He Is My Uke by Fu For Fujoshi..

Naruto by Masashi Kishimoto..

Pair: NaruSasu xxxSasu

Warn: BL/Yaoi/Sho-ai, OOC, AU, abal, dll.

._._. X ._._.

"Ada apa ini?" Suara serak namun lantang itu rupanya mampu membuat pandangan dua pemuda berbeda itu tertuju pada si pemilik suara.

"Naruto!" raut kelegaan terpancar dari wajah mempesona Sasuke ketika melihat sosok kekasihnya itu muncul. Biru safir milik Naruto memandang cemas ke arah Sasuke, lalu bergerak kembali untuk menatap garang pria berambut coklat yang tersenyum boyish ke arah mereka berdua. "Kau lagi?" alis Naruto berpautan satu sama lain, ia agak terkejut karena kehadiran lelaki itu.

"Yo Naruto-senpai. Senang bisa melihatmu, perkenalkan, aku Inuzuka Kiba. Siswa kelas 1 di KHS, sekaligus juniormu," pemuda bertato segitiga terbalik di kedua sisi pipinya itu membungkukkan badan. "Aku pindahan dari Amerika, datang kesini untuk menjajal peruntungan di dunia hiburan, dan pekerjaan pertamaku adalah merebut Sasuke-Senpai dari milikmu, Naruto-Senpai.." tanpa tedeng aling-aling, pemuda itu terus berbicara. Rautnya wajahnya yang santai tadi berubah menjadi serius saat mengucapkan kalimatnya yang terakhir.

Sasuke terpukau mendengar penjelasan adik kelasnya itu, dan Naruto, pemuda pirang itu membalas, "Merebut Sasuke dariku ya? Menarik sekali, Inuzuka-kun," ia menyeringai. "Tapi, apa kau bisa melakukan hal itu? Sasuke milikku, dia Ukeku, dia mencintaiku dan begitu pula diriku, kehadiranmu tidak akan sedikitpun mengusik hubungan kami," dengan tegas, pria berkulit tan itu berujar.

"Ahahaha," Kiba tertawa lepas, membuat Sasuke yang sempat terharu oleh penyataan Naruto tadi menganga lebar.

"Sasuke-Senpai memang Ukemu, untuk saat ini. Tapi aku punya banyak trik untuk merebutnya darimu, menjadikan dia milikku, membuatnya jatuh hati padaku, dan membuatnya lupa dan benci padamu, Senpai."

Naruto terkesiap mendengar ucapan laki-laki yang sedang berdiri satu meter dari hadapannya. Lalu ia tersenyum tipis, "Baiklah, kita buktikan siapa yang lebih pantas memiliki Sasuke."

"Tentu saja, Naruto-senpai-"

"Karena Sasuke.. adalah ukeku!" seru Naruto dan Kiba bersamaan.

JLEP

Jantung Sasuke seakan ditusuk oleh sebilah katana hingga menembus punggungnya. Coba bayangkan, dua orang pria, bersaing hanya untuk menentukan siapa yang lebih pantas untuknya. Memalukan. Apalagi, seharusnya semua sudah tau jika Sasuke milik Naruto yang sah. Mereka sudah resmi pacaran. Lagu soundtrack yang mereka nyanyikan duet sebulan yang lalu juga sebagai bukti jika Naruto dan Sasuke sudah terikat dalam satu hubungan. Tapi, kenapa sekarang Naruto mengatakan pada Kiba jika ia mau bertanding memperebutkan dirinya? Seakan-akan, tak ada ikatan yang terjadi diantara dirinya di si pirang.

"Ukh..." Sasuke mengurut keningnya. Pening rasanya memikirkan rentetan kejadian yang seharian ini.

Pluk

Sasuke mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Naruto, "Ayo kita pulang Sasuke, kita ada yang harus aku siapkan."

Heran, tentu saja Sasuke reflek memasang ekpresi seperti itu. 'Memangnya, saat aku melamun tadi apa yang dibicarakan oleh mereka?' pikir Sasuke, agak menyesal kenapa ia harus berpikir yang tidak-tidak disaat genting seperti tadi.

._._. X ._._.

Esok paginya, Sasuke yang sedang sibuk menyalin beberapa materi pelajaran dari buku yang baru saja ia pinjam, mendadak menjadi pucat saat seorang pemuda berambut coklat dengan tato merah berbentuk segita muncul di depannya.

"Ohayo, Sasuke-senpai.." sambil tersenyum, pemuda itu menyapanya. Pengendalian diri yang menjadi trademark Uchiha sepertinya tidak berlaku jika Sasuke sudah berhadapan dengan pemuda yang satu itu. Karena, tiba-tiba saja Sasuke bangkit dari duduknya, menggebrak meja lalu berkata, "Mau apa kau?"

"Ahaha.. pagi-pagi sudah galak begitu. Senpai sadar tidak sih, wajah yang menurut 'Suke-senpai sudah paling seram, terlihat sangat manis dan lucu menurutku lho," tanpa ragu Kiba berkata demikian. Dan beberapa rekan-rekan Sasuke baik laki-laki atau perempuan sepertinya setuju dengan pendapat Kiba barusan.

"Kau!" Sasuke mengerang kesal. Ia tidak menyangka, tatapan membunuhnya tidak mempan untuk menghadapi bocah yang setahun lebih muda darinya. Kiba mendekati Sasuke, yang berdiri satu meter di depannya, sebab saat ini suatu benda bernama meja sedang menghalangi jarak keduanya, "Aku kesini tidak bermaksud untuk menggodamu, aku hanya ingin mengingatkan, kalau nanti siang, ada jadwal pemotretan untuk cover film terbaru kita," masih tersenyum, Kiba berujar demikian.

Sasuke berdecih, "Memang aku sudah tua sampai kau ingatkan begitu, lagipula, kau bukan managerku yang seenaknya mengatur jadwalku, Baka!" desis Sasuke, sembari menahan amarah yang membucah di ubun-ubun. Kiba menatap Sasuke dengan tatapan tajam yang menyelidik, dan dalam sekejap mata, Kiba mendorong pundak mungil Sasuke, mendekat kepadanya. Lalu...

Cup

Satu sentuhan bibirnya di bibir Sasuke, mampu membuat si raven terkesiap, mematung sesaat, lalu meraung sekencang-kencangnya...

"AKAN KUBUNUH KAU KIBAAAA!" teriaknya pada Kiba yang sudah berlari riang meninggalkan ruang kelas Sasuke yang mendadak hening dan dipenuhi oleh gesekan sayap jangkrik yang menimbulkan suara 'krik-krik-krik' karena para penghuninya speechless usai disuguhi adegan yaoi pagi-pagi. Dan suara deru nafas Sasuke yang naik turun tak terkendali, menjadi suara ylain yang dapat didengar.

.

.

.

Sasuke yang sedang bertelanjang dada tengah terbaring di atas lantai. Ekpresi wajahnya nampak memelas dan terkesan memohon, saat seorang pemuda berambut coklat tengah mendindih dan menjilati pipi kenyalnya yang halus. Sementara seorang lagi yang berambut pirang sedang mengulum jari telujukknya yang terulur untuk menahan dada pemuda berambut coklat itu. Dan...

CKLIK CKLIK CKLIK

Posisinya ketiga pemuda itu berubah usai mendengar bunyi kamera yang sedaritadi mengabadikan momen langkah itu. Yah, sesuai jadwal siang ini, Naruto dan yang lain sedang sibuk melakukan pemotretan. Percaya atau tidak, saat ini, baik Naruto ataupun Kiba merasa bahagia, dapat berpose sedikit panas dengan Sasuke. Beruntungnya lagi, mereka, terutama Kiba bisa menjamah tubuh Uke incarannya. Seperti sekarang, saat Kiba, merangkul Sasuke yang tengah menengadah sambil bertelanjang dada dari depan, sementara lidah Kiba seakan-akan membuat kissmark di leher jenjang Sasuke yang tetap dengan ekpresi mengiba. Makin nampak nyata karena rona merah di pipi Sasuke. Walau semua berjalan lancar, ada satu orang yang merasa dirugikan saat ini. Yah, siapa lagi kalau bukan Sasuke. Ok, jika sang Seme yang memeluk atau menyentuhnya, tapi jika yang menyentuhnya saat ini Kiba, tentu saja ia tidak akan rela.

.

.

.

Brugh

Sejam usai pemotretan, Sasuke segera mengenakan kembali pakaiannya dan mengistirahatkan badannya dengan duduk di atas sofa yang di ruang ganti artis. Ia masih menyesali nasib sialnya hari, berpose dengan Kiba merupakan pekerjaan yang paling buruk baginya.

Saat ini, Sasuke sedang mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah, sumpah ia merutuki sang matahari yang sudah membuatnya gerah sampai seperti ini.

"Minum Sasuke/Senpai." Reflek Sasuke mengangkat wajahnya, menatap dua pria yang tengah berdiri di depannya, sambil menyodorkan sekaleng jus dengan rasa yang berbeda. Jus tomat di tangan Kiba, dan jus jeruk dalam genggaman Naruto.

Glek

Sasuke menelan ludah paksa. Ia dalam dilema terbesar saat ini, dimana pria yang sangat ingin ia musnahkan tengah membawa jus tomat kesukaannya, sementara pemuda blonde yang ia cintai malah menyodorkan jus jeruk yang berasa asam kepadanya.

'Dunia tidak adil,' umpat Sasuke. Ia bingung, memilih antara tomat dan jeruk, minuman faforit, atau harga diri. Memilih antara Kiba atau Naruto. 'Ukh... Sial,' usai menggeram begitu, Sasuke langsung menyomot jus dalam kaleng yang disodorkan oleh Naruto.

'Yes! Untung Sasuke memilih jeruk!' sorak Naruto dalam hati.

Kiba menautkan alis, "Wah, kupikir 'Suke-senpai suka jus tomat, rupanya aku salah ya?" celetuknya sambil menatap Sasuke yang melotot padanya. "Berarti, Otobiografi tentang Senpai yang kubaca dari internet itu salah dong?"

Naruto menimpali, "Hh, tidak ada yang benar jika kau tidak langsung bertanya pada si-empunya."

"Hum.. begitu ya?" dengan tatapan polos tak berdosa Kiba berucap. "Oke, akan kuingat dalam otakku, Sasuke-senpai rela menolak jus tomat kesukaannya, hanya karena malu dianggap suka pada Inuzuka Kiba, sang Kouhai..."

Blusshh

Sungguh, wajah Sasuke sudah semerah apel saat ini. Ia mengepalkan jemarinya kuat-kuat, tidak menyangka jika Kiba bisa membaca isi pikirannya.

"Kau menyebalkan Kiba!" gumam Sasuke dengan nada penekanan. "Aku benci padamu!"

"Ahahaha, jangan terlalu membenciku 'Suke-senpai, nanti aku tidak mau bertanggung jawab jika tiba-tiba kau jatuh hati padaku."

Bhuug

Akhirnya, tonjokkan itu mendarat juga di wajah Kiba, membuat pemuda itu jatuh tersungkur seketika.

"BRENGSEK, DENGARKAN KALIMATKU, BAIK-BAIK! AKU-TIDAK-AKAN-PERNAH-JATUH CINTA-PADAMU!" Sasuke memperjelas ucapannya, ia benar-benar marah saat ini.

"Tenang Sasuke," Naruto menyentuh pundak sang Uke, yang sedang naik turun seirama dengan deru nafasnya.

Sementara Kiba, masih tetap dengan wajah tak gentar, dan senyum boyish khasnya ia berdiri, lalu menghapus darah disudut bibirnya. "Yah, tidak masalah kalau kau menolakku sekarang, tapi aku berjanji akan menaklukkanmu Sasuke-senpai," katanya sebelum berlalu dari hadapan dua orang itu. Dan seandainya kerongkongan Sasuke tidak dilanda rasa haus yang luar biasa, ia pasti sudah melemparkan kaleng minumannya tepat ke kepala si Inuzuka itu.

.

.

.

.

Menghabiskan sepanjang malam dengan duduk begadang di tepi jendela apartemen adalah hal yang tak pernah terpikirkan oleh Sasuke. Sebab, pemuda itu sendiri juga sibuk memikirkan betapa menyebalkan, keras kepala, dan brengseknya si Inuzuka Kiba itu. Tapi, yang paling menganggu adalah, kenapa pria itu begitu menginginkan dirinya, oke dia memang terlalu percaya diri, hanya saja tidakkah si Inuzuka itu mengerti kata 'Milik Naruto', atau 'Sasuke Uke Naruto', apa dia tidak paham akan hal itu. Dan Naruto, kenapa kekasihnya yang super cool itu malah menyetujui untuk memperebutkan ulang tentang siapa yang lebih cocok bersanding denganya. Bukankah semua sudah jelas, Sasuke hanya untuk Naruto, bukan yang lain.

'Oh, Kami-sama.. jangan buat rambutku rontok hanya karena masalah ini,' pinta Sasuke, ditengah keputusasaannya.

"Kau tidak apa Sasuke?" Naruto yang baru saja muncul dari kamar mandi reflek bertanya seperti itu, sebab saat ia keluar tadi, iris shappirenya sedang melihat Sasuke yang ingin sekali membenturkan kepalanya ke kusen jendela.

"Menurutmu?" Sasuke bertanya balik.

Tak segera menjawab, Naruto malah berjalan menghampiri Sasuke, mengecup puncak kepala si raven usai mengalungkan kedua lengan kekarnya di leher si pemuda, "Kau kelihatan tertekan, ada masalah ya?"

Sasuke mendengus, apa wajar Naruto bertanya seperti itu sementara ia juga salah satu biang keladi membuatnya stres seperti ini.

"Kau menyebalkan Naruto!" Menautkan alis, pemuda berambut kuning itu heran kenapa sang Uke mengatakan hal itu. "Harusnya kau itu tidak perlu menerima tantangan Aho-Kiba, dan sebagai kekasihku harusnya kau mengatakan padanya jika 'aku milikmu dan tidak akan menyerahkanku padanya'. Dengan kau menyetujui tantangan itu, aku jadi berpikir jika kau hanya setengah hati mencintaiku," kata Sasuke dengan nada sendu.

Naruto menghela nafas, di tariknya tubuh Sasuke usai melepaskan dekapannya, memutar tubuh ramping sang raven hingga saling berhadapan. "Aku menerima tantangannya karena aku ingin tau setangguh apa dia. Aku sangat mencintaimu Sasu-chan, kau adalah Ukeku. Aku sangat tidak rela jika ada orang yang ingin merebutmu dariku," dibingkainya pipi pucat Sasuke yang beberapa senti lebih pendek darinya.

"Tapi, kalau seandainya usaha Aho-Kiba berhasil, kau mau apa?"

Naruto menempelkan keningnya di kening Sasuke yang tertutupi poni, "Tentu saja aku akan kembali merebutmu darinya, bahkan aku akan membuatnya lebih kewalahan dari pada saat ia berusaha menjadikanmu miliknya..." ucapnya coba meyakinkan Sasuke.

"Sekarang, kita ikuti saja permainan Kiba. Dan, satu hal lagi, aku harap kau tidak berbalik jatuh hati padanya..."

Sasuke cemberut, "Huh, mana mungkin aku suka padanya, dia bukan tipeku kok." Naruto tersenyum tipis, ia tarik wajah Sasuke mendekat, dan menyapu lembut bibir Sasuke dengan bibirnya. Mengecupnya dengan mesra tanpa ada niat mendominasi. Tapi, ujung dari berciuman romantis seperti ini tenu saja membuat keduanya bangun teelamabat ke sekolah, dan menyebabkan si Sasuke, kesulitan melangkah esok paginya.

._._. TBC ._._.

Yosh, sekian chapie dua. Emang pendek, tapi semoga readers dan senpai semua berkenan untuk mereview.. Arigatou..