi dan menyerahkan seluruh beban untuk ditanggungnya seorang diri.
Kiyoshi tersenyum mendengar resolusi Furihata.
"Itu sudah cukup, selama kau memiliki rasa tanggung jawab seperti itu dalam dirimu, kurasa kau akan bisa menjadi ayah yang baik dimasa depan." Furihata terkejut saat mendapati telapak tangan Kiyoshi yang besar dan hangat menepuk pundaknya.
"Kiyoshi-san…" Furihata tampak terharu mendengar kata-kata Kiyoshi.
"Bagaimana menurutmu, Akashi?" Pemain reguler tim Seirin yang dijuluki 'Iron Heart' itu berbalik kearah pintu gym yang setengah tertutup. Ia menyadari kehadiran Akashi sedari tadi namun memutuskan untuk tidak mengatakannya.
"Eh?! Dia ada di sini?!" Furihata benar-benar terkejut saat melihat sosok berambut merah itu melangkah keluar dari balik pintu.
"…Kōki…"
"…Seijūrō-san…"
Mereka berdua berpandangan selama beberapa saat, tidak dapat mengatakan apa-apa pada satu sama lain hingga Kiyoshi akhirnya memutuskan untuk beranjak dari tempat tersebut.
"Yak, kalau begitu aku akan meninggalkan kalian berdua. Pasti ada banyak yang ingin kalian katakan pada satu sama lain bukan?" Ia menoleh sejenak kearah Furihata dan mengancungkan jempol sebelum masuk ke gym untuk bergabung bersama yang lain.
"Berjuanglah Furihata!"
Tu-tunggu! Jangan tinggalkan aku sendiri di sini!
Come back Kiyoshi-san!
Seruan Furihata yang miris tidak sanggup mencapai Kiyoshi yang berjalan semakin jauh meninggalkannya.
"Kōki…"
"Y-ya?!"
Furihata berjengit ketika mendengar suara Akashi memanggilnya. Namun nada suaranya tidak terdengar dingin atau marah. Nada tersebut amat datar.
"Kalau kau merasa terpaksa melakukan semua ini…maka kurasa sebaiknya kita mengakhiri semua ini sampai disini saja." Ujar Akashi seraya berjalan mendekati Furihata dan duduk disampingnya.
"Eh?!" Furihata merasa was-was, dia tidak menyukai arah pembicaraan ini.
"Kau tidak perlu khawatir, aku akan menanggung hak asuh anak ini sepenuhnya saat dia lahir. Keluarga dan tetanggamu tidak perlu tahu bahwa bayi ini milikmu, dia takkan pernah mengganggu kehidupanmu lagi, karena itu…"
"Seijūrō-san!" Sebelum Akashi dapat meneruskan kata-katanya, Furihata sudah menyelanya.
"Apa kau mengatakan dia tidak perlu mengenalku sebagai ayahnya seumur hidupnya?!"
Furihata menggertakan giginya sebelum melanjutkan kata-katanya. "Kau mau membesarkannya seperti cara ayahmu mendidikmu?!" Nadanya terdengar rendah dan parau saat mengatakannya. Ia tak ingin membayangkan bagaimana anak itu menjalani kehidupan seperti Akashi.
"…Aku tidak punya pilihan lain kan? Dia akan menjadi penerus keluarga Akashi. Itulah takdir yang harus dijalaninya." Meskipun Akashi mengatakan kata-kata tersebut, sesungguhnya ia sendiri tidak ingin melihat anaknya menjalani hidup sepertinya dimasa depan.
"Kenapa kau memutuskan semuanya sendiri?!" Nada Furihata sedikit meninggi, ia tidak bisa menerima Akashi memutuskan hal sepenting itu tanpa memperdulikan pendapatnya. Biar bagaimanapun dia juga orang tua dari bayi itu.
"Bukankah kau merasa keberatan dengan keputusanku sejak awal?" Nada Akashi mendingin, ia tak bisa tidak merasa kesal akan kemarahan Furihata yang tiba-tiba.
Bukan hanya Furihata yang merasa panik mengetahui kehamilan tersebut, Akashi sendiri sulit mempercayainya pada awalnya namun ia sadar perasaan panik dan takut takkan menolongnya dalam situasi tersebut.
Ia sudah memikirkan segala kemungkinan dengan matang, termasuk menjadi orang tua tunggal bagi anaknya dimasa depan.
Furihata terdiam sesaat, ia tak bisa menyangkal ucapan Akashi. "Memang, benar…tapi itu karena aku resah…" Lanjutnya setelah beberapa saat.
"Resah?" Akashi bertanya dengan nada suara yang pelan. Situasi yang memanas diantara mereka mulai mereda.
"Aku…terus berpikir apa aku bisa menjadi ayah? Apa aku bisa aku membuat keluargaku bahagia? Apa kau takkan menyesal memilih orang sepertiku…" Furihata menoleh kearah lain saat mengatakan kata-kata tersebut. Ia menggiggit bibir bawahnya, tampak benar-benar meragukan potensi dirinya.
"Hentikan itu! Aku tak ingin mendengar kau merendahkan dirimu sendiri!"
"Eh…?" Furihata menoleh kembali kearah pemuda bersurai merah yang tampak merengut dihadapannya dan memberikan tatapan heran.
"Aku takkan memilihmu kalau aku tidak percaya kau dapat melakukannya. Seperti yang kukatakan, aku ingin menjadi bagian dari hidupmu di masa depan." Suara Akashi terdengar tegas, meyakinkan Furihata bahwa ia tahu dia dapat mempercayainya."Karena itu, seberat apapun masalah yang akan kita hadapi kedepannya. Kita akan menghadapinya bersama."
Furihata terdiam setelah mendengar pernyataan Akashi yang penuh rasa percaya diri itu. Dia tak mengira Akashi akan menaruh harapan sebesar itu pada dirinya. Akashi yang selalu hanya mengandalkan dirinya sendiri.
Akashi yang kuat, yang absolut, yang selalu menjadi pemenang.
Namun Furihata memahami betapa rapuh ia didalam. Prestasi membanggakan yang sebenarnya menyelubungi perasaan gelisah karena takut ditinggalkan. Dia sulit membiarkan orang mendekatinya, sulit mengijinkan siapapun masuk kedalam relung hatinya karena tidak ingin merasakan kehilangan sekali lagi.
Orang yang seperti itu menaruh kepercayaan besar padanya tentu bukan hal yang mudah bagi diri Akashi.
Aku tidak ingin meninggalkannya…
"Seijūrō-san bolehkah aku membuat janji, padamu dan anak ini?" Furihata tersenyum lembut kearah Akashi dan membuatnya tertegun sejenak sebelum menganguk.
"Baiklah, aku mulai ya." Furihata mengangkat telapak tangannya dan menaruhnya di depan perut Akashi yang masih rata tertutup balutan seragam Rakuzan, mengelusnya perlahan.
"Dengar, aku tidak punya bakat dan kemampuan istimewa, bisa dibilang aku orang yang amat biasa-biasa saja." Furihata bergerak maju untuk meminimalisir jarak diantara dia dan Akashi. Sambil meneruskan kata-katanya iris cokelatnya memandang kearah tempat yang dielus telapak tangannya, meskipun ia tahu janin yang masih muda itu tidak mungkin memahami kata-katanya."Aku mungkin akan jadi suami dan ayah yang payah dan tak bisa diandalkan, tapi…"
Ia mengangkat wajahnya dan menatap Akashi dengan pandangan peuh determinasi namun juga lembut disaat bersamaan.
"Mulai saat ini tak peduli apapun yang terjadi, Aku takkan pernah meninggalkan kalian." Kata-kata Furihata yang penuh determinasi membuat perasaan hangat berdesir dalam dada Akashi.
"Kōki." Akashi kemudian menaruh telapak tangannya sendiri diatas milik Furihata. Seulas senyum yang amat jarang muncul di wajah sang 'bokushi' menampakkan kebahagiaan membuncah yang dirasakannya.
Cklik!
Terdengar bunyi jepretan kamera dan flash menyinari kedua sosok tersebut membuat mereka berdua terkejut dan mematung oleh kejadian tersebut.
"Ku-Kuroko?!" Seru Furihata buru-buru mundur karena terkejut, gugup dan malu.
"Apa yang kau lakukan Tetsuya?" Sedangkan Akashi memandang tajam kearah orang yang dijuluki phantom sixth man dari generation of miracle itu.
"Maafkan aku karena sudah mengganggu," Kuroko mengatupkan tangan diatas kepalanya. "Aku hanya sekedar diminta mengambil foto saja, silahkan diteruskan." Menyadari aura berbahaya dari arah Akashi, Kuroko mundur teratur, tidak mau terkena imbasnya.
"Ini semua ide Kise-kun." Lanjut remaja berambut biru langit itu menunjuk kearah sang idol dibelakangnya agar tidak menjadi target kemarahan Akashi yang sebentar lagi akan meledak.
"Teganya melempar kesalahan padaku, Kurokocchi!" Kise memprotes ketika menyadari Kuroko menuduhnya dan menggunakan misdirection untuk menghilang dari tempat tersebut.
"Hoo…Ryota rupanya…" Akashi menyeringai dan mengeluarkan gunting merah dari balik kemeja yang dikenakannya. Bersiap melemparkannya kearah Kise.
"Tu-tunggu, Akashicchi! Aku nggak ada hubungannya lho?! Semuanya ide Aida-san dan Mibuchi-san!" Pemuda bersurai kuning itu mundur ketika melihat mantan kaptennya hendak menyerangnya. Beberapa orang yang berdiri disekitar Kise langsung menyingkir.
"Tapi, Sei-chan foto ini jangan dihapus, ekspresi kalian terlihat natural sekali di sini." Mibuchi memutuskan untuk menengahi dan menunjukan hasil jepretan Kuroko yang barusan pada Akashi (Membuat Kise menarik nafas lega).
"Benar juga, sayang kalau dihapus. Kan bisa dimasukkan dalam album foto keluarga." Riko menambahkan saat melihat foto dari momen manis tersebut.
Keluarga…ya…
Bayangan Akashi menggendong balita yang mirip dengan mereka dalam pelukannya muncul dalam benak Furihata.
"Oi, Furihata, ada apa? Kok melamun?" Tanya Kagami saat melihat Furihata terdiam selama beberapa saat.
"Tidak…" Remaja bersurai cokelat itu menggeleng sebelum berjalan mendekati kerumunan tersebut.
Menurutku…itu tidak terdengar buruk
.
End of chapter 1
A/N: Sori…aq baru tahu kalo Furihata punya kk cwo (ada di Q&A rupanya)
