SEVENTEEN © Pledis Entertainment ® 2015

.

.

.

.

.

Kazuma House Production

Proudly Present…

.

.

.

Rain On Sunny Day

® 2018

.

.

.

Hari 2 : Kissing Time

.

.

.

"Hoshi, kau tidak sibuk kan akhir minggu ini?" tanya Jihoon begitu tiba di kantin di mana Hoshi menunggunya selesai kelas.

"Tidak. Memang ada apa?" tanya Hoshi kembali. Matanya memicing curiga ketika melihat binar-binar bahagia tampak di sekeliling mata sipit Jihoon. Oh, itu memang indah sekali, tapi terlalu langkah untuk seorang sedatar Jihoon terlihat sangat bersemangat. "Kau punya rencana kencan?"

Jihoon mengangguk antusias seperti anak kecil. "Lihat! Aku punya dua tiket LG Twins melawan Nexen!"

Tanpa sadar Hoshi sudah menggaruk tengkuknya, tidak mampu menolak. Kalau sudah menyangkut soal baseball, maka keputusan Jihoon tidak bisa lagi ditawar. Gadis imut itu akan memperjuangkannya hidup dan mati.

.

.

.

.

.

Kalau boleh jujur, Hoshi bukan penikmat olah raga baseball. Mau berapa kalipun Jihoon menjelaskan padanya betapa menyenangkannya olah raga itu, tetap saja Hoshi tidak tertarik. Berkali-kali ia menguap lebar ketika menoton dua tim berseragam putih dan merah bergantian melempar dan memukul bola di lapangan.

Bahkan di tengah-tengah permainan, Hoshi lebih memilih membalas pesan tidak penting Seokmin dan membiarkan Jihoon berteriak-teriak sendirian, mendukung LG Twins bersama penggemar lain di sekeliling mereka.

"Ya! Jangan main ponsel melulu! Kau harus lihat waktu Jaehyun menciptakan homerun!" seru Jihoon mengguncang pundak Hoshi.

"Hng?" Hoshi mendongak dari layar ponselnya, melihat sekelilingnya masih sama bergemuruhnya seperti tadi. "Aku tidak mengerti baseball, Ji. Aku tidak tertarik sama sekali."

Jihoon menghela napas kesal. Ia tahu, Hoshi memang tidak begitu tertarik dengan olah raga. Satu-satunya jenis olah raga yang menarik minatnya hanyalah sepak bola—oh, dan game online kalau hal itu bisa dikategorikan sebagai e-sport. Setidaknya, laki-laki itu bisa kan menghargai kesenangannya?!

"Kau marah, Ji?" tanya Hoshi ketika permainan kembali dimulai dan Jihoon duduk tenang di tempatnya dengan tangan terlipat di depan dada. Bibirnya dimanyunkan.

"Menurutmu saja!" jawab Jihoon ketus.

Hoshi menggaruk tengkuknya. "Aku minta maaf."

Permintaan maaf Hoshi malah semakin membuat kekesalah Jihoon berlipat ganda. "Tidak usah minta maaf kalau kau tidak tahu apa salahmu!"

Kadang ia suka berpikir, kenapa dirinya bisa terjebak dengan lelaki kurang peka seperti Hoshi. Bahkan laki-laki itu tidak mau repot-repot bertanya apa salahnya pada Jihoon dan sekarang memilih diam.

Tahu begini, ia tidak akan repot-repot memesan tiket dari jauh-jauh hari. Berebut dengan fans lain seperti orang gila. Biar saja mereka menghabiskan akhir pekan di apartemen. Toh lebih hemat dan tidak mengesalkan seperti minggu-minggu kemarin. Jalan-jalan hanya membuat Jihoon semakin kesal.

"Ji?" panggil Hoshi. "Kau masih marah?"

Oh Tuhan, kuatkan Jihoon. Bisa-bisanya laki-laki itu bertanya dengan cengiran di wajahnya.

"Pikir saja sendiri!" Jihoon membuang muka.

"Mereka bilang, kalau pertandingan selesai akan ada kissing time?" tanya Hoshi penasaran karena barusan Seokmin mengiriminya pesan seperti itu. "Kalau sampai kita yang disorot kamera bagaimana?"

"Tidak usah berpikir seperti itu. Dasar mesum!" keluh Jihoon.

"Kan aku hanya bertanya…" lirih Hoshi.

Mata hitam lelaki Jepang itu masih mengamati layar raksasa yang ada di depan sana. Bagaimana kamera-kamera yang tersebar di seluruh penjuru Jamsil Stadion berhasil menemukan pasangan-pasangan kekasih yang menghabiskan akhir pekan di sana. Beberapa pasangan yang tersorot memberikan kecupan malu-malu, tak jarang pula yang memberikan tontonan panas yang membuat seisi stadion menjadi riuh.

"Hei, anak muda! Itu kau!" Seorang di sebelahnya menepuk pundah Hoshi semangat sambil menunjuk layar raksasa yang kini penuh dengan wajahnya dan Jihoon.

Hoshi menatap Jihoon ragu-ragu. Wajah kekasihnya sudah berubah semerah tomat masak. Gadis itu menunduk malu dengan tangan menggenggam lengan jaket Hoshi erat-erat. Dia benar-benar dalam posisi terjepit sekarang. Apa yang harus ia lakukan?!

"Hei cepatlah! Kalau tidak kamera itu tidak akan berpaling darimu!" seru seorang yang lain lagi.

"Ji?" panggil Hoshi ragu-ragu.

Jihoon mendongak saat mendengar suara Hoshi terasa begitu dekat dengannya. Apalagi saat melihat wajah itu tidak kurang dari lima senti jauhnya. Gadis Lee itu memejamkan mata erat-erat, tanpa sadar menunggu sesuatu menyentuh bibirnya. Tapi sampai setelah ia membuka mata, ia tidak merasakan apapun di bibirnya.

.

.

.

.

.

Perjalanan pulang terasa lebih sunyi daripada yang sudah-sudah. Bahkan saat Hoshi mendekatinya pun lelaki itu tidak pernah jadi sediam ini. Jihoon menunduk, menyandarkan kepalanya pada tiang penyangga di kereta. Berpikir bahwa semua ini salahnya. Harusnya ia tidak memilih pertandingan baseball untuk tempat kencan.

Hoshi hanya berjalan dalam diam di sebelah Jihoon, mengantar gadisnya pulang ke apartemen. Tidak memiliki niatan untuk mengucapkan apapun saat mereka sampai Tower G.

"Yang tadi itu… waktu kissing time, kenapa tidak menciumku?" tanya Jihoon sebelum masuk ke lobby. Karena yang Jihoon ingat, ia hanya merasakan sesuatu yang lembut menyentuh dagunya, bukan bibirnya.

"Karena kamu bilang tidak mau berciuman, kan?" tanya Hoshi balik membuat Jihoon terdiam. Lelaki Jepang itu tersenyum lebar. "Waktu itu kamu pernah bilang, kalau ciuman pertama hanya untuk menikah nanti. Makanya aku tidak menciummu di bibir, melainkan di dagu."

Kalau lelaki lain pasti sudah mengambil kesempatan itu. Bagai cheesecake yang tersaji di meja, tinggal makan. Tapi Hoshi lain. Lelaki itu menghormatinya sebagai wanita utuh. Menjaganya seperti seorang kakak. Sekaligus mencintainya seperti lelaki sejati.

Dan Jihoon tidak punya alasan apapun untuk tidak semakin mencintai lelaki di depannya ini.

"Gomawo," bisik Jihoon setelah menubruk tubuh Hoshi dengan sebuah pelukan kencang.

.

.

.

.

.

.

856 words

Heheheee... saya update lagi ^^ Thankyou buat yang sudah sempetin baca, review, like dan follow. Thankyou : Guest, jihooney, saelviohexia ^^

Sebenernya agak ragu untuk update lagi. Soalnya waktu ff ini dipublish, ffnya nggak muncul di recent update yang versi web. Munculnya cuma di FFn versi apps. Jadi sedih liat traffic stats-nya. But i'm okay kok sekarang wkwk... Tetep dukung ff ini ya gais... love ya!

16 Januari 2018

02.24 a.m.

Sign,

Kazuma B'tomat

Rain On Sunny Day © Kazuma House Production ® 2018