Sungmin's Mystery of Life

Interactive Fanfiction

Chapter 1 : "The Most Important Document"

By Yuya Matsumoto

Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever

Cast: Lee Sungmin (Super Junior's member)

Ok Taecyeon (2PM's member)

Park Yoochun (DBSK's member)

Summary: Sungmin adalah seorang yatim piatu yang diasuh oleh seorang haraboji baik hati. Kehidupannya berjalan normal sampai haraboji meninggal. Sungmin dituntut untuk membongkar semua rahasia hidupnya. Apakah itu? RnR please

.

.

\(w)/~ Happy Reading ~\(^0^)9

.

.

Aku tersenyum, memegang tangannya yang ada di pipiku. Sejak kapan haraboji-ku begitu kurus dan tua seperti ini? Apakah aku terlalu tidak peduli atau penyakit ini yang begitu hebat menggerogotinya?

"Haraboji harus janji akan sehat kembali. Janji ya!", kataku menyemangatinya.

Haraboji tersenyum lagi. "I'll promise it"ucapnya. "Haraboji akan memberikan sesuatu kepadamu, Minnie-ah! Sesuatu tentang masa laluku dan kehidupan orangtua-mu. Masa lalu tentang keluarga yang selama ini kau rindukan", kata haraboji terbata-bata, pelan dan lirih.

Masa laluku? Apakah haraboji tahu siapa aku?

Aku mendekati haraboji. Ia meminta pengacaranya untuk mengambilkan sesuatu kepadaku. Sesuatu yang selama ini ingin kuketahui. Sesuatu yang mungkin akan mengubah segalanya. Haruskah aku menerimanya?

Aku mengambil amplop yang diberikan oleh pengacara itu. Sebuah amplop berwarna biru dengan sebuah lambang yang sangat aku kenal. Lambang ini mirip sekali dengan lambang yang menghias ranjang bayiku. Aku membuka amplop biru itu. Secarik kertas dengan tulisan seseorang di dalamnya. Aku membaca tulisan itu dengan sesakma.

Dear, someone who has a really kindheart to help my lovely son.

Thank you so much you have taken care my son. I can't say anything than Thanks to you from my heart. Please, take care him with your love. Protect him as well with your life. His name is Sungmin. I don't care if you want to give your name at his first name, but please, give my name at his last name. I'm so sorry that I give him to you in the middle of snowy rain. It doesn't mean that I hate him. I really love him, that's why I need you to protect him. Please…

I beg you to let him study at International High School of Lunar in Seoul. He still needs to know his real identity. He will finds out what happened to him before. He can studies there when he is 17 years or above.

I will make anything fine here, so he will be good in the future. Thank you so much. I really appreciate all your kindness. Thank you. Please, say to him that I really love him. Don't tell him about the truth. I don't want to make him sad.

With love,

LT

"Itu surat yang ada di dalam ranjang bayimu. Aku harap itu menjadi sebuah petunjuk untukmu", jelas haraboji di sela batuknya. "Uhuk… uhuk… carilah masa lalumu, Min. Uhuk… Aku tidak bisa membantu. Maafkan aku, Minnie".

Aku memeluk haraboji. Airmataku kembali mengalir. "Gwenchana, haraboji. Ini jauh lebih berarti daripada semuanya. Jika tidak ada haraboji, mungkin aku tidak bisa ada disini. Jeongmal kamsahamnida, haraboji"

Aku mengecup pipi haraboji. Tidak terdengar suara batuk dari kerongkongannya yang pahit. Tidak kurasakan deru napasnya di tengkukku. Tidak kutemukan lagi dadanya yang kian naik-turun dengan susah payah. Aku menatap wajah haraboji yang sangat tenang. Tidak ada kegundahan dari wajahnya. Yang ada hanya senyuman damai di kedua pipinya yang tirus. Matanya tertutup rapat, seakan ia sedang menikmati mimpinya yang indah. Aku mengulas senyumku di pipi, menikmati keindahan wajahnya yang selalu membuatku tenang.

"Aku menyayangimu, haraboji. Aku berjanji akan menemukan kebahagiaanku. Aku akan terus tersenyum. Lihatlah aku di surga, ya Haraboji", ujarku dalam pelukannya. Aku membisikkan kata-kata itu di telinganya. Berharap Haraboji masih bisa mendengar untaian janjiku.

Pemakaman haraboji berjalan dengan sangat khidmat. Beberapa karyawan di perusahaannya menghadiri pemakaman itu. Tidak ada seorang kerabat keluarga yang datang, karena memang haraboji hidup tanpa keluarga. Hanya aku dan para pelayan yang menjadi anggota keluarganya yang terdekat. Aku senang, haraboji kembali kepada-Nya dengan senyum menawan. Mungkin halmoni yang menjemput haraboji secara pribadi. Oh, cinta haraboji memang sangat besar untuk halmoni. Haraboji selalu mengatakan bahwa tanpaku, ia tidak akan sanggup melalui hari-hari kelabunya setelah ditinggal halmoni. Bagi haraboji, aku adalah sinar mentarinya. Justru bagiku, haraboji adalah oksigenku, nutrisiku dan segalanya untukku.

Aku mendekati peti matinya, mencium kedua pipi haraboji. "Terima kasih atas segalanya, haraboji. Tenanglah disana bersama halmoni", ucapku sebelum meninggalkan peti haraboji yang akan dikremasi.

Setelah pemakaman haraboji, aku dan beberapa pelayan kembali ke rumah. Aku membereskan pakaianku. Pengacara haraboji sudah mengurus segalanya tentang kepindahanku ke sekolah itu, International High School of Lunar. Saat ini aku memang tidak tinggal di Seoul, sehingga aku harus hijrah ke sana minggu depan. Segala hal di rumah ini akan diurus oleh Mr. Heo dan Kepala pelayan kami, Mrs. Yoo. Pengacara memintaku agar menyelesaikan sekolah di sana dengan baik sehingga aku dapat melanjutkan perusahaan haraboji di sini. Ya, haraboji telah mewariskan segalanya untukku. Aku juga harus berbakti kepadanya. Oleh karena itu, aku akan segera menyelesaikan pendidikanku dan mengetahui segala masa laluku. Aku akan kembali ke rumah ini, melanjutkan kisah hidupku dengan seluruh kenangan bersama haraboji.

.

.

(^w^)/~ YuyaLoveSungmin ~\(^0^)

.

.

Hari ini aku sampai di asrama sekolah. International High School of Lunar memiliki asrama bagi siapapun yang tinggal jauh di luar kota. Dikhususkan bagi kelas tiga sepertiku untuk tetap tinggal di asrama, karena harus konsentrasi belajar. Aku sedikit merasa cemas, karena sekolah ini jauh lebih besar dan menyeramkan dibanding sekolahku dulu. Bangunannya memang sangat modern, namun gerbang yang menjulang tinggi memberi kesan militarisasi pada sekolah ini. Rasanya aku ingin menghampiri haraboji yang asyik bermesraan dengan halmoni di surga, lalu berteriak 'Nggak salah niy? Haraboji berencana menyiksaku ya?'. Sayang sekali aku tidak dapat melakukan itu semua.

"Ini kamarmu. Semoga kamu betah di sini. Ingat! Junjung tinggi peraturan di asrama ini", ujar seorang namja yang diberitahukan sebagai kepala asrama di sekolah ini. Ia membukakan sebuah pintu untukku, lalu meninggalkanku yang masih terpaku di depan pintu.

"Chogiyo!", panggilku kepada namja itu. "Nama kamu siapa? Jika aku perlu, bagaimana aku menghubungimu?", teriakku kepada namja yang sudah berdiri agak jauh dariku.

Ia menolehkan kepalanya. Ia membetulkan letak kacamatanya. "Ok Taecyeon. Kamu bisa datang ke kamarku. Ruang 306B, sebelah ruang informasi. Sudah jangan banyak bertanya. Kamu nanti juga tahu situasi di sini", jawabnya dengan nada ketus tingkat dewa.

Aku merinding mendengar jawaban ketusnya. Pandangannya sangat tajam, menusuk siapapun yang berusaha mendobrak pertahanannya. Huft! Daripada sibuk memikirkan kekejaman Ok Taecyeon yang mungkin akan menyiksaku, lebih baik aku masuk ke dalam kamar. Aku menarik koperku yang lumayan besar ke dalam kamarku.

Kamar ini tidak terlalu besar. Tapi terkesan rapi. Kamar ini berdesain catchy dan modern. Warna yang digunakan adalah abu-abu dan hijau. Berbeda dengan warna kesukaanku, pink. Ada dua buah ranjang yang tersusun bersebelahan. Ranjang yang satu berada di atas. Keduanya dipisahkan oleh untaian tiga anak tangga. Di bawah ranjang kedua, terdapat meja kecil yang sejajar tingkatnya dengan ranjang pertama. Di bagian atas, setingkat dengan ranjang kedua, terdapat meja belajar dan lemari pakaian. Sepertinya bagian ini belum ada yang menempati karena terlihat rapi tanpa barang-barang. Dibawah meja yang ada di atas, terdapat lemari pakaian. Mungkin sudah dipakai oleh pemilik ruangan ini. Aku masih enggan merapikannya. Aku menjelajahi setiap sisi kamar ini. Semua terlihat sangat rapi dan nyaman. Aku yakin aku bisa menjalani ini semua.

TING TONG! Terdengar suara bel berseru di luar kamar. Tidak beberapa lama suara gemuruh terdengar sahut-menyahut di dalam lorong. Aku yakin ini saatnya mereka pulang sekolah. Aku memang datang sore hari sehingga aku akan masuk kelas esok hari.

BRAAAK! Pintu kamarku terbuka lebar. Aku yang masih asyik duduk di atas tempat tidur, membelalakan mata melihat seorang namja masuk ke dalam kamarku. Ia memelototiku, lalu ia menutup pintu kamar secara tiba-tiba. Belum sempat aku bernapas lega, pintu kamar itu terbuka lagi.

"Ini benar kamar 388C kan?", tanya namja itu sambil menunjuk nomor di pintu. Aku mengangguk pelan. "Siapa kau? Kenapa ada di kamarku?", tanyanya lagi dengan nada sama ketusnya dengan Ok Taecyeon tadi.

Aku menghela napas panjang. Aku menghampiri namja itu, mengulurkan tanganku. "Sungmin imnida. Kim Sungmin. Aku siswa baru di sini dan akan menempati kamar ini. Mohon kerjasamanya", ucapku memperkenalkan diri. Aku membungkukkan tubuhku untuk memberi hormat yang sopan.

Namja itu menyambut uluran tanganku, lalu ia menghentakkannya begitu saja. "Park Yoochun. Terserah kamu mau memanggil aku siapa. Aku tidak peduli. Asal kamu jangan melanggar privacy-ku!", jelasnya lagi. Ia sudah tiduran di atas tempat tidurnya sambil membaca komik. Sepertinya itu komik YAOI, karena aku melihat gambar dua namja di covernya.

"Ne… Arraso!", jawabku pasrah. Hah! Kenapa aku harus sekamar dengan namja jutek seperti ini? Apa salahku Tuhan? Aku memutuskan meninggalkan roommate baruku, memilih merapikan semua barang-barangku.

Namja bernama Yoochun itu tidak mempedulikan kehadiranku. Ia hanya asyik dengan komik dan cemilannya. Aku selalu didiamkan olehnya. Sebal juga sih! Walaupun aku merasa ia sulit untuk didekati, tapi tidak ada yang mustahil di dunia ini. Lihat saja kau Yoochun, aku akan membuatmu menjadi sahabat pertamaku di sekolah ini.

Hari pertama sekolah hadir juga. Aku meminta Tae untuk mengantarkan aku ke kelas, namun ia menolak permintaanku mentah-mentah. Dia bilang aku bisa mencarinya sendiri karena dia sedang sibuk. Apa-apaan tuh? Dia sendiri yang bilang bahwa ia ketua asrama di sini. Seharusnya dia membantu segala urusan siswa baru dong. Benar-benar lepas tanggungjawab. Lagipula siapa yang takut untuk menjelajah sekolah ini. Aku bukan anak manja.

Huuaaa… Aku akui sekarang kalau aku anak manja. Aku sudah berputar-putar namun tidak menemukan jalan menuju sekolah. Aku juga bingung, sebenarnya aku sudah di wilayah sekolah atau hanya berputar di sekitar asrama. Huuuu… Anybody help me!

Aku melihat sesosok namja dengan seragam yang sama denganku sedang berjalan ke arahku. Namja itu tinggi. Kulitnya putih. Wajahnya sangat tampan. Mata obsidian yang mempesona. Hidung yang mancung. Bibir menggoda. Argh! Begitu sempurna. Saking terpesona dengan ketampanan namja itu, aku sampai tidak sadar kalau ia sudah melewatiku. Babbo, Sungmin!

"Chogiyo!", teriakku memanggil namja tadi, yang mulai menghilang di sebuah persimpangan. Aku berlari mengejar bayangannya. Hanya dia satu-satunya yang bisa menyelamatkanku. Dia berhenti di depan sebuah pintu, lalu memasukinya.

Aku bergegas menuju pintu yang dimasuki oleh namja itu. Aku terpaku di depan pintu. Apakah ini? Jangan-jangan…

"Ya! Apa yang kamu lakukan di sini? Bukannya masuk ke kelas. Kamu sudah terlambat dua jam, tahu!", teriak seseorang yang membuatku membatalkan niat untuk membuka pintu itu.

Aku menghadap kepada orang yang berteriak tadi. Ok Taecyeon memelototiku dengan menyeramkan. Seakan-akan ia ingin menelanku hidup-hidup. Aku mengerucutkan bibirku.

"Dasar siswa baru nakal! Aku mencarimu seharian tahu! Menyebalkan", keluhnya sambil menarikku menjauhi pintu itu.

Aku mendengus kesal dalam tarikannya. Aku menatap lemah kepada pintu yang mulai menjauh itu. Aku harus kembali lagi ke sana. Aku yakin ada sesuatu yang penting di dalamnya.

.

.

d(^w^) ? T.B.C ? (^_^)v

.

.


Thanks to all readers...

zoldyk, Jung naemin, ChoJhiMin, Brigitta Bukan Brigittiw

Trmksh reviewnya, jd aku memutuskan u/ melanjutkan FFnya di sini.

Jika tidak ada lagi yg berminat, aku akan mengHAPUS FF ini suatu hari nanti

Baca FFku lainnya di yuyalovesungmin . wordpress . com

Thanks ^^