Anino

Xover/ Bleach-Naruto

Disc : None of this story or character(s) are mine. I just own the plot. And also the imaginary things.

OOC/AU/Typo(s)/Slow Update/OCs.

Author headnote : cerita ini full AU! No Ninja, No Hollow. Only Anino that exist in this story. Penjelasan tentang anino terdapat dalam cerita.

Happy Reading! RnR


-0-

Seperti biasa, hari pertama masuk Jigiri Acedemy diisi dengan tes kesehatan dan kemampuan level umum untuk menentukan dimana dan oleh siapa Kyaria muda itu akan di bimbing. Jika kemampuannya sudah melebihi level umum, biasanya mereka dilatih oleh Maito-sensei, sementara yang kemampuannya masih standar atau bahkan lebih rendah biasanya diserahkan pada Rokuga-sensei.

Tapi, ada satu hal yang agak berbeda hari ini. Kehadiran Gaara dan Shukaku sontak mengingatkan kembali staff Jigiri Academy pada kondisi yang sama, dua tahun silam. Disaat anak laki-laki berambut oren menyala menjadi murid pertama yang memiliki hiase masuk ke akademi. Biarpun anak itu kelihatan ramah, tapi aura yang dikeluarkan aninonya jelas menjanjikan kematian pelan nan menyakitkan pada siapa pun yang berani membahayakan kyarianya.

Keterkejutan seisi sekolah hampir sama, bahkan mungkin lebih besar dibanding saat mereka bertemu Ichigo dan Hichigo. Dan siapa pun juga bisa melihat, level kekuatan Shukaku jauh lebih besar dibanding Hichigo. Ditambah, penampilan Gaara sendiri sudah menguarkan aura gothic.

Seketika, anak-anak yang berada disekitar ruang test kemampuan menyingkir begitu melihat siapa yang datang. Meski dari jauh, aura dingin mencekamnya sudah terasa. Membuat mereka bergidik ngeri disertai bayangan-bayangan tak menyenangkan yang masuk ke pikiran mereka.

Hiase anino, bukan hanya sekedar pembasmi Manma. Tak jarang, mereka dianggap sebagai pembawa mimpi buruk untuk siapa pun yang berani mengusik pemiliknya.

"Sabaku no Gaara?" suara baritone laki-laki berambut silver terdengar dari arah pintu.

Manik hijau Gaara langsung terarah ke sumber suara. Tepat di depan pintu ruang test, seorang pria muda berpenampilan teraneh yang pernah dilihatnya berdiri sambil menggenggam sebuah buku warna oren. Separuh dari wajahnya tertutup masker hitam, menyisakan salah satu mata abu-abunya tetap terlihat. Hatake Kakashi, ketua tim seleksi di akademi,

Seekor anjing pitbull besar merupakan anino seorang Kakashi, sudah jelas ia pasti bertipe bai. Meski sepintas tampaknya terkesan aneh, tak ada lagi yang meragukan kemampuan seorang Hatake Kakashi. Apalagi jika sudah dipasangkan oleh partnernya, Kisuke Urahara, mantan kapten tim elit Kyaria A.

"Hasil tesmu sudah keluar. Kalau kau tak keberatan ikut denganku, ada beberapa hal yang harus kita diskusikan." Kata Kakashi tenang. Ia langsung membalikkan punggungnya karena ia tau Gaara pasti mengikuti tanpa diperintah secara langsung.

Ruangan yang tadi dimasuki Kakashi sama seperti ruangan kantor normal lainnya. Dindingnya berwarna coklat karamel, dengan dua meja kayu berhadapan dan beberapa rak berisi berbagai map maupun buku tebal administrasi akademi. Jendela besarnya searah pintu masuk, langsung berhadapan dengan kantor utama pusat pemerintahan Jigiri yang hanya berjarak sekitar sepuluh meter. Kakashi duduk dimeja sebelah kanan pintu, mengarahkan Gaara untuk duduk dengan gerakan dagunya.

Kakashi membuka map merah ditangannya dengan pandangan menelisik."Kau pasti sudah tau kan, aninomu bertipe hiase?" tanyanya to the point.

Gaara hanya mengangguk diikuti suara geraman dari Shukaku. "Sangat ku sesalkan, tak ada diantara para pengajar disini yang benar-benar memahami pola pikir maupun pernah berhubungan jangka panjang dengan pemilik hiase." Sambungnya sambil menghela nafas.

"Kalau tak ada yang bisa mengajarimu, kau tinggal pulang bocah. Untuk apa buang-buang waktu disini" suara Shukaku menggema dipikirannya.

"Lalu?" tanya Gaara tenang. Tak sedikit pun menunjukkan emosi diwajahnya.

Mata abu-abu Kakashi menatap Gaara sama datarnya sebelum sebuah dengusan pelan terdengar dari mulutnya,"Tolong beritahu Shukaku berhenti mengganggu Nato. Dan jangan kira kau bisa langsung pulang hanya karena tidak ada pengajar bertipe hiase."

Kalau Gaara terkejut mendengar penyataan itu reaksinya hanya matanya yang agak membulat, itu pun hampir tak terlihat kalau kita tidak melihatnya diwaktu yang tepat.

"Aku pernah bertemu anak tipe hiase sepertimu. Dan harus ku akui, aku terkesan. Kemampuan hiasenya mungkin tak sekuat punyamu. Tapi tetap, butuh paling tidak butuh sepuluh bai level B+ untuk menanganinya kalau makhluk itu mengamuk. Dan dia lebih dari sanggup mengendalikannya seorang diri." Kata Kakashi dengan mata menerawang.

Baru beberapa kalimat yang didengarnya, pikiran Gaara langsung tertuju pada sosok remaja dua tahun lebih tua darinya dengan rambut sewarna wortel. Mata yang selalu tampak mengantuk, refleks anggota gerak yang tangkas. Dan jangan lupakan, makhluk indigo yang selalu disampingnya.

"Kau pasti sudah tau siapa yang kumaksud kan, Sabaku no Gaara?" tanya Kakashi tiba-tiba. Sukses mengejutkan Shukaku yang langsung hampir menerjang Nato.

Tanpa bersuara, Gaara mengangguk mengiyakan. Ternyata tebakannya benar. Berarti, ia akan dilatih oleh anak itu.

"Kau bisa langsung menemuinya di tempat berlatih. Urusan administrasimu, semua biar diselesaikan disini. Ku harap kau bisa menjaga sopan santunmu meski kemampuanmu jauh lebih kuat darinya. Dia boleh lebih lemah darimu, tapi dari pengalaman… dia jauh lebih unggul." Kata Kakashi memperingatkan. Gaara lagi-lagi mengangguk singkat dan bangkit dari duduknya. Segera saja ia keluar dari ruangan itu sebelum Shukaku mulai berbuat keributan, lagi.

Arena latihan akademi letaknya tak terlalu jauh dari kantor utama, karena itu tak sampai sepuluh menit Gaara sudah tiba disana. Tak jauh dari arena utama, terdapat arena latihan yang lebih kecil. Tempat itu mungkin hampir tak terpakai, tapi justru dari sanalah aura kekuatan besar menguar ke udara.

Gaara dapat melihat aliran cahaya berwarna putih tulang berbalut biru gelap meliuk-liuk seperti daun tertiup angin. Gerakannya kelihatan lembut, tapi energi yang dikeluarkannya terasa begitu kuat. Begitu anggun namun mematikan.

Tanpa mengulur waktu lama-lama, ia segera menghampiri tempat dimana ia akan melatih dirinya dan Shukaku. Dengan satu misi penting yang tak diketahui satu orang pun.

Bukan untuk menjadi monster seperti yang mereka takutkan. Bukan menjadi penghancur, pembunuh berdarah dingin seperti cerita yang beredar.

Ia akan menjadi Kyaria. Kyaria terhebat yang pernah lulus dari Jigiri Academy. Dan Kyaria yang akan diakui keberadaannya sebagai pelindung.

Bukan pemusnah.

-0-

Sejujurnya, Ichigo kaget bukan main ketika Gaara menghampirinya. Apalagi, memintanya untuk menjadi gurunya selama di akademi? Apa dunia ini mau kiamat?! Gaara? Sabaku no Gaara jadi muridku?

Tapi ketulusan dan rasa percaya yang tergambar di iris hijau cerah itu terlihat serius, bukan tatapan main-main. Ia tau, tanggung jawab yang secara tersirat dilimpahkan pihak sekolahnya bukan hal ringan. Itu tandanya, para guru sudah tidak lagi menganggapnya sebagai ranjau berjalan yang harus dihindari karena resiko ledakan luar biasa besar. Tidak, mereka kini percaya ia juga sama seperti Kyaria lainnya.

Dan sekarang, inilah kesempatannya membuktikan diri.

Ia sudah lelah terus menerus terjebak bayangan buruk para pendahulunya. Para pendahulu yang menjadikan hiase tak ada bedanya dengan monster. Perusak, pembunuh, penghancur kehidupan makhluk tak berdosa. Penindas makhluk lemah.

Sudah terlalu lama ia mendapat caci maki dan tatapan benci atas kesalahan yang tak pernah dilakukannya. Mereka sudah menganggapnya monster hanya karena ia berbeda. Sama sekali melupakan bahwa bukan ini keinginannya. Bukan ia yang memilih memiliki hiase. Menjadi kambing hitam dalam kehidupan dan menerima stigma buruk atas ulah orang lain.

Dengan menjadi guru bagi Gaara, ia bisa mengajarkan dan menunjukkan pada mereka bahwa hiase tak seburuk dugaan mereka. Hiase juga bisa dikendalikan, mereka juga bisa menjadi penolong sama seperti bai. Hanya kekuatan dan penampilan merekalah yang mungkin kentara bedanya dengan anino normal lainnya.

Ichigo sudah memutuskan apa yang akan dipilihnya. Dan ia takkan berhenti sebelum tujuannya tercapai.

"Aku akan mengajarimu Gaara. Dan semoga Shukaku tak keberatan memanggilku "sensei".

Dan dimulailah masa pelatihan dua Kyaria bertipe hiase di akademi itu. Tanpa satu pun tau, takdir apa yang akan menghampiri keduanya.

-0-

Di sebuah rumah minimalis di Kyoto, seorang anak laki-laki bertubuh kurus menangis dalam tidurnya. Ekspresi wajahnya jelas menggambarkan seseorang yang sedang menahan rasa sakit. Kedua kelopak matanya terpejam rapat dengan mulut yang agak terbuka, namun tak satu suara pun terdengar.

Dari balik punggungnya, suatu pergerakan aneh sedang terjadi. Normalnya, jika kita tidur berlawanan cahaya akan menimbulkan bayangan yang sama seperti tubuh kita, mungkin agak lebih panjang atau pun pendek, tergantung arah sinarnya. Namun, bayangan yang muncul dari tubuh anak ini tidak seperti bayangan normal lainnya.

Bayangan itu, bukannya berwujud tubuh kecilnya, malah menyerupai wujud rubah. Bahkan, rubah itu juga tak bisa disebut normal. Kalau rubah lainnya berekor satu, perlahan namun pasti ekor-ekor lainnya ikut keluar dari bayangan itu. Satu, dua, tiga…Sembilan ekor mengibas ke udara ketika wujud rubah itu sudah sempurna.

Makhluk itu pun berdiri dengan keempat kakinya, mengibaskan ekornya dengan liar sambil memamerkan taringnya yang luar biasa tajam.

Bersamaan dengan transformasi "bayangan" rubah tadi, si anak berambut blonde itu terus menampakkan ekspresi kesakitan mendalam. Bibirnya yang semula terbuka kini tertutup dengan darah mengalir dipinggirnya, akibat ia gigit kelewat keras. Wajahnya kelihatan begitu pucat, dengan keringat mengalir deras di sekujur tubuhnya, menyebabkan bajunya melekat seperti lapisan kulit kedua. Tangannya mencengkram erat selimut birunya, seolah hal itu bisa mengurangi rasa sakitnya.

Rubah berekor sembilan itu masih menutup matanya, menundukkan kepalanya sembari mengusap pipi si anak blonde. Terdengar rintihan pelan seolah menangis dari rubah itu. Dari bahasa tubuhnya, rubah itu seperti sedang meminta maaf. Seakan, rasa sakit yang dirasakan anak itu akibat ulahnya.

Tepat ketika kelopak mata oren kehitaman itu terbuka, menampakkan sepasang mata amber berkilau, dua kelopak mata lainnya terbuka lebar dengan sepasang mata biru langit yang berkilat tajam. Dan keheningan dirumah itu hilang sudah karena suara tertahan si anak itu akhirnya terdengar. Sebuah teriakan memekakkan telinga dan menyayat hati. Teriakan kesakitan sekaligus emosi mendalam.

Dihari itulah, sosok hiase yang sesungguhnya terlahir.

-0-

Sementara itu, di sebuah tempat serupa kantor berukuran sedang, seorang pria muda berambut blonde gelap dan wanita berambut merah menyala mendadak merasakan seluruh tulang ditubuhnya dipatahkan secara paksa.

Sakit.

Panas.

Tubuh mereka seolah dilipat, digulung dan dijejalkan ke pipa secara paksa. Untuk bernafas pun serasa paru-paru mereka dipenuhi asap pekat. Berat, menyakitkan.

Dan secepat rasa sakit itu datang, secepat itu pula rasa sakit itu hilang. Seolah rasa sakit itu hanya ilusi keduanya. Tapi, mereka tau lebih dari itu. Sakit yang mereka rasakan adalah pertanda. Sebuah tanda bahwa takdir hidup mereka akan berubah total dari kata normal.

.

Ini saatnya.

Ini saatnya mereka pulang.

Pulang ketempat mereka seharusnya berada.


Yeeeaaayyyy new chapter ! ^^ hayoo udah pada bisa nebak kan, siapa aja yg dideskripsiin diparagraf mendekati akhir :D kalau belum tau, coba tanya ngkong gugel dulu ^^. Dan jangan lupa kritik saran selalu diterima di kotak Review. Xiexie

Sannur ^^