Disclaimer (hampir lupa): only Square Enix, dan beberapa orang serta merek terkenal yang bersangkutan (?)


"You may not control all the events that happen to you, but you can decide not to be reduced by them."


chapter 2

This is more like it. Aku mulai merasa nyaman di dekat Namine setelah kami mencoba perkenalan kami dari awal. A fresh start, I must say. Percakapan kami yang awalnya awkward akhirnya berubah menjadi sangat akrab. Aku baru menyadari betapa menyenangkan ia selagi mengobrol, walaupun imagenya terkesan pendiam. Terkadang, aku ingin sekali menertawai hal itu. Sifatnya berbeda dari yang kelihatannya. Kurasa memang benar, banyak orang yang menilainya hanya dari luarnya saja. Sayang sekali, padahal Namine sangat enak untuk diajak berbicara.

Sedikit informasi tentangnya, secara fisik ia memang tidak semenarik wanita lainnya. Rambutnya tidak terlalu rapi, membuatku berpikir apa tukang potong rambutnya membencinya sampai memotongnya seperti itu, atau ia memang terlahir seperti itu. Kulitnya juga pucat sekali, belum pernah aku melihat gadis-gadis di sekolahku dengan kulit seperti itu. Sebagian besar mereka lebih suka berjemur di pantai dan membuat kulit mereka sedikit coklat daripada tinggal di rumah seperti Namine yang malah membuat kulitnya lembut seperti bayi.

After that, aku dan Namine memutuskan untuk pulang karena besok adalah hari pertama kami menduduki senior year kami di sekolah. Kami tidak tahu apa besok kami bisa bertemu atau tidak, tapi kami tetap akan selalu berkomunikasi melalui yahoo messenger. Aku tahu bahwa aku sangat belum mengenal Namine (Namine pun berkata hal yang sama), tapi seiring dengan waktunya berlalu, kami akan saling mengenal.

"We should go home. Y'know, class in the morning."

"Yeah, aku akan menemuimu di chat nanti malam. Tapi ingat, aku hanya bisa jam delapan," kata Namine.

"Kenapa?"

"Watching TV shows. Kau mungkin belum tahu kenapa aku selalu on pada jam delapan. Aku harus menonton acara How I Met Your Mother."

Aku tersenyum. And we say we don't know each other.


First day of school. Well, nggak pertama juga. What I meant is, first day of school AS in senior year. Semalam Sora tidak berhenti meributkan hal itu. Ia merasa senang karena menjadi seorang senior, karena ia sangat tidak suka apabila ada senior yang suka mencari keributan di sekolah.

Hari ini, Ayah memperbolehkanku membawa mobilku ke sekolah (sejak Ayah mulai menyadari bahwa aku lebih suka telat bangun dibanding yang lainnya) dan Sora, menumpang di mobilku (karena Paman juga tahu bahwa Sora ingin sekali berangkat dengan mobilku). Kalau aku bertemu Axel nanti di sekolah, kuharap ia tidak melihatku membawa mobil. Karena kalau iya, itu akan membawa kerusakan luar biasa terhadap mobilku.

"Rox, aku duluan," Sora melepas seat beltnya ketika aku selesai memarkir mobil. "Kairi menungguku di dalam."

"Yeah, yeah, whatevs, man," kataku sambil membiarkannya keluar dari mobilku. "Aku tahu kau tidak bisa menahan nafsumu untuk make out dengannya di dalam."

"Eww, Roxas!"

"Eww to yourself!"

Sora menutup pintu mobilku, tepat ketika aku mematikan radioku. Aku mendecakkan lidahku ketika melihat Sora yang sudah berjalan jauh dari mobilku dan langsung berlari menuju Kairi yang menunggunya di depan pintu sekolah. Aksi mereka kemudian tidak mengagetkanku. Sora memang seperti itu. Namun, mau bagaimana lagi, Kairi adalah pacarnya, aku tidak bisa membantahnya.

Aku melepas sabuk pengamanku dan mengambil tasku yang kuletakkan sebelumnya di kursi belakang. Ketika aku keluar dari mobilku dan menguncinya, aku melihat sosok yang kukenal dari kejauhan. Ia tengah berbicara dengan seseorang yang lebih tua darinya.

"I refuse," kata Namine.

"Sayangnya, kamu harus. Itu grup yang bagus, Namine, really good for you."

"Ugh, Mom, please..."

"Namine, you're a teenager. Kamu harus lebih banyak bergaul. Ibu sudah jarang melihatmu keluar rumah bersama teman. Ibu khawatir denganmu, kamu harus lebih bersosialisasi. Kamu juga jarang beraktivitas."

"I am! Aku punya teman di sekolah ini, dan aku menonton How I Met Your Mother. Itu juga termasuk aktivitas."

"Televisi itu pasif, Namine. Lalu, teman yang kau bicarakan itu berapa? Two? Four?"

"..."

"See? Ibu tahu kalau kau memang suka berhati-hati dalam bergaul, but jangan terlalu unsociable. Berjanjilah untuk mendatangi grup ini sepulang sekolah, okay?"

"...Fine..."

Wanita itu mencium kening Namine sebelum memasuki mobilnya dan pergi. Grup apa yang dimaksud ibunya? Dan kenapa Namine sangat ogah untuk mengikuti grup itu? Aku tidak tahu. Namine sudah duluan memasuki gedung sekolah sebelum aku sempat menyapanya. Mungkin ia sedang ingin sendiri, moodnya terasa tidak sedang senang, aku merasakannya.

"Yo, Roxas!" Axel yang datang entah dari mana, menghampiriku sambil menepuk bahuku. "Bagaimana perasaanmu menginjakkan kakimu di gedung sekolah ini lagi?"

"Umm... Biasa."

"Kau tidak merasa bahwa kita menjadi senior?"

"Dengan sekolah yang sama? Ya."

"Ayolah, setidaknya kau bertemu dengan wajah baru di sekolah ini," kata Axel sambil menatap siswa-siswi junior yang dengan hiruk pikuknya memenuhi lorong sekolah.

"Jangan ganggu mereka, Axel. They're just juniors."

"Ngeh, you are no fun, Rox. Chill out a lil' bit."

"Pertama, ambilkan jadwal mata pelajaran untukku. Kedua, put your hand off me."

Setelah Axel menggerutu dan menuruti perkataanku, aku berhasil mendapat jadwal mata pelajaranku. It turns out, bahwa aku mendapat Studi Bisnis dan ICT dengan Sora, Sejarah dan Bahasa dengan Axel, Kimia dengan Olette dan Hayner, Bahasa dan Ekonomi dengan Pence dan Kairi, Ekonomi dengan Riku, Biologi dan Seni dengan Selphie, Wakka, dan Tidus.

Hmm... Aku tidak tahu lagi, tapi setidaknya aku senang ada orang yang kukenal di kelas pertamaku. Biologi, artinya aku bakal bertemu dengan Selphie, Wakka, dan Tidus. Guru yang mengajar adalah Mrs. Aerith Fair, atau yang sekarang kami panggil Mrs. Fair. Ia guru yang baik, lembut, dan penyayang. Aku ingat ketika ia membawa salah satu tanaman kesayangannya yang ia rawat dengan baik ke sekolah untuk menjadikannya eksperimen. Di rumahnya, ia mempunyai banyak bunga yang terawat dengan sangat baik, tidak ada satupun bunga yang layu.

Bel masuk sekolah sudah berbunyi dan aku duduk di salah satu kursi dengan meja terbaik di tengah-tengah. Aku melihat banyak siswa-siswi yang mulai memasuki kelas secara berbondong-bondong dan memberiku high five serta berkata whats up. Aku jadi teringat dengan perkataan Namine kemarin, kalau aku cukup dikenal di sekolah. Memang benar, setidaknya karena aku dulu termasuk salah satu anggota klub basket selama sophomore year dan junior year.

"Pfft..."

Aku mendengar tawa yang tertahan di kelas dan menyadari bahwa tawa tersebut dari siswa-siswi (termasuk Selphie, Wakka, dan Tidus) yang menatap salah satu teman mereka membawa ember dan menaruhnya di atas lemari dengan posisi yang hampir mau jatuh. Tunggu, ada apa ini?

"Apa dia sudah datang?" tanyanya kepada teman di sebelahnya.

"Sedikit lagi dia sampai," jawab temannya dengan tawa yang tertahankan. "Let's go! Before she sees us!"

Aku heran kenapa mereka bertingkah seperti itu. Siapa orang yang mereka tunggu? Siapa orang yang ingin mereka kerjai? Maksudku, tentu saja bukan Mrs. Fair, karena banyak orang yang menyukainya. Then... Who?

Pintu tersebut terbuka, mengenai lemari tersebut dengan sedikit sentakan, mengakibatkan ember tersebut menumpahkan air mengenai orang yang membuka pintu tersebut. Gelak tawa meledak di seisi ruangan, kecuali aku. Rambut dan wajah yang kukenal itu telah basah oleh air beserta dengan bajunya. Raut wajahnya terkejut dan malu dengan keadaan seperti ini. Geez, what's wrong with this people?

"Goodness! Apa yang terjadi di sini?"

Suara Mrs. Fair mengejutkan seisi ruangan. Ia melihat lantai telah basah oleh air dan sangat becek. Mrs. Fair memandang seisi ruangan dengan kecewa, "Apa tujuan kalian melakukan ini? Tidak sampai hari kedua, kalian sudah bertingkah seperti ini." Aku tidak. "Dan astaga, Ms. Fleuret. Anda terlihat basah kuyub. Pergilah mengeringkan diri, saya tidak bisa mengajar siswi yang basah seperti ini. Bagaimana kalau di UKS?"

Namine mengangguk sambil berjalan pergi keluar kelas dengan menundukkan kepalanya. Mrs. Fair menghela nafas kecewa sambil berjalan pelan-pelan ke dalam kelas. Ia menggelengkan kepalanya dan mendecakkan lidahnya berkali-kali sambil berkata, "You should be ashamed of yourself."

Seisi ruangan kembali hening. Siswa-siswi menundukkan kepala mereka karena tidak berani menatap wajah kecewa Mrs. Fair yang baik ketika guru kesayangan mereka tengah kecewa terhadap mereka dan terus diam setelah ia masuk. Sepertinya mereka bukan malu karena mengerjai Namine, tapi malu karena Mrs. Fair berkata seperti itu. Heh, you guys should be ashamed of your selfish minds.

"Mrs. Fair," kataku sambil mengacungkan tangan kananku lalu berdiri dari kursiku. Mrs. Fair menatapku dengan penuh perhatian.

"Yes, Mr. Nabradia?"

"Boleh saya ijin sebentar?" tanyaku. "Saya ingin memberi kaos."

Siswa-siswi di dalam ruangan saling bertatapan. Mungkin mereka terlihat terkejut dan bingung, tapi sepertinya Mrs. Fair menangkap apa yang kumaksud. Pada akhirnya, setelah kejadian tadi, Mrs. Fair tersenyum hangat sambil mengangguk. "Ya, Anda dipersilahkan, Mr. Nabradia."

Aku mengangguk sambil berjalan keluar kelas, mengikuti tetesan air yang ditinggalkan Namine. Lalu aku menemuinya, sedang membuka lokernya, mencari sesuatu. Aku berjalan mendekatinya dan tepat ketika aku sudah dekat dengannya, ia menutup pintu lokernya dan ia cukup terkejut.

"Sweet cupcakes!" teriaknya terkejut. Aku tertawa kecil sebelum ia berkata lagi padaku, "Oh my God, Roxas! Apa yang kamu lakukan di sini?"

"Duh, isn't it obvious?" tanyaku padanya. "I saw what happened. Don't worry, Mrs. Fair mungkin bersedia mendiamkan mereka selama pelajaran dimulai."

Namine tersenyum kecut sambil mengusap wajahnya yang masih basah oleh air, "Well, Mrs. Fair memang baik..."

Aku menarik lengannya lalu berkata, "Ikut aku. Aku punya cadangan baju untukmu. T-shirt biasa, tapi, cocoklah denganmu."

"N-n-no need to! I don't want to burden you!"

"Says who? Lagipula, kau mau masuk angin dengan pakaian seperti itu? Bramu bakal kelihatan lho."

"Roxas!"

"What?" tanyaku. "Memang benar kan?"

"Tapi... Kau mengucapkannya seperti itu," kata Namine yang kini wajahnya memerah.

"Like what?"

"Like that!"

Belum sempat aku berkata, aku melihat bra Namine mulai terlihat dan membekas di balik pakaiannya yang basah. Namine yang menyadari tatapanku langsung menutupinya dengan bukunya yang basah dan menamparku pelan, membawa wajahku ke arah yang lain.

"Pervert!"

"Makanya! Kau mau kaosku apa tidak?"

"..Ugh, Fine."

Aku menarik lengannya pelan untuk berjalan bersamaku menuju ke arah lokerku. Seingatku, aku masih menyimpan tas kecil yang berisi handuk dan kaos bersih yang kusiapkan setelah bermain basket. Jadi, kurasa Namine bisa menggunakannya untuk mengeringkan tubuhnya.

Sesampainya di depan lokerku, aku membukanya dan mengambil tas kecil tersebut. "Di dalamnya ada handuk dan kaos," kataku sambil menyerahkannya pada Namine. "Tenang saja, it's still clean."

Namine menerima tas kecil tersebut sambil berkata, "Thank you."

"No probs."

Namine mengangguk lalu berjalan ke arah toilet wanita yang dekat dengan posisi kami sekarang. Sebelumnya, ia menitipkan bukunya padaku dan akhirnya memperbolehkanku menunggunya di depan stalnya. Yah, selagi belum ada siswi yang masuk ke toilet ini, aku pun masuk saja. Aku ingin menanyakan Namine tentang hal yang ia bicarakan dengan ibunya tadi, tapi aku tahu belum saatnya. Jadi, aku bertanya hal lain padanya.

"Namine, boleh aku melihat jadwalmu?"

"Umm... Sure."

Aku mencari jadwal mata pelajaran Namine di selipan bukunya yang basah dan menemukannya, sama basahnya dengan buku dan pemiliknya. Aku membaca perlahan karena tintanya yang nyaris memudar. Seni, Matematika, Biologi, Drama, Biografi, umm... wait a sec...

"What a scary coincidence, Namine."

"Huh?"

"Aku di kelasmu semua. Well, except the ICT class."

"Really?" Aku tertawa mendengar reaksinya. "Setelah dipikir-pikir, kurasa memang mengerikan, Roxas."

"Well, setelah kupikir-pikir lagi, kurasa lebih baik begini."

Namine membuka pintu stalnya. Kaos putihku telah dikenakan olehnya dan ukurannya agak kebesaran di tubuhnya. Aku tertawa kecil sekali lagi, tubuhnya terlihat tenggelam di dalam kaosku. Namine merengutkan kening ketika aku mulai menertawakannya. Ia memukul lenganku pelan sambil mengambil buku basahnya dariku dan mulai berjalan keluar toilet.

"Oh, c'mon, Namine."

"Sampai ketemu nanti di chat."

"Ayolah, Namine, jangan ngambek begitu. Kau terlihat menggemaskan, mana bisa aku menahannya? Now, c'mon, let's go to class together."

Namine menghela nafas sambil berjalan di sebelahku. Setelah hening sejenak, sambil tersenyum menggoda, aku berkata, "Sooo... sweet cupcakes, huh?"

"Shut up."

...


Mereka mulai membicarakannya. About me and Namine. Gosip tentang pacaran, hubungan kontrak, one night, dan apapun itu tentangku dan Namine, mulai tersebar sejak aku kembali ke kelas Biologi bersamanya. Mereka membicarakannya di belakangku. Well, tidak seperti aku berteman baik dengan mereka. Buat apa? Sia-sia saja.

"Yo, Roxas!" Axel menghampiriku ketika aku hendak menyantap burger big jumbo yang disediakan oleh kantin. Ia membawa makan siang yang ia terima dari kantin dan duduk di depanku sambil mulai memakan burger big jumbonya.

"Whaddup."

"Kudengar gosip tentang kau dan Namine."

"Lalu?"

"Cukup buruk, kawan."

Goddamn great, Axel. Aku tidak jadi menyantap burgerku lagi karena mulai kehilangan nafsu makanku. Sudah kuduga, gosipnya menyebar semakin parah. Semakin lama aku menghabiskan waktuku dengan Namine, semakin banyak yang mengatakan hal aneh tentang kami berdua.

"Ini baru seminggu, bagaimana kalau sudah setahun?"

"Shut up, Axel. I know what I'm doing."

"Kalau kau terus bersamanya, kau bakal menurunkan reputasimu."

"Apa hubungannya?"

"See, inilah apa yang tidak kusuka darimu, Rox. Kau tidak memedulikan sekitarmu. Kalau kau begitu terus, Larxene bakal membuatku menjauhimu."

"Aku peduli, Axel. Kalau tidak, kenapa aku mendekati Namine?"

"Sekarang aku tidak tahu apa maksudmu."

"Namine, Axel! Namine! Namine Fleuret yang dikerjai orang, tidak mempunyai teman, and Goddammit I started to like her. Jadi, kalau kau dan pacarmu Larxene berusaha memaksaku untuk tidak mendekatinya lagi sudah sangat terlambat."

Axel menatapku penuh perhatian. Ia menaruh burgernya lalu berkata padaku dengan nada yang serius, "Kenapa kau sangat peduli kepadanya?"

"Karena, Axel," aku menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. "Karena dia adalah Blueocean73. Orang yang telah chatting denganku selama ini."

Setelah itu, aku pun meninggalkan makan siangku dan pergi keluar kantin.


A/N: so how was it? maafkan author freak ini kalo aneh *bow*

sebelumnya, aku mau brterima ksih buat yg udah bca, especially Xinon, yang udah review :)

kalau ada yg ga ngerti, tanya aja~ author siap membantu..

and yeah, Roxas punya mobil, coba dipake buat ngedrift hahaha

sprti warningku sblumnya, hati-hati karena rated T ini adalah young adult, especially the language for the next chaps~

REVIEW?