Warning: Genderswitch for K-Pop UKES. Universal. Unofficial Pairings appearance before Official Pairings appearance.
Characters: Mainly EXO and other K-Pop Groups
Main Pairing: HunHan
Disclaimer: EXO are God's, their parents', and SM's. You don't have any permission to copy-paste this story or steal this story away from me. The autorization of this story belongs to me and message me/review first if you want to translate this fic to another language or save it to your devices.
Chapter 2: The Wolf
Sinar matahari menerangi kamar berdinding biru dan berhias banyak poster model tersebut, dengan sukses membangunkan seorang lelaki dari tidur nyenyaknya. Dihempaskannya selimut tebalnya, menunjukkan badannya yang hanya ditutupi boxer ber-motif tengkorak nya. Kulit putihnya terlihat semakin putih dimandikan oleh sinar matahari pagi. Lelaki itu menguap lebar dan merenggangkan otot-otot tubuhnya, memastikan badannya siap untuk ber-sekolah hari ini. Rambut putihnya berantakan dan ternodai oleh serbuk warna-warni dari kapur pewarna rambut. Dengan segera, kaki panjang nya memijak ke lantai kamarnya yang terbuat dari kayu dan dengan langkah panjang pula dia menghampiri cermin dan berdiri menatap bayangan dirinya - yang acak-acakan karena projek seni semalam - di cermin. Dia tersenyum kecil melihat rambutnya yang menjadi warna-warni itu. Konyol gumamnya pelan. Kemudian tubuh proporsional nya seakan ter-kontrol sendiri untuk berjalan menuju kamar mandinya.
Belum sempat dia menyalakan showernya, handphone nya berbunyi, menandakan ada panggilan yang masuk. Dia melirik singkat untuk melihat siapa penelponnya. Jika itu ibu nya yang menelpon, dia tidak akan mengangkat, bahkan hingga panggilan ke seribu. Namun melihat nama familiar sahabat nya, dia tersenyum kecil lalu memutuskan mengangkat teleponnya,
"Yah, Oh Sehun." sahaba tnya di seberang telpon menyapanya dengan suara serak seperti baru bangun tidur. Lelaki ber rambut putih bernama Sehun itu terkekeh pelan. "Jelaskan bagaimana aku bisa tidur di kamarku tapi mobilku tidak ada di garasiku."
Sehun hanya bergumam bodoh sebelum membalas pertanyaan sahabatnya dengan suara tak kalah serak, "Jongin-ah, kau terdengar mabuk." ledeknya.
Jongin hanya mendesah, "Siapa yang memberiku soju untuk melupakan projek seni kita sejenak?"
"Manusia tampan ber-marga Oh yang tinggal di apartemen yang terletak hanya 2 blok dari gedung agensi permodelan terkenal, Glance."
Yang di sebrang telpon hanya merajuk Damn!
"Sekarang jelaskan bagaimana rambutku bisa seperti pelangi, Kim Jongin." balasnya. Jongin tertawa renyah mengingat kejadian semalam.
"Lihat! My little pony bisa berjalan di atas pelangi! Aku juga ingin memeluk pelangi~" ledek Jongin, sukses membuat Sehun tertawa juga.
"Cukup penjelasannya, Kkamjong. Paling tidak kau akan kena marah kakakmu itu karena mobilnya kau tinggal di sini"
Dan lagi-lagi Jongin hanya bisa berkata Damn!
Setelah cukup lama berbincang dan mereka berdua memutuskan untuk membolos sekolah hari ini, Sehun memutuskan sambungan teleponnya dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju ruangan sakral untuk mensucikan kembali rambutnya menjadi warna putih. Lelaki berusia 19 tahun itu berusaha mengatur suhu shower nya menjadi hangat walaupun dia tahu shower nya itu sangat ber-masalah dan benar saja, shower nya tidak mau ber-koordinasi dan pada akhirnya, Sehun terpaksa mandi dengan air dingin. Walaupun pada awalnya rutukan-rutukan kesal terdengar dari bibirnya, namun pada akhirnya Sehun berusaha berpikir bahwa mandi air dingin dapat meningkatkan daya tahan tubuhnya dan otak kekanak-kanakannya memikirkan bagaimana badannya dapat menjadi semakin ber-otot hanya karena daya tahan tubuhnya kuat. Semakin sehat dia, semakin dia dapat menjadi lebih keren daripada Jongin. Dia tertawa sendiri membayangkannya.
Sepuluh menit ber-keramas dapat membuat rambutnya menjadi putih kembali. Sehun dapat melihat rambut putih bersihnya bersinar terkena sinar lampu dari refleksi dirinya yang tampan di cermin dan tersenyum puas. Memutuskan bahwa hari bolos ini adalah hari dimana dia harus bersantai, Sehun tidak berpikir akan mengenakan baju hari ini. Sepertinya handuk mandi ber-gambar Pokemon nya cukup untuk menutupi bagian tubuh terpentingnya hari ini. Lagipula, Sehun tidak pernah mengharapkan akan ada tamu yang datang ke apartemennya. Bahkan ibunya sekalipun tidak pernah berkunjung. Kalau dia berkunjung pun, Sehun tidak yakin akan membiarkannya masuk.
Sehun mengacak-acak rambutnya yang masih basah. Untuk apa sih memikirkan ibu? Seperti tidak ada urusan lain yang lebih penting saja gumamnya pelan sambil terkekeh mencemooh ibu nya di Jeju sana. Dia mengeringkan kakinya di atas keset kamar mandi bergambar bunga-bunga yang tentunya cukup manly untuk seorang lelaki 'cool' seperti dia. Kemudian, matanya menatap sekeliling kamarnya yang di sana, banyak terpampang poster dari model wanita kesayangannya - Xi Luhan.
Tinggal 2 blok dari gedung Glance merupakan keuntungan tersendiri bagi Oh Sehun yang diam-diam merupakan penggemar berat dari Xi Luhan. Pernah sesekali dia bertatap wajah dengan Luhan saat dia baru keluar dari coffee shop dekat sana, atau saat dia melewati gedung Glance. Atau bahkan saat dia baru keluar dan melewati restoran Byun Fam's Original yang terletak di depan gedung Glance. Tentu saja Sehun sangat senang, walaupun dia tidak yakin Luhan melihatnya. Intinya, Sehun mengkoleksi banyak foto-foto Luhan yang dia ambil saat mereka berpapasan. Foto-foto itu juga yang dapat membuat mood Sehun naik hanya dengan melihatnya. Bahkan baik wallpaper lock screen maupun home screen iPhone Sehun merupakan foto Xi Luhan.
Ya, Sehun sangat mencintai gadis itu hingga dia diam-diam mempunyai mimpi kecil untuk menjadi model di Glance dan berfoto untuk sebuah majalah atau brand terkenal bersama Luhan. Baik sebagai pasangan, ataupun hanya sebagai latar atau model figuran bagi gadis itu. Namun, mimpi itu benar-benar terletak jauh di belakang alam mimpinya yang 80% terisi dengan mimpinya untuk menjadi dancer terkenal. Lagipula, usianya masih terlalu dini untuk mendaftar menjadi model di agensi itu. Yang dia pikirkan saat ini adalah bagaimana dia harus lulus dulu dari universitasnya dan bebas dari berbagai macam tugas dan projek dari universitasnya. Kemudian dia juga terkadang membayangkan bagaimana waktu tidurnya akan semakin berkurang apabila dia menjadi model.
Jadi anak kuliahan di Seoul Art University saja sudah membuatku kurang tidur, apalagi ditambah menjadi model untuk agency mendunia macam Glance?
Dua mata indahnya memandangi setiap poster Luhan di kamarnya dan saat dia sadar hormon lelaki remaja nya mulai bergejolak saat dia melihat salah satu poster Luhan yang sedang ber-pose manis menggunakan bikini yang desainnya bisa dibilang minim, dan sanggup menunjukkan belahan payudara nya yang langsung saja dapat meningkatkan libido Sehun.
Payudara Xi Luhan... Kapan aku bisa menyentuhnya, Tuhan?
Pada akhirnya Oh Sehun, seorang pelajar dari universitas paling ternama di Seoul - Seoul Art University, ber-masturbasi di depan poster megah dari Xi Luhan.
Suatu hari nanti aku pasti bisa mengenalnya...dan menyentuhnya.
W & D
"Jongin-ah!"
"Oh! Jongdae-hyung?"
Seorang lelaki ber-rambut coklat muda berlari menghampiri lelaki lainnya yang ber-rambut pirang yang sudah tentu lebih muda walaupun tingginya melebihi lelaki ber-rambut coklat muda itu.
"Kau tidak kuliah eh?" tanya lelaki ber-rambut coklat muda itu - Kim Jongdae.
"Aniyo, hyung... Bolos." balas lelaki ber-rambut pirang dan berbadan tinggi - Kim Jongin - sambil terkekeh pelan.
Jongdae berdecak mengejek sambil memasang wajah melecehkannya pada muridnya itu, "Dasar anak muda" cibirnya pelan. Namun, pendengaran Jongin terlalu kuat hingga suara pelan Jongdae yang terdengar seperti angin berhembus pun dapat terdengar olehnya. "Hyung hanya lebih tua 2 tahun dariku!" protesnya.
Jongdae tersenyum. Pasalnya, dulu dia juga sering membolos. Mahasiswa yang membolos...wajar saja baginya. Kuliah terkadang membosankan, apalagi di hari Jum'at yang dingin seperti ini. Namun yang dia bingungkan, muridnya ini tidak terlihat membawa mobil, padahal dia tau Jongin akan selalu membawa mobil kemanapun dia pergi.
"Kau jalan kaki sendiri? Tumben, biasanya bawa mobil?" tanya Jongdae sembari memeriksa parkiran di belakangnya, benarkah tidak ada mobil Jongin.
"Aniyo, hyung... Aku-"
"KIM JONGIN! Yah! Kkamjong, tunggu aku!" ucapan Jongin terpotong oleh sebuah suara sopran yang membuat dua lelaki itu menoleh ke arah sumber suara.
Jongin mendesah pelan sementara Jongdae terbengong-bengong. Baru kali ini seumur hidupnya Jongdae melihat malaikat secantik gadis yang kini berlari kecil ke arah mereka. Sungguh... rambut panjang berwarna jingga-kecoklatan yang berkibar sambil dia berlari, poni nya yang ditahan ke belakang oleh sirkamnya dan menunjukan dahi putihnya yang mulus tanpa jerawat, wajah imutnya, pipi chubby nya menggemaskan pula - gadis di depannya ini sangat sempurna.
"Ya habis noona lama sekali!" balas Jongin sambil merengut, merangkul noona nya yang terengah-engah. Yang dirangkul hanya bisa menjitak kepala adiknya perlahan karena kesal.
Kemudian, mata Minseok menangkap sosok laki-laki yang memperhatikannya dengan tatapan...menyeramkan,
"Siapa ini, Jongin? Teman satu kampusmu?"
"Bukan. Ini guru club ku, noona." Jongin menarik pergelangan tangan Jongdae dan sukses membuat lelaki yang lebih tua darinya itu tersadar dari lamunan fantasi nya akan malaikat bernama Kim Minseok, "Jongdae-hyung, ini noona-ku. Namanya Kim Minseok. Minseok-noona, ini guru ku, namanya Kim Jongdae."
Minseok mengulurkan tangannya ke depan Jongdae dan tersenyum ramah, "Hai, Jongdae! Namaku Minseok! Oh, dan aku 23 tahun."
Mata Jongdae membelalak kaget. Dia pikir, perempuan di depannya ini berusia 1 tahun lebih tua daripada Jongin. Wajahnya sungguh seperti anak-anak.
"H-hai, Minseok-noona... Namaku Jongdae dan umurku 21 tahun," balasnya sembari menyambut ajakan Minseok untuk berjabat tangan dan sungguh, tangan Minseok sangat lembut dan Jongdae tidak ingin melepaskannya.
Dan Kim Jongdae menggenggam tangan gadis itu lebih lama dari yang Minseok inginkan.
"U-umm... Jongdae-ssi?" Minseok menepuk pundak Jongdae perlahan, menyadarkan guru muda itu dari lamunannya.
Jongin yang sejak tadi menonton hanya bisa tertawa kecil. Sepertinya beberapa bulan lagi, guru nya ini akan menjadi calon kakak iparnya. Sungguh, dia ingin agar Jongdae dan Minseok bisa bersama lebih lama lagi namun langit mendadak mendung, dan Jongin sudah benar-benar kelaparan, tidak sabar ingin memakan sup ikan buatan kakaknya yang cantik itu.
"Umm... Noona, sepertinya kita harus pulang," ucap Jongin sambil menunjuk langit yang sudah gelap, membuat Minseok membelalakkan matanya
"Ah, benar!" balas Minseok. Dia segera melepaskan genggaman tangannya dengan Jongdae, "Senang berkenalan dan bertemu denganmu, Jongdae-ssi! Semoga kita bisa bertemu lagi lain waktu"
Jongdae hanya bisa mengangguk pelan sebelum berkedip bingung. Samar-samar dia bisa melihat Jongin yang melambaikan tangan ke arahnya sebelum berlari bersama Minseok. Cukup lama dia terbengong melihat kepergian malaikatnya hingga akhirnya hujan turun dan membasahi tubuhnya yang kaku dikarenakan seorang perempuan yang sepertinya diturunkan dari surga untuknya.
Kim Minseok, betapa Tuhan menciptakan dirimu dengan sempurna.
W & D
Kris menggesekkan kedua tangan besarnya di depan wajahnya, sesekali meniupnya untuk menghangatkan kedua tangannya itu. Bagaimana bisa dia melupakan sarung tangannya? Lebih tepatnya, sarung tangan rajutan Baekhyun. Dan lagi, bagaimana bisa udara dan suhu hari ini sudah seperti musim dingin saja? Padahal sekarang baru awal musim gugur. Memutuskan bahwa dirinya tidak ingin mati kedinginan dan otaknya tiba-tiba mengingat cokelat hangat buatan Baekhyun, lelaki tinggi ber-rambut pirang itu segera berlari ke parkiran dan mencari mobil BMW kesayangannya itu. Selagi berlari, Kris memikirkan bagaimana seminggu ini Baekhyun jarang menghubungi dirinya dan itu membuatnya sangat khawatir. Belum lagi, Baekhyun tidak terlalu ceria seperti biasanya dan terkadang dia menemukan Baekhyun yang terlihat muram saat tidak bersama dirinya. Satu waktu juga Kris melihat gadis mungil itu menatap foto ibunya dengan wajah sedih. Kris sempat berpikir – mungkin nyonya Byun sakit atau mungkin terjadi apa-apa dengannya, maka dari itu Kris segera menjenguk nyonya Byun di restorannya. Namun, yang di khawatirkan terlihat biasa saja dan malah tersenyum ramah menyapa Kris sebelum menawarkan menu terbaru nya dan malah menanyakan keadaan Baekhyun. Hal itu membuat Kris bertambah bingung. Hebatnya lagi, hari ini Baekhyun benar-benar belum menghubunginya sama sekali. Padahal biasanya, gadis mungil itu seperti tidak bisa hidup tanpa menghubungi Kris dan bermanja-manjaan dengannya. Kris menggelengkan kepalanya dan memutuskan untuk memfokuskan mata dan pikirannya ke jalanan. Dia benar-benar merindukan Baekhyun dan sudah tidak sabar menarik gadis cerewet itu ke dalam pelukannya.
Baru dia menutup mobil, hujan pun turun membasahi jalanan Seoul. Suasana nya pun menjadi sedikit muram, namun Kris tidak ingin terbawa suasana yang dibawakan oleh hujan. Sembari menyetir mobilnya, Kris melihat sebuah toko make up yang baru dibuka di pingir jalan. Toko itu juga mengadakan harga promo atas pembukaan cabangnya di tempat itu. Kris tersenyum dan memutuskan dia akan mengajak Baekhyun ke toko itu besok dan membelikannya beberapa alat make up atau mungkin eye liner baru. Apapun untuk menghibur kekasih cantiknya yang sepertinya sedang bersedih itu. Mobilnya berhenti disebabkan lampu merah yang menyala dan itu membuatnya sadar bahwa mobilnya terasa sunyi. Dia memutuskan untuk menyalakan radio mobilnya yang dengan segera memperdengarkan musik yang dilantunkan oleh seorang penyanyi Korea yang sangat populer, dan Kris mengenalnya – Kim Jonghyun, yang juga merupakan kekasih dari desainer terkenal Kim Kibum. Kemudian Kris mengingat cita-cita kedua Baekhyun yang merupakan penyanyi. Kris pun tahu betapa indahnya suara model mungil naungan Glance itu, suaranya layaknya suara malaikat yang memanggil Kris ke dalam pelukannya dan Kris tidak akan bisa melepaskan diri dari pelukan itu selamanya. Mungkin itu task keduanya – mempertemukan Baekhyun dengan Kim Jonghyun. Mungkin nanti, setelah mereka bertemu Kim Kibum pada esok hari. Kris benar-benar harus bisa membuat Baekhyun riang lagi. Baekhyun yang sedih dan murung bukanlah kepribadian dari Byun Baekhyun yang dia sukai. Bahkan dua kepribadian itu membuat Baekhyun tidak seperti Byun Baekhyun yang biasanya.
Musik dari Kim Jonghyun telah lama selesai dan kini radio itu memasuki acara berita sore mereka. Kris yang menyukai berita pun membesarkan volume suara radio nya, menantikan berita yang akan disampaikan dengan antusias.
'Sore ini kita akan mulai dengan berita dari dunia permodelan, atau mungkin dunia perbinisnisan restoran.'
'Sepertinya gelar dari wanita ini banyak sekali ya?'
'Tidak juga. Sebenarnya wanita ini lebih bergerak di bidang bisnis restoran yang dia buka sendiri dan sekarang sudah menjadi restoran yang cukup terkenal di wilayah Seoul.'
'Lalu bagaimana dengan dunia permodelannya?'
'Anak dari wanita ini adalah seorang model terkenal'
"Model terkenal? Pengusaha restoran? Jinjja... Kenapa semuanya terdengar familiar?" gumam Kris sambil menyimak berita radio tersebut.
'Model Byun Baekhyun, siapa yang tidak kenal dengan model cantik dan mungil itu?'
Kris membelalakkan matanya. Dia sungguh terkejut, pasalnya keluarga Byun sangat dekat dengannya dan dia tidak menyangka bahwa nyonya Byun yang tidak pernah terkena gossip atau kasus dan masalah apapun bisa masuk ke berita. "Baekhyun?! B-berarti berita ini tentang nyonya Byun? Ada apa dengannya?"
'Ya. Nyonya Byun Soomi – ibu dari Byun Baekhyun, seorang pengusaha restoran bernama Byun Fam's Original ter-diagnosis penyakit yang serius. Baik dari pihak keluarga, maupun pihak restoran, dan pihak-pihak terdekatnya tidak ada yang mau memberitahu mengenai penyakitnya kepada media. Namun, media berhasil mengikuti sebuah ambulans yang membawanya dari restoran Byun Fam's Original menuju Seoul International Hospital tadi siang pukul 13.45 waktu Seoul.'
"Hah? Pukul 13.45 tadi kan aku di gedung Glance, bagaimana bisa aku tidak menyadarinya?" batin Kris. Kini pikiran dan pandangannya sudah tidak fokus ke jalanan lagi. Namun Kris benar-benar ingin tahu apa yang terjadi pada nyonya Byun. Maka untuk mengembalikan fokusnya, Kris mematikan radio nya dan memacu mobil nya lebih cepat menuju Seoul International Hospital.
W & D
Yixing menggeletakkan gitar berwarna hijau kesayangannya itu ke kasur. Entah kenapa, hari ini dia tidak bisa menemukan ide apapun untuk memulai projek lagu barunya. Kemarin dia baru saja mendapat kesempatan dari SM Entertainment untuk dapat memulai karir nya sebagai musisi yang sesungguhnya. Bukan hanya itu, kemarin dia juga sempat bercengkrama dengan 3 penyanyi terkenal di Korea Selatan saat ini – Kim Jongwoon, Lee Jinki, dan Kim Jonghyun. Mengetahui bakat dan kemampuan mereka, Yixing semakin bersemangat untuk mulai menulis lagu barunya dan memberitahukannya kepada SM. Siapa yang tahu bila 3 tahun lagi prestasi dan kepopuleran nya bisa menyamai 3 penyanyi tersebut. Yixing sangat menginginkan itu namun saat ini, otaknya benar-benar tak bisa memberikan ide apapun. Memutuskan untuk mencari ide lewat beberapa acara tv terutama drama yang kisahnya bisa dijadikan lagu, Yixing pun menyalakan tv nya yang dengan segera menayangkan sebuah acara berita nasional. Awalnya Yixing tidak tertarik sampai dia melihat tulisan 'Glance' di bar judul berita di bagian bawah. Dengan perlahan, dibacanya judul berita tersebut dan matanya baru bisa melihat adegan yang ditampilkan di tv. Model familiar yang dikenal dunia – Byun Baekhyun, sedang menangis sambil berlari mengejar tempat tidur yang membawa seorang wanita yang terkenal sebagai pengusaha restoran terkenal di Seoul, namun Yixing lupa namanya. Glance... Berarti Joonmyun tahu sedikit mengenai berita itu? Dengan segera, Yixing menekan tombol 2 di handphone nya yang langsung menyambungkannya dengan tunangan nya,
"Ada apa Yixing?"
"Joonmyunnie, apa kau sedang di kantor?" tanya Yixing sambil mengelus senar gitar nya yang sepertinya sudah harus diganti.
"Umm... Iya, aku di kantor. Wae xingie?" tanya gadis dengan suara malaikat itu lembut
Yixing melirik ke arah tv sekali lagi dan melihat Byun Baekhyun yang menangis tersedu-sedu di depan ruangan UGD rumah sakit itu. Yixing tidak pernah suka melihat perempuan menangis, siapapun itu, berhak atau tidaknya dia, yang penting Yixing tidak suka melihat perempuan menangis.
"Aku merindukanmu, Joonmyun." Ucapnya sambil mematikan tv, memutuskan bahwa dia sudah tidak tahan lagi melihat Byun Baekhyun yang menangis.
Terdengar kekehan lembut Joonmyun dari seberang telpon, membuat Yixing tersenyum dan membuat hatinya lega mengetahui bahwa pujaan hatinya sedang tidak menangis seperti Baekhyun,
"Aku juga merindukanmu, Yixing." Balasnya
"Hey, tunggu aku, okay? Aku akan ke kantormu dan aku sedang dalam perjalanan." Ucap Yixing sambil mengambil dompet, kunci rumah, dan jaketnya, lalu mengambil kunci motor dan memakai sepatunya. Tidak lupa juga lelaki itu mengunci pintu apartemen nya sebelum berlari menuruni tangga dan membuka sarung yang menutupi motornya.
"Uhm, tentu chagi. Hati-hati di jalan, neh?" Yixing menganggukkan kepalanya meskipun dia tahu Joonmyun tidak bisa melihatnya.
"Joonmyun?"
Terdengar suara gesekan kertas dan pulpen di seberang telpon sebelum suara yang Yixing cintai menjawabnya, "Ya?"
"Kau adalah wanita paling cantik di dunia ini, dan aku mencintaimu." Ucap Yixing lembut sebelum mengencangkan risleting jaketnya dan memakai helmnya. Yang dipuji hanya tertawa lembut,
"Aku juga mencintaimu, Yixing. Kau adalah pria paling tampan di dunia ini. Sekali lagi hati-hati di jalan, neh?"
Dan itu adalah kalimat penutup sebelum Yixing mulai mengemudikan motornya dengan hati-hati, menerobos hujan menuju gedung Glance.
W & D
Jongin baru akan menuju rumah Sehun untuk mengambil mobil nya – atau mungkin lebih tepatnya mobil Minseok - sebelum handphone nya berbunyi, menandakan panggilan dari senior nya – Lee Taemin. Bingung akan panggilan dadakan yang jarang sekali dilakukan oleh Taemin, Jongin segera mengangkatnya. Berpikir mungkin saja ada sesuatu yang penting hingga Taemin menelponnya,
"Yeoboseyo?"
"Jongin-ah..." suara gadis itu terdengar serak dan parau. Jongin pun dapat menduga bahwa gadis itu baru saja menangis. "Ya, noona?"
Terdengar suara isakan Taemin dan teriakannya yang terpendam oleh sesuatu... mungkin bantal? Atau guling? Entahlah. "Minho..."
Oh, jadi itu masalahnya. Tentang Choi Minho – seorang pemain sepak bola muda terkenal di Korea Selatan yang juga merupakan kekasih dari Lee Taemin – seorang mahasiswi yang tahun ini baru akan lulus dari Seoul Art University. Bila Taemin menangis sampai meraung-raung seperti ini, Jongin sudah bisa menebak pasti mereka berkelahi atau mungkin putus, dan Taemin ingin meminta tolong padanya hanya karena dulu Jongin dan Minho berteman baik. Well, sampai sekarang pun mereka masih berteman baik, namun mengetahui jadwal Minho yang padat, mereka jadi jarang mengobrol atau pun bertemu. Bahkan Jongin tidak tahu apakah nomor handphone Minho sudah berganti atau belum.
"Hmm?"
"Tolong aku, Jongin... Kau kan teman dekat Minho," pintanya diselingi dengan isakan-isakan kecil.
Jongin mendesah pelan, "Noona, kau kan tahu sendiri aku dan Minho-hyung sudah tidak pernah berhubungan. Nomornya saja aku-"
"Biar aku kirimkan nomornya ke e-mailmu." Potong Taemin dan belum sempat Jongin berkata apa-apa, sambungan sudah diputus. Selang beberapa detik kemudian, lampu notification di handphone Jongin menyala, menandakan ada e-mail yang masuk.
Kalau sudah begini mau bagaimana lagi? Taemin adalah gadis yang suka memaksa jika sudah berada di ujung tanduk. Dan Jongin rasa, hubungan Taemin dan Minho saat ini benar-benar sedang berada di ujung tanduk. Jongin pun menatap ke arah layar handphone nya yang menampilkan nomor telepon Minho yang baru. Bagaimana kalau Minho sudah lupa dengannya dan pembicaraan menjadi canggung? Terakhir kali Jongin bertemu Minho adalah 5 bulan yang lalu, saat Minho dan Taemin baru saja menjadi sepasang kekasih. Saat itu jadwal Minho belum terlalu padat jadi dia masih sering menjemput Taemin di kampus. Sekarang? Lihat saja berita di koran. Hampir ada Minho di bagian olahraga di setiap edisi koran maupun majalah. Bahkan Taemin pernah masuk koran dan majalah bersama Minho sesekali.
Jongin terbuyar dari lamunannya saat lampu notification handphone nya berbunyi lagi, menandakan ada satu pesan masuk dari Taemin. Dengan segera, dia membuka pesan itu,
.
From: Taemin-noona
To: Awesome Kkamjong
Jongin-ah... Aku benar-benar butuh bantuanmu, terima kasih
.
Jongin mendesah sebelum mulai menghubungi Minho, berharap teman lama nya itu masih mengingatnya,
"Yeoboseyo?"
"Hai, Minho-hyung."
"Ya? Nuguseyo?"
Sudah Jongin duga, bahkan Minho melupakan suaranya. Tentu saja, sudah 5 bulan lebih mereka tidak saling berhubungan,
"Ini Jongin. Kim Jongin... Ingat? Seoul Art University?"
Hening sejenak. Jongin berharap Minho benar-benar tidak melupakannya.
"Oh, iya! Kim Jongin, divisi dance club musik! Ya ya ya..." suara Minho menunjukkan bahwa sepertinya Minho sedang tersenyum lebar di seberang sana, membuat Jongin tersenyum juga, "Ada apa menelpon, Jongin-ah? Sudah lama sekali kan kita tidak saling berhubungan?"
"Ah, neh... Jadi hyung..."
Hening lagi.
"Ya?"
"Neh..." dan masalahnya adalah, Jongin bingung harus bertanya apa pada Minho untuk membantu Taemin berbaikan dengan Minho.
W & D
"Baekhyun!"
Yang dipanggil tidak menjawab – masih menundukkan kepalanya sambil menangis tersedu-sedu.
"Baekhyun-ah!"
Yang dipanggil pun mulai mendongakkan kepalanya dan menoleh ke arah datangnya suara, tersenyum lemah saat melihat kekasihnya berlari ke arahnya. Dengan segera, gadis mungil ber-rambut panjang sebahu itu berdiri dan berlari ke pelukan kekasihnya yang berbadan tinggi, lalu melanjutkan aktifitas menangisnya. Dipeluknya lelaki berpostur badan sempurna itu erat dan dibasahinya dada lelaki itu dengan air mata nya yang tak henti-hentinya mengalir. Sungguh, dia ingin berhenti menangis, tapi tidak bisa. Hati nya hancur saat ini. Sedih. Takut. Ibu nya sedang sakit, dan sekarang berada di dalam ruangan UGD. Kris mengelus rambut lembut Baekhyun perlahan. Dikecupnya pucuk kepala gadis itu dengan lembut dan penuh cinta, berharap dia dapat merasakan perasaan sedihnya juga. Namun, saat ini Kris hanya ingin meyakinkan Baekhyun bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tidak lama lagi, dokter akan keluar dari ruangan UGD dan memberitahukan bahwa nyonya Byun hanya terkena penyakit biasa dan esok hari, atau mungkin lusa, wanita itu akan sembuh dan dapat beraktifitas seperti biasa. Ya, semua itu akan terjadi. Tapi sepertinya Baekhyun tidak mempunyai pikiran optimis seperti itu. Rasa khawatir dan takut menguasai dirinya saat ini. Yang bisa ia pikirkan adalah bagaimana bila ibu nya akan berhenti bernafas. Tangan lembut dan hangat itu akan berhenti mengusap pipi nya. Tubuh yang sudah tidak sekuat dulu namun kehangatannya masih sama, akan memeluknya dengan penuh kasih sayang, dan bibir tipis nya akan mengeluarkan kata-kata pujian dan meyakinkan Baekhyun bahwa hidup ini indah dan semuanya akan baik-baik saja.
"Kris..."
"Ssh... Don't say anything, Baby Baek,"
Isakan-isakan mulai keluar dari bibir tipis Baekhyun,
"S-she's sick... My mom's si-" namun ucapan Baekhyun terpotong oleh bibir tebal yang meraup bibir tipis nya.
Tak bisa berpikir lebih jauh lagi, Baekhyun memejamkan matanya, yang otomatis membuat airmata yang tertampung di pelupuk matanya mengalir, membasahi pipi lembutnya dan juga pipi Kris. Tangan mungilnya melingkar di sekeliling leher Kris. Yang dia butuhkan saat ini hanyalah kehangatan. Kehangatan serta dukungan, juga tumpuan. Dan Kris adalah orang yang paling Baekhyun butuhkan saat ini. Tangan besar Kris melingkar di sekeliling pinggang langsing Baekhyun dan menarik gadis mungil itu lebih dekat lagi. Bibirnya melumat bibir model cantik itu dengan lembut dan penuh cinta, menunjukkan bahwa dirinya akan selalu ada untuk model cantik itu, akan selalu di sampingnya, dan akan selalu mendukungnya. Lumatan yang tadinya hanya pengekspresian rasa cinta dan untuk menghibur Baekhyun saja, berubah menjadi ciuman yang lebih panas. Kini lidah Kris tengah menelusuri rongga mulut Baekhyun yang terasa seperti anggur, dan mengabsen gigi putih nya satu persatu. Lidah Kris juga mengajak lidah Baekhyun untuk berdansa dalam tautan cinta. Namun, ciuman mereka harus berhenti saat akhirnya, pintu ruang UGD terbuka – menunjukan seorang dokter yang melepas sarung tangan dan maskernya, lalu tersenyum melihat dua pemuda-pemudi yang baru saja melakukan aktifitas bertukar cinta mereka,
"Bagaimana dokter?" Baekhyun segera menghampiri dokter dan menggenggam tangannya erat, seolah-olah memaksa dokter untuk memberitahukan jawaban bagus walaupun kondisi ibu nya mungkin sebenarnya tidak bagus.
Kris menatap pada dokter tersebut yang hanya tersenyum kecil sambil memperhatikan wajah Baekhyun yang panik. Tangan keriputnya mengelus kepala Baekhyun lembut, seolah berusaha memberitahu bahwa ibu nya tidak apa-apa
.
Untuk saat ini
"Adakah di sini yang bernama Kris Wu?" tanya dokter sambil melirik ke seluruh orang yang ada di situ, mencari orang yang bahkan dia tak tahu ciri fisiknya seperti apa.
Yang dicari pun mengangkat tangannya sambil tersenyum. Dokter tersenyum balik dan segera menuntun Kris untuk ikut dengannya, masuk ke dalam ruangan UGD. Baekhyun yang merasa penasaran pun mengekor di belakang mereka, tidak sabar ingin melihat keadaan ibu nya. Namun, dokter belum memperizinkan model imut itu untuk masuk, sementara kekasihnya hanya memberikan tatapan yang bisa membuatnya tenang.
"Umma, jeongmal saranghae."
W & D
"Joonmyun-ssi, tunanganmu mencarimu."
"Biarkan dia masuk, Yoonjo-ssi."
Gadis ber-rambut pirang itu pun tersenyum sebelum membungkukkan badannya dan membukakkan pintu kayu dari ruangan Joonmyun, mempersilahkan seorang lelaki dengan rambut coklatnya yang basah masuk ke dalam sambil memainkan kunci motor nya di tangannya. Dia tersenyum saat melihat wanita yang dicintai nya menutup pulpen nya dan menandakan Yoonjo untuk keluar dari ruangan dan meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan. Yoonjo menuruti perintah atasannya dan memberikan senyum penuh arti kepada dua insan muda yang kini saling bertatapan tersebut.
"Hai, cantik." Yixing menyapa sambil melangkah semakin dekat dan duduk di kursi klien yang terletak tepat di depan meja kerja Joonmyun.
Joonmyun tertawa kecil sebelum merapihkan rambut panjang sebahu nya yang dia tahu pasti berantakan, "Ada yang bisa kubantu, tampan?"
Yixing mencondongkan tubuhnya mendekati Joonmyun yang tengah menumpukan wajah cantik nya dengan kedua tangannya sambil tersenyum melihat tunangannya yang entah kenapa sangat ia rindukan itu. Wajahnya tinggal beberapa senti lagi dari wajah model cantik itu. Tangannya yang basah mengelus pipi lembut nya, membuat yang dielus mendengkur dengan nikmat layaknya seekor kucing,
"Aku butuh kau, yeobo." Yixing berbisik sebelum mencium bibir Joonmyun dan melumatnya dengan lembut.
Joonmyun mendorong Yixing perlahan, membuat lelaki China itu menggerutu kecewa, memasang ekspresi ngambek nya yang membuat Joonmyun tersenyum gemas, "Anak muda memang tidak sabaran ya?" ledeknya. Yang diledek tetap memasang ekspresi lucunya, bahkan sekarang dia mengerucutkan bibirnya. Joonmyun berjalan memutari meja kerjanya dan berdiri tepat di hadapan Yixing. Gadis berbadan mungil itu mendudukkan dirinya di atas pangkuan tunangannya dan menyamankan posisinya.
"Jadi, bagaimana aku bisa membantumu, tuan tampan?" tanya nya sambil menyibakkan poni panjang Yixing ke samping wajahnya, menunjukkan mata Yixing yang tadinya tertutup oleh poninya itu.
Lelaki ber-rambut coklat itu memendamkan wajahnya ke dada tunangannya, memeluk pinggangnya dengan erat sementara yang dipeluk hanya bisa merasakan wajahnya yang memanas sembari memeluk leher lelaki kesayangannya itu. Dielusnya rambut Yixing dengan lembut, sementara Yixing sibuk menggerak-gerakkan kepalanya di antara kedua payudara Joonmyun,
"Yeobo... G-geli," Yixing mendongakkan kepalanya dan tersenyum nakal ke arah tunangannya yang kini mendorong kepalanya pelan dari dadanya.
"Aku benar-benar merindukanmu, yeobo." Bisiknya pelan. Tangan yang biasanya dia gunakan untuk bermain gitar itu kini mengelus kedua payudara wanita yang dicintainya dengan lembut, membuat sang empunya dua buah gunung cukup besar itu merinding dan menggeliat menahan geli.
"Yixing... J-janganhh~" desahan model wanita favoritnya itu sudah cukup membuatnya ter-rangsang. Tanpa basa-basi lagi, dia membuka kancing kemeja tipis Joonmyun, menampilkan dada putih Joonmyun yang masih dilapisi oleh bra-nya yang bewarna hitam dan ber-renda. "Wow, bahkan pakaian dalammu harus kelihatan fashionable, sayang?" godanya sambil mengecup payudara Joonmyun yang masih ditutpi oleh bra-nya.
Wajah Joonmyun merona sempurna. Dipukulinya kepala Yixing dengan lembut, namun yang dipukul memutuskan untuk bertingkah berlebihan dan bertingkah kesakitan. "Ouch... Appo, yeobo~"
"Kau yang mulai duluan, dasar pervert unicorn!" Joonmyun menjewer telinga Yixing pelan, hanya sekedar ingin bercanda dalam memarahinya.
Yang dijewer hanya tertawa, bagaimana tidak? Dia tidak merasakan sakit samasekali saat dijewer oleh wanita di hadapannya. Dia mengelus pipi Joonmyun dengan lembut sambil tersenyum, mengagumi karya Tuhan yang maha sempurna itu di pangkuannya. Jari-jarinya bermain dengan rambut coklat milik Joonmyun yang sedikit dikeritingkan di tiap-tiap bagian ujungnya. Sungguh, dia bersyukur bisa memiliki wanita ini seutuhnya. Bagaimana senyumnya bisa seindah senyum malaikat, bahkan lebih. Suara nya yang merdu, dan kesabaran serta integilitas yang tinggi. Kim Joonmyun adalah sosok sempurna bagi Zhang Yixing.
"Aku tak bisa menahan hasrat untuk bermain denganmu, my little angel."
Yixing pun menggendong tubuh mungil Joonmyun dan merebahkannya di sofa ruang kerja Joonmyun. Penampilan Joonmyun saat ini sungguh menggoda walaupun gadis itu sedang tidak menggodanya. Tanpa basa-basi lagi, Yixing mulai mengecup leher putih Joonmyun yang ter-ekspos dan menjilatinya perlahan, memastikan tubuh Joonmyun bergetar nikmat di bawah sentuhannya. Tangan kurus Joonmyun perlahan mulai melingkar di sekitar leher Yixing, menarik lelaki itu agar lebih dekat lagi. Gadis itu juga merenggangkan lehernya, mengekspos lebih banyak bagian dari kulit putih mulusnya untuk dapat dinikmati oleh kekasihnya. Yixing tersenyum puas. Dengan lembut, dihisapnya leher Joonmyun yang selalu membuatnya kecanduan itu,
"X-xingie... Jangan b-buat kiss...m-mark eunghh~" desahnya pelan sambil mencegah Yixing membuat kissmark di lehernya dengan cara memiringkan kepalanya dan mengapit kepala Yixing yang berada di antara kepala dan pundaknya dengan pundaknya. "Aku ada p-pemotretan besookhh... Oohh~"
Namun Yixing tak menggubris permintaan kekasihnya. Justru bagus kan apabila dunia bisa melihat tanda kepemilikan di tubuh Joonmyun? Bahwa super model Kim Joonmyun hanyalah miliknya seorang dan tidak ada yang bisa mengambilnya dari Yixing meskipun itu model pria yang berlaga di pemotretan dengannya sekalipun. Nope, Joonmyun hanya miliknya.
Tangan Yixing yang mulai gatal pun mulai membuka kaitan bra Joonmyun, membuatnya menggeliat saat puting payudara nya terkena oleh udara dingin yang ditimbulkan oleh AC di ruangannya. Dengan tidak sabaran, lelaki yang seusia dengan tunangannya itu melempar bra berwarna hitam itu dengan asal ke sembarang arah dan dengan cepat dikecupinya puting merah muda milik Joonmyun. Sesekali dijilat dan dihisapnya kedua bulatan merah muda itu, membuat sang empunya mendesah penuh kenikmatan,
"Sssshhh.. Y-yixing~ ahh ahh,"
Desahan Joonmyun dengan sukses meningkatkan libido Yixing. Dia tidak sabar untuk memasukkan penis nya ke dalam vagina gadis itu. Namun, dia tidak ingin terburu-buru dan masih ingat bagaimana harus memperlakukan wanita dengan lembut. Lidahnya menelusuri setiap inchi bagian dari tubuh putih Joonmyun, terkadang menghisapi nya dan meninggalkan banyak kiss mark merah yang dia tahu nantinya akan berubah menjadi keunguan. Sementara Joonmyun yang tengah menikmati kenikmatan sempurna dari Yixing, baru menyadari bahwa lelaki itu masih menggunakan pakaian secara utuh, membuat wajahnya merona malu dan dengan cepat, jari-jari lentik itu pun mulai membuka satu persatu kancing kemeja Yixing.
"Wow, ada yang merindukan tubuhku hmm?" godanya. Senyum nakal pun terpampang di wajah tampannya dan dengan cepat, dia melepaskan kemeja dan celana jeans nya, meninggalkan dirinya hanya dengan boxer – hadiah ulang tahun nya yang ke 20 dari Joonmyun.
"Y-yeobo... Itu kan hhaahh.. boxer d-dariku hh.." Joonmyun berkata sambil berusaha mengatur nafasnya.
Yixing terkekeh pelan sebelum mengusap dahi Joonmyun yang sudah berkeringat, "Salah. Ini boxer favoritku." Dan bibir tebal lelaki itu pun membungkam bibir tipis gadis itu. Lipstick Joonmyun menempel di bibir Yixing, lidah pun bertemu dengan lidah. Bisa dibilang ciuman mereka berantakan, namun mereka menikmatinya dan ciuman itu pun mampu membuat Joonmyun serasa melayang.
Perlahan, lidah Yixing mulai menuruni bibir Joonmyun, merasakan leher putih dan jenjang Joonmyun sebelum berlanjut ke payudara Joonmyun yang bisa dibilang tidaklah kecil. Lalu diciuminya perut rata Joonmyun sembari tangannya membuka kancing rok ketat Joonmyun yang selalu memperlihatkan lekuk pantatnya yang selalu membuat Yixing tergoda. Ditariknya rok mahal itu dan lagi-lagi dilemparkannya ke sembarang arah. Kini, Joonmyun hanya berbalut kemeja nya yang seluruh kancingnya sudah terbuka dan celana dalamnya saja. Dan kenampakan itu tentu saja membuat Yixing bertambah lapar, terlebih saat dia melihat bercak basah di celana dalam tunangannya itu.
"Ada yang sudah tidak sabar hmm?" senyuman nakal Yixing berhasil membuat desahan lemah keluar dari bibir Joonmyun. Jari-jari panjang Yixing menyentuh daerah kewanitaan Joonmyun yang sudah basah dari luar celana dalam nya, menggoda klitoris nya dengan maksimal.
"A-ahh xingie~ j-jangan menggodaku sayanghh shh mmphh"
Yixing memutuskan ingin langsung menjilat hidangan utama di bagian bawah tubuh tunangannya itu. Maka ditundukannya kepalanya hingga sejajar dengan vagina Joonmyun dan dibukanya celana dalam ber-renda nya menggunakan mulutnya, serta melemparnya ke sembarang arah lagi dengan menggunakan mulutnya pula. Tubuh Joonmyun menggeliat sexy. Dengan tidak sabar, dijilatnya vagina Joonmyun dan sesekali menghisapnya pelan, membuat model kelas atas itu mendesah penuh kenikmatan,
"Y-yixing tidaakkhh~ a-ahh jangan menggodaku.. x-xingie mpphhh ohh~" Joonmyun mengeluarkan cairan cintanya. "Terlalu cepat, sayang" gumam Yixing sambil menurunkan boxer kesayangannya itu dan melemparnya ke lantai, menampilkan penis nya yang sudah menegang sempurna.
Joonmyun yang kini ter-engah-engah dan berusaha mengatur nafasnya, memposisikan dirinya agar duduk berhadapan dengan Yixing dan mengelus penis Yixing, memijatnya pelan dan menimbulkan lenguhan terpendam dari mulut Yixing,
"Kita memang harus cepat, yeobo~ hh... aku ada meeting hhaahh setelah ini hahh hahh" Joonmyun menundukkan kepalanya dan mensejajarkan wajahnya dengan penis besar Yixing.
Yixing mengelus rambut coklat Joonmyun sebelum Joonmyun mulai bermain dengan penis nya. Mengecup, menjilat, mengulum, dan menghisapinya. Desahan-deasahan nikmat keluar dari mulut Yixing, membuat Joonmyun senang dan mengeluarkan desahannya pula sambil tetap mengulum penis Yixing. Sesekali digesekkannya gigi putihnya ke permukaan kulit penis Yixing, membuat sang empunya semakin mendesah lebih keras. Merasakan perutnya bergejolak dan menyadari bahwa sebentar lagi dia akan mengeluarkan cairan semen nya, Yixing mendorong Joonmyun dan mengecup bibirnya yang kini telah bengkak.
"Kalau ingin cepat, hanya boleh cum satu kali kan?" tanya nya sambil tersenyum lembut. Dibelai nya vagina Joonmyun dengan lembut, membuat wanita itu merinding nikmat, dan dengan cepat dia memposisikan dirinya di pangkuan Yixing, menggesekkan penis nya dengan vagina nya. Yixing menggeram nikmat saat kelamin mereka bergesekkan. Joonmyun pun tersenyum puas atas geraman nikmat Yixing dan melingkarkan lengannya di leher Yixing.
"Satu kali saja, okay?" dan dia pun mengecup bibir lelaki pemusik itu dengan lembut. Kemudian tanpa ba bi bu lagi, Yixing menghentakkan penis nya masuk ke dalam vagina Joonmyun yang sudah lama tidak ia jelajahi itu.
"Nghh ahhh! Y-yixing pelanhh! Ohh sayanghh~"
Yixing memejamkan matanya sembari menggigit biirnya, menahan geraman yang ingin lolos dari bibirnya. Bagaimana tidak? Lubang Joonmyun sudah sangat sempit sejak terakhir kali mereka bercinta. Tentu saja, kesibukan mereka tidak pernah menyisakan waktu bagi mereka untuk melakukan hubungan intim seperti ini. Oh, bagaimana kondisi ini mengingatkan Yixing saat mereka pertama bercinta dulu. Lubang vagina Joonmyun yang sempit, kini berkedut-kedut dan menelan serta memijat-mijat penis nya, memberinya kenikmatan yang dia tahu hanya akan dia rasakan di dunia saja.
"S-sayanghh punya mu besarhh sekali ahh~ enakhh.." lenguhan nikmat keluar dari bibir sexy Joonmyun yang selalu membuat Yixing kecanduan.
"Lubangmu b-begitu sempit babyhh.. menelan penisku nghhh fuckhh"
Kata-kata kasar Yixing saat mereka bercinta memang terbukti sangat efektif meningkatkan hasrat sex Joonmyun dan gadis itu dengan cepat menggigit bibir tebal kekasihnya,
"Lupakan m-meeting ku.. ohhh aku akan bercinta eunghh denganmu seharian ini mphhh.. Z-zhang Yixinghh~"
W & D
Disinilah Oh Sehun – berdiri tepat di depan restoran Byun Fam's Original, baru saja dia membeli lauk untuk makan malamnya. Yep, walaupun harga makanan di Byun Fam's Original bisa dibilang tidaklah murah, namun seorang mahasiswa dengan kehidupan makmur seperti Sehun mampu membeli lauk pauk dari restoran itu setiap hari untuk makan malamnya. Tidak, Sehun jarang sekali makan siang dan sarapan nya hanya semangkuk sereal atau terkadang beberapa potong sandwich yang sepertiga nya akan dia berikan untuk Jongin yang kurang mendapat asupan gizi pagi yang cukup dari kakaknya. Sehun kembali melirik ke pintu masuk restoran mewah itu. Rasanya ada yang aneh hari ini. Dia tidak melihat nyonya Byun di dalam sana. Padahal biasanya, nyonya Byun selalu berdiri di belakang meja kasir, menyapanya, dan menawarkan beberapa masakan yang cocok untuk makan malam Sehun. Bahkan berkat nyonya Byun, terkadang Sehun mendapat potongan harga. Well, anggaplah karena ia masih seorang mahasiswa namun sudah berlangganan di restoran mewah macam itu. Hari ini, berkat ketidakhadiran wanita paruh baya itu, Sehun harus membayar penuh biaya lauk pauknya. Dia hanya bisa berharap, nyonya Byun akan melayaninya dan berbincang dengannya lagi besok.
Sehun melirik ke arah jam tangannya. LED nya menyala-nyala hijau, menandakan sebentar lagi acara tv kesayangannya akan dimulai. Bisa dibilang, lampu LED yang menyala-nyala itu semacam reminder bagi Oh Sehun agar tidak terlewat satupun episode dari acara itu. Bahkan, saat Sehun sedang sibuk dengan tugas universitas nya, dia akan selalu mencari cara agar dapat terus menonton acara itu. Alhasil, sudah 2 season acara itu tayang di tv, Sehun tidak pernah melewatkan satu episode pun. Kalau ditanya pun, Sehun pasti hafal detail dari tiap-tiap episode acara itu.
Akhirnya, lelaki bertinggi badan 184 cm itu pun berlari kecil ke ujung jalan dan menunggu lampu hijau untuk penyebrang menyala. Sehun benar-benar sudah tidak sabar untuk duduk di sofa empuk nya, dan menonton acara itu sambil menyantap lauk favoritnya: Bebek Panggang dengan Saus Khas ala Keluarga Byun. Meh, membayangkan adegan itu saja sudah bisa membuat liur Sehun menetes sedikit dari ujung bibirnya. Nahh, tentu saja tidak. Oh Sehun tidak melakukan hal menjijikan dan low level seperti itu.
Terlalu hanyut dalam imajinasi bersantai nya, Sehun pun terkaget saat seseorang menabraknya dari samping, menyenggol lengan nya dan nyaris membuat lauk yang ada di tangan nya jatuh. Dengan kesal, Sehun memelototi gadis yang barusan menabraknya itu,
"Hei! Kau ini bisa lihat jalan ti-" dan omelan Oh Sehun terpotong saat dia menyadari siapa yang baru saja menabraknya.
Yep, Xi Luhan.
Mimpi apa Sehun semalam sehingga bisa ditabrak gadis bak malaikat yang diturunkan Tuhan untuknya macam Xi Luhan?
"M-mianhae! Aku sedang terburu-buru! K-kau tidak apa-apa kan?" tanyanya dengan raut muka yang panik, takut, khawatir, sekaligus malu.
Kini Xi Luhan tengah memakai mantel panjang selutut berwarna merah maroon, dipadukan dengan syal berwarna coklat dan bermotif rusa yang melingkari lehernya. Sebuah beanie hitam dengan tulisan "POSE" menutupi kepala nya. Gadis itu juga mengenakan stocking hitam yang mungkin untuk membuat kakinya tetap hangat. Sepasang high heels ber-warna cream keluaran Chanel, menghiasi kakinya yang terlihat jauh lebih kecil daripada kaki Sehun. Sungguh, gadis di depannya ini benar-benar sempurna.
"Cheogiyo?" tanyanya, melambai-lambaikan tangan mungil nya di depan wajah Sehun yang kini tengah mengagumi karya seni Tuhan yang mengagumkan di depannya itu.
"N-neh, gwaenchana... Silahkan, noona." Sehun memundurkan tubuhnya dan mempersilahkan Luhan maju ke depan nya setelah membungkukkan badannya sedikit. Tepat setelah itu, lampu hijau untuk penyebrang menyala dan Xi Luhan menyebrangi jalan dengan setengah berlari tanpa basi-basi lagi. Tidak ada tatapan terakhir untuk Sehun, model itu benar-benar langsung berlari ke depan - ke arah gedung Glance. Sehun tersenyum sedih memperhatikan punggung mungil gadis itu yang semakin lama semakin menjauh.
Sudahlah, toh Luhan itu siapa? Hanya idolaku yang tak akan pernah kusentuh. Sehun terkekeh pelan.
.
Tapi tidak ada salahnya kan jika menjadikan Luhan sebagai objek buruanku?
So... Hi, maaf telat update. Ceritanya gue sakit-sakitan mulu trus entah kenapa keanya pr tuh sayang banget sama gue jadi gamau lepas dari gue-_- Nyem. Anyway! Gue mau minta maaf atas beberapa hal:
First: gue sekali update tuh panjang. Wae? Biar sekalian. Kalo gue update pendek-pendek, chapter nya pasti otomatis banyak & gue gasuka projek yang berkepanjangan karna takutnya ujung-ujungnya terbengkalai saking ga selese-selesenya.
Second: Gue KURANG memberikan penjelasan yang detail mengenai pairing-pairing di ff ini. First of all, the pairings you've seen in the first chapter is still...unofficial. Pairing akan berubah-ubah & bertukar-tukar seiring waktu & in the end, semua pairing di ff ini bakal jadi EXO's official pairings.
Third: Oh i don't know. I'm not good at Indonesian language. Dude, my Indonesian scores...never hit 95 at all. Neither my english or indonesian are good so i'm actually stuck between those 2 languages. Makanya bahasa gue amburadul gajelas, sori banget. Itu sangat menghambat otak kalian buat mencerna isi fic ini gue tau, maafkan gue yang alay ini T_T
Fourth: HAHAHAHAHA APAAN TUH ADEGAN ML GUE KEPOTONG MAAP YE, BIAR GREGET.
AND! Finally thanks to all the reviews guys!
edogawa ruffy: thanks for the first review & maaf gue kurang bisa memenuhi imajinasi & keinginan serta expectation lu tentang pairing2 di ff ini. dan gue minta maaf kalo fav couple lu (krisbaek) nantinya bisa berganti
lisnana1: bebeb lu gue culik breh wkwkwk ;p kita mulai pelan-pelan, gue gamau tiba-tiba asal jeblok udah ada hunhan, itu kesannya rushing banget & cerita jadi ga bagus wkwk. but here's a lil' bit of hunhan in this chap!
bby selu: yeah, karena gue gamau keburu-buru sama hunhan. semua step by step. hope you enjoy a bit of hunhan in this chap wkwk :)
asroyasrii: gue rated M karena ff ini mengandung banyak unsur dewasa. ga semua chapter ada adegan ranjang, dude they're not retarded bunnies who does sex every single fcking day, tapi gue siap sedia aja kalo di tiap chapter tiba2 ada unexpected rated M kea di chapter ini. Sulay wkwk
PhantoMiRotiC: wow thanks! itu super pujian banget & gue...terharu TuT here's the chapt 2, hope you still enjoy it!
vherakim1: yes, gue masukkin umur mereka sesuai jarak umur mereka asli biar gampang wkwk. thanks for the review :)
hongkihanna: yixing boy, YES! karena di mata author laknat ini, Yixing adalah laki-laki ter-gentleman yang ada di dunia ini (selain bokap gue ofc) wkwk. masalah itu, media massa & masyarakat kan tau Yixing itu tunangannya Joonmyun. tapi, pertanyaan lu awesome, mungkin ntar gue bikin konflik antara mereka bertiga. thanks atas penelitiannya/? ;) here's a lil' bit hunhan for you~
ShinJiWoo920202: here comes the wolf bro, awooooo~!
zoldyk: wow thanks, hope you can still love it in the future wkwk :)
: silahkan update nya, fresh dari oven brooo wkwk. selamat dinikmati ;D
Gue butuh support (ofc) & kritik serta saran kalian atas ff ini biar bisa makin berkembang & maju/?
So, mind to RnR again, guys?
