Gilbert dan Antonio masuk ke ruang makan. Ruang makan keluarga Antonio digabung dengan dapur. Meja makan di tengah dengan kompor dan tempat masak di belakangnya menghadap jendela yang terbuka lebar membawa angin dari hari yang cerah. Mama Antonio sudah menunggu dengan kue didepannya.

Mereka lalu duduk menunggu giliran.

"Francis mana?" Mama memotong kue dan memberikannya pada Gilbert dan Antonio.

"Di Paris, Mama," Antonio memakan kuenya dengan lahap.

"Dia mau nerusin sekolah di sana?"

"Enggak tau juga. Enggak deh kayaknya,"

"Waah, udah habis lagi? Mau tambah, Gilbert?" Mama menoleh pada Gilbert.

"Boleh. Gracias, Mama." Gilbert menyodorkan piringnya.

"Gilbert punya adik, kan? Lupa...siapa namanya? Aaa, Lovino, jangan tiduran di lantai," Mama berdiri, menggendong Lovino yang telungkup di lantai.

"Ludwig,"

"Sekarang mana? Di kamar?"

"Enggak dibawa. Ada di rumah." Gilbert mengangkat bahu tanpa rasa bersalah. Ia lalu berdiri dan menaruh piring kotor di bak cuci piring.

"Kok gak dibawa? Berapa umurnya?"

"Mau tiga tahun. Gak papa. Nanti malah ngericuh lagi disini," Gilbert kembali duduk.

"Sendirian? Kok gitu? Sana jemput! Bahaya ah. Lagi musim kebakaran, sekarang. Kalau kenapa-napa gimana? Nanti Mama yang urus. Tuh ada Lovino buat temen main," Mama Antonio berbicara dengan panik. Gilbert menghelai napas, lalu memandang Antonio meminta bantuan. Antonio menangkap sinyal-sinyal cinta...maksudnya...sinyal SOS dari Gilbert, lalu berdiri.

"Ya udah, aku sama Lovino aja..." Antonio hendak menggendong Lovino.

"Spadaaaa" suara merdu terdengar memanggil dari luar.

Tubuh Antonio mengejang, mukanya memerah. Di letakkannya Lovino di lantai, dan segera berlari menuju pintu.

"Bellllaaaaa, abang dataaang" suara Antonio penuh sukacita terdengar hingga ruang makan.

"Dasar," mama menggelengkan kepala sambil tersenyum.

"Mi querida mama, ada calon mantumu datang berkunjuuuung. Akkh!" dan bunyi orang terjatuh mengakhiri teriakan Antonio.

"Siang tante," Bella muncul dengan kantung kertas.

"oooh, Bella...tak lama bersua...pukulanmu tetap manis seperti biasa..." Antonio datang menyusul, tertatih memegang perutnya.

"Ini, ada oleh-oleh," Bella tersenyum memberikan bawaannya pada Mama Antonio.

"Ya ampun, repot-repot. Ayo duduk sini, makan kue dulu," Mama mengambil piring dan memotongkan kue untuk Bella.

Bella tersenyum, lalu melihat sekeliling. Pandangan matanya lalu jatuh pada Lovino yang memberengut karena di turunkan secara tidak hormat oleh Antonio.

"Aaaaang! Lovinoooo," Bella segera meloncat, duduk di depan Lovino dan mencubit pipinya gemas.

"Makin unyuuuu deeeh. Berapa umurnya sekarang?" Bella menepuk-nepuk pipi Lovino dengan sayang.

"Ti...tiga...umhh...udah ih, sana!" Lovino menampik tangan Bella. Pipinya memerah.

"Aih aih. Mukanya meraah," Bella mengejar Lovino, siap menggendongnya.

"Enggaaak!" Lovino meronta.

"Eits. Coba liat, kakak bawa apa?" Bella menyodorkan jus tomat dalam kemasan.

Mata Lovino membesar. Pelan-pelan, ia mendekat dan duduk di pangkuan Bella.

"Fufufu," Bella tertawa bahagia. Dimainkan lagi pipi Lovino. Ahh, perasaan ini...

"Umh, Muller mana, Bel?" Antonio bertanya. Sedari tadi ia sibuk mengawasi kalau-kalau Muller muncul.

"Ada di rumah. Kemarin nelpon ya? Aku lagi mandi, jadi kakak yang angkat," Bella bangkit dan duduk di meja makan dengan Lovino dipangkuannya.

"Dimakan, tante," Bella tersenyum dan mulai memakan kuenya.

"Silahkan, silahkan. Tante tinggal dulu ya. Cucian belum disetrika." Mama Antonio berlalu meninggalkan ruang makan.

"Jadi, kenapa kemarin nelpon?" Bella menatap Antonio.

"Eng...itu...umh...minggu depan ada pameran pertanian di kota sebelah. Kamu...mau ikut gak?",

"Boleh," Bella menjawab cepat.

"Beneran?" Antonio berdiri dari kursinya.

"Iya. Asal ada Lovino," Bella menambahkan.

"Gampang, gampang. Veliciano, adiknya si Lovino, baru pulang dari rumah sakit minggu depan, jadi Lovino masih di titip di sini,"

"Sakit apa adiknya, Lovino?" Bella bertanya dengan manis.

"Gak...sruuut...tau...sruut. Badannya merah merah...Habis!" Lovino mengangkat kotak jusnya.

"Iya iya. Kakak bawa banyak kok," Bella memberikan kotak jus lagi.

"Sakit apaan, Antonio?" Bella menoleh memandang Antonio.

"Cacar. Makanya dia diungsiin ke sini," Antonio mengelus kepala Lovino.

Gilbert menatap ketiganya dengan cemberut. Niatan mau melipur hati, malah dikacangin.

"Eh, Gillbert. Kapan ke sini?" Bella tersadar demi melihat seonggok manusia cemberut bertopang kepala menatap mereka.

"Barusan. Liat jendela kebuka, gua masuk," Gilbert menjawab ketus.

"Hihihi. Eh, Lovino, kakak boleh jenguk adiknya, gak?" Bella kembali pada Lovino,

"Engg..." Lovino hanya menjawab tidak peduli.

"Ayo. Ayo. Aku juga belum jenguk," Antonio bersemangat.

Lovino tiba-tiba merengsek, lalu mengangkat tangan ke arah Antonio,

"Ikut! Ikut!" ia mendesak.

"Gak boleh, Lovi sayang. Nanti ketularan," Antonio mengecup kening Lovino.

"Ehem,"

"Seret nih. Pulang duluan aja kali ya. Kayaknya ada minum di rumah," Gilbert berdiri.

"Kok pulang? Itu dispenser di belakang elu, kan? Tempat gelas juga lu kan udah tau dimana. Lagian, biasanya juga minum langsung dari kocorannya," Antonio memiringkan kepala bingung.

Belet. Beneran. Belet tingkat UN! Gillbert sudah siap memakan kepala tomatomaniac di depannya.

"Iya, kok pulang? Gillbert nanti ikut, kan?" Bella, yang syukurnya lebih pinter daripada Antonio, menahan Gilbertkarena merasa tidak enak.

"Kemana?" Gillbert memandang tidak minat.

"Jengukin adiknya si Lovino. Lu udah pernah kena cacar, kan? Gak papa berarti," Antonio menjawab.

"Lah, adik gua apa kabar?"

"Bawa aja. Nanti titip di sini nemenin si Lovino,"

Gillbert diam, berpikir. Menggiurkan. Udah bisa jalan-jalan, gak perlu bawa si Ludwig, lagi.

"Atau ajak si Elizavetha aja!" Antonio memberi saran. Wajahnya berbinar layaknya para ilmuwan yang berhasil mengemukakan pendapat paling revolusioner.

"Elizavetha...yang sekolah di Berjona?" Bella menyela.

"Iya. Kenal?" Gillbert menatap heran.

"Iya. Kita sekelas. Pacar Gillbert?" Bella memandang penuh minat.

"Yaaa, dibilang pacar bukan, di bilang bukan pacar juga..." Gillbert tersipu,

"Dibilang bukan pacar juga iya! Dia habis ditolak sama si Elizavetha." Jedug. sebuah piring melayang indah menghantam kepala Antonio.

"Jadi, mau ikut gak, Gill?" Anotinio mengelus kepalanya.

"Boleh deh. Berarti Ludwig gua titip di sini. Elizavetha...Hm...mau gak ya..." Gilbert bergumam sendiri.

"Semangat dong bro! Lusa kita berangkat. Gak papa kan Bella sayang?"

"Kalau masih nambahin kata sayang aku telpon Muller sekarang. Kali aja dia mau ikut kita jenguk Veliciano," Bella membalas dengan senyuman yang bertolak belakang dengan ucapannya.

"Oh!" Antonio mematung ditempatnya.


Ajak, enggak, ajak, enggak, ajak, enggak...Kalau diajak bisa baikan lagi...tapi kalau entar ditolak? Umh...Gillbert mengacak rambutnya frustasi. Sepanjang perjalan pulang hanya hal ini yang memenuhi kepalanya. Udah ah. Paling habis ini mandi dulu aja buat dinginin kepala.

Gillbert membuka pintu dan berjalan masuk. Tidak ada tanda-tanda Ludwig.

"Ludd!" Gillbert berteriak sambil membuka jaketnya. Ia berjalan ke arah ruang tengah. Kosong.

"Ludwig!" Gilbert masuk ke kamarnya. Tidak ada suara-suara lain. Adiknya sematawayang itu memang pendiam. Tapi kalau dipanggil biasanya nongol.

"Lud?" Gillbert mulai khawatir. Dijelajahinya rumah. Dibukanya selimut tempat tidur Ludd, masuk ke kamar bermain, ke ruang makan, kamar tamu, ruang tamu. Semuanya tidak ada tanda-tanda kehidupan Ludwig.

"Gawat! Gimana kalau tadi ada rampok, terus gara-gara saksi mata, si Ludwig diculik, terus...enggak mungkin! Enggak ada tanda-tanda buka paksa atau benda-benda berantakan.

Ah! Jangan-jangan tanpa sepengatahuan gua si Ludd itu anak pungut! Sebenarnya dia detektif yang menyusut jadi anak kecil karena obat organisasi hitam dan karena gua pergi, si Ludd jadi bisa dibawa dengan mudah dan dilenyapkan?" pikiran Gilbert mulai kacau.

Bukan kenapa-napa. Kalau sampai hilang atau terjadi sesuatu hal sama Ludwig, pasti dia yang kena.

Kriiiing. Gillbert terlonjak.

Kriiiing. Telpon rumah! Gaaah! Gilbert berlari mengangkatnya. Pikirannya was-was, apakah dari penculik yang minta tembusan atau organisasi hitam yang menyatakan Ludd sudah...

"Halo?" Gilbert berbicara hati-hati.

"Halo? Gill? Ini Eliza," suara disebrang sana membuat seluruh awan hitam yang menelungkup pikiran Gillbert sirna.

"Iya Elz? Kenapa?" Gilbert mendeteksi sudah tidak ada unsur marah lagi di nada suara Eliza. Syukurlah...Tapi tunggu. Eliza urusan belakang. Yang penting sekarang si Ludwig.

"Kamu udah pulang?" Eliza bertanya.

"Iya, ah, bentar ya Elz. Aku lagi nyari Lud..."

"Dudul! Lu kemana aja, hah? Tadi gua kerumah mau nganterin makan siang lo! Pas gua masuk gak ada siapa-siapa kecuali Ludd. Mikir apa lu ninggalin adik sendirian, hah? Sekarang lagi musim kebakaran..." Oh! Eliza! Penyelamatku!

"Iya iya. Kebakaran. Terserah. Musim durian juga gak masalah. Gua kerumah lo sekarang!" Gillbert segera memutus telpon dan secepat mungkin lari menuju rumah sebelah.


YOSH!

update!

gomen sampai hampir sebulan...*apa lebih?*

oke! Bales review )-w-)/

N and S and F

makasih udah jadi reviewer pertama u_u

huee? tapi adiknya ndak papa kan? adik saya cuma beda setahun, jadi kalau di tinggal sama saya malah seneng. hehehe

yosh! masih jalan. :D

Sindy Beilschmidt

iya. kasian emang. u_ud

harusnya titipin aja Ludd sama saya *pedoface: on*

huoo. ok. makasih koreksinya :D:D:D

Manami Asa

tapi punya adek seru looo. bisa disuruh suruh, bisa menggila bersama, bisa buat latihan gulat...*loh*

lagi ukk, ya? hehe. dan fic ini update saat anda sudah naik kelas :3 *sok tau*

sip. makasih koreksinya. semangat tahun ajaran barunya, yad

Kuroneko Lind

hehe *tersipu*

asalnya saya takut mau make lu-gua lalalal. Tapi kalau ngeliat mahkluk-makhluknya, kayaknya cocok-cocok aja *atau jangan-jangan jadi alay?*

ini udah di update :D

gomen telat u_u

iya, kasian. lagi musim kebakaran. *niru mama antonio*

Hikari Kamishiro

ayo kita dukung Gilbo untuk prussia 2012 *loh*

hehe. saya jadi pingin minta maaf ke elizavetha n_na

uhuhu. mari kita berdoa demi kebahagian ludd*loh lagi*

makasih udah mampir :D:D:D

Gaara Kecil

update datang!

-_-\

maaf lamaaa sekali. maklum. shahrini udah lama gak digosipin~ *apa hubungannyaaa*

makasih udah mampir datang mu_um

Fuuko96

aah, anda terlalu muji...lihat...hidung saya jadi terbang, kan? *loh*

makasih udah dateng yaaa :D

Oyabun Shinshi

salam kenal, oyabun -_-\

hush! jangan ngikik-ngikik sendiri. kasian nenek tetangga. jadi gak bisa tidur *taboked*

yosh! update siap!

makasih udah dateng :D

kanasvetlana

kenapa ditahan? lepaskanlah semuanya, nak. lepaskaaan.

hehe. kalau punya adik kayak chibby luddy sih...uoooo...*mimisan*

sip! makasih udah dateng ~^o^~


ngemeng-ngemeng, setiap ada yang bilang lucu, atau kocak, atau ketawa, yang saya pikirkan adalah bagian Gilbo dan piip ratanya~*hush! puasa!plak*

dan terimakasih buat semua yang udah mampir :D