Obsesi? Sebuah kata yang mungkin terkesan mengintimidasi bagi sebagian orang. Entah sejak kapan sebuah perasaan bisa tiba-tiba muncul dan menjadikan sang 'pemilik' mulai menguras otak untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.
Chapter 2
Disclaimer: Naruto © Masashi Khisimoto
I Want You, SENSEI! © 'end
Rating: stay di Te-desu
Genre: Romance mungkin
Pairing: Uchiha Sasuke & Uzumaki Naruto.
Warning: AU, Typo, Mistypo, OOC, Boys Love, Shounen-ai , bahasa mungkin berbelit-belit, nggak sesuai EYD, author pemula, etc. If like, you must read it, if don't like, please read!
Author's note: "Gomen, Usaha Update Kilat GAGAL TOTAL!"
Don't Like Don't Read
SASUKE POV
Seumur hidupku baru kali ini aku merasa diperhatikan oleh seseorang. Kurang kasih sayang? Ya, aku memang salah satu anak yang kurang kasih sayang dari orang tuanya. Ayah dan ibuku terlalu sibuk mengurus pekerjaan mereka tanpa peduli sedikitpun kepadaku. Seperti yang kalian tau alasanku pindah adalah karena pekerjaan orang tuaku, tapi sebenarnya aku sering pindah sekolah karena ulahku yang selalu melawan. Tentu saja bukan tanpa sebab aku melakukan hal itu, aku hanya ingin mereka sedikit saja memperhatikanku, memperlakukanku selayaknya seorang anak.
Entah sudah berapa kali aku pindah sekolah, dan hasilnya pun tetap sama. Sebanyak apapun aku membuat ulah, mereka sama sekali tidak peduli padaku. Terkadang aku merasa lelah, dan ingin 'berhenti'. Tapi aku bukan orang bodoh, otakku masih bisa berpikir dengan sangat amat sehat. Bagaimana dengan teman? Dari awal sudah aku ceritakan, bahwa aku tidak pernah sempat memiliki teman ataupun mengenal mereka. Akupun juga tidak ingin terlalu terikat dengan orang.
Hari ini aku mulai masuk ke sekolah baruku, awalnya kupikir akan sama saja dengan yang dulu, tapi entah mengapa setelah bertemu dengannya, harapanku terasa tumbuh lagi. Sensei.. Naruto Sensei, amat sangat manis untuk ukuran seorang pemuda. Pemuda yang hangat. Entah kenapa otak dan tubuhku sering tidak terkontrol jika bersamanya.
.
.
.
NORMAL POV
Saat dimana semua orang tengah meninggalkan bangunan sekolah, di suatu ruang masih menyisakan 2 pemuda yang sepertinya tengah bercengkrama.
"Terima kasih banyak Naruto Sensei karena sudah mau mendengar masalahku"
"Tidak masalah, itu sudah kewajibanku sebagai seorang Guru Pembimbing"
"Kalau begitu saya permisi dulu Naruto Sensei"
"Berhati-hatilah saat pulang"
"Baik, saya permisi"
Sai membuka pintu ruangan tersebut, berniat langsung pulang karena hari sudah sore
CKLEEEK
"Eh?!" mendengar suara Sai, Naruto pun mendekatinya
"Ada apa Sai? Eh.. Sasuke? Kau masih disini?"
Terlihat Sasuke yang sedang berdiri di depan pintu ruangan itu
Seketika suasana berubah menjadi dingin, Aura-aura hitam menguar dari kedua pemuda tersebut –Sai ama Sasuke – Mata mereka berdua saling beradu, terjadi perang Glare yang tak dapat terelakkan. Sampai...
"Apa dari tadi kau berada di sini?"
"Begitulah..."
Pertanyaan Naruto mengakhiri 'acara' beradu Glare mereka.
"Kalau begitu, saya pamit dulu Naruto Sensei"
"Ah.. Iya Sai" pergilah Sai meninggalkan kedua pemuda yang berbeda umur itu di depan pintu.
"Lalu kenapa kau belum pulang"
"Kau bilang setelah urusanmu selesi kau akan menemuiku kan"
"Yah, tapi maksudku bukan berarti harus hari ini"
"Apa bagi Sensei aku juga tidak berharga?" telihat wajah sedih(?) sekaligus muram dari Sasuke #yakin tuh? (0.0)a
"Eh? Kenapa tiba-tiba kau bilang begitu.." Naruto yang melihat ekspresi Sasuke pun terheran-heran. Ada apa dengan anak ini?
"Sudahlah, aku permisi.. maaf jika aku mengganggu waktu Sensei" Sasuke mulai berjalan menjauhi Naruto
"Tu-Tunggu... Sasuke" ditariknya tangan sang Uchiha. "kau baik-baik saja kan?" tak ada jawaban dari Sasuke. Diperhatikannya pemuda yang mulai menjadi anak didiknya saat ini. "Ha~ah, wajahmu terlihat pucat, apa kau sakit?"
"Untuk apa memperdulikanku, bukankah Sensei tidak suka aku disini"
"Jangan salah paham, bukan begitu maksudku. Kau murid didikku tentu saja kau adalah tanggung jawabku"
"Lepaskan, aku ingin pulang"
KRUUYUUK *gimana suaranya? Ane kagak tau*
"Eh? Sa...suke?"
Sasuke langsung memalingkan wajahnya dari Naruto. Terlihat semburat merah menghiasi wajah tampan *yang ini keliatan* Sasuke
"Apa kau lapar?" tanya Naruto
"Ng-Nggak! Ak-Aku sama sekali nggak lapar!" tepis sang Uchiha. KRUUYUUK
Terdengar suara perut Sasuke yang berbunyi semakin kencang. Seolah cacing-cacing yang berada di dalamnya menuntut untuk diberi makan. Perut Sialan!
"Tunggu disini sebentar, aku akan membereskan barangku" Sasuke hanya menuruti permintaan Naruto "Nah ayo pergi" ditariknya tangan Sasuke untuk mengikuti Naruto.
"Memangnya mau kemana Sensei?"
"Apartemenku"
"Heh? Untuk apa?"
"Kau tidak suka makanan cepat saji kan, jadi aku akan memasak makanan untukmu"
Kedua pemuda tersebut beranjak pergi meninggalkan gedung sekolah.
.
.
.
.
.
Tak.. Tak... Tak..
Suara pisau yang sedang giat-giatnya memotong sesuatu terdengar sampai ke ruang tamu apartemen itu. Disana terlihat seorang murid SMA yang tengah duduk manis di sebuah sofa yang terbilang nyaman.
SASUKE POV
Disini. Sekarang aku berada di apartemen si Dobe. Cukup besar jika hanya untuk satu orang. Tak kusangka apartemennya cukup rapi. Kudengar samar-samar suara pisau yang entah sedang memotong sesuatu. Kuhirup aroma yang citrus yang memanjakan hidungku sejak tadi. Sungguh aroma yang menenangkan. Sama seperti aroma Naruto Sensei.
Ini adalah pertama kalinya. Pertama kalinya ada seseorang yang membuatkanku makanan buatan rumah. Bukannya aku nggak pernah makan, tapi hanya masakan dari para pembantuku yang selalu dibuat. Apa kalian bertanya soal ibuku? Beliau selalu keluar kota untuk bekerja. Pulang? Yah mungkin hanya sekitar 2 jam beliau ada di rumah dan lalu pergi lagi. Itulah yang membuatku tidak betah dirumah. Dan sekarang satu-satunya orang yang membuatku nyaman hanyalah Naruto Sensei. Karena itu, aku 'menginginkannya'.
NORMAL POV
Naruto masih sibuk dengan acara memotongnya, tanpa menyadari Sasuke telah berada tepat dibelakangnya sekarang.
"Perlu bantuan?"
"Eh?"
KRUUSSS
"Aahh" Tanpa sengaja jari Naruto teriris pisau, dan menyebabkan darah segar keluar dari jarinya.
"Sensei.. kau tidak pa-pa?"
"Tidak pa-pa, jangan khawatir ini hanya goresan kecil, setelah kubasuh pakai air pasti darahnya akan berhenti"
"Perlihatkan padaku" dengan cepat Sasuke menarik tangan Naruto, diperhatikannya jari tangan yang sudah mengeluarkan cairan merah itu dan dengan segera dihisapnya darah ke dalam mulutnya hingga jari itu berhenti mengeluarkan darah.
DEG
"Ap-Apa yang kau lakukan" dengan refleks Naruto menarik jarinya menjauh dari mulut Sasuke
"Apa Sensei punya kotak obat?"
"Ah.. itu ada diatas rak" Sasuke berjalan menjauh dari Naruto untuk mengambil kotak obat yang ada di atas rak. Ada apa denganku, jan-jantungku tidak mau berhenti berdetak *nanti mati woy* tidak mungkinkan kalau aku, Sasuke. Tidak tidak, pasti hanya karena aku kaget saja tadi. Tenanglah Naruto, tenang.
"Sensei.. biar aku obati lukamu"
"Eh?! Tidak usah, aku bisa mengobatinya sendiri"
"Tidak pa-pa, Sensei begini juga karena aku. Lagipula tangan ini Sensei gunakan untuk membuatkanku makanan kan" terukir senyum tulus yang menghiasi wajah stoicknya.
DEG "Ja-Jangan bicara begitu, aku saja yang kurang hati-hati"
Naruto terus menatap Sasuke yang sedang mengobati lukanya. Jika dilihat anak ini sama sekali berbeda dengan penjelasan Baachan tadi. Naruto mulai menelisik kembali perkataan Tsunade-sama tadi pagi.
.
=================== o0o===================
FLASHBACK
"Ba-baik akan ku lakukan" gemetar Naruto yang kini nyalinya mulai menciut
"Sebelum itu... tentang alasan anak itu pindah kemari"
"Eh?!"
"Selain karena pekerjaan ayahnya. Kudengar dari walinya jika anak itu sering membuat onar di sekolahnya yang dulu. Dia sering berkelahi dengan murid lain, bahkan dia pernah menghajar salah satu Sensei disana"
"Menghajar seorang Sensei?"
"Ya, karena itu aku memilihmu untuk membimbingnya. Kuharap kau bisa 'mengendalikan' anak itu"
"Baik, aku mengerti. Lagipula aku tidak ada pilihan lain kan hehe"
"Kuserahkan padamu"
END FLASHBACK
======================= o0o=======================
.
Dengan teliti dan cekatan, Sasuke mengobati luka Naruto. Perlahan tapi pasti tangan itu mengobati Naruto secara hati-hati.
"Sudah selesai Sensei"
"Te-Terima kasih"
"Biarkan aku membantu Sensei. Kalo dikerjakan bersama jadi lebih cepatkan"
"Baiklah, tolong kau iris itu ya"
Sasuke memperhatikan sesuatu yang akan ia potong. "Kenapa Sensei menggunakan tomat sebanyak ini?"
"Bukannya kau pernah bilang suka tomat"
"Hai" entah kenapa mood Sasuke berada pada level puncak sekarang, walaupun sepertinya dia melupakan sesuatu. Ada yang tau? Author pun tak tau XD. Kegiatan memasak mereka terus berlanjut. Memang nggak terlalu jelas, tapi terlihat mereka berdua menikmati moment itu.
.
.
.
Disisi Lain
"Kemana anak itu.. bukankah jam segini sekolah udah usai" dumel Kakashi yang masih menyusuri lorong sekolah untuk mencari sang 'majikan'. "Eh?!" terlihat seseorang yang berjalan membelakangi Kakashi sambil membawa sesuatu seperti –map– ditangannya. Kakashi mencoba mendekati orang itu, ditepuknya pundak itu dari belakang. "Maaf apa kau..."
DEG
Mata Kakashi menangkap sosok pemuda di depannya, terlihat kulit yang cukup tan, mata yang kecil, rambut diikat kebelakang. Dan sebuah luka melintang antara mata dan hidung yang membuatnya terkesan sangat 'manis'.
"Ada yang bisa kubantu?"
"Ah.. itu, aku mencari seorang murid pindahan, namanya Uchiha Sasuke. Apa kau melihatnya"
"Aku melihat banyak murid disini, apa yang kau maksud murid pindahan adalah murid yang dididik oleh Naruto Sensei?"
"Benar, Tsunade-sama yang memerintahkannya"
"Kalau begitu pasti yang bersama Naruto tadi, sebentar biar aku hubungi dia" diambilnya handphone yang berada di saku celananya, mencari sebuah kontak dengan tulisan Naruto dan segera memencet tombol 'Hubungi'. Diletakkannya Handphone itu ke telinganya. "Tut...Tut.. Tut... nomer yang anda tuju sedang tidak aktif, silahkan coba beberapa saat lagi". "Nomornya tidak aktif" ucap pria itu.
"Apa kau tau alamat Naruto Sensei?"
"Aku tau, apa mau kuantar?"
"Ti-Tidak usah, lagipula sepertinya kau ingin pulang jadi aku akan mencarinya sendiri"
"Tenang saja, tempat tinggal ku dan Naruto 'searah' jadi sekalian saja. Bagaimana?"
Lucky. Sepertinya hari ini adalah hari keberuntungan Kakashi. "Baiklah, apa kau membawa kendaraan?"
"Tidak, aku biasanya naik bus umum"
"Kalau begitu sekalian saja aku antar"
"Terima kasih"
.
.
.
.
.
"Haha maaf ya, jadinya kau malah membantuku memasak"
"Aku hanya memotong tomat Sensei"
"Yang penting masakannya sudah siap. Nah silahkan dinikmati, bilang saja kalau tidak sesuai seleramu" Naruto yang melihat Sasuke hanya terdiam dan tidak menyentuh masakannya pun sedikit terlihat khawatir. "Kenapa? Apa kau tidak menyukainya?"
"Aku hanya berpikir kalau ini pertama kalinya aku makan masakan buatan seseorang"
"Eh?! Apa ibumu tidak pernah memasak makanan untukmu?"
"Daripada memikirkanku, beliau lebih senang berkutat dengan pekerjaannya"
Merasa mood sasuke mulai memburuk Naruto menghentikan pembicaraan itu. "Ah.. lebih baik kita segera makan, sebelum masakannya menjadi dingin. Ayo makan Sasuke"
Sasuke mulai mengambil makanan dan menaruhnya di piring. Diambilnya sendok untuk membantunya memasukkan makanan kedalam mututnya nanti. Tangan itu mulai mengarahkan sendok yang sudah berisi makanan kedalam mutunya. "Eng.."
"Ba-Bagaimana? Apa tidak enak"
"Ini.. makanan terenak yang pernah kumakan" wajah Sasuke seketika dipenuhi dengan senyuman.
Mendengar masakannya disukai, Naruto pun ikut senang. "Benarkah? Syukurlah" terukir senyum lega menghiasi wajahnya. "Kalau gitu makanlah yang banyak". Sepertinya anak ini memang hanya membutuhkan kasih sayang dan perhatian.
.
.
.
"Disini apartemen Naruto Sensei" mereka pun sampai di depan pintu apartemen milik Naruto.
Ting... Tong...
Iruka menekan tombol bel yang ada di depan pintu kamar Naruto
CEKLEK
Pintu itu mulai terbuka,"Iruka Sensei...? Kakashi-san juga? Ada apa, kenapa kalian datang kemari?"
"Tadi aku sudah menelpon tapi handphone mu tidak aktif"
"Oh iya, tadi baterai ku habis jadi handphone ku mati hehe. Jadi ada apa?"
"Orang ini sedang mencari Uchiha Sasuke, apa kau tau?"
"Oh Sasuke, dia ada di dalam"
Mendengar ada yang menyebut namanya, Sasuke akhirnya bergerak menuju ke arah pintu. "Ada apa Sensei?"
"Sasuke.. Kakashi-san mencarimu"
Dilihatnya pemuda pemakai masker itu. "Untuk apa kau mencariku" ketus Sasuke
"Jangan terlalu galak, nanti tidak ada yang menyukaimu lho. Iyakan Naruto Sensei"
"Eh?! Hehehe" Naruto hanya tertawa kecut
"Aku sudah diperintahkan untuk menjaga –mengawasi– mu Sasuke"
"Che!"
"Umm, sebaiknya kita bicara didalam saja bagaimana. Ini juga sudah hampir malam" saran Naruto menengahi
"Kalau begitu aku juga mau istirahat. Hey Nar, nanti aku pinjam berkas yang Tsunade-sama berikan padamu tadi ya"
"Okeoke"
"Kalau begitu aku permisi dulu. Selamat malam"
"Tunggu.. itu... terima kasih...?"
"Iruka.. Umino Iruka" seulas senyum keluar dari Iruka
"Terima kasih banyak Iruka Sensei" Kakashi pun membalasnya dengan senyum tulus. Mata mereka saling bertemu pandang dan memberi tatapan yang tak bisa diartikan (sebenarnya hanya Kakashi sih). Sasuke yang melihat ekspresi Kakashi hanya bisa menyeringai.
"Tidak masalah Kakashi-san" Iruka mulai meninggalkan kumpulan orang itu untuk 'pulang' dan...
CEKREEKK
"Eh?" Kakashi yang melihat 'kejadian' itupun sedikit bingung
"Ah.. Aku belum memberitahumu ya, aku tinggal bersebelahan kamar dengan Naruto"
Sungguh Kakashi merasa bahwa Dewa sangat menyayanginya hari ini, bagaimana tidak dengan semua keberuntungan yang telah didapatnya.
"Nah Kakashi Sensei, ayo masuklah" suara Naruto membuyarkan lamunannya.
"Baik"
.
.
.
.
.
"Jadi.. kau sudah menemukan 'mangsa'mu?" sebuah pertanyaan keluar dari mulut Uchiha Bungsu. Sekaran mereka sedang berada dalam mobil yang akan membawa mereka pulang –kediaman Uchiha–
"Bukan mangsa, tapi tambatan hati hahaha"
"Terserahlah"
"Kau sendiri.. bukankah kau terlalu cepat menempel padanya. Jangan terlalu agresif atau kau akan kehilangannya"
"Che! Itu urusanku. Urus saja hidupmu sendiri"
"Tentu saja aku akan mengurusnya"
"Hn"
.
.
.
.
.
Mentari telah menampakkan wajah cerianya dari ufuk timur, memberi kehangatan untuk setiap makhluk hidup yang disinarinya. Tak terkecuali pemuda bersurai pirang satu ini. Dengan pasti langkahnya berjalan keluar dari apartemen tanpa lipa untuk menguncinya.
"Hm, sepertinya Iruka sudah berangkat"
NARUTO POV
Seperti biasa aku menjalani pagiku dengan berangkat bekerja. Aku adalah Namikaze Naruto 24 tahun, seorang guru pembimbing di salah satu SMA di Konoha. Beberapa hari lalu aku ditugaskan oleh nenek –Tsunade– itu untuk mendidik murid pindahan. Pertama kali bertemu, kupikir dia anak yang menyebalkan dan rumit, tapi ternyata dia hanya anak yang kekurangan kasih sayang.
Dan sejak saat itu, dia selalu keruanganku setelah pulang sekolah. Entah apa yang dipikirkannya, tapi selama dia tidak membuat ulah itu sudah cukup kan? Sudah satu minggu lebih dia pindah kesini, tapi entah kenapa aku merasa 'nyaman' dengan kehadirannya. Atau mungkin aku yang kesepian ya?
NORMAL POV
Di sebuah kediaman yang terkesan mewah tapi terasa sunyi. Hanya terlihat 2 orang pemuda, yang satu dengan rambut ravennya dan satunya berambut spike.
"Hey Sasuke.. apa kau punya sesuatu untuk dimakan? Dari kemarin aku belum makan apa-apa"
"Cari saja di kulkas Kakashi"
Kakashi membuka kulkas yang berada disampingnya. "Ah.. bukankah roti dan jus jeruk ini sudah ada dari seminggu lalu? tapi sepertinya bukan milik Sasuke" Kakashi mengambil makanan tersebut dan menuju ruang tamu. "Hey Sas, roti dan jus jeruknya aku makan ya" ucap Kakashi sembari agak berteriak, karena yang diajak bicara berada dilantai atas.
BLEETAAK
Apa kalian mendengarnya? Kalo author sih kagak #plaaak. Terlihat sang Uchiha tengah mengepalkan tangan yang mengarah keatas –kayak dikomik– dan sang Hatake sedang... meringis kesakitan? Tentu saja, karena sebuah bogem mentah baru saja mendarat dikepala Kakashi. Pelakunya? Tentu si Uchiha bungsu
"Apa yang kau lakukan" bentak Kakashi yang masih memegangi kepalanya
"Siapa yang mengizinkanmu mengambil makananku" deathglare Sasuke
"Kau bilang ambil saja di kulkas kan"
"Tapi nggak ada yang menyuruhmu mengambil roti dan jus itukan!"
"Memangnya kenapa? Bukannya makanan ini sudah seminggu lebih dikulkas, lagipula kau nggak terlalu suka jeruk kan"
"Itu milikku dan jangan pernah menyentuhnya. Mulai sekarang tomat dan jeruk adalah buah kesukaanku. Ingat itu baik-baik!"
"Lalu apa yang bisa kumakan"
"Kau makan saja tomatku"
"Heh?" cengo Kakashi. Nggak salah nih? Tumben banget dia ngebolehin tomatnya dimakan orang lain. Biasanya disentuh aja nggak boleh. "Kau yakin?"
"Hn"
"Tapi aku nggak terlalu suka tomat lho Sas.."
"KU-BI-LANG MA-KAN SA-JA TO-MAT-KU!, KA-U NG-GAK TU-LI-KAN KA-KA-SHI!" jawab Sasuke dengan penuh penekanan disetiap katanya
"Ha~ah aku mengerti" Kakashi memilih mengalah jika sang Uchiha bungsu sudah begitu. Daripada kena amuk ya mending pergi.
"Setelah selesai makan kita langsung berangkat –sekolah–"
Setiap pagi memang seperti ini, karena kedua orang tua Sasuke pasti sudah berangkat bekerja atau bahkan nggak pulang kerumah. Sedangkan anikinya sedang kuliah diluar negeri.
.
=================== o0o ==================
.
Pagi cerah di sekolahan itu. Bel sekolah belum berbunyi menandakan waktu belajar belum dimulai. Terlihat dari siswa-siswi yang datang belumlah banyak.
"Jadi... kenapa sepagi ini kau sudah keruanganku Sasuke? Apa ada hal yang penting?"
"Sangat penting, aku ingin menanyakan sesuatu Sensei"
"Sangat penting? Apa terjadi sesuatu di kelas?"
"Nggak"
"Lalu?"
"Pergilah keluar denganku, Sensei"
"Heeeehh?!" Naruto masih mencoba mencerna kata-kata Sasuke. Pergi keluar? Dia nggak sedang mengajakku ke-kencan kan? "Ehm.. itu terdengar seperti k-kau mengajakku ke-kencan. Hehehe tapi tentu saja nggak itu mungkin ka..."
"Aku memang sedang mengajakmu kencan Sensei, bagaimana?"
Naruto shock seketika. Baru kali ini ada orang –murid– yang mengajaknya kencan secara langsung. "I-Itu sepertinya aku..."
"Sensei nggak mau pergi denganku?"
"Ha~ah, bukannya aku nggak mau. Hanya aku nggak bisa melakukan itu"
"Kenapa? Apa karena aku seorang murid dan kau seorang Sensei?"
"Kau cukup paham akan hal itukan. Jadi lebih baik kau mengajak orang lain saja, lagi pula di sekolah ini kan banyak siswi yang cantik. Apa perlu kukenalkan padamu? hehehe"
"Nggak butuh! Aku nggak butuh mereka semua! Aku hanya ingin Sensei"
Hah?! Apa anak ini nggak salah bicara? Pikir Naruto yang agak kaget dengan ucapan Sasuke tadi. "Maafkan aku, tapi aku benar-benar nggak bisa"
"Kalau begitu kita buat perjanjian"
"Perjanjian? Apa maksudmu?"
"Sebentar lagi akan ada Test kan. Jika aku mendapat nilai diatas 90 di semua mata pelajaran, Sensei harus berjanji untuk pergi denganku"
"Sudah kubilang aku nggak bi.."
"Jika Sensei menolak, maka aku nggak akan megikuti semua test itu"
"Sasuke!"
"Semua keputusan ada pada Sensei"
"Kenapa kau begitu keras kepala sih" Sasuke hanya terdiam tanpa menanggapi Naruto. Matanya semakin menatap Naruto tajam. Naruto tau ia tidak punya pilihan lain, "Baiklah aku akan menuruti permintaanmu. Tapi jika kau tidak bisa mendapat nilai yang sudah kau tentukan, maka berhentilah untuk memikirkan hal seperti ini lagi"
"Hn. Aku mengerti, aku permisi dulu Sensei" dengan santai Sasuke meninggalkan ruangan itu.
"Eh.. Sasuke tunggu! Aku belum selesai bicara! Hey!" Naruto yang sudah tidak melihat Sasuke pun hanya bisa pasrah. "Ha~ah dasar anak itu. Aku sama sekali nggak mengerti apa yang dipikirkannya" Naruto kembali memandangi sekelilingnya. Gawatnya Jantungku berdebar lagi. Ingat Naruto itu muridmu. Lagipula aku lebih tua 7 tahun darinya. Kini Naruto berkutat dengan pemikirannya sendiri.
.
=================== o0o ===================
.
Diruang kelas 3-A yang masih amat ramai karena jam pelajaran pertama belum dimulai jadi belum ada Sensei yang hadir disana untuk mengajar.
Terlihat beberapa siswa-siswi sedang mengobrol, berlarian ataupun hanya sekedar tidur pagi.
"Hey Sasuke-kun, kau kan sudah seminggu lebih disini. Apa kau nggak tertarik untuk mengobrol dengan kami" pertanyaan dari gadis berambut buble gum ini memecah lamunan Sasuke
"Aku sama sekali nggak tertarik"
"Emm jadi, Apa kau sudah belajar untuk ujian hari ini Sasuke-kun?"
"Aku sudah mempersiapkan diriku 'sebaik mungkin' jadi menjauhlah dariku"
"Akh walaupun kau terkesan dingin tapi tetap saja mempesona"
Ini cewek gila apa strees sih, pikir Sasuke (emang gila ama strees beda ya? #plaaak). Sasuke terus diam dan memilih untuk melanjutkan lamunan indahnya tentang hari esok (?) tanpa berniat membalas obrolan Sakura
Ding... Ding... Ding...
Bel tanda pelajaran pertama dimulai telah berbunyi. Semua Sensei segera meninggalkan kantor mereka untuk menuju ke kelas masing-masing mengajar mata pelajaran yang dikuasainya –termasuk Naruto–
SREEEKK
Suara pintu kelas terdengar bergeser. Memperlihatkan sesosok pemuda yang tengah berdiri disana.
"Naruto Sensei"
Hanya dengan dua kata itu semua murid didalam kelas langsung mengambil posisi duduk di bangku masing-masing.
"Kalian tau kan bahwa hari ini adalah dimulainya test pertama kalian, jadi aku harap kalian sudah mempersiapkan diri"
Naruto mulai membagikan lembar soal kepada para muridnya. "Waktu kalian 2 jam untuk mengerjakannya. Dilarang mencontek atau melakukan kecurangan lainnya jika kalian tidak mau kertas jawabannya kuambil. Nah selamat mengerjakan"
Dengan dimulainya aba-aba dari Naruto, para siswa-siswi pun mulai mengerjakan soal yang diberikan. Ekor mata Naruto kini perlahan mengarah pada Sasuke. Kantung matanya hitam banget, apa semalam dia begadang karena belajar? Huh anak itu benar-benar keras kepala.
Sekilas Sasuke menatap kearah Naruto. Mata mereka bertemu dan disertai senyuman dari Sasuke, tak terlalu lama sampai Sasuke kembali berkutat dengan kertas soalnya. Ukh lagi-lagi jantungku... Sepertinya aku harus rajin menasehati diriku sendiri.
Dan akankah perjuangan Uchiha kita akan berhasil untuk mendapatkan keinginannya? Atau akan gagal dengan mengenaskan? Kita liat saja di chapter berikutnya yak :D
To Be Continue
Beribu-ribu Terima Kasih ane ucapkan kepada semua Readers yang udah nyempetin n meluangkan waktunya untuk baca fic ane yang penuh kekurangan ini.
Terutama buat semua yang udah Reviews (maap nggak bisa disebutin satu per satu). Ane terima dengan –sangat– senang hati semua Kritik, Saran, Semangat dan Pujiannya –abaikan kata terakhir–
Maap juga belum bisa menuhin keinginan Readers untuk update kilat, dikarenakan ada beberapa alur yang harus ane ubah biar nggak terlalu melenceng ceritanya. GOMEN SANGAT (w) –salahkan juga modem ane yang bermasalah, hingga menyebabkan mood ane buat ngelanjutin fic ilang seketika– (-_-)"
Tapi semoga Minna nggak bosen nunggunya #plaaaak
Sampai ketemu di fic selanjutnya yak. JAA (^0^)/
