Rumah sederhana yang sudah kutinggali bersama suami tercinta, kujadikan tempat kerja sukarelawanku dalam rangka menyelamatkan para karakter yang dianiaya oleh sekutil penulis sinting yang tak perlu disebutkan namanya. Tak kusangka, klien pertamaku ternyata adalah anakku sendiri.
"Bu, aku tidak terima." Belum kutanya apa unek-uneknya, dia sudah curhat duluan. Memang inisiatif sekali anakku ini. "Masa genderku diotak-atik seenak udel dia?"
"Hm. Ibu sempat mengira dia akan membuatmu permanen perempuan."
"Beribu pembaca di luar sana juga mengira begitu! Dia menuliskan seolah aku memang sudah menikmati hidupku sebagai anak yang kehilangan burungnya!" Naruto menendang meja dengan kesal. "Eh dia malah membuatku kembali jadi ganteng. Ya bagus sih, aku memang ingin begitu. Tapi dia pikir burung itu apaan? Aksesori yang bisa dilepas-pasang?!"
"Padahal Ibu sudah pasrah dan senang kalaupun kamu tetap jadi perempuan. Kau cantik dengan rambut dipanjangkan."
Eh, keceplosan.
"IBU!"
