Dari Boyband Menjadi Boyfriend
Rating : T
Pairing : DraRy
Disclaimer :Harry Potter milik J.K. Rowling
Karena mendapat pengarahan dari author senior yaitu Kak Sun-T, jadi saya memutuskan untuk tidak memakai lagu yang sekiranya bisa memicu dan menjurus ke arah songfict. Di sini saya akan memakai lagu yang sekiranya sudah sangat tenar hingga tidak dikenal siapa pembawa asli lagu itu salah satu contoh misalnya "nina bobok". Dan juga saya akan menunjukan kemampuan saya dalam membuat lagu XD hahaha jadi lagu-lagu di sini buatan saya.
Dan fict ini milik Mizuki Rae Sichi
Genre : Romace—Drama
Warning : Boys Love/Shounen-ai, AU (kagak ada sihir-sihiran XD author udah nge-honor mereka lebih gede buat syuting fanfict ini XD XP), Saya nggak tau ini OOC atau engga XD, gaje, abal, dll. Kalo nggak suka, nggak usah baca XP
Summary : Ketika hampir seluruh murid Hogwarts menjadi anak-anak idol group. Dan Harry menjadi idol yang paling banyak fansnya. Bagaimana reaksi Draco yang sebenarnya menyukai Harry? Mari RnR
Multichapters
Chapter 2—Simulasi Neraka
MELIHAT kelas sudah berantakan begini, Remus pun memutuskan para muridnya untuk melakukan simulasi lainnya yaitu bernyanyi sambil berlari mengelilingi ruangan. Ini berfungsi agar daya tahan mereka kuat—menyanyi sambil melakukan dance itu membutuhkan kekuatan lebih. Sebelumnya para murid juga di paksa untuk berpush up, sit up, back up, hingga squat jump. Pria bersurai cokelat madu itu terkikik geli saat melihat beberapa muridnya yang suaranya sudah tidak jelas karena kecapaian. Ia ingat dulu juga selalu di gembleng seperti ini oleh Prof. Dumbledore sendiri—saat Dumbledore masih muda.
Remus bertepuk-tepuk tangan keras agar membangkitkan semangat murid-muridnya yang sudah mulai membungkuk sambil bertumpu pada lutut. Ia menyeringai jahil sambil berteriak keras, "Ayo! Ayo! Jangan berhenti! Atau kalian akan terkena detensi!"
Sontak para murid yang sudah tidak bersemangat pun menjadi memaksakan diri untuk bernyanyi dan berlari lagi. Kini mereka sedang menyanyikan lagu Twinkle, Twinkle Little Star—lagu pengantar tidur anak. Remus sengaja tidak menyuruh mereka dengan lagu yang muluk-muluk dulu.
"Twinkle, twinkle, little star... how I wonder what you are... up above the world so high... like a diamond in the sky... twinkle, twinkle little star... how I wonder what you are... when the blazing sun is gone... when the nothing shines upon... then you show your little light... twinkle, twinkle all the night... twinkle, twinkle little star... how I wonder what you are.."
Setelah mereka bernyanyi sebanyak tujuh kali dengan lari tanpa henti—juga dengan lantang, beberapa di antara mereka langsung tepar bak ikan asin yang sedang di jemur. Terlihat sekali dada mereka naik turun dan napas mereka tersengal. Sebagian lainnya langsung menyambar botol minum dari tas mereka lalu meminumnya dengan kalap dan sedikit memercikan air tersebut pada wajah mereka.
Harry masih terbaring di lantai yang sedikit dingin. Keringatnya tak henti-henti untuk meluncur. Napasnya perlahan sudah mulai stabil, namun detak jantungnya masih berpacu.
"Hey anak-anak! Jangan tiduran dulu dan duduk bersila! Nanti kalian bisa cedera!" teriak Remus memperingati murid-muridnya. Sontak saja semua anak muridnya bangkit dan berdiri. Ia lalu berkacak pinggang, "Kalian tahu, itu beresiko tinggi! Sekarang ikuti aku untuk pendinginan." Pria itu membungkuk. Kedua tangannya dengan lemas menjuntai ke lantai. Lalu kedua tangannya berayun bebas.
Semua murid pun mengikuti gerakan pendinginan sang inpektur tersebut. Dan ajaibnya mereka merasa semua lelah mereka rontok perlahan berkat pendinginan ini.
"Baik, simulasi hari ini cukup sampai di sini. Mungkin kalian sekarang silahkan untuk menuju ruang olah vokal. Dan o iya, tugas kalian sekarang adalah perbanyak latihan kelentukan dan pertahanan otot seperti push up, sit up, back up, kayang, dll. Jelas?"
"Jelas, Professor." Sahut semua murid.
"Baik saya akhiri, selamat sore."
Setelah itu Remus pun mengambil tasnya dan pergi. Semua murid pun ikut mengemasi barang-barang mereka untuk berpindah menuju kelas yang di tuju. Beberapa ada yang mengeluh, namun beberapa lainnya juga ada yang masih semangat.
"Lelah sekali," keluh Ron malas.
"Ayo semangat, Ron! Katamu kau ingin menjadi artis populer?" ujar Hermione.
"Apakah harus bersakit-sakit dahulu?" tanya Ron malas. Ia lalu menggendong tas hitamnya.
Harry dan Hermione hanya menaikan bahu mereka bersamaan.
.
.
.
Semangat Ron dan lainnya yang semula low bertambah menjadi drop saat melihat tragedi horor yang akan mereka hadapi lagi. Ternyata guru vokal mereka kini adalah Prof. Severus Snape—guru matematika yang paling killer Hogwarts. Oh, neraka apa lagi yang akan mereka hadapi?
"Selamat datang. Kali ini kalian akan aku ajari untuk teknik dasar bernyanyi." Gumam Severus dingin. Ia kini berdiri di dekat sebuah grand piano berwarna hitam, "Coba aku ingin mendengar suara kalian." Pria bersurai hitam sebahu itu lalu melantunkan sebuah nada yang sudah tidak asing lagi di pendengaran masyarakat.
Para murid pun sontak mengikuti perintah sang guru killer itu, "Do... re... mi—..."
—PLAK!
Severus memukul meja menggunakan penghapus papan tulis dengan keras. Matanya berkilat tajam pada setiap murid—membuat suasana kelas menjadi horor, "Payah!" gumamnya datar. Ia berjalan dengan aura dinginnya ke arah Ron yang kini duduk di pojok paling depan, "Sepertinya aku akan menguji kalian satu per satu. Di mulai dari Mr. Weasley! Mulai!" mendapati muridnya yang bersurai merah menyala itu hanya terdiam karena gugup mungkin, pria bermata hitam kelam itu lalu memukul meja Ron dengan keras.
"Eh copet!" Ron melatah—membuat beberapa murid terkikik geli. Dengan ragu ia pun mulai mengambil nada namun meleot, "Do... re... mi... fa—..."
"Ulangi!" tegas Severus tajam.
"Do.. re.. mi... fa—..."
"Nadamu selalu datar!" bentak Severus.
'Bukankah dirinya sendiri yang selalu bernada datar?' pikir seisi kelas tentu saja kecuali Severus.
"Coba ikuti aku! Do... re... mi... fa... sol... la.. si... do..." Severus mencontohkan. Sontak saja semua murid langsung kagum. Ternyata guru yang selalu bernada dingin dan datar itu bisa bernyanyi dengan indah—walau hanya bersenandung.
Dengan ragu Ron mulai mengambil nada kembali, "Do.. re... mi... fa—..."
"Cukup! Kau berlatih lagilah! Besok aku akan mengecek lagi." Severus mulai gusar. Lalu ia berjalan ke arah Susan Bones—yang duduk di samping Ron, "Berikutnya kau!" tunjuknya pada gadis bersurai cokelat dan berpipi chubby.
"Do... re.. mi... fa... sol... la... si... do..."
"Tidak buruk." Gumam Severus. Ia lalu berlalu menuju meja Harry dan Hermione—yang terletak persis di sebelah meja Ron dan Susan. Pria yang selalu berpakaian serba hitam itu mendekati Hermione, "Berikutnya kau!"
Hermione menarik napas sejenak lalu mulai mengambil nada, "Do... re.. mi... fa... sol... la... si... do..."
"Bagus." Gumam Severus pelan.
Hermione tersenyum lega. Ia menatap Ron dengan wajah yang cerah, sementara Ron hanya mengerutkan alisnya sambil berekspresi antara takut, ragu, dan kalah.
Severus lalu berjalan menuju Harry, "Berikutnya kau!"
Harry menarik napas seperti Hermione tadi untuk mengumpulkan mental. Ia lalu mulai mengambil nada, "Do... re.. mi... fa... sol... la... si... do..."
Untuk sesaat Severus terdiam. Ini membuat Harry dan seisi kelas menjadi bingung.
Lalu Severus pun kembali tersadar dari lamunannya. Ia bergumam, "Bagus sekali." Setelah itu ia berlalu sambil menepuk pundak Harry pelan.
Mendapat penghargaan seperti itu dari seorang Severus Snape adalah hal yang sangat istimewa bagi Harry dan semua murid. Senyum merekah tentu saja tak luput dari wajah imutnya yang kini agak memerah karena malu. Hermione yang duduk di sebelah Harry langsung menepuk pundak pemuda itu sambil tersenyum girang.
"Keren sekali, Harry!" bisik Hermione memuji.
"Terima kasih," gumam Harry senang. Sepertinya ia mulai menyukai sang guru.
Singkat cerita semua murid sudah di cek. Beberapa lulus, dan lainnya di beri kesempatan untuk belajar lagi. Dan yang mendapat peringkat "bagus sekali" hanya ada dua anak di kelas ini. Yang mengejutkan Harry, kenapa harus dirinya dan... Draco Malfoy.
"Baik, ada beberapa simulasi untuk menguatkan napas kalian saat bernyanyi diantaranya: renang, meniup lilin dengan jarak lima jengkal, dll. Tapi apakah kalian tahu, bernapas apakah yang paling baik saat bernyanyi?" Severus berjalan memunggungi para muridnya.
Hermione mengacungkan jarinya ke atas.
"Tidak ada yang bisa menjawab, eh? Payah sekali!" gumam Severus berpura tidak melihat Hermione yang mengangkat jarinya.
"Saya, Sir! Pernapasan diafragma, yaitu diambil antara perut dan dada." tegas Hermione merasa jengah.
"Apakah kau tidak punya rasa sopan santun pada gurumu ini, Miss Granger?" geram Severus menatap Hermione tajam.
Mendapat kecaman seperti itu membuat mental Hermione pundung. Ia mencoba memaksakan senyum saat sang sahabat yaitu Harry mengusap punggungnya—bermaksud memberi usapan penyejuk hati.
"Pernapasan yang paling baik adalah pernapasa diafragma yaitu bernapas yang diambil antara perut dan dada. Itu artinya saat kalian mengambil napas, dada dan perut kalian harus seimbang saat naik. Dan saat mengambil napas, kalian harus memakai hidung, bukan memakai mulut! Contohnya begini," Severus mengambil napas panjang dari hidung sementara ia meletakan salah satu jempolnya di ujung tulang rusuk. Lalu jempol itu terdorong ke sebelah luar. Ini sebagai reaksi dari melonggarnya tulang iga. Ia lalu mengeluarkan napas tersebut dengan senandung vokal "a". Setelahnya ia menatap semua muridnya, "Cobalah!"
Para murid lalu langsung mengambil napas mereka masing-masing lalu meletakan salah satu jempol mereka di ujung tulang rusuk. Mereka mengikuti cara Severus yang mengeluarkan napas menggunakan senandung vokal "a". Namun mata Severus menyipit saat ia mendengar ada beberapa muridnya yang mengeluarkan napas mereka dengan cara mendorong, bukan melepas.
"Stop! Stop!" tegas Severus, "Mengeluarkan napas, itu di lepas dengan cara sehemat mungkin! Bukan di dorong! Apakah kalian pernah melihat penyanyi yang bernyanyi dengan dorongan?" ia berjalan mondar-mandir di depan kelas dengan pelan, "Sebenarnya kalian bisa mengeluarkannya dengan vokal "a" atau konsonan "s". Lalu inipun kalian harus menghitungnya. Contohnya begini," Severus menarik napas sementara jemarinya menghitung berapa kali ia bisa menarik napas. Dan hebatnya ia bisa menarik hingga hitungan 33. Setelah pada hitungan itu, ia mengisyaratkan tangannya bertanda "stop". Arti dari tatapan matanya, "Setelah-bagian-ini-kalian-harus-berhenti-sejenak."
Para murid mengangguk sambil terus memperhatikan. Jemari Severus lalu bergerak lagi untuk menghitung. Dan ia mampu menahan napas selama 35 detik. Lalu tangannya mengibas tanda bahwa ia kini sedang akan mengeluarkan napasnya. Jemarinya mulai menghitung lagi saat ia mulai bersenandung "a". Dan napasnya habis saat di hitungan 30. Benar-benar luar biasa. (author saja cuma bisa narik napas sampe hitungan 25, menahannya sampe 35, dan mengeluarkan sampai 11 XD #plak)
"Sekarang coba kalian praktekan!" perintah Severus.
Mendengar instruksi Severus, semuanya pun langsung menurutinya. Harry mampu menarik napas hingga hitungan 25, menahan hingga 30, dan melepaskan hingga 15. Hermione menarik hingga 20, menahan hingga 27, dan melepaskan hingga 17. Ron menarik hingga 17, menahan hingga 20, dan melepaskan hingga 15. Draco menarik hingga 26, menahan hingga 34, dan melepas hingga 19. Dan masih banyak cerita lainnya.
"Draco dan Harry hebat ya? Bisa sampai segitu." Bisik-bisik anak lainnya.
"Mungkin karena keturunan. Orang tua mereka 'kan orang-orang penting." Bisik lainnya.
Sementara Harry hanya bisa mengeluarkan sebulir keringat imajiner sambil beraut malas, "Kenapa harus sama dengan si Malfoy kampret itu lagi?" runtuknya. Saat matanya tak sengaja mengedar ke arah Draco, ia langsung terkesiap karena si Pirang itu ternyata sedang memperhatikannya.
"Nah, kenapa aku mengajarkan kalian cara bernapas? Karena teknik bernapas itu sangatlah penting. Napas itu penggerak utama dari suara. Dan napas adalah obat yang paling mujarab untuk mengembalikan suara. Contohnya nanti jika suara kalian habis atau serak, kalian bisa memakai teknik yang aku ajarkan tadi pada kalian yaitu menarik, menahan, dan melepaskan napas menggunakan diafragma." Ujar Severus dengan nada datar, "Banyak penyanyi yang sebenarnya salah dalam mengambil napas yaitu dengan mengedikan bahu dan membusungkan dada. Sebenarnya itu cara yang tidak baik karena napas yang dihasilkan akan sedikit nantinya. Seharusnya mengambil napas saat bernyanyi itu mendengkus atau menarik dari hidung. Dan aku juga sering mendapati bahwa ada penyanyi yang jika bernyanyi kepalanya akan naik. Itu tidak berpengaruh terhadap suara! Ingat, tidak berpengaruh! Jadi kalian harus berlatih bernyanyi dengan menekan kepala kalian ke bawah."
Seamus Finnigan yang duduk di belakang mencoba mempraktekannya dengan sembunyi-sembunyi. Untungnya Severus tidak melihatnya.
"Kalau kalian mempunyai bakat, menyanyi dengan merdu pasti tidak sukar. Namun bagi yang tidak berbakat mungkin harus terus belajar." Severus melipat kedua tangannya di dada, "Aku ingin kalian—terutama yang tadi tidak lolos uji tes nada, melaksanakan tugas ini. Yaitu lakukan teknik pernapasan yang kuajarkan 20 kali sehari, lalu setiap bangun tidur sebelum sikat gigi pagi kalian harus minum air bening, minum air bening 8 gelas sehari, jangan merokok, jangan makan makanan berlemak atau berminyak, perbanyak makan buah yang mengandung air."
Beberapa anak langsung mencatat dengan cekatan.
Severus berjalan ke arah papan tulis lalu mengambil sebuah kapur untuk menulis di permukaan hijau itu, "Ada beberapa cara untuk membuat suara orang yang tidak bebakat, menjadi merdu. Tapi aku mengambil yang simpel dan alami saja. Catatlah!"
Severus lalu menuliskan "Air perasan dari 2 buah jeruk nipis, 1 sendok madu asli, sepucuk sendok teh garam, dan sepucuk sendok teh kapur sirih" di papan tulis. Bunyi gesekan kertas dan pensil siswa mulai terdengar.
"Cara membuatnya cukup mudah, hanya tinggal mencampurkannya lalu minum. Minum ini 1 minggu sekali! Ini bisa membuat suara kalian yang sebelumnya buruk, bisa menjadi lebih baik." ujar Severus sambil menaruh kapur di tempat yang seharusnya. Ia lalu menatap semua muridnya, "Kalau kalian punya bakat alami, membuat vibrasi itu mudah. Cobalah bersenandung dan getarkan tenggorokan kalian dari dalam. Aku ingin," ia berjalan menuju meja Draco, "Mr. Malfoy mencobanya. Kelihatannya kau dan Mr. Potter mempunyai bakat." Kedua tangannya dilipat di depan dada, "Mulai!"
Mendengar Severus sudah bersenandung vokal "a" sambil bervibrasi, dengan ragu Draco mulai mengikuti. Namun nada Draco masih tetap datar karena ia tidak tahu bagaimana caranya bervibrasi.
"Vibrasi!" perintah Severus, "Getarkan tenggorokanmu dengan cepat! Seperti kau bersenandung dengan menaik-turunkan rahang bawahmu."
Perlahan Draco mengikuti instruktur dari Severus. Ia mencoba menggetarkan tenggorokannya dan terciptalah suaranya yang bergetar dengan tempo yang pas. Senyuman bangga tertoreh pada wajah tampannya yang berdagu lancip.
"Benar 'kan kubilang?" gumam Severus menyunggingkan senyum tipis yang hanya 3 detik—itupun tidak terlalu jelas. Ia lalu berjalan ke arah meja Harry, "Berikutnya kau, Mr. Potter. Cobalah!"
Merasa tenggorokannya sedikit tidak nyaman, Harry pun berdehem sebentar. Dihirupnya oksigen sebanyak mungkin dengan cara mendengkus—seperti yang Severus ajarkan tadi. Perlahan senandung "a" mulai terdengar di kelas yang sunyi karena semua sedang terfokus padanya. Dan tidak melupakan ajaran sang guru, ia pun mulai menggetarkan tenggorokannya. Dan berhasil!
"Bagus! Aku suka suara kalian, Mr. Potter, Mr. Malfoy." Puji Severus datar, "Sebenarnya kalian bisa saja langsung rekaman dan dikolaborasikan, tapi sepertinya aku butuh kesempurnaan dulu pada kalian."
Ada dua sisi yang membuat Harry harus meringis entah ingin menangis haru atau menangis tersiksa. Haru karena bisa dipuji guru paling killer, dan tersiksa karena sepertinya nasibnya akan terus tersangkut pada seorang manusia homo berambut pirang itu.
.
.
.
"Capeknya!"
"Rasanya setelah ini aku ingin mandi dengan air hangat,"
"Mungkin aku ingin berleha sejenak di sofa asrama."
"Makan dulu adalah pilihan yang tepat. Perutku sudah berdangdut ria."
"Inikah neraka yang dilalui calon artis? Baru sehari saja sudah membuat tepar, apalagi selanjutnya? Oh, surga ketenaran begitu jauh."
Itulah keluhan beberapa siswa saat kelas olah vokal sudah selesai. Begitu Severus berlalu, mereka semua langsung melakukan peregangan otot dan mengemasi barang-barang segera. Beberapa murid sudah berhamburan keluar kelas untuk pulang ke asrama masing-masing.
Harry dan Hermione menghampiri Ron yang masih meletakan kepala di meja. Sepertinya pemuda bersurai merah menyala itu masih lemas dan trauma akan tatapan menuntut dari sang guru vokal tadi. Perlahan Harry duduk di bangku yang tadi di duduki Susan—Susan sudah berlalu bersama teman-temannya dari Asrama Hufflepuff.
"Ayo pulang, Ron! Kau tidak mau menginap di sini 'kan?" ajak Harry.
Ron mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh mamanya. Ia terus mengutik-utik meja dengan asyiknya.
"Ron! Jangan seperti anak kecil!" tegas Hermione mulai gusar.
Perlahan Ron menoleh ke arah Harry dan Hermione, "Kalian enak, mungkin akan melewati masa trainee dengan singkat—apalagi Harry yang sepertinya tidak perlu melewati masa trainee. Sedangkan aku? Do re mi saja tidak bisa."
"Jangan seperti itu, Ron! Mungkin kau memang tidak cukup mampu dalam bernyanyi, tapi hey kau bisa menari dengan baik 'kan? Percayalah! Aku akan membantumu!" ujar Harry.
"Yang kudengar ini sebuah hiburan konyol agar aku mau pulang atau aku harus mempercayaimu, Harry?"
"Pilihlah opini kedua, Ron!" jawab Harry dengan senyum pembangkit semangat. Pemuda berkacamata bundar itu mengulurkan tangannya pada Ron dan detik berikutnya pemuda bersurai merah menyala itu menerima uluran tangan itu, "Semangat! Semangat!"
TBC (To Be Continued)
Huwaaaa bukannya buka buku buat UN, malah buka notbuk buat ngerjain penpik XD #plak
Aduh maaf ya, mungkin fict ini kurang berisi gestur-gesturnya XD karena saya cuma ingin ini menjadi fict yang ringan di baca, tapi bisa menjadi informasi/referensi yang berisi :D
Simulasi-simulasi di atas memang fakta kok XD saya pernah denger grup idol entah itu boyband atau girlband yang bukan abal-abal pasti harus latihan neraka seperti di atas. Lari sambil nyanyi, push up, sit up, back up, dll sampe badan mereka kek dibanting-banting.
Untuk olah vokal di atas, saya juga ngambil dari beberapa blog di internet dan guru vokal saya dulu pas saya hendak ikut lomba nyanyi XP Dan untuk teknik pernapasan di atas memang benar-benar nyata lho :D waktu itu saya melakukan itu sebelum lomba dan alhamdulillahnya suara saya menjadi lebih kuat dan lebih nyaring.
Saya juga pernah coba ramuan di atas, dan hasilnya memang nyata! :D kalo readers mau coba silahkan, tapi nanti vibasinya itu menurut saya jadi mirip Tae Yoon (SNSD) atau Ayu Tingting X3 dan karena saya ngga suka model vibrasi yang begitu, jadi saya kembali ke vibrasi alami saya yang modelnya mirip Mizuki Nana dengan cara menghentikan konsumsi ramuan itu dan berlatih menjadi vibrasi semula XD
Umm... saya ngerasa kalo Prof. Snape itu mirip guru matematika saya yang keliatannya killer, tapi ternyata suaranya bagus banget XD
Yah, udah deh cingcongnya :D saatnya bales repiu :D
Wilhelm Wigworthy
really? :D thanks :D
well, welcome and enjoy this fict XD and sankyuu for RnR :D :* #hug
miszshanty05
ini sudah di lanjut :D sankyuu udah RnR :* :D #hug
Lee Kibum
iya hahaha XD tapi nanti ada konflik tersendiri gituh X3
maaf ya telat X'D abis perang XP /baca: UN
sankyuu udah RnR :* :D #hug
Euishifujoshi
huwaaaa Euis-san mah sok nodong saya pake gitu ah XD gimana sih cara manjanginnya? saya tidak tau? TAT /nangis kejer
dan sumimasen ini udah melenceng banget dari deadline x_x abis UN itu membuat jarak antara saya dan semua dunia saya XD
tapi sankyuu banget udah RnR :* :D #hug
heriyandi kurosaki
ini sudah lanjut :D maaf telat abis perang sih XD /baca: UN
sankyuu udah RnR :* :D
Choi Shin Hwa
ih saya mah udah dari dulu jadi fangirnya Drarry XD mereka kan emang muka boyband XD #ditabok
huwaaaaa sankyuu atas koreksinya :D #deephug
maap telat nih X3 tau sendiri kan? UN itu sangat menyiksa jiwa dan raga XD
Marauders masuk? OKEH! :D (y) tunggu aja kejutannya XD
well, sankyuu udah RnR :* :D #hug & ketchup balik
Qn
ini sudah lanjut, :D sankyuu udah RnR :* :D #hug
Hermy Potter
eh? serius? :D
tadinya sih mau gitu, tapi kehadang UN TwT
sankyuuu udah RnR :* :D
LunaScamander17
ini sudah lanjut :D sankyuu udah RnR :* :D #hug
bluELFishyy
eh? really? :D
sankyuu for RnR :* :D #hug
Yap itulah beberapa balasan repiu dari para selebritis kita :D #asek# tanpa kalian saya bukan apa-apa :) dan saya juga berharap pada silent readers juga. Kalau kalian diam, ya saya juga nggak akan bisa membuat apa yang kalian inginkan :)
sekian sampai jumpa XD
