White Rose
By
Ritsuki Sakuishi n Ritsuka Sakuishi
Disclaimer:
Always Masashi Kishimoto
Chapter 2:
Princess of loneliness
Malam semakin larut. Samar-samar terdengar suara burung gagak yang bertengger di atas puncak menara castle hitam kokoh yang menjulang tinggi. Dan juga suara burung hantu yang memecah keheningan malam. Pohon-pohon kering tak berdaun tampak semakin mengerikan ketika malam. Rantingnya yang bergerak-gerak perlahan seperti ingin mengoyak kulit siapa saja yang berani mendekatinya.
Sakura hanya duduk terdiam di ranjang kamarnya. Tidak ada yang di pikirkannya sekarang. Pikirannya kosong. Bahkan dia tak tau harus berbuat apa sekarang. Tidak ada yang bisa di lakukannya. Ingin menangis tapi untuk apa, air matanya telah kering untuk itu. Ingin berteriak untuk apa, batinya telah puas berteriak. Ingin menyesal untuk apa, tidak ada yang perlu di sesalinya. Semua ini bukan salahnya, Sakura sendiri tidak mengharapkan dia di lahirkan kalau dirinya hanya di buat menderita. Sakura tidak pernah mengharapkan dirinya di lahirkan kalau dirinya mendapatkan takdir seberat ini. Semua ini bukan salahnya dan juga bukan salah siapa-siapa. Semua ini salah takdir. Takdir yang harus menentukannya begitu. Dan takdir juga yang menginginkannya di lahirkan.
Tidak ada yang di rasakannya sekarang. Kosong. Kekosongan yang rasanya tak berujung. Sedih, Dia telah lama di hinggapi rasa sedih. Marah, harus marah dengan siapa? Bahagia, dia hampir tidak pernah merasakan rasa itu. Hanya kosong dan hampa yang di rasakannya.
Tidak ada seorangpun yang menemaninya sekarang. Orang yang di cintainya telah menyakitinya, dan pangerannya telah pergi. Mungkin tidak ada yang abadi baginya. Cintanya telah hilang dan rasa sayangnya telah musnah dari hatinya. Tidak ada yang selalu setia menemaninya. Kecuali kegelapan. Kegelapan yang memang selalu di takdirkan untuk membelenggunya.
Sakura mengarahkan pandangannya ke arah jendela kaca yang tertutupi debu. Walaupun begitu masih tampak pepohonan kering dari luar sana. Sakura menatap burung hantu yang bertengger di dahan pohon itu. Lalu mata jadenya memandang langit malam yang begitu luas.
Ingin sekali aku sirnah di telan gelapnya malam…
Seperti sirnahnya diriku di telan kegelapan yang telah lama membelengguku…
Sakura menundukan kepalanya. Dia benar-benar merasa tidak ada yang bisa di lakukannya saat ini. Dia benar-benara menganggap dirinya tak berguna. Tak ada yang bisa di lakukannya kecuali berdiam diri di castle mengerikan miliknya sampai fajar datang. Dan menjalankan rencana yang dia sendiri tidak pernah mengira akan melakukannya.
***
Dor!
Sebuah peluru perak meluncur dari pistol yang di pegang Naruto. Lelaki berambut kuning itu langsung berlari mendekati buruannya yang terkapar tak berdaya. Naruto berjongkok dan menyentuh leher vampir yang baru saja di tembaknya. Untuk memastikan vampir itu sudah mati atau belum. Tapi tidak ada denyutan. Dia telah mati.
"Hh… Ini yang kedua malam ini, untung saja tidak lepas. Kalau lepas Teme pasti akan mengataiku bodoh lagi." ujar Naruto sambil berdiri. "Cih, enak sekali dia mengataiku begitu. Aku tidak bodoh."
Naruto mengamati vampir perempuan di hadapannya. Wajah Naruto menunjukan rasa kasian kepada vampir itu.
Dia cantik, tapi sayang dia telah mati.
Naruto menghela nafas dan berjalan meninggalkan vampir itu. Tapi dia langsung berbalik lagi ketika mendengar jeritan dari arah belakngnya. "Gawat, tembakanku meleset!"
Di lihatnya sepasang mata lavender berwarna putih sedang menatapnya dengan tatapan yang tak di mengertinya. Lalu dengan tiba-tiba menghilang seketika.
"Di-Dia melarikan diri? Kenapa?" pikir Naruto agak heran. Tak biasanya vampir yang sudah di serang tidak menyerangnya balik. Vampir itu malah melarikan diri. Itu bukan hal yang wajar. Karena vampir hanya akan melarikan diri jika keadaannya sudah sangat terdesak. Naruto berbalik lagi dan pergi dari tempat itu dengan perasaan agak kecewa.
Dari balik pepohonan di taman kota itu terlihat sesosok bayangan gadis berambut panjang. Mata lavendernya mengawasi setiap gerak-gerik pemuda berambut kuning tadi.
Siapa dia?
Lalu bayangan itu hilang seiring angin bertiup. Dan gugurnya daun dari pohon tempatnya bersembunyi untuk mengawasi Naruto.
***
Sinar matahari pagi mulai menyainari castle tua yang tersembunyi di tengah hutan. Castle besar berwarna hitam yang berdiri kokoh seakan tidak akan pernah kalah di telan waktu. Sudah tidak terdengar lagi suara burung gagak yang semalam bertengger di puncak menara castle menyeramkan itu. Dan sudah tidak ada lagi kalelawar yang bergantung terbalik di pohon sekitarnya.
Mawar-mawar putih yang tumbuh di belakang castle itu tampak basah karena embun. Dan begitu juga dengan sebuah pohon Sakura yang tak jauh dari mawar-mawar itu. Jika di lihat, hanya pohon dan mawar-mawar itu yang tumbuh subur di sekitar castle besar tadi.
Kaca jendela menara castle itu tampak buram tertutupi oleh embun pagi. Sakura menghapusnya dengan sikunya. Di lihatnya keadaan di sekitar castle suram miliknya. Dan ternyata keadaan sama yang di dapatnya. Tidak ada kicauan burung di pagi hari. Seperti tidak ada kehidupan. Suram dan mati.
"Shizune." panggil Sakura tanpa berbalik.
"Ya?"
"Bersiap-siaplah." perintah Sakura pelan. Suaranya hampir terdengar seperti sebuah bisikan. "Aku akan mengurus mawar-mawarku."
"Baiklah, yang mulia." Shizune membungkuk. Lalu berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah tanpa suara. "Kalau ada sesuatu yang kau inginkan, panggil saja aku."
Sakura sama sekali tidak menghiraukan kata-kata Shizune, mata jadenya tertuju pada setangkai mawar dalam pot di dekat jendela.
Mawar putih…
"Sa-sakura." panggil Hinata yang tiba-tiba sudah berada di samping Sakura. Sakura tak menjawab. Pikirannya masih terfokus ke mawar itu.
"Ha-haruskah kau la-lakukan se-semua ini?" tanyanya agak ragu. Karena dia tau jawabannya pasti akan tetap sama dengan sebelumnya.
"Ya."
"Ja-jangan memaksakan dirimu." Hinata berkata lagi. Suaranya di usahakan selembut mungkin agar sang putri tidak tersinggung.
"Tidak." Sakura masih menatap bunga mawar di pot itu. Hinata mengikuti arah pandangan Sakura.
"Ma-mawar putih. I-itu pa-pasti mengingatkanmu padanya." Hinata menatap bunga mawar itu dengan tatapan iba. "Ka-kau pasti sa-sangat menyukai ma-mawar berwarna putih."
"Tidak, aku benci warna putih." Sakura membantah untuk kedua kalinya.
Setiap kali ditanya seperti itu, Sakura merasa tubuhnya lemas dan wajahnya memanas. Air mata seakan tak terbendung lagi dan dia ingin sekali menangis saat itu juga. Tapi untuk apa menangisi orang yang telah menyakitinya? Itu hanya buang-buang waktu saja. Lagi pula air matanya sudah habis untuk menangisinya sewaktu Sakura masih bersamanya.
"Ta-tapi ke-kenapa kau selalu merawat da-dan membawa ma-mawar putih itu kemanapun ka-kau pergi." perkataan Hinata itu langsung membuat Sakura tertegun. "Ke-kenapa ti-tidak warna yang lain saja?"
Kenapa harus warna putih?
Kenapa tidak warna merah, pink atau kuning saja?
Kenapa harus putih?
Aku… juga tidak tau jawabannya…
"Entahlah." Sakura tertunduk. Dia tak tau harus menjawab apa lagi kecuali 'entahlah'.
Mungkin karena aku ini memang tidak bisa jauh dari warna itu…
Warna mawar yang di berikannya…
Dan warna mawar yang membunuhku…
Langit tampak mendung, matahari yang tadinya bersinar terang kini bersembunyi di balik awan hitam. Hujan mulai turun rintik-rintik. Namun beberapa saat kemudian hujan telah menjadi deras. Dan petir mulai menyambar. Seakan ingin membakar pepohonan tinggi yang tak berdaun dan menghanguskannya.
Sakura masih tetap berdiri di depan jendela. Matanya memandang lurus ke arah langit. Butiran air hujan turun membasahi bumi. Membasahi seluruh hutan dan isinya. Membasahi bunga mawar yang tumbuh di sekitar itu castle.
"Hinata, kau yakin akan ikut dengan kami?" tanya Sakura sambil menatap Hinata yang sedang mengarahkan pandangannya ke arah langit. "Aku hanya khawatirkan lukamu akibat semalam belum sembuh betul."
Hinata tersenyum kecil. Merasa senang karena Sakura masih bisa mengkhawatirkan teman baiknya. "A-aku tidak apa-apa."
"Kalau begitu bersiap-siaplah. Kita akan pergi sekarng." mata jade itu kembali mengarah ke langit.
Gaara-kun, tunggulah…
***
Sasuke berjalan di koridor sekolah tempatnya mengajar. Entah mengapa dia merasakan hal yang buruk akan terjadi.
Ctar…
Terdengar suara petir menyambar. Sasuke mempercepat jalannya. Bukan karena suara petir besar tadi. Tapi karena perasaan buruk yang semakin memaksanya untuk cepat. Perasaan itu semakin kuat dan membuatnya gelisah.
Cklek.
Sasuke membuka pintu dan berjalan masuk. Di perhatikannya seluruh murid yang berada di kelas itu. Sasuke agak lega ketika melihat tidak ada yang terjadi pada murid-muridnya.
Syukurlah, tidak ada apa-apa.
"Selamat pagi anak-anak." sapa Sasuke, masih sambil memperhatikan murid-murid itu.
"Selamat pagi Sensei!" jawab semua murid dengan serentak. Tapi hanya di bagian murid perempuan saja yang terlihat paling bersemangat untuk menjawab.
"Baiklah, seperti biasa kita akan belajar fisika, sekarang keluarkan buku kalian dan buka halaman-."
"Permisi." terdengar suara lembut yang memotong kalimat Sasuke.
Semua kepala tertuju ke arah pintu masuk kelas. Seorang gadis cantik yang tingginya tidak seberapa dengan rambut merah muda panjang yang di biarkan tergerai.
Mata Sasuke tak lepas dari gadis itu, seorang gadis yang telah lama tak di lihatnya, gadis yang telah lama di rindukannya, gadis yang telah lama di carinya. Sekarang tengah berdiri di hadapannya. Jantungnya terasa berhenti detik itu juga.
Sakura…
To Be Continued…
Chappie dua update, tapi entah kenapa kami merasa chapter ini jelek banget deh *nangis di pojokan* banyak yang kurang rasanya.
Makasih banyak yang udah ngeriview cerita kami . Well sekarang balas riview dulu.
Chiwe:
Salam kenal juga. Maniak SasuSaku? Waw, sama dong. Kami juga *gak ada yang nanya*. Tebakanmu bener banget. Mereka memang musuhan, tapi soal bikin sasusaku bahagia liat aja deh. Kalau bisa kami usahain.
Akina Takahashi:
Makasih banyak senpai *sok terharu*. Soal beda pendapat itu Ritsukinya yang paling gak mau ngalah.
UchiHAruno Sasusaku:
Bingung tentang SasuSakunya? Gak apa-apa *kami juga bingung sebenernya –di lempar* tapi intinya mereka musuhan kok.
Kenko-hime:
Makasih banyak ya senpai, *padahal ide ini cuma iseng*. Gaaranya entar pastih diidupin lagi, kasian dong perannya cuma mati doang –di sabaku Gaara.
Nie Akanaru:
Sakura benci warna putih emang gara-gara Sasuke kok (emang siapa lagi yang rambutnya pantat ayam? –di chidori.
De-chan:
Jangan ngambek dong senpai *ngasih lolipop ke De-chan-senpai* tapi yang mau di bunuh Sakura itu emang Sasuke.
Naara Akira:
Ceritanya gak mirip dengan vampire knight kok *idenya aja ngasal*. Soal Gaara dia nanti pasti idup lagi (tapi gak janji untuk beberapa chapter ke depan). Soal nama kami yang sama, sebenarnya kami ini memang kembar. Rencananya mau buat acc sendiri-sendiri, tapi karena Ritsukanya males banget *emang lu sendiri enggak?* dia maksa untuk satu acc aja (tapi tetep aja aku yang kerja rodi buat fanfic –di tendang Ritsuka).
Sekali lagi makasih banyak yang sudah negeriview. Dan sekarang maukan riview lagi? Mau yah? Mau dong *maksa*. Riview!
