Kita Dijodohkan

Naruto Masashi Kishimoto

Chapter 2

Semua berjalan cepat. Tidak ada yang harus dipungkiri. Perjodohan ini nyata, tidak ada satu kata penolakan. Walau semua datang persis saat aku patah hati, mungkin Hinata juga.

Kebanyakan para pria sulit untuk mengungkapkan rasa cemburunya, jadi mereka lebih memilih untuk bertanya langsung. Jujur. Kepastian. To the point.

Masa masa sebelum tunangan merupakan masa pendekatan bagi kami yang dijodohkan. Aku juga harus lulus kuliah dulu. Teman teman dekat belum banyak yang tahu akan perjodohan ini. Jadi kami berinisiatif untuk tetap diam.

Hinata tidak banyak bicara. Peluang untuk membuka pembicaraan adalah nol persen. Aku sedang dikamarnya, terlentang santai di kasur untuk nonton tv, sedangkan Hinata sedang duduk dilantai dan menyandarkan punggungnya sambil membaca majalah seperti biasa. Aku membesarkan volume televisi dan meliriknya, oh shit dia tak bergeming. Seolah tak terganggu dengan kebisingan.

Suara televisi aku kembalikan normal, lalu merangkak mendekatinya.

"Hoi" aku menatapnya melalui atas kepalanya, dan suaraku aku buat buat seperti hantu. "Hi.. na.. ta…"

"Aigoo.."

"Keh, dasar maniak korea"

"B-biar saja"

"Ciuman mu tak sebagus mereka."

Aku meliriknya, dia memerah. "G-gomen."

"Untuk apa, lagian aku bisa mengajarimu"

Buagh!

"I-ittai .." Sepolos polos Hinata, dia masih menyimpan sisi kegelapan dalam dirinya. Cute side, 10%. Sweetness, 10%. Dark side, 80%.

Aku gak tau harus berkata apa lagi. Kalau diingat, setiap weekend aku sering berkunjung ke rumah Hinata. Sebagai laki-laki, berkunjung ke rumah perempuan itu rasanya seperti dentuman music big bang. Rasanya woowowwwooo!

"Ajarkan aku kissing"

H-Ha-Hahh?! "B-b-bakayaroo.." kadang aku tidak tau bagaimana cara menyikapi pemikiran wanita yang gampang terombang-ambing. "K-kau sudah jago kapan hari"

Jantungku apa tidak bisa berhenti berdetak. Woi! Gila, mati dong.

Gila. Kenapa dia tidak langsung bilang, Naruto ayo seks. Goblok kali, pikiranku kenapa seperti ini. Libidoku memuncak. Tau tau seperti ini, aku bakal langsung kuliah setelah lulus. Dewa batinku berfikiran kotor. Shit. Hinata masih menatapku dari bawah lalu beranjak naik keatas ranjang, menatapku sejajar.

"O-oke Hinata. Aku belajar ini dari internet."

"Aku kira kau otodidak."

"G-gila kali. Terus aku praktek dengan siapa, kamving."

Ini terlalu cepat sayangku. Aku tidak tau apa yang dia fikirkan, dia terlihat berbeda dari yang kapan hari. Tak biasanya dia begini. Yang jelas saja, ada sesuatu yang tidak aku ketahui mungkin. Atau ini ada hubungan dengan mantan kekasihnya.

"Kau— ah sudahlah."

Kenapa, kenapa aku harus marah. Tidak.. tidak, aku tidak marah. Mood ku sedang buruk saja hari ini. Dia hanya diam.

Aku pergi dari kamarnya, Neji berpapasan denganku ketika ingin keluar dari pintu depan. "Sudah mau pulang?"

"Hm, begitulah"

Tuan Hiashi memanggilku dari samping rumah, masih membawa bonsai dan gunting rumput di tangannya. "Kok buru-buru"

Celaka. Benda keramat itu ditangannya.

"E-eh, besok ada kelas pagi"

"Hoo begitu"

Aku mungkin saja sangat kenal dengan hinata, fisiknya sangat berbada dengan sifatnya.

Aku menuju mobil ku dan menyalakan mesinnya, sial, aku tidak bisa fokus saat menyetir.

Terkadang dewasa adalah salah satu yang kau nantikan, tapi kepekaan yang kau miliki akan menyiksamu. Memaksamu berfikir. Terkadang aku mikir juga, kenapa aku harus mikir. Kan ribet, seperti masalahku ini. Aku tidak pandai memberi kode atau semacamnya, jadi keahlianku adalah bertanya..

Tolong dong, itu doi jangan di kasih kode melulu. Gak semua orang pernah ikut pramuka.

Malah aku tidak pernah mengikuti klub-klub sepanjang masa sekolah menengah. Boro-boro mau memberi kode semacam anak pramuka. Hell yeah.

Tuh kan.

Makin dewasa malah mikir yang tidak penting. Konyol sekali.

Pagi harinya, aku menjemput Hinata. Aku diam dan dia seperti biasa ikutan diam. Tidak ada pembicaraan sampai kami tiba di parkiran kampus. Aku keluar dahulu dan membukakan pintu mobil. Beberapa anak melihat kami, dan anak-anak lain mengatakan sesuatu yang menjengkelkan untuk umur mereka,

"Ciee ciee berangkat bareng"

"Ciee ciee.."

Dasar kutil.

"Kita pisah disini, nanti aku akan ke kelasmu."

"Ho oh"

Perjodohan itu rumit. Oke, sahabatku Sasuke adalah mantan pacarnya. Terus aku harus gimana? Bertanya ke dia. No. wait, memang mereka pacaran?

Mahasiswa bergerombol ditaman belakang kampus, semacam sesuatu yang hangat tengah asik diperbincangkan. Kalau tidak Senior, Junior, Saingan, atau para Dosen. Oke dengar, para gadis dengan mulut cabai tidak akan membuat gossip tentng para senior, mereka terlalu stress memikirkan masa depannya. Junior, oh plis siapa yang peduli kecuali orang kurang kerjaan.

"Oi, kau sudah lihat fotonya"

"Bodo lah"

"Ini menarik hoii, mastah harem oii! Kamving ini anak.."

Sesuatu yang harem itu kurang menantang. Aku benci harem. Mereka itu cupu. Ah gila, peduli amat. Wanjay, kenapa mendadak jadi moody teenagers gini. Oke, tentu, aku sadar umur.

Tapi intinya.

Aku tidak tua.

Tidak. aku hanya tambah gede, bukan tambah tua.

Kelas sudah dimulai beberapa menit yang lalu, Hinata dibangku seberang deretan bangku atas. Sedangkan aku tepat dua bangku dibawahnya. Dosen memulai kelas, aku terfokus pada layar, memperhatikan, tanganku memegang pulpen, dan fikiranku kemana mana.

Sebenarnya aku mikirin apa sih. Ini gak penting banget untuk difikir, sumpah. Bodo lah. Arrrghh! Bangsaatt.

Oke. Aku khilaf, kalian semua suci aku penuh dosa.

Mata kuliah ini membuatku bawa perasaan. Sial. Membuat fikiran buruk berterbangan, merusak sistim kerja otak, jadi kepikiran, bikin keram otak.

Calm down, Naruto, stay cool. Oke siapa pria disebelahmu itu, mikir apa saja kau sampai tidak tau siapa dia. Kheh.

"Oke. Pertemuan selanjutnya kita lanjutkan esok hari"

Bagus. Lebih cepat berakhir lebih baik. Kelas berangsur sepi, sunyi, aku masih meletakkan kepalaku diatas meja. Malas malasan.

"Hoi."

Kamving. Siapa yang ganggu.

"Naruto."

Apa Sasuke.

"Jawab aku."

Hm.

"Soal. Foto yang tersebar itu—

Apa yang dia bicarakan. Sesuatu yang membuatku sedikit oleng dan hilang kendali, memasuki ragaku. Ntah sesuatu dari mana.

Buuaaghh!

Tanganku mengepal. Nafasku tidak teratur. Apa yang membuatku jadi seperti ini. Apa?! Dirinya atau gadis yang berlari menuju kami?!

Aku memukunya sekali lagi.

"Naruto, hentikan." Tanganku diraihnya. Tetap mengambang diudara. Hendak mengenai pipi Sasuke.

Kata-kata kasar ingin kulontarkan. Semacam, bajingan kau! Dasar kau biadab! Enyah kau! Modar saja kalau bisa! Atau mungkin, Kau tak ada bedanya dengan game Slither!

"N-narutoo.."

Aku beralih menatap Hinata, segera aku meraih balik tangannya dan menggandengnya keluar. Menuju parkiran. Aku diam, aku diam, dia menangis sesenggukan. Aku tidak tahu masalahnya. Dia tidak cerita, aku merasa dibodohi, sialan. Aku juga ingin marah kepadanya.

Kau fikir aku apa. Aku siapa mu?

Cukup! Hentikan tangis mu. Kau membuatku tidak sanggup.

"Aku antar pulang"

Aku menyuruhnya masuk. Sengaja aku tak menyalakan mesin mobil.

"Aaarrrghh!"

"N-naru. Gommen, Gommenasai. Marahlah padaku, aku mem—"

"Kau. Memang pantas. Selama apa yang kita lakukan, kau anggap ini main-main kah, Hinata? Kau pikir begitu. Jadi semua ini gak berguna."

"N-naruto—"

"Kau egois!"

Aku menyalakan mesin mobil. Tidak memikirkan seberapa kasar kata kataku. Dia memang pantas. Lalu, jika hubungan menuju rumah tangga ini ia anggap main main. Bagaimana jika kita sudah menjalaninya, jadi seperti apa? Rumah makan? Setelah singgah lalu pergi?

Tolong. Hatiku Cuma satu. Patahkan jariku saja.

Aku berhenti didepan rumah Hinata. Masih saling diam. Tidak ada yang ingin bersua selain angin dan gema petir. Aku keluar dari mobil, membukakan pintu untuk Hinata. Dia keluar, memelukku, erat.

"Naruto. I'm sorry. It's okay, I'm yours"

Kurang ajar! Selalu saja dia punya cara untuk bisa membuatku mencintainya. Merepotkan!

Jujur saja, "Aku gak pandai cemburu. Malahan, kalau kamu ninggalin aku, aku gak bisa apa-apa. Bisaku cuma mencintaimu."

.

.

.

.

.

Tbc

A/N: damn god! Gommen bgt updatenya lama. Makasih yang udah fav/alert gue doain kalian semua sukses. Keep review, jangan lupa mikir uts :3

Sedikit inspirasi dari Pidi-Baiq.

Ana: Btw makasih yg udah suka fic jodoh-jodohan. Awkw.

Guest: Sasu disini mantan nya

Neko: Kamving, gue bukan om lu_-

Keep review, ok.