Nijimura dan Akashi tidak bertemu lagi sejak hari itu, sejak Nijimura melontarkan pertanyaan tentang Mayuzumi Chihiro dan Akashi menjawabnya dengan suara tegas.

( "Chihiro adalah orang yang sangat berharga untukku. Dan aku bahagia bersamanya." )

.

.

.

.

.

sequel of One Day in Spring

One Day in Winter © 100% cocoa

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Pairing: NijiAkaMayu

Rating: T+

Warning: future setting, possible OOCness, mature themes, timeskips, angst.

.

.

.

.

.

Nijimura dan Akashi tidak bertemu lagi sejak hari itu.

Namun, hal itu bukan berarti mereka kehilangan kontak dan tidak bertegur sapa sampai berhari-hari. Nijimura dan Akashi masih rajin bertukar pesan, baik hanya untuk sekedar menanyai kabar atau membicarakan berbagai macam topik yang seperti tidak ada habisnya. Bahkan terkadang di sela-sela kegiatan saling mengirim email, mereka menyisipkan attachment berupa foto—sesuatu yang termasuk jarang untuk seorang Akashi Seijuuro.

Kegiatan saling bertukar foto dalam email ini berawal sejak Nijimura mengirimkan foto adik perempuannya yang cemberut; mengerucutkan bibir dan terlihat sebelas dua belas dengan sang kakak. Kemudian foto-foto beragam lainnya pun Nijimura sesekali kirimkan, seperti foto nasi goreng buatan pria itu yang terlihat biasa saja namun sepertinya menggugah selera, dan pernah sekali mantan kapten klub basket Teikou itu mengirimi mantan wakil kaptennya foto jersey seragam basket bernomor punggung empat miliknya yang berukuran jauh lebih kecil dibanding ukuran tubuh pria itu sekarang. Akashi tidak bisa menahan senyumnya saat menerima foto tersebut.

Lain halnya dengan Akashi, yang seringkali mengirimkan foto-foto yang berkaitan dengan pekerjaan. Misalnya meja kerja di ruang kantornya yang penuh lembaran-lembaran kertas—baik itu laporan, surat pernyataan, atau dokumen-sangat-rahasia-dan-lain-lain yang pastinya membosankan dan terkesan bapak-bapak sekali. Untuk beberapa kali juga Akashi pernah mengirimkan foto sampul depan buku-buku berat yang CEO muda itu baca pada waktu senggangnya. Nijimura melempar komentar 'dengan selera bacaanmu yang seperti itu, aku tidak terkejut kalau umurmu ternyata lebih tua dari ayahku'.

Dan foto yang juga tergolong sering dikirim oleh pria bersurai merah itu adalah foto ruang kosong di sisi seberang papan shogi-nya, dengan bidak-bidak yang sudah memencar kemana-mana dan pesan yang tertera pada email-nya berbunyi, tebak siapa lawan mainku kali ini?

(Dan Nijimura selalu tersenyum geli, terkadang kelepasan tertawa saat membuka pesan-pesan dari mantan kouhai-nya itu, membuat adik-adiknya saling bertukar pandang dan mengangkat alis, Juuzo menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti 'Aniki sedang kirim-kiriman selfie?')

Karena itu Akashi mencoba untuk berpikir positif: Hubungan mereka masih baik-baik saja, alasan kenapa Nijimura tidak bisa menemui dan mengajaknya makan siang seperti hari-hari yang lalu bukanlah karena pria itu menghindarinya. Bukan karena Akashi telah menyatakan dengan gamblang bahwa dirinya dan Mayuzumi adalah sepasang kekasih. Hal ini cuma kebetulan.

Nijimura juga sudah jelas-jelas memberi tahunya bahwa ia sedang sibuk mencari kerja. Pria itu bilang ia tidak mau hanya menganggur di rumah saja setiap hari dan memberi contoh buruk pada adik-adiknya—selalu ingin menjadi panutan yang baik dan kakak yang bertanggung jawab.

Akashi dapat dengan mudah memasang topeng di balik kekecewaannya. Ia menjalani hari-harinya yang kembali monoton sebagai Direktur Utama, harus membiasakan diri lagi untuk menjalaninya tanpa kehadiran Nijimura yang membuat hatinya kacau sekaligus hangat secara bersamaan, setiap mereka makan siang bersama atau berbagi cerita di sela-sela menyeruput teh hangat.

.

.

.

Mayuzumi Chihiro adalah orang yang observan—tidak sulit baginya untuk mengaitkan ekspresi kekasihnya yang dari hari ke hari semakin meredup dan raut wajah kecewa pria bersurai merah itu setiap ia berkutat dengan ponselnya akhir-akhir ini, dengan sosok Nijimura Shuuzo yang absen pada jam istirahat kekasihnya itu di kantor.

Dadanya terasa sedikit sesak—hanya sedikit, pria itu meyakinkan dirinya—namun tentu saja Mayuzumi tidak akan pernah mengakui hal tersebut.

Pria itu dapat dengan mudah mengabaikan perasaan tidak nyaman ini, sesak yang dirasakannya ini. Mudah baginya untuk bersikap apatis, karena memang begitulah sifatnya sejak dulu, bukan?

Tapi kalau benar satu-satunya cara untuk membuat Akashi berhenti murung seperti ini adalah dengan mempertemukannya dengan Nijimura, Mayuzumi tidak tahu harus berbuat apa.


Pada suatu malam di minggu ketiga bulan Desember, Akashi menerima email dari Nijimura yang berisi aku tidak melakukan apa-apa besok sore, kalau jadwalmu kosong mungkin kita bisa bertemu dan mengobrol lagi? kalau kau mau.

Wajah Akashi yang berubah cerah sedikit demi sedikit dapat terlihat dengan jelas dari tempat Mayuzumi berdiri, dan tidak sulit bagi pria itu untuk mengetahui siapa pengirim email yang dapat dengan mudahnya membuat Sei-nya memasang ekspresi bahagia seperti ini.

Seharusnya ia senang melihat senyum kecil yang melengkung di bibir mungil itu—tapi nyatanya, sama sekali tidak.

Mayuzumi sudah tidak tahan lagi.

Dan dengan begitu saja, bibirnya langsung mengucap tanpa berpikir, "Suatu saat kalau kau akan meninggalkanku, saat niat itu sudah terlintas di kepalamu peringatkan aku sebelum hal itu benar-benar terjadi."

Ruangan yang telah menjadi kamar tidur mereka bersama selama berbulan-bulan itu seketika hening.

Akashi yang sedang duduk di tepi ranjang langsung menghentikan kegiatan mengetiknya, mengangkat kepalanya dari layar di ponsel. Suaranya terdengar tenang saat membalas, "Apa katamu?"

Yang ditanya hanya mengancingkan kemeja putih yang dikenakannya, tidak membalikkan badan untuk bertemu muka dengan Akashi. "Aku rasa aku sudah cukup jelas tadi."

"Kau bercanda?"

Kali ini baru ia membalikkan badan. "Apa aku terlihat seperti sedang bercanda, Sei?"

Akashi segera menutup ponsel flip miliknya—email Nijimura bisa dibalas nanti. "Aku tidak ingat sejak kapan kau menjadi cemburuan seperti ini."

"Aku juga tidak ingat kapan terakhir kau terlihat senang—bahagia, bahkan—seperti ini, setidaknya karena disebabkan olehku."

Tatapan Akashi melunak. Ia memandang lurus manik-manik kelabu milik kekasihnya dan ia berpikir, sejak kapan ia menjadi terbiasa memandang manik abu-abu yang bukan milik kekasihnya itu? Terbiasa memandang surai hitam belah kiri milik Nijimura yang diterpa angin saat mereka berjalan berdampingan di kota, bukannya surai kelabu milik Chihiro-nya yang menemani dan mendekapnya setiap malam?

Dengan nada tenang yang sama ia berkata, "Nijimura-san adalah teman yang berharga sekaligus senpai yang kuhormati. Masih, sampai sekarang."

Tapi balasan Mayuzumi tidak setenang yang ia harapkan. "Orang itu menghilang, berapa? Sepuluh tahun? Dari hidupmu dan begitu dia kembali, dengan mudahnya dia membuatmu tersenyum seperti ini?" Kemudian dengan penuh penekanan, ia melanjutkan, "Kalian bahkan tidak bertatap muka sekarang."

"Sesedikit itukah rasa percayamu padaku, Chihiro?" Alis-alis merah Akashi bertemu, dan pria itu mencoba untuk tidak meninggikan suaranya—sekarang sudah malam, ia sudah lelah berkutat di dalam kantor seharian, dan Akashi sangat ingin menyelesaikan semua ini secepatnya tanpa perdebatan panjang. "Kau pikir aku akan berpaling darimu semudah itu? Kau pikir aku akan hilang minat darimu semudah itu?"

"Entahlah, Sei," balas Mayuzumi dengan suara yang mengingatkan Akashi bahwa mereka berdua sama-sama lelah. "Tapi kalau kau terus tersenyum seperti itu karena orang itu, mungkin saja. Kalau kau ingin bahagia dengan orang itu..." Mayuzumi menggeleng lemah. "Terserah. Kalau kau memang mau, silahkan saja."

"Chihiro—"

"Aku tahu ada sesuatu di antara kalian saat masih di Teikou dulu, sesuatu yang bahkan aku tidak bisa memasukinya," sela Mayuzumi tajam, mengangkat kedua tangannya dan menenggelamkan wajahnya di telapak. "Aku tahu di matamu aku tidak sebanding dengan Nijimura. Baru-baru ini aku menyadari hal itu."

Akashi membelalakan matanya, sangat ingin menangkis kata-kata kekasihnya karena itu tidak benar, kau salah besar, kenapa kau bisa-bisanya berpikir seperti itu.

Namun yang terucap dari bibirnya adalah kata-kata yang sangat berbeda.

"Kalau memang ada sesuatu—dan masih ada sampai sekarang—apa kau akan merelakanku begitu saja?"

Jeda.

Mayuzumi masih menolak untuk bertemu mata dengannya.

"Kau akan meninggalkanku begitu saja, karena aku bahagia dengan orang lain?" Lanjut Akashi lagi dengan suara bergetar, karena sesak yang daritadi dirasakannya kini semakin menjadi-jadi. "Dengan siapa pun itu. Selain Nijimura-san."

Dan saat Mayuzumi mendaratkan pandangannya pada Akashi, suaranya kembali terdengar datar seperti nada bicaranya yang biasa, namun tatapannya yang terluka sama sekali tidak bisa disembunyikan.

"Asal kau bahagia."

Akashi memejamkan matanya rapat-rapat.

Sakit.

.

.

.

Akashi tahu kalau kekasihnya bohong.

Seorang Mayuzumi Chihiro tidak akan menyerahkan apa yang telah menjadi miliknya begitu saja.

Ia orang yang egois, yang mengedepankan kepentingan diri sendiri dan tidak ambil pusing tentang keadaan orang lain—Mayuzumi tidak akan menyerahkan Akashi begitu saja, bahkan tidak sekalipun jika kekasihnya itu benar-benar masih menyimpan rasa dan ingin kembali bersama Nijimura Shuuzo.

Tapi benarkah itu?

Mayuzumi sudah berubah sekarang, semua orang berubah—menjadi lebih dewasa, lebih bertanggung jawab, lebih berpikiran panjang, lebih mempedulikan orang lain. Sepuluh tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk merubah sifat seseorang, dan hal itu membuat Akashi sedikit resah karena tidak ada jaminan bahwa Mayuzumi tidak akan benar-benar meninggalkannya. Kekasihnya itu bisa saja meninggalkannya agar ia dapat bahagia dengan orang lain.

Akashi susah tidur malam itu—asal kau bahagia, suara Mayuzumi terus menerus terngiang di kepalanya.

Pria berambut kelabu itu berbaring di samping dan membelakangi dirinya, dan Akashi merasa sprei tempat tidurnya malam ini terasa sedikit terlalu dingin dari biasanya. Mayuzumi yang sudah terlelap sama sekali tidak berinisiatif untuk membagi kehangatan tubuhnya, tentu saja.

Saat Akashi memejamkan mata dan mencoba untuk tidur, entah yang keberapa kalinya pada malam itu, yang terlintas di kepalanya adalah,

Kenapa mudah sekali bagi orang-orang untuk meninggalkanku?


Esok sore saat Akashi bertemu dengan mantan kakak kelasnya setelah tidak bertemu berhari-hari—dan terlambat, tentu saja, entah mengapa kebiasaan buruknya yang satu ini sulit sekali untuk dihilangkan—Nijimura mengerjap dua kali sebelum berdiri dari kursinya dan bertanya, "Kau kenapa?"

Kenapa apanya adalah yang Akashi hendak tanya balik, ia sangat yakin wajahnya netral seperti biasa. Tidak menyisakan apa pun tentang kejadian semalam, lagipula dirinya tidak semudah itu untuk dibaca, kan?

Karena itu Akashi memilih untuk diam.

Kemudian Nijimura tersentak, seperti baru tersadar akan sesuatu. "A-ah gomen, hanya saja rasanya... Kau seperti sedang sedih. Poker face-mu masih sempurna, tenang saja, tapi..." Alis-alis hitam itu bertaut, "Err, auramu terasa seperti sedang murung, kau tahu?"

Saat Akashi masih menatapnya dalam diam, Nijimura melambaikan satu tangannya—mengisyaratkan Akashi untuk melupakan kata-katanya barusan—sebelum kembali duduk, "Gomen. Pasti aneh mendengarku mengoceh seperti ini—"

"Nijimura-san masih perhatian seperti dulu, ya," Akashi tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Ia duduk di kursi kosong di depan Nijimura dan melanjutkan, "Kau selalu tahu kalau aku sedang ada masalah. Entah bagaimana caramu melakukannya, tapi entah kenapa... Aku senang. Terima kasih."

Mata Nijimura melebar, dengan semburat merah yang sangat tipis menghiasi wajahnya. Mantan kouhai-nya itu benar-benar harus berhenti tersenyum di hadapannya. "Ya sudahlah—apa pun itu, lupakan saja, kita bersenang-senang untuk sekarang ini, oke? Kita bisa jalan-jalan berkeliling hari ini, atau menemui Klub Shogi yang kau ceritakan waktu itu untuk menantang semua kakek-kakek yang ada di sana. Permainan shogi-mu pasti semakin hebat sekarang, kan?"

Kemudian tatapan pria itu melunak, kemudian mengusap tengkuk lehernya yang tidak gatal, "Tapi kalau kau mau, kau bisa ceritakan apa pun itu padaku. Aku ada di sini untuk mendengarkan."

Akashi mengangguk, menggumamkan terima kasih dengan suara pelan, menundukkan wajah karena ia sangat tidak ingin memperlihatkan wajahnya yang pasti sudah memerah sekarang pada Nijimura.

Hangat.

Sedikit sesak, tapi hangat.

.

.

.

Keduanya saling bertukar cerita seperti yang mereka lakukan di pertemuan sebelumnya, tentang kerja kecil-kecilan Nijimura di sebuah restoran cepat saji yang tidak jauh dari sekolah adik-adiknya. Dan bagaimana ia masih harus beradaptasi dengan Jepang sebelum mencari pekerjaan serius karena kebiasaan yang dipungutnya dari LA selama bertahun-tahun ini masih sulit untuk ditinggalkan, yang ditakutkan malah akan membawa masalah di lingkungan kerja barunya nanti.

Akashi mendapati dirinya tersenyum lagi saat Nijimura bercerita tentang pekerjaan barunya dengan semangat, ("Yang jelas, apa pun untuk mendukung dan menafkahi keluargaku... Aku sangat menyayangi mereka.") Dan mereka hanya mengemil sedikit karena perut keduanya masih terisi oleh makan siang masing-masing.

Kedua pria itu kemudian memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar, Nijimura membandingkan jajanan yang ditemuinya di sepanjang jalan Kota Tokyo dengan cemilan Amerika yang rata-rata junk food semua, dan Akashi tidak sengaja—mungkin reflek—menegurnya dengan, "Itu tidak baik untuk kesehatan, Nijimura-san."

Dan mungkin Nijimura juga reflek, tidak sengaja mengangkat tangannya untuk mengacak surai merah Akashi yang masih rapi sepulang kerja, dan membalas dengan cengiran lebar, "Aku kangen sekali omelanmu yang macam ibu-ibu seperti itu."

Mengacaukan ritme jantungnya lagi dan lagi.


Bangku taman yang mereka duduki masih terasa dingin karena sisa-sisa salju tadi pagi. Akashi membuka mulutnya, berkata dengan suara pelan, "Kami terlibat... Perdebatan kecil semalam." Tidak kecil, batin Akashi, karena Mayuzumi bisa saja benar-benar meninggalkannya setelah pernyataan pria itu tadi malam.

"Dan mungkin itu membuatku kepikiran terus. Hanya itu saja, bukan masalah serius—aku juga sedang sedikit lelah karena pekerjaan di kantor semakin banyak."

Akashi tidak tahu menceritakan hal ini pada Nijimura adalah langkah yang benar atau tidak, tapi ia sudah tidak peduli lagi.

Nijimura mengangguk, terlihat seperti sedang berpikir sejenak. "Si Mayuzumi Chihiro itu? Tapi hubungan kalian baik-baik saja kan? Aku tahu kau itu orang yang tidak mau kalah, mengaku salah saja susahnya minta ampun—"

"Nijimura-san.."

"—Tapi setidaknya kalian jangan saling mendiamkan satu sama lain. Aku tahu kau itu tipe yang memberi silent treatment sampai keterlaluan kalau sedang marah, Akashi. Dan kau pasti menunggu Mayuzumi untuk minta maaf duluan."

"..." Akashi mengatupkan kembali mulutnya yang terbuka, tidak jadi melanjutkan protesnya.

Setelah sepuluh tahun tidak bertemu, kenapa ia masih merasa mengenal dekat Nijimura?

Apa wajar baginya untuk merasa akrab seperti ini?

"...Nijimura-san memang luar biasa."

"Hah?"

"Bukan apa-apa," balas Akashi sambil tersenyum. "Mungkin memang aku yang harus meminta maaf duluan. Tapi kalau Chihiro mendahuluiku untuk minta maaf, ya, bukan masalah."

Nijimura mengangkat tangan kanannya dan menyentil dahi pria bersurai merah itu, mencibir, "Dasar bocah."

Dan Akashi tertawa kecil saat Nijimura melanjutkan, "Mayuzumi sepertinya orang yang baik, entahlah, aku tidak terlalu mengenalnya... Tapi jangan terlalu sering menyiksanya, Akashi. Kasihan."

Setelahnya Nijimura meminta Akashi untuk menemaninya membeli kue mochi titipan adik perempuannya, dan Akashi menerima ajakan pria itu karena ia belum ingin pulang. Lebih tepatnya, ia masih ragu untuk menghadapi Mayuzumi yang tingkahnya semakin dingin sejak kemarin.

Setelah selesai membayar di kasir dan melangkah ke luar toko, Nijimura menatapnya lekat-lekat, berkata, "Akashi, soal Mayuzumi..."

"Ya?"

"Kau bahagia dengannya, kan?"

Dan Akashi tidak perlu berpikir dua kali untuk menjawab, "Tentu saja." Chihiro adalah segalanya bagiku.

Nijimura tersenyum. Akashi membalas senyumnya lagi.

.

.

.

Akashi tidak henti-hentinya berpikir kenapa senyum Nijimura terlihat sangat terpaksa waktu itu.


Pria itu menarik mundur wajahnya, menghirup oksigen dengan rakus sebelum maju sekali lagi untuk melanjutkan ciuman panasnya dengan Mayuzumi, merasakan lengan-lengan pria itu mempererat pelukannya pada pinggang ramping Akashi.

Seperti yang diperkirakannya, Mayuzumi-lah yang meminta maaf duluan. Masa bodoh dengan harga diri kalau pria bersurai abu-abu itu terancam kehilangan kekasihnya. Pria itu mungkin tidak pernah mengucap kata cinta, tapi ia bukan orang bodoh yang akan menyerahkan Akashi begitu saja. Ia tidak akan menyerahkan Akashi begitu saja, tidak setelah mereka menjalani hubungan abstrak yang sama sekali tidak buruk ini sejak dua tahun terakhir.

(Dan entah mengapa ia merasa Akashi-lah yang lebih terluka karena perdebatan semalam, karena kata-katanya semalam. Membuat Mayuzumi sedikit frustasi karena selama ini dirinya-lah yang lebih memendam sakit, yang terbakar cemburu dalam diam—tapi kenyataan bahwa Akashi yang sudah rapuh semakin terluka akibat pernyataan menyerahnya membuat pria itu lebih frustasi dari apa pun.)

Kesampingkan hal menyuramkan tadi: Make-up kiss setelah mereka berbaikan ini rasanya sangat... Ah, pokoknya Mayuzumi tidak punya alasan untuk protes.

Akashi juga mengakui kesalahannya, mengatakan bahwa tadi malam ia dalam keadaan lelah dan mungkin lebih sensitif dari biasanya. Dan setelah penjelasan panjang lebar mengenai Aku Bahagia Bersama Chihiro dan Aku Tidak Akan Meninggalkanmu yang mungkin sanggup untuk dijadikan lima lembar esai, Mayuzumi melumat bibir mungil Akashi (sebenarnya untuk membuat pria yang lebih pendek itu diam).

Lalu Akashi memperdalam ciumannya, mengalungkan tangan-tangannya di leher sang kekasih dan keduanya terlibat ciuman yang sangat seru—sampai-sampai jatuh ke sofa di depan televisi, tapi baik Akashi maupun Mayuzumi tidak ada yang mau berhenti.

Setelah menyudahi aktivitas dan mencoba kembali bernafas dengan teratur, Mayuzumi bertanya dengan datar yang entah mengapa terdengar sedikit tajam, "Apa kau juga minta maaf karena usulan Nijimura?"

Pria yang menyandang posisi CEO dari Akashi Conglomerate itu ingin sekali menjitak kepala kekasihnya yang kalau bicara terlalu blak-blakan dan to the point, tapi ia cukup mengangkat satu alis dan menjawab, "Nijimura-san bilang kau sepertinya orang yang baik, dan aku tidak boleh sering-sering menyiksamu. Kupikir tidak ada salahnya untuk mengikuti saran senpai-ku yang terpercaya."

"Yang barusan itu aku yakin sekali kau sengaja membuatku cemburu," balas Mayuzumi sambil menggigit bibir kekasihnya gemas. Akashi menjauhkan wajahnya tidak suka. Penolakan seperti itu tidak apa-apa, karena mereka sudah berbaikan, dan Mayuzumi punya firasat kalau ia akan begadang melakukan olahraga ekstra malam ini. "Dan kau menemui Nijimura untuk curhat tentangku? Haruskah aku merasa cemburu lagi, atau malah senang?"

Akashi mengecup bibirnya lagi, menjawab dengan nada bicara lembut yang jarang digunakannya, "Jangan konyol."

(Nada bicara lembut yang ia gunakan lagi setelahnya pada malam itu, saat larut dalam kenikmatan dan nyaman dalam dekapan hangat sang kekasih, menggumamkan Chihiro, Chihiro, Chihiro.)


Nijimura tidak terlihat lagi sejak hari itu.

Akashi sangat tidak menyukai perasaan déjà vu yang melandanya.

Email-email yang ia kirimkan pada Nijimura hampir selalu terlambat dibalas, bahkan sampai lewat berhari-hari. Akashi terus meyakinkan dirinya kalau pria bersurai hitam itu sedang disibukkan oleh pekerjaan barunya, atau hal-hal penting lainnya yang Akashi tidak ketahui, entahlah. Lagipula hubungan mereka hanyalah sebatas teman lama, garis bawahi itu.

Akashi mungkin tahu kebiasaan Nijimura untuk mengusap tengkuk lehernya saat sedang menyembunyikan rasa malu, atau bagaimana pria itu mengerucutkan bibirnya saat sedang berpikir keras... Atau hal-hal kecil lainnya, seperti posisi jari telunjuknya saat ia hendak men-dekopin Akashi, atau bagaimana ia tersenyum lebar sampai gigi-giginya kelihatan, membuat wajah tampan itu terlihat lebih muda dari usia sebenarnya.

Banyak hal yang ia ketahui tentang Nijimura Shuuzo, namun secara bersamaan, tidak banyak yang ia ketahui tentang pria itu.

Belum lagi firasat buruk yang terus menghantuinya sejak mereka berpamitan di depan toko kue pada hari terakhir mereka bertemu.

Di samping itu, hubungan Akashi dengan Mayuzumi berjalan baik-baik saja. Kalau boleh jujur, absen Nijimura yang sekarang kurang lebih membuatnya lebih dekat dengan sang kekasih, dan Akashi berkali-kali meyakinkan dirinya kalau ini adalah hal yang baik.

(Seseorang berbisik di kepalanya, kau lebih baik tanpa Shuuzo, ini yang terbaik untuk kita semua, dan Akashi mengabaikan pemilik mata dwiwarna itu seperti biasa.)

.

.

.

Masalah yang Akashi miliki selain Nijimura yang kembali menghilang adalah perusahaan pesaing lamanya yang sedang naik daun akhir-akhir ini.

Hal tersebut termasuk biasa—bukan Akashi Conglomerate namanya kalau tidak terlibat dalam persaingan. Bukan Akashi juga namanya kalau tidak unggul dalam persaingan tersebut, kalau tidak menjadi yang terbaik.

Yang kalah dan yang bukan nomor satu tidak pantas menyandang nama Akashi.

Melejitnya Sanada Group yang bergerak di bidang yang sama dengan perusahaannya cukup membuat sang ayah sekaligus Founder, Akashi Masaomi yang statusnya sudah pensiun menjadi uring-uringan. Pasalnya, Group yang sudah lama bersaing dengan perusahaan yang dibangun oleh Akashi Senior itu tidak menampakkan keistimewaan apa pun saat sang senior masih menjabat sebagai CEO. Namun kali ini, setelah Akashi Conglomerate berada di bawah kekuasan sang penerus Akashi Seijuuro, perusahaan tersebut sudah semakin berkembang dan membuat persaingan menjadi semakin ketat.

Mungkin Dewi Fortuna tengah berpihak pada Sanada Group. Mungkin roda kehidupan telah berputar dan telah tiba saatnya bagi perusahaan tersebut untuk berjaya. Mungkin kerja keras yang dilakukan oleh para pekerjanya mulai membuahkan hasil. Dan kemungkinan-kemungkinan lainnya yang terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu.

Mungkin Akashi Seijuuro lengah sebagai Direktur Utama, mungkin pemimpin baru Akashi Conglomerate tidak menjalankan tugasnya dengan benar. Mungkin, mungkin, dan mungkin. (Atau begitulah pendapat Akashi Masaomi.)

Kegagalan tidak akan dimaafkan, Seijuuro, ucap pria paruh baya itu saat mereka tengah sarapan bersama di kediaman Akashi, dua hari setelah ulang tahun sang anak. Ingat kalau kau bekerja untuk perusahaanku, bisnis ini belum jadi milikmu sepenuhnya, dan hal itu tidak akan terjadi kalau kau tidak bisa menjalankannya dengan benar.

Setelah melewatkan ulang tahunnya—yang tentu saja tidak dirayakan, Akashi merasa sudah terlalu tua untuk hal semacam itu—yang diucapkan pertama kali oleh sang ayah saat mereka bertemu adalah kegagalan tidak akan dimaafkan.

Tipikal sang ayahanda.

Usaha Mayuzumi untuk menculiknya ke Kyoto tidak berhasil karena kekasihnya itu harus lembur seminggu penuh—mencari tahu tentang seluk beluk Sanada Group setelah perkembangan pesatnya dalam setahun terakhir, serta posisi dan kekuatannya yang sekarang dalam dunia bisnis, mencari kelemahan apa pun yang dapat digunakan untuk mengunggulinya—namun Akashi sangat menghargai usaha pria itu untuk menghiburnya.

(Mayuzumi melakukan banyak hal untuk menghibur kekasihnya yang tengah dilanda stres berat, namun Akashi tahu betul bahwa mau bercinta senikmat dan sesering apa pun juga, perusahaan saingannya itu tidak akan bangkrut begitu saja.

Tapi usaha Mayuzumi dan bakatnya dalam seks patut diacungi dua jempol.)


Akashi mendapati kaki-kakinya berhenti melangkah di depan Toko Buku Kiino—toko buku langganan Mayuzumi yang sekaligus merupakan tempat pertemuan pertamanya dengan Nijimura setelah tidak bertemu sepuluh tahun—dan tiba-tiba saja, perasaan itu melandanya.

Masalah yang semakin bertumpuk, yang membuat frustasi dan lelah dan kegagalan tidak akan dimaafkan—semua yang dialaminya dalam dua minggu terakhir entah bagaimana berujung pada kerinduan yang amat sangat.

Ia merogoh kantung di bagian kanan jaket tebalnya—hawa dingin di luar semakin menusuk mendekati akhir bulan—mengeluarkan ponsel dan menekan berbagai tombol untuk membuka kotak masuk surat elektroniknya.

Dan melihat nama itu tertera di sana.

[ 20/12 09:11 AM

FROM: Nijimura Shuuzo

SUBJECT: otaome

selamat ulang tahun akashi! semoga apa pun yang kau inginkan tercapai, maaf tidak punya hadiah untukmu (lagipula kau sudah bukan anak kecil lagi kan?)

entah kenapa aku punya firasat kau sedang bekerja terlalu keras... awas kalau kau sampai jatuh sakit, dasar bocah tidak tahu diri ]

.

.

[ 20/12 09:17 AM

TO: Nijimura Shuuzo

SUBJECT: RE: otaome

Terima kasih. Aku terkejut kau masih mengingat ulang tahunku.

Tidak perlu repot-repot memberiku hadiah, tapi, apa kau punya waktu untuk minum kopi bersama, mungkin? Traktiranku. ]

.

.

[ 21/12 11:03 AM

FROM: Nijimura Shuuzo

SUBJECT: gomen

maaf, tapi aku benar-benar sedang sibuk. mungkin lain kali, ne? ]

.

.

[ 21/12 11:07 AM

TO: Nijimura Shuuzo

SUBJECT: RE: gomen

Tidak apa-apa. Maaf sudah merepotkan. ]

.

.

.

Sudah lewat seminggu lebih sejak tanggal yang tertera, dan tidak ada pesan masuk lainnya dari Nijimura.

Akashi tidak perlu meyakinkan dirinya bahwa ia bahagia dengan Mayuzumi—ia tahu bahwa ia bahagia bersama pemilik surai abu-abu itu.

Tapi yang paling ia inginkan sekarang adalah bertemu dengan Nijimura. Merasakan kehangatan itu lagi, melihat mantan senpai-nya tersenyum lagi, mengacak rambutnya, menyentil dahinya, apa pun itu, hanya untuk kali ini—

Ibu jarinya menekan keypad ponselnya dengan cepat, mengetikkan sebuah pesan pada lembar email baru yang isinya sama—lagi-lagi untuk mengadakan pertemuan dengan Nijimura, untuk bertemu dengan Nijimura—namun setelah tertegun selama beberapa detik, Akashi memutuskan untuk tidak mengirimnya.

Ia sudah belajar dari pengalaman—jangan mengatakan hal yang tidak perlu.

[ SENDING CANCELLED. SAVE MESSAGE IN DRAFT? ]


Jarum-jarum pada jam di dinding menunjukkan angka setengah tujuh malam dan Akashi tengah memeriksa data-data pemberian Hanabusa saat telepon genggamnya bergetar.

Kebanyakan orang sudah libur dan mengambil cuti mendekati akhir tahun, tapi tidak untuk dua orang ini.

"Apa itu Mayuzumi-kun?" Pertanyaan wanita itu dibalas dengan anggukan singkat. "Lebih baik kau mengangkatnya, siapa tahu ada hal penting."

"Sifatmu yang selalu mengidolakan Chihiro masih merupakan misteri bagiku."

"'Mengidolakan' itu berlebihan," balas Sekretaris Akashi Seijuuro itu sambil menata ulang kertas-kertas bawaannya. "Dia pria yang baik. Dan wajahnya menggemaskan, mirip anak sulungku."

"Menggemaskan," Akashi berharap ia salah dengar.

Hanabusa tersenyum simpul dan melangkah pergi, membungkuk dengan "Aku permisi, Akashi-sama," dan suara hak sepatunya menggema saat ia melewati lorong di luar ruangan kerja Akashi yang sepi.

Pria itu menerima panggilan dan mendekatkan ponselnya pada telinga, seraya menyandarkan punggungnya yang mulai kaku pada kursi besar tempatnya duduk, dan memejamkan matanya sebentar.

"Moshi moshi—"

"Apa kau bertemu dengan Nijimura lagi akhir-akhir ini?"

Pertanyaan yang baru saja diluncurkan Mayuzumi seketika itu juga membuat dahinya berkerut tidak senang. "Tidak. Memangnya kenapa?" Kenapa mengungkit itu sekarang?

"Bagus," balas Mayuzumi terdengar lega, entah mengapa, dan hal itu membuat Akashi sedikit kesal. Mungkin tidak sedikit. "Untuk seterusnya jangan bertemu dengan orang itu lagi."

Apa-apaan?

"Maaf, tapi apa kau bisa ulangi yang tadi itu sekali lagi? Chihiro," balas Akashi tajam.

"Aku serius."

"Kau memerintahku?"

"Tolonglah, Sei, ini untuk kebaikanmu. Aku punya alasan sendiri," suara Mayuzumi terdengar seperti sedang berada di ambang frustasi, mungkin memang benar, namun Akashi tidak menggubrisnya. Mau apa pria itu seenaknya saja melarang Akashi untuk bertemu dengan Nijimura, yang membalas email-nya saja sudah tidak pernah?

Seperti dengan sengaja membubuhkan garam pada luka yang sudah cukup perih tanpa garam sekalipun—seperti mengejeknya.

Kekesalan Akashi seperti terus bertambah seiring dengan berdetaknya jarum jam yang melewati tiap detiknya, dan entah kekesalan yang dirasakannya adalah akibat kelelahan bekerja, atau karena yang sedang mereka bahas adalah Nijimura Shuuzo.

"Kalau aku menjelaskannya dengan panjang lebar, kau pasti tidak mau dengar," suara Mayuzumi kembali terdengar saat Akashi membalas apa-apa. "Karena itu tolong, percayalah padaku tentang hal ini—"

"Tidak," Akashi menyela dan manik-manik rubi itu memelototi pintu masuk ruang kerjanya, seakan-akan sedang menatap mata abu-abu Mayuzumi sekarang. "Coba kau terangkan padaku, Chihiro. Jelaskan padaku kenapa aku tidak boleh bertemu dengan Nijimura-san yang bahkan sudah jarang kutemui, karena ia sedang sibuk bekerja dan mengurusi keluarganya... Kau tidak berhak melarangku."

Yang di seberang telepon tidak berkata apa-apa, sampai akhirnya Mayuzumi membalas dengan, "Kau marah."

"Mungkin saja aku akan benar-benar marah kalau kau tidak memperbaiki sifat cemburumu yang tidak beralasan itu." Tangan kiri Akashi naik untuk memijat batang hidungnya, berusaha mengurangi pusing yang mulai merambat di kepala. Kemudian ia menambahkan, "Berhentilah bersikap konyol. Aku tidak suka."

"Kalau aku menjelaskan dengan panjang lebar," ulang Mayuzumi dengan suara datar, tapi Akashi menangkap nada jengkel di sana. "Kau juga pasti tidak akan percaya."

"Mungkin itu karena rasa percayamu yang sangat sedikit terhadapku."

Koneksi dimatikan.


Masalah terus menerus datang lalu pergi—seperti kata pepatah, mati satu tumbuh seribu.

Sanada Group masih mempertahankan posisinya, mungkin dapat sewaktu-waktu menggeser Akashi Conglomerate dari peringkat pertamanya yang menguasai pasar karena market share Group tersebut yang tergolong lumayan tinggi di dunia perbisnisan Jepang. Sang Direktur Utama masih melakukan segala upaya, karena kalau Akashi tidak bisa menjatuhkan saingannya tersebut, maka yang bisa ia lakukan adalah melebarkan jarak seluas mungkin di antara keduanya.

Chihiro sudah tidak lagi mengganggunya pada jam kerja, dan bila malam tiba keduanya tidak mengobrol banyak di rumah. Pria itu menyibukkan diri dengan light novel lama miliknya yang sudah dibaca berulang kali (dan tentu saja laporan-laporan dari kantor yang selalu ia kerjakan larut malam di depan laptop). Sedangkan Akashi sendiri memilih untuk membisu dan berkutat dengan papan shogi—bermain melawan dirinya sendiri seperti biasa—jika sedang tidak pulang dari kantor dini hari sekali.

Setelah episode Jangan Bertemu Dengan Orang Itu Lagi tempo hari lalu, hubungan keduanya tidak terlalu mulus—tidak ada yang mau meminta maaf duluan dan tidak ada yang mau mengakui kesalahan. Akashi sendiri tidak yakin apa yang membuatnya begitu marah, apa yang membuatnya bertingkah kekanakkan seperti ini, dan siapa tepatnya yang membuat kesalahan?

Mungkin hubungan abstrak tanpa kata cinta yang telah berlangsung selama hampir dua tahun ini akan mendekati akhirnya.

Mungkin juga tidak. Tapi siapa yang bisa menjaminnya? Bertegur sapa sekarang sudah jarang, berbicara hanya seperlunya. Akashi tidak tahu apa yang terjadi selain fakta bahwa hubungan ini—apapun itu namanya—perlahan-lahan merenggang.

Mungkin hanya merenggang sejenak, mungkin setelah kasus Sanada Group dan kasus menghilangnya Nijimura semuanya akan kembali normal. Atau mungkin hubungan ini akan merenggang selamanya, entahlah, tidak ada yang tahu pasti.

Akashi tidak tahu pasti. Lagipula pria itu sudah lama mengakui bahwa keabsolutannya ternyata tidak seabsolut yang ia kira, semua orang berubah, ingat?

Pria bersurai merah itu mencoba untuk tidak berpikir terlalu banyak. Akashi seringkali mendapati dirinya melamun dan berpikir, apa yang akan terjadi pada dirinya bila Mayuzumi mengikuti jejak Nijimura suatu hari nanti. Pergi meninggalkannya sendirian, menghilang tanpa memberitahu akan kembali lagi atau tidak..

Ia membuang pemikiran itu jauh-jauh karena sesak di dadanya sangatlah tidak nyaman.

.

.

.

(Tapi kau tahu tidak ada yang abadi di dunia ini, kan, Seijuuro?—pria itu memejamkan matanya rapat-rapat, tapi wajah yang mirip dengannya dan mata heterokrom yang memuakkan itu tidak hilang-hilang juga).


Beberapa hari setelah perayaan tahun baru, Akashi membiarkan matanya terpejam dan menggulung diri dalam selimut (yang harusnya menghangatkan, tapi kain tebal tersebut sama saja dinginnya). Udara pada malam itu merupakan yang terdingin dalam musim tersebut, dan ranjang yang ditempatinya lagi-lagi terasa terlalu luas (dan kosong dan dingin).

Inilah yang terjadi saat ia berhasil pulang lebih awal, tidak lembur separah malam-malam sebelumnya—mendapati apartemennya kosong dan dingin.

Setengah sebelas malam dan Mayuzumi Chihiro belum juga menampakkan batang hidungnya di apartemen penthouse yang mereka tinggali berdua. Tidak ada pesan ataupun missed call yang ditinggalkan, atau apa pun yang menandakan bahwa pria itu akan pulang malam ini.

Itu juga kalau pria itu akan pulang malam ini.

(—Yang terlintas di pikiran Akashi sebelum ia terlelap adalah, mungkin Chihiro tidak akan pulang ke tempat ini lagi.)


Semuanya gelap gulita.

Cahaya di ujung terowongan bisa jadi hal baik atau buruk. Akashi memutuskan untuk memeriksanya, mewaspadai apa pun yang bisa saja muncul dari kegelapan. Lagipula hal yang paling wajar untuk dilakukan dalam keadaan seperti ini adalah mendekati sumber cahaya, bukan?

Tap, tap, tap.

Tap.

Kemudian langkahnya terhenti saat bola mata merahnya menangkap sesuatu yang berdiri di mulut terowongan.

Nijimura berdiri membelakanginya, mengenakan seragam tim basket Teikou bernomor punggung empat.

Akashi dapat melihat armband hitam yang dikenakannya di lengan kiri, senada dengan rambut hitam pendeknya yang berakhir beberapa senti di bawah telinga—Akashi tidak tahu itu siapa kalau bukan Nijimura Shuuzo.

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah.

Dan Akashi berlari.

Ia merasa langkahnya lebih pendek dari langkah yang diambilnya saat sedang berjalan menuju ruang kerja. Merasa beberapa helai surai merah menerpa wajahnya saat ia berlari, meski Akashi yakin sudah memangkas pendek rambut bagian depannya.

"Nijimura-san!"

Ia merasa suaranya tidak berat seperti biasa, bukan suara yang ia gunakan saat memimpin rapat dengan rekan-rekan kerja dan bawahannya.

"Nijimura-san!"

Ia merasa perlu memanggil nama senpai-nya berulang kali dengan suara yang lebih keras karena sosok itu tidak kunjung menoleh juga.

Tapi tidak apa-apa. Jarak mereka sudah dekat, Akashi dapat meraih sosok itu dan mereka bisa bermain basket bersama lagi, semuanya akan baik-baik saja. Ia merasa seperti berumur empat belas tahun lagi, mengejar Nijimura Shuuzo lagi, tapi tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja karena Nijimura ada di sini sekarang.

Akashi berada kurang dari tiga meter dari tempat Nijimura berdiri saat sesuatu menahan lengannya.

Siapa—

Ia reflek meronta, segera membalikkan badan dan menarik paksa lengan kirinya dari apa pun itu yang menahannya, mendapati manik-manik merah yang identik dengan miliknya menatap Akashi balik.

"Seijuuro, kau mau kemana?"

Kenapa ayahnya ada di tempat seperti ini?

"Ayah.."

"Jangan berkeliaran kemana-mana," lanjut sang ayah ketus, dan pria setengah baya itu meraih lengan kirinya sekali lagi. "Ayo pulang. Aku tahu ini berat bagimu yang baru saja kehilangan ibu, tapi itu sama sekali bukan alasan untuk menelantarkan pelajaranmu."

Yang baru saja kehilangan ibu?

Orang ini bicara apa?

"Tidak," Akashi melangkah mundur dengan nafas terengah-engah, tiba-tiba merasa sangat kecil di bawah tatapan dingin ayahnya. "Nijimura-san ada di sana, aku harus ke sana seben.."

...tidak ada siapa-siapa.

Cahaya di mulut terowongan masih bersinar terang, menyilaukan malah, tapi tidak ada siapa-siapa di sana.

Akashi merasakan tubuhnya gemetaran, panik di matanya terpancar jelas saat mencari-cari sosok Nijimura yang beberapa detik lalu ada di sini, dia ada di sini, namun yang ia lihat di sekitarnya hanyalah gelap gelap dan gelap—

"Kau lihat kan apa yang terjadi?"

Akashi memutar tubuhnya, kali ini menatap sepasang iris dwiwarna dan warna emas yang sangat ia tidak sukai. Ayah tidak ada. Nijimura-san tidak ada.

"Semuanya pergi. Semuanya pergi, tanpa ada yang tersisa."

"Lalu kenapa kau masih disini?" Kalau kau masih di sini, berarti aku tidak sendirian kan—

Senyuman mengejek. "Apa kau bodoh? Aku adalah kau."

"Yang tersisa di kegelapan hanyalah kau seorang diri."

Gelap gelap dan gelap.


Akashi membuka matanya lebar-lebar dan tersentak kaget begitu tersadar dari tidurnya.

Hal pertama yang pria itu sadari adalah sekitarnya tidak lagi gelap total. Cahaya lampu-lampu kota Tokyo yang warnanya beragam menembus tirai jendela besar di ujung ruangan, membuat Akashi tersadar bahwa ia tidak lagi berada di terowongan yang gelap gulita.

Yang kedua adalah tangan-tangan besar Mayuzumi yang memeluknya dari belakang.

Pria yang memang merupakan light sleeper itu mengerjapkan mata begitu merasakan tubuh mungil di dekapannya bergerak tiba-tiba dan terbangun. Rasa kantuk yang membebani pelupuk matanya membuat Mayuzumi terdiam selama beberapa saat, sebelum menggumamkan, "Sana tidur."

Ia merasakan tubuh Akashi menegang sesaat sebelum membalas dengan suara kecil, "Chihiro?"

"Hn."

"Kenapa kau ada disini?"

Alis-alis kelabunya bertaut, tapi Mayuzumi membatalkan niatnya untuk menguap. "Kau bisa menunggu hingga pagi nanti untuk mengusirku..."

"Kukira kau sudah pergi."

"Hn... Ya aku memang berniat untuk pergi," gumam pria itu sambil menenggelamkan wajahnya di tumpukan surai merah yang semakin berantakan saja setelah pemiliknya tidur. "Lalu aku melihat wajah tidurmu yang tidak nyaman dan aku memutuskan untuk menjadikanmu guling sebentar. Lalu aku ketiduran."

Akashi tidak membalas. Mungkin sudah kembali terlelap, dan Mayuzumi memejamkan matanya lagi untuk melakukan hal yang sama.

"Benarkah?"

Oh yang benar saja— "Tentu saja tidak. Aku ada di sini karena ini rumahku kan? Kalau tidak ke sini aku mau pulang kemana lagi?"

Akashi lagi-lagi tidak membalas. Mayuzumi merasa sedikit lega—karena Akashi yang diam lebih baik dari Akashi yang terdengar seperti mau menangis.

"...Jam berapa ini?"

Suara kekasihnya terdengar pelan dan bergetar, seperti menahan tangis, dan Mayuzumi yakin ia tidak bisa mengatasi Akashi Seijuuro yang menangis apalagi dalam keadaan mengantuk berat dan pada dini hari seperti ini. "Entahlah. Mungkin jam dua atau tiga pagi—Sei kumohon kembalilah tidur aku sangat sangat mengantuk."

Yang ditanya malah melepaskan dirinya dari pelukan Mayuzumi—membuat pria itu mengerutkan dahi karena heran—kemudian membalikkan badan dan menyandarkan kepalanya di dada sang kekasih, menatapnya dengan bola mata merah yang setengah terpejam.

"Lebih baik begini. Aku ingin melihat wajahmu."

"...Hn. Kantung matamu jelek sekali."

Hening yang mengikuti setelahnya nyaris membuat Mayuzumi kembali menginjakkan kaki di alam mimpi.

"Aku berada di terowongan besar yang gelap pekat."

"Hn."

"Ada cahaya di ujung terowongan tapi aku tidak bisa mencapainya. Dan—dan semua orang meninggalkanku dalam gelap. Ayah, Ibu.. Nijimura-san..."

"Hn."

"Chihiro tidak ada di sana," Mayuzumi tidak dapat melihat ekspresi macam apa yang tengah Akashi buat karena kedua mata abu-abunya terpejam, namun pria itu mempererat dekapannya sedikit. "Aku berpikir itu pasti karena Chihiro sudah pergi dari awal. Chihiro... Tidak bersamaku dari awal. Hanya tinggal aku sendirian dalam gelap." Yang tersisa di kegelapan hanyalah kau seorang diri, suara itu berkata lagi.

"..."

"..."

"...Mungkin kau kurang teliti melihat sekitar," balas Mayuzumi akhirnya dengan suara mengantuk. Rambut Akashi menggelitik dagunya, tapi ia sudah merasa terlalu nyaman untuk protes atau memindahkan posisi kepalanya. "Kau kan tahu bagaimana hawa keberadaanku yang tipisnya seperti hantu. Mungkin karena itu kau mengira kau di sana sendirian, bisa saja aku ada di dalam gelap sambil menemanimu, kan."

"..."

Setelah lewat dua menit dan Akashi masih belum membalas apa-apa, Mayuzumi membuka sebelah mata untuk melihat keadaan kekasihnya. Mendapati pria bersurai merah itu sudah kembali tidur.

Wajahnya tenang dan menggemaskan, terlihat jauh lebih muda dari usianya sekarang—mungkin kalau kantung mata jelek itu dihilangkan, tapi tetap saja menggemaskan. Nafas pelannya yang teratur juga terasa hangat saat menerpa permukaan leher Mayuzumi. Pria itu akhirnya menguap lebar-lebar, kemudian memejamkan matanya rapat-rapat karena tidak mau menyia-nyiakan waktu tidur yang berharga. Pekerjaannya mungkin tidak seberat Akashi, tapi lelah yang dirasakannya tidak jauh berbeda.

"Jangan mimpi buruk lagi," bisik Mayuzumi setelah mencium puncak kepala Akashi, dan terlelap beberapa puluh detik kemudian.

.

.

.

.

.

tbc


A/N: aaaaaa terimakasih atas semua review fav dan follownya! *banjir air mata*

balasan buat anon-anonku tercinta:

Kanato-kun: ini sudah update, terima kasih atas reviewnya yah :3 dan tentu saja mayuyu ga akan saya telantarin~ XD

Mayhem: o...mg... terima kasih banyak! kata2 anda bikin saya blushing sendiri... maap malu2 kucing gini ;w; saya jg seneng banget anda mau baca! pembaca NSAW mungkin masih hrs bersabar lagi yah hehehe... (btw ini hansamu mayhem bukan? takut salah... :'3)

A/N: chapter kali ini semoga lebih nyesek dari yg sebelumnya /dikeroyok/ goal saya dalam menulis fic ini adalah membuat readers galau, mau nijiaka atau mayuaka? semoga galaunya udah dapet ya :) /salah emot. btw maap kalo bagian bisnis-ekonomi agak ngablu, saya bukan anak ips soalnya...

betewe ada kabar bagus, chapter depan kita masuk konflik sebenarnya(?) dari fic ini dan itu berkaitan dengan hilangnya nijimura—saya gak mau spoiler apa2, tapi mungkin chapter depan bisa mengubah pandangan readers yang beranggapan kalo niji itu calon penghuni neraka karena pho minta ampun, alias angst-nya lebih parah hehehe...

kabar jeleknya seminggu penuh besok saya to, maap curhat mulu, tapi sekedar info aja kalo saya gabisa apdet minggu depan OTL

sampai jumpa di chapter depan!