Impresi ©ArcSa Reiyu「玲」
Kuroko no Basuke and Characters ©FujimakiTadatoshi
Akashi Seijuuro, Kise Ryouta
Warning: sudut pandang berubah-ubah, BL-possibility, canon-modify, typo(s), Kise(PoV)
~Ini adalah sebuah luapan emosi, soal mereka, dunia, dan kehidupan, resonasi yang menyatu lalu hilang dan kemudian muncul~
.
Impresi bagian dua: Iblis Merah dan Paranormal yang Bisa Membaca pikiran
.
Namaku Kise Ryouta, tingkat ke-2 di SMP Teiko, 14 tahun. Selain menjadi siswa yang mengemban tugas untuk belajar dan menuntut ilmu, aku bekerja sebagai model untuk majalah ramaja. Majalah-majalah yang berkisar tentang fashion dan kehidupan anak muda di masa sekarang yang semakin banyak jenis dan gayanya. Tentu saja, dengan pekerjaan sebagai model, pesona juga tidak bisa diabaikan.
Aku punya banyak fans, dari senpai sampai kohai. Bahkan dari kabar angin dan fakta lokasi, ada beberapa guru perempuan yang mengidolakanku dan tidak pernah absen membeli majalah yang berisi wajah menawanku ini. Haha, Bukannya sombong, aku hanya mebeberkan kenyataan yang beredar di masyarakat.
"Kise!"
Tapi dibalik semua ketenaran itu. Aku tidak dianggap lebih sebagai anggota paling junior dan korban bully oleh para member first string di kesatuan tim basket SMP Teiko ini. Menyebalkan.
"Aominecchi! Jangan asal lempar donk!" teriakku emosi pada si kulit tan yang memberiku cengiran tidak bersalah di ujung lapangan lain. Kepalaku baru saja mendapat ciuman sayang dari bola oranye itu.
Hari ini hari minggu. Kalau untuk kebanyakan orang, hari ini adalah hari tidur nasional. Tapi apadaya, untuk kami yang anggota klub basket, first string Teiko, hari minggu adalah neraka yang menyiksa raga. Latihan full dari jam enam pagi sampai jam empat sore dengan pelatih khusus yang bernama Akashi Seijuuro.
Huhh… Akashi-kun itu ketua klub basket Teiko, dan ya… dia panglima neraka yang diutus ke bumi untuk menyiksa manusia –dalam hal ini anggota first string Teiko. Dan berarti, aku termasuk.
Terkadang aku berpikir, sampai kapan kapten killer itu akan mendikte kami dengan semua latihan keras dan tatapan elang nan tajam dan membuat bulu kuduk merinding itu.
"Warui na, Kise. Lempar bolanya ke sini!" Di ujung lapangan, dekat ring. Aominecchi melambaikan sebelah tangan dan memberiku kode untuk melempar bola.
"Hidoi-ssu." Tanpa pikir dua kali, langsung kulempar bola itu ke arah Aominecchi. Kalau boleh berharap, semoga saja kena kepalanya. Supaya impas, satu-satu.
"Sankyuu." Sayangnya bola itu sedang tidak mau bekerja sama denganku. Dia sampai di tangan Aominecchi dengan sempurna, tidak mengarah ke kepala berambut biru itu.
Menyebalkan. Bibirku sedikit mengerucut ke depan.
Beberapa saat kemudian, mataku mengedar cepat ke seluruh lapangan indoor yang jadi wilayah kekuasaan kami, ehem- kekuasaan Akashi-kun tiap latihan seperti ini. Di lapangan, Murasakibara-kun dan Aominecchi sedang one-one. Sedangkan di garis luar lapangan, Akashi-kun berdiri diam, memperhatikan. Dengan satu tangan memegang peluit warna merah, jezz hanya perasaanku atau Akashi-kun selalu identik dengan warna merah karena rambutnya merah?
Er- lalu di bench, Kurokocchi sedang diambang kesadaran dengan Momoi-kun yang panik dan terus mengipasi Kurokocchi dengan kipas plastik. Kalau Midorima-kun,
Aku melirik sedikit dari balik pundak. "Ini lucky itemku, jangan protes." Dia sedang sibuk dengan cermin dan jepitan warna pink ber-icon hello kitty.
Dalam sejarah hidupku, Midorima-kun mungkin satu-satunya orang yang sangat percaya pada ramalan dan lucky item.
Huh- kadang-kadang, aku berpikir. Kenapa rasa-rasanya anggota first string itu tidak ada yang waras. Well, keluarkan aku dari daftar anggota terlebih dahulu.
"Ryouta." Begitu namaku disebut oleh suara angker Akashi-kun yang sampai sekarang masih suka membuat hati dag-dig-dug karena takut, aku langsung menengok ke arah ketua klub basket itu.
"Etto, ada apa Akashi-kun?" tanyaku takut-takut dengan senyum canggung yang pasti kelihatan aneh. Ada apa sampai manusia berjiwa iblis itu memanggilku?
"Aku bukan iblis." Eh? "Sekarang kau one-on-one dengan Midorima."
Akashi-kun itu, bisa baca piki-
"Aku bukan paranormal. Cepat lakukan perintahku atau latihanmu menjadi lima kali lipat hari ini."
"Ha-hai." Tidak perlu dua kali berpikir, aku langsung mengangguk cepat dan melesat ke lapangan.
Setelah kejadian itu, aku menyimpulkan satu hal baru soal Akashi-kun. Dia itu benar-benar iblis berkedok manusia yang tidak mengakui eksistensinya sebagai mahluk pembawa kesengsaraan untuk orang-orang yang diperintahnya, dan juga seorang cenayang. Mana ada orang normal yang bisa membaca pikiran orang lain seperti itu, mana ada orang normal yang tega melihat orang lain menderita setelah berlari selama dua jam penuh sedangkan ia hanya memperhatikan dan menenteng gunting sambil duduk?
"Lari keliling lapangan dua puluh kali setelah ini Ryouta."
Akashi-kun wa hontou ni akuma da.
Impresi bagian dua
-Tamat-
