Chap 2 up date
Disclaimer∶ Masashi Kishimoto
Tenebrae Factae sacrificium
"Syaratnya adalah... seperti yang kemarin." Kata Shion. Sasuke hanya mendengus dan menyeringai. Tapi itu tidak bertahan lama. Kemudian ia mengeluarkan sebuah kantung dari sakunya. Ia lemparkan kantung itu ke arah Shion. Shionpun menerimanya dengan baik.
"Sasuke-kun. Kau sama sekali tidak takut apa yang akan kau lakukan bukan? Bisa-bisa bila mereka mengetahui ynag sebenarnya kau yang akan di masukan ke dalam kegelapan" Kata Shion sambil terseyum lembut.
"Untuk itulah aku memberikan kantung itu padamu bukan setelah kau mengatakan yang sebenarnya. Kau meminta darah orang yang berdosa, bangkai merpati putih, dan sekarang kau meminta Mortui puluere*... Sebenarnya untuk apa benda-benda tersebut?" Tanya Sasuke.
"Untuk apa? Aku akan membuat jimat untukmu Sasuke-kun. Dan ini akan selesai ketika korban keempat telah di korbankan. Agar mereka tidak menaruh curiga terhadapmu. Kegelapan hanya menerima hati manusia yang tenggelam secara murni, bukan karena kebohongan belaka. Bila mereka mengetahui itu kau akan dihukum Sasuke-kun. Sebagai seorang adoratores tenebrae* akupun juga akan mati bila semua ini terbongkar" Jelas Shion. "Lagi pula karena kau akan memasukan kakakmu yang amat kau sayangi itu ke dalam kegelapan"
"Aku sama sekali tidak peduli terhadap itu. Yamanaka Ino, dan seorang penjahat itu! Sudah membuat aku terpisah dari dia untuk selama-lamanya. Maka mereka harus menerima ganjarannya! Dan sekarang Itachi adalah dalang pertama yang mengusulkan kepada orang tuaku untuk pergi meninggalkannya dengan surat palsu itu! Aku sama sekali tidak bisa menerimanya!" Teriak Sasuke.
Shion kini hanya memandangi Sasuke kemudian ia menghela napas. Kemudian ia beralan untuk mengambil sesuatu dari balik tas besar yang ia bawa. Ia mengeluarkan seperti kapur putih dan mengambar sebuah bintang terbalik dalam lingkaran. Shion kemudian berdiri di tengahnya.
"Kita mulai... deum tenebrae*...vide cor hominis*..." Ucap Shion dan gambar itu seketika berubah menjadi berwarna merah menyala dan memancarkan kekuatan yang besar ke udara luas. Kedua tangan Shion terangkat, ia menatap ke arah langit. "Responde tenebrae cordis! Cor Tenebrae... cor peccatum... Cape in tenebrae Uchiha Itachi!*" Teriak Shion. Dan di sana mulai terdengar suara teriakan-teriakan. Bayangan hitam itu mulai keluar dan terhisap kembali ke dimensi lain. Dan semua itu berakhir.
Shion jatuh berlutut dengan napasnya yang tersenggal-senggal. Sementara Sasuke hanya menatap Shion dengan seringaian dan kemudian pergi meninggalkan Shion sendiri di atas atap itu. Shion kembali berdiri dan menatap pintu yang tertutup oleh Sasuke itu.
"Sejak kau kuberi tahu tentang kegelapan... kau menjadi bagian dari kegelapan itu sendiri. Berhati-hatilah... Sasuke-kun. Mereka akan segera menjemputmu..." Kata Shion pelan. "Korban keempat telah diambil... selanjutnya adalah sang pengirim..."
Sementara itu Sasuke berjalan di lorong sekolahnya sambil tidak terlalu memperhatikan teriakan Fans Girl-nya itu. Pikirannya hanya tertuju pada seseorang di masa lalu. Korban pertama, kedua dan ketiga. Serta korban terakhir. Setidaknya Sasuke tidak sekejam untuk menjebloskan orang tuanya ke dalam kegelapan.
"Sasuke-kun..." Panggil Sakura dari belakang. Sasuke sempat menghentikan langkahnya dan menatap gadis berambut pink itu.
"Tentang pembicaraan kita yang tadi..." Kata Sakura lagi.
"Semua itu hanya bualan belaka saja. Tidak usah kau pikirkan!" Jawab Sasuke kemudian meninggalkan Sakura yang terdiam sejenak dengan hasil dari jawaban Sasuke tadi.
XXX
"Apa maksudmu... Sai?" Mata Naruto terbelak dengan perkataan Sai. Sai kembali terseyum palsu dan menatap mata tuannya itu.
"Uchiha Sasuke. Seorang manusia telah memasukan jiwa belum layak untuk masuk ke dalam dunia kita yang hina ini. Tuanku Naruto" Jawab Sai. Naruto kembali dengan ekspresi datarnya. Ia kembali menatap keluar jendela.
"Ini sudah melanggar hukum kegelapan! Jika saatnya tiba. Bawa dia kehadapanku!" Perintah Naruto. Sai hanya menunduk hormat ke arah Naruto dan kemudian pergi meninggalkannya sendiri. Naruto kembali merenungi perkataan Sai. Sulit baginya untu mempercayai apa yang sebenarnya terjadi.
"Hati suci menjadi ternoda, kematian sebagai gantinya. Aliran sungai merah yang kental, membawa jiwa-jiwa menuju lubang keputus asaan tanpa dasar... Sasuke... itulah kau sekarang?" Ucap Naruto dalam hatinya.
Naruto kini berada di pinggir air terjun merah itu. Dari jarak yang sedekat itu ia mampu mendengar jeritan-jeritan itu dengan jelas. Jeritan akan kematian, jeritan akan penyesalan. Jeritan akan keegoisan. Semua itu mampu membuat Naruto muak dan ingin sekali menyumbat jeritan-jeritan itu. Agar tak ada lagi yang bisa mengganggu ketenangannya. Sejanak Naruto menatap bulan merah yang bercahaya terang itu.
"Saat bulan purnama sudah di puncak... adalah saat kami untuk memakan jiwa murni..." Ucap Naruto lagi kemudian menghilang di antara angin dingin yang berhembus.
Namun... ia hanya hati yang ternoda
Sasuke kini sedang duduk di antara kursi-kursi. Bersama dengan kedua orang tuanya dan kakaknya. Efeknya memang tidak begitu nampak bagi mereka yang tidak memiliki masalah batin dengan kegelapan. Maka itu Sasuke hanya mendengus kesal saja. Mereka sedang menonton sebuah pertunjukan ochestra. Kini seorang Dirigent sudah naik ke panggung dan menunduk kemudian berbalik dan mempersiapkan. Dan musikpun di mulai. Dia sungguh mengahayati musik yang keluar. Mengalun pelan. Namun musik itu terdengar sedikit aneh. Pertunjukan itu di tambah dengan para paduan suara. Mungkin bagi semua yang hadir sangat menikmati pertunjukan itu. Tapi tidak bagi Sasuke yang mendengarnya.
Ketakutan...
Kehilangan...
Tujuan...
Hati ternoda...
Tak layak...
For every man there is a cause which he would proudly die for
Defend the right to have a place for which he can belong to
And if we go and fight, we face their hearts in desperation
and shed his blood to stem the flood of an impending invasion
Keringat dingin mulai membaciri pelipis Sasuke. Detak jantungan menjadi cepat. Tangan yang berkeringat dan gemetar. Sasuke menggigit bibir bawahnya. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Perasaannya menjadi tidak menentu. Bisikan-bisikan itu terdengar lagi dan mengiang di telingannya. Semakin lama, semakin jelas dan jelas.
Lagu yang pertama telah berakhir. Dan sekarang giliran lagu yang berikutnya. Bila kau sadar lagu itu terdengar seperti lagu untuk requiem. Unsur gothicnya benar-benar terasa.
I can tell that you've never been true to me
I can smell that you're acting so fearfully
I can hear what you're hoping I want to hear
I can feel the alarm bells are ringing in me
I can touch but I know you don't feel a thing
I can pray but I know you commit a sin
I can sense now it's all become clear to see
You're no good, and you mean no good, treacherously
Dan setelah lagu kedua telah berakhir. Tepuk tangan meriah dari para penonton sudah tak terdengar. Lenyaplah terang dalam diri Sasuke. Semua telah menjadi gelap. Jauh lebih pekat dari sebelumnya. Jauh-jauh ke dasar. Dari hati yang tak layak.
"Sasuke! Kau kenapa nak!" Teriak Fugaku dan memapah Sasuke yang tiba-tiba saja terjatuh tak sadarkan diri dengan mata yang tebuka, menampakan tatapan ketakutan yang amat sangat. Sementara Mikoto sudah berteriak histeris melihat putra bungsunya seperti itu.
"Itachi! Bantu ayah!" Perintah Fugaku dan mereka berdua menggendong Sasuke keluar dari gedung pertunjukan. Mikoto dengan cekatan segera memanggil ambulance. Sasuke segera di bawa pergi dari sana.
'Kau sudah kuperingatkan... Sasuke-kun...'
Sasuke perlahan membuka matanya. Cahaya lampu itu benar-benar menyialukan. Sasuke berada sendiri di sebuah ruangan. Ia kemudian berusaha untuk bangun dan duduk di ranjang itu. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dan tatapannya berakhir pada gadis berambut pirang yang tiba-tiba sudah berada di dalam ruangan. Sasuke hanya menatap dengan pandangan biasa. Tidak terkejut, tidak takut, ataupun tidak merasakan apapun.
"Kau sudah kuperingatkan... Sasuke-kun" Katanya mendekati pemuda itu.
"Lalu..." Kata Sasuke.
"Mereka akan segera datang..." Kata Shion dengan nada yang pelan.
"... Di mana orang tuaku dan kakakku?" Tanya Sasuke.
"Pulang" Jawab Shion cepat.
"Kau berbohong padaku bukan..." Kata Sasuke. Shion hanya menatap Sasuke dengan bingungnya. Pemuda itu, Sasuke menatap bola mata Shion secara dalam. "Itachi... sama sekali tidak kau masukan ke dalam kegelapan bukan..." Kata Sasuke lagi. Kali ini Shion benar-benar terkejut. Tapi suaranya tak bisa keluar karena Sasuke, kini mencekik lehernya dengan kuat.
"Sa-sasuke... k-kun..." Ucap Shion terbata-bata. Sasuke sedikit melonggarkan cekikannya pada Shion. Dan gadis itu akhirnya bisa sedikitnya berbicara. "Semalam... A-aku menerima sebuah perintah... Da-dari Sai-sama. Untuk memasukanmu ke dalam kegelapan. Agar kau... Bi-bisa diadili...!" Kata Shion.
Sasuke yang mendengarnya hanya bisa terdiam dalam keterkejutan. Setelah itu lampu ruangan itu mati. Meninggalkan gelap dalam naungan cahaya bulan purnama. Sasuke melepaskan tangannya dari Shion yang juga perlahan mundur menjauhi tubuh Sasuke.
"Sudah tiba! MEREKA DATANG!" Teriak Shion histeris. Lampu ruangan itu mendadak pecah, jatuh ke lantai dan atas ranjang Sasuke. Sasuke segera bangun, berjalan kearah pintu keluar, namun... pintu itu terkunci. Sasuke kini mulai ketakutan. Napasnya kian lama kian memburu. Sementara Shion masih diam di posisinya.
"Shion!" Teriak Sasuke. Shion masih tidak bergeming. Kaca-kaca jendela itu mulai bergetar dan akhirnya pecah. Serpihan-serpihan kaca itu berterbangan dan berhasil melukai Shion yang tidak dapat bergerak. Shion tewas seketika di sana. Sementara Sasuke sudah sangat panik dan ketakutan. Mahluk itu sudah berada di dalam ruangan. Mahluk yang berjubah hitam, beraurakan dingin sedingin es. Dan ia seperti membawa sebuah pedang dengan batu ruby di pegangannya. Suara gesekan antara pedang dan lantai itu mengalun kasar dan mengerikan. Semakin lama... semakin dekat... dekat... dekat!
Sasuke...
Sasuke membelakan matanya sebelum seluruh kegelapan memakan tubuhnya. Tubuh itu telah jatuh ke dalam lubang keputusasaan. Gelap, tanpa celah, tanpa harapan.
Naruto... sebelum aku datang... aku mendengar namamu memanggilku... Sekali lagi.. bila aku dapat... panggilah... namaku...
NARUTO!
"Sasuke..." Ucap Naruto yang berada masih di samping sungai merah itu. Alisnya sedikit mengkerut dan ia menatap dalam permukaan air yang merah itu. Perlahan, Naruto menggigit bibir bawahnya. Hatinya berkecamuk. Serasa ada sesuatu yang berbeda. Ia tak boleh merasakan hal ini. Ia tak boleh lagi memiliki perasaan dan ekspresi. Tak boleh... tak boleh lagi. Naruto kembali tertunduk menatap aliran sungai itu.
"Tuanku..." Panggil Sai dari belakang. Naruto tak bergeming. Tetap terpaku menatap sungai merah itu.
"Tu..."
"Aku tak akan memanggil namanya..." Kata Naruto kemudian berbalik menatap mata Sai. "... Jangan bawa dia ke dalam keputus asaan dan penantian yang sia-sia. Karena ini adalah keputusanku" Kata Naruto lagi. Sai hanya mengangguk kemudian pergi dari hadapan Naruto. "Ya... benar... penantian yang sia-sia..."
XXX
"Cih! Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Tuan Naruto?" Kata Sai bersandar pada pohon, jauh dari tempat Naruto berada tadi. Di hadapanya kini berdiri seorang mungkin lebih layak disebut seekor monster. Setengah hiu dan manusia. Hoshikagi Kisame.
"Kekekekeh... Untuk apa kau pikirkan itu Sai? Kita ini hanya pelayan untuknya. Perintahnya adalah yang menentukan apakah kita dibuang atau tidak" Kata Kisame sambil sedikit tertawa lagi.
"Lalu apa yang akan kita lakukan dengan hati anak itu? Sudah terlanjur aku bawa..." Kata Sai tanpa ekspresi.
"Hah? Kembalikan saja dia!" Kata Kisame enteng. Sai hanya menaikan sebelah alisnnya. "Akan aku tanyakan pada Kakashi... Lagi pula bila Tuan Naruto tidak ingin menghukumnya... Ia hanya menjadi sampah!" Kata Sai kemudian pergi meninggalkan Kisame.
"... Kekekekeh! Sepertinya aku lupa untuk menyiapkan hidangan jiwa murni untuk Tuan Naruto..." Setelah itu Kisame menghilang. Sementara itu, Sai sudah mencapai sebuah lorong Istana Kegelapan dan memasuki sebuah pintu berukiran Hexagram. Suara deritan dari pintu itu menggema sebelum pintu itu berdebum keras ketika tertutup sendiri.
"Kakashi!" Panggil Sai. Kakashi sama sekali tidak menatap mata kelam itu. Hanya menjawab dengan suara pelan dan tidak niat. Sai berjalan mendekati kakashi yang duduk di kursinya, memukul keras meja kerja Kakashi agar Kakashi mau menatapnya.
"Tidak perlu memukul meja segala bukan?" Tanya Kakashi datar masih belum mau melihat Sai.
"Bukankah bila berbicara kita harus menatap lawan bicara?" Tanya Sai dengan seyum palsunya itu. "Dan juga jangan perlakukan aku seakan kau adalah tuanku Kakashi!" Ucap Sai dengan penekanan di setiap kata yang ia ucapkan. Kakashi akhinya menatap mata lawan bicaranya itu dengan malas.
"Ada apa kau menemuiku?" Tanya Kakashi masih dengan nada malas.
"Anak itu! Apa sebenarnya hubungan anak itu dengan Tuan Naruto?" Tanya Sai langsung pada intinya.
"Siapa?"
"Uchiha Sasuke"
"O... anak itu? Anak yang baru kau bawa bukan? Maksudku hatinya... ada apa kau menanyakan hal itu padaku?" Tanya Kakashi lagi masih belum terlalu tertarik dengan pembicaraan yang ia lakukan sebelum ia mennyeringai dan bangkit dari kursinya dan mengambil sebuah buku usang dan membuka lembaran buku itu. "Kau belum menjawab pertanyaanku Sai" Kata Kakashi dengan nada yang mempermainkan.
"Aku hanya penasaran saja... Tuan Naruto tidak ingin menghukumnya dengan begitu ia bukanlah Damnati . Apa yang harus aku lakukan? Mengembalikannya? Atau menjadikannya sampah!" Kata Sai ketus. "Siapa dia?"
"... Uchiha Sasuke... Putra bungsu keluarga Uchiha, dengan bantuan salah seorang adoratores tenebrae , ia memberikan kita hati busuk itu. Kejahatan tingkat tinggi. Dan juga... masa lalu Tuan Naruto" Kata Kakashi sambil menyeringai menatap Sai. "Sudah puas?" Tanya Kakashi masih dengan nada yang mempermainkan.
"Jadi bisa dibilang... Tuan Naruto... mengikat perasaan dengannya?" Kata Sai.
"Entalah.. hanya Tuan Naruto sendiri yang tahu... Dan kau pasti tahu bahwa aku tidak suka ada sebuah sampah yang mengkotori tempat ini. Lebih baik kau bawa saja dia kembali dengan izin Tuan Naruto" Kata Kakashi. Sai mengangguk dan kemudian pergi.
"Sepertinya aku tak perlu memberi tahukan ini padamu Sai. Biar Tuanku saja yang mengatakannya..."
XXX
Sasuke
Kau di mana
Kau di mana... Sasuke...!
Apakah aku bisa melihat wajahmu lagi? Apakah aku bisa menyentuhmu lagi?
Tanpa mempedulikan apapun...
Aku tak bisa memanggilmu agar kau bisa mendengarku... Aku tak bisa memanggilmu agar datang padaku...
Sasuke
Jangan... Jangan datang...
Karena rasa sakit ini... pasti akan terulang kembali... rasa sakit ini... akan terulang kembali...
TBC
Baiklah... Saatnya untuk translate
Mortui puluereartinya serbuk kematian
adoratores tenebrae artinya pemuja kegelapan
deum tenebrae, vide cor hominis , Responde tenebrae cordis! Cor Tenebrae... cor peccatum... Cape in tenebrae Uchiha Itachi!
Artinya
Dewa kegelapan, pandanglah hati manusia, jawablah kegelapan mereka! Hati kegelapan... hati ternoda... masukan ke dalam kegelapan Uchiha Itachi!
Damnati artinya terhukum
Dua lyric lagu di atas diambil dari lagu Theme Song BLEACH. Yang pertama berjudul Invasion dan yang kedua berjudul Treachery. Kalau pingin lagunya silahkan download di 4shared. Ambil yang judulnya seperti ini
Bleach_OST_Invasion_&_Treachery
Terima kasih bila sudah membaca dan juga mereview.
Chap 3 mungkin akan di update sedikit lama.
