-CHAPTER 1-
Hari itu terasa longgar tak sesibuk seperti biasanya. Hinata duduk di bingkai jendela sambil menyesap frappuccino dingin kesukaannya. Mata cerahnya serius memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di bawah sana. Sesekali ujung bibirnya terangkat melihat orang-orang itu. Seperti gadis kecil berambut pirang di seberang jalan sana. Ia terlihat kegirangan saat digendong di pundak ayahnya. Hinata ikut kegirangan saat sang ayah dengan sengaja menggoda si gadis kecil dengan berpura-pura ingin menjatuhkan bocah itu. Ia jadi rindu ayahnya, dan teringat sudah tiga hari Hinata tidak menelepon sang ayah.
'Nanti malam akan kutelepon.' batinnya.
Hinata menyudahi acaranya menonton jalanan saat merasakan getaran di saku celananya. Handphonenya berdering, menunjukkan tulisan 'My Luv Manager'pada layarnya.
"Ya, Kelly?"
"Hinata, kau dimana?" tanya suara wanita diujung sana.
"Aku di studio."
"Studio ini luas, Hinata. Kau tak ada di ruanganmu, kau dimananya?"
Dari suaranya, Hinata bisa menebak wanita yang sudah empat tahun menjabat sebagai manajernya itu sedang bersemangat. Mungkin ia punya kabar baik, entah itu tentang pekerjaan atau ia hanya ingin curhat tentang lelaki yang sedang dikencaninya. Entahlah. "Aku di ruang meeting atas, ada apa?"
"Oke, aku kesana." tutup wanita itu segera.
Tak selang beberapa lama, wanita yang akrab disapa Kelly itu memasuki ruangan dimana Hinata berada. "Hey, disini kau rupanya, aku punya kabar baik." sapa wanita 30 tahunan itu sambil tersenyum.
"Kabar baik apa?" tanya Hinata antusias.
"Aku tadi mendapat telepon dari Kevin Harley, katanya dia sangat menyukai lirik lagu yang kau buat untuknya, bahkan produsernya juga suka!" sahut Kelly tak kalah antusias. Senyum di wajahnya tak urung pudar selama berbicara. 'Sebegitu senangnyakah dia?' batin Hinata.
"Syukurlah. Dia memang DJ yang hebat, musik yang dia buat sangat keren. Aku berusaha keras supaya liriknya dapat mengalir dengan iramanya." puji Hinata sambil tersenyum. Hinata lega karena selama ini orang-orang tidak pernah kecewa dengan lirik maupun lagu yang ia buat.
"Ngomong-ngomong, siapa penyanyi yang akan menyayikan lagu itu nanti?" tanya Hinata sembari menyesap kembali frappuccino miliknya.
"Ah, aku lupa memberi tahumu bahwa sebenarnya aku punya dua kabar baik."
"Apa itu?" tanya Hinata penasaran.
"Yang akan membawakan lagu itu nanti adalah..." Kelly dengan sengaja memberi jeda, membuat Hinata semakin penasaran.
"...KAU HINATA! KYAAA!" teriak Kelly sambil memeluk Hinata.
Hampir saja Hinata tersedak mendengar perkataan Kelly barusan. Eh? Apa Hinata tadi salah dengar? "Ha? K-kau bercanda Kelly?!"
"Apa wajahku terlihat seperti sedang melawak, Hinata?" tanya Kelly dengan memasang tampang-sok-seriusnya.
"Iya." jawab Hinata polos.
"Oh Hinata, kau harus percaya padaku. Mereka bilang mereka benar-benar kagum mendengar rekaman suaramu saat kau mencoba mempraktekkan lagu itu. Bahkan, Kevin sendiri yang mengusulkan supaya yang menyanyikan lagu itu adalah kau." terang Kelly mencoba meyakinkan Hinata.
"Tapi Kelly aku-"
"Ayolah Hinata, ini kesempatan emas. Sudah seharusnya kau debut menjadi seorang penyanyi. Kau punya bakat menyanyi yang luar biasa. Aku yakin kau akan menjadi superstar nantinya, kau hanya perlu percaya pada dirimu sendiri." Kelly terus meyakinkan Hinata.
Melihat usaha keras Kelly untuk meyakinkannya membuat Hinata berpikir. Ia memang sudah lama ingin menjadi seorang penyanyi, mengingat ia memang hobi bernyanyi. Namun, perlahan Hinata mulai melupakan keinginannya tersebut karena sudah terlanjur berkecimpung di dunia modeling. Ia tak pernah berpikir untuk mengembangkan hobinya tersebut, karena menurutnya menjadi seorang model dan penulis lagu sudah cukup baginya. Kelly mungkin benar, ia nanti akan menjadi lebih terkenal jika banting stir menjadi seorang penyanyi mengingat ia sudah cukup populer saat ini. Namun, mungkinkah? Atau nantinya Hinata hanya dianggap sebagai penyanyi yang aji mumpung saja?
"Aku butuh waktu untuk memikirkannya, Kelly."
"Hm, OK. Pihak manajemen Kevin akan meeting dengan kita terkait kerjasama ini. Dan kuharap kau sudah punya jawaban saat meeting kita nanti."
"Kapan meeting-nya?"
"Lusa." jawab Kelly enteng sambil 'merebut' frappuccino milik Hinata dan menyeruputnya sedikit.
"Apa?!"
"Ek, kopimu sudah tidak dingin Hinata. Tidak enak." ujar Kelly sambil meringis.
"Nah, sekarang pikirkan ini baik-baik Hinata. Aku berharap besar padamu. Bye, sayang." lanjut Kelly sambil melenggang keluar ruangan, meninggalkan Hinata yang masih terlihat speechless.
Hinata menghelas napasnya. Pandangannya kembali menerawang ke arah jendela. Kali ini ia tak sibuk mengamati jalanan yang semakin ramai dengan orang-orang yang lewat. Pikirannya kini tertuju pada perkataan Kelly barusan. Diseruputnya frappuccino miliknya yang tinggal seperempat gelas.
"Ini masih enak." ucap Hinata sambil meneguk kopinya hingga habis.
~~o~~
Hari Rabu. Seperti yang dikatakan Kelly, Hinata ada rapat penting hari ini. Penting baginya karena pada rapat itu Hinata akan memutuskan suatu hal yang besar dalam hidupnya. Hinata telah memikirkan ini matang-matang dan mantap dengan keputusannya. Ia harap keputusan yang diambilnya merupakan keputusan yang terbaik.
Setelah membeli frappuccino di kedai kopi dekat studio, Hinata lalu masuk ke dalam studio dan segera menuju ruangan tempat Kelly berada. Dibukanya pintu kaca ruangan itu, terlihat Kelly sedang sibuk berkutat dengan laptopnya.
"Pagi Kelly." sapa Hinata lembut.
"Oh, hai Hinata sayang." sahut Kelly dengan ceria. Ia kemudian bangkit dari kursinya dan menuju ke Hinata.
"Kau tahu, aku sangat senang ketika kau meneleponku tadi malam dan bilang kalau kau setuju untuk menyanyikan lagu itu. Kau membuat keputusan yang tepat, Hinata." Ucap Kelly sambil menyisir rambut Hinata dengan jemarinya.
Melihat senyum bahagia di wajah manajernya itu membuat Hinata tak dapat menahan untuk tidak ikut tersenyum. "Yah, kau benar Kelly. Ini adalah kesempatan emasku. Aku akan menyesal seumur hidup jika tidak mencobanya. Terima kasih banyak." kata Hinata sambil memeluk Kelly.
"Sama-sama, sayang. Oh iya, sebaiknya kita segera ke ruang meeting sekarang. Kevin dan manajemennya akan segera datang."
Hinata mengangguk setuju. "Ayo."
"Hinata, boleh aku minta kopimu?"
"Tidak." ucap Hinata sambil meminum frappuccino-nya dan bergegas pergi menuju ruangan meeting.
"Pelit."
~o~
Setelah meeting tersebut, persiapan untuk merilis lagu kolaborasi antara Hinata dan DJ Kevin pun mulai dilakukan. Hinata mulai sedikit mengurangi kegiatan modelingnya demi fokus dalam proyek menyanyinya ini. Hampir setiap hari Hinata intens latihan bernyanyi dengan Disc Jockey tampan tersebut agar chemistry yang tercipta antara mereka berdua dalam lagu tersebut semakin kuat. Tak hanya latihan vokal saja, Hinata pun berlatih koreografi untuk lagu ini karena rencananya perilisan lagu ini akan dibarengi dengan video klipnya juga. Musiknya yang up-beat membuat sayang rasanya jika Hinata tidak ikut menari mengikuti irama musik dalam video klipnya nanti.
Hari-hari berlalu, persiapan untuk perilisan lagu tersebut sudah mendekati angka seratus persen. Kini Hinata dan DJ Kevin tinggal melakukan poin terpentingnya, yaitu rekaman dan pembuatan video klip. Proses rekaman lagu tersebut pun sukses dilaksanakan. Suara merdu Hinata begitu serasi mengiringi musik up-beat milik DJ Kevin. Nyanyian rap dari DJ Kevin pun melengkapi lagu yang bergenre Electronic Music Dance itu, menghasilkan sebuah lagu yang akan membuat siapa saja bergoyang dan bersemangat saat mendengarnya. Proses pembuatan video klipnya pun tak kalah sukses. Video klip yang bertemakan disko dengan permainan efek cahaya lampu neon warna-warninya berhasil membuat lagu tersebut menjadi lebih meriah. Penampilan Hinata dalam video klip itu juga sangat maksimal saat dirinya menari mengikuti irama lagu tersebut. Pihak manajemen Hinata maupun manajemen DJ Kevin begitu puas dengan hasil dari kolaborasi para artisnya. Mereka menjamin single yang berjudul 'Lose Control' ini akan menjadi hits dan sukses besar saat perilisannya nanti.
Benar saja, di hari pertama perilisannya lagu ini sudah menjadi perbincangan hangat di Amerika Serikat bahkan di seluruh dunia. Video klipnya pun sudah ditonton sebanyak satu juta kali pada 24 jam pertama perilisannya. Lagu ini menjadi surprise tersendiri bagi para penikmat musik karena munculnya nama Hinata sebagai penyanyi dalam lagu ini. Selama ini mereka hanya mengetahui Hinata sebagai seorang model dan penulis lagu saja. Mereka terkejut karena Hinata sang model ternyata juga bisa bernyanyi dan mempunyai suara begitu merdu dan enak didengar. Berbagai review dan komentar positif pun bermunculan menanggapi lagu ini.
"Astaga aku tidak menyangka ternyata Hinata Hyuuga yang menyanyikan lagu keren ini!"
"Aku tidak tahu Hinata Hyuuga punya suara sebagus ini."
"Hinata Hyuuga sangat keren di lagu ini, dia tampak serasi dengan Kevin Harley."
"Aaah aku sangat menyukai lagu Lose Control! I love you hinatahyuuga !" tweet seseorang di akun twitter-nya.
"Gawat aku jadi nge-fans sama Hinata hinatahyuuga ." kicau akun lainnya.
Berbagai tanggapan positif terus mengalir kepada Hinata dari hari ke hari. Hal tersebut membuatnya semakin bersyukur dan tidak menyesali keputusannya untuk debut sebagai penyanyi.
"Terima kasih banyak atas tanggapan yang begitu spektakuler untuk lagu Lose Control with DJKevin ini. Dukungan dan bimbingan kalian juga sangat berarti untukku. Much Love! ;)" tweet Hinata di akun twitter-nya.
Hinata begitu bersyukur karena kemunculannya sebagai penyanyi diterima dengan sangat baik oleh orang-orang. Beberapa penyanyi lain pun banyak yang memuji lagu kolaborasi Hinata dengan sang DJ Kevin Harley. Produser-produser musik kini mulai memperhitungkan Hinata. Ini adalah kesuksesan terbesar dalam karirnya. Ia pun sangat senang karena lagunya dapat sukses dan membuat bahagia bagi yang mendengarnya.
Kini Hinata semakin terkenal. Job-job untuk menyanyi baik on air maupun off air pun membanjirinya. Image-nya sebagai seorang model pun tak luntur begitu saja. Wajahnya semakin sering muncul menghiasi headline di berbagai majalah hingga koran harian. Hinata semakin dikenal dunia. Orang tua dan saudara-saudarannya pun semakin bangga atas pencapaian yang telah diraih Hinata. Hinata berharap ia dapat terus langgeng dengan dunia yang baru saja dijalaninya ini, supaya ia dapat terus menghasilkan karya-karya lainnya yang tak kalah spektakuler dari ini.
~~o~~
"Moshi-moshi."
"Ya, Hinata?"
"Ah, akhirnya kau menjawab teleponku Naruto-kun." ujar Hinata senang mendengar suara kekasihnya yang jauh di Jepang sana.
"Maaf, seharian ini aku sangat sibuk." ucap pria tersebut dengan pelan.
"Hm, aku mengerti. Tapi sempatkanlah untuk beristirahat, jangan memaksakan diri. Dan jangan lewatkan makanmu juga, kau punya maag kronis Naruto-kun." kata Hinata perhatian.
"Um, terima kasih. Kau juga."
"Maaf ya Naruto-kun, aku belum bisa ke Jepang. Jadwalku akhir-akhir ini sangat gila. Jika ada waktu aku akan kesana." keluh Hinata.
Semenjak menjadi penyanyi Hinata menjadi lebih sibuk dari biasanya. Dalam sehari bisa lima sampai sepuluh job sekaligus yang harus ia selesaikan. Walaupun begitu, Hinata tak pernah menyesali keputusannya menjadi penyanyi. Meskipun konsekuensinya waktu Hinata akan terkuras habis, termasuk waktu bersama sang kekasih.
"Atau bagaimana jika Naruto-kun saja yang kesini? Kita kan sudah lima bulan tidak bertemu, aku rindu Naruto-kun." pinta Hinata.
"Um, maaf aku tidak bisa. Sebenarnya minggu depan aku harus syuting sebuah film, dan aku menjadi salah satu pemeran utamanya. Jadi, aku juga akan sangat sibuk beberapa bulan kedepan." jelas Naruto.
"Oh, begitu. Ya sudah tak apa, aku mengerti..." ucap Hinata pasrah.
"...selamat atas peran utamamu." lanjut Hinata.
"Hm, terima kasih." sahut Naruto kalem.
"Sudah ya, di Jepang sudah larut malam. Aku lelah ingin istirahat." tambahnya.
"Ah, kau benar. Maaf Naruto-kun, aku lupa. Baiklah kalau begitu, oyasuminasai, anata."
"Hm." balas Naruto.
Gumaman singkat dari Naruto tersebut menjadi akhir percakapan pelepas rindunya siang itu. Hinata bersyukur dapat mendengar suara kekasihnya walau hanya sebentar. Cukup untuk menjadi penawar rindunya yang sudah menggebu-gebu, mengingat sudah berbulan-bulan ia dan Naruto tidak saling bertemu. Kesibukan merekalah yang menjadi 'tersangka utama' penyebab rindu yang kian hari semakin menyesakkan dadanya. Hinata hanya bisa berharap pekerjaanya tidak semakin menggila agar ia dapat menyempatkan diri untuk terbang ke Jepang menemui orang terkasihnya, termasuk menemui sang ayah dan kedua saudara kandungnya. Mengingat mereka membuat Hinata semakin rindu.
"Aku butuh frappuccino." gumamnya pelan.
Tak mau semakin terhanyut dalam perasaan rindunya, ia memutuskan untuk mengajak sang manajer tercinta untuk makan siang bersama sebelum melanjutkan aktivitasnya yang lain yang telah menunggunya.
~~o~~
Hallo~ ._.
Saya Hana-chan Author baru, salam kenal! ^_^
Gimana para Reader suka sama cerita dari Hana ini? ._.
Nah, buat pembaca sekalian yang suka sama cerita fanfict ini (yang ngga juga gapapa), mungkin bisa berkenan buat tinggalkan jejak kalian berupa komentar, kritikan, saran, masukan, pertanyaan, dan lain-lain akan diterima dengan senang hati ^_^v.
Chapter kedua akan segera Hana rilis~ mohon menunggu~ Arigatou ^_~
Tachibana Hana,
gadis antah-barantah.
