Maaf kawan-kawan. Ternyata waktunya nggak cukup, jadi ficnya molor dari rencana yang saya jadwalkan. Hix. Sori banget. Ent terima kasih buat review kalian, masukannya sangat diterima! Sorry banget soal chapter 1 dan 2 yang nggak digabung karena KEBEGOAN penulis yang masih anak bawang di ff. Maklum, penulis dudut ini nggak nyadar ada cara buat masukin chapter biar di satu cerita sekaligus. Bego!! (-.0 )

Oke. Berhenti ngoceh. Nanti lebih panjang dari ceritanya. Selamat membaca untuk kalian semua! ^^

*EYESHIELD 21 EYESHIELD 21 EYESHIELD 21 EYESHIELD 21 EYESHIELD 21 EYESHIELD 21*

Yamato and Karin

"…apa maksudmu, Hiruma!? Tentu saja aku tidak akan berbuat macam-macam!!" teriakan Mamori kembali terdengar. Tapi namanya juga Hiruma. Jelas dia cuek bebek saja dengan segala kehisterisan Mamori.

"Mungkin saja kan? Aku harus hati-hati." Hiruma memasang wajah cengiran tanpa dosanya. Membuat Mamori semakin gemas ingin menjitak rambut jabrik kuning itu.

"Kekeke. Sekarang aku mau tidur. Awas saja kalau kau macam-macam!" ancam Hiruma, memberi isyarat 'buku ancaman' dengan jarinya.

Mamori meleletkan lidah. "Harusnya aku yang bilang begitu!"

Akhirnya mereka berdua pun bersiap-siap untuk tidur. Baru saja Mamori selesai membuat garis pembatas dengan menggunakan bantal ketika Hiruma yang sudah berbaring dengan nyamannya memintanya *baca: perintah* mematikan lampu.

"Kau kan bisa melakukannya sendiri!" gerutu Mamori, tapi tetap saja dia mematikan lampu. Seketika ruangan menjadi gelap.

Mamori merebahkan tubuhnya. Rasanya capek sekali. Dari tadi perasaannya terus naik turun tidak menentu. Dan sekarang!? Hiruma malah tidur di sebelahnya. Mengerikan!!

Mamori berusaha memejamkan matanya. Lari ke alam mimpi, melupakan semua kejadian hari ini. Tapi susah sekali. Berkali-kali dia membalikkan posisi badannya.

Tiba-tiba saja sebuah tangan besar *kalian pasti tau punya siapa* menyambar pinggangnya dan menarik tubuh Mamori mendekat. Mamori gelagapan. Segera dia menaruh tangan di depan dada, memasang tameng.

Tangan Mamori menyentuh dada Hiruma yang bidang. Perlahan, aroma tubuh Hiruma kembali tercium… Mamori kembali terbius. *oh, jangan protes di sini. Adegannya mirip terus, sorry*

"Hiruma!?" bisik Mamori panik. Tapi Hiruma tidak menanggapi. Malah terdengar dengkuran halus.

"Dia tidur!? Tidak dapat kupercaya!" bisik Mamori sebal. Dia menarik tangan Hiruma, berusaha melepas pelukannya—

GYUT! Hiruma malah semakin mengencangkan pelukannya. Sekarang wajah Mamori malah berada tepat di dada Hiruma. Garis pembatas yang dia buat hancur sudah!

Mamori tidak bisa melepas pelukan itu—begitu erat. Pasrah, Mamori membenamkan wajahnya di sana. Menikmati setiap detik yang berlalu.

Hhh. Kenapa begini? Apa maksudnya? Mamori berpikir dalam hati. Terlalu berat.. Ini malah membuatku semakin kacau. Hiruma tak mungkin menganggapku lebih.. Aku hanya manajer untuknya!

Diam-diam Mamori menangis. Kalau saja Mamori mau mendongakkan kepalanya, dia akan mendapati Hiruma tengah menatapnya. Lekat. Hiruma merasakan sesuatu yang hangat membasahi bajunya..

Mereka menghabiskan malam itu dengan tetap berpelukan. Perasaan keduanya tak menentu.

***

Seusai sarapan pagi, mereka segera berangkat menuju Teikoku Gakuen. Di sana Yamato dan Karin sudah menunggu mereka.

"Hai, Hiruma! Mamori!" Yamato menyapa keduanya. Hiruma menggigit permen karetnya santai sambil menenteng bazookanya seperti biasa. Mamori membungkukkan tubuhnya sopan.

"Hai~Hiru—hiii." Karin batal memberi salam. Takut. Dia akhirnya hanya menyapa Mamori. "Haii, Mamo-chan."

"Tak usah bertele-tele, pelari sialan. Cepat bereskan masalah ini." Hiruma menggerutu, menodongkan bazookanya ke Yamato. Mamori buru-buru mencegahnya.

"Oke. Hiruma, kau ikut denganku." Yamato memberi isyarat. "Karin, kau dengan Mamori ya. Kita ketemu lagi nanti."

Mereka berpisah jalan. Hiruma dan Yamato membahas strategi, sedangkan Karin dan Mamori…

"Kenapa kau ikut juga ya? Eh—" Karin cepat-cepat meralat ucapannya, "Maksudku ini kan tugas antar pemimpin tim saja. Manajer kan tidak usah ikut."

Mamori tertegun. Eh? Kalau begitu… kenapa Hiruma mengajaknya? Aneh!

Mamori mendadak teringat kata-kata Hiruma. Saat itu..

"Lupakan masalah cokelat itu, sialan! Kau tak akan bisa menyerahkan kepada siapa pun. Karena ada aku."

Ini maksudnya? Hiruma bermaksud menutup kemungkinan fans Mamori menerima cokelat darinya? Masa—masaa..

TIDAK MUNGKIN!!!

"Mamo-chan? Eh, bagaimana kalau kita buat cokelat saja?? Hari ini kan hari Valentine!" ajak Karin antusias. "Kita bisa pakai ruangan klub masak."

"EH??"

"Daripada bosan! Aku juga tidak ada kerjaan—latihan sudah selesai—ayo!" Karin menariknya ke ruangan klub masak. Menyodorinya celemek dan peralatan dapur lainnya.

"Ayo kita bikin!"

"Karin-chan mau bikin untuk siapa?" tanya Mamori iseng. Sebenarnya pikirannya terus melayang ke kalimat Hiruma waktu itu, tapi dia berusaha menepisnya. Itu pasti bohong!

"Eh… ano.."

"Yamato-kun ya?"

"EH!?? Kokk…" Karin salah tingkah. Wajahnya memerah.

Mamori mengulum senyum. "Sudah kuduga! Sejak kapan?"

"Eh—sejak duluu.. Tapiii aku tidak sanggup mengatakannya…" Karin memainkan adonan cokelatnya, putus asa. "Kalau Mamo-chan? Pasti untuk Hiruma ya?"

Ganti Mamori yang malu. Tapi karena Karin sudah jujur padanya, maka Mamori menceritakan semua hal yang membebaninya. Karin mendengarkannya dengan seksama.

"Jelas ada maksud tersembunyi!" ucapnya penuh keyakinan. "Tidak mungkin dia mengajakmu tanpa alasan. Oh iya, bagaimana dengan cokelat yang kau bawa itu?"

"Aku.. Tidak tau." Mamori mendesah.

"Ah, sudahlah. Kau buat untuk Yamato-kun saja. Cokelat terima kasih." saran Karin. "Lebih baik kau memberi Hiruma-kun cokelat yang kau bawa itu saja. Bahan disini terbatas, pasti tidak seenak yang kau bikin di rumah.."

Mamori menurut. Mereka membuat cokelat hingga sore hari *lama banget, pakai ngobrol dan curhat sih* Ketika cokelat sudah selesai dibungkus rapi, pintu ruangan klub terbuka dan Yamato serta Hiruma masuk.

"Harum sekali! Kalian membuat cokelat?" tanya Yamato antusias. Mamori, yang memang membuat cokelat untuk Yamato mendekati Yamato dan memberi cokelatnya. Hiruma tertegun. Namun hanya sesaat, dan dia segera mengubah raut wajahnya menjadi licik seperti biasa.

"Untukmu, Yamato-kun!" ucap Mamori. "Ini—"

"Wah, makasih!" Yamato tersenyum.

"Kekeke, awas nanti kau sakit perut! Apa perlu sekarang kucarikan obat, pelari sialan?" tanya Hiruma licik. "Itu pasti ada racunnya atau apa—"

"Tentu saja tidak!!"

"YA-HAA! Aku tau! Pasti ada ramuan cintanya! Wahh, fansmu pasti kaget. Ternyata kau menyukai pemain kelas ACE seperti dia, ya?"

"BUKAN!!!"

"Kekeke. Aku tidak akan mengganggu kalian. Kekeke, ayo cewek sialan! Kita menyingkir!" Hiruma menarik Karin keluar. Karin gelagapan. Bingung kok jadi seperti ini?
"Ano.. Hiruma-kun—" BLAM.

Hanya tinggal Mamori dan Yamato. Yamato menatap Mamori keheranan.

"Ada apa sih?"

"Tidak—" Mamori merasakan matanya panas. "Maksudku, itu cokelat terima kasih. Sebaiknya kau menemui Karin.."

Mamori keluar dan mendapati Hiruma dan Karin sudah tidak ada. Hatinya teriris. Andai Hiruma tau…

***

Mamori kembali ke hotel dengan perasaan gontai. Dia menyesali tindakannya membuatkan Yamato cokelat—karena sepertinya membuat Hiruma salah paham. Hiruma mengira dia menyukai Yamato.. Padahal..

Mamori membuka pintu kamar dan mendapati ruangannya sangat gelap. Rupanya Hiruma belum kembali. Karena kesedihannya Mamori malas menghidupkan lampu. Dia bahkan tidak mencuci muka dulu. Mamori langsung saja melempar dirinya ke atas kasur...

BRUK.

Apa ini? Mamori sedikit heran. Rasanya sesuatu yang bidang.. Ini bukan kasur—

"Dasar manajer gila. Menjauh dari tubuhku."

Mamori seperti disetrum. Hiruma ternyata ada! Merasa bersalah dan canggung, Mamori buru-buru bangun tapi malah terjatuh lagi dan kembali menimpa Hiruma.

Mereka terdiam. Hening sehening-heningnya *anggap aja suasana kuburan* Mamori membuang muka, tidak berani menatap Hiruma. Hiruma berusaha mencari siluet wajah Mamori tapi sangat susah di tengah kegelapan seperti ini.

"Bagaimana tadi?"

"Hah? Apa maksudmu, Hiruma?"

"Kau kan sudah punya cowok baru? Kekeke, reaksi monyet sialan itu gimana, ya? Kekeke.." Hiruma terkekeh. Mamori semakin sakit hati.

"Apa maksudmu? Aku tidak suka dengan Yamato!"

"Kekeke.. Tak usah bohong, manajer sialan. Siapa pun juga sudah melihat kau memberikan cokelat untuk pelari sialan itu." Hiruma mendengus mengejek. "Masa kau mau mangkir?"

"Lebih baik kau segera menyingkir, badanmu berat sekali…" Hiruma mengeluh. "Bisa-bisa tulangku patah. Hey—apa ini? Gelap—"

Sesuatu yang lembek dan manis menyapu bibir Hiruma. Apa ini? gerutu Hiruma. Rasanya dia pernah mencicipinya.. Lengket dan manis..

Cokelat?!

"Cokelat!?" Hiruma mendesis. "Apa yang kau berikan untukku, manajer sialan?"

"Kau sudah tau…"

"Ya tapi kenapa kau memberiku cokelat juga!?"

"Karena…"

Diam.

"Karena apa?" Hiruma memecahkan keheningan *pake apa? Palu? Hehe*

"…sudah makan saja! Apa kau ingin mengejekku sekarang?" Mamori tertawa sumbang. "Pasti kau akan mengatakan macam-macam.."

"Haa!?" *Bayangkan ekspresi 3 bersaudara Ha-Haa di sini!* "Maksudmu aku akan mengatakan aku lupa bawa obat pencahar dan segalanya?"

"Bukannya iya?"

… Hiruma tidak dapat mengakui, hatinya sebenarnya berdebar mendapat cokelat dari Mamori. Cewek yang paling kuat dan tahan banting menghadapi dirinya.. Ugh, kedekatan mereka saat ini malah membuat Hiruma sulit menahan diri untuk tidak merengkuh Mamori dalam pelukannya dan—

Lupakan.

"Kekeke." Hiruma kembali ke sifatnya yang biasa. "Memang itu yang akan kukatakan, manajer sialan! Dan sekarang menyingkir dari tubuhku. Berapa kali harus kubilang kalau kau itu berat? Kue sus itu terlalu berlemak untukmu rupanya?" Cepat menjauh dariku!! Hiruma menahan nafas—sedapat mungkin dia menghindari mencium aroma tubuh Mamori yang wangi..

Mamori tersadar dan buru-buru bangkit. "Tak usah berkomentar soal kue sus! HUH!"

Kekeke.. Dia manis sekali kalau sudah menyangkut kue sus kesukaannya!

Mamori menghidupkan lampu kamar. Seketika ruangan menjadi terang benderang. Hiruma masih berbaring di kasur, terkekeh licik.

"Cokelat macam apa itu? Kekeke…"

"Jangan berisik! Aku menyesal membuatnya untukmu!" Mamori membuang muka. Dalam hati dia deg-degan juga. Wah.. aku sudah menyerahkan cokelatnya!!!

"Aku tidak menyuruhmu membuatnya untukku." Hiruma terkekeh. "Terlalu manis. Membuat gigiku ngilu. Atau kau memang sengaja?"

"Sengaja? Huh! Lebih baik kubuang saja cokelat ini! Toh kamu tidak akan memakannya lagi kan?" Mamori melangkah menuju tong sampah. Hiruma meliriknya dan..

SYUTT!! *Hiruma meniru jurus Sena: Devil Bats Ghost!!*

"Kenapa kau ambil lagi??" Mamori memasang wajah galak tapi sebenarnya menahan senyum. "Katamu terlalu manis, merusak gigimu.."

"Aku lapar. Kalau lapar semuanya terasa enak. Keke.."

"Jadi maksudmu punyaku tidak enak!?"

"YA-HAA! Mengerti juga kau manajer sialan!!" Hiruma menggigit cokelatnya. Hmm.. Manis.

"Huh! Aku tak mengerti maumu, Hiruma!"

"Kau tak mungkin mengerti. Kekeke. Siapa yang bisa mengerti setan?" Hiruma tersenyum misterius. "Sekarang kau tidur, manajer sialan! Aku mau keluar!" Hiruma mengambil bazookanya serta tasnya keluar.

"Eh? Kau mau kemana, Hiruma?" Mamori bertanya keheranan. "Sekarang sudah malam! Kau berniat berjudi? Tidak boleh, aku dengan tegas melarangmu.."

"Keke. Aku mau tidur manajer sialan! Aku malas sekamar denganmu! Ribut sekali. Kemarin saja kau ngorok.. Kekeke.."

"APA!?"

"Pokoknya besok jam tujuh kutunggu di lobby! Terlambat, kutinggal!" Hiruma membanting pintu. Mamori menatapnya tak percaya.

Ada apa dengannya??? Padahal kemarin-kemarin dia bilang tidak ada uang cukup untuk menyewa 2 kamar.. dasar setan aneh!! Memang dia suka saja mempermainkan orang lain.. Tapii.. Eh.. Dia makan cokelatku juga.. Wahh.. Harus bilang makasih nih sama Karin-chan..

Sementara itu..

Hiruma memesan kamar untuknya sendiri *dengan mudah, mengingat ada buku ancaman* dan di sana dia tidak tidur seperti katanya tadi. Dia merenung.. Mengingat sensasi ketika mereka berdekatan..

Digigitnya cokelat itu.

Manis..

Hiruma tersenyum.

"Benar-benar… Manajer yang manis sekali.."

*to be continued*

*EYESHIELD 21 EYESHIELD 21 EYESHIELD 21 EYESHIELD 21 EYESHIELD 21 EYESHIELD 21*

EUH!! Akhirnya.. hehe.. yah. Ini masih ada lanjutannya nanti, kawan-kawan. Hehe. Sekilas info: penulis akan membeberkan bagaimana Hiruma merayakan WHITE DAY!! Yah. Untuk siapa yah sudah jelas. Buat fans HiruMamo wajib baca!! Karena di chapter White Day nanti saya akan memuat banyak adegan mesra by HiruMamo.. Hehe. Kemungkinan akan saya buat bagaimana akhirnya Hiruma menyatakan perasaannya.. *akhirnya* LOH?? Koq saya jadi bocorin banyak ya? Hehe. Gomen, gomen. Tapi chapter ini bakal lama baru saya publish, karena minggu ini banyak sekali tugas dan ulangan terus kakek saya malah kena batu empedu, wah gawat sekali!! Ditunggu saja, ya. Maaf banyak omong. See u.. ^^