"Sehun bilang dia tidak percaya dengan cinta,"
"Itu karena kau hanya menelan langsung kata-katanya. Terjunlah ke dalam dunianya. Dunia Sehun bukan disini, melainkan di kertas kanvasnya,"
.
.
Foregone Portrait
EXO Fanfiction
Sehun and Luhan
.
.
Hari ini Luhan datang ke ruang melukis. Ia tersenyum dengan lebar.
Sehun hanya memandangnya tanpa berucap satu huruf pun. Ia masih duduk di kursi favoritnya dan menopang palet kecil seperti biasanya. Apa lagi kegiatan dari seorang Oh Sehun jika bukan melukis dalam ketenangan dan kesendirian di sore hari?
Luhan menutup pintu ruangan dan berjalan mendekati Sehun.
"Hai," sapaan lembut yang selalu dilontarkannya. Sehun terus sibuk menggesekkan kuasnya pada kertas kanvas dengan cat minyak berwarna hijau.
Sehun tidak menjawab, tentu saja. Memangnya dia pernah pernah membalas sapaan orang lain? Hanya Zitao dan Jongin saja, itu pun juga terkadang.
"Apakah aku mengganggumu?"
Luhan tidak akan menyentuh Sehun. Ia takut mengganggu karyanya.
Sehun menggeleng. Luhan merasa lega.
"Jangan berisik,"
Perasaan lega itu langsung luntur seketika. Luhan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
.
"Sehun,"
Yang dipanggil namanya membuka kelopak matanya perlahan. Setelah mengerjapkan mata selama beberapa kali, barulah ia menyadari bahwa ia telah jatuh tertidur di atas meja. Sudah berapa lama Sehun terlelap dalam alam mimpinya?
Hanya dua hal yang Sehun sadari setelah bangun: hari sudah gelap dan Luhan yang berada di sisinya.
Luhan tersenyum kepada Sehun. Sebuah senyuman yang Sehun kagumi sejak awal bertemu dengannya.
"Masih mengantuk?"
Sehun mengangguk dengan lemas. Ia terlihat begitu lelah.
"Jam berapa sekarang?"
Luhan tidak memiliki arloji. Ia melihat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat sebelas menit dari ponselnya.
"Sembilan lewat sebelas malam,"
Sehun melongo. Ia mendesah kesal dan kembali menidurkan kepalanya di atas meja. Beberapa kali Sehun mendecak, Luhan langsung paham bahwa ada sesuatu yang kacau terjadi.
"Gerbang asrama sudah ditutup,"
Luhan mengangguk dengan ragu. Ia tidak berani mengucapkan apapun. Suasana hati Sehun tampak buruk.
"Gerbang dikunci pukul Sembilan,"
"N-ne,"
"Kenapa kau tidak membangunkanku?"
Tatapan mata yang tajam seperti biasanya. Bibir yang tidak pernah menyunggingkan senyum. Ekspresi wajah yang dingin dan sinis. Oh Sehun memang tampan, sayangnya tidak ramah dan bersahabat. Sudah banyak yang jatuh dan bangkit dari dirinya, tetapi Luhan tetap saja menjadikan Sehun sebagai namja favoritnya di kampus.
Luhan menunduk. Ia memainkan ujung jaket yang dikenakannya dengan pelan.
"M-maaf… Kau tampak begitu lelah. Aku… aku tidak mau membangunkanmu karena kupikir kau membutuhkan istirahat sejenak. J-jadi, aku…"
Hati Sehun kuat bagaikan baja, keras bagaikan besi, tidak mudah tersentuh oleh apapun yang berusaha mendekatinya. Kali ini, pertama kali dalam hidupnya, baja itu seakan meleleh dari tubuhnya. Ia luluh, ia merasa sebuah keibaan kecil tumbuh di permukaan hatinya.
Ia tidak tega melihat Luhan, padahal Luhan memiliki maksud yang baik kepadanya.
Sehun menghela napas. Ia tidak ingin menyusun kata-kata yang apik hanya untuk menghibur Luhan dari rasa bersalahnya.
"Sudahlah. Tidak apa-apa,"
Sehun menyadari bahwa ia tidak bisa bermulut tajam kepada Luhan. Sehun adalah Sehun, ia berlaku sesuka hatinya dan sesuai kemauannya. Ia tidak pernah mengimitasi orang lain, ia bangga menjadi diri sendiri. Tetapi pada detik ini, ada sebuah kemauan kecil yang mendorongnya untuk mengubah sifatnya yang dingin dan sarkastik.
Luhan seperti matahari yang memberikan sebuah dampak kepadanya. Sehun harus mengakui hal itu sejak awal mengenal dirinya.
Namja berdarah chinese tersebut mengangkat kepalanya. Ternyata ia hampir menangis.
Mungkin dia takut.
"Sudahlah, Luhan. Aku tidak marah,"
Sehun mengusap lengan Luhan. Meskipun tidak terlalu lembut, usapan itu tulus ia berikan kepada Luhan. Senyuman Sehun memang tidak sesempurna Zitao ataupun seceria Jongin, tetapi ia selalu memberikan yang terbaik dalam lengkungan garis pada bibirnya. Sehun jarang tersenyum dan mungkin Luhan adalah pengecualian.
Jika Luhan adalah matahari, mungkin Sehun adalah sang bumi.
Tidak ada yang bisa menentang senyuman penuh kelembutan milik Luhan, bahkan Sehun sekalipun. Mungkin senyuman itulah yang mendorong Sehun untuk melakukan hal yang sama. Sehun tidak mengimitasi, ia hanya mencoba untuk berubah menjadi lebih baik.
"Gomawo,"
Sehun mendengus, tetapi masih ada seberkas senyum di bibirnya. Ia menidurkan kepalanya kembali pada meja. Luhan mengikuti gerak-geriknya.
"Pabbo. Kenapa juga kau masih disini? Bukankah seharusnya kau kembali ke asrama?"
Poni Luhan menutupi sedikit matanya. Tawa kecilnya terdengar sangat nyaring di telinga Sehun.
"Aku tidak tega meninggalkanmu sendirian,"
Sehun mulai merutuki dirinya dan Luhan. Kenapa tidak ada yang menyalakan lampu ruangan? Hanya ada satu buah lampu yang menyala. Sehun ingin berada dalam ruang kelas yang terang dan cerah, bukannya terasa remang dan redup.
Setidaknya, cahaya yang redup dapat menyembunyikan ekspresi wajah Sehun yang tidak karuan. Wajahnya tidak terasa panas, ia hanya tidak tahu harus merespon apa ucapan Luhan. Sehun membiarkan kepalanya menghadap arah yang berlawanan. Ia tidak ingin memandang kesempurnaan wajah Luhan yang berada di sampingnya.
"Tidurlah. Besok masih ada kuliah,"
Ketika Sehun hendak memejamkan matanya, ada sesuatu yang hangat datang menyelimuti tubuhnya. Udara malam yang terasa dingin dan tidak bersahabat menerpa kulitnya, namun dapat ditangkis seketika. Sehun sedikit beranjak dari posisinya untuk meelihat apa yang sebenarnya terjadi.
Sebuah jaket dengan warna kuning pada kedua lengannya berhinggap di punggung Sehun yang kurus. Sehun mengenaal jaket itu. Ia hanya bisa menggeleng tidak percaya dan memandang sosok yang sudah jatuh tertidur di sebelahnya.
Luhan melepaskan jaketnya hanya untuk menutupi tubuh Sehun agar tidak kedinginan.
Sebut saja dengan kebetulan, karena Sehun tersenyum lagi. Ia menempatkan jaket tersebut kepada si empunya. Perlahan, agar tidak membangunkan sosok yang sedang mendengkur dengan pelan. Sehun membelai pucuk kepala Luhan dan menggeser kursinya. Pelan-pelan ia menidurkan dirinya di atas dua buah kursi kelas.
Sehun baru mengenal Luhan lima hari yang lalu. Ia tidak menyangka bahwa namja tersebut dapat membuatnya tersenyum sebanyak ini. Sehun merasakan hidupnya menjadi sedikit lebih cerah. Luhan membawa pengaruh positif kepadanya.
Sayang sekali, mereka sedang berada di ruang kelas biasa. Jika saja mereka sedang berada di ruang melukis, mungkin Sehun sudah melukis objek yang baru lagi dengan cat-cat minyak dan kuas-kuas kesayangan miliknya. Sehun ingin melukis, ia ingin mengekspresikan sebuah senyuman dalam bidang datar kanvasnya.
Sehun tidak perlu mencari referensi. Senyuman Luhan akan menjadi sumber inspirasinya nanti.
.
Luhan merasa beruntung. Ia hanya mendapatkan satu mata kuliah saja pagi ini. Luhan merasa bebas. Ia ingin tidur sepuasnya di asrama nanti siang.
Rencananya runyam seketika saat ia melihat Sehun sedang berjalan menaiki anak tangga. Luhan berada di posisi sebaliknya. Akan ada celah yang mempertemukan keduanya di tengah jalan.
Luhan tidak menggerakkan kakinya. Ia menunggu Sehun untuk tiba di hadapannya.
"Hai,"
Suara yang khas. Sehun sudah dapat menebak siapa.
"Halo,"
Memang sudah menjadi hari yang baik bagi Luhan. Tidak seperti biasanya Sehun dapat bersikap seramah itu kepadanya.
Luhan sudah mengumpulkan beberapa kata dan kalimat di dalam pikirannya. Ia sudah berencana untuk mengobrol dengan Sehun. Luhan telah memilih topik yang sesuai dengan jurusan kuliahnya. Ia sudah memiliki rencana untuk mengajaknya berbicara mengenai seni rupa.
Ketika ia sudah begitu bersemangat, sosok namja yang berada di depannya telah menghilang. Luhan berbalik badan. Kalah gesit, Sehun sudah berjalan menuju ruang kelasnya tanpa sepengetahuan Luhan.
Luhan menggerutu kecil. Ia jatuh cinta pada seseorang yang kepekaannya masih sangat diragukan.
.
"Novel ini bagus sekali!"
"Zitao, sudah berapa kali kubilang untuk berhenti membaca novel romantis?"
Tao mengerucutkan bibirnya dalam-dalam.
"Kau 'kan memang tidak memiliki hati dan perasaan, Jongin,"
"Yah, apa hubungannya?!"
Sehun tertawa melihat kedua sahabatnya yang sibuk berdebat hanya karena masalah sepele. Suasana seperti itulah yang sangat Sehun sukai. Sifat mereka berdua berbeda, begitu pula dengan Sehun. Namun perbedaan itulah yang menjadikan mereka dekat, membuat mereka bersatu dan membentuk sebuah lingkaran kecil persahabatan.
Dan bedanya, Sehun sedikit lebih pasif daripada keduanya. Sedikit.
"Kau seperti yeoja saja membaca novel seperti ini! Sehun, memangnya kau percaya pada cinta pandangan pertama?"
Tawa Sehun menjadi lebih keras dan bibir Tao semakin mengerucut kesal. Jongin terlihat sangat puas sampai-sampai Tao ingin melemparkan novel tebalnya ke arah wajahnya.
"Aku tidak percaya dengan segala macam cinta, apalagi cinta semacam itu. Cinta dari kedua orangtua dan keluargaku adalah pengecualian,"
Ketiga orang sahabat itu terus melanjutkan obrolan mereka yang konyol dan tidak penting. Mereka saling tertawa, menertawakan, dan ditertawakan. Keceriaan terpancar dari wajah ketiganya dengan senangnya.
Namun, siapa yang menyangka bahwa ada seseorang yang mengintip mereka bertiga dari luar kelas?
Luhan berlari secepat kilat setelah mencuri dengar pembicaraan mereka.
.
"Ada apa, Luhan?"
Akhirnya Luhan berhenti membolak-balikkan halaman bukunya secara kasar. Raut wajahnya tidak enak dipandang sedari tadi. Jika Luhan sedang kesal, biasanya Yixing yang menjadi korbannya. Tetapi kali ini berbeda, Luhan tampak tidak bersemangat dan lesu disaat yang bersamaan.
Luhan menghela napas panjang. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak tadi.
"Waeyo?"
Yixing mendekatkan kursinya kepada Luhan. Mereka harus berbisik agar penjaga perpustakaan tidak mendengar dan memarahi mereka. Tetap tenang dan santai sudah menjadi motto Yixing sejak lama. Itulah sebabnya mengapa Yixing bisa memiliki ekspresi wajah yang terlewat datar.
Luhan memandang teman baiknya dengan tatapan sedih. Yixing tetap memasang wajah tanpa ekspresi.
"Aku putus asa,"
"Kenapa?"
"Aku suka dengan orang yang tidak peka,"
"Siapa?"
Luhan menelan ludahnya. Yixing menatapnya dengan wajah penasaran.
"Bukan kau,"
"Jelas. Kau pun bukan tipeku, Luhan,"
Sekilas Yixing melirik seseorang yang sedang memilah-milih buku di sudut ruangan. Ia harus berjinjit agar bisa mencapai buku yang ingin diambilnya. Andai saja aku ada di dekatnya, pasti sudah kubantu, batin Yixing sepenuh hati.
Luhan mendengus. Sosok yang dipandang oleh Yixing sejak tadi masih belum bisa meraih bukunya. Luhan tidak hapal betul namanya.
Kim Jo… Kim Joon– siapa?
Luhan berbisik kepada Yixing. "Kau kenal Oh Sehun?"
"Namja dari jurusan seni rupa yang gila melukis dan sedingin es? Kau suka dengan orang semacam itu?"
Luhan menepuk wajah Yixing dengan buku musik tradisional Korea dengan lembut. Yixing mengaduh karena wajahnya dihantam buku tebal oleh mahluk tidak tahu diri bernama Luhan. Memang lembut, tetapi bukunya terdiri dari 228 halaman. Luhan terlihat puas setelah menjadikan Yixing sebagai korbannya.
"Kalau dia tidak peka, buat saja menjadi peka dengan memberikan segala perhatianmu padanya," Yixing masih mengusap pipinya yang baru saja menjadi mangsa keganasan Luhan.
Luhan menggeleng dengan mantap. Sehun bukanlah es, melainkan besi yang bahkan api sekalipun membutuhkan waktu untuk menghangatkannya, mencairkannya, meluluhkannya. Luhan mampu, ia percaya bahwa ia bisa. Hanya ada satu halangan yang menyebabkan Luhan menjadi ragu untuk maju.
Andai saja aku tidak menguping pembicaraan mereka.
"Sehun bilang dia tidak percaya dengan cinta,"
Luhan sudah dapat membuat kesimpulan bahwa cinta dari seorang Oh Sehun hanyalah untuk kedua orangtuanya, keluarganya, dan lukisannya. Sehun tertutup dan sifat dari orang yang tertutup seluruhnya sama saja. Ia tidak akan mungkin membuka hatinya untuk sembarang orang. Sehun akan menyeleksi. Sehun akan mengamati.
Terutama kepada Luhan yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu.
Yixing terkikih kecil. Meskipun Sehun adalah hoobae-nya, mereka berasal dari jurusan yang sama. Sebut saja Yixing penguntit, tetapi ia memang sudah hapal dengan kebiasaan Sehun sehari-hari.
Ia mengusap punggung Luhan, mencoba memberinya semangat.
"Itu karena kau hanya menelan langsung kata-katanya. Terjunlah ke dalam dunianya. Dunia Sehun bukan disini, melainkan di kertas kanvasnya,"
Luhan terkesima mendengarkan kata demi kata yang Yixing ungkapkan. Yixing benar, Luhan harus membuat langkah baru. Bukan melangkah pada dunianya, melainkan menjadi bagian dalam dunia yang diciptakannya dalam kertas kanvas. Sehun memiliki imajinasi yang luas, salahkah Luhan jika ia bergabung di dalamnya?
Karena Luhan harus memahami Sehun dan dunianya sebelum memberikan pengertian mengenai apa itu cinta. Luhan tidak terobsesi, ia hanya ingin bisa menjadi lebih dekat dengan orang yang ia sukai dan perhatikan sejak lama.
.
Sehun ditinggal pulang oleh Jongin dan Tao. Biarlah. Toh, Sehun tidak akan menyusul mereka.
Ada hal lain yang ingin Sehun lakukan dan sudah menjadi rutinitasnya setiap hari: melukis di tengah derasnya siluet senja.
Karena kampus sudah sepi pada sore hari dan Sehun senang untuk menyendiri. Ia akan membangun dunianya, kerajaannya, imajinasinya sendiri dalam bidang datar yang polos dan bersih. Tidak ada yang mengganggu, tidak ada yang mengusik, seluruhnya tenang dan damai. Pelukis membutuhkan konsentrasi yang tinggi untuk menciptakan hasil yang sempurna dan Sehun sedang mempelajarinya.
Ia memang amatir. Sehun hanya mencoba untuk melakukan yang terbaik.
Saat Sehun membuka pintu, yang ia pikirkan adalah bentuk aliran yang akan ia gunakan pada karya barunya nanti. Kubisme atau realisme, mungkin. Sehun sedang menyukai gambar dalam bentuk simetris dan menggoreskan apa yang nyata, tampak jelas dalam matanya pada bidang datar.
Atau mungkin eskpresionisme; setelah melihat Luhan duduk di kursi favoritnya.
Luhan menyentuh lukisannya yang belum selesai ia buat. Ia memandang seolah-olah mengerti lukisan tersebut. Luhan adalah mahasiswa seni musik, dia tahu apa?
Sehun berjalan mendekatinya tetapi tidak berbicara apapun.
"Sehun," panggil Luhan, pandangannya masih tertuju pada lukisan milik Sehun. Jemarinya menyentuh setiap warna yang tercetak di atas sana. Sehun tidak bisa menebak, entah Luhan sedang mengagumi lukisannya atau menilai buruk karyanya.
"Ada yang kurang dari lukisan ini,"
Urban style kota Seoul. Menurut Luhan, lukisannya masih belum baik.
Sehun berjongkok di samping Luhan, membuat Luhan terlihat lebih tinggi karena menggunakan kursi favorit Sehun untuk duduk.
Ia menatap Luhan dan lukisannya secara bergiliran.
"Apa yang kurang?"
Bukan kuning keemasan, melainkan kuning bercampur dengan merah yang melekat di atas langit. Senja turun, matahari sembunyi. Bayangan manusia memudar, sang rembulan pun terbit untuk menemani. Cahaya dari balik jendela menyinari rambut sepasang namja yang tengah berhadapan; meneliti struktur wajah masing-masing, mengagumi setiap lekukan yang ada.
Luhan menangkup kedua wajah Sehun dan membiarkan ujung hidung mereka berdua saling bersentuhan.
"사랑,"
Cinta.
Sehun harus meyakinkan Luhan bahwa ia tidak akan pernah percaya dengan cinta.
.
.
.
(part ii - end)
terima kasih banyak buat: Aetherion Vienna, Baby SuDo, kyuaniee fiee, golden13, Bubble Sehun, nanatsuiro, dinodeer, babylulu24, dan semuanya yang udah baca fic ini ;A; aku sayang kaliaaaaan! *hugs*
