Tik tik tik...

Bunyi hujan di ata- bukan begitu! Itu bukan bunyi hujan.

Tik tik tik...

Air mataku biar terjatuh dalam ha- bukan itu juga.

Tik tik tik...

Waktu berdetik. Ya, itu yang benar. Hanya ada bunyi dari jarum jam yang menyelimuti kesunyian antara aku dan seorang lelaki yang sedang membaca buku dengan asiknya sambil bersandar pada tembok. Lelaki itu, Uchiha Sasuke sedang tenggelam ke dalam lautan luka dalam- salah, maksudku ke dalam lautan imajinasinya. Imajinasi? Mungkin saja kan ia berkhayal saat sedang membaca buku tentang astronomi? Maksudku, mungkin ia berkhayal menjadi seorang astronot? Tunggu, apa iya astronot membaca buku astronomi? Ah, peduli amat.

Tuk tuk tuk...

Bukan, itu bukan typo melainkan bunyi dari pensil yang kuketuk ke meja karena aku sama sekali tidak mengerti bagaimana harus menghadapi soal-soal yang diberikan Sasuke untukku. Setelah menjelaskan beberapa materi, ia langsung memberikanku beberapa soal dan parahnya soal ini tidak sama dengan soal contoh. Sangat berbeda jauh! Seperti halnya ketika diajarkan soal 1 + 1 = 2, lalu kita mendapat P = ? dan saat ujian soalnya berubah menjadi 96/3 : 48 pangkat 4 = ?

'MATIKAN SAJA AKUUU! PULANGKAN SAJA AKU PADA IBUKU ATAU AYAHKUUU!' batinku menjerit sambil menyandarkan kepalaku pada meja dengan pasrah.

"Ada apa? Kau menyerah? Tidak mau latihan basket?"


I See You

Naruto by Masashi Kishimoto; I See You by Sein

Art by EDE; pixiv id 13100664

"Kadang tidak semua hal harus dianggap serius, ada saatnya kamu harus memandang suatu hal dengan amat sederhana,"


Aku melirik kesal pada Sasuke yang bahkan tidak melihatku sama sekali dan masih terfokus pada bukunya. Bagaimana caranya tahu kalau aku sudah hampir cukup lumayan rada sedikit menyerah?

"Jangan sok tahu." Ucapku kembali ke posisi asal sambil merenggangkan otot-ototku yang mulai terasa kaku.

"Ya sudah, lanjutkan kalau begitu. Waktumu tidak banyak, dobe."

"Ya, aku tahu itu, teme!" balasku dengan penekanan pada kata 'teme'. Sudah hampir dua jam lebih aku terjebak bersama dengan Sasuke dan kumpulan soal-soal ini. Apakah ada hal lain yang lebih indah dari ini?

Aku terus melirik ke arah jendela yang langsung terlihat lapangan basket yang mulai dipenuhi oleh beberapa siswa dan siswi. Bukannya lanjut mengerjakan soal, aku malah mulai melamun dan berharap diriku berada di lapangan itu sedang berlatih bersama mereka. Bagaimana jika aku tidak bisa mendapat nilai 50? Aku akan tetap terjebak di ruangan ini, kan? Bahkan, mendapat nilai 30 saja hampir mustahil bagiku. Aku kembali melirik soal yang ada. Masih tetap sama, tak ada yang berubah sedikitpun. Tingkat kesulitan soal itu tetap sama dan jumlah soal yang sudah kujawab juga tetap sama. Tidak bertambah maupun berkurang. Jika bisa aku mengibarkan bendera putih, pasti sudah kukibarkan sejak awal aku datang ke ruangan ini.

Aku kembali melirik Sasuke yang masih tetap fokus membaca bukunya. Bagaimana bisa ia kuat berhadapan dengan buku dan soal-soal seperti ini? Dan bagaimana bisa ia hidup menjadi anak yang selalu baik? Apa ia tidak merasa lelah selalu menjadi baik? Biar bagaimanapun setiap orang pasti pernah ingin berontak walau hanya sekali, kan?

"Ada apa? Kau menyerah?"

Suara berat Sasuke mengembalikanku ke alam sadar. Aku menggeleng pelan lalu menatap soal-soal yang ada sambil sesekali mengetuk meja dengan pensil. Setelah beberapa detik berlalu, aku memutuskan untuk kembali mengerjakan soal-soal sebisaku. Tidak peduli mau jawabanku salah atau benar karena pasti aku tidak akan bisa latihan basket.

"Ne, Sasuke..."

"Hn?"

"Kenapa kamu bisa sepintar ini?"

"Takdir."

Aku meliriknya kesal. Jawaban macam apa itu? Jadi, aku tidak pintar juga takdir, begitu? Aku mendengus pelan lalu memainkan pensilku lagi.

"Kalau begitu, harusnya kau bisa menjawab pertanyaanku ini." Ucapku sambil menyeringai. Ia terlihat menurunkan sedikit bukunya dan menatapku bingung.

"Pertanyaan apa?"

"Bulu bulu apa yang tenggelam?"

Sasuke terdiam sejenak lalu menaikkan sebelah alisnya sebelum ia menjawab "Bulu babi?" dengan ragu. Aku tersenyum lebar lalu menggeleng.

"Salah! Yang benar adalah bulubup bulubup bulubup!"

Sasuke menatapku dengan datar lalu terkekeh dengan pelan.

"Jawaban apa itu? Sama sekali tidak penting. Padahal aku sudah berpikir dengan serius,"

"Kadang tidak semua hal harus dianggap serius, Sasuke hehehe."

"Ya, terserah padamu. Kau sudah selesai?"

"Sudah, tapi aku gak yakin..."

"Biar aku cek..." ucapnya sambil meletakkan bukunya ke dalam tas dan berjalan mendekatiku. Ia duduk di sampingku dan mulai mengoreksi hasil kerjaku. Sesekali ia mencoret jawabanku yang salah lalu memberikan penjelasan cara menjawab yang benarnya.

'Keren... dulu ibunya ngidam apa, ya?'

Tiba-tiba ia berhenti lalu menundukkan kepalanya dan menutup wajahnya dengan sebelah tangannya.

"I-ini sampai di sini dulu. Kita lanjutkan besok."

"Hah?"

Aku menatap Sasuke yang mulai membereskan barang-barangnya dengan bingung dan melirik kertas jawabanku yang kini ada angka 40 dengan besar berwarna merah.

"Tunggu, aku kan gak lulus. Bukannya minimal aku harus dapat 50? Lagian juga sekarang baru jam setengah empat, belom jam lima."

"Aku ada urusan dan harus pulang sekarang juga. Hari ini aku biarkan kau latihan. Aku duluan." Ucapnya menjelaskan lalu berjalan dengan cepat kelua dari lab. meninggalkanku sendirian.

"Dasar aneh," ucapku setelah Sasuke benar-benar menghilang dari pandanganku.

.

"Maaf aku telaaaattt~"

"Ah, Naruto!"

"Captain datang!"

Beberapa anak mulai menghampiriku, salah satunya adalah Sakura, yang berjalan mendekatiku perlahan dengan bola basket yang terlihat seperti ia peluk.

"Ini belum jam lima, berarti kamu berhasil dapat nilai 50?" ucapnya sambil melempakan bola basket tepat ke arahku yang reflek langsung kutangkap.

"Ah, iya kudengar senpai mulai belajar intensif kan hari ini?" sambung Moegi dengan mata yang terlihat berbinar seolah mengatakan 'bagaimana-rasanya-belajar-dengan-Sasuke-senpai?'

"Maa... Sasuke bilang untuk hari ini aku boleh berlatih," jawabku seadanya sambil menggaruk tengkukku yang tidak gatal dengan sebelah tanganku. Entah bagaimana aku dapat menangkap ekspresi tidak puas dari kedua orang di hadapanku ini.

"Kenapa?" tanyaku pada akhirnya. Sakura dan Moegi seling melirik lalu kembali menatapku.

"Kau tidak ingin cerita apa gitu?" tanya Shion yang dijawab anggukan oleh Moegi dan Sakura. Aku memiringkan kepalaku tanda bingung dengan mulut sedikit terbuka.

"Tidak ada cerita romantis yang terjadi antara kaian?" kali ini giliran Sara yang bertanya. Jujur saja aku bingung kenapa tiba-tiba mereka jadi seperti wartawan begini.

"Mana ada yang seperti itu? Memangnya ini sinetron?" ucapku sambil berlari pelan men-dribble bola basket lalu melemparkannya ke ring dari area triple point.

"Memang apa yang kalian harapkan, hah? Aku hanya belajar bersamanya. Tidak lebih." Lanjutku sambil berjalan mengambil bola basket yang lain dan dapat kulihat mereka sedang kompak menggelengkan kepalanya.

"Naruto, aku tahu kamu memang bodoh tapi aku sama sekali gak nyangka kalau kamu sebodoh ini," ucap Sara merebut bola basket yang sedang kupegang dan langsung melalukan dunk.

"Hah? Maksudmu?" aku semakin tidak mengerti apa maksud mereka.

"Maksud kami adalah-"

Aku membuka telingaku dan berusaha fokus pada suara Sara yang kini mengambil bola basket dan langsung shooting ke ring.

"-tidak mungkin seorang Uchiha Sasuke mau repot-repot mengajarkanmu tanpa ada sesuatu!"

"Ah, memang ada sesuatu. Aku udah bilang kan kalau dia menolongku karena gak mau reputasi sekolah ini jatuh?" ucapku berusaha mengingat.

"Naruto senpai... aku malu sebagai kohaimu iniii!" pekik Moegi.

"Captain kita ini- pfft-" tambah Sakura yang berusaha menahan tawanya yang semakin membuatku bingung.

.

Langit sudah terlihat berwarna oren saat aku membereskan barang-barangku. Memang waktu terasa amat sangat cepat berlalu jika aku bermain basket. Aku mengadahkan kepalaku menatap langit. Kenapa kalau belajar seperti tadi, waktu terasa sangat lama berlalu? Bahkan waktu terasa berhenti. Apa karena aku tidak menikmatinya?

"Senpai, ayo pulang!"

"Ah, iya!"

Aku berlari menyusul Sakura dan Moegi yang sudah berjalan lebih dulu.

"Lama, deh..." ucap Sakura sambil menjitak pelan kepalaku yang kubalas dengan wajah memelas.

"Ah, itu kan!" pekik Moegi tiba-tiba menghentikan langkahnya yang otomatis membuatku dan Sakura berhenti juga lalu melirik ke arah pandangannya. Aku menutup sebelah mataku agar dapat mengenali sosok yang membuat Moegi berhenti seperti ini. Setelah beberapa detik, aku mulai mengenali sosok itu. Sosok seorang lelaki dengan rambut merah acak-acakan yang sedang berdiri bersandar pada pagar sekolah sambil meminum sekotak jus.

"Gaara?" ucapku ragu. Lelaki itu menengok lalu melambaikan sebelah tangannya dan tersenyum.

"Wah, kayanya kita ganggu..." ucap Sakura sambil menyikut lengan Moegi. Aku melirik mereka kesal seakan berkata 'Apa, sih?'.

Sabaku no Gaara. Captain dari team basket putra. Bisa dibilang kemapuannya sebanding denganku. Tanpa ada dirinya, maka team basket putra akan hancur. Seperti halnya Sakura, Shion dan Moegi, ia juga berasal dari KIES. Yah, KIES memang sekolah yang berisi orang-orang berbakat seperti mereka termasuk Sasuke. Berbeda denganku yang berasal dari KoPS. Entah sejak kapan aku dan Gaara menjadi dekat seperti ini. Mungkin karena hobi kami sama? Satu hal yang pasti, Gaara adalah seorang teman yang asik dan baik walaupun ia cukup pendiam.

"Yo, Gaara! Mau pulang bareng Naruto?" tanya Sakura memecahkan keheningan dan mengembalikanku ke alam sadar. Gaara mengangguk menjawab pertanyaan Sakura.

"Kalau kalian gak keberatan..." lanjutnya.

"Tenang aja, dengan senang hati kita kasih Naruto ke kamu. Pulang bareng Naruto tuh gak asik soalnya dia bawel banget," ucap Sakura sambil terkekeh pelan bersama Moegi.

"Duluan ya, senpaaaiii~" ucap Moegi sambil melambaikan tangannya pada aku dan Gaara yang langsung kubalas lambaian tangan juga. Baru saja mereka melangkah keluar gerbang, lagi-lagi langkah mereka berhenti dan mereka terlihat seperti sedang berbicara dengan seseorang. Sakura menengok ke arahku yang masih diam di tempat bersama dengan Gaara. Jujur saja, aku penasaran dengan siapa mereka mengobrol dan mungkin Gaara juga berpikir hal yang sama sepertiku makanya ia tidak juga mengajakku pulang. Setelah beberapa detik berlalu, kini Moegi yang menengok lalu menunjuk ke arahku. Tak lama, mereka akhirnya pergi.

Tap.

Aku mengusap mataku perlahan berharap aku salah lihat.

Tap tap.

Tidak, aku tidak salah lihat. Aku mengenal sosok itu. Sosok seorang lelaki dengan rambut seperti pantat ayam berwarna hitam pekat itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke? Tapi, sedang apa ia di sini? Apa ada yang tertinggal?

Sasuke terus berjalan ke arahku dengan membawa beberapa buku yang cukup tebal. Jika digunakan untuk menyambit, pasti rasanya sangat enak. Jujur saja, baru kali ini aku melihatnya tanpa seragam. Ternyata, ia cukup keren juga. Tunggu, apa yang kukatakan? Bukan saatnya memikirkan hal seperti itu. Harusnya aku memikirkan alasan yang tepat kenapa seorang Uchiha Sasuke datang ke sekolah di saat seperti ini, kan?

Sasuke berhenti tepat di hadapanku dan meletakkan buku yang ia bawa di atas kepalaku yang reflek langsung kupegang buku itu agar tidak terjatuh.

"Kerjakan semua itu semampumu. Kerjakan yang kutandai saja." Ucapnya sambil berbalik badan dan kembali berjalan.

"Tunggu! Kamu ke sini cuma buat begini aja?" tanyaku cukup keras.

Sasuke menghentikan langkahnya lalu menengok ke arahku.

"Iya, memang apa yang kau harapkan? Aku pulang bareng denganmu? Hah, lucu sekali," jawabnya. Aku menggembungkan pipiku karena kesal mendengarkan jawabannya.

"Kau yakin gak mau pulang bareng kita?" kali ini giliran Gaara bertanya dengan tangan yang merangkul pundakku. Sasuke mengalihkan pandangannya.

"Tidak. Aku tidak mau jadi nyamuk." Ucapnya sambil kembali melangkahkan kakinya meninggalkanku dan Gaara. Aku melirik tangan Gaara yang masih merangkulku lalu menyingkirkannya.

"Gak usah rangkul-rangkul, berat. Ayo, pulang nanti keburu gelap!" ucapku berjalan mendahuluinya.

"Hahaha... maaf, ayo pulang. Oh iya, kalau mampir ke game center dulu gimana?"

"Game center? Ayo!"

To Be Continued


A/N:

Yooo chapter 2 is coming to town~ /slapped/ ah, lagi-lagi di sini alurnya terasa kecepetan kaya biasa... gomennasai orz terus ga tau kenapa saya ngerasa chapter ini terlalu maksa hiks... tapi mungkin chapter berikutnya saya percepat lagi soalnya kan ini sesuai sudut pandangnya Naruto jadi ya begini deh /?

Anyway, di sini akirnya Gaara debuuuttt yey \o/ sebenernya Gaara tadinya mau saya debutin dari chapter pertama, tapi ga jadi deh u.u dan saya sedih part Gaara cuman dikit kaya partnya Chanwoo di lagu Rhythm Ta ;;A;; /apa/

Yaudah segini aja saya curcolnya hehehe oh iya, saya usahakan update 2 minggu sekali paling lama. Doakan saja saya ga hiatus lama lagi soalnya saya lagi masuk masa nyusun proposal hehehe saya tunggu kritik dan sarannya~ chuuu~

Sein


Deleted Scene:

"Kau yakin gak mau pulang bareng kita?" kali ini giliran Gaara bertanya dengan tangan yang merangkul pundakku. Sasuke mengalihkan pandangannya.

"Tidak. Aku tidak mau jadi nyamuk." Ucapnya sambil kembali melangkahkan kakinya meninggalkanku dan Gaara.

.

.

.

Tak lama Sasuke kembali membawa buku yang jauh lebih tebal dari sebelumnya lalu ia mengambil ancang-ancang dan-

BLETAK!

Bunyi yang cukup keras terdengar karena Sasuke melemparkan buku itu tepat ke wajah Gaara hingga Gaara terjatuh tak berdaya.

"Berani sentuh Naruto, gue sikat lo!"

DHUAK!

"Eling! Lo udah punya istri, Sas!"

"Ah... oh iya..."

"SHAAAANNAAAARRROOOO!"

.

.

.

"Oke, jangan lupa tinggalkan jejak ya hehehe"