Sebelumnya...

Shikamaru bangkit dan berjalan ke arah Naruto. Naruto terduduk di lantai atap. Rasa panas lantai langsung meresap ke kulitnya. Tapi tidak dihiraukannya. Ia lebih takut pada orang yang didepannya ini.

"Jangan..." Naruto hanya bisa berkata seperti itu. Sampai pada tangan Shikamaru mulai melepas kancing bajunya dengan paksa.

ƪ(˘⌣˘)┐ ƪ(˘⌣˘)ʃ ┌(˘⌣˘)ʃ

Ame No Uta

.

Pair:

All seme x Naruto

Final Pair:

? X Naruto

.

Rating:

T+, M

.

Chapter:

2/?

.

Note: mweheheh... Typo everywhere ternyata xD... Btw thanks ya buat yg review~ anu kalian... Maksudnya masukan kalian bakalan ditampung.

Masalah Naruto yang 'Girly' abis itu... Ehem... Nanti deh dijelasinnya... Secara bertahap... Mwehehehe... Mungkin nanti ada yang berpikir alurnya kecepatan.

Sengaja, kok.

Biar keren...

Mwehehehe

Warning:

Ada adegan adult stright kata-kata vulgar, yah :'))

Setting tempat:

Konoha dan Suna

ƪ()ƪ()ʃ()ʃ

Chapter 1: Biru

"Uuh!" Naruto bergumam pelan. "S-sakit..." Katanya sambil memejamkan matanya. Shikamaru memandang punggung pemuda didepannya.

"Hhah... Kau itu..." Jeda sebentar lalu menarik nafas. Berat. "Sebenarnya wanita atau pria?" Shikamaru berkata dengan malasnya. Naruto merasa sedikit tersinggung.

"Pria tau." Jawab Naruto sambil sedikit terkekeh. Shikamaru menghela nafas lagi. Lagi-lagi dengan berat. "Haah... Tak ku sangka. Aku kira kau..."

"Mau memperkosamu? No, thanks. Masih normal..." Shikamaru berkata lalu berbenah. "Sudah selesai..." Kata Shikamaru. Lalu ia menutup botol salep untuk memar. Shikamaru menatap Naruto.

"Kenapa?" Kata Naruto bingung sambil membenarkan baju sekolahnya.

"Kenapa kau tidak melawan saat mereka memukulmu?" Shikamaru berkata sambil menatap malas ke arah mata Naruto.

Naruto menghela nafas. Lalu terkekeh, "Aku hanya lelah dengan semua ini." Di ikuti dengan senyuman yang dipaksakan Naruto. "Aku benar-benar lelah..."

"Tapi, ketika mereka mengejarmu itu kan lebih lelah." Shikamaru berkata sambil memijat lehernya. Sedikit bingung dengan pernyataan ambigu Naruto.

"Bukan di sana yang lelah..." Naruto tersenyum. "Tapi di sini..." Katanya sambil menunjuk ke arah dadanya.

"Diafragma? Kau sakit apa?"

Okay, jawaban itu benar-benar membuat Naruto tertohok dan ingin menonjok manusia yang kelewat pintar didepannya ini. "HATI, Shika! Hati. Bukan diafragma." Naruto membalas dengan sedikit gembungan kecil dipipinya.

Shikamaru terkekeh. "Aku hanya bercanda, Naruto." Katanya lalu melemparkan salep ke arah Naruto. "Dipakai kalau nyerinya terasa lagi."

Naruto mengangguk. "Hum... Shika..." Naruto memanggil Shikamaru. Yang dipanggil menoleh kembali pada Naruto. "Mengapa..."

"Aku menolongmu?" Tebak Shikamaru. Naruto menatapnya heran, seakan-akan berkata 'dia dukun?'

"Aku bukan dukun, Naruto." Shikamaru terkekeh kecil melihat mata Naruto yang membulat tidak penuh karena lebam dibagian pelipisnya. "Berhentilah bertanya-tanya... Karena itu benar-benar merepotkan untuk dijawab."

"Tapi... Aku ingin tau..." Naruto berkata dan menggunakan puppy eyes miliknya.

"Itu tidak berpengaruh padaku. Tch... Haah... Aku yakin kau tidak akan mau tau alasannya, Naruto. Dan berhentilah berharap aku akan memberi tau alasannya." Shikamaru berbalik dan berjalan menuju gudang di atap. "Kau mau ikut?"

Naruto memiringkan kepalanya. "Kemana?"

Shikamaru menunjuk ke arah pintu gudang. "Ke sini..."

"Ngapain?" Naruto membeo lagi. Shikamaru terlihat agak kesal melihat tingkah jongkok to the max milik Naruto.

"Eeq bareng..." Kata Shikamaru lalu berjalan meninggalkan Naruto. Naruto terkekeh.

"Aku ikut..."

ƪ()ƪ()ʃ()ʃ

Naruto tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kalau bahasa internet sekarang itu reaksinya 'ASDFGHJKL! ALAMAK LUAR BINASA!'. Sampai ia mengecek keluar-masuk seperti kucing mau melahirkan.

"Berhenti melakukan itu dan masuklah. Kau benar-benar membuatku jengah." Shikamaru berkata sambil menggeloyorkan tubuhnya di tempat tidur berukuran Queen.

Naruto melongo. "Sejak kapan ada hotel di sini?" Kata Naruto dengan tampang dongo.

"Tutup pintunya dan masuklah. Aku tidak mau ada orang lain yang mengetahui ini. Benar-benar merepotkan jika ada yang melapor ke guru-guru atau kepala sekolah." Shikamaru berkata sambil memejamkan matanya.

"Jangan-jangan yang di gudang bawah..." Naruto berhenti bertanya karena Shikamaru sudah mengangguk mantap. "Sudah berapa lama?"

"7 tahun yang lalu..."

Okay... Ini sudah berlebihan bagi Naruto. Bagaimana orang didepannya ini yang notabene 'preman sekolah', bisa melakukan semua ini tanpa diketahui selama tujuh tahun? Kemana saja pengawas-pengawas seperti Anko-sensei yang mempunyai mata dewa? Benar-benar ajaib.

Mata Naruto menelusuri ruangan sebesar lima kali lima meter itu. Benar-benar khas kamar anak lelaki. Bedanya kamar ini benar-benar bersih. Entah bagaimana ia membersihkan ini, hanya tuhan dan Shikamaru yang tau. Di satu sisi terlihat poster-poster band. Di satu sisi ia melihat kumpulan foto-foto. Naruto mendekati foto-foto tersebut. Dan matanya menangkap foto Shikamaru ketika masih berumur 6 tahun, Naruto ingat sekali kejadian di foto itu ketika Shikamaru menangis kencang karena kedua orang tuanya datang kesekolah. Naruto terkekeh pelan. Tidak ingin mengganggu acara tidur Shikamaru.

Lalu matanya berlanjut menelusuri beberapa foto disana, saat Shikamaru masih di sekolah menengah. Rambutnya mulai panjang dan disana ia mengikat rambutnya sedikit, seperti buntut kuda. Wajahnya ter-plaster, di bagian hidungnya. Kalau tidak salah ingat saat itu, Shikamaru berkelahi dengan kelas sebelahnya karena wanita. Naruto menghela nafas.

Berlanjut saat jenjang menengah atas. Rambutny mulai diikat, menjulang tinggi. Shikamaru tersenyum tiga jari menatap arah kamera. Plaster ada di pipi kirinya dan tangannya yang diperban. Tiba-tiba Naruto tersadar.

'Siapa yang mengambil foto ini? Shikamaru terlihat sangat berbeda dengan yang di sini. Apa orang itu pacarnya? Orang tuanya? Atau siapa?'

Manik birunya menatap Shikamaru yang tertidur. Ia mendengar suara dengkuran Shikamaru. Melihat Shikamaru yang tertidur, Naruto merasa mengantuk. Ia merebahkan tubuhnya di kursi santai yang ada di pojok ruangan.

Pikirannya kembali melayang ke kejadian beberapa menit yang lalu. Shikamaru tiba-tiba berubah kepadanya. Entah karena alasan apa. Naruto tidak ingin memaksa Shikamaru berkata, karena ia yakin ada alasan mengapa Shikamaru begitu. Lalu matanya perlahan terpejam dan ia terlelap.

Ternyata penelitian mengantuk itu dapat menular ke yang lain benar-benar berlaku untuk saat ini.

ƪ()ƪ()ʃ()ʃ

Sasuke tidak pernah sekalipun berpikir akan bersetubuh kembali dengan wanita di atasnya. Bagi seorang Sasuke, benar-benar pantang melakukan sex dengan orang yang sama. Takut kena Aids, tch... Alasan klasik.

Tubuh indah gadis berambut pink diatasnya meliuk-liuk, seakan menari menikmati musik yang diputar. Yah, benar-benar musik. Desahan mereka berdua.

Sasuke mendudukkan dirinya dan mendekatkan kepalanya ke nipple wanita didepannya. Sungguh indah bentuk tubuh Sakura. Semuanya seimbang. Hanya saja bukan Sasuke namanya kalau ia tertarik hanya dengan satu wanita.

"Hhmm... Shaasukee... Nggaahh..." Sakura mendesah, tubuhnya basah oleh keringat. Dadanya bergerak naik turun, memukul pelan wajah Sasuke yang menyusu didadanya. "Nggahh... Akuu mau keluarr... Aaahh..." Kata Sakura disusul dengan air yang keluar deras dari bagian bawahnya. Dadanya bergerak naik turun, terkadang seperti gerakan patah-patah, masih menikmati orgasm-nya. Sasuke masih bergerak-gerak dibawahnya, belum ingin mengeluarkan sperma-nya. Sasuke masih terus menyusu. Bosan dengan posisi begini, akhirnya Sasuke membanting tubuh Sakura, doggy style.

"MnggAAAHHH..." Sakura mendesah, berteriak. Seakan-akan semua titik nikmat ditubuhnya ditekan oleh Sasuke. Sasuke menggoyangkan pinggulnya cepat. Di ikuti teriakan frustasi Sakura yang kelelahan melayani tiga ronde. "Sas-aaahh... Sasuke..."

Dada Sakura bergerak maju mundur, mengikuti gerakan Sasuke. Salah satu payudara Sakura diremas erat oleh Sasuke. Tak lama berselang, Sasuke menyemburkan sperma miliknya. Banyak, beruntung ia menggunakan kondom. Ia tau Sakura hanya menjadikan dirinya pelampiasan sex seperti yang lain, sama sepertinya. Mereka berdua tidak menginginkan kecelakaan terjadi, apalagi harus menikah diusia seperti ini. Hell no!

Sasuke segera bangkit dan melepas pengaman yang masih menempel erat disana. Lalu membuangnya ke tempat sampah. Ia mengambil bajunya dan mengenakannya.

"Nggak mandi dulu?" Sakura bertanya masih bermain kecil dengan klitoris-nya. Menikmati sisa-sisa orgasm-nya barusan.

Sasuke menatapnya. "Tidak perlu. Itachi sudah menghubungiku. Aku pergi." Sasuke berkata lalu meraih gagang pintu.

Sakura terkekeh, "hmm... Siapa lagi ya selanjutnya?" Sambil mencari daftar nama di kontak ponselnya.

ƪ()ƪ()ʃ()ʃ

"Selamat datang, Naruto." Seorang pria bermasker tampak tersenyum menyambut kedatangan Naruto.

"Terima kasih, Kakashi-nii." Naruto menyambut uluran tangan Kakashi yang menuntut tas yang dikenakan Naruto. Mata Kakashi memincing tiba-tiba.

"Mata anda, kenapa?" Tanya Kakashi. Tersisip sedikit kekhawatiran melihat orang yang dirawatnya sejak kecil terluka. "Saya ambilkan salap dulu."

"Tidak perlu, Kakashi-nii. Aku hanya terjatuh." Kata Naruto.

Kakashi hanya menghela nafas berat. 'Terjatuh lagi? Besok apa?'

"Kakashi-nii, jangan dipikirkan. Apa kau sudah membuat makanan? Aku lapar sekali." Naruto berkata di ikuti dengan perutnya yang berbunyi nyaring. Yah, sejak ia bangun tidur, ia tak mendapati Shikamaru disana. Jam juga sudah menunjukkan pukul empat sore yang artinya ia tertidur selama enam jam di atap sekolah.

Kakashi mengangguk, "Sudah saya buatkan. Dan, oh... Menma-sama tidak akan pulang selama seminggu karena urusan kantor. Ia berpesan pada saya agar memperhatikan makanan yang anda makan. Ia juga melarang saya untuk membuatkan ramen."

Naruto berkata dengan mata terbelalak, tidak ada ramen adalah siksaan terberat baginya. Kadang tidak habis pikir, Menma terlihat begitu membencinya, tapi disisi lain ia begitu memperhatikan tentang kesehatan dan keperluan Naruto.

"Kita kan bisa membuatnya diam-diam..." Katanya lalu menatap Kakashi. Kakashi menggeleng, lalu mengarahkan pandangannya ke CCTV diatasnya. Naruto menghela nafas. Tak mungkin Kakashi dikorbankannya untuk ramen.

"Hhah... Ya sudahlah... Aku makan apa yang ada..."

ƪ()ƪ()ʃ()ʃ

Suara dentingan garpu dan sendok terdengar dari arah ruang makan. Naruto dengan tidak ikhlas mengunyah sayur-sayuran yang ada di depannya. Ini membuatnya mual.

"Kalau tidak bisa menelannya, lebih baik dimakan dengan sup." Kakashi memberi masukkan.

"Aku tidak suka, Kakashi-nii..." Kata Naruto disela kunyahannya. "Ini membuatku mual." Lanjutnya. Kakashi menghela nafas.

"Jangan seperti itu. Masih baik bisa makan..." Kakashi berkata dibalik maskernya. "Atau mau saya blender makanannya biar bisa ditelan?" Kakashi tersenyum penuh maksud. Naruto sedikit bergidik. Ingatannya kembali pada saat ia berumur enam tahun. Ia tidak pernah menyukai makanan didepannya, sangat membencinya. Ibu dan ayahnya sampai dibuat pusing. Akhirnya Kakashi-lah yang bertindak. Semua jenis sayuran di blender menjadi satu. Tidak perlu dilanjutkan bagaimana rasanya. Yang jelas setelah itu Naruto langsung jatuh sakit.

"Tidak, Kakashi-nii... Makasih..." Jawab Naruto langsung mengunyah semua makanan di piringnya. "Aku selesai. Makasih ya, Kakashi-nii." Naruto berkata dan bergegas masuk ke kamarnya. Kakashi menggeleng pelan.

"Dasar anak itu..."

ƪ()ƪ()ʃ()ʃ

[Suatu bagian di Negara Suna]

Suatu bangunan berukuran tiga kali tiga terlihat sangat gelap. Terdengar gemercik rantai yang bergesekkan dengan lantai. Tubuh ringkih seseorang bergerak kesana kemari, mencari kebebasan. Sesekali dirinya terkekeh pelan dan mengumpat ke arah pintu.

"Sebentar lagi maha karya akan terjadi. Khehehe... MWAHAHAHA! LIHAT SAJA KALIAN!" Orang itu tertawa mengerikan ke arah kamera.

"Lihat saja. Tidak akan ada seorang Uchiha yang akan selamat dari anak itu. Uchiha si pecundang... Persetan dengan Uchiha! Dan Uchiha Fugaku akan segera mati! MWAHAHAHA!

ƪ()ƪ()ʃ()ʃ

Kembali ke Konoha...

Tiba-tiba saja suasana Konoha berubah drastis. Angin kencang muncul tiba-tiba dan menerpa semua tubuh yang dilaluinya.

Seorang pemuda berambut pirang kemerahan dengan mata biru terdiam dan menyentuh tenguknya.

"Akan ada kejadian buruk yang terjadi dalam waktu dekat..." Katanya sambil menatap langit diatasnya.

ƪ(˘⌣˘)┐ ƪ(˘⌣˘)ʃ ┌(˘⌣˘)ʃ

Naruto berjalan menusuri jalan setapak menuju ke rumahnya. Tampak ia mengangkat barang begitu banyak.

"Harusnya tadi aku pergi bersama Kakashi-nii saja. Berat sekali belanjaan ini." Katanya sambil membenarkan bungkus plastik yang menurun dari tangannya. "Huuh?" Tiba-tiba saja bulu kuduknya merinding, di ikuti dengan angin yang menghempas tubuhnya.

"Eep!" Katanya sambil menahan plastik yang sudah nyaris jatuh. Bisa ngamuk Kakashi kalau telurnya menjadi bubur dijalanan.

"Aduh! Anginnya kenapa sih?" Katanya kesal.

TIN TIN!

Naruto menoleh ke arah suara tersebut. Ia terkejut mendapati Menma berada disana. "Otosan?" Naruto berkata tanpa melepas keterkejutannya. Menma menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Dapat dilihat air wajahnya sangat tegang dan tersisip rasa khawatir. Naruto menjadi bingung. Ini bukan Menma yang biasanya.

"Masuk ke dalam cepat. Sebentar lagi mau hujan." Kata Menma sambil membuka pintu depan mobil. Ini aneh! Sungguh aneh.

"Ngapain bengong?! Cepat masuk!" Kata Menma tanpa sedikit marah. Naruto langsung buru-buru masuk ke mobil, keburu nanti ditinggal. Mwehehe...

ƪ()ƪ()ʃ()ʃ

Tak ada yang bicara selama di dalam mobil. Tidak Naruto maupun Menma. Naruto sedikit terusik dengan keadaan ini.

"Otosan sudah pulang? Kata Kakashi-nii baru pulang seminggu lagi." Kata Naruto sambil berdoa. Semoga pertanyaannya tidak mengenai bagian sensitif ayahnya. Menma masih terus fokus. Sesekali ia menatap Naruto.

"Naruto, dengar dan jawab aku. Jangan banyak tanya dan hanya jawab secepatnya. Mengerti?" Menma berkata, Naruto mengangguk mantap.

"Apa tadi ada orang yang mengikutimu? Atau melirikmu tanpa henti?" Menma bertanya di ikuti dengan gelengan pelan dan jawaban tidak dari Naruto. Menma mengangguk.

"Apa ada yang bertanya padamu dimana alamat rumah yang baru?" Menma bertanya lagi. Naruto menggeleng pelan.

"Apa ada yang mencurigakan? Ketika kau keluar?" Menma bertanya lagi, Naruto menggeleng pelan.

"Haah... Syukurlah..." Kata Menma, sedikit rasa lega terlihat dari mukanya. Beberapa detik kemudian wajahnya kembali datar.

"Naruto dengarkan aku... Jika ada orang yang mencurigakan, pastikan langsung lari ke tempat ramai dan menelpon Kakashi. Jangan pergi sendirian, kalau bisa pergi beramai-ramai dengan temanmu. Kalau Kakashi bisa, ajak dia sekalian. Kau mengerti?" Manma berkata, di ikuti dengan anggukan Naruto. "Bagus, aku anggap kau sudah mengerti. Ingat. Jangan. Sendirian." Katanya lalu memutar steer nya.

Naruto menatap Menma bingung. 'Benar-benar tidak biasa. Apa yang sebenarnya terjadi?'

ƪ()ƪ()ʃ()ʃ

"Aku pulang, Kakashi-nii!" Naruto berkata lalu berlari kecil ke arah dapur. "Yang Kakashi-nii pesan sudah aku belikan. Komplit. Nggak kurang. Mwehehe..." Naruto tersenyum lima jari.

"Benarkah? Let see..." Kakashi mendekati kantung belanjaan. "Telur, susu, sereal, terus..." Kakashi memeriksa semua kantung belanjaan dan menyamakannya dengan daftar yang ada ditangannya. "Tepung... Gula... Bawang? Eeh?" Kakashi berhenti. "Mana bawang, Naruto?" Kakashi tersenyum penuh arti menatap Naruto. Sedangkan yang ditatap hanya nyengir-nyengir tak jelas.

"Kelewatan berarti." Jawabnya enteng.

"Anda ini..." Kakashi berkata, lalu mengacak rambut Naruto. Naruto tersenyum malu.

"Kakashi..." Menma tiba-tiba muncul dari belakang. "Ada hal penting yang ingin ku bicarakan." Menma berkata sambil menatap lurus ke Kakashi. Kakashi yang mengerti arti pembicaraannya mengangguk pelan.

"Baik, Menma-sama." Lalu ia menatap ke arah Naruto. "Nah, Naruto. Sekarang masuk kamar, ya. Kerjakan tugas rumahmu." Kakashi berkata lalu mengacak rambut Naruto. Naruto mengangguk dan pergi meninggalkan mereka berdua.

"Ke ruanganku..."

ƪ()ƪ()ʃ()ʃ

"Dia lepas dari tahanan..." Menma berkata. Mata Kakashi membulat sempurna. Ia mengerti siapa yang dimaksud oleh Menma.

"Bagaimana bisa? Setau saya disana ada banyak pengawas dan keamanannya terjamin." Kakashi berkata sambil menatap tak percaya ke arah Menma.

Menma menggeleng pelan, "Tidak tau. Sekarang ini petugas sedang mencari tau bagaimana ia menghilang." Menma berkata sambil memijat batang hidungnya. "Aku tak mau lagi dia berusaha merebut Naruto ku..."

Kakashi memandang Menma. Ia mengerti apa yang dimaksud Menma 'Naruto ku'. "Tidak akan saya biarkan, Menma-sama."

Menma mengangguk lalu menghela nafas. "Andai saja semua ini tak pernah terjadi. Naruto tak perlu lahir ke dunia ini." Menma berkata. Matanya terlihat mulai berkaca-kaca.

Kakashi menatap Menma, "Tidak akan saya biarkan orang itu merebut Tuan Muda Naruto. Tidak akan pernah." Kakashi terlihat garang di balik maskernya. "Kali ini tidak akan pernah lagi saya biarkan ia menyentuh salah satu dari kita..." Kakashi mengeratkan tangannya. Terlihat baku-baku tangannya begitu putih.

"Terima kasih, Kakashi-san..."

ƪ()ƪ()ʃ()ʃ

"Adududuh... Mau pipis..." Naruto berkata lalu berjalan keluar agak cepat. Kantung kemihnya tak mampu lagi menahan luapan gejolak riak air disana. Meh... Lebay...

Tiba-tiba kakinya terhenti di depan pintu ruang kerja Menma, "Tidak akan saya biarkan, Menma-sama."

Naruto terdiam mencerna kata-kata tersebut. Keinginan untuk buang airnya hilang seketika. Perbincangan Kakashi dengan Menma lebih menarik perhatiannya.

"Andai saja semua ini tak pernah terjadi. Naruto tak perlu lahir ke dunia ini."

Mata Naruto membulat. Tubuhnya bergetar. Sebegitu bencinya kah Menma padanya sampai berpendapat seperti itu? Matanya perlahan meneteskan air mata. Naruto benar-benar melupakan jika ia ingin buang air kecil dan kembali ke kamarnya. Menangis dalam diam.

Di eratkannya pelukan ke gulingnya lalu membenamkan kepalanya dan berteriak disana. Seakan-akan guling itu adalah tempat pelampiasan kekesalannya selama ini.

ƪ()ƪ()ʃ()ʃ

Pagi itu tidak seperti pagi yang biasanya. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu. Kakashi dan Menma saling bertatapan.

"Aku sudah selesai. Aku pergi." Naruto berkata sambil merapikan peralatan makannya. "Hari ini aku bawa sepeda. Kakashi-nii tak perlu mengantarku." Naruto berkata dengan dinginnya. Lalu menatap Menma tajam. "Dan otosan tak perlu menjemputku... Aku bisa pulang dengan yang lain."

Menma merasa tertohok mendengar kata yang Naruto tekankan. Selama ini Naruto selalu memanggilnya dengan lembut. Tak pernah ada penekanan. Tak tahan dengan sikap Naruto yang begitu dingin membuat hati kecil Menma terasa sangat sakit.

"Berhentilah bersikap seperti itu, Naruto." Menma berkata sambil memijat hidungnya. "Apa yang terjadi sekarang? Pagi-pagi sudah membuatku muak melihatmu." Menma berkata. Terlihat ia sedikit mengigit lidahnya. 'Astaga, Menma! Apa yang kau katakan padanya?'

"Apa yang aku katakan? Aku hanya ingin kebebasan, Yang Mulia Menma." Naruto berkata sakarstik, di ikuti dengan senyuman mengejek. "Seperti keinginanmu, aku akan menghilang dari hadapanmu." Naruto berkata lalu mengambil tas miliknya di sofa.

"Hentikan sikap kekanakan anda, Naruto-sama." Kakashi berkata sambil menekankan suaranya di nama Naruto. Naruto tertohok mendengar Kakashi berbicara seperti itu. Lalu ia tersenyum dan mulai mengerti.

"Ternyata selama ini semua hanya kebohongan, benar Kakashi-nii?" Naruto memandang sendu ke arah Kakashi dan Menma. Kedua orang dewasa di depannya terkejut melihat Naruto yang mulai menangis. "Kalian berdua tak menginginkan aku ada, kan?" Naruto memandang keduanya.

"Maksudmu apa?" Menma berkata sambil terus memijat batang hidungnya.

"Kau tidak menginginkanku lahir di dunia ini kan, Menma-sama?" Naruto berkata sarcasm. "Kalau kau menginginkannya aku bisa mengabulkan keinginanmu."

"CUKUP SAMPAI DISANA, ANAK MUDA!" Menma menatap Naruto dengan pandangan yang tidak bisa di artikan.

"Apa? Apa kau terkejut? Hahaha..." Naruto berkata dengan nada mengejek. "Kau menginginkan semua ini? Harta ini?" Naruto menyilangkan tangannya. "Silahkan ambil, Menma-sama! Aku tak butuh!" Kata Naruto lalu meraih tas-nya.

Menma terlihat kesal dan memandang punggung Naruto yang menuju pintu luar. Ia menggeram. "Bagaimana bisa aku menginginkanmu lenyap ketika kenyataannya akulah yang melahirkanmu, Naruto."

Langkah kaki Naruto berhenti. Lalu berbalik menatap Menma. Menma menutup mulutnya. Terkejut dengan kata-kata spontannya barusan.

"Kau... Kau bilang apa?" Naruto bertanya. "Kau... Melahirkanku?"

Kakashi menatap Menma yang terlihat syok dan kebingungan. "Maaf, Naruto. Saya harus membawa Menma-sama ke kamarnya. Ia agak lelah... Anda bisa..."

"Apa maksud kata-kata barusan, O-otosan..." Naruto berkata lalu menjatuhkan tas yang ada di tangannya. "K-kau berbohong, kan?"

"Naruto... Menma..."

"Benar... Aku yang melahirkanmu..."

Baik Kakashi ataupun Naruto terkejut mendengar penuturan Menma. Kali ini mata Menma mengeluarkan air.

"Aku yang melahirkanmu... Aku yang melahirkanmu..." Menma berkata seperti merapalkan mantra ke arah musuhnya. "Tidak mungkin aku ingin kau lenyap, Naruto... Tidak, setelah semua yang terjadi..." Menma berkata lalu menghapus air matanya. "M-maaf aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan."

Menma meninggalkan Naruto dan Kakashi. Kakashi menatap Naruto. Sedangkan yang menatapnya seperti menuntut jawaban dari apa yang terjadi disini. Kakashi menghela nafas. Ia tau ini akan menjadi hari yang sangat panjang...

ƪ()ƪ()ʃ()ʃ

Suna...

Seseorang berpakaian jas ala ilmuwan berjalan melewati beberapa bawahannya. Rambut pirang panjangnya disisir kebelakang, memberikan kesan feminim sekaligus tampan. Mata birunya menelusuri tiap ruang yang ada. Lalu matanya menangkap seseorang dengan rambut hitam panjang.

"Orochimaru-san." Panggilnya. Yang dipanggil menoleh ke arah orang itu.

"Ah... Dei-chan." Orochimaru tersenyum. Pria berumur dengan dandanan nyentrik tersebut menatap pemuda di depannya. "Ada apa?"

"Ini laporan yang anda minta." Deidara menyerahkan amplop coklat bergambarkan logo dari lembaga institusi mereka.

"Terima kasih, Dei-chan."

Orochimaru membuka amplop tersebut dan membaca isinya. "Ini tidak mungkin kalau dikerjakan sendirian. Pasti ada yang membantunya melarikan diri." Orochimaru berkata. "Akhirnya yang aku takutkan terjadi juga... Seseorang membelot dari kita..." Orochimaru menatap Deidara.

"Aku akan melaporkannya pada Menma-sama..." Kata Deidara di ikuti dengan anggukan Orochimaru.

Orochimaru berjalan menuju mejanya dan menyeruput kopi hangatnya. "Geez... Bagaimana bisa? Hanya bagian pengamanan yang mengerti membukanya. Berarti dapat dipastikan pelakunya adalah orang dalam... Tapi siapa?"

ƪ()ƪ()ʃ()ʃ

TBC

ƪ()ƪ()ʃ()ʃ

Footnote:

Mweeh... Mumpung lagi indehoy ini ide langsung secepat kilat ditulis, keburu lupa kalo ntar-ntar xD

Humm... Alurnya bener-bener ngerasa kecepatan sih *eh*

Humm... Chapter depan mau dibuat flashback-nya Menma atau lanjut cerita ke chapter selanjutny ya? '_')a

Review?