Disclaimer: Makasih banyak untuk semua yang udah nge-review chapter sebelumnya. Sering-sering mampir ke CT fandom ya, jangan lupa ajak-ajak teman-teman kamu! –promosi-

Oke, silakan menikmati chapter dua. ^^

-

-

-

CHAPTER TWO

Semuanya melongo melihat siapa yang datang. Wah, mau cari mati ya mereka?

Taki, Mamoru, dan Teppei berdiri dengan wajah gelisah setengah mati. Masalahnya mereka baru pertama kali ini mengenakan pakaian wanita. Taki mengenakan rok panjang berwarna hijau, dan sebuah kaos berwarna kuning yang manis. Taki juga mengenakan sebuah wig berwarna hitam legam dan panjang. Sayangnya walaupun dia sudah berpenampilan seperti cewek, Tsubasa cs (terutama Wakabayashi) malah eneg dan ngeri lihatnya.

Beda dengan Mamoru yang terlihat agak imut, tetapi tetap mengerikan bagi yang mengenalnya. Ia memakai wig berwarna cokelat terang dan menguncirnya menjadi dua ekor. Mamoru mengenakan sundress berwarna kuning. Pemain sepak bola yang satu ini cuma bisa melihat ke pasir ketika cowok-cowok pantai melihatnya dan bersiul.

Sedangkan Teppei mungkin yang paling pintar berakting. Dia dengan wig pirang keritingnya mendekati Wakabayashi (dengan ragu-ragu). Omong-omong, Teppei mengenakan sebuah rok mini.

Teppei: H-Hai, Wakabayashi-kun... (suaranya dimirip-miripin kayak cewe XD).

Muka Wakabayashi segera memerah saking marahnya. Ia menendang Teppei hingga ia terjatuh ke tanah. Teppei mengaduh.

Wakabayashi: Kemari kalian satu persatu!!! AKAN KUTENGGELAMKAN KALIAN DI LAUT JEPANG!! (bayangkan Wakabayashi mengatakan ini dengan wajah gelap dan sadis).

Teppei: Hiii, maafkan kami!! (Teppei bersujud di kaki Genzou).

Taki dan Mamoru: Maafkan kami!!! (bersujud juga).

Teppei: Tapi sungguh, ini bukan ide kami. Ini ide Tsubasa dan Misaki!!

Taki: Yah mereka bilang, kami adalah cara terakhir untuk memikat hatimu... (Taki dan Wakabayashi muntah sebentar)... tolong jangan bunuh kami, Wakabayashi-sama! (tuan Wakabayashi).

Mamoru: Ya benar! Misaki dan Tsubasa juga bilang begini, 'kalau Wakabayashi, dikasih waria juga gak bakalan nolak!' Lalu mereka tertaa terpngkal-pingkal...

Pandangan sadis Wakabayashi beralih ke pasangan duo emas.

Tsubasa dan Misaki: TIDAAAAAAK!!! (mereka berdua lari terbirit-birit).

Teppei, Taki, Mamoru: HEY TUNGGU KAMI!!! (tiga waria berlari mengikuti Tsubasa dan Misaki. Mereka berpikir mereka harus menyelamatkan nyawa mereka yang hanya satu).

Wakabayashi mengalihkan pandangannya ke arah yang tersisa (Hyuga, Misugi, Matsuyama, Ishizaki).

Wakabayashi: Masih ada apa lagi hah?!

Hyuga, Misugi, Matsuyama: GYAAAAAA! (sebelum melarikan diri, Matsuyama sempat mendorong Ishizaki mendekati Genzou. Udah gak sayang teman ya? XXD).

Ishizaki: A...Aku... (tak lama kemudian, Ishizaki pingsan.)

Wakabayashi mendesah dan melempar (HAH?!) Ishizaki ke tanah, jauh dari tempat duduk Wakabayashi. Ya, lebih tepatnya dia melemparkan Ishizaki ke garis pantai. Ia berharap pasang surut air dapat membawa Ishizaki mati di laut.

Wakabayashi tidak kecewa ataupun senang. Bagaimanapun juga ia sudah menduga rencana itu akan gagal. Wakabayashi tidur di kursi itu dan menutupi wajahnya denan topinya. Tiba-tiba suara seorang perempuan terdengar.

Perempuan: Uhm... permisi?

Wakabayashi sudah dapat mengira kalau perempuan itu adalah seorang 'suruhan' teman-temannya lagi. Dia pura-pura tertidur dan tidak mendengarkan perempuan itu.

Perempuan: Hei... kau tidak benar-benar tidur kan? Beberapa detik yang lalu aku melihatmu masih terjaga.

Wakabayashi tetap diam.

Perempuan: Oh, aku mohon. Aku ingin cepat pulang, tapi kau masih memakai payung pantai itu dan artinya pekerjaanku belum selesai.

Wakabayashi mengangkat topinya. Dia melihat seorang perempuan berambut hitam sebahu sedang berdiri di sana. Wajahnya terlihat sangat lelah tapi Wakabayashi tahu satu kata untuknya. Cantik.

Wakabayashi: Kau bukan suruhannya Tsubasa kan?

Perempuan (mengerutkan kening tak mengerti): Suruhan? Siapa itu Tsubasa?

Melihat perempuan itu yang tidak mengerti sama sekali, Wakabayashi pun segera percaya. Ia melipat payung itu dan menyerahkannya.

Wakabayashi: Nih. (mukanya merah karena malu).

Gadis itu tersenyum lemah dan meraih tangannya untuk mengambil payung itu tapi tiba-tiba matanya berkunang-kunang. Apa yang ia lihat berputar-putar dan pada akhirnya kabur. Gadis itu pingsan dan terjauh dalam pelukan Wakabayashi.

Wakabayashi: H-hei?!

Pemilik rambut hitam indah itu tak menjawab. Matanya tertutup. Wakabayashi pun pelan-pelan menidurkan perempuan yang pingsan itu di kursinya. Pantai sore itu sangat sepi dan ia tak berani jamin gadis itu akan aman bila ditinggal sendirian. Jadi, ia menunggu sampai si gadis terbangun.

(Capek nulis kayak yang diatas gitu jadi kembali normal aja ya. Maaf jadinya mengganggu. ^^)

Miki pelan-pelan membuka matanya. Ia masih berada di pantai. Tepatnya di atas bangku keras dan ketika ia bangun, ia melihat seorang kapten paling hebat se-Jepang sedang duduk membelakanginya; dia sedang memandang pantai. Miki berdehem.

Wakabayashi menoleh, "Ah, sudah sadar ya?"

"Maaf merepotkanmu."

"Tidak apa." Wakabayashi berusaha bersikap sok keren. Padahal ia yakin pelatih Mikami akan marah padanya bila pulang terlambat (Genzou bilang dia mau berlatih lagi malam ini. Tapi sepertinya ia sendiri yang tidak akan menepati janjinya).

"Sepertinya kau lelah sekali. Sebaiknya jangan paksakan dirimu bekerja, dong," Wakabayashi menasehati.

Miki tersenyum. "Apa boleh buat. Kalau tidak begini aku tak bisa membiayai uang sekolah dan sewa apartemenku."

Si kiper terdiam. Apakah dia sudah tak tinggal bersama orang tuanya lagi?

"Ayahku meninggal dan ibuku menikah lagi. Kami tak hidup bersama sekarang," kata Miki tiba-tiba, seakan tahu apa yang ada di benak Wakabayashi. "Tapi adik perempuanku bersama ibuku. Dan dia... dia mengidolakan kiper terhebat yang dimiliki Jepang."

Miki masih tersenyum. Wakabayashi jadi salah tingkah. Apa kiper yang ia maksud adalah dirinya?

Sewaktu Miki hendak mengambil payung pantai yang digunakan Genzou, ia membawa tasnya. Lalu ia mengeluarkan sebuah buku kecil dan pulpen. "Mohon berikan aku tanda tanganmu, Genzou-kun."

Genzou jadi benar-benar salah tingkah. Wajahnya merah. Tapi ia tanda tangani juga buku kecil itu.

"Arigatou nee, adikku akan senang sekali!" ujar Miki.

Lalu Miki mengucapkan selamat malam dan beranjak pergi. Setelah dia benar-benar tak terlihat, Wakabayashi menundukan kepalanya. Tangannya menutup wajahnya sendiri. Tiba-tiba saja ia merasa sesuatu yang aneh. Apa ini?

TO BE CONTINUED~~~

Alice Jane:

Kependekan ya chapter duanya? Lagi males nulis panjang-panjang ah.

Sebelum back atau exit, review dulu yap!! ^^